“Hitam Putihnya Panda : Rizal” Part 8

Sepulangnya dari acara malam bersama sudah dipastikan jika jadwal yang begitu sibuk menanti, beberapa pertandingan penting basket, ulangan sekolah dan lainnya. Ini saja aku berada di kelas sedang melangsungkan ulangan harian matematika.

“Ada 15 essey dan waktunya satu jam dimulai dari sekarang.” Ucap guru di depan.

Aku mengamati soal-soalnya menyeluruh selama beberapa detik, setelah itu barulah aku menyelesaikannya. Kelas sejenak berubah menjadi tenang saat ulangan, tidak disangka yang biasanya selalu berisik kini sunyi senyap dan hanya terdengar suara gesekan pensil atau pun penghapus.

“Pak, saya udah selesai.”

Seketika pak guru menatapku kaget, “Oh kalo gitu silahkan bawa kertas kamu ke depan.” Aku berjalan lurus tanpa menoleh kanan kiri, dan Fajar pun seperti biasa selalu mengolokku di kelas “Baru juga 10 menit zal, gue aja baru beres nulis nama.” Dia selalu saja bisa membuat kelas ramai dengan ucapannya.

Sangat nyaman duduk di koridor sendirian dengan hanya di temani oleh buku pelajaran. Saat sedang seperti ini aku sejenak mengingat kejadian di acara malam bersama, entah kenapa pada malam itu di hutan aku begitu ketakutan seandainya Sinka terluka dan aku juga merasa lemah tidak berdaya untuk membantu Yupi. Pasti akan selalu aku ingat moment itu, pasti!

“Hei kak Rizal.” Suara sapaan itu sangat aku kenal akhir-akhir ini, bahkan saat aku menoleh ke arahnya dan mendapati senyum lugunya aku sudah tidak begitu kaget. Wajah Sinka tidak terlalu lama aku perhatikan karena setelah tahu jika cewek itu duduk di sebelah kananku dengan cepat fokusku kembali membaca buku.

“Oh iya kak, seminggu lagi pertandingan pertama kita di ajang turnamen cup, jadi aku udah ngumpulin data lawan dan membuat jadwal latihan buat kalian. Aku akan berusaha demi tim basket.”

Sebenarnya paling malas aku membicarakan masalah seperti ini, padahal aku sudah memberikan info ke Sinka jika sebenarnya aku dipaksa menjadi kapten, “Kalo gitu datanya jangan kasih ke aku tapi kasih ke Anwar, nanti dia yang akan mengurus sisanya.” Aku segera bangkit lalu pergi meninggalkan Sinka sendiri di koridor, lebih baik aku menemui penyihir itu terlebih dahulu sebelum ini makin berlanjut.

“Kak, aku mau bicara.” Untung saja aku bisa menemui ketua osis di ruangannya, aku hanya berpikir kenapa dia tidak berada di kelas.

“Eh dek, kok gak belajar? Apa gak ada guru?”

Kutarik kursi untuk duduk menghadapnya sambil sejenak menghela napas panjang, “Lagi ulangan harian.” Jawabku. Wajah kak Melody langsung tersenyum curiga, alis kanannya dinaikan dengan bibirnya sedikit manyun. “Pelajaran apa? Rekornya berapa?”

“Matematika, 10 menit.” Kenapa malah aku menjawab pertanyaan tidak penting seperti itu sekarang, padahal niatnya aku yang memberi pertanyaan ke dia.

“Jadi apa yang membuat orang jenius datang ke tempat seperti ini? Tidak mungkin kan jika hanya mengunjungi kakaknya aja?”

Aku selalu penasaran seperti apa kecerdasan yang kakakku punya, karena setiap hasil ulangan atau pun nilai IQ nya tidak pernah dia beri tahu. Aku malah berpikir jika kak Melody sering mempunyai momen saat dia terlihat tidak terlalu cerdas, tapi terkadang juga aku merasa takut akan kemampuan berpikirnya.

“Oh iya kak, aku mau keluar dari tim basket.”

Kak Melody tidak bergeming, hanya saja ekspresi wajahnya sedikit berubah menjadi tenang dan datar, aku pun menatapnya dengan ekspresi yang sama. Kami bahkan saling diam hingga beberapa puluh detik lamanya.

“Kenapa tiba-tiba setelah pulang acara kemarin? Apa ini ada hubungannya dengan kamu semalaman di hutan bersama Sinka dan Yupi?”

Aku terdiam berpikir sambil menatap buku yang berada di atas meja kak Melody, selama itu aku bahkan tidak menemukan jawaban yang logis dalam pikiranku, “Jadi kamu belum menemukan alasannya? Baiklah saat kamu menemukan jawabannya, kakak pasti akan menyetujui permintaanmu. Tapi sebelum itu kamu harus bertindak semestinya, layaknya kapten tim basket.”

