Alter Ego and Me part 3

sp

“Hei Radika lama tidak bertemu,” ucap sesorang.

“Kau kan, Ryuto. Kenapa kau muncul lagi?” tanya Radika kaget.

“Bukankah sudah pernah kubilang, aku tidak tahu kenapa aku muncul. Itu terjadi begtitu saja,” ujar Ryuto

“Sebelumnya terima kasih. Tapi bukannya dokter bilang kau sudah hilang secara permanen” Radika bertanya

“Entahlah aku juga tidak mengerti, tapi kurasa seperti ada suatu pemicu yang membuat aku muncul lagi” jelas Ryuto

“Apa itu?” tanya Radika

“Entahlah, mungkin perasaanku saja”

“Sepertinya kita harus kembali ke peraturan lama, kau masih ingat kan”

“Terserah kau saja. Oiya sepertinya kau harus bangun, kasihan ka Melody sepertinya dia sangat khawatir,” ucap Ryuto tanpa ekspresi dan emosi sama sekali

“Tumben kau punya rasa kasihan,” ucapku mengejek

“Cih terserah kau saja,” ucapnya kesal

~0o0~

 

Author Pov

 

“Oiya lupa ka hehe,” ucap Radika

Tiba-tiba setelah itu Radika pingsan, yang sontak membuat Melody panik.

“Dek… dek… bangun dong, kamu kenapa sih jangan bikin kakak panik deh,” ucap Melody

Karna tidak ada jawaban, Melody lagsung membawa Radika ke rumah sakit. Di perjalan Meody tidak henti-hentinya melihat adiknya yang diduduk kan di sampingnya. Sedih, cemas, takut, dan panik itulah yang menggambarkan perasaan Melody sekarang. Sesampainya di rumah sakit Melody langsung membawa adiknya masuk.

“Sus tolong adik saya sus,” ucap Melody yang terengah-engah karna berlari-larian di lorong rumah sakit.

Suster pun langsung membawa Radika ke sebuah ruangan untuk melakukan pemeriksaan, sedangkan melody disuruh untuk menunggu di luar. Melody terlalu panik sampai-sampai dia terus saja mondar-mandir di uang tunggu, hingga dokter keluar dari ruangan Radika.

“Gimana keadaan adik saya dok?’ tanya Melody cemas.

“Adik anda baik-baik saja dia hanya kelelahan, tidak ada tanda-tanda penyakit yang serius,” ucap dokter tersebut.

“Alhamdulillah terima kasih dok,” ucap Melody agak tenang.

“Kalo begitu saya permisi dulu” Dokter berlalu pergi.

Setelah dokter itu pergi Melody pun langsung masuk ke ruangan adiknya di periksa. Di dalam Melody melihat adiknya tergeletak di atas kasur, perlahan tapi pasti Melody mendekati adiknya dan dia pun duduk di samping kursi yang terletak di samping adiknya. Melody kemudian menggenggam tangan adiknya itu dengan penuh kasih sayang dan perlahan mengelus punggung tangan milik adiknya itu. Tiba-tiba jari adiknya bergerak-gerak yang membuat Melody agak kaget. Perlahan-lahan Radika membuka matanya dan setelah pandangannya jelas dia melihat kakaknya duduk di sampingnya dengan wajah yang cemas.

“Kak, aku di mana?” tanyanya kepada Melody.

“Kamu di rumah sakit dek. Tadi di rumah kau tiba-tiba pingsan dan kakak langsung bawa kamu ke sini,” jelas Melody dengan suara serak karna habis menangis

“Kakak abis nangis?” tanya Radika.

“Keliatan ya? hehe,” ucap Melody nyengir.

“Maafin aku ya kak kalo udah bikin kakak cemas,” ucap Radika dengan raut wajah bersalah.

“Iya gapapa kok,” kata Melody tersenyum

“Muka kamu kenapa dek kok banyak luka lebam, kamu berantem ya?” tambah Melody menanyakan luka adiknya di beberapa bagian tubuhnya.

