Fiksi dan Fakta part 40

“Hmmm.. mantep-mantep juga nih. Sesuai harga.” Ucap Mike terkesan.

Tiba-tiba, seorang gadis disebelah Mike menjatuhkan 5 buku yang tersusun rapi.

“Mari, saya bantu.” Ucap Mike pelan sambil merunduk.

“Ah, maaf kesenggol.” Ucapnya lirih.

Mendengar suara tersebut, Mike langsung menatap kearah gadis disebelahnya itu. Mike membuka hoodie-nya. Gadis itu terdiam.

“Maaf, permisi..”

“Eh, Viny! Tunggu!” Tahan Mike.

“Lepasin!” Ronta Viny.
“Kamu sama siapa kesini?”

“Ga ama siapa-siapa..” Viny tak mau menatap wajah Mike.

“Hmm… ga pulang bareng aja? ada Razaqa ama Michelle loh..” Ajak Mike.

“Eng..engga, makasih tawarannya. Permisi..” Viny berlalu begitu saja.

Mike hanya mematung.

“Eh?” Mike melihat telepon genggam tergeletak di lantai, tentu itu milik Viny.

“Eh, Viny?!” Panggil Mike seraya berlari menyusul Viny ke depan pintu masuk sekaligus pintu keluar.

Viny menoleh.

“Tunggu!” Bukannya berhenti, Viny malah berlari seolah takut dengan
Mike.

Mike berhasil menyusul Viny.

“Vin, hp kamu ja-“

“Ah..!!” Viny tergelincir.

“Uh?” Mike segera meraih tangan Viny dan dengan sigap menopang tubuh langsingnya itu.

Kedua mata mereka bertemu, buat rona merah di pipi Viny. Orang-orang disekitar mereka hanya memperhatikan mereka berdua. Viny menatap Mike sejenak, merasakan tangan dingin Mike yang menggenggam erat tangannya itu. Serta kaget akan kesigapan Mike saat menahan tubuhnya agar tidak jatuh.

“Prekk..” Terdengar suara kantong belanjaan jatuh.

Mike dan Viny menoleh kebelakang.

“KA-KAMU??!!!!” Kaget Mike bukan main.

Mata Viny membulat, tubuhnya bergetar hebat.
Gadis itu meraih kantong belanjaannya kembali dan berbalik lalu berlari pergi.

“Tunggu!” Mike mengejar gadis itu dan meninggalkan Viny begitu saja.

“HEY! ELAINE!! HEY LEN!!! ELAINE!! HEY!!” Teriak Mike tak karuan seperti orang gila.

Elaine meminta bantuan kepada security mall.

“Maaf, pak.” 2 security berbadan kekar menahan Mike yang hendak keluar menuju parkiran.

“Permisi! Saya harus keluar, Sekarang!!” Desak Mike.

“Maaf, jika bapak tidak mau tenang, maka kami terpaksa membawa bapak ke kantor karna tlah mengganggu kenyamanan disi-“

“Gue gaada masalah ama lu bedua! Kalo gue keluar dari mal ini, gue udah gaada urusan ama kenyamanan apalagi ketenangan disini!”

“Tapi bapak membahayakan mbak yang tadi..” Jelas mereka lagi.

“Sial! dia pacar saya!” Mike mencoba menerobos lagi dan berhasil.

“Eh, pak pa-“

Mike berlari berusaha mencari mobil Elaine.

Sial! Elaine sudah memacu mobilnya menuju pintu keluar. Mike terus berlari.

“Elaine!!!” Teriak Mike dengan susah payah.

Dinginnya malam menembus kaos Mike yang terus berlari mengejar mobil didepannya.

“Bruk!!!!” Mike tersungkur ke tanah.

Mobil tipe minibus datang dari samping dan menyambar Mike begitu saja.

“E-E-laine…” Dengan keadaan yang kacau, Mike tetap memanggil nama itu. Lalu, ia pun tak sadarkan diri.

*Skip

Mike terbangun. Seorang gadis
sedang menata keranjang buah agar terlihat rapi.

“Vi-Viny?” Panggil Mike pelan.

“Oscar? Sebentar..” Melihat Mike sadar, Viny segera memanggil suster.

