Fiksi dan Fakta part 39

Jaka bergerak mendekati Aria dan Yuri.

“Kalian ngapain?!”

Aria hanya terdiam melihat kakak sepupunya itu.

“Me-mereka..”

“Menghina saya..” Sambung Yuri.

Mike ikut mendekat.

“Ini negeri, wajar kalo orang kaya lu diejek. Pergi sana!” Mike menatap Yuri tajam.

“Masalah di masa lalu gaada kaitannya sama hari ini. Camkan itu!” Yuri berbalik dan berjalan santai memasuki kelasnya di dekat tangga.
Semua murid terdiam.

“Ambil tas lu, Ar. Pergi!” Suruh Jaka keras.

Mike menatap Jaka bingung.

“Yang piket hari ini pak Joy sama pak Markus. Bisa mati dia..” Jaka menoleh kearah Mike.

“Besok?”

“Bu Endah ama pak Mul guru agama, aman kan?” Jaka menaikkan alis sebelah kirinya.

Mike menahan tawa.

“Razaqa! Oscar!” Teriak seseorang yang cukup asing.

Jaka mencari-cari sumber suara tersebu

“Diatas!” Jaka dan Mike berhasil menemukan orang yang ternyata Dani, ketua kelas salah satu kelas XII IPS.

“Ada apa, Kuy?” Tanya Jaka sedikit berteriak.

“Yo, Kuy? tumben-tumbenan kaga ngefl-“

“Kelvin jatoh!” Teriaknya lagi.

Mendengar itu, Mike dan Jaka segera berlari secepat kilat menuju lantai 2.

“Misi!!” Teriak Mike dan Jaka membelah keramaian.

Luasnya gedung sekolah membuat Jaka tak menyadari kejadian yang sedikit jauh dari tempatnya dan Mike tadi.
“Mana Kelvin?”

Semua murid menunjuk kedalam kelas tersudut, XI IPS 5.

“Gue baru tau, ternyata gini suasana kelasnya. Sering lewat perpus doang, pffttt…” Ucap Mike dalam hati.

Terlihat Andela menangis.

“Raz, ambulans udah gue telpon. Ayo, kita angkat dia dulu..” Ucap Dani dan anak-anak IPS lainnya.

“Oy, Jak. Ada apa?!” Teriak Rendi yang terlihat baru datang.

“Gue juga gatau, ren. Ayo kita angkat dia dulu.” Jaka dan Mike seperti memikirkan sesuatu.

“Ndel, kamu sama Viny, Shania, dll aja ya..” Jaka berusaha menenangkan
Andela, kekasih Kelpo.

“Huaaa… Zaqa. Tolong selamatin Kelvin..” Andela terus menangis.

“Iya, kamu tenang ya.. Kelvin ga akan kenapa-kenapa. Aku janji..” Jaka bangkit dan bergabung bersama yang lainnya untuk mengangkat Kelpo. Tonny, dan lainnya juga datang membantu.

Shania, Viny, Michelle, dan Sinka datang untuk membantu menenangkan Andela.

Singkatnya, Kelpo dibawa dengan sigap menuju rumah sakit. Banyak guru yang bertanya-tanya, seolah kondisinya begitu parah.

“Tergelincir? Separah itukah?” Mungkin itulah pertanyaan yang muncul di benak kita.

Sesuatu yang salah tercium begitu saja oleh Jaka dan Mike.

“Dia yang datang?” Inikah yang mungkin kita pertimbangkan.

Jaka duduk diruang tunggu rumah sakit bersama Mike.

“Masuk akal, Jak?” Mike menatap Jaka bingung.

Jaka menggeleng, lalu tertunduk lesu.

“Yang pasti-“

“Yang pasti, kalo emang Yuri. Itu tandanya mereka mulai perang.. perjanjian itu bukan omong kosong..” Jaka melepas dasinya.