“Iya kak, tadi aku berantem sama preman,” kata Radika

“Kok bisa sih, gimana ceritanya?” tanya Melody

“Ceritanya panjang tapi gaada judulnya. Intinya aku berantem karna terpaksa,” jelas Radika malas

“Luka kamu udah di obatin?” Melody tampak cemas melihat keadaan adiknya yang penuh luka di beberapa bagian tubuhnya.

“Udah kok kak tadi di rumah Shani,” jawab Radika

Melodypun hanya menjawab dengan kata yang begitu simple, “oh” kata itulah yang Melody ucapkan setelah adiknya menjawab pertanyaannya. Setelah itu tidak ada seorang pun dari mereka yang membuka pembicaraan, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing hingga akhirnya Radika membuka pembicaraan.

“Kak, aku mau ngasih tau sesuatu,” ucap Radika dengan raut wajah serius.

“Ngomong aja dek”

“Kakak masih inget Ryuto ga?” tanyaku.

“Hmhmh… siapa ya? kakak lupa,” tanya Melody tengah berpikir.

“Masa kakak ga inget, dia itu-” ucap Radika terpotong.

“Radika dan Melody menoleh ke arah sumber suara dan mereka begitu terkejut dengan kehadiran seseorang yang mereka kenal baik.Kepribadian keduamu,” potong seseorang.

“Dokter Naomi?” ucap Radika kaget.

Dia adalah dokter Naomi, dokter spesialis penyakit DID (Dissociative Identity Disorder). Dia dokter yang 4 tahun lalu menangani penyakit Radika, dan juga dia adalah dokter yang amat cantik dan juga baik. Dia terkenal ramah kepada pasien-pasiennya dan juga kepada orang-orang disekitarnya

“Hai Radika, hai Melody. Kalian apa kabar?” ujar dokter Naomi tersenyum.

“Baik kok dok, hehe,” jawab Radika.

“Baik gimana kamu tadi di rumah tiba-tiba pingsan gitu” kata Melody sambil menyentil jidat adiknya itu, sedangkan yang di sentil hanya bisa mengusap-ngusap jidatnya yang berbekas merah karna di sentil.

“Oiya, dokter kok bisa di sini?” tanya Radika bingung.

“Tadi aku lagi iseng jalan-jalan di rumah sakit, terus aku liat kakak kamu lari-lari yaudah aku ikutin aja deh,” jelas dokter Naomi.

“Oiya, kenapa kalian ngomongin Ryuto?” tambah dokter Naomi.

“Dia kembali lagi dok,” jawab Radika.

“APA!!” dokter Naomi tersentak kaget.

“Apa kamu bilang dek? dia kembali lagi?” tanya Melody yang tidak kalah kagetnya.

“Iya kak” jawab Radika.

“Sejak kapan dia kembali?” tanya dokter Naomi.

“Baru aja tadi, pas aku mau pulang tadi mobilku di cegat preman, aku coba lawan mereka, karena kewalahan aku akhirnya pingsan. Saat aku bangun preman-preman itu udah pada pingsan, pas aku tanya temenku dia bilang aku yang ngehajar preman-preman itu,” jelas Radika

“Berarti kemunculan kali ini mirip seperti kemunculannya pertama kali” dokter Naomi tampak berpikir.

“Sepertinya begitu” ucap Radika yang masih terbaring.

“Kak…,” panggil Radika ke kakaknya itu.

“Kenapa?” tanya Melody dengan tatapan heran.

“Pulang yuk kak, besok kan kita sekolah,” ujar Radika.

“Kamu kan masih sakit, besok izin dulu aja deh gausah masuk sekolah”

“Aku udah sembuh kok kak beneran deh suer,” pinta Radika sambil menangkat jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk seperti huruf “V”.

“Yaudah yaudah, dari dulu kamu kalo di rumah sakit pasti minta cepet-cepet pulang” Melody menggeleng pelan.

“Dok kami pulang dulu ya, makasih udah mau jenguk,” ucap Radika menoleh kearah dokter Naomi.

“Iya sama-sama.” dokter Naomi tersenyum

“Oiya kalo kamu mau konsultasi dateng aja ke sini, aku di rumah sakit terus kok ga kemana-mana.” dokter Naomi mengeluarkan kedipan mautnya yang konon bisa membuat orang pingsan dalam sekejap.