Mike hanya memperhatikan saat Viny berdialog dengan suster.

“Kamu udah baikan, car?” Tanya Viny.

Mike mengangguk pelan.

“Bentar ya, aku ngabarin yang lain dulu..” Viny meraih ponselnya dan menelpon beberapa orang untuk memberi kabar tentang Mike.

Mike memperhatikan Viny yang bergerak menjauh dengan tenang.

“Channel anak kecil semua nih-_-”
Keluh Mike saat menghidupkan TV.

Tak lama, Viny kembali.

“Mike! Jangan nonton dulu!” Bentak Viny buat Mike kaget bukan main.

“Eh eh, kenapa? ada apa?”

“Kepala kamu masih pusing? kamu harus istirahat. Aku matiin ya?” Viny merampas remote TV yang Mike letakkan disampingnya.

“Aku ga kenapa-kenapa, Vin.. eh ngomong-ngomong aku kok bisa disini ya?”

“Setelah ditabrak mobil semalem, kamu langsung dibawa kesini..”

“HAH?!” Mike kaget.

“Eh? Kamu lupa ya?” Viny menggaruk
bagian belakang kepalanya.

“Bukan lupa, tapi gatau-_-” Mike membuat wajah konyol.

“Unyu deh..” Viny mencubit pipi Mike gemas.

“Eh?” Mike bingung.

“Eh.. Maaf, maaf banget.”
Resah dengan kecanggungan barusan, Mike segera mengalihkan pembicaraan.

“Gimana Kelvin? Razaqa kemana nih?”

“Kelvin udah sadar, car. Razaqa pulang, dia mau istirahat.” Jawab Viny singkat.

“Syukur deh kalo gitu. By the way, Razaqa pulang  dari mana?” Mike bingung.

“Dia kan ikut ngebawa plus jagain kamu disini semaleman.” Jelas Viny.

“Ikut? Kamu udah dari kapan disini?” Mendengar pertanyaan itu, Viny terdiam seribu bahasa.

“Vin?”

“A…ak..aku baru dateng ta…tadi pagi..” Ucapnya bergetar.

“Ohh, thanks ya. Setidaknya tungguin ampe yang lain dateng, hehehe.. jadi ganggu waktumu deh..” Mike tertawa pelan.

Viny tersenyum lebar kearah Mike.

Kebohongan yang tlah diketahui. Senyum sumbang yang tak ditanyakan. Tatapan yang menyimpan kerahasiaan diraga-nya. Hanya
menerima agar tak teringat luka lama.

*Skip

“Fuu, Kami berangkat ya?” Pamit Andy.

“Yup, titip salam ya, Dy, Dob.”

“Gua ga dianggep nih?” Sindir Kenji.

“Hahaha.. urusin link b*kep lu aja tuh..” Teriak Zoski yang keluar dari dalam.

“Hahaha.. udah udah.. Ayo sana, gue juga mau berangkat besuk Kelvin.” Mereka pun berpamitan kepada Fuuto.

“Fuu, pergi ama siapa?” Tanya Zoski.

“Dengan Joey dan Sagara, Zos.”

“Gua boleh ikut?”

Fuuto mengangguk.

“Tapi, gue-“

“Yup, Karel juga boleh ikut.” Potong Fuuto yang sudah tau dengan pertanyaan Zoski.

“Hehehe.. thanks, Fuu!!” Teriak Zoski girang lalu masuk ke dalam lagi.

Fuuto menatap nanar kearah pagar rumahnya.

“…don’t let the stars get in your eyes, don’t let the..” Sebuah panggilan masuk.

“Selamat siang, dengan Narataro disini.”

“Tuan Fuuto?” Balas seseorang dengan suara yang masih membingungkan Fuuto.
“Maaf, ini dengan siapa?”
“Ini aku, Fuu.”

“Oo.. dengan Jepang saja, aku tak mengenali aksen Inggris-mu.”

“Baiklah, Fuu. Langsung saja, aku ingin…” Gadis itu menghentikan kata-katanya.

“Ya? Kau ingin apa?”

“Fuu, kau sedang di Indonesia?” Tanyanya mengalihkan.

