X-World (Pt.43) : The Hunter From The Future

“Gary, bertahanlah sedikit lagi! Kita hampir sampai.” Ucap Ve.

Panik. Itulah suasana di cockpit pesawat milik Ve saat ini. Ve mengemudikan pesawatnya dengan hati yang berdebar-debar menuju suatu tempat. Di kursi navigator, Anto sibuk dengan alat komunikasi pesawat. Ia mencoba menghubungi seseorang, tapi belum ada jawaban dari orang yang tengah ia hubungi.

Sementara itu di ruang istirahat pesawat, ada Sagha dan Viny yang tengah duduk di atas sebuah tempat tidur sambil memperhatikan tubuh seseorang yang tengah terbaring di tempat tidur lain yang berada tepat di depan mereka. Tubuh seseorang yang tengah terbaring itu tidak lain adalah tubuh Gary.

6 Jam yang lalu, tepat saat Gary dan teman-temannya baru akan take-off dan pergi meninggalkan domain Rider-Verse, tiba-tiba saja terjadi insiden yang tidak diduga-duga. Saat tengah asik mengobrol satu sama lain, Gary jatuh tidak sadarkan diri tanpa sebab.

Satu langsung pesawat panik saat itu. Anto yang duduk tepat di sebelah Gary saat kejadian itu terjadi, refleks menahan kepala Gary agar tidak terjatuh ke lantai pesawat. Ve yang mendengar keributan terjadi tepat di belakangnya langsung mengaktifkan pilot otomatis pesawat dan pergi meninggalkan kursi pilot untuk melihat keadaan temannya.

Sagha dan Anto mengangkat tubuh Gary dan membawanya ke ruang istirahat. Tidak ada satupun yang tau kenapa Gary bisa jatuh tidak sadarkan diri tiba-tiba seperti itu. Sampai akhirnya, Viny teringat akan kejadian di Rider-Verse.

Tepat ketika pertarungan besar-besaran melawan Jashin 14, Gary menggunakan fitur Buster Mode GN-Swordnya sepanjang waktu selama pertarungan itu berlangsung tanpa jeda. Selama pertarungan, Gary kelihatan baik-baik saja, tidak seperti biasanya. Biasanya, tidak sampai setengah jam Gary menggunakan Buster Mode, tubuhnya pasti akan langsung mengalami kaku karena efek radiasi.

Mungkin penyebab pingsannya kali ini adalah karena efek samping dari penggunaan Buster Mode yang berlebihan saat pertarungan melawan Jashin 14. Berhubung di pesawat tidak ada yang paham cara menangani kondisi tubuh Gary saat ini, mereka berinisiatif untuk pergi menemui seseorang yang sebelumnya pernah menangani kondisi tubuh Gary yang kaku akibat efek samping Buster Mode.

“Kita sampai di Count Avano. Coba hubungi Andela lagi.” Perintah Ve pada Anto. Anto kembali mencoba menghubungi Andela dengan alat komunikasi pesawatnya.

Usahanya kali ini berhasil. Setelah berbicara singkat dengan Andela lewat alat komunikasi pesawat, Anto memberitahu Ve kalau Andela sedang ada di rumahnya. Ve mengemudikan pesawatnya dengan kecepatan penuh menuju rumah Andela.

Begitu mereka sampai di atas rumah Andela, Andela langsung keluar dari pintu belakang rumahnya. Andela memberi isyarat dengan tangannya. Ia menyuruh Ve untuk mendaratkan pesawatnya langsung di halaman belakang rumahnya. Setelah mendaratkan pesawatnya di halaman belakang rumah Andela, Ve, Anto, Sagha, dan Viny keluar dari pesawat bersama-sama sambil menggotong tubuh Gary.

Andela yang melihat kondisi tubuh Gary saat itu cukup terkejut. Andela menyuruh mereka untuk membawa masuk Gary ke dalam rumahnya dan merebahkannya di kasur kamar kosong di rumahnya untuk ia periksa.