Setelah pamit mereka berdua pergi ke kasir untuk membayar biaya perawatan Radika, selesai membayar mereka menuju mobil untuk bergegas pulang ke rumah. Di jalan mereka berdua hanya terdiam tidak ada percakapan hingga mereka sampai di rumah, setelah memarkirkan mobil di garasi mereka keluar dari mobil dan langsung masuk kedalam rumah.

Radika langsung berjalan menuju kamarnya di lantai 2 dan merebahkan badannya di kasur karna ini merupakan hari yang melelahkan, ketika dia memejamkan matanya hendak tidur dia teringat sesuatu yang penting yaitu, dia belum melaksanakan solat isya. Dengan terkantuk-kantuk dia berjalan menuju ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu, selepas wudhu dia segera melaksanakan solat isya.

~0o0~

Selesai solat isya, Radika yang tadinya mengantuk malah menjadi tidak bisa tidur, tiba-tiba perutnya berbunyi menandakan dia lapar. Dia pun pergi ke bawah untuk mencari makanan, tetapi sesampainya di bawah dia tidak menemukan makanan, yang ada hanya lah mie instant dan nasi. Daripada mati konyol karna kelaparan, Radika membuat sebungkus mie di tambah dengan nasi.

Pada saat membuat mie, Radika tiba-tiba mendengar suara langkah kaki yang berjalan ke arahnya, langkah kaki itu mendekat, semakin dekat dan muncullah seseorang dengan rambut yang panjang dan membawa sebuah guling yang dipeluk olehnya, hampir saja Radika hendak menyiram orang itu dengan air rebusan yang digunakan untuk memasak mie, tapi dia mengurungkan niatnya karena begitu di lihat itu adalah kakaknya,

“Ya allah ka ngagetin aja, untung ga aku siram pake air rebusan.” Radika mengelus-ngelus dadanya sendiri.

“Hehe maaf dek, lagian kamu ngapain malem-malem di dapur?” tanya Melody heran, karna tumben-tumbenan adiknya ini pergi ke dapur.

“Aku laper kak, mau makan eh ternyata gaada makanan yaudah aku masak mie deh,” jelas Radika.

“Bikinin kakak sekalian dong dek, kakak juga laper nih gara-gara kamu ga beliin pesenan kakak”

“Iya iya aku bikinin, kakak tunggu di ruang tamu aja gih, nanti kalo udah jadi aku panggil”

“Yeaay makasih ya dek”

Melody pergi menuju ke ruang tamu menuggu adiknya yang sedang memasak mie instant. Sambil menunggu, Melody menyalakan tv hanya sekedar untuk membunuh rasa bosannya. Tak lama kemudian adiknya memanggilnya karena mienya sudah siap.

“Kak, mienya udah siap, sini ke meja makan” teriak Radika.

“Iya dek” teriak Melody tak kalah kencang dari adiknya.

Melody beranjak pergi dari sofa, tak lupa dia mematikan tv terlebih dahulu. Sesampainya di meja makan Melody langsung duduk di salah satu kursi yang ada, dan mereka pun berdoa sebelum makan.

Selesai makan, mereka mencuci peralatan makan mereka masing-masing dan setelah itu mereka pergi ke kamar masing-masing untuk melanjutkan tidur mereka yang tertunda. Saat hendak tidur Radika mengecek smartphonenya dan terdapat notifikasi line dari Shani yang di kirim kira-kira setengah jam yang lalu.

Shani: Good night…. jangan lupa baca doa, have a nice dream^^

Radika: Good night too Shan, have a nice dream^^

Setelah membalas pesan Shani radika menaruh smartphonenya dan naik ke kasur untuk tidur, dia memejamkan matanya dan tak lama kemudian dia pun tertidur dengan pulas.

~0o0~

Radika bangun pagi-pagi sekali dia langsung mandi, solat dan memakai seragam putih abu-abunya. Setelah selesai dia pun turun ke bawah untuk sarapan, sesampainya di bawah dia hanya melihat mamanya saja.

“Pada kemana mah kok sepi banget?” tanya Radika kepada mamanya.

“Tumben kamu udah bangun, biasanya susah di banguninnya,” ucap mama Radika heran melihat anak laki-lakinya itu sudah bangun pagi-pagi sekali.