“Gue kepikiran sama kata-kata lu, Jak. Fuuto dan teman-temannya itu ga
sebodoh yang kita pikir. Gamungkin mereka dengan bodohnya masukin Yuri ke 48 trus nyuruh teror-teror gini. Seolah-olah mereka mancing kita.. dan terang-terangan banget.” Jelas Mike panjang lebar.

“Yep, that’s not what professional usually do. Mungkin aja, karena mereka terlalu cerdik. Mereka bikin storyline gini supaya kita terus mikir ‘Ada orang lain yang mau mengadu domba’. Bisa kan?” Jaka menatap Mike yang duduk diseberangnya.

“Hmm.. mungkin. Mereka susah ditebak. Sama kaya nebak tinjuan Joey.. Hahaha..” Mike tertawa.

Jaka menatap Mike sejenak, Lalu tersenyum dan mulai tertawa melupakan kondisi Kelpo yang belum jelas.
Sekitar 15 menit kemudian, dokter keluar dan ingin berbicara kepada orangtua Kelpo.

“Maaf, dok. Orangtua pasien sedang dalam perjalanan..” Jaka bangkit memberi tahu.

Dokter meminta Jaka dan Mike agar langsung menyuruh kedua orang tua Kelpo menemuinya, jika sudah datang.

Jaka dan Mike ingin bersikap setenang mungkin. Begitulah yang sahabat mereka, Kelpo dan Zidane selalu sarankan.

“Mike, telpon Tony. Minta tolong dia buat ambilin tas kita dan catet pengumuman hari ini..” Jaka berdiri, hendak berjalan.

“Mau kemana, raz?”
“Kedepan. Mau beli minuman hehehe..”

“Gue nitip ya.. pe-“

“Pepsi Twist kan?” Potong Jaka sambil tersenyum geli.

“Hahaha… tau banget lu, Anjay!” Mike tertawa, diikuti Jaka.

Mungkin karena hari ini bukan hari libur, rumah sakit terlihat tak begitu ramai. Terlebih lagi di UGD cukup sepi.

Ketika hendak masuk ke kantin, Jaka terkejut melihat seseorang yang sedang berdiri menunggu.

“Elaine?!” Batin Jaka kaget.

Jaka berinisiatif untuk mendekat dan menyapa, namun ini semua sedikit janggal.
Tak lama, Elaine pergi dengan mobil yang tentu saja mobilnya.

‘Elaine masih di Bandung?’

Ketika Jaka sedang terpaku sambil berpikir, Mike menelpon Jaka.

“Ya, halo?”

“Mereka disini! Cepet!” Jaka segera paham tentang ‘mereka’ yang Mike maksud.

Jaka berlari sambil terus mengepal tangannya.

Terlihat Dee-dee dan Luke berdiri disana.

“Hei, apa kab-“

Sambutan Dee-dee itu terpotong saat Jaka langsung bergerak cepat
memegang kerah kemeja Dee-dee.

“Siapa yang ngasih tau kalian?!”

“Lu kenapa, Raz?” Dee-dee bingung.

“Jawab! Siapa?!”

“Lu bisa biasa aja ga?!” Luke kesal.

“Diem lu!” Mike saling tatap menatap dengan Luke.

“Yuri! dia yang ngabarin gue!” Jelas Dee-dee.

“Oh, udah puas?”

“Puas apa, raz?”

“Puas karna rencana kalian berhasil.. dasar anj-“

“Eh?” Semua menoleh.

Sagara menahan tangan Jaka.

“Razaqa? ayo kita bahas dengan kepala dingin.” Suara khas itu, tentu saja Joey.

“Dingin? kalian yang bikin ini semua panas!” Bentak Jaka seraya melepaskan genggamannya dan berbalik menatap Joey.

“Dengerin kami du-“

“Kelvin disana! belom sadar! kalian keterla-“

“INI BUKAN ULAH KAMI!” Tegas Joey, heningkan suasana seketika.

Jaka bungkam.

“Ayolah, raz. Lo harus tau, kami ga sekonyol itu. Kalo emang kami
sengaja, buat apa coba? masalah kami bukan dengan kalian! Ingat itu!” Joey berusaha menyadarkan Jaka.