Sementara Andela tengah memeriksa keadaan Gary di kamar, Anto dan Sagha duduk menunggu di ruang tamu. Ve dan Viny tengah berdiri menunggu Andela selesai memeriksa keadaan Gary di depan kamar.

Begitu Andela keluar, Ve dan Viny langsung melemparkan pertanyaan yang sama pada Andela, “Bagaimana keadaannya?”. Andela hanya menggelengkan kepalanya.

Sekarang semuanya telah berkumpul di ruang tamu. Andela pun mulai bicara untuk memberitahu mereka hasil pemeriksaan Gary kepada teman-temannya.

“Aku punya kabar buruk dan kabar baik. Agar tidak sepihak, aku ingin bertanya pada kalian, yang mana dulu yang kalian ingin dengar?” Tanya Andela. Semua serentak menjawab kabar baik.

“Kabar baiknya, Gary masih hidup.” Ucap Andela. Anto, Sagha, Ve, dan Viny langsung menghela nafas mereka. Mereka lega mendengar kabar baik tersebut.

“Terus kabar buruknya apa, Ndel?” Tanya Anto.

“Kabar buruknya, Gary mengalami koma,” Pernyataan tersebut sontak membuat teman-teman Gary sedikit kaget mendengarnya. “Bukan hanya itu. Ada kabar buruk lainnya,” Tambah Andela.

“Keadaan Gary saat ini disebabkan oleh radiasi berlebihan partikel GN, dan radiasi yang terjadi pada tubuhnya sudah sampai ke tingkat yang cukup parah. Pada keadaan seperti ini seharusnya Gary sudah mati, tapi ajaibnya, ia berhasil bertahan dari fase kritis dan masuk ke masa koma. Kejadian seperti ini jarang terjadi, dan Gary bisa dibilang sangat beruntung karena kasus langka ini terjadi padanya.”

“Oiya, aku mau tanya, apa kalian tau berapa lama durasi terakhir Gary menggunakan Buster Mode?” Anto, Sagha, Ve, dan Viny saling melirik satu sama lain. Tidak ada yang ingat berapa lama durasi saat Gary menggunakan buster mode ketika pertarugan melawan Jashin 14.

Sagha menyenggol tangan Anto. Dia ingat kalau selama pertempuran berlangsung, Gary paling sering bersama dengan Anto.

“Uhh… Gue nggak inget pasti. Kalo nggak salah sih, sekitar 4-5 jam.” Ujar Anto.

“Hmm… Pantas saja,” Ucap Andela. “Untuk saat ini kita tidak bisa berbuat apa-apa. Kita tunggu beberapa hari kedepan untuk melihat apa ada perkembangan pada kondisi Gary.”

Andela bangun dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan Anto, Sagha, Ve, dan Viny di ruang tamu. Ia paham kalau ini adalah saat-saat sulit bagi mereka berempat. Biasanya di saat seperti ini, Gary selalu ada untuk menyemangati mereka, tapi kali ini, orang itu tengah terbaring di atas ranjang tidak sadarkan diri.

Mereka berempat berdiskusi untuk memutuskan langkah apa yang akan mereka ambil untuk kedepannya.

Tujuan awal tim mereka terbentuk adalah untuk menghentikan para Beyonders, dan mereka telah berjanji tidak akan berhenti menjelajah sampai tujuan itu berhasil terpenuhi. Akan tetapi, tim ini tidak akan terbentuk kalau bukan karena Gary yang mengajak mereka semua dari mulai Anto, Sagha, hingga Viny.

Mereka berempat bisa saja melanjutkan perjalanan mereka menjelajah Battleworld tanpa Gary, tapi mereka sadar akan satu hal. Sampai sejauh ini mereka berpetualang bersama, Gary tidak pernah sekalipun mengabaikan mereka ketika ada salah satu dari mereka berempat yang butuh pertolongan atau bahkan ketika mereka tengah terjebak dalam bahaya.