“Bangun kesiangan salah, bangun kepagian salah juga, emang cowo mah serba salah” ucap Radika dengan muka datar.

“Gitu aja ngambek, yaudah sarapan gih” ujar mamanya sambil memberikan roti yang telah di beri selai.

“Gausah deh mah aku langsung berangkat aja” ucap Radika menolak.

“Ga bareng kaka kamu?” tanya mamanya.

“Ga deh aku berangkat sendiri aja bawa motor. Salam buat papah sama kak Mel ya mah”

“Minimal minum susu dulu deh” mamanya menyodorkan segelas susu coklat.

“Iya deh mah” ucap Radika lalu dia pun mengambil gelas berisi susu dari tangan mamanya lalu meminum susu itu sampai habis.
“Aku berangkat ya mah, assalamu’alaikum,” ucap Radika mencium punggung tangan mamanya itu.

“Wa’alaikum salam, hati-hati di jalan jangan ngebut” ujar mamanya.

Setelah memakai sepatu Radika langsung mengambil motornya yang terparkir di garasi, dia memasukkan kunci motornya ke lubang kunci dan menstaternya. Dia menunggu hingga motornya cukup panas, serasa sudah cukup dia pun memakai helm langsung naik ke motornya meninggalkan pekarangan rumahnya.

Radika menjalankan motornya dengan kecepatan sedang, untuk sekedar menikmati angin pagi yang berhembus menerpa tubuhnya. Setelah sekitar 20 menit perjalanan akhirnya dia sampai di sekolahnya yaitu SMAN 5 Depok, Radika memarkirkan motornya di parkiran murid yang terletak di dekat pos satpam. Setelah selesai dengan urusannya akhirnya dia pun berjalan menuju ke dalam sekolah, tepatnya ke kelasnya XI IPA 1 yang terletak di lantai dua. Sesampainya di kelas dia pun langsung merebahkan kepalanya di meja tempat dia duduk sambil mendengarkan musik dari handponenya dan tak lama kemudian dia pun tertidur.

Selang beberapa menit kemudian datanglah seorang siswi, dia berjalan menuju ke meja Radika dan menaruh tasnya di situ kemudian duduk tepat di sebelah Radika yang tengah tertidur pulas. Siswi itu terus memandangi pemuda yang tengah tertidur itu, kemudian siswi itu menaruh tangannya di pipi pemuda itu dan mengelusnya dengan lembut, tiba-tiba pemuda itu bangun dan membuat siswi itu terkejut.

“Eh Ve, udah sampe aja kamu,” ucap Radika yang masih mengantuk

“P-pagi Radika,” ucap Ve terbata-bata.

“Pagi juga Ve” ucap Radika sambil mencoba memulihkan kesadarannya.

“Radika” panggil Ve

“Hmm” ucap Radika yang masih mengantuk.

“Ishh bangun dong, temenin aku ke kantin yuk,” ajak Ve

“Kamar mandi?” Radika bertanya

“Ihh bukan kamar mandi, tapi ke kantin” ucap Ve memanyunkan bibirnya yang membuat pipinya menjadi besar, lebih tepatnya chubby.

“Males ah, aku ngantuk Ve” Radika kembali menaruh kepalanya di meja dan memejamkan matanya, tetapi telinganya langsung di jewer oleh Ve yang geram.

“Ayok ke kantin, kamu pasti belum sarapan kan?” paksa Ve

“Aduh-duh lepasin dong, sakit nih,” ucap Radika yang mencoba melepaskan telinganya dari jeweran seorang JessicaVeranda.

“Tapi temenin ke kantin?” ucap Ve memberi syarat.

“Iya deh iya” Radika terpaksa menyetujuinya daripada di jewer terus-terusan.

~0o0~

Sesampainya mereka di kantin Radika dan Ve langsung duduk di salah satu meja yang kosong. Ve melihat-lihat menu yang ingin di beli sedangkan Radika sudah tertidur pulas kembali seperti di kelas tadi, Ve yang melihat itu langsung membangunkan Radika dengan halus.

