“Hitam Putihnya Panda : Sinka” Part 9

Hari ini kak Naomi sedang sakit dirumah, itu berarti aku pergi sendirian ke sekolah menggunakan jasa ojek online. Entah kenapa akhir-akhir ini aku sulit menerima pelajaran di sekolah dan hasilnya nilai-nilaiku sangat jelek bahkan paling jelek sekelas, jika seperti ini aku bisa-bisa tidak naik kelas.

“Udah pak sampe sini aja.” Aku berhenti di depan gerbang sekolah, untungnya masih tersisa lima menit sebelum masuk kelas. Aku kembalikan helmnya dan berlari memasuki area SMA, tapi tunggu, aku melihat Rizal dan kak Melody di parkiran motor, sikap mereka aneh terutama sikap kak Melody. Dengan penasaran aku pun menghampiri mereka.

“Kak Melody kenapa?” ketua terlihat tidak begitu baik, wajahnya sedikit pucat dengan pandangan yang kosong. Tanpa pikir panjang aku pun membantu kak Melody untuk berdiri.

“Kak Rizal, aku bawa kak Melody ke UKS ya.” Dari situ aku ambil alih semua, Rizal masuk ke sekolah dengan cepat sedangkan aku dan kakaknya berjalan perlahan.

Detik demi detik berlalu, kini kak Melody sejenak beristirahat di UKS dan aku duduk di sebelahnya sambil menunggu dia, kupandangi wajahnya dalam-dalam betapa cantiknya kak Melody saat sedang tertidur pun. Keterlaluan memang Rizal, jika kakaknya sudah sakit malah dibiarkan pergi sekolah.

“Sinka..” sapa kak Melody dengan suara lembutnya.

Kak Melody menoleh ke arahku sambil tersenyum, ku pegang telapak tangannya agar dia merasa hangat, “Sinka kamu masuk kelas aja, biarin kakak sendiri. Nanti kakak masuknya pas seusai istirahat.” Aku menolak permintaannya itu tapi ketua terus saja memaksa untuk masuk kelas, jika sudah seperti ini aku hanya bisa menurutinya dan bergegas ke kelas, walau pun sudah lewat satu jam setidaknya masih ada 30 menit sebelum bubar jam pelajaran pertama.

Saat jam istirahat pertama aku meratapi nilai ulangan harianku di kantin, siapa sangka dari 10 soal essay matematika aku hanya benar dua, sedangkan Yupi benar delapan. Sadar atau tidak sadar kemampuan otakku berkurang, bahkan menghitung perkalian saja sekarang aku hampir lupa apalagi rumus matematika yang sangat sulit, huh pelajaran di SMA membuatku pusing, apa mungkin jika aku sudah o’on dari lahir?

“Yup, kamu kenal cewek yang lagi duduk di sebelah ka Rizal itu gak?” jarak meja kami dan kak Rizal sedikit agak jauh, tetap saja aku bisa melihatnya jelas. Yupi sejenak berpikir, “Itu kak Shani kayaknya, dia salah satu cewek populer di sekolah. Asal kamu tau aja ya sin kalo kak Shani itu cantik, tinggi, kulitnya putih, kakinya panjang dan sangat pintar, IQ nya 170.”

Sebenarnya tidak usah dijelaskan sedetail itu karena aku bisa melihatnya jika kak Shani memiliki semua yang Yupi sebutkan, hanya saja aku baru tahu jika dia termasuk cewek jenius, aku bahkan tidak tahu sebesar apa kecerdasanku.

“Eh kak Melody.” Ketua berjalan mendekati meja kami, dan dia duduk sambil membawa makanan serta minumannya. Aku tidak terlalu memperdulikan kak Melody saat ini, yang ada aku terus melihat Shani dan Rizal tanpa henti.

“Udah gak usah diliatin mereka, mending makan. Tenang aja Rizal gak akan suka sama Shani.” Ternyata kak Melody memahami pikiranku, tapi ucapan ketua sangat membuatku penasaran terutama saat dia bilang ‘Rizal gak akan suka sama Shani’.

“Apa maksudnya kak? Emang kakak tau?”

“Tau, soalnya insting perempuan dan seorang kakak. Apalagi sebenarnya kalo kakak gak terlalu suka sama Shani, soalnya dia lebih cerdas dari aku.”

Ternyata kak Melody mempunyai dendam sendiri ke Shani, jika membahas kecerdasan sudah pasti aku akan megundurkan diri dengan senang hati. Sepulang sekolah aku duduk di depan gerbang bersama Yupi, Nabilah dan Iqbal. Mereka menemaniku karena aku sedang tidak merasa mood baik akibat nilai ulangan harianku buruk.