Gary selalu berusaha sebaik mungkin untuk menolong mereka, bahkan terkadang ia sampai lupa terhadap dirinya sendiri, sehingga terkadang ia membuat nyawanya sendiri terancam dalam masalah yang harusnya ia selesaikan. Tindakannya bisa dibilang cukup bodoh dan beresiko, tapi itulah Gary Muller.

Mengingat kebaikan-kebaikan yang telah Gary lakukan pada mereka, Anto, Sagha, Ve, dan Viny sepakat untuk menunda agenda utama mereka sementara waktu sampai Gary sembuh dari masa komanya. Walaupun itu akan memakan waktu yang cukup lama.

**

“Kampret emang si Sagha. Gue udah naro anduk di dalem kamar mandi, eh, dia malah nyelonong masuk aja.” Ujar Anto kesal. Tangannya sibuk memutar sendok untuk mengaduk teh hangat yang baru saja ia buat.

Anto berjalan pergi meninggalkan dapur sambil meminum tehnya. Ketika berjalan melewati kamar yang ditempati Gary, ia tidak sengaja melihat Ve di dalam kamar itu. Ia tengah duduk di samping kasur dalam keadaan tertidur sambil menggenggam tangan Gary.

“Ve….” Gumam Anto.

………………….

“HAYO SEDANG APA??”

“KONCROT LO!”

“Hei, kamu kenapa?” Tanya Andela bingung karena ucapan spontan yang baru saja keluar dari mulut Anto.

“Ckh! Ah, elo Ndel. Gue kira siapa. Jangan bikin kaget napa? Latah gue keluar kan?” Keluh Anto.

“Hehehe. Maaf-maaf. Kamu sedang apa disini?”

“Nggak ngapa-ngapain. Gue nggak sengaja ngeliat itu,” Anto menunjuk Ve yang ada di dalam kamar Gary. “Gue heran aja, kok dia sampe segitunya sama Gary yak? Apa jangan-jangan….”

“Bukannya dia memang menyukai Gary?” Anto bingung mendengar pernyataan Andela. “Dari sikapnya saja sudah bisa ditebak bukan?”

Anto hanya manggut-manggut. Dia berpikir, jadi selama ini spekulasinya ternyata benar, bahwa Ve sebenarnya memang menyukai Gary. Ini bukan pertama kalinya Anto menangkap basah Ve dalam keadaan seperti ini. Sebelumnya, Anto pernah tidak sengaja mendengar Ve yang tengah tidur mengigau, menyebut nama Gary.

“Menurutku, kelakuan Ve wajar. Kalau kamu yang ada di posisi Gary saat ini, aku pasti juga akan seperti Ve.” Anto dengan spontan langsung menatap Andela setelah mendengar Andela berbicara seperti itu.

“Ndel….”

Andela membalas tatapan Anto yang ia arahkan kepadanya. Mereka saling menatap. Tidak ada rasa canggung di antara mereka. Padahal biasanya, Anto akan langsung menghentikan tatapannya pada Andela begitu Andela menatapnya balik. Apa mungkin ini pertanda kalau hubungan mereka semakin erat?

“Woy! Hormatin yang jomblo dong!” Dan pada akhirnya, momen-momen mereka rusak dalam hitungan detik berkat Sagha.

“Ye, sirik aje lu! Jomblo dari hongkong! Pacar lo aja dua!” Anto membalas ledekan Sagha. Sagha pergi masuk ke dalam kamarnya. Melihat Sagha yang sudah selesai mandi, Anto langsung menghabiskan tehnya dalam sekali teguk lalu berjalan pergi menuju kamar mandi.

“Anto,” Panggil Andela, membuat langkah Anto menuju kamar mandi terhenti.

“Oit? Kenapa, Ndel?”

“Umm… Nanti kamu sibuk nggak?” Tanya Andela.

“Nggak sih. Emang kenapa?”

“Kamu mau nggak nemenin aku belanja?”

“Oh, oke, tapi gue mandi dulu yak. Badan udah lengket nih masalahnya.”

“Oke.”