“Itu tidak penting. Apa yang kau inginkan? Aku harus menjenguk temanku di rumah sakit. Kuharap kau lekas memberi tau.” Fuuto masih dengan nada datar.

“Hmm.. baiklah, Fuu. Aku tak bermaksud mengatakan apa-apa. Salam untuk temanmu.” Gadis itu
putus asa.

“Ok, lain kali jangan lakukan itu lagi. Kau membuat waktuku terbuang sia-sia, tak apa untuk kali ini.” Fuuto memperingatkan.

“Baiklah, maafkan a-“

“Dan tak usah memberikan salam jikalau hanya basa-basi saja. Kuharap kau-“

“Ok, Fuu. Maafkan aku. Jangan lakukan ini lagi..”

“Aku tak melakukan apa-apa. Jadi?”

“Lupakan saja, smoga harimu indah, Fuu-kun.” Gadis itu mengakhiri panggilannya.

“Semoga harimu juga, sayang..” Fuuto memejamkan matanya.

“Belajar membenci bukan keputusan yang bijaksana, Fuu. Kau pun tau itu.”

“Uh? Joey?!” Fuuto kaget.

“Dia?”

“Ya.”

“Ayolah, jika tak ada kesempatan lagi, perlakukan saja dia seperti teman biasa.” Joey tersenyum kearah Fuuto.

“Memperlakukannya seperti orang biasa? Kau salah, Joey.”

“Why?”

“Dia akan merasa lebih spesial.”

“How?”

“Jika kau melihat kedua orangtua-mu
tak sengaja terbunuh tepat didepanmu, apa yang akan kau lakukan?”

“So? What’s the point?”

“Jika dia dimaafkan, apa yang akan dia pikirkan tentangmu?” Joey bangkit mendekati Fuuto.

“Aku kalah telak, Fuu. Namun, akan lebih bijaksana jika membiarkan persepsi itu lahir.” Joey merangkul Fuuto.

“Kau belum kalah, Midokaze. Kau pun tau itu.”

“Ayo kita pergi, kakak pertama?” Joey tersenyum lebar kearah Fuuto.

“Hei, ayo!” Sagara memanggil Fuuto dan Joey.

“Pertanyaan lainnya adalah, ‘Sejak
kapan kalian disini?’ Hahaha..” Fuuto tertawa.

“Hahaha.. raut wajah seriusmu itu tentu membuat aku dan Sagara penasaran.”

“Persetan kau, Joey! Hahaha..” Mereka tertawa bersama.

Joey dan Fuuto telah memasuki mobil.

“Zoski dengan Hoffler mana?” Tanya Sagara.

“Gatau,” Joey mengangkat kedua bahunya.

“Zoski masuk trus manggil Karel, entah mereka lagi ngapain.” Jelas Fuuto.

“Ah, itu mereka!” Tunjuk Sagara.

“Mereka keliatan beda, hahaha..” Joey
geli.

“Jadi, lu gamau nuntasinnya, Joey?” Tanya Sagara.

“Nuntasin apa?” Joey bingung.

“Pembahasan kalian tadi.. Pffttt..” Sagara menahan tawa.

Fuuto tersenyum geli.

“Dia akan merasa dimaafkan, dan dia tak akan memiliki beban yang sangat-sangat berat saat menjalani masa tahanannya nanti.” Sagara penuh percaya diri.

“Tepat!” Seru Fuuto.

“Gue hebat ka-“

“Itu yang bikin kalah telak. Hahaha..” Joey tertawa sejadi-jadinya, diikuti
Fuuto.

Sagara masih dengan raut wajah kebingungan.

“Lah, gimana bisa ka-“

“Wait, ko lu tau?” Joey menatap serius Sagara.

“Eh.. eh..” Sagara panik.

“Kerah baju lu, sbelah kanan Joey.” Ucap Fuuto menahan tawa.

Joey meraba bagian kerah sebelah kanan kemeja-nya.

“Sial kau, Sag!!” Joey memukul Sagara.

“Haha.. ampun Joey, ampun! Haha..” Fuuto ikut tertawa.

“Fuu, sejak kapan kau mengetahui ini?”
Tanya Joey lagi.

“Sejak awal, hahaha..”

