Vepanda part 8

“Shani?!” ucap Rezza kaget setelah melihat wajah siswi yang pingsan itu.

“Siapa za?” tanya Najong.

“Ini sepupu gue,” jawab Rezza.

“Pantesan tadi dipanggil nggak nengok, ternyata bukan Sinka,” ucap Najong.

“Udahlah, cepetan lu bantuin gue angkat nih anak ke UKS,” pinta Rezza dengan wajah panik.

“Ogah ah, lu angkat aja sendiri, gue mau makan hahaha…,” jawab Najong tertawa lalu pergi meninggalkan Rezza.

“Kampret, sahabat macam apa lu!” ucap Rezza kesal sambil mengangkat tubuh Shani.

Saat Rezza membawa Shani ke UKS, ia merasa ada seseorang yang memanggilnya. Ia berhenti sejenak dan menoleh ke kanan dan ke kiri. “Perasaan gue aja kali,” ucap Rezza dalam hati.

Kemudian Rezza kembali berjalan membawa Shani ke UKS. Namun saat ia sampai di UKS, ternyata ruang UKS-nya sudah tutup. Ia berfikir sejenak dan memutuskan untuk mendudukkan Shani dibangku yang berada di depan UKS terlebih dahulu.

“Nih anak nggak gendut tapi berat juga ya,” ucap Rezza menatap Shani dengan heran.

Rezza hanya berdiri di depan Shani dan menatapnya tanpa memikirkan apa yang harus ia lakukuan *dibaca bengong :v

“Sayang?” sapa seseorang dari belakang Rezza.

“Hah?” ucap Rezza menoleh ke belakang.

“Itu Shani kenapa?” tanya orang tadi yang ternyata adalah Ve.

“Gatau, tadi aku liat dia di gerbang depan, terus pas aku samperin dia malah pingsan,” jawab Rezza.

“Ohh…,” ucap Ve mengangguk paham.

“Ngomong-ngomong kok kamu tau kalo dia Shani?” tanya Rezza.

“Ya tau lah, kan aku pas MOS jadi pembimbing di kelas dia,” jawab Ve sambil duduk disebelah Shani.

“Oh…,” ucap Rezza mengangguk.

“Oiya, kamu ngapain belom pulang?” tanya Rezza.

“Tadinya aku mau pulang, tapi liat kamu lagi bawa Shani kesini jadinya aku kesini dulu deh,” jawab Ve.

“Yaudah sekarang kamu pulang aja sana, biar aku yang tungguin Shani disini sekalian nunggu latian mulai.”

“Kok kamu ngusir aku sih!”

“Bukan ngusir, tapi aku kasian sama kamu, ntar kamu nggak dapet angkot kalo kesorean pulangnya.”

“Alesan! Bilang aja kamu mau apa-apain Shani!”

“Yaelah yang, dia itu sepupu aku, nggak mungkin lah aku macem-macem sama sepupu aku sendiri.”

“Bohong! Aku nggak percaya!”

“Terserah kamu lah mau percaya apa nggak,” ucap Rezza pergi meninggalkan Ve dan Shani.

“Kamu mau kemana?!” tanya Ve marah.

“Makan,” jawab Rezza tanpa menoleh ke arah Ve.

“Huuhh!!” ucap Ve kesal sambil mengembungkan pipinya.

Rezza berjalan ke gerbang depan sekolah dan berhenti disitu, ia melihat Najong dan juga beberapa temannya berada di dalam warung depan sekolah. Ia pun berjalan ke arah warung itu, saat masuk ke dalam warung itu, ia menyapa beberapa temannya dan duduk di sebelah Najong.

“Makanan gue mana?” tanya Rezza menoleh ke arah Najong.

“Lu pesen sendiri aja,” jawab Najong sambil memakan nasi gorengnya.

“Lu nggak pesenin gue?” tanya Rezza sambil berdiri dari kursinya.

“Lahh, lu kan tadi nggak nyuruh gue buat mesenin lu makanan,” jawab Najong menoleh ke arah Rezza.

“Kampret amat sih lu!” ucap Rezza kesal lalu meninggalkan Najong.

“Lu yang kampret,” ucap Najong menoleh ke arah Rezza lalu kembali memakan nasi gorengnya.

Rezza berjalan ke arah Mbak Nuk, penjual warung itu dan membeli sebatang rokok. Setelah menyulut rokoknya, Rezza kembali duduk di sebelah Najong dan meminum minumannya.

“Gue belom minum anjirr!” ucap Najong kesal dengan mulutnya yang masih penuh dengan makanan.

“Udah, ntar pesen lagi,” ucap Rezza meletakkan gelas minuman Najong yang sudah habis.

“Yaudah lu pesenin sono,” ucap Najong.

“ES JERUK SATU!!” teriak Rezza pada Mbak Nuk.

Mbak Nuk hanya mengangguk lalu pergi ke belakang.

-di depan UKS-

“Aduhh…,” ucap Shani terbangun sambil memegangu kepalanya.

“Akhirnya kamu sadar juga,” ucap Ve tersenyum.