Memang terasa aneh mengetahui jika keinginan kita tidak selaras dengan harapan, sebab itu aku selalu berpikir dua kali sebelum melakukan suatu hal. Jam pulang sekolah sedang berlangsung, semua murid perlahan keluar dari kelas dan hanya tersisa Aku bersama Shani.

“Jadi bagaimana dengan Sinka?” tanya Shani.

Selalu saja ada pertanyaan yang tidak begitu penting di sekitarku, apa mereka tidak tahu jika aku sangat malas untuk meladeni hal-hal seperti itu? Terus terang saja aku hanya diam menanggapi pertanyaan Shani.

“Aku denger dari kak Melody kalo kamu semalaman di hutan sama dia.”

“Itu hanya malam biasa, gak begitu penting.”

Shani sejenak tersenyum, “Untuk kamu mungkin itu bukan sesuatu yang penting, tapi buat aku itu sangat penting.”

“Baguslah kalo gitu, nanti aku kasih tau seperti apa malam itu.” Balasku sambil mensenyuminya.

Tas aku gapai dengan cepat, lalu meninggalkan Shani sendiri di kelas. Tidak tahu kenapa aku selalu bertemu dengan cewek penyuka panda itu, dia berdiri di sisi lapangan sambil tersenyum ke arahku.

“Hai.” Sapanya.

Sweater yang Sinka pakai tidak luput dari tatapanku, aku melihatnya tanpa memperlihatkan ekspresi berarti sehingga dia sadar dengan kesalahannya, “Eh maaf kak, kalo gitu aku lepas.” Sinka membuka resleting sweternya.

“Biarin aja udah, gak apa-apa kamu pake sweater panda.” Tahanku.

Sinka menatapku heran, aku tahu itu jika aku dengan mudahnya merubah ucapanku tapi mau bagaimana lagi walau aku tidak suka panda bukan berarti membencinya. Tatapan herannya hanya aku balas dengan senyum tipisku hingga tanpa diundang Yoga datang menghampiri Sinka.

“Sinka, ternyata kamu masih pake sweater panda pemberian aku waktu SMP.”

Sekarang aku tahu jika sweater itu sedikitnya memiliki nilai yang berarti bagi Sinka, lebih baik aku pergi dari hadapan mereka berdua karena masih banyak kerjaan yang harus aku lakukan.

—————————————

Pagi hari sebelum berangkat sekolah aku jarang sekali melihat mamah dan kak Melody duduk dalam satu meja, biasanya hanya ada mamah yang sarapan sendirian. Jujur saja malah aku ingin cepat bergegas pergi ke sekolah, sebab itu aku hanya mengambil roti bakar di atas meja makan kemudian pergi meninggalkannya.

“Rizal! Kamu gak makan nasi sup sebelum berangkat?” tanya mamah.

Dengan roti yang sedang aku gigit, aku berbalik menatap mamah, “Gak ada waktu mah, aku bisa terlambat.”

“Oh, bagaimana kamu ke sekolah?”

“Ya naik motor kayak biasa. Ada apa sih ini?”

Suasana ini jarang terjadi sebelumnya, apa kak Melody melakukan sesuatu ke mamah? Si putri itu memang kesayangannya dari kecil, “Maksud mamah kak Melody, ajak kakakmu berangkat bareng ke sekolah!” Aku sedikit menatap kak Melody yang sedang memasang wajah polosnya, aku menciutkan mataku saat menatap kak Melody untuk membuatnya ikut bertindak dalam masalah ini.

“Oh! Gak apa-apa, aku lebih baik berangkat sendiri.” Ucap kak Melody pada akhirnya.

“Mah tolong jangan khawatir, bagaimana pun kayak biasa kak Melody bisa sampai ke sekolah. Aku berangkat.” Aku membalikan badanku dan hendak melangkah, tapi sepertinya tidak semudah itu meninggalkan meja makan.

“Rizal Sya~”

Ok Fine aku membalikan badanku sambil berdiri tidak berdaya, mereka semua memiliki kartu AS untuk menjajahku dengan mudah, “Mamah pikir kamu harus duduk, selesaikan sarapan, dan berangkat ke sekolah bersama kak Melody. Perihal lainnya akan kita diskusikan nanti!” Mamahku langsung menatapku dengan sedikit tajam, matanya dia ciutkan dan membuatku tambah tidak berdaya. Satu hal yang aku tahu jika aku dan kak Melody memiliki sifat yang diturunkan oleh mamah kami. Aku berjalan dengan hati-hati ke meja makan, menaruh roti bakar di tempat asalnya yang belum sempat aku makan dan menerima mangkung berisikan nasi sup.