Senyum mengembang di bibir Andela. Ternyata dia jenius juga. Dia ingin menikmati waktu berdua bersama Anto, tapi agar terlihat formal, ia menggunakan kegiatan belanja sebagai kedoknya. Andela pergi menuju kamarnya untuk bersiap-siap sambil menunggu Anto selesai mandi.

**

Benar-benar pasangan yang anti-mainstream. Di saat orang lain memilih pergi ke taman atau tempat-tempat hiburan lainnya untuk berpacaran, mereka berdua memilih supermarket. Ya, namanya juga kedok.

Mereka berdua terlihat mesra di tengah-tengah kerumunan orang yang ingin membeli kebutuhan sehari-hari mereka di tempat itu. Sambil mendorong troli belanjanya, menyambangi rak demi rak mencari barang-barang yang ada di daftar barang yang dibawa oleh Andela, dua sejoli itu berpegangan tangan.

Sesekali mereka bercanda satu sama lain dan tertawa layaknya ABG yang baru pertama kali mengenal indahnya masa-masa pacaran. Tenang saja, mereka masih wajar kok.

Dalam kurun waktu 1 jam, mereka selesai dengan kegiatan mereka di supermarket. Sekarang mereka berdua tengah dalam perjalanan pulang dengan berjalan kaki. Tadinya Anto hendak memberhentikan taksi agar Andela tidak lelah harus berjalan dari supermarket menuju rumahnya, tapi Andela menolak.

“To, itu nggak berat?” Anto hanya menggeleng dan membalas pertanyaan Andela dengan senyum.

2 kantong plastik besar yang penuh di kedua tangan. Terlihat tegar di luar, tapi di dalam hatinya, Anto sudah tidak kuat lagi menahan beban dari 4 kantong yang ditentengnya. Karena gengsi, ia berusaha bertahan dan memotivasi dirinya sendiri dengan alasan ‘DEMI PACAR TERCINTA!’

Selama perjalanan pulang, tidak ada yang berbicara baik Andela ataupun Anto. Sampai akhirnya, Andela memulainya terlebih dahulu.

“Maaf ya kalau aku merepotkanmu.”

“Gapapa kok. Buat lo mah, gue nggak pernah merasa repot.”

“Melihatmu, aku jadi ingat semalam.”

“Semalem? Semalem ada apaan? Pertandingan bola ya?” Tanya Anto penasaran.

“Bukan. Ini soal Gary,” Begitu Andela menyebut nama Gary, mendadak ekspresi Anto berubah. Wajahnya tidak lagi memasang ekspresi santai, melainkan ekspresi serius sekaligus khawatir.

“Dia memang orang yang kuat dan tidak pantang menyerah.” Ucap Andela

“Kalo nggak gitu, namanya bukan Gary.”

“Sepertinya hidup Gary tidak pernah lepas dari pertarungan. Tidak hanya di dunia nyata, bahkan dalam masa komanya pun ia masih tetap bertarung,” Anto mengangkat kepalanya dan langsung menatap Andela dengan raut heran.

“Hah? Maksudnya?”

“Semalam saat aku mengetahui kalau dia masuk dalam masa koma, aku langsung berusaha masuk ke dalam pikirannya untuk melihat apa yang sedang terjadi di sana saat itu. Biasanya, pikiran seseorang akan tetap berjalan sekalipun kondisi tubuhnya sedang dalam keadaan tidak sadarkan diri.”

“Terus apa yang lo liat pas ada di dalem pikiran Gary?”

“Sebuah kota,” Jawab Andela.

“Sebuah kota?” Andela mengangguk.

“Kota itu tidak normal. Keadaan di sana kacau balau seperti baru ada bencana besar yang melanda kota itu. Gary ada di dalamnya, dan ia tengah bertarung melawan ratusan makhluk berwarna hijau terang yang menyerupai manusia.”

“Jadi selama koma, Gary mimpi?”

“Kurang lebih seperti itu, tapi yang satu ini tidak bisa disebut mimpi sepenuhnya,” Andela menghela nafasnya sesaat.