“Tos, Fuu-san!” Sagara girang.

“Sial kalian! Wajar saja gaya debatmu sekonyol itu-_-” Joey malas.

“Yang jelas kau harus lebih banyak belajar lagi, Joey-san. Hahaha..” Sagara mengolok-olok Joey.

“Hei!” Zoski dan Karel masuk.

“Hai Zos, Hof!” Sambut Joey dan Sagara.

Obrolan pun berlanjut.

“Hahaha.. Sagara, kau pun lupa mengatakan selamat tinggal pada mereka waktu itu..” Joey geli.
“Ayolah Joey, Fuu. Aku masih waras.” Sagara menggeleng-geleng.

“Tak perlu berbahasa Jepang, hey!” Sahut Zoski kejutkan semuanya.

“Lu bisa bahasa Jepang, Zos?”

“Iya dong, Karel juga bisa hahaha..”

“Yahh, gabisa lagi ngejek-ngejekin lu dong. Hahaha..” Sagara tertawa diikuti Joey dan Fuuto.

“Bisa kali, makanya belajar bahasa monyet, ngoahaha..” Zoski tertawa sejadi-jadinya.

“Garing euy…” Ucap Karel pelan.

Semuanya pun tertawa mendengar logat Karel.

Mereka sudah banyak belajar dari
sebelumnya.

*Skip

“Drrrttt…” Panggilan masuk ke telepon genggam milik Jaka.

Jaka segera menerima panggilan tersebut.

“Huh? Unknown?” Nomor yang cukup asing itu membuat Jaka ragu.

“Halo?” Sapa Jaka.

“Razaqa Nafan?” Tanyanya dari seberang.

“Ya, ini dengan siapa?”

“Hahahahahaha….” Orang itu tertawa dan terus tertawa.

“Hey? Kau siapa?”

“Hahahahahahaha-“

“Hey!!!” Jaka mulai emosi.

Sama, orang itu tetap tertawa. Jaka pun mengakhiri panggilan tersebut. Ia segera melapor ke Troy soal nomor itu.

Selanjutnya akan lebih segera, atau terus berlarut-larut?

*Skip

Sementara itu, Bobby masih menemani Shania berbelanja dan rencananya langsung menuju rumah sakit untuk menengok Kelpo yang hendak keluar keesokan harinya.

“Shan, tunggu sebentar ya, ada temenku tuh..”

Shania mengangguk.

“Ares?” Panggil Bobby yakin.

“Eh?” Pemuda yang Bobby maksud itu menoleh.

“Inget gue ga?”

“Emm..” Pemuda yang bernama Ares itu berpikir sejenak.

“Bob-“

“Ka Bobby!!! Astaga! Gue ga nyangka!” Ares segera memeluk Bobby.

“Res, ada siapa?” Seorang gadis keluar dari toko yang tadi ia masuki.

“Itu Anin, Res?!” Kaget Bobby lagi.

“Kak Bobby? Ini beneran kak Bobby? Yippy!!” Anin juga memeluk Bobby dengan hangat.

“Kalian udah sejak kapan di Bandung?” Tanya Bobby.

“Kami liburan doang ko, kan liburan kali ini panjang, hehehe..” Jawab Anin.

“Iya nih, kak. Sekalian ngerayain jadi anak SMA, hahaha..” Tambah Ares.

“Husshh… MOS aja belom dah ngaku anak SMA aja kalian, Hahaha..” Bobby menepuk pundak Ares.

Mereka pun tertawa bersama.

“Oiya, Anin gajadi balik ke Palembang ya?”

“Dulu sih jadi. Ada rencana lagi pas kelas 3 kemarin, pengen sih..” Anin sedikit tertunduk.

“Wkwkwk, kangen suasana disana?

“Dibilang kangen sih ga terlalu, kan masih sering kesana. Tapi, banyak temen juga disana.”

“Jadi pas kakak pindah dulu, kalian tetep di Jakarta ya? ato gimana?”
“Kan waktu itu kita bertiga sama-sama murid pindahan tuh, kami kelas 3, kak Bobby kelas 6.. iya kan?”

Bobby mengangguk.

