Pengagum Rahasia 2, Part 7

Rizal memasang springbed itu.

Dia terlihat was-was dan takut, karena untuk pertama kalinya ia tidur bersama dengan seorang wanita dalam satu kamar, terkecuali bersama ibunya.

Rizal terlihat duduk di kursi meja rias itu sambil mengelap keringat di dahinya

“Oke, gak ada permasalahan lagi kan? Kalau gitu aku ke kamar dulu ya,” ucap Elaine

“Eh, t-tung..,”

“Oh iya,” Elaine berbalik

“Mending kamu tidurnya agak jauhan dari kasur andela,” Bisik Elaine

“K..Kenapa!?” ucap Rizal

“Hey! Jangan bisik-bisik di depan gw!” ucap Andela

“Eh, Eng…gak kok, kalau gitu aku pergi dulu, bye…,” ucap Elaine

Elaine kini telah pergi dari kamar andela.

Andela langsung menutup rapat pintu itu.

Rizal yang duduk di kursi meja rias, terlihat melepas kacamatanya dan menyimpannya di meja rias itu.

“Emm, kalau gitu gw mau langsung tidur,” Rizal menyimpan tasnya dan di jadikan bantal olehnya

“Jaim yah. Gw juga tau lu gak mungkin tidur jam segini,” ucap Andela

Andela menghempaskan badannya ke kasur.

“udah malem ini, Jangan ribut terus,” ucap Rizal

“Siapa juga yang ribut,” balas Andela

“udahlah! Gw mau tidur!” Balas Rizal lagi

“Serah…,” Andela langsung tidur membelakangi Rizal

Rizal pun sedikit memejamkan matanya sambil mengingat-ingat kejadian yang baru saja ia alami. Tiba-tiba ia teringat sesuatu…

“Eh, tadi si ilen bilang jangan tidur di deket kasurnya andela, kenapa ya?” batin Rizal

“Ah bodo amat, ngapain juga gw pikirin,”

~oOo~

Keesokan harinya, Elaine terlihat bangun sangat pagi hari ini. Karena kebetulan ia bangun sepagi itu, elaine pun berencana untuk membangunkan 2 temannya juga.

Ceklek!

“Bangun hei! udah pag…WHAT!?”

Baru beberapa langkah dari pintu itu, Elaine terlihat shock melihat apa yang ada di hadapannya sekarang.

“umm,” ucap Rizal namun suaranya seperti tertahan oleh sesuatu

“Kok gw gak bisa liat apa-apa, terus ini apaan yah empuk-empuk,” pikir Rizal

“Andela!” ucap Elaine

“Eng…,”

Andela yang masih memejamkan matanya, sedikit bangun.

“AHK!!” Tiba-tiba andela menjerit

“EH!? Kenapa!?” ucap Rizal

*PLAK!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kanan Rizal.

Dengan wajah melongo, Rizal hanya melihat andela yang terlihat marah. Ia juga terlihat mengusap-ngusap pipinya yang merah itu.

“Lo habis apain gw!” ucap Andela

Andela memeluk tubuhnya seperti menutup kedua dadanya.

“Eng…enggak, gw gak ngapa-ngapain sumpah!” ucap Rizal

“Huh! Dasar mesum!” Andela langsung mengambil handuk itu lalu pergi keluar

Elaine pun menghampiri Rizal.

“Kamu tidur di deket kasurnya andela yah!” ucap Elaine dengan nada sedikit keras

“Eng…gak tau, gw gak tau apa-apa, suer,” ucap Rizal

“udah di bilangin kamu tidurnya agak jauhan dari kasurnya andela. Dia itu kan suka ngelindur, ngelindurnya sambil jalan lagi,” ucap Elaine

“Loh, pantesan aja tadi dia bisa ada di atas badan gw. Di tambah lagi dadanya…,”

“HEH! Udah jangan di bahas lagi. Mending sekarang kamu mandi gih,” ucap Elaine memotong pembicaraan

Kemudian elaine pun pergi.

“Oke,” ucap Rizal

~oOo~

“Kak, Deva berangkat yah,” ucap Deva *CUPS!

Deva mencium pipi melody.

“I-iya, hati-hati…,” ucap Melody

Ceklek! Melody menutup pintu.

“Kenapa aku selalu gak bisa marahin dia. Aku harap semua yang aku lakukan itu benar. Karena aku harus menjadi kakak yang terbaik buat dia,” batin Melody

-Di Perjalanan-

“Kak deva!” teriak seseorang

“Hm?” Deva menengok ke belakang

Anak-anak itu berlari ke arah deva.