“Makhluk hijau yang terang yang menyerangnya, mereka nyata. Mereka bukan bagian dari alam bawah sadar Gary, tapi mereka adalah perwujudan penyakit yang tengah berusaha menggerogoti pikiran Gary.”

“Berarti makhlu hijau itu….”

“Ya. Mereka adalah perwujudan dari partikel GN di dalam pikiran Gary.” Ujar Andela. Keadaan menjadi hening untuk sesaat.

“Ndel, lo nggak bisa bantuin Gary pake telepati lo?” Tanya Anto.

“Kalau aku bisa, aku pasti akan menolongnya. Dia juga temanku. Masalahnya, radiasi partikel GN yang hampir memenuhi pikirannya membuatku sulit untuk masuk ke dalam. Melihat ke dalam otaknya saja sudah susah payah,” Andela menunduk dan kembali menghela nafasnya.

“Gary hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri saat ini. Kalau dia berhasil, kemungkinan kondisinya sekarang akan membaik dan masa-masa pemulihannya akan lebih cepat, tapi kalau dia gagal melawan radiasi yang menggerogoti otaknya, maka–“

Belum sempat Andela menyelesaikan ucapannya, Anto langsung menutup mulut Andela dengan jari telunjuknya.

“Nggak usah lo selesain kata-kata itu, gue paham.”

Keadaan kembali hening. Pembicaraan di antara mereka berdua telah berhenti. Anto dan Andela tiba di jembatan dekat kampus Andela. Sesuatu yang janggal membuat langkah Andela berhenti di tengah jembatan itu.

“Kenapa, Ndel?” Tanya Anto.

Andela tidak menjawabnya. Ia malah sibuk melirik sekelilingnya.

“Perasaan tidak enak apa ini?” Pikir Andela.

“Ndel?”

“Hah? Oh, tidak apa-apa,” Ia kembali berjalan mengejar Anto yang ada di depannya. “Ayo, lanjut.” Ucapnya seraya mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka.

Baru beberapa langkah mereka berjalan, tiba-tiba saja angin yang sedari tadi berhembus pelan di sekitar mereka berubah menjadi kencang. Merasa kalau akan ada hal buruk yang terjadi sebentar lagi, Andela langsung menarik tangan Anto dan menyuruhnya untuk berlari. Sayangnya, mereka sudah terlambat.

3 buah portal muncul di sekeliling jembatan. Dari dalam ketiga portal itu muncul puluhan mobil terbang berwarna silver metalik mengepung Andela dan Anto yang masih berada di tengah jembatan. Di antara mobil-mobil silver yang muncul, ada satu mobil sport hitam yang beda dari yang lain. Mobil itu turun ke jembatan menghadang Anto dan Andela.

Pintu mobil itu terbuka, dan dari dalamnya muncul seorang perempuan berpakaian ketat serba hitam. Andela sudah siap dengan busur panahnya, begitu juga Anto dengan digivicenya.

“SUBJEK TERIDENTIFIKASI. SUBJEK 1, ANTO TEO. SUBJEK 2, ANDELA YUWONO….” Ucap perempuan misterius itu.

“Ternyata firasat tidak enak itu adalah ini.” Ucap Andela.

“….PROTOKOL BERTARUNG V1.0, AKTIF! MEMULAI PEMUSNAHAN SUBJEK 1 & 2.” Andela dan Anto langsung terkejut mendengar ucapan perempuan misterius itu. Perempuan misterius itu mengambil senjata berbentuk aneh yang tergantung di punggungnya.

Sudah sangat jelas, perempuan itu adalah ancaman bagi mereka berdua. Dengan cepat, Andela berhasil menembak jatuh senapan yang baru diambil oleh perempuan misterius itu dengan panahnya. Puluhan mobil yang mengepung mereka memberi serangan balasan dengan membombardir mereka dengan senjata mesin.

Anto memanggil V-Mon dan Wormon, lalu menggabungkan mereka menjadi Imperialdramon. Imperialdramon berhasil melindungi Anto dan Andela dari ratusan peluru yang hendak membunuh mereka.