“Pffuuhhhh…” Jaka menghembuskan nafas panjang.

Tak lama, orangtua Kelpo sampai.

“Langsung masuk aja, om. Udah ditunggu dokter.” Jaka mempersilahkan.

Semuanya duduk dengan tenang.

“So, kalo kalian nipu gue, kalian cuma harus tau apa yang bakal kalian terima.” Jelas Jaka sambil tertunduk lesu.

“Raz… kami gaakan nipu kalian. 1 bulan dipenjara, dan beberapa tahun suram yang Fuuto lalui, semua ini tentang balas dendam.” Joey
menimpali lagi.

“Dendam karna blok kakak gue ga masuk penjara?”

Joey dan yang lainnya menggeleng.

“Ini tentang mereka. Kami butuh lo dan blok lo buat jebak dia. Jangan biarin kita semua dijebak dan diadu domba.” Jelas Joey terus meyakinkan.

“Jangan mengkambing hitamkan blok gue. Lu harus inget itu.” Setelah sedikit berbincang, blok Fuuto berpamitan untuk pulang.

Jaka dan Mike tak sedikitpun memikirkan blok Fuuto. Mereka masih kesal akan kejadian ini.

Tak lama, mereka dipersilahkan untuk masuk. Terlihat Kelpo masih belum sadar.

“Kalian teman-temannya?” Tanya pak dokter mendekat.

“Iya, dok. Temen kami kenapa?”

“Kepala saudara Kelvin terbentur keras. Dan…” Dokter menjelaskan panjang lebar.

Dari penjelasannya, hanya ada satu kesimpulan yang Jaka dan Mike dapatkan.

‘Abis kepleset, kepala Kelpo langsung dihantamkan ke lantai’

Efek dari benturan ini tak terlalu buruk. Mungkin hanya kehilangan ingatan jangka pendek.

*Skip

Keesokan harinya, Jaka
mengumpulkan seluruh murid laki-laki di SMU48.
“Untuk kalian semua disini.. Gue pengen nanya soal kejadian Kelvin kemaren!” Jaka memulai.

“Yang tau sesuatu, maju kedepan! Kalo ada yg nutup-nutupin, kalian tau sendiri resikonya!” Ancam Jaka.

Ya, begitulah Jaka. Ketika orang terdekatnya disakiti, inilah wujud nyata amarahnya.

Tak ada hasil yang ia peroleh.

“Yuri!” Panggil Jaka pada sosok blasteran itu.

“Uh? Razaqa? Ada apa?” Tanyanya bingung.

“Emm.. gue mau ngobrol ama lu. Besok malem, abis maghrib-an. Bisa?”

“Tentu. Dobby boleh ikut?”

Jaka menjawab pertanyaan Yuri dengan anggukan dan langsung bergegas menghampiri Mike.

“Mike, kita ke Suta Wijaya sekarang.” Ajak Razaqa sambil bergerak cepat meraih tas ranselnya.

“Ngapain, Jak? Ga ke rumah sak-“

“Gue mau bicara ama Yoyok.” Potong Jaka cepat.

Mike langsung mengangguk tanda mengerti.

Terlihat Tony berlari menghampiri Jaka.

“Zaq, lu dipanggil kepsek!” Ucap Tony.
“Ah, bilangin gaada waktu buat bahas lomba, Ton.”

“Bukan soal lomba, Zaq. Entah, ini soal yang kemaren. Buruan!” Desak Tony.

Karena Jaka curiga, ia segera menghampiri pak Mulyanto selaku Kepala Sekolah SMU48.

“Gue tunggu diluar aja, Jak.” Mike duduk dengan tenang sambil mengutak-atik ponselnya.

Jaka permisi masuk.

“Razaqa! Silahkan duduk..” Pak Mul terlihat begitu panik.

“Setelah kejadian kemarin, ada surat yang dikirimkan ke rumah bapak.”