Ada sekitar 5 anak yang menghampiri deva.

“Hah…Hah…Hah…,” Suara nafas panjang

“Eh, Muka kakak biru-biru!” ucap salah satu anak

“Aku tau, seharusnya kemarin aku bantu kak deva buat ngelawan anak-anak nakal kemarin!”

“Hey kenapa kalian masih ngebahas soal kemarin. Sekarang kalian udah bisa main lagi kan, jadi jangan di bahas lagi,” ucap Deva

“Tapi kak deva,”

“Ssstt…Kakak bantu kalian semua karena kakak pengen liat kalian jadi pemain basket yang hebat, lebih hebat dari kakak,” ucap Deva memotong

“umm,” Mereka semua diam

“Kalian emang anak jalanan dan gak sekolah, tapi kalian punya bakat. untuk itu, kalian harus terus mengembangkan bakat kalian ya,” ucap Deva

Mereka hanya mengangguk.

“Kalian paham?” ucap Deva

“Paham kak,”

“Bagus, sekarang kakak mau berangkat ke sekolah dulu ya,” ucap Deva lalu pergi

“Hati-hati di jalan kak!” teriak semua anak

Deva hanya menunjukan jari jempol sambil membelakangi mereka.

~oOo~

“Dut, bangun…,”

“Kebiasaan deh kamu bangunnya kesiangan terus,” Naomi membuka pintu kamar itu

“EH!?” Naomi terkejut saat tau di dalam kamar itu tidak ada siapapun

“Loh kok!?”

“Kemana tuh anak!? Apa mungkin udah berangkat duluan!?”

“Tasnya sih emang gak ada, tapi…apa mungkin dia emang pergi duluan?” ucap Naomi sambil melihat ke pinggir kasur

Di tempat lain…

“Hah…Hah…Hah…,”

“Ternyata kalau jogging kesekolah gini baru kerasa capek nya,” ucap Sinka

“HAH!” Sinka beristirahat sambil menarik nafas panjang

“Padahal setengah jalan aja belum,”

“Tapi, apapun yang terjadi aku harus ngelakuin ini. Aku harus diet! Diet! DIET!” ucap Sinka bersikeras

Kemudian Sinka pun melanjutkan perjalanannya menuju sekolah.

~oOo~

“Masih jam 6.45 apa mungkin gw jalan terlalu cepet ya? Atau emang kecepatan gw meningkat?” pikir Deva

Deva berhenti di pinggir jalan.

“Nyantai deh,” ucap Deva sambil bersandar di tembok

Tiba-tiba…

“Hah! Hah! Hah!”

“Hm?” Deva melihat ke arah orang yang datang menghampirinya

“Akhirnya…Sampai juga,”

Deva mengernyitkan dahinya saat melihat wanita itu kelelahan.

“Sinka,” ucap Deva

“Eh!?” Wanita itu melihat ke arah deva

“Dev…,” ucapnya namun tidak memandang wajah deva sedikit pun

“Heh,” Deva tersenyum

“Hey! Kamu ketawain aku yah! Iya aku emang lagi ngejalanin program diet!” ucap Wanita itu memarahi deva

“Sinka…Sinka, gak ada yang ngetawain lu disini,” ucap Deva

“Huh!” Sinka membuang muka

“Eh tunggu dulu!” batin Sinka kembali melihat ke arah deva

“Apa?” ucap Deva

“muka kamu kok!?” ucap Sinka, tangannya seperti ingin menyentuh luka memar di bawah mata deva

TEP!

Dengan sigap deva memegang tangan sinka dengan kuat.

“AH!” Sinka terlihat kesakitan

“Jangan macem-macem,” ucap Deva

“Ashh…S..Sakit dev,”

“Hem,”

Deva pun melepaskan tangan sinka

Setelah itu, sinka hanya menatap wajah deva dan menyebrang jalan.

“Hey!” Deva tiba-tiba menarik sinka

“EH!?” Sinka terkejut

BRRRRMMMMMM!

Sebuah mobil baru saja melintas di hadapan mereka dengan kecepatan tinggi.

“AH!?” Sinka kini berada di pelukan deva dan ia masih sedikit shock

“Lu mau ketabrak ya? Atau lu emang mau bunuh diri?” ucap Deva

“Eh!” Sinka melepaskan pelukan itu

“Maaf,”

Sinka pun kembali menyebrang dan mengabaikan deva

Sementara Deva hanya melihat Sinka dari kejauhan sambil sedikit tersenyum.

~oOo~

Kreeeng! Kreeeng!