Serangan balasanpun dilancarkan oleh Imperialdramon. Ia menembakkan Positron Lasernya ke arah mobil-mobil terbang yang tengah mengepung mereka di tengah jembatan. Dalam sekejap, mobil-mobil terbang itu hancur.

Andela menyerang perempuan misterius itu dengan panahnya, tapi aneh, tidak ada satupun serangan darinya yang berdampak pada perempuan itu. Ia tetap berdiri tegak walaupun tubuhnya telah terkena 3 buah panah sekaligus. Perempuan itu berhasil mengambil kembali senjatanya. Ia berguling untuk menghindari panah Andela, lalu ia menembakkan senjatanya ke arah Andela.

Anto yang melihat Andela dalam bahaya langsung mendorongnya ke samping bersama dengan dirinya. Peluru tersebut gagal mengenai Andela, tapi sayangnya, peluru tersebut masih melesat dan ternyata ada orang lain dalam jarak tembaknya.

“Imperialdramon, awas!” Teriak Anto.

Ia terlambat. Imperialdramon terkena tembakan itu, dan ia menjerit kesakitan. Imperialdramon terjatuh dan berpisah kembali menjadi V-Mon dan Wormon.

Masih seperti saat keduanya menjadi Imperialdramon, V-Mon dan Wormon menjerit kesakitan. Sesuatu terjadi pada tubuh mereka setelah mereka terkena peluru yang ditembakan oleh perempuan misterius itu. Anto dan Andela menghampiri keduanya untuk melihat keadaan mereka.

Perempuan misterius itu berjalan mendekati Andela dan Anto sambil mengacungkan senjata anehnya ke arah mereka.

Ketika Andela dan Anto menengok ke depan, sosok perempuan itu telah berdiri di depan mereka. Jari telunjuknya siap untuk menarik pelatuk senapan dan mengakhiri kedua orang yang dilabelinya sebagai subjek 1 dan 2. Akan tetapi, ketika perempuan itu hendak menarik pelatuknya, ada suatu hal yang membuatnya terpaksa untuk menunda niatnya itu.

Sebuah portal kembali terbuka tepat di samping mereka bertiga. Dari dalamnya keluar sebuah kendaraan, namun kali ini berbeda. Bukan mobil terbang, bukan juga mobil sport hitam, melainkan sebuah jeep off-road yang dilengkapi senjata diseluruh body mobilnya.

Jeep off-road tersebut keluar dari portal dengan cepat, membuat perempuan misterius yang berniat membunuh Anto dan Andela terpaksa berguling ke belakang untuk menghindar agar tidak tertabrak. Jeep tersebut berhenti di depan Andela dan Anto.

Pintu belakang jeep itu terbuka dengan sendirinya, seolah ingin agar Anto dan Andela masuk ke dalamnya. Mereka berdua malah diam dan masih kebingungan dengan hal tersebut. Kaca pintu kiri Jeep turun perlahan hingga menampakkan wajah si pengemudi jeep yang sontak membuat Andela dan Anto terkejut.

“WOY! BURUAN MASUK!!” Bentak si pengemudi.

Dari sisi lain mobil, terdengar suara tembakan dan gemerincing peluru yang menghantam body mobil. Tidak lain dan tidak bukan, itu adalah ulah si perempuan misterius serba hitam yang hampir membunuh Anto dan Andela tadi.

Si pengemudi jeep membuka kaca mobil di seberangnya yang mengarah langsung ke si perempuan misterius. Dia mengambil revolver dari kantong senapan yang tergantung di dadanya, lalu membalas serangan perempuan itu. Tidak ada satupun tembakannya yang berhasil mengenai perempuan itu, tapi ia berhasil membuat perempuan itu mundur beberapa langkah ke belakang.

“MASUK TOLOL!!!” Si pengemudi jeep mulai geram melihat Andela dan Anto yang masih diam membatu sambil menatapnya dengan kebingungan.