“Aku dimana?” tanya Shani sambil melihat sekitar.

“Kamu di depan UKS.”

“Hah?! Kok aku bisa ada disini sih.”

“Tadi Rezza yang bawa kamu kesini.”

“Terus sekarang kak Rezza dimana?”

“Tadi sih bilangnya mau makan, tapi gatau makannya dimana.”

“Oh…,” ucap Shani sambil meringis menahan sakit dikepalanya.

“Kamu duduk aja dulu,” ucap Ve menahan Shani saat ia berusaha berdiri.

“I-Iyaa…,” ucap Shani.

“Oiya, emang bener kamu sepupunya Rezza?”

“Iya, kakak siapa ya?”

“Aku Veranda.”

“Ohh… kak Ve yang dulu jadi pembimbing di kelas aku itu ya?”

“Iya hehe….”

“Kok kak Ve ada disini?”

“Tadi disuruh sama Rezza buat jagain kamu.”

“Maaf ya kak kalo ngerepotin.”

“Gapapa kok, lagian juga aku belom mau pulang.”

“Kak Ve sama kak Rezza, kalian…?”

“Iya, aku sama Rezza pacaran hehe….”

“Udah berapa bulan kak?”

“Baru kok, baru mau 2 tahun bulan depan.”

“2 tahun mah udah lama kali kak,” ucap Shani.

“Ohh udah lama ya, hehe…,” ucap Ve cengengesan.

Drrrrtttt… drrrrtttt…

Dengan cepat Shani mengambil smartphone-nya dari saku, ia membaca pesan yang masuk lalu berdiri.

“Aku pulang duluan ya kak, udah dijemput soalnya,” ucap Shani.

“Iyaa…,” ucap Ve tersenyum.

Shani pergi meninggalkan Ve duduk sendirian di depan UKS. Ia berlari ke gerbang depan sekolah dan langsung masuk ke dalam mobil yang menjemputnya.

Setelah ditinggalkan Shani, Ve berdiri dan berjalan keluar sekolah untuk mencari Rezza. Ia berdiri di gerbang depan sekolah dan melihat sekitar. Ve seketika langsung terlihat marah saat melihat Rezza sedang merokok di dalam warung Mbak Nuk. Ia berjalan ke arah warung Mbak Nuk dengan penuh amarah, ia bahkan tidak menoleh ke kanan dan ke kiri saat menyebrang jalan.

BRUKK!!

Ve tertabrak sebuah mobil yang sedang melaju dari sebelah kanannya dengan cukup kencang. Tubuhnya terpental sangat jauh, semua orang yang melihat dan ada di dalam warung Mbak Nuk langsung mengerubungi Ve.

Rezza baru keluar dari warung setelah mematikan rokoknya karena ia tidak mau ada guru yang melihatnya keluar masih membawa rokok. Ia berjalan mendekat ke arah kerumunan orang yang sedang melihat Ve. Saat ia mencoba menerobos masuk kerumunan itu, tiba-tiba Najong memegang tangannya dari belakang.

“Siapa yang ketabrak?” tanya Rezza menoleh ke arah Najong.

Najong tidak menjawab pertanyaan Rezza, ia hanya menunduk dan menggelengkan kepalanya. Kemudian Rezza menatap Najong dengan tatapan heran. “Lu kenapa sih?” tanya Rezza heran.

Rezza melepaskan tangan Najong dan kembali menerobos kerumunan tadi. Saat ia berhasil menerobos kerumunan itu, ia heran karena orang yang tertabrak sudah tidak ada. Ia hanya melihat banyak darah di sana.

“Kemana yang ditabrak?” tanya Rezza pada orang yang berada disebelahnya.

“Udah dibawa ke rumah sakit,” jawab orang itu.

“Cewek apa cowok korbannya?” tanya Rezza.

“Cewek, anak SMA sini,” jawab orang itu sambil menunjuk ke arah SMA N 48.

“Ohh yaudah, makasih,” ucap Rezza lalu kembali ke warung Mbak Nuk.

Saat Rezza masuk ke dalam warung, ia tidak melihat satu orang pun disana. Ia hanya melihat Mbak Nuk yang sedang duduk, ia pun membeli minuman dan berjalan kembali ke sekolah. Ia berjalan ke arah UKS namun disana juga sudah tidak ada orang.

“Shani sama Ve kemana?” ucap Rezza dalam hati.

“Masa udah pulang sih,” ucap Rezza sambil melihat sekitar.

Rezza pun memutuskan untuk menelfon Ve, ia mengambil smartphone yang ada disakunya dan menghubungi Ve.

Maaf, nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan, tuut… tuut… tuut…

“Kok tumben nggak aktif,” ucap Rezza heran.

Ia kembali menlfon Ve namun hasilnya tetap sama, nomor Ve masih tidak aktif. Ia pun meletakkan kembali smartphone-nya ke dalam saku dan berjalan ke gedung olahraga. Saat sampai di gedung olahraga, ia menjadi semakin bingung karena disana juga tidak ada orang.