            Bel sekolah berbunyi, Aktivitas belajar mengajar berjalan seperti biasanya.

Tampaknya tidak ada guru yang masuk ke kelas X-5, dan terlihat anak-anak kelas X-5 sedang nongkrong di depan kelasnya. adapula yang hanya diam di kelas.

“Emm, kita gak apa-apa nongkrong di luar kelas gini?” tanya Yupi

“enggak, santai aja lah,” ucap Ikha

“Oh iya kha, ada yang pengen aku tanyain. Tapi kamu jangan marah ya,” ucap Yupi

“mau nanya apa? Pake marah segala,” Ikha sedikit mengubah posisinya dengan menghadap Yupi

“Aku pengen nanya, kok kamu bisa jadi ketua OSIS?”

“Hah?”

Pertanyaan itu membuat Ikha bingung.

“Maksud aku…Biasanya kan yang jadi ketua OSIS itu antara kelas 2 atau kelas 3, nah kamu kan masih kelas 1, kok bisa sih?” ucap Yupi masih bertanya

“Oh soal itu. eh…Jadi gini, waktu semester satu, pas seminggu setelah MOS ada anak OSIS yang dateng ke kelas-kelas. mereka menginformasikan tentang siapa yang mau masuk OSIS,”

“nah kebetulan aku pengen kan masuk OSIS, dari SMP juga aku udah jadi anak OSIS,”

“Terus-terus,” ucap Yupi

“awalnya aku gak ada niatan jadi ketua OSIS, dan ternyata ada seseorang yang daftarin aku jadi ketua OSIS. Eh taunya semua anak kelas X-5 yang daftarin aku. Mereka brengsek semua kan,”

“HAHA!” ucap Yupi tertawa

“Yang aku bingung tuh, kok bisa gitu…perolehan suara yang aku dapet lebih banyak dari kakak kelas yang juga nyalonin jadi ketua OSIS,” ucap Ikha

“Alhasil, aku jadi ketua OSIS deh,” ucap Ikha kembali

“Oh, emang apa enaknya sih jadi OSIS?” ucap Yupi

“Enaknya bisa dispensasi kapan aja, Haha…,” Ikha tertawa

“Hah, kamu pasti dispen dengan alasan sebenarnya pengen mabal kelas kan?” ucap Yupi

“ya iyalah!” Jawab Ikha dengan angkuhnya

“Dasar anak nakal!” ucap Yupi

“Hahahaha! Gak gitu juga sih. Kalau ketua OSIS kan emang suka sibuk ngurusin kegiatan-kegiatan, atau acara event, dan yang lainnya lah,” ucap Ikha

“Hemm,” Yupi tidak menanggapinya

“Oh iya, jangan lupa ya nanti malam minggu di puncak,” ucap Ikha

“Iya deh,” ucap Yupi

“Harus dateng! Karena acaranya bakalan rame banget!” ucap Ikha

“Iya! Biasa aja kali,” Balas Yupi

~oOo~

“Ayo! Tinggal setengah jam lagi!”

“Daritadi lu ngeliatin jam terus za. Gak pegel apa tuh leher?”

“Justru gw capek belajar hari ini dev. Males…,”

Grek!

            Suara kursi yang di geser.

Pak guru terlihat beranjak dari kursinya dan memasukan buku-bukunya ke dalam tas.

“Kita akhiri saja pertemuan kali ini. Saya permisi dulu…,” Guru itu langsung keluar kelas

“Lah?” ucap Shania

“T..Tapi kan pelajarannya belum beres,”

“udah lah lid. Beruntung kita punya waktu kosong setengah jam ini. Bisa di pake buat tidur kan,” ucap Sinka

“Iya biarin aja lah. Lu sok banget pengen belajar seni. Dari minggu kemarin aja gw liat lu gak pernah tuh perhatiin pak doris,” ucap Shania juga

“Apa lu bilang!? Gw gak pernah merhatiin guru pas lagi ngajar!?” Lidya tampak marah

“Iya!” balas Shania

“Sini lo!” Lidya langsung naik ke meja itu

“udah-udah! Kalau mau berantem di luar aja! Aku mau tidur jadi keganggu nih!” ucap Sinka

“Dan juga kenapa kalian selalu meributkan masalah sepele kayak gini! Pas guru ngajar full, kalian ngeluh cape. Sekarang pas giliran ngajarnya Cuma setengah jam, kalian masih ngeluh juga. Sebenarnya kalian ini maunya apa!”