“Hey bangun dong, kamu mau pesen apa?” ujar Ve

“Aku susu coklat sama roti bakar aja deh” Kata Radika dengan malas.

“Yaudah aku pesenin dulu ya, kamu tunggu di sini, awas kalo lari” Ve beranjak pergi memesan pesanan mereka

“Iya sip lah” Radika pun kembali tidur

Tak lama kemudian Ve datang bersama pesanan mereka, setelah membangunkan Radika, mereka memakan sarapan masing-masing. Tidak ada obrolan yang tercipta, mereka berdua hanya fokus kepada sarapan masing-masing.

Setelah selesai mereka berdua membayar makanan mereka dan pergi menuju ke kelas. Di perjalanan ke kelas mereka berdua bertemu Shani dan Radika pun menyapanya.

“Pagi Shan,” ucap Radika tersenyum

“Pagi juga.” Shani pun tersenyum

“Baru dateng?” tanya Radika ke Shani.

“Iya nih, kamu sendiri abis dari mana?” tanya Shani

“Abis dari kantin Shan sama Ve,” jelas Radika

“Oiya sampe lupa, kenalin ini temen sekelas aku Shan,” tambah Radika

“Jessica Veranda, panggil aja Ve. Salam kenal,” ucap Ve menyodorkan tangannya.

“Shani Indira Natio, panggil aja Shani. Salam kenal juga Ve” Shani pun tersenyum dan menerima uluran tangan Ve.

Ting… ning… ning… ning…. It’s time to begin the first lesson.

“Udah bel nih, aku duluan ya,” ucap Shani pamit kepada kedua temannya itu.

“Yaudah aku sama Ve juga mau ke kelas,” ucap Radika

Shani pun berlalu meninggalkan mereka menuju ke kelasnya, sedangkan Radika dan Ve melanjutkan perjalanan mereka ke kelas yang sempat tertunda.

~0o0~

Sesampainya mereka di kelas mereka berdua masuk, keadaan kelas sudah ramai jauh berbeda dengan tadi pagi yang masih sepi bagai kuburan kucing. Radika langsung pergi ke tempat duduknya, sedangkan Ve pergi ke tempat teman-temannya.

“Woi bro darimana aja lu, tadi pas gua dateng ada tas lu doang sama Ve orangnya pada kaga ada” Farhan menyapa

“Oit… udah dateng aja lu, tadi gua nemenin Ve ke kantin padahal gua ngantuk banget dah sumpah” Radika curhat.

“Btw, si Rio mana? kaga keliatan batang idungnya” tambah Radika

“Palingan telat dia mah, kebiasaan dari dulu,” jawab Farhan

Tak lama kemudian orang yang di bicarakan pun datang dan tepat setelah itu datanglah guru bahasa indonesia yang mengisi pelajaran pertama hingga jam istirahat, namanya adalah Pak Boy. Pak Boy terkenal seorang guru yang humoris dan sering bercanda tapi jika waktunya serius Pak Boy sangat tegas dan sangat berbanding terbalik dengan Pak Boy yang sedang bercanda.

“Morning,” ucap Pak Boy saat memasuki ruang kelas.

“Morning pak,” jawab murid-murid.

“Buka buku kalian halaman 156 dan baca, setelah itu saya akan menunjuk satu orang untuk di tanya,” ucap Pak Boy dengan penuh wibawa.

“Baik pak,” ucap para murid dengan malas.

Para murid mulai membaca halaman yang di perintahkan oleh Pak Boy, tapi tidak semua murid membaca buku dengan serius, ada yang bermain game, ada yang tertidur dengan membuat peta indonesia di bukunya dan masih banyak lagi yang lainnya.

Setelah 10 menit berlalu, Pak Boy menyuruh muridnya berhenti membaca buku dan dia mulai melihat absensi murid, dilihatnya absensi itu dari atas hingga ke bawah lalu kembali ke atas lagi, untuk memilih sebuah nama, tapi di lihat ada sebuah nama yang asing olehnya, lantas dia pun bertanya kepada para muridnya.

“Radika? murid baru?” tanya Pak Boy kepada murid-murid.