“Alamatnya ada? atau pengirimnya dicantumin pak?”

“Gaada, Raz. Ini coba kamu periksa.” Pak Mul menyerahkan surat yang ia maksud.

Jaka membuka surat itu.

“Pertama, kita akan lihat drama di perang yang kedua. Kedua, kita lihat pesta yang akan lebih meriah dari kemarin. Ketiga, mari kita lihat berapa tahun hukuman penjara yang menanti kalian. Terakhir, ayo kita nikmati kebahagiaan bersama. :D” Surat itu diakhiri dengan cap badut sedang memegang revolver.

“SON OF A—” Jaka memukul lemari disebelah kanan meja kerja pak Mul tersebut.

Sontak pak Mul meloncat takut. Tatapan Jaka sudah sangat berbeda.
“Bapak minta tolong sama kamu sebagai ketua OSIS untuk ngajak teman-teman kamu lebih waspada dan bersatu.”

“Jangan sampai kejadian 2 tahun lalu terulang lebih parah lagi. Kita bisa terancam. Bukan cuma kalian semua.” Jelas pak Mul ragu.

“Gaada yang mau ini terjadi. Apalagi kami yang udah mau siap-siap UN, pak.” Jaka menyender lesu.

“Kalian itu calon penerus bang-“

“Gausah nyeramahin saya, pak. Persetan! 1-2 bulan kedepan, saya yakin sekolah pasti akan stop beberapa minggu.” Jaka bangkit dan hendak pergi.

Pak Mul hanya terdiam.
“Yaudah, saya permisi. Mau ke sekolah tetangga.” Jaka pergi begitu saja.

Tanpa basa-basi, Jaka dan Mike segera menuju Suta Wijaya. Sekolah yang diisi anak muda dengan keahlian bak mekanik professional, ataupun juga diisi oleh siswa-siswa yang dijuluki pasukan berani mati.

Sekitar 20 menit, Jaka dan Mike sampai. Mobil Jaka memasuki area parkiran sekolah. Jaka dan Mike turun dan masuk begitu saja lewat lorong tengah dimana langsung menuju ke lapangan utama.

“Danger tatapannya.” Mike terkekeh.

“Kita gaakan mati kalo cuma lewat tatapan.” Jaka membalas sambil tersenyum.

Perlahan, seluruh murid yang tadinya
melihat-lihat dari lantai atas langsung turun kebawah.

“Kenapa? mau cari gara-gara?!” Tanya seorang murid yang baik Jaka ataupun Mike tak mengenalnya.

“Neror-neror kaya banci! Dasar pec*n!” Sorakan-sorakan terus didapat Jaka dan Mike.

Jaka memberi kode kepada Mike yang mukanya sudah memerah sejak tadi.

“Tangan kosong! Satu lawan satu! Jangan kotori nama sekolah kalian!” Teriak Mike membuat seluruh siswa yang rusuh itu diam.

“Kami dari SMU48! Persetan! Kami ga main teror! Teror itu dari orang yang mau ngadu domba kita!” Jaka melepas seragamnya.
Mike yang sejak tadi sudah memakai kaos hitam polos, segera memasang kuda-kuda.

“Razaqa dan Oscar..” Ucap seseorang lewat pengeras suara.

“Yoyok?” Jaka dan Mike bersamaan.

“Temui kami di lapangan belakang! Semuanya, beri mereka jalan! Mereka saudara kita!” Tegas Yoyok sang petinggi.

Semua murid Suta Wijaya terdiam dan membelah jalan untuk Jaka dan Mike lewat.

Jaka dan Mike berjalan ke lapangan belakang.

“Ada apa? Apa yang bisa kami bantu?” Yoyok menyulut rokoknya.
“Tentang surat ancaman itu. Kalian udah dapet?”

“Yep.”

“Kalian masih di kubu netral?”

“Yep.”

“Gue gatau apa yang akan terjadi. Gilang dari perwakilan Iman belom muncul.”

“Lalu, siapa blok ketiga?”

