X-World (Pt.45) : Poison In Your Mind

Suara las yang tengah menyambung potongan besi terdengar nyaring di dalam ruangan itu. Bau-bau cat juga bisa tercium seiring perempuan berambut pendek itu menekan tombol semprot pada kedua kaleng cat semprot yang ada di tangannya.

Mobil yang berada di depan perempuan itu mulai mendapat warna baru dari cat yang ia semprotkan. Perempuan itu berhenti sejenak untuk meregangkan badannya dan menenggak minuman dari botol air yang tergantung di sabuknya.

“Entah sudah berapa lama aku tidak melakukan hal ini.” Ucap perempuan itu seraya ia meragangkan pinggangnya yang pegal.

“Sejak kapan lo jadi montir mobil?” Tanya laki-laki yang ternyata sedari tadi ada di sampingnya.

“Siapa bilang aku jadi montir? Maksudku, aku sudah lama tidak melakukan pekerjaan berat seperti ini.” Perempuan itu kembali menenggak botol minum di tangannya.

“Lo liat Sagha gak, Vin?” Tanya si laki-laki.

“Nggak tau, To. Kayaknya masih di truk deh.”

Laki-laki itu berjalan menuju pintu dan masuk ke dalam ruangan lain yang ada di dalam bangunan bekas bengkel itu. Sebuah truk besar yang hampir selesai dimodifikasi luar-dalam kini terpampang di depannya.

“Woy, To! Ada apaan?” Tanya seseorang yang ada di pojok ruangan itu, “Lo udah kelar nyambungin bemper mobil Viny sama Ve?”

“Udah.” Jawab Anto singkat, “Eh, Gha, menurut lo semua ini perlu banget buat ngelawan Dena?”

“Yah, lo nanya gitu ke gue. Yang udah pernah ketemu Dena kan elo, To.”

“Menurut gue sih,” Anto berpikir untuk sesaat, “Mmm… Entah pas atau agak berlebihan. Gue juga bingung.”

“Lah? Si kocak. Emang pertemuan pertama lo sama Dena kayak apaan? Gue denger, V-Mon sama Wormon sampe dibikin nggak berkutik. Berarti dia hebat banget dong?”

“Yang lo denger itu baru setengahnya, tapi ya, kurang lebih kayak gitu. Waktu pertama dateng, dia nggak sendirian. Dia dateng bawa pasukan mobil terbang yang dilengkapin sama senjata-senjata canggih gitu.”

“Berarti jawaban untuk pertanyaan lo adalah PERLU dan semua ini nggak belebihan. Waktu Erron bilang kalo pertempuran kali ini udah beda level dari sebelumnya, dia bener.”

Sagha berjalan masuk ke dalam truk yang ada di ruangan itu. Ia menyalakan mesinnya, dan kemudian menekan semua saklar pada dasbor. Mobil truk tersebut langsung mengeluarkan semua senjata mesin yang telah terpasang di bodinya.

“Kalo Dena pikir senjata dari masa depan bisa bikin dia menang mutlak ngelawan kita, dia salah besar. Dia belum tau aja kita yang dari masa lalu punya kejutan yang dia nggak tau sama sekali.” Ucap Sagha yakin diiringi senyum khas miliknya.

**

“Gary….”

“Gary!”

“GARY!!!”

Suara panggilan itu terdengar di seluruh sudut kota. Si pemilik nama yang dipanggil tersebut tengah bersembunyi di dalam sebuah gang sempit, di balik tong sampah besar. Ia berusaha mengatur nafasnya yang hampir habis.

“Makhluk-makhluk itu… Kenapa mereka ngincer gue? Perasaan gue nggak pernah berbuat apa-apa sama mereka.” Pikir Gary.

Ia berusaha mengintip dari balik tong sampah besar tersebut untuk melihat apa masih ada makhluk hijau aneh yang mengikutinya atau tidak. Nafas Gary mulai kembali teratur, ia pun berusaha kembali berdiri dengan bantuan GN-Swordnya.

“Gue harus bisa keluar dari sini secepatnya.” Ucap Gary

*PLUK*

Suara batu yang baru saja jatuh persis di depan Gary sontak menarik perhatiannya. Matanya kini tertuju ke atap bangunan di depannya. Ia terkejut, sudah ada 3 orang makhluk hijau aneh berbentuk manusia yang menatapnya di atap bangunan tersebut.

“Gary…” Ucap salah satu makhluk tersebut.

“Anjrit!”

