Aku hanya bisa melihat senyuman mu dari kejauhan tapi aku harap kamu juga suka kepada ku  part 2 : kenapa kau ada di ruang musik saat langit berwarna jingga ?

as

Kali ini aku akan menceritakan bagian lain dari kisah cinta Jeremy dan Yuriva, tapi tak seperti kisah lain dimana tiba tiba semua wanita jatuh cinta kepada tokoh utama. Tidak ini bukanlah kisah cinta pasaran yang pernah kalian baca, ini sudah ku bilang sebelum nya ini adalah kisah yang bagus jadi akan ku tunjukan kenapa Jeremy bisa dekat dengan Yuriva dan alasan Yuriva jatuh hati pada nya mari kita mulai.

Sekarang Jeremy sedang duduk di komputer nya mendengarkan lagu-lagu yang dicover oleh seseorang bernama Serrica, beberapa hari lalu Jeremy menemukan channel youtube Serrica dan semenjak itu dia tak bisa berhenti mendengarkan nya.

Mendengarkan lagu-lagu yang dicover oleh Serrica, sambil membaca beberapa comic adalah kegiatan favorite nya di sore hari. Tetapi kebahagian nya terganggu saat pintu kamar nya terbuka dan masuklah Kakak nya yang sibuk dengan smartphone nya, melihat itu Jeremy bangkit dari kursi nya lalu mengambil koran yang sudah digulung nya lalu dipukul nya kepala Kakak nya sendiri dengan koran.

“Aduh…, ada apa sih dek mukul-mukul,” ucap Kakak nya protes.

“Kenapa ? Kak Naomi yang cantik jelita ini kamar aku,” jawab Jeremy.

“Lah…..,”

Kak Naomi yang awal nya marah jadi malu sendiri, karena ini memang benar kamar adik nya. Lagi pula tak mungkin kamar yang penuh dengan poster Batman dan beberapa anime adalah kamar seorang wanita.

“Maka nya jangan main Handphone trus,” ucap Jeremy.

“Ya Kakak kan harus ngurus bisnis, tapi kamu kenapa nggak mau Kakak masuk kamar kamu ?.” tunjuk Kak Naomi “apa kamu sering ngelakuin yang enggak enggak ya ? ayo ngaku!!.”

“LAH KOK, enak aja aku mah polos. Udah keluar sana,” ucap Jeremy sambil mendorong Kak Naomi keluar kamar.

“Kamu ya awas aja kalo….,”

“AWAS..,” teriak satu lagi Kakak Jeremy, yang langsung menabrak Kak Naomi dari belakang.

“SINKA……,” Kak Naomi balas berteriak.

Yang baru menabrak Kak Naomi adalah Kakak Jeremy yang lain, Sinka. Dia datang dengan sebungkus kue dan mulut yang masih sibuk menguyah kue.

“Kak Naomi nih, ngalangin jalan untung kue buat Jeremy nggak jatoh,” ujar Kak Sinka.

“Kamu yang nabrak Kakak yang disalahin, lagian jatah Kakak mana. ?” tanya Kak Naomi.

“Ada di kulkas sana,” jawab Kak Sinka.

Mendengar jawaban dari Sinka, Kak Naomi cepat cepat berlari ke dapur meninggalkan Jeremy dan Sinka. Jeremy sungguh senang Kak Sinka datang disaat yang tepat, karena jika Kak Naomi mulai penasaran dengan sesuatu pasti tak bisa dihentikan.

“Untung ada Kak Sinka, makasih yan Kak,” ucap Jeremy berterima kasih.

“Iya sama sama, lagian Kakak Naomi sering banget salah masuk kamar kamu,” ujar Kak sinka.

“Iya tuh otak nya udah kena radiasi handphone kali, atau udah tua maka nya pikun,” balas Jeremy.

“HUSS..Kak sendiri nggak boleh dikata-katain, udah ini kue nya jangan lupa dimakan,” ucap Kak Sinka sambil menyerahkan bungkusan kue yang dibawa nya.

“Makasih Kak,” ucap Jeremy sambil mengambil bungkusan kue yang diberikan Kak Sinka.

Hal itu sudah menjadi keseharian bagi Jeremy, mempunyai dua orang Kakak yang sangat peduli pada diri nya. Seperti kebanyakan saudara lain nya mereka juga sering bertengkar, tetapi hal tak pernah merusak hubungan mereka karena biasa nya semua dapat diselesaikan dengan kue buatan Sinka.

Kisah ini berlanjut keesokan hari nya di sekolah, saat jam istirahat Jeremy sedang berjalan menuju kantin saat sebuah keributan menarik perhatian nya. Seorang siswa sedang dikerjai oleh beberapa siswa yang lain.

“Kan udah gue bilang beli milkshake yang rasa coklat,” ucap seorang siswa.

“Maaf Chris, tapi milkshake coklat nya habis,” jawab siswa yang sedang duduk di tanah.

“Kalo gue bilang beli milkshake coklat, lu beli MILKSHAKE COKLAT.” Chris menendang siswa itu jatuh, lalu menyiram milkshake ke wajah siswa yang masih tersungkur ditanah.”nih minum.”

Teman teman Chris tertawa melihat kelakuan Chris, sementara siswa yang dikerjai oleh Chris diam tak bersuara mata nya sudah berkaca-kaca berusaha menahan tangis. Chris adalah tipe orang yang disebut bully,orang yang senang menganggu orang yang lebih lemah dari nya tapi kenapa dia mempunyai nama yang sama dengan ku ? aku anak baik baik saat di sekolah itu tak penting yang penting sekarang apakah yang akan dilakukan oleh Jeremy. ?