“Entah, yok. Lu tau soal kembar yang kabur?”

“Yep. Merekalah badut-badutnya. Iya kan?” Yoyok memastikan.

Mike dan Jaka mengangguk.

“Jadi, kita semua harus gimana?”
Timpal Enop yang merupakan pengikut setia Yoyok.

“Gatau, nop.” Balas Mike singkat.

Yoyok dan Jaka terlihat berpikir.

“Fuuto dan Joey nawarin kerjasama.” Jaka menatap Yoyok.

“Ga! gue ga tertarik! bule-bule itu pasti cuma mau jebak kita!” Tegas Yoyok.

“Mereka lagi nyoba bales dendem, yok. Selain mereka dituduh sebagai pembunuh, Iman juga pasti gaakan tenang.” Jelas Jaka.

“Jak, ini semua karena Iman yang egois itu! Dan anak-anak blasteran yang nyasar dan makan pancingan Iman itu! Sementara, kakak lu berusaha ngelindungin seluruh anak lokal! Lu ga sadar-sadar? ini semua
udah berakhir!”

“Anj*ng lu! Gue juga kaga mau keseret disini! Lu kira gue seneng keseret gini?! Ng*ntot! Gue cuma berusaha! Gue bukan bocah yang harus lu ajarin, bab*!” Jaka panas.

Yoyok menatap Jaka sejenak, lalu tertunduk.

“Kami tetep netral, raz… kami akan terus bertahan disekolah ini sama-sama.”

“Yaudah, terus aja nunggu ampe ada korban disini. Tai! 2 kembar itu ga main-main!” Jaka sangat kesal.

“Udah, lapor polisi aja. Atas tuduhan pengan-“

“Jadi, kita lapor-lapor doang gitu? Oke!” Jaka memberi kode kepada Mike
untuk bangkit.

“Satu lagi, Yok. Bilang ke tuyul-tuyul lu. Gausah ngatain anak sekolah lain banci! liat sekolah kalian? lebih banci dari banci!” Jaka dan Mike bergerak menuju parkiran dan pulang.

“ada warung ga ya, deket sini?” Tanya Jaka pada Mike.

“Noh disimpang, Jak.” tunjuk Mike.

“Oke, gue nitip apa aja dah, yang penting seger diminum.” Mike turun.

“Kang, ada P**ari Sweat ga? 2 yak.” pesan Mike.

“Eh kang Oscar ya? Ini kayanya akang deh..” Seorang bapak-bapak yang sedang membaca koran menunjukkan sebuah rubrik dimana terdapat foto-foto orang yang harus diwaspadai.

“Hah? koran apaan ini, pak?” Sontak Mike kaget bukan main.

“Gajelas juga nih, kang.”

“Boleh saya minta pak, korannya? Saya mau nunjukkin ke temen-temen saya.”

“Sok atuh.” Mike menerima koran tersebut dan segera kembali ke mobil.

“Raz, liat!” Mike menunjukkan.

“What the f*ck!!” Kaget Jaka.

Terlihat ada foto Sony, Jaka, Mike, Tony, Satria, Kelpo, Bobby, Rendi, Fosa, Zidane, Sandi, Troy, Yoyok, Joey, Fuuto, Sagara, Luke, Karel, Zoski dan lainnya kecuali foto si kembar, Iman dan Gilang.

Jaka segera menelpon Yoyok, Troy,
dan Fuuto untuk memberitahu.

“Raz, bisa temenin aku beli hadiah malem ini?” Pesan masuk yang sudah pasti dari Michelle.

Jaka bertanya kepada Mike. Tentu saja, Mike menyarankan Jaka untuk menemani Michelle.

Sesampainya dirumah Jaka, mereka berdua turun dan Mike memutuskan untuk main sebentar.

“Zaqa pulang!” Ucap Jaka.

Michelle turun dengan cepat.

“Zaqa, malem ini jadi kan?”

“Iya jadi, chel.” Jaka sedikit tersenyum.