Tidak ada jawaban dari yang punya nama, dan ternyata dia sedang tertidur dengan pulasnya dengan kepala di sangga oleh tangan kanannya. Ve yang melihat itu cepat-cepat membangunkan Radika yang tengah tertidur itu, dan dia bilang kepada Radika kalo Pak Boy bertanya kepadanya.

“Hoaaaam, kenapa sih Ve orang lagi tidur enak-enak di bangunin,” ucap Radika mengucek-ngucek matanya yang kemerahan karna baru bangun tidur.

“Itu Pak Boy nanyain kamu,” ucap Ve berbisik.

Karna merasa pertanyaannya tidak di jawab, Pak Boy bertanya sekali lagi.

“Mana yang namanya Radika?” tanya Pak Boy sekali lagi.

“Saya pak” Radika mengangkat tangannya ke atas

“Oh, jadi kamu murid barunya” Pak Boy memijit-mijit dagunya.

“Iya pak” jawab Radika.

Setelah itu pelajaran kembali di lanjutkan dengan memanggil murid ke depan dan di minta untuk menjelaskan apa yang tadi di bacanya, jika tidak bisa maka dia harus berdiri di depan kelas hingga jam pelajaran selesai.

~0o0~

Ting… ning… ning… ning…

Bel istirahat yang di tunggu-tunggu akhirnya berkumandang, para murid berhamburan keluar dari kelas, ada yang menuju kantin, perpustakaan, taman, bahkan atap sekolah. Tapi lain halnya dengan murid yang berada di dalam kelas XI IPA 1, dia malah asik tertidur di saat orang lain sedang memberi makan cacing-cacing di perutnya. Saat asyik dengan kegiatan tidurnya, smartphonenya berbunyi menandakan ada yang mengiriminya pesan, karna keasyikan tidur dia tidak menyadari ada yang mengiriminya pesan. Tak lama kemudian smartponenya berdering menandakan seseorang menelfonnya, pertama-tama tidak ada respon semakin lama dia pun semakin terganggu dan akhirnya membuka matanya dan mengambil smartphonenya dari dalam saku. Di layar smartphonenya tertera nama Shani si penelpon dan dia pun menjawabnya.

Shani: Hallo Radika

Radika: Hallo Shan, kenapa nelfon?

Shani: Abisnya kamu ga bales line aku jadi aku telfon aja deh

Radika: Sorry Shan tadi aku lagi tidur jadinya aku gatau kalo kamu ngeline

Shani: Iyadeh aku maafin. Kamu lagi di kelas ya? aku ke kelas kamu boleh ga?

Radika: Iya. Kamu mau ngapain ke sini?

Shani: Aku bawa bekel, temenin aku makan bekel ya…

Radika: Emangnya temen kamu pada kemana?

Shani: Mereka pada ke kantin, aku di kelas sendirian

Radika: Yaudah ke sini aja

Shani: Yeaaay^^ yaudah aku ke sana sekarang

Radika: Iya aku tunggu di kelas

Setelah itu telefon langsung di putus oleh Shani, untuk membunuh rasa bosan dia pun bermain game “Naruto ninja senki” di smartphonenya, tak lama kemudian Shani pun sampai di kelasn Radika dan berjalan ke arah meja Radika dengan membawa kotak bekal di tangannya, sedangkan yang di datangin masih terlalu asik dengan gamenya, dia tidak sadar jika Shani sudah duduk di sampingnya.

“Hiraishin no jutsu, rasakan ini… rasen senko cho rinbu kosan siki.” Radika berteriak-teriak sendiri.

“Anjrit udah jurusnya namanya panjang banget pake di bokongin ama tobirama, bangke banget emang,” ucap Radika emosi karena sudah menyebut nama jurus yang panjangnya mahsya allah, eh karakternya malah mati.

Karena kesal dia pun memilih berhenti bermain, daripada nanti dia banting smartphonenya karena kesal. Dia pun memasukkan smartphonenya ke kantong, dan pada saat di menoleh ke bangku di sampignya dia kaget karena ada seseorang yang duduk di situ, lebih tepatnya seorang perempuan.