Gary segera memerintahkan kedua kakinya untuk lari dari gang tersebut. Ketiga makhluk itu melompat turun mengejar Gary. Sampai di luar gang, Gary kembali dikejutkan dengan kerumunan makhluk hijau yang telah menunggunya keluar dari gang.

“Ckh! Mau apa lo semua, hah?!!”

Tidak ada satupun dari mereka yang menjawab. Mereka hanya terus menybut nama Gary seraya berjalan perlahan menghampirinya seperti zombie. Makhluk-makhluk hijau itu semakin dekat. Situasinya yang terpojok saat ini membuatnya terpaksa harus kembali angkat senjata untuk mempertahankan dirinya.

Gary terus menjaga jarak dan berusaha kabur dari mereka, tapi makhluk-makhluk itu seakan tidak mau melepaskannya. Sudah hampir 5 Jam ia melakukan hal ini. Entah sudah berapa dari makhluk-makhluk aneh tersebut yang jatuh di tangan Gary, tapi tetap saja, jumlah mereka seperti tidak ada habisnya.

Otot lengan Gary yang mulai kelelahan. Ia pun berhenti memberi perlawanan dan kembali berlari menghindari makhluk-makhluk hijau itu.

Tampaknya keberuntungan sedang tidak berpihak pada Gary. Usahanya untuk menghindar gagal. Kelelahan menjadi faktor utama yang menyebabkan dirinya kini berhasil dikepung total.

Tidak ada lagi jalan keluar, tapi itu bukan berarti Gary menyerah begitu saja. Gary mengacungkan GN-Swordnya ke arah makhluk-makhluk hijau itu. Diiringi rasa panik, ia melancarkan usaha perlawanan terakhirnya yaitu menggertak.

“MUNDUR! MUNDUR LO SEMUA!!!”

Salah satu dari makhluk hijau itu menyentuh Gary, dan tubuhnya langsung merasakan rasa sakit yang luar biasa seperti tersengat listrik. Gary refleks mengayunkan pedangnya, membuat beberapa makhluk hijau yang di sekelilingnya mundur beberapa langkah.

Sambil memegangi lengannya yang tadi sempat disentuh oleh salah satu dari mereka, ia kembali berusaha menerobos kerumunan makhluk itu dengan menyerang membabi buta sambil berlari melewati mereka.

Kali ini ia beruntung, ia berhasil kabur dari makhluk-makhluk itu. Sambil berlari, ia melihat ke arah bekas luka pada waktu salah satu makhluk hijau itu melakukan kontak fisik dengannya. Gary terkejut begitu melihat keadaan kulit di lengannya yang tersentuh tadi berubah menjadi seperti papan sirkuit.

Urat-urat di bagian lengan yang tersentuh tadi berubah menjadi hijau menyala. Selain itu bagian kulit yang tersentuh tadi juga berubah menjadi sedikit pucat. Walaupun tidak merasakan sakit lagi, tapi Gary tetap takut kalau kondisi pada lengannya dapat menular anggota tubuhnya yang lain.

Sempat terbesit dalam pikirannya untuk memotong tangannya yang ia pikir mengalami infeksi tersebut, tapi ia urungan niat itu karena ia membutuhkan tubuhnya dalam keadaan utuh untuk bisa kabur dari makhluk-makhluk hijau itu.

“Lagi?!! Ah, gila! Mereka nggak kenal kata capek apa?” Gary menghentikan langkahnya dengan tiba-tiba.

Tepat di hadapannya sudah ada kerumunan makhluk hijau yang menghadangnya. Saat ia ingin berlari ke arah sebaliknya, ia mendapati keadaan di belakangnya tidak jauh beda dengan yang ada di depannya.

Kembali terkepung lagi, tapi dengan jumlah makhluk yang lebih banyak dari yang sebelumnya. Gary hampir kehilangan harapan. Makhluk-makhluk itu semakin dekat dengan dirinya.

“UWAAAAAGH!!!!!!” Teriak Gary saat kerumunan makhluk hijau itu mulai menyentuh tubuhnya beramai-ramai. Rasa sakit yang dialami Gary hampir setara dengan rasa sakit saat tubuh seseorang menerima kejutan listrik sebesar 1 juta Volt.

“Gue… UGH!!! G-Gue… AAAGH!!! GUE BELUM MAU MATI DISINI!!!” Teriak Gary dari tengah kerumunan.

“BERHENTILAH MENOLAK KAMI, GARY.” Ucap salah satu makhluk hijau.