“Hei kalian belum pulang?” kak Yoga tiba-tiba datang menghampiri kami, aku langsung menutupi kesedihanku agar tidak ketahuan olehnya, bisa malu bila kak Yoga tahu hasil ulangan harianku hari ini.

“Oiya sin gimana ulangan hariannya?”

Pertanyaan kak Yoga membuatku panik, sejak kapan dia bisa tahu jika aku melaksanakan ulangan harian? Aku hanya diam sambil merangkul tas punggungku, “Sinka cuma bener dua soal matematika kak dari 10 soal essay.” Yupi secara terang-terangan berbicara seperti itu, dia benar-benar teman yang jahat.

“Coba kakak liat.”

Untuk sekarang percuma merahasiakannya juga, karena kak Yoga sudah tahu dengan sedikit berat hati aku menunjukan hasil ulangan, untung saja kak Rizal tidak tahu dan saat dia tahu sudah dipastikan harga diriku hancur. Kak Yoga menatap tidak percaya dengan hasilku, pasti dalam hatinya dia sedang tertawa.

“Jujur aja sin, aku juga gak terlalu bagus dalam pelajaran akademis mangkanya aku jadi ketua tim futsal biar aku memiliki satu kelebihan. Udah jangan sedih, mending kita ke rumah kamu aja makan-makan.”

Ide kak Yoga lumayan bagus, saat SMP dulu kak Naomi sering mengajaknya ke rumah untuk masak bersama, kak Yoga selalu membantu papahku memasak untuk aku dan kak Naomi, “Aku setuju.” Sepertinya Yupi, Nabilah dan Iqbal sepemikiran denganku. Baiklah kita pergi.

Kak Rizal melintas di depan kami saat kami baru berdiri, satu hal membuatku sedih adalah dia bersama seorang cewek yang baru aku kenal yaitu kak Shani, jika diperhatikan ucapan Yupi ada benarnya, dia hampir sempurna untuk Rizal.

Jujur aku menatap sedih dan kesal mereka berdua, kumanyunkan bibirku sambil sedikit menunduk, “Udah sin gak usah sedih, mending kita berangkat sekarang.” Ucap kak Yoga sambil memegang pundak kiriku.

Sesampainya di rumahku seperti yang aku bilang jika kak Yoga sering membantu papahku memasak, dia langsung masuk ke dapur dengan papahku. Kak Yoga sudah sangat akrab saat dia menginjak kelas 1 SMP, karena kak Naomi berteman dengan dia sejak 4 SD, bahkan aku tidak tahu bagaimana awal mula ikatan persahabatan mereka terbuat.

“Sinka, apa bener kamu suka sama kak Rizal?” tanya Yupi.

Pertanyaan dadakan dilemparkan oleh temanku itu, berbeda dari biasanya kali ini aku tidak mengelak atau mengalihkan pembicaraan, “Aku gak tau, aku masih belum memikirkannya.” Jawabku sedikit murung.

“Kosongkan mejanya anak-anak, makanannya datang.” Ucap papah sambil membawa beberapa piring makanan dibantu dengan kak Yoga, Iqba pun lari ke dapur untuk mengambil makanan lainnya.

“Oh iya, kak Naomi mana pah?” tanyaku.

“Dia lagi istirahat di kamar, udah biarin dia tidur.”

Teman-temanku begitu sangat tergoda melihat masakan papah dan kak Yoga, aku dan yang lainnya tidak sabar menghabiskan masakan mereka berdua, “Jadi, aku akan makan sekarang, oke?” ucap Yupi yang sudah tidak tahan.

“Tunggu guys, tunggu sebentar. Sebelumnya kita harus bersyukur ke tuhan atas makanan ini dan satu lagi kita bersulang, untuk persahabatan dan ketulusan. Bersulang!” Kami semua saling bersulang dengan minuman masing-masing, sejak saat itu kami mulai menghabiskan makan siang kami.

Seusai makan aku berdiri di ruang keluarga menatap sebuah lukisan yang terpaku di tembok, aku melihatnya dengan penuh senyum, “Wah cantik ya cewek yang ada dilukisannya, itu siapa sin?” tanya Yupi yang menghampiriku.

“Dia mamah aku yup.”

“Eh mamah kamu? Kok beda sama perempuan tadi?”