“E-eh Shani, kamu dari kapan di situ? Kamu pake hiraishin Shan?” Radika kaget bukan main

“Daritadi aku di sini kamu sih keasyikan main game sampe teriak-terika gitu, untung kelasnya lagi sepi coba kalo rame pasti di kira orang gila hihi.” Shani tertawa kecil

“Ehehehehe” Radika hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

“Btw hiraishin apaan? ko kamu nyebut aku pake hirashin?” tanya Shani bingung.

“A-ah itu jurus teleportasi hokage ke empat. Udah gausah di pikirin, efek abis main game hehe,” ucap Radika

“Main game ko sampe segitunya hihi. Yaudah yuk makan bareng, nih mama aku bawain banyak banget” Shani memperlihatkan kotak bekel yang dia bawa.

“Yaudah kamu makan gih, aku masih kenyang,” ucap Radika menolak

“Ishh aku ga bakalan abis makan segini banyak, makan bareng sama aku ya, please” ujar Shani memohon dengan senjata rahasianya, yaitu memasang muka memelas yang membuat orang tidak tega menolak permintaannya.

“Iya deh iya aku nyerah. Aku mau makan juga,” ucap Radika walau sebenarnya dia agak malas, tapi apa boleh buat.

“Yeaaayy yuk makan,” ucap Shani kegirangan.

“Sendoknya kan cuman 1, kamu makan duluan aja Shan,” ujar Radika

“Yaudah kamu aku suapin, gitu aja kok ribet,” ucap Shani santai

“Tapi Shan-”

“Gaada tapi-tapian, pokoknya kamu harus nurut,” potong Shani

Pada akhirnya Radika hanya bisa menuruti perkataan Shani karena tidak bisa membantahmya, setelah itu mereka berdua memakan bekal Shani bersama. Shani menyuapkan makanan ke mulutnya setelah itu dia menyendok makanannya kembali dan menyuapkannya ke Radika, itu terjadi terus-menerus hingga isi kotak bekal Shani habis

Setelah selesai makan mereka berdua mengobrol sebentar, setelah itu Shani pamit untuk kembali ke kelasnya karena bel telah berbunyi. Tak lama kemudian teman-teman sekelas Radika kembali ke kelas dan guru yang mengajar pun datang, pelajaran pun dimulai.

~0o0~

Ting… ning… ning… ning…

Bel pulang pun berbunyi, murid-murid berhamburan keluar dari kelas karena ingin cepat-cepat kembali ke rumahnya masing-masing berbeda dengan kelas XI IPA 1, di kelas itu guru masih saja menjelaskan pelajaran padahal bel pulang telah berbunyi, entah karena di sengaja atau tidak, tentu saja itu membuat murid kelas XI IPA 1 kesal.

“Buset dah parah banget nih guru, orang udah pada pulang dia masih aja ngejelasin,” bisik Radika kepada Farhan dan Rio.

“Iya sue banget kan, gue pengen cepet-cepet pulang juga”, ucap Rio

“Kalo soal pulang paling cepet lu yo, giliran berangkat sekolah telat mulu,” ledek Farhan

“Ehehehe maklum lah namanya juga gua.” Rio menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Saat sedang asyik-asyik mengobrol, mereka bertiga di kagetkan oleh Pak Doni yang bertanya. Nama guru yang mengajar pelajaran itu adalah Pak Doni, dia adalah guru yang mengajar pelajaran matematika.

“Apa kalian sudah mengerti?” tanya Pak Doni.

“Ada yang ingin di tanyakan?” tambahnya lagi.

Rio mengangkat tangannya menandakan dia ingin bertanya

“Iya kamu, apa yang ingin di tanyakan?” tanya Pak Doni

“A-anu pak, kita kapan pulangnya ya? kan tadi udah bel pak” jawab Rio malu-malu

“Oiya bapak sampe lupa waktu saking asiknya ngejelasin hehe” ucap Pak Doni dengan muka tak bersalah.

Setelah itu para murid XI IPA 1 membereskan peralatan sekolahnya dan memasukannya ke dalam tas, lalu mereka semua berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing. Setelah selesai mereka semua menyalami Pak Doni dan keluar dari kelas.