“Selesaikan sarapannya, kemudian berangkat ke sekolah bersama-sama. Jadi kalian punya energi saat belajar.” Sambil mamah berbicara, aku memakan sarapan dengan sedikit tidak semangat, aku membungkuk dan memajukan wajahku mendekati mangkuk sup, sedikit demi sedikit aku menyuap dan secara perlahan.

“Rizal Sy….. Sarapanlah dengan benar.” Ucap mamahku.

Aku menatap tajam bahkan bisa dibilang sedikit sinis ke arah mamahku, sedangkan dia sedikit tersenyum mengejek melihatku, itu berlangsung sekitar hampir 10 detik. Dan yah akhirnya aku makan dengan tegap dan makan sedikit lahap. Sebenarnya kalian jangan salah paham dulu, karena begitulah cara kami saling mengakrabkan diri dalam keluarga, bisa dibilang lebih seperti sahabat. Walau pun kami saling menciutkan mata dan menatap  tajam satu sama lain bukan berarti kami saling membenci dan dendam, itu adalah cara kami mencintai anggota keluarga kami.

“Jadi naik apa kita?” tanya kak Melody saat kami sudah berada di halaman rumah.

Haha karena mamah menyuruh kak Melody ikut denganku berarti aku yang berkuasa dalam keberangkatan ke sekolah, “Ambil helm, kita naik motor.”

“Huh?”

Ada satu rahasia kecil dari kak Melody, yaitu dia sangat takut menaiki motor baik itu mengendarai atau sebagai penumpangnya, sebab itu dia jarang sekali mau berangkat denganku dan memilih untuk menggunakan mobil pribadi atau taksi, tapi sekarang akan aku paksa.

“Pake helmnya.” Ucapku sambil membantu memasangkannya.

“Zal, apa ini akan baik-baik aja? Kenapa sih belinya moge?”

Wajahnya mulai terlihat pucat, baru kali ini aku merasa senang menyiksa kakak sendiri, “Cepatlah, kita bisa terlambat.” Ucapku melihat kak Melody masih berdiri di sebelah motor yang sudah aku naiki.

“Dimana aku harus duduk?”

Whattt…. sikap seperti ini membuatku kadang curiga jika kecerdasaan dan IQnya dibawah rata-rata, “Roda depan.” Kak Melody kemudian menuruti ucapannku dengan lugunya, dia tiba-tiba o’on seperti ini karena emang atau karena panik akan naik motor? Dia berdiri dan membelakangi roda motor depan.

“Kakak benar-benar!” ucapku sambil menepuk pundaknya agar sadar.

“Kamu mau aku ke mana?” tanyanya.

Wajahnya memang sudah pucat karena takut, jika saja jam masuk masih lama sudah pasti aku akan memfoto wajahnya saat sedang menggunakan helm, “Sini dibelakangku, cepatlah.” Kini dia berjalan perlahan sambil mengangguk paham, namun saat mau naik motor dia tetap sedikit ragu-ragu dan hanya memegang pundak kiriku selama beberapa detik.

“Jika kakak gak naik, aku akan meninggalkanmu.”

“Ayo! Ayo.” Ucap kak Melody sambil naik lalu duduk tenang di belakang, dia langsung memeluk perutku erat dan bersandar dengan kepalanya berada di atas pundak kanaku, untung saja di punggung ada tas sehingga yaaahhh kalian pasti tahu apa maksudku.

Aku harus memangkas waktu di perjalanan karena sudah banyak yang terbuang, sampai akhirnya kami membutuhkan waktu 20 menit untuk bisa ke sekolah, padahal biasanya jika sendiri aku menghabiskan waktu 45 menit. “Oke kak udah sampe.” Beberapa detik tidak terdengar respon dari kak Melody, dia hanya diam tanpa merubah posisinya dari berangkat tadi.

“Kak ayo turun.” Kupaksa tangannya yang masih merangkul perutku untuk terlepas, sehingga aku bisa turun dari motor dan melepas helm. Sedikit kaget melihat ekspresi kak Melody, pandangannya kosong dengan matanya sedikit melebar dari biasanya, dia hanya duduk tegap sambil memandang ke depan, jika sudah seperti ini pasti sangat sulit untuk membuatnya turun.

 

 

 

 

*To Be Continued ………

Twitter : https://twitter.com/BeaterID

Iklan

Satu tanggapan untuk ““Hitam Putihnya Panda : Rizal” Part 8

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s