“S-sebenernya A-Apa… UGH!!! A-Apa l-lo s-se-semua?!!” Tanya Gary terbata-bata.

“KAMI BAGIAN DARI DIRIMU, GARY. BIARKAN KAMI MENOLONGMU.” Jawab salah satu makhluk hijau.

**

*BUK!!!*

Sebuah suara benda jatuh terdengar dari dalam kamar di tengah bengkel. Perempuan berambut panjang itu langsung berlari ke tempat suara itu berasal.

Sampai di kamar tersebut, terlihat tubuh seseorang yang sebelumnya berada di atas kasur kini telah berada di lantai. Melihat hal tersebut si perempuan hanya menghela nafasnya. Ia merasa lega karena tidak terjadi hal yang membahayakan pada tubuh orang itu. Ia menghampiri tubuh itu. Kemudian ia mengangkatnya, dan meletakkannya kembali di atas kasur.

“Huft… Kau membuatku khawatir tau.” Ucap perempuan itu.

“Hei, Gary, kau mendengarku bukan?” Tanya perempuan itu pada tubuh seseorang yang tidak lain adalah tubuh Gary.

Sepertinya perempuan itu mulai kehilangan akal sehatnya. Ia tau kalau Gary sedang dalam keadaan koma, tapi ia masih saja berusaha mengajaknya bicara.

Beberapa saat kemudian, perempuan itu tertunduk di atas kasur dan menangis. Beberapa kali perempuan itu memukul-mukul permukaan kasur dengan tangan kanannya.

Perempuan itu mengangkat kepalanya, lalu menghapus air matanya, “Gary, cepat sadar. Misi kita belum selesai. Mau sampai kapan kau mau membuat kami menunggu?”

“Dia bakalan balik lagi. Dia selalu begitu.” Ucap seorang laki-laki di belakang perempuan itu.

“Maaf. Aku hanya–“

“Iya, gue ngerti. Gue udah tau lo berdua sedeket apa. Dia orang pertama yang percaya sama lo kan?” Tanya laki-laki itu.

“Eh? Darimana kau tau soal itu?”

“Lo yang ngasih tau gue soal itu. Lo yang di masa depan.” Jelas si laki-laki.

“Hei, Erron… Soal masa depan, sebenarnya ini masih agak menganggu pikiranku.”

“Ada apa?”

“Sebenarnya, siapa yang mengirim Dena untuk membunuh Gary di masa ini? Kenapa dia begitu ingin Gary mati?” Tanya si perempuan yang tidak lain adalah Ve. Bukannya menjawab pertanyaan Ve, Erron malah menenggak cangkir kopi yang ada di tangannya.

“Ada beberapa hal yang sebaiknya lo nggak tau sama sekali,” Erron berjalan keluar kamar meninggalkan Ve, “Sori, bukannya gue pelit, tapi ini juga demi kebaikan lo dan temen-temen lo.”

Ucapan Erron membuat Ve kembali berpikir mengenai identitas orang yang mengirim Dena untuk membunuh Gary. ‘Demi kebaikan lo dan temen-temen lo’ Kata-kata itu jelas adalah sebuah petunjuk mengenai identitas bos Dena.

**

Erron berjalan kembali menuju bengkel untuk menyelesaikan sentuhan terakhir pada mobil-mobil yang baru selesai dimodifikasi olehnya dengan bantuan Anto, Sagha, Viny, dan tentunya Ve. Erron memasangkan alat komunikasi khusus pada tiap mobil untuk mempermudah komunikasi satu sama lain dari dalam mobil.

Setelah memasangkan alat komunikasi, waktunya untuk sedikit uji coba lapangan sekaligus latihan kontrol untuk tiap pengemudi. Ve dengan mobil curiannya yaitu, LaFerrari FXX-K-R. Lalu, Viny dengan Aston Martin Vulcan-nya. Dan yang terakhir, Sagha dengan truk semi Peterblit 379 yang ia curi dari gudang barang sitaan.

Ketiga mobil tersebut sudah dimodifikasi total layaknya Jeep Wrangler Rubicon yang digunakan oleh Erron.

Bodi mobil mereka telah diganti oleh besi anti peluru ringan. Beberapa senjata mesin otomatis dan manual telah terpasang di beberapa sisi mobil, dan tentu saja yang paling penting, semua mobil telah dilengkapi NOS dan juga bangku pelontar untuk berjaga-jaga.