Setelah keluar kelas Radika langsung menuju ke parkiran bersama Rio dan Farhan untuk mengambil kendaraan mereka masing-masing, sesampainya di sana Radika langsung pamit kepada kedua temannya untuk pulang duluan. Di perjalanan ke rumah dia terus memikirkan tentang Ryuto kepribadian keduanya, kenapa dia muncul lagi? apa sebabnya dia muncul lagi? pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang terebesit di benaknya.

20 menit sudah berlalu dan tidak terasa Radika sudah sampai di depan rumahnya, dia lekas memasukan motornya ke garasi dan langsung masuk ke dalam rumah. Di rumah hanya terlihat ibu dan kakaknya sedang menonton tv di ruang tamu, Radika langsung ke kamarnya tapi pada saat ingin naik tangga, kakaknya memanggilnya.

“Dek,” panggil Melody kepada adiknya

“Yoo kak, kenapa?” Radika bertanya

“Jangan lupa solat dhuhur, kalo udah solat turun ke bawah kita makan bareng-bareng”

“Iya sip kak”

Radika pergi melanjutkan perjalanannya menuju ke kamar, sesampainya di kamar dia langsung merebahkan badannya untuk sekedar menghilangkan rasa capeknya setelah berkegiatan seharian ini, lalu dia teringat perkataan kakaknya “jangan lupa solat dhuhur”. Dengan langkah lemas dia pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu, setelah mengambil air wudhu dia pun melaksanakan kewajibannya sebagai umat islam yaitu solat.

Setelah selesai solat dia pun mengambil smartphonenya untuk mengecek notifikasi, karena tidak ada Radika pun memutuskan pergi ke bawah untuk makan bersama kakak dan ibunya.

Selesai makan dia kembali ke kamarnya untuk kembali rebahan, saat hendak memejamkan mata tiba-tiba smartphonenya berdering, membuat Radika tidak jadi memejamkan matanya. Radika mengambil handponye yg tergeletak di meja dan terlihat nama “Shani” di layar smartphonenya, dia pun menjawabnya.

Shani: Hallo Radika

Radika: Biasain kalo nelpon ke sesama muslim pake assalamu’alaikum

Shani: Iya maafin Shani ya, di ulang deh. Assalamu’alaikum

Radika: Wa’alaikum salam. Nah gitu kan bagus Shani pinter deh, oiya kenapa nelfon?

Shani: Hihi kamu lucu ya. Aku kangen kamu

Radika: Cie-cie kangen, emangnya masih kurang ketemu di sekolah?

Shani: Kurang lah, cuman pas istirahat doang ketemunya

Radika: Iya deh iya terserah kamu aja jelek><

Shani: Ishh nyebelin, au ah aku ngambek aja

Radika: Yee baper deh, ngambek kok ngomong-ngomong :p

Shani: Isshh ngeledekin aku terus

Radika: Hehehe maaf deh maaf

Shani: Gamau maafin

Radika: Maafin ya, nanti aku ajakin nonton bioskop deh

Shani: Beneran?

Radika: Iya seriusan

Shani: Iya deh aku maafin hihi

Setelah itu obrolan mereka terus berlanjut, kadang-kadang ketawa kadang saling meledek satu sama lain, hingga tak terasa hari sudah sore. Radika pun menakhiri kegiatan menelfonnya dan melaksanakan solat asar, setelah selesai dia pun berabaring di kasurnya dan tak lama kemudian dia pun tertidur.

 

******

Bersambung

By: Radika

Twiter: @radikaydh

Line: radika_23

 

Mohon kritik dan sarannya^^

Iklan

4 tanggapan untuk “Alter Ego and Me part 3

  1. Njay :v nama gurunya pak Boy. Keren amat dah, yang maen sinetron Anak Jahanam :v

    Alter Ego ya? Hmm… Denger² itu istilah dari dua kepribadian berbeda manusia yang ada dalam tubuh manusia tersebut.
    Me? Apa Radika bermusuhan dengan kepribadian lainnya yaitu Ryuto?

    Gue masih bingung ini masuk genre fantasy atau enggak :v
    But, baguslah. Menarik, lanjut terus bang Radika ^^~

    Suka

    1. Bingung juga kalo di bilang fantasy, soalnya kepribadian ganda kan beneran ada dalam dunia medis…

      Oke makasih udah mau baca dan comment^^

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s