Benar juga, aku belum menceritakan kisah keluargaku kepada mereka, “Mamahnya Sinka udah meninggal setelah melahirkan Sinka. Nah yang tadi kita temui itu bibi yang udah lama kerja di keluarga Sinka bahkan sebelum Sinka lahir bibi itu udah kerja, mangkanya Sinka udah nganggep mamah sendiri.” Kak Yoga datang dan berdiri diantara aku dan Yupi, dari sekian banyak orang kak Yoga lah salah satunya yang paling dekat dengan keluargaku, sebab itu dia tahu.

“Maaf ya sin, aku gak tau.” Ucap Yupi sambil merangkulku. Aku hanya tersenyum memahaminya, itu bukan sesuatu yang harus aku sembunyikan dari para teman-temanku.

————————————————-

Semenjak aku mengenal Rizal, saat itu juga aku mulai dekat dengan kakaknya. Kami bahkan berada di hall indoor tepatnya di bangku penonton melihat Rizal dan timnya sedang latihan buat pertandingan perdana mereka.

“Sin, menurut kamu Rizal kayak gimana?” tanya kak Melody.

Huh? Aku bingung harus menjawab apa, apa aku harus berkata manis atau sebaliknya? Jika salah bicara bisa-bisa aku kena masalah dengan ketua, “Aku cuma penasaran kenapa kak Naomi suka sama dia.”

Ekspresi wajah kak Melody terlihat heran saat mendengar jawabanku, sepertinya dia tidak mengerti kalau kakakku suka dengan adiknya, “Kak Naomi suka sama Rizal? Gak mungkin, aku kenal kakak kamu bahkan sedikit lebih dari kamu, aku tahu perasaan Naomi kayak apa ke Rizal. Jangan bilang kamu percaya kalo Naomi suka Rizal?”

Sekarang  malah aku kebingungan, banyak hal yang tidak aku pahami dan kumengerti dalam masalah ini, “Emang perasaan kak Naomi seperti apa ke kak Rizal?” kak Melody sedikit tertawa kecil mendengar pertanyaanku, “Kamu tanya aja sendiri gimana perasaannya ke Rizal, bilang jawab jujur suruh Melody gitu. Oiya kalo manggil Rizal gak usah pake kak, kalian seumuran kok.” Ini yang membuatku tambah bingung, mana mungkin kami seumuran.

Kak Melody dengan santainya pergi meninggalkanku di bangku penonton, dia hanya menambah rasa penasaranku saja. Sepulang sekolah aku langsung mencari kak Naomi di kelasnya, aku akan minta kejujurannya.

“Eh sin udah bubar ternyata kelas kamu.” Ucap kak Naomi sesaat baru keluar dari kelasnya.

Sejenak kutarik napas panjang, niatku sudah bulat untuk menanyakan masalah ini ke kak Naomi, lagipula hakku sebagai adik mengetahui kebenarannya, “Apa bener kakak gak suka sama Rizal?” wajah kak Naomi tiba-tiba berubah menjadi sedikit panik.

“Huh? Apa maksud kamu?”

“Aku tahu itu dari kak Melody, dan kata kak Melody juga kakak harus jawab jujur pertanyaan aku.” Jawabku paksa.

Kak Naomi menunduk sambil tertawa kecil, samar-samar aku bisa mendengar ucapannya, “Dasar Melody.” Aku makin penasaran saja dengan sikapnya, jika begini sudah pasti kak Naomi menyembunyikan sesuatu dari aku.

“Baiklah kakak jujur, kakak gak punya perasaan apa pun ke Rizal. Dan kenapa kakak nyuruh kamu buat ngedeketin dia adalah untuk ……………………….”

“Untuk??” tanyaku penasaran.

Tangan kanan kak Naomi mengelus kepalaku sambil dia pun tersenyum, “Nanti kamu akan tau sendiri untuk apa kakak ngelakuin itu ke kamu. Karena kamu udah tau kakak gak punya perasaan spesial ke Rizal, kakak gak akan maksa kamu buat terus deketin Rizal, kamu bisa menjauhinya sekarang. Tapi dalam hati kakak malah mau kamu terus bisa dekat dan akrab dengan Rizal.” Jawab kak Naomi sambil berjalan meninggalkanku.

Aku sejenak terdiam berpikir, perasaan apa ini? Kenapa aku begitu senang saat tahu kak Naomi tidak menyukai Rizal? Kututup wajahku dengan kedua telapak tangan, aku tidak mau orang-orang melihat wajahku yang sedang berseri bahagia. Aku tidak akan berhenti mengejar Rizal, walau sikapnya selalu dingin tetap saja aku sekarang mencintainya.

 

 

*To Be Continued ………

Twitter : https://twitter.com/BeaterID

Iklan

Satu tanggapan untuk ““Hitam Putihnya Panda : Sinka” Part 9

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s