Pengemudi jeep itu turun dari kendaraan miliknya dan menarik paksa Andela dan Anto untuk masuk ke dalam mobilnya. Andela berniat melawan sebelum ia dapat ditarik oleh si pengemudi, tapi dengan cepat pengemudi itu menembak jatuh panahnya dengan revolver miliknya.

Si pengemudi jeep berhasil membawa Andela dan Anto masuk ke dalam mobilnya, dan busur milik Andela kini jadi barang sitaannya. Ia kembali masuk ke dalam kendaraannya. Gemerincing peluru kembali terdengar pada body mobil jeep. Rupanya perempuan misterius itu belum menyerah juga.

Si pengemudi jeep menutup semua jendela mobilnya, lalu ia pergi dari area jembatan, meninggalkan perempuan misterius itu di sana.

“Ckh! Getol banget dah tuh bajingan.” Gerutu si pengemudi. Dari kaca spion kendaraannya, ia melihat mobil sport berwarna hitam tengah melaju cepat mengikutinya.

“Heh, lo berdua! Gue mau lo berdua jawab pertanyaan gue. Apa lo berdua percaya sama gue?” Tanya si pengemudi jeep pada Andela dan Anto.

“Kenapa gue harus percaya sama lo?” Anto langsung menjawab dengan sinis.

“Bagus. Heh, cewek! Kalo lo gimana? Lo percaya sama gue?” Tanya si pengemudi lagi. Kali ini pertanyaannya tertuju jelas pada Andela, satu-satunya perempuan di dalam mobil jeep itu.

“Tentu saja tidak. Untuk apa percaya pada penjahat busuk sepertimu?”

“Sekarang gue mau lo berdua pegangan yang kenceng, karena sebentar lagi bakalan ada sedikit goncangan.” Ucap si pengemudi.

Pengemudi jeep itu memutar kemudinya dan mengoper persnelingnya. Sekarang jeep yang dikendarainya berjalan mundur.

Kini mobil jeep dan mobil sport hitam saling berhadapan. Pengemudi jeep itu menekan tombol yang ada di kanan stir mobilnya. Senapan mesin yang terpasang di depan mobil jeepnya pun menembakkan puluhan peluru yang mengarah langsung ke mobil sport hitam di depannya.

Mobil sport hitam itu tidak dapat menghindar. Kali ini gilirannya untuk balas menyerang pada mobil jeep. Dari bagian belakang mobil sport hitam itu muncul sebuah pelontar roket. Pelontar roket itu mempunyai 3 buah peluru, dan salah satunya telah ditembakkan ke arah mobil jeep yang ada di depannya.

Si pengemudi jeep kembali membanting stir untuk memutar mobilnya. Ia langsung menginjak gas dan mengoper persnelingnya ke yang paling tinggi agar dapat menghindar dari roket itu. Pengemudi jeep itu melirik kaca spionnya untuk sesaat.

“Ayo ke kiri sedikit lagi….” Ia menurunkan kaca mobil yang ada di sampingnya persis. Sementara tangan kanannya telah siap menggenggam revolver.

Roket itu semakin dekat, tapi si pengemudi jeep tampak tenang. Sepertinya ia malah berharap roket itu mendekati mobilnya.

“SEKARANG!” Ucap si pengemudi seraya tangan kanannya menjulur keluar lewat lubang kaca mobil dan menembak jatuh roket tersebut sebelum benda itu dapat meledakkan dirinya bersama dengan kendaraannya.

Roket tersebut meledak tidak jauh dari bokong mobilnya, membuat sedikit goncangan yang mengakibatkan mobil jeepnya mendapat sedikit dorongan maju dari belakang.

Pengemudi jeep itu kembali melirik spionnya. Kepulan asap hitam berada tepat di belakang mobilnya. Matanya menatap ke arah kepulan asap itu dari kaca spion. Tidak ada tanda-tanda mobil sport hitam tadi masih mengikutinya.