“Trus, pas lulus kak Bobby balik ke Bandung. Nah, Ares juga balik ke Surabaya pas awal kelas 4.” Lanjut Anin.

“Kamu bukannya juga pindah pas kelas 4?” Tanya Ares bingung.

“Iya, tapi aku pas semester 2-nya.”

Bobby hanya menyimak dialog dan
cerita dari 2 orang yang sudah dia anggap seperti adiknya sendiri itu.

“Kak Bobby ko diem?” Tanya Anin heran.

“Hahaha, gapapa. Cuma kangen aja sama kalian. Ini kaya mimpi tau.” Bobby merangkul Ares.

“Kak Bobby bisa aja.”

“Kalo dari raut mukanya, dah punya pacar nih, ketauan!” Goda Ares.

“Hahaha, gapunya, Res. Sotoy kamu..”

“Ciaa, tanya aja ma Anin, bener kan, Nin?” Tanya Ares meminta dukungan.

“Iya tuh, setuju banget sama Ares!” Lanjut Anin.

“-_-Gaada sumpah, tapi ada temen
kakak tuh disana. Mau dipanggilin?”

“Mau mau!” Anin dan Ares melakukan tos penuh kemenangan.

Bobby menarik tangan Shania.

“Nih, ada yang mau kenalan?” Tanya Bobby menahan tawa.

“Wihh, pake pelet apa nih?” Ucap Ares sekenanya.

“Gue mutilasi lu, res-_-“

“Hahaha.. udah udah.” Lerai Shania dan Anin sambil tersenyum.

“Nama aku Shania, kalian?”

“Aku Anin, kak.” Anin menyambut uluran tangan Shania.

“Rustam Qaresya, panggil Ares aja,
hehehe..”

“Ko panggil kak sih? emang kalian kelas berapa?” Tanya Shania.

“1 SMA, hehehe..” Jawab Ares.

“MOS aja belum tuh, Shan. Hahaha..”

“Kak Bobby aja belum Ospek, wleee :P” Balas Anin.

“SMA kelas 3 weii! Hahaha…” Bobby tertawa puas.

“Eh? Kelas 3?!!” Ucap Ares dan Anin sangat terkejut.

“Bukannya-” Anin terhenti.

“Dari face-nya dah dewasa banget..”

“Iya dong, namanya juga Bobby.”
“Kalo kak Bobby mah emang boros mukanya. Hahaha..”

“Awas lu, res! Wkwkwk..”

“Yaudah, kami duluan ya kak! Selamat berpacaran!” Ares berpamitan.

Tiba-tiba Ares berbalik dan membisikkan sesuatu kepada Bobby.

“Matanya tuh, asik tau kak!” Ares sedikit berlari setelah itu.

“Kurang ajar lu, wkwkwk..”

“Ini id line aku, kak. Sampai jumpa ya! Ares, tunggu!” Anin mengejar Ares.

“Hey! Kalian sampai kapan disini?”

“Lusa kami pulang, kak. Dadah!”

Bobby dan Shania saling tatap
sejenak.

“Hahaha, ada-ada aja Bob. Yok ke rumah sakit?”

“Hahaha, siap bos!”

Shania menggandeng erat tangan Bobby disepanjang jalan.

*Skip

Pukul 17.20, beberapa menit setelah jam besuk dimulai.

“Mickey!” Teriak Jaka heboh.

Pintu pun sepenuhnya terbuka. Setelah Jaka, Tony dan Bobby pun masuk.

“Kalian darimana? rame banget.” Tanya Mike bingung.
“Kami tadi jenguk Kelvin, trus kesini. Ini mah masih kurang rame.” Jawab Bobby.

“Ton, yang diluar disuruh masuk aja.” Perintah Jaka.

Tony memanggil orang-orang yang dimaksud Jaka.

“Hai!” Sapa mereka satu per satu.

“Hey! Sup guys?” Balas Mike tak menyangka.

Fuuto dan lainnya melakukan tos dengan Mike.

“Kalian barengan nih?”

“Iya, bareng Car.” Jawab Zoski.

“Tadi gue, Dobby, ama Kenji udah kesini. Trus lupa nomor kamar lu.
Jadinya nyusul ke tempat Kelvin dulu deh..” Andy menjelaskan.