“WOI…. ngapain,” sela Jeremy.

Perhatian Chris dan teman-teman nya beralih ke Jeremy yang menyela “kesenangan” mereka, awal nya mereka mengira jika yang menyela mereka adalah seseorang yang ingin menjadi pahlawan sehingga mereka bersiap siap untuk bertarung. Tapi saat mereka melihat yang menyela mereka adalah Jeremy mereka hanya tertawa.

“Kenapa jer ? lu mau gabung ayo sini,” ajak Chris.

“Nggak Cuma mau tahu kenapa si Will disiksa gitu. ?” tanya Jeremy.

“Nih orang goblok, gue suruh beli milkshake coklat dibeli nya yang strawberry,” jawab Chris sambil menjambak rambut Will membuat dia berteriak kesakitan.

“Duh..duh lepasin dulu kasihan,” ucap Jeremy yang kasihan.

Chris membanting wajah Will ke tanah lalu membersihkan tangan nya seolah Will adalah kotoran, Will hanya diam sambil berusaha membersihkan diri nya.

“Udah kali Chris jangan disiksa trus kasihan,” bujuk Jeremy.

“Emang kenapa, kalo gue masih mau nyiksa nih anak satu,” jawab Chris.

“kasihan Chris, emang kamu nggak. ?” tanya Jeremy.

Chris memandang Will yang sudah berantakan, seragam nya sudah kotor oleh milkshake bercampur tanah. Begitu juga wajah nya yang tadi mencium tanah, kondisi Will begitu menyedihkan hampir seperti seorang gelandangan di pinggir jalan.

Jeremy berharap Chris merasa kasihan terhadap Will, karena dia tahu dia tak akan menang melawan Chris dan teman teman nya dia bahkan tahu dia tak mungkin menang melawan Chris meski itu adalah pertarungan satu lawan satu. Dia hanya berharap Chris sudah merasa puas dan akhir nya pergi, sehingga dia bisa membawa Will ke UKS atau mengantar nya pulang.

“Nggak.” Chris menendang wajah Will begitu keras sampai dia tak bergerak “udah ayo pergi.”

Chris dan teman teman nya pergi meninggalkan Will yang sudah tak bergerak, Jeremy cepat cepat berlari memeriksa keadaan Will.

“Will kamu nggak apa apa. ?”

“Enggak apa apa makasih ya,” ucap Will.

Jeremy membantu Will bangun dan membersihkan badannya, lalu dia membersihkan wajah Will yang kotor oleh darah yang bercampur tanah dengan tisu.

“sekali lagi makasih ya,” ucap Will lagi.

“Sama-sama,”

“Maaf banget ngerepotin,”

“Iya nggak apa apa,”

“Makasih ya, maaf juga ngerepotin,”

“Udah nggak apa apa,”

“Maaf….,”

“Will nggak usah minta maaf trus, mana harga diri mu,”

“Ya itu hak gue dong buat minta maaf,”

“Iya tapi kau nggak harus minta maaf trus, mana harga diri mu sebagai manusia,”

“kok lu marah marah gue kan Cuma mau minta maaf, kalo nggak suka bilang aja,”

“Aku Cuma ingin kau punya harga diri jadi orang jangan minta maaf trus itu aja,”

“Gue udah berusaha sabar ya, tapi ngomong sama lu Cuma bikin gue emosi lu jadi orang Cuma bisa nyari kesalahan orang aja,”

“AKKKK……..,”

Jeremy pun kehilangan kesabaran nya dia pun menghajar Will, beberapa orang melaporkan kejadian itu ke Guru sehingga membuat Jeremy harus mendapat ceramah dari Guru BP hingga sore hari.

Jeremy masih tak habis pikir kenapa usaha nya membantu Will harus berakhir dengan dia mendapat surat peringatan dari Guru BP, sekarang sudah sore yang berarti dia diceramahi selama berjam jam.

Dengan langkah yang lemas dia menyusuri lorong sekolah nya menuju ruang kelas untuk mengambil barang barang nya lalu pulang, tapi didepan ruang musik langkah nya terhenti karena sebuah suara yang dia kenali.

Jeremy kenal suara ini, suara merdu yang selalu dia dengar saat membaca comic disore hari Serrica. Jeremy mencoba memastikan dugaan nya dengan mencoba mendengar lebih jauh lagu yang sedang mengalun dari ruang music dan dia yakin ini adalah Serrica.

“SERRICA,” teriak Jeremy yang menghambur masuk ke ruang musik.

Tapi yang sedang bernyanyi dengan latar belakang langit sore hari yang berubah jingga adalah seseorang yang tak pernah terpikirkan oleh nya, meski dia sering melihat nya tapi dia tak pernah berpikir jika dia adalah idola nya.

“Kenapa kau ada di ruang musik saat langit berwarna jingga. ?”

Siapakah yang bernyanyi di ruang musik ? siapa sosok asli dari Serrica ? Sampai selanjutnya dibagian lain dari potongan kisah ini, aku akan menunggu mu.

 

oleh:chris

 

Iklan

Satu tanggapan untuk “Aku hanya bisa melihat senyuman mu dari kejauhan tapi aku harap kamu juga suka kepada ku  part 2 : kenapa kau ada di ruang musik saat langit berwarna jingga ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s