Performa ketiga mobil yang bagus dikombinasikan dengan modifikasi dan penambahan perlengkapan membuat mereka setidaknya sedikit siap untuk menghadapi serangan Dena dan pasukannya. Hanya tinggal memoles sedikit kemampuan mengemudi Ve, Viny, dan Sagha, maka lengkaplah sudah persiapan mereka.

Tidak jauh dari area kumuh yang menjadi markas mereka sekarang, terdapat sebuah area sirkuit bekas. Ve, Viny, Erron, Sagha, dan Andela pergi ke tempat itu untuk berlatih kemampuan mengemudi sekaligus membiasakan diri mereka dengan mobil masing-masing.

“Sempurna. Oke, semuanya, dengerin gue. Waktu kita sedikit, jadi gue Cuma bakalan ngomong sekali. Gue nggak peduli kalo kalian denger atau nggak. Latihannya Cuma jalan zig-zag di jalur lurus itu, terus muter sempurna dengan kecepatan tinggi melewati 2 bundaran itu, dan terakhir tembak semua kumpulan rongsokan yang ada di podium juara dekat garis finish.” Ucap Erron.

“Ron, kendaraan gue truk. Ya kali gue bisa U-Turn diatas 70km/jam.” Keluh Sagha.

Erron melempar kunci mobil jeepnya pada Sagha, “Inget, jangan sampe lecet! Awas kalo gue liat ada lecet!.”

“Santai. Gue kalo kerja rapih kok… Biasanya.”

Kegiatan latihan sekaligus uji coba ini dimulai. Viny mendapat giliran pertama. Dengan mudahnya ia dapat melakukan zig-zag dengan rapih tanpa mengurangi kecepatan mobilnya di jalur lurus. Mendekati 2 bundaran di ujung sirkuit, Viny meminggirkan mobilnya sedikit agar tidak terlalu kesulitan saat melakukan U-Turn.

U-Turn pertama berjalan baik dan dia berhasil mempertahankan kecepatannya, tapi pada U-Turn kedua, ia hampir kehilangan kendali dan hampir membuat mobilnya berputar. Mendekati podium, Viny mengaktifkan kedua gattling gun yang terpasang pada sisi kiri dan kanan mobilnya.

Viny hampir membuat podium rusak total dengan kedua senjatanya, dan dari tribun penonton, Erron mengacungkan jempolnya pada Viny.

“Ndel, tolong isi podiumnya sedikit sama rongsokan di sekitar sini.” Andela mengangguk dan pergi meninggalkan Erron di tribun. Andela turun, Viny naik ke tribun. Viny duduk di kursi samping Erron. Ada yang aneh dari Viny.

“Lo hampir ilang fokus di U-Turn kedua. Kenapa? Pusing?” Viny mengangguk.

“Begitu belok, mata lo liat depan, jangan ngeliat kemana-mana. Kalo mata lo gerak kemana-mana pas U-Turn, kepala lo bakalan pusing. Gue liat lo udah lumayan.” Puji Erron.

Andela selesai meletakkan beberapa rongsokan di podium, dan Erron memberi isyarat pada Ve di ujung sirkuit. Ve masuk ke dalam mobilnya dan menyalakan mesinnya. Kali ini gilirannya untuk beraksi. Ve berhasil melakukan zig-zag di jalur lurus, dan ia juga berhasil melakukan 2x U-Turn dengan sangat baik.

Mendekati podium, ia mengaktifkan senjata yang ada pada mobilnya. Dia memilih pelontar misil yang terpasang pada bagian belakang mobilnya. 2 buah misil ditembakkan, dan langsung melesat lurus ke arah podium yang dipenuhi beberapa barang rongsok. BOOM! Podium pun hancur total.

Selesai dengan gilirannya Ve pergi ke pit stop.

“Anak itu. Dia terlalu semangat atau gimana? Podiumnya pake acara diancurin. Kan tadi gue udah bilang rongsokannya aja.” Erron mengambil walky talky dari kantongnya, kemudian dia mengontak Sagha.

“Oi, bocah. Perubahan sedikit. Abis U-Turn kedua, lo puter balik dan ancurin tribun yang bangkunya warna merah. Paham?”

“Oke, oke. Eh, Ron, tombol senjatanya dimana? Kok gak ada di dasbor?”

“Liat dibawah stir. Disitu ada 3 tombol, Biru, Merah, Hijau. Terserah lo mau pake yang mana, tapi JANGAN PAKE YANG HIJAU! Paham?!!”