Percakapan panjang lebar tak terelakkan sore itu.

Tiba-tiba,

“Permisi..” Viny izin keluar dari kamar sebentar. Mike gagal menahan tangan Viny.

“Uh?” Mata Viny dan Dobby bertemu.

“Maaf.” Dobby memberikan jalan kepada Viny.

“Jak..” Panggil Mike pelan ditengah mereka yang sedang cerita bergiliran.

“Ya?” Jaka mendekatkan kepalanya.

“Coba lu liat Viny lagi ngapain. Mau ya bantu gue?” Jaka mengiyakan
permintaan Mike.

“Guys, gue turun sebentar ya? si bos minta dibeliin roti nih, hahaha..” Pamit Jaka berbohong.

Viny sudah terlampau jauh. Jaka berinisiatif untuk turun ke lobby. Benar, keraguan Mike benar. Viny sedang menemui Elaine. Walaupun Elaine mengenakan hoodie dan masker, Jaka tetap mengetahui hal itu. Postur dan bahasa tubuhnya sudah tertangkap di memori Jaka.

Sebelum kembali ke kamar, Jaka memutuskan untuk membeli roti terlebih dahulu. Semoga tak ada yang curiga.

*Skip

“Yo all!” Jaka kembali.
“Mana rotinya?” Tanya Mike.

“Nih, tapi adanya isi keju.”

“Ah, gue maunya coklat, taro aja dulu, Jak.” Jaka duduk di bangku samping tempat tidur Mike.

“Kayanya dia ngurusin administrasi, Mike. Gue gatau juga, kaya minta ganti kartu akses ato gimana lah.” Jelas Jaka berbohong.

“Yakin lu, Jak?” Tanya Mike ragu.

“Iya, sump-“

“Iye iye, gue curiga nih ama dia..” Mike menatap lesu keatas.

“Curiga gimana, rus?”

“Masa dari yang lari pas liat gue, jadi mau nungguin gue. Bahkan, dia
dengerin gue plus mau ngobrol ma gue. Ga aneh tuh?” Mike menatap Jaka yang mulai merasa di posisi yang tak enak.

“Ciee.. bisik-bisik.” Celetukan Sagara membuat Jaka mulai leluasa untuk berkata-kata kembali.

“Yaelah.. namanya juga orang sakit, pasti ada-ada aja dah yang dia pikirin.” Bantah Jaka.

“Malem!” Pintu kembali terbuka, ruangan pun makin sesak.

“Troy? pa kabar?” Sambut semuanya bergantian.

“Gue baru aja ke tempat Kelvin. Udah lama nih?”

“Baru ko, Koy.” Sahut Zoski dari belakang.

“Wah wah, sini lu Jos-ski!!” Troy menghampiri Zoski dan menangkap kepalanya.

“Amponnn!! Kokoy rampage!!” Teriak Zoski konyol. Semuanya pun tertawa, tak terkecuali Shania dan Michelle.

Obrolan kembali berlanjut. Troy menghampiri Jaka.

“Mereka di deket Bandung, Raz. Menurut lu, itu mereka ato bukan?” Bisik Troy.

Jaka mengangguk.

“Perlu kasih tau mereka?” Tanya Jaka.

“Terserah, lebih baik mereka tau.” Saran Troy.

Jaka pun mulai menyela obrolan dan
menjelaskan apa yang tadi sebelum pergi ia alami.

“Jadi, mereka dimana Troy?” Joey penasaran.

“Entah, mereka keliling terus. Gue rasa, akan lebih baik kalo kita pancing mereka sesegera mungkin.” Troy mengutarakan pendapat.

“Mereka punya banyak uang, dan itu cash!” Tegas Sagara.

“Mereka punya banyak channel untuk kerja!” Zoski ikut menambahkan.

“Mereka punya apapun!” Ucap Andy asal.

“Mereka ga punya rasa persaudaraan!” Bantah Mike.

“Mereka ga punya sahabat!” Bobb
menambahkan.

“Secara teknis, mereka punya pasukan. Secara real, mereka hanya berdua, tak lebih dari itu.” Jaka juga menambahkan.

“Secara garis besar, mereka hanyalah manusia biasa..” Tutup Fuuto diikuti anggukan dari semuanya.