“EH…Hehe. Cuma bercanda doang sin, Gitu aja di bawa serius. Iya gak lid?” ucap Shania sembari melihat ke arah Lidya

“Eh, iya sin. Sensi amat sih,” Jawab Lidya juga sambil mencubit perut Sinka

“Aku gak mau kalian musuhan. Nanti kalau kalian musuhan, otomatis aku gak punya temen deket lagi di kelas,” ucap Sinka

“Kan ada Deva. Iya gak?” ucap Shania yang alisnya naik turun itu

“Selalu aja di sangkut pautin sama orang itu,” ucap Sinka

“Terus sama siapa dong?” ucap Lidya

“Sama bapak mu!” Sinka yang kesal langsung pergi dari sana

“yee…dikit-dikit ngambek. Dasar!” ucap Shania

~oOo~

“dev…,” panggil orang itu

Deva yang sedari tadi melihat ke lapangan tidak menyautnya. Namun ia sedikit menoleh dan melihat ke arah ihza.

“Daritadi gw liatin ngelamun terus. Kagak seru ah,” ucap Ihza

“Gak. Siapa yang ngelamun, Gw cuma lagi menikmati angin sepoy-sepoy di luar ini,”

“yah…gw harap lu gak kenapa-kenapa,” ucap Ihza lagi

“Hey…,”

Tiba-tiba seorang gadis menyapa deva sambil menepuk pundaknya dari belakang.

“Hmm!? S..Siapa nih orang!?” Batin Ihza melihat wanita itu

Lalu Deva berbalik.

“Eh Gre. Kenapa?” ucap Deva

“Hari ini…Gak ada kiriman?” ucap wanita yang di panggil Gre itu

“Ahaha…Sorry ya. Kemarin gw gak sempet bikin lagi. Gw kemarin capek banget pas udah sampai di rumah,” Jelas Deva

“Ekhem. Gw…Ke kantin dulu yah,” Ihza pergi darisana

“Eh-eh tung…,” ucap Deva menggantung

Lalu Gre kini berada di samping deva dan melihat ke lapang.

“Kamu tau dev…di restoran aku kemarin, sate sapi yang kamu buat laku banget loh,” ucap Gre

“Eng…Gitu ya,” balas Deva

“Kamu bilang kasih harganya terserah aku kan. Kemarin aku kasih harga 1 satenya 2500,”

“Oh, aku kira kemarin gak habis,” ucap Deva

“Gak habis apaan. Kemarin kan aku setor ke kamu sekitar 75.000,” ucap Gre

“Dan kenapa kita harus sembunyi-sembunyi sih. Ini kan bisnis dev, bukan bisnis prostitusi online juga kan,” tambahnya

“Lah buset, bawa-bawa prostitusi,” ucap Deva

“Ehehe…Bercanda,” ucap Gre

“Oh iya. Btw…Nanti malam minggu di puncak kamu mau ngajakin siapa dev?” Tanya Gre lagi

“Ah..Eh…Kalau gw…,” Deva seperti kehabisan kata-kata dan ia hanya menggelengkan kepala

“Enggak tau, atau gak akan ikut?” Gre yang tadinya melihat ke arah lapangan kini menatap tajam wajah deva

“Gak tau. Ahaha…,” Deva menggaruk kepalanya

“Yaudah…Ajak aku aja deh,” ucap Gre

“Loh? T..Tapi kan lo itu anak OSIS. Sedangkan anak OSIS harus nyaapin segalanya pas udah menjelang hari-H,”

“Kata siapa sih dev, Jangan suka so tau deh. Kalau pas hari-H gak akan ada lagi yang harus di siapin disana. Yah…Paling juga di suruh kumpul dulu sama ketua OSIS. Aku males kalau di suruh kumpul gitu,” Jelas Gre

“Eh…,” Deva terdiam

“yaudah gimana nanti aja ya gre. Bingung gw…Ehehe…,” Deva menggaruk kepalanya

“aku tunggu jawaban kamu yah. Sekarang pulangnya bareng oke,”

“Tapi kan hari ini gak ada kiriman. Kok bareng?” ucap Deva

“ya bareng aja, orang motor aku nganggur tuh kursi belakangnya. Lagian kan setiap pulang suka kelewatan komplek rumah kamu,” ucap Gre

“Bukan komplek, tapi Cuma desa biasa,”

“iya-iya terserah,”

Kreeeng! Kreeeng!

“udah bel. Aku ke kelas dulu yah,” ucap Gre lalu pergi

 

BERSAMBUNG…

Author : Shoryu_So

Iklan

4 tanggapan untuk “Pengagum Rahasia 2, Part 7

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s