“Woles dong. Gue nggak budeg-budeg amat kali.”

Giliran Sagha dimulai. Seperti dugaan Erron, Sagha dapat melewati semua rintangan yang berikan dengan mudah walaupun menggunakan mobil berat. Dan sebagai penutupnya, ia berputar balik setelah melakukan U-Turn ke dua dan menghancurkan tribun bangku merah menggunakan bom napalm berdaya ledak rendah.

“Gimana, kece kan?” Tanya Sagha.

“Lo bisa pake mobil gue, tapi apa nanti hasilnya bakal sama pas lo megang Peterblit?”

“Pastilah. Asalkan nggak disuruh yang aneh-aneh aja. Lo tau sendiri nyetir Peterblit beda rasa sama mobil biasa.” Erron berdiri dari tempat duduk, lalu ia menunjuk ke arah sesuatu dengan tangannya.

“Masuk jalur lurus, lewatin U-Turn pertama secepat yang lo bisa. Abis itu lo gas ke pit stop, ratain tempat itu kayak lo ngeratain tribun tadi. Senjata yang boleh lo pake Cuma satu macem.”

“Mmm… Oke! Gampang ini mah.”

**

“Hmm… Kira-kira yang lain lagi pada ngapain yak? Kayaknya seru tuh jalan-jalan pake mobil baru.” Ucap Anto sambil menenggak jus kotaknya di dalam bengkel.

Saat sedang asik melamun, tiba-tiba terdengar suara ledakan yang membuatnya refleks pergi keluar untuk melihat apa yang menyebabkan suara ledakan tersebut.

“Waduh, gawat. Jangan-jangan mereka ditemuin Dena.” Anto buru-buru mengambil hapenya dan berusaha menghubungi Andela.

“Halo? Ndel, lo dimana? Lo gapapa kan? Yang lain keadaannya gimana?” Tanya Anto panik.

“Apa? Hei, pelan-pelan. Aku baik-baik saja, yang lain juga. Kami sedang latihan mengemudi di sirkuit bekas.” Jawab Andela dari balik telefon.

“Fiuh… Bagus deh. Lo denger gak barusan ada ledakan?”

“Oh, itu Sagha. Dia sedang mencoba senjata baru yang terpasang di truk Peterblitnya.”

“Anjir, jadi ledakan barusan itu latihan? Oke deh, sip.” Anto mematikan hapenya.

Anto kembali ke dalam bengkel dan membuang kotak jusnya yang sudah habis ke tong sampah. Satu kotak sepertinya belum membuat Anto cukup puas, ia pun berjalan menuju kulkas di pinggir bengkel untuk mengambil satu kotak lagi.

Saat hendak mengambil kotak jus yang ada di dalam kulkas, tiba-tiba saja ia melihat seisi kulkas bergetar. Tak lama kemudian, ia juga merasakan gempa di sekitar bengkel.

Dari arah luar, ia mendengar banyak suara mesin mobil. Ada yang aneh, suara mesin-mesin itu berbeda dengan suara mesin mobil milik Ve, Viny, Erron, ataupun Sagha.

Anto punya firasat buruk terhadap suara mobil-mobil yang saat ini berada di luar bengkel. Absennya V-Mon dan Wormon membuat Anto terpaksa menggunakan senjata manual untuk melindungi dirinya.

Ia mengambil sebuah AK47 yang ada di atas kulkas, dan perlahan-lahan berjalan menuju jendela kecil yang ada di bengkel untuk mengintip keluar. Sambil meminum jusnya, ia melihat keluar jendela.

“Fak! Gawat!!!”

**

Erron bertepuk tangan melihat keadaan pit stop di sirkuit bekas itu hancur lebur. Sagha berhasil menuntaskan latihannya menggunakan Peterblit.

“Oi, bocah! Ambil kargonya! Kita balik ke bengkel!” Perintah Erron pada Sagha dari tribun.

“Ve, Viny, masukin mobil lo ke kargo. Nanti lo naik Peterblit bareng Sagha. Andela biar bareng gue.” Ve dan Viny mengangguk, lalu mereka pergi meninggalkan tribun untuk mengambil mobil masing-masing.

Erron dan Andela berjalan ke tengah sirkuit untuk mengambil mobil jeep Erron yang masih terparkir di sana.

Mobil Viny dan Ve sudah masuk ke dalam cargo. Mereka pun pergi meninggalkan sirkuit dan kembali ke bengkel untuk beristirahat sebentar. Hape milik Andela kembali berdering. Ada telfon masuk dari Anto.