“Aku ingin mengatakan sesuatu..” Jaka mengangkat tangannya.

“Silahkan, Raz. Apapun, apapun itu..”

“Maaf, tapi kita semua punya kehidupan masing-masing. Kita punya masalah yang beragam. Bisa ga ini dipercepat?” Jaka lesu.

“Aku setuju soal itu.” Dobby dengan nada yakin
“Kita semua udah ngambil resiko yang besar, dan ini pencapaian yang lumayan jauh. Gue mau nanya, ‘Hubungan diantara kita ini apa?’. Itu aja.” Joey menambahkan.

“Kita sahabat, lebih dari sahabat..” Sambung Mike.

“Kita saudara..” Ucap Fuuto pelan.

“Kita benar-benar sebuah keluarga. Kebahagiaan 1 orang milik semuanya, Kesedihan 1 orang milik semuanya juga. Bisakah kita bersama-sama mengambil resiko yang lebih jauh lagi?” Jaka menatap semuanya satu per satu.

“Yang aku hormati adalah cara kita semua saling memahami satu sama lain..” Karel angkat bicara.

“Perbedaan kita..”

“Bukan perbedaan, Ken. Ini keberagaman.” Andy tersenyum.

“Semuanya begitu manis.”

“Tentu juga sangat manis untuk dikenang, Sagara-san.” Joey terkekeh.

“Hati-hati gula darahmu, Sagara.” Jaka ikut menggoda Sagara.

“Ayolah! Jangan mengejekku, bagaimana dengan Wood? hahaha..”

“Wood tak ada disini..” Karel menutup mulutnya.

“Nasibnya sangat bagus kali ini. Aku hanya ingin mengatakannya, hahaha..” Zoski tertawa lepas.

“Yang aku sangat hormati dari sini adalah bahasa kita. Bagaimana bisa
percakapan diselingi berbagai bahasa.” Andy menahan tawanya.

“Kau tau, An. Jika Fuu, Joey, Sagara, Yuri, Dobby, dan Jerry dipertemukan. 5 bahasa dan kau akan terlihat bodoh atas lelucon mereka.” Kenji tertawa.

“Kalian ga keliatan kaya jenius, lebih mirip badass yang terlantar di negara gila.” Mike tertawa.

“International Jokes! pahami itu, Ken. Hahaha..” Jaka tertawa juga.

“Gue suka keceplosan kalo ngobrol bareng Joey. Hahaha..” Fuuto mengaku.

*AuthorNgopi

“Thor, jadi dah lo translate gitu?” Reader bertanya.
“Iye dong, der. Itu yang baku pake aku ama saya biasanya hasil translate. Nih anak-anak pada ribet bahasanya..” Author kesel.

“Gimana perasaan lu, thor? si Putaw kaga jelas gitu..”

“Ah, bacot lu pade.” Author makin kesel.

“Oy reader-reader Indo. Bahasanya bagi-bagi kali. Lo pada minta translate mulu.” Reader 2 join obrolan.

“Paan lu? Authornye emang orang Indo, nyolot lu!”

“Pada ribut, udeh rider 2 pulang aja sono! fanfic,novel,dan semacamnya mana ngetop di kalangan alien!” Si Author males jadinya.

“Yaelah, thor. Kami ampe nempel
muke lu di piring terbang.” Reader 2 bersikeras.

“Udeh ah, gue cabut aja. Ntar reader-reader lain pada join chat.” Author beres-beres.

“Thor, Reader 3 dari perwakilan binatang ternak mo join nih, gimane?” Editor bertanya

“Yaelah, jangan dah. Manusia ma alien aja dah ribet. Lanjutin cerita aja gih.” Author bener-bener pasrah.

“Yaudeh, gue bakar aja nih fanfic..” Ancam Editor.

Author ngambil kursi.

“Sini lu, Tor. Ga editor, ga reader, ga tukang bakso, ga tukang ojek. Sama aja!”
“Bacot lo, sono lanjutin!”

“Iye-iye!”

“Oy cepet, Thor! Penasaran nih..” Keluh reader.