“Akhirnya,” Pengemudi itu menghela nafasnya untuk sesaat. “Heh, lo berdua! Kita perlu ngomong 4 mata. Cepet pilih tempat yang bikin lo nyaman buat ngomong!”

“Buat apa? Kalo lo Cuma pengen nanya gue pengen mati di tangan lo pake cara apa, lo bisa tembak gue disini sekarang.” Ucap Anto.

“Lo mikir nggak sih daritadi? Kalo gue pengen lo mati, dari awal gue muncul depan muka lo, gue bisa aja langsung nabrak atau ngelindes lo bareng sama pacar dan digimon lo yang lagi lemes kayak kantong plastik,” Ucap si pengemudi jeep.

“Mau lo kali ini apaan, Ron? Mau ngadu domba gue sama temen-temen gue?” Tanya Anto.

“Menurut lo?” Si pengemudi itu melepas topi koboy yang ia gunakan dan meletakkannya di kursi depan di sampingnya. “Lo udah tau gue. Manipulasi bukan permainan gue. Konfrontasi langsung, itu baru permainan gue.”

“Kalo gitu kita ngomong di rumah Andela,” Andela refleks menoleh dan menatap Anto dengan wajah terkejut. “Gue pengen liat. Lo masih berani ngomong 4 mata di depan temen-temen gue apa nggak.”

Erron diam untuk beberapa saat. Tiba-tiba ia membanting stir mobilnya dan berputar balik.

“Dimana alamat rumah pacar lo?”

**

“Vin, bikinin gue telor ceplok dong.”

“Kenapa harus aku? Kamu punya 2 tangan, 2 kaki, dan tidak ada yang patah. Jalan saja ke dapur.” Balas Viny kesal.

“Etdah. Galak amat, Bu.” Sagha beranjak pergi meninggalkan sofa menuju dapur. Sesampainya di dapur, ia membuka kulkas untuk mencari telur untuk mengganjal perutnya yang lapar. Matanya mencari ke seisi kulkas, tapi dia tidak menemukan satupun telur.

Jangankan sebutir telur, bahkan tidak ada satupun bahan makanan yang bisa ia jadikan santapan di kulkas. Hanya ada es batu dan 3 botol besar air dingin di dalam kulkas. Ia baru teringat, tadi Andela dan Anto pergi keluar untuk membeli bahan makanan.

Dengan perasaan sedikit kecewa, Sagha pergi meninggalkan dapur dan kembali duduk di sofa ruang tamu bersama Viny.

“Nggak jadi makan?”

“Gimana mau makan? Kulkas kosong gitu,” Keluh Sagha, “Anto sama Andela belum balik pula. Kemana dah tuh orang berdua?”

Pintu depan rumah terbuka. Sagha langsung bangkit dengan semangat dari sofa dan berlari untuk menyambut orang yang baru datang itu. Sagha berpikir kalau akhirnya rasa lapar yang melanda perutnya akan terpuaskan sebentar lagi.

“NAH! AKHIRNYA LO….” Ucapannya terpotong, dan nada bicaranya yang semula antusias berubah menjadi sedikit terkejut.

“Gha, kamu kenap-pa….” Hal yang sama pada Sagha, terjadi juga pada Viny. Apa yang sebenarnya terjadi kepada mereka berdua?

Mereka tidak terkejut karena Anto dan Andela datang tanpa membawa bahan makanan sama sekali. Mereka juga tidak terkejut karena Anto dan Andela datang sambil menggendong V-Mon dan juga Wormon di tangan mereka, tapi mereka terkejut, karena Anto dan Andela datang bersama seseorang yang sama sekali tidak mereka harapkan untuk datang atau bahkan bertemu dengan mereka.

“Erron?!!”

……………..

~To Be Continued~

By : @ahmabad25

Iklan

9 tanggapan untuk “X-World (Pt.43) : The Hunter From The Future

    1. Wah ketebak :v wkwkwk iya, itu inspirasinya dari terminator. Thanks udh mau mampir dan ngikutin cerita gue 😀 maaf juga ya gr2 sebelumnya sempet vakum tanpa kabar

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s