“Halo? Ada apa?… Apa?… Aku tidak bisa mendengar suaramu, halo?” Baru 10 detik telfon terhubung, tiba-tiba saja panggilan tersebut terputus.

“Si gendut itu kenapa lagi?” Tanya Erron.

“Entahlah. Dia tidak berkata apa-apa. Aku hanya bisa mendengar suara nafasnya dari balik telfon. Mungkin saja salah sambung.” Jawab Andela.

“Jawaban lo ketauan banget ragu-ragunya. Lo Cuma berusaha untuk berpikir positif. Lo lagi panik kan?” Andela kaget mendengar ucapan Erron.

“Bagaimana kau bisa tau?”

“Hmph,” Erron tidak menjawab. Ia mempercepat laju mobilnya, “Kasih tau Ve dan Viny siap-siap di mobil mereka. Bukan Cuma lo yang dapet firasat nggak enak, tapi gue juga.”

Melihat Erron menambah kecepatan, Sagha yang berada di belakang Erron ikut menambah kecepatannya. Sesuai perintah Erron, Andela menghubungi Ve dan Viny lewat walky-talky. Lewat pintu kecil di bagian belakang truk, Ve dan Viny masuk ke dalam kargo dan bersiap di dalam mobil masing-masing.

Begitu mereka hampir tiba di dekat bengkel, Erron mendengar bunyi ledakan dan suara mesin-mesin tidak wajar yang familiar di telinganya.

“Dena nemuin Anto! Bilangin Sagha, keluarin mobil Ve sama Viny! Anto dan Gary dalam bahaya!” Perinta Erron.

Andela menyampaikan pesan Erron ke Sagha. Kargo Peterblit Sagha terbuka, dan mobil Viny dan Ve keluar dari dalamnya. Setelah kedua mobil tersebut keluar, pintu cargo kembali tertutup. Semua mobil mengeluarkan senjata masing-masing dan bersiap untuk bertempur.

“Itu mereka!” Puluhan mobil terbang berwarna silver metalic mengepung bengkel tempat Anto dan Gary berada. Untungnya serangan yang dilancarkan pasukan Dena belum lama. Mereka berempat segera berpencar untuk membabat puluhan mobil yang mengepung bengkel.

Satu persatu mobil terbang itu berhasil dijatuhkan dan ternyata yang mengemudikan mereka adalah robot-robot dengan kerangka polos menyerupai manusia. Sagha menerobos masuk ke dalam bengkel dengan truknya dan ia segera turun untuk mencari Anto dan juga Gary.

Ia berlari menuju kamar tempat Gary berada. Sampai di kamar Gary, ia melihat Anto tengah dipukuli oleh 2 robot yang berhasil menerobos masuk ke dalam bengkel. Tanpa basa-basi, Sagha langsung menghajar kedua robot tersebut untuk menyelamatkan Anto.

“To, lo gapapa kan?”

“Ngh… Gue… gapapa… Agh…”

“Lo masih bisa jalan kan? Ayo cabut sebelum ada robot-robot lagi yang masuk ke sini.”

“Gha… belakang… Lo…”

“Apaan?”

*BHUAAAK!!!!!*

**

“KAMI BAGIAN DARI DIRIMU, GARY. BIARKAN KAMI MENOLONGMU.”

Gary terus meronta di tengah kerumunan makhluk hijau aneh itu. Tubuhnya semakin melemah karena rasa sakit yang ia rasakan di sekujur tubuhnya.

“UWAAAAAAAAAAAAAAGHH!!!!!!!”

Suara teriakan yang berasal entah darimana itu sukses menarik perhatian Gary.

“S-suara itu… S-Sagha??” GN-Sword yang masih digenggam Gary dengan erat ia gerakkan untuk memotong tangan makhluk-makhluk hijau yang menyentuhnya. Mendengar suara teriakan temannya yang entah darimana itu, Gary kembali termotivasi untuk bangkit.

“Gue nggak boleh mati disini!”

“KENAPA KAU MENOLAK KAMI, GARY? KAMI HANYA INGIN MENOLONGMU.” Ucap salah satu makhluk hijau yang tadi menyentuh Gary.

“Nolongin apaan? Kalo lo pikir dengan nyakitin gue sama dengan nolongin gue, berarti lo semua udah gila!”