“Oscar mau ikut? kita mau cari hadiah buat Shania! Hehehe..”

“Eh? serius le? emang Shania ultah tanggal berapa?” Mike dan Jaka kaget.

“Wleeee 😛 pada gatau ultah temennya sendiri! Payah!” ejek Michelle.

Jaka dan Mike saling tatap dalam kejengkelan (?)

“27 ini tau! lusa hehehe!”

Jaka dan Mike hanya ber-Oh ria.

“Oh iya, aku kan kurang tau toko-toko yang bagus disini nih. Kalian ada refrensi?” Tanya Michelle pada Jaka dan Mike.

“Eh? kami? gatau :v” Jawab Jaka dan Mike sambil menggaruk kepala mereka yang tidak gatal.

“Huuu… ketauan gapernah beliin
pacarnya barang! dasar ga romantis! :P” Ejek Michelle lagi.

“Dasar nih, cubit dulu…” Jaka mencubit pipi Michelle.

“Ehh.. ehh.. ko main cubit-cubit aja? ): sakit tauuu..” Michelle memegangi pipinya manja.

“Lele.. lele.. udah tua! ga lucu lagi huahahaha..” Mike dan Jaka tertawa puas.

“Ishhhh… umur boleh nambah tua, tapi jiwa awet muda dong.. :P” Balas Michelle lagi.

“Hahaha.. iyadeh, dasar Mie Celek.” Ejek Jaka terus.

“Udah-udah.. gue ada refrensi nih..” Mike mengusulkan.
Mereka pun sepakat. Tepat jam 19.40, mereka sudah sampai di salah satu mal terfavorit Mike bersama sang mantan kekasih.

Mereka masuk dan langsung menuju ke tempat hadiah-hadiah dan semacamnya.

“Kalo novel?” Saran Mike.

“Iya, bagus juga tuh.” Dukung Jaka.

“Hmm.. mainstream ihh..” Tolak Michelle.

Mereka memutuskan untuk berkeliling.

“Ah, gue ke toko buku dulu yak.. mau liat buku-buku baru nih.” Izin Mike.

“Ya jelas buku-buku baru. Masa baju-baju baru :v sono” Celetuk Jaka terus bercanda.

Mike keluar dari toko dan menuju toko buku.

“Raz, kamu kenal dia ga?” Bisik Michelle pada Jaka.

“Yang mana, chel?”

“Itu tuh, cewe yang pake jaket biru tua!” tunjuk Michelle.

“Eh? itu Elaine!” Ucapan Jaka disetujui Michelle.

“Bukannya dia-” Michelle terhenti.

Perlahan, orang yang mereka sangka Elaine itu hilang. Sepertinya sudah keluar dari toko.

*Skip

“Hmmm.. mantep-mantep juga nih.
Sesuai harga.” Ucap Mike terkesan.

Tiba-tiba, seorang gadis disebelah Mike menjatuhkan 5 buku yang tersusun rapi.

“Mari, saya bantu.” Ucap Mike pelan sambil merunduk.

“Ah, maaf kesenggol.” Ucapnya lirih.

Mendengar suara tersebut, Mike langsung menatap kearah gadis tersebut. Mike membuka hoodie-nya. Gadis itu terdiam.

“Kenapa hari ini begitu banyak insiden?!” Keluh Mike.

~~~

“Pengalaman tak pernah bisa dibeli. ‘Nakal dulu baru sukses’ atau ‘Sukses dulu baru nakal’, yang mana yang lebi
tepat? sebenarnya, ketepatan itu tergantung dengan bagaimana kau mengartikan nakal itu sendiri.” – Lukas Hirokiko Dominaccio

*To Be Continued*

Nb : Don’t forget to visit my blog at mandalakelvin.wordpress.com and also for those who wants join our Line group called “Blacklist Author”, you can add my id “kelvinmp_48”

Thank You ^^

Created by @arthaaSV & @KelvinMP_WWE

Iklan

Satu tanggapan untuk “Fiksi dan Fakta part 39

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s