“Tau gini mendingan gue pulang,” ucap Rezza keluar gedung dan pulang.

-di rumah Sinka-

Disebuah kamar terlihat seorang gadis sedang asik mengerjakan PR sambil mendengarkan musik. Sesekali gadis itu menyanyikan lagu yang sedang didengarnya.

Tok… tok… tok…

“Kak anterin aku ke pasar!” teriak seorang gadis dari luar kamar.

Gadis yang sedang mendengarkan musik tadi melepaskan headphone-nya dan berjalan ke arah pintu.

“Ngapain sih kamu teriak-teriak sin?!” tanya gadis tadi setelah membuka pintu.

“Anterin aku ke pasar sekarang,” jawab gadis yang berteriak tadi yang ternyata adalah Sinka.

“Sama Naomi aja deh, aku lagi ngerjain PR,” ucap gadis tadi kesal.

“Kak Naomi belom pulang,” ucap Sinka cemberut manja.

“Yaudah, tapi bentar aja,” ucap gadis tadi dengan malas.

“Makasih kak Kinal,” ucap Sinka sambil memeluk gadis tadi yang bernama Kinal.

Sinka P.O.V

Ini kakak sepupu aku, namanya Devi Kinal Putri. Dari kemaren dia nginep di rumah aku soalnya di rumahnya dia sendirian, katanya sih takut kalo sendirian. Padahal sih dia tomboy, tapi entah kenapa dia takut kalo di rumah sendirian. Katanya sih juga sekalian mau bahas soal kepindahannya ke Jepang bareng kak Naomi tahun depan setelah lulus SMA. Tapi menurut aku sih itu cuma alasan kak Kinal aja biar nggak keliatan penakut. Segitu aja ya ceritanya soal kak Kinal.

Author P.O.V

“Udah ah, cepetan!” ucap Kinal melepaskan pelukan Sinka lalu berjalan ke lantai bawah.

Sinka masuk ke kamarnya mengambil dompet lalu keluar lagi untuk menyusul Kinal.

“Mau kemana nal?” tanya mamanya Sinka saat melihat Kinal mengambil kunci mobil yang tergantung didinding.

“Mau nganterin Sinka ke pasar tante,” jawab kinla menoleh lalu tersenyum.

“Yaudah hati-hati ya,” ucap mamanya Sinka.

“Iya tante,” ucap Kinal lalu berjalan ke garasi.

“Aku pergi dulu ya ma,” ucap Sinka saat berlari melewati mamanya.

“Iya… hati-hati,” ucap mamanya Sinka sedikit berteriak.

Setelah Kinal mengeluarkan mobil, Sinka pun masuk dan mobil itu melaju ke pasar. Setelah sampai di pasar, hanya Sinka yang turun dari mobil, sedangkan Kinal hanya menunggu di dalam mobil di parkiran.

Drrrrtttt… drrrrtttt…

“Suara apaan sih itu?!” ucap Kinal kaget dengan suara getaran smartphone Sinka yang tertinggal di dalam mobil.

Tanpa berfikir panjang, Kinal pun membuka isi pesan yang masuk. Ia tampak heran dan kaget setelah membaca isi pesan itu.

“Lama ya kak nunggunya?” tanya Sinka sambil membuka pintu mobil.

Kinal tidak menjawab pertanyaan Sinka, ia memperlihatkan isi pesan yang masuk ke smartphone-nya. Sinka terlihat begitu kaget dengan isi pesan itu, ia tampak shock setelah membacanya. Ia diam mematung sambil menutup mulutnya dengan tangan, perlahan air matanya mengalir membasahi pipinya.

“Semoga….” Ucap Sinka sambil menangis.

Author : Luki Himawan.

Iklan

10 tanggapan untuk “Vepanda part 8

  1. Saran nih bang, adegan Ve ketabraknya kurang dapet feelnya :v sorry kalo kurang berkenan di hati.
    Yang kedua, kalo menurut gw “Sinka’s P.O.V.” nya mendingan masuk ke bagian “Author’s P.O.V” sekalian, nanggung itu cma sedikit hehe. Lagian biar nggak bingung gonta-ganti P.O.V.
    Kalo gw sih lebih enak (kalo gw yak :v) cuma pake 2 P.O.V. sudut pandang orang pertama (tokoh utama) sama sudut pandang orang ketiga (Author).
    Oke sekian bang. Satan nggak berguna gw ini kagak usah dipake :v nggak bermanfaat. Pokoknya seenaknya lu aja deh kayak gimana. Gw cuma nyampein pendapat :v sorry kalo kurang berkenan.

    Suka

    1. iya sih gue pas ngedit juga ngerasa kalo adegan ve ketabrak kurang dapet feelnya, tapi berhubung gue udah bingung mau gimana lagi jadinya udah deh gitu aja :v
      soal P.O.V Sinka itu gue juga udah bingung banget gimana caranya ngejelasin kinal pake author P.O.V makanya gue pake Sinka P.O.V biar nggak ribet.
      makasih udah baca dan ngasih saran, lain kali bakalan gue pake sarannya kok, selow aja XD

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s