“KAU TIDAK BISA PERGI MENOLONG TEMANMU KALAU KAU TERUS BERADA DI TEMPAT INI. BIARKAN KAMI MEMBANTUMU KELUAR. HANYA KAMI YANG BISA MENGELUARKANMU DARI TEMPAT INI.”

“Sebenernya ini dimana?”

“INI ADALAH ALAM BAWAH SADARMU.”

“Alam bawah sadar gue? Trus, lo semua apa? Kok lo bisa ada di alam bawah sadar gue?”

“KAU TIDAK INGAT? KAU YANG MEMBAWA KAMI SEMUA KEMARI.”

“Gue nggak inget pernah ketemu lo sebelumnya.”

“KAMI TERCIPTA DARI PARTIKEL GN YANG DIPANCARKAN OLEH GN-SWORD-MU,”

“Hah? Partikel GN?” Butuh beberapa detik bagi Gary untuk mencerna kata-kata yang diucapkan oleh makhluk hijau itu. Hingga akhirnya ia mengerti maksud dari ucapan tersebut.

“Jadi… Lo semua, radiasi partikel GN yang masuk ke otak gue?” Semua makhluk hijau itu serentak mengangguk.

Sekarang Gary mengerti semuanya. Ia mengerti bagaimana makhluk-makhluk itu bisa ada di dalam alam bawah sadarnya. Ia juga mengerti kenapa makhluk-makhluk itu ingin menyatu dengan dirinya.

“Kalo gue mati disini, apa gue bakalan mati di dunia nyata?” Tanya Gary.

“YA.” Jawaban singkat yang diucapkan salah satu makhluk hijau itu sudah cukup membuat Gary yakin akan satu hal. Ia menjatuhkan GN-Swordnya ke tanah, lalu ia membuka baju yang ia kenakan.

“Kalo begitu, tolong. Tolong keluarin gue dari sini dan lakukan dengan cepat. Gue terima resikonya kalo misalnya nanti gue nggak selamat dari proses. Temen gue butuh bantuan, dan gue nggak mau Cuma diem di sini sambil nonton.”

Makhluk-makhluk hijau itu serentak mengangguk, lalu mereka kembali berjalan menuju Gary dan menyetuh tubuhnya beramai-ramai.

“UWAAAAAAAAAAAGH!!!” Gary berusaha menahan rasa sakit disekujur tubuhnya sekuat tenaga. Saat ini yang menjadi motivasinya untuk bertahan dari seluruh rasa sakit di tubuhnya adalah teman-temannya.

Makhluk-makhluk hijau yang menyentuh tubuh Gary, satu persatu mulai menghilang. Tubuh Gary mulai mengalami perubahan. Kulitnya perlahan-lahan berubah menjadi seperti makhluk-makhluk hijau yang tercipta dari partikel GN itu.

“NGHHH! RAAAAAAAAGHH!!!”

**

*BHUAAAK!!!!!*

“SUBJEK 3, SAGHA ADITYA, TERIDENTIFIKASI. PROTOKOL BERTARUNG V2.0 AKTIF!” Ucap wanita yang sekarang berdiri di depan Anto dan Sagha.

“De-Dena…” Ucap Anto terbata-bata.

“Ngh… Dena? Hgh… Oh, jadi lo yang namanya Dena?” Sagha berusaha kembali berdiri setelah sempat terjatuh akibat pukulan dari Dena di wajahnya.

Sebelum Sagha bisa berdiri, Dena melancarkan tendangan ke perut Sagha hingga laki-laki itu terpental ke dinding ruangan.

Dena berjalan menghampiri Sagha yang masih berusaha bangkit untuk melawan balik. Dena menginjak perut Sagha lalu menggerak-gerakan kakinya, membuat Sagha berteriak kesakitan di lantai kamar. Ia berusaha menyingkirkan kaki Dena dari atas perutnya dengan memukul-mukulnya, tapi usahanya sia-sia. Injakan Dena terlalu kuat.

Dena kembali mengangkat kakinya, siap melancarkan injakan terakhirnya untuk mengantarkan Sagha ke alam lain, tapi sepertinya maut belum mau menerima nyawa Sagha kali ini.

Sesuatu yang tidak diperhitungkan oleh Dena terjadi. Tiba-tiba saja tubuh robot wanita itu terpental menghantam dinding yang ada di depannya. Entah apa yang menghantam Dena. Yang jelas, benda itu cukup hebat sampai membuat Dena tidak dapat bergerak setelah menabrakan tubuh robot itu dengan dinding.