“Hadeh”

*OkBalikLagi

Obrolan mereka selesai malam itu. Jaka berinisiatif untuk pulang karena Michelle juga mulai mengantuk. Viny diantar pulang oleh Bobby dan Shania yang sudah terlebih dahulu pulang.

“Mike, lu gapapa sendiri?” Tanya Jaka pada Mike.

“Ah, gapapa. Kan besok pagi dah ada nyokap gue, Jak. Santai aja..” Mike tersenyum.
“Hehe.. iya deh, gue mungkin aga siang kesini. Ntar gue chat dah sekitar jam 3, gue sekalian mo masak. Ntar ga makan lagi gue-_-“

“Lah, nyokap lu?”

“Dia aga ga enak badan. Paling Michelle yang bantuin gue, wkwk..”

“Eh, Jak? Liat tuh!” Mike menunjuk kearah Michelle.

Michelle sudah tertidur di sofa sambil menyenderkan kepalanya ke dinding.

“Udah, sana gih. Kasian Michelle.” Suruh Mike.

“Sip, gue duluan..” Jaka bangkit dari kursinya.

“Michelle? Michelle? Ayo pulang?”
“Eh, iya Raz? Ayo..” Michelle dan Jaka berpamitan kepada Mike lalu pulang.

*Skip

Hujan deras disertai angin kencang menghiasi malam. Jaka sudah memasuki kamarnya.

“bsk kita ke taman, ada yg bilang Gilang udh pulang.” Pesan masuk dari Yoyok.

“Zaqa, gw ga bisa ikt besok.” Pesan juga masuk dari Bobby.

Jaka mulai mengutak-atik ponselnya lagi.

“Krekk..!” Pintu kamar Jaka terbuka perlahan.

“Michelle?” Kaget Jaka.
Michelle hanya mengenakan piyama dengan bagian atas yang tak terkancing, menunjukkan singlet berwarna merah yang ia kenakan.

“Raz, aku boleh tidur disini?” Tanyanya.

“Emm.. bo..bo..leh aja..” Jaka terbata.

“Ok, maka-“

“Tapi, kamu bisa di sebelah ko. Kosong kan?”

Michelle menggeleng.

“Aku mau sama kamu, aku takut..” Michelle masih memeluk bantal guling yang ia bawa.

“Hmm.. yaudah. Tapi, malah aku yang ta-“

“Eh, gajadi deh..”

“Yang apa?”

“Ga. Yaudah, kamu di kasur aja, nanti aku di lantai.”

“Gausah, temenin aku Raz. Please..” Pintanya lagi.

“Yaudah..” Jaka menyerah.

Michelle tertidur dengan cepat. Jaka terus memperhatikan Michelle. Ya, dia benar-benar sudah tidur.

Layar ponsel Michelle tiba-tiba bersinar. Jaka yang penasaran pun melihat sekilas notifikasi yang muncul.

“Veranda : Chel, aku mo ke Bandung nih>.< kayanya senin depan deh^-^ klo udh bangun, bales ya~”

Jaka turun sejenak untuk mengambil
air putih dan membalas pesan dari sepupunya, Aria. Setelah meminum beberapa gelas air, Jaka segera kembali ke kamarnya.

Jleb! Jaka kaget bukan main. Piyama dan singlet yang dikenakan Michelle terbuka dan terkesan berantakan. *abaikan

“Yaudahlah..” Karena tak ingin ambil pusing, Jaka melanjutkan istirahatnya tanpa menghiraukan Michelle yang sebenarnya mulai perlahan merangkul Jaka dari samping.

“Ada apa ini?” Tanya Jaka dalam hati.

Ada sesuatu yang salah dengan Michelle.

Tepatnya, ada sesuatu yang salah di hidupnya. Setiap orang datang dengan masalah. Dan masalahnya sungguh
berbeda dan beragam.

~~

“Jika kau memaafkannya dengan sangat tulus, sesungguhnya kau akan benci saat seseorang menghakiminya. Bukankah maaf itu tak bersyarat? Keadilan yang bagaimana yang sebenarnya kita cari-cari?”

*To Be Continued*

@ArthaaSV & @KelvinMP_WWE

Iklan

2 tanggapan untuk “Fiksi dan Fakta part 40

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s