Sebuah bayangan hitam dengan mata berwarna hijau tosca kini berdiri tegak di samping tubuh Anto. Anto membuka matanya, lalu ia tersenyum lega setelah melihat sosok asli bayangan hitam di samping dirinya.

“Hhhh… A-Khir-Nya…” Ucap Anto seraya ia kembali memejamkan matanya.

Sosok itu mengangkat tubuh Sagha dan juga tubuh Anto bersamaan. Ia membantu keduanya pergi dari bengkel yang sudah setengah hancur itu sebelum Dena kembali bangun dan mengejar mereka.

Melihat truk milik Sagha dalam keadaan terbuka di dalam bengkel, orang tersebut menaikan keduanya (Anto & Sagha) ke dalam truk. Lalu ia pun ikut masuk ke dalam truk dan menjalankan mesinnya. Mendengar suara langkah kaki dari arah kamar tempat ia keluar tadi, sosok itu langsung tancap gas dan pergi meninggalkan bengkel.

Truk peterblit Sagha menerobos dinding bangunan bengkel dari sisi lain dan melaju pergi menuju kota. Erron, Ve, dan Viny yang melihat truk milik Sagha sudah keluar dari dalam bengkel ikut pergi meninggalkan bengkel untuk menyusul truk yang mereka kira tengah dikendarai oleh Sagha.

Memasuki perbatasan kota dengan daerah kumuh, truk itu menepi dan berhenti di pinggir jalan. Ketiga mobil yang mengikutinya pun ikut melakukan hal yang sama.

“Ada yang aneh.” Ucap Erron.

“Maksudmu?” Tanya Andela.

“Tunggu di sini.” Erron mengambil shotgun yang ada di bangku belakang, lalu ia turun dari jeepnya.

Melihat Erron turun membawa senjata, Ve dan Viny pun ikut turun. Ve dan Viny hendak bertanya, tapi Erron langsung memberi mereka isyarat dengan meletakkan telunjuknya di depan mulutnya.

Erron bicara kepada Viny dan Ve menggunakan bahasa isyarat. Keduanya mengerti apa yang Erron sampaikan, dan keduanya pun ikut mengambil senjata masing-masing. Melihat gerak-gerik truk yang tidak wajar semenjak keluar dari bengkel tadi, Erron mencurigai kalau orang yang ada di dalam truk saat ini bukanlah Sagha.

Mereka bertiga berpencar. Ve dan Viny akan menyergap si pengemudi dari kiri dan kanan, sementara Erron akan menyergap dari atas truk. Erron memanjat ke atas truk dari pintu kargo. Erron mengendap-endap melewati kargo belakang menuju kepala truk.

“Hitungan ketiga.” Viny dan Ve langsung mengangguk.

*BRUK!*

Pintu kanan truk tiba-tiba terbuka. Viny yang kebagian menyergap dari kanan truk terhantam oleh pintu mobil. Si pengemudi melompat turun dan berniat memukul Viny, tapi Erron berhasil mencegahnya dengan tembakan gertakan.

Gertakan yang dilakukan Erron sukses. Peluru-peluru yang sengaja ditembak meleset itu membuat si pengemudi truk berguling dan pergi dari Viny. Erron turun dari atas mobil tanpa menurunkan senjatanya dari si pengemudi truk.

“Udah gue tebak. Ini pasti kerjaan Brotherhood!” Ucap si pengemudi misterius.

“Suara itu….” Erron menurunkan senjatanya.

“Gary?!!”

……………..

~To Be Continued~

By : @ahmabad25

Iklan

2 tanggapan untuk “X-World (Pt.45) : Poison In Your Mind

  1. Mantabs om! Kalo diliat-liat, Gary mungkin nggak sepenuhnya sadar ya? Atau mungkin matanya yg berwarna hijau tosca itu evolusi dr partikel GN?

    Satu lagi nih om, Gw masih penasaran sama yang ngirim Dena. Banyak rahasia di masa depan nih kayaknya.
    Oke, lanjut terus Om!

    Suka

    1. Widih… Ketebak :v yap, di arc kali ini Gary yang bakalan dapet power-up. Mata tosca itu baru 1 dari gimmick power-up yg dia dapet.

      Stay tune, nanti gimmick2 lainnya bakalan dikasih tau satu persatu, dan mungkin… Identitas orang yg bakalan ngirim Dena juga (?) 😀 makasih udh mampir baca dan komen

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s