Romansa Di Kota Itu, Part15

Perlahan Dendhi membuka matanya, dai mendapat sentuhan hangat di tangan kanan nya, setelah ia mengucek mata nya, ternyata Ve tertidur dengan posisi duduk. Ia merubah posisi nya, entah kenapa tiba-tiba Ve terbangun dari tidur nya

“Den.. kamu sudah sadar?” tanya Ve dengan suara parau

“iya kak, aku udah sadar” balas Dendhi pelan

Tanpa pikir panjang, Ve lalu memeluk Dendhi

“Syukurlah, kamu kenapa sih Dek kok sampe di keroyok gitu? Kamu bikin salah apa ke mereka?” tanya Ve

“aku nggak bikin masalah kak ke mereka” kata Dendhi.

“Bentar lagi temen-temen kamu ke sini” ujar Ve

“kamu makan apa?” tanya nya lagi

“buah aja deh kak” balas Dendhi pelan.

Ve lalu meninggalkan Dendhi di kamar, tak lama kemudian. Bel rumah mereka berbunyi.

“Bentar” ujar Ve yang berjalan ke ruang tamu, dia lalu membuka kan pintu rumah mereka

“eh.. kamu Za” ujar Ve

“iya kak, apa kabar?” tanya Ve

“baik kok kak” balas Reza

“oh iya, mana sepupu mu itu?” tanya Ve

“Gracia maksud kakak? Dia lagi di rumah, ada Michelle juga kok” balas Reza

“masuk yuk” kata Ve mempersilahkan Reza masuk ke rumah nya.

“aku mau ketemu Dendhi, boleh kak?” tanya Reza

Mendengar nama Dendhi, Ve langsung tertunduk.

“boleh kok, tapi kondisi nya lagi nggak begitu bagus” kata Ve

“ayo, kakak anterin ke kamar nya” ujar Ve yang lalu berjalan menuju ke kamar Dendhi, Rea yang penasaran hanya bisa mengekor di belakang Ve

“Den, ini kakak, ada Reza” kata kak Ve dari luar kamar Dendhi

“Suruh masuk aja kak” perintah Dendhi lemas.

Reza lalu masuk ke dalam kamar Dendhi. sedangkan Ve kembali ke dapur. Begitu ia melihat keadaan Dendhi, ia terbelalak kaget

“Den, kamu abis di pukulin?” tanya Reza

“Lebih tepatnya di keroyok” ujar Dendhi yang membenarkan omongan Reza

“Siapa yang ngelakuin ini Den?” tanya Reza geram

“udah.. lagian aku juga gak apa-apa” kata Dendhi menenangkan teman masa kecilnya itu

“gak apa-apa gimana? Coba bayangin kalo Michelle, Viny, Shani sama temen-temen yang lain tau kondisi mu kayak begini” kata Reza.

“Michelle tadi masih sama Gre?” tanya Dendhi yang mencoba mengalihkan pembicaraan

“Michelle masih asik nonton K-Drama sama Gre, kok kamu tau istilah Gre?” tanya Reza penasaran

“Iya, dia sendiri yang minta di panggil Gre” kata Dendhi, Reza lalu ber ‘Oh’ria.

Tak lama kemudian, bel rumah Dendhi berbunyi lagi. Reza berjalan turun dan membuka pintu nya

“hai kak.. lho kok kamu Za?” tanya Viny

“Iya, aku lagi main di rumah nya Dendhi” kata Reza

“eh, kalian. Ayo masuk ujar Ve yang lalu mempersilahkan teman-teman Dendhi masuk” ujar Ve

“busettt.. ini kakak nya Dendhi? asli cantik banget” Dhika berkata di dalam hatinya

“ooh iya kak, Dendhi di mana?” tanya Rafles

“dia di kamar nya, Cuma kondisi nya kurang bagus aja” ujar kak Ve tertunduk

“kurang bagus gimana kak?” tanya Lidya

“pokoknya kalian liat sendiri aja” ujar Reza

“jangan bikin penasaran lah Za” ujar Ical

“udah, udah. Daripada kalian debat, mending kita langsung ke kamarnya Dendhi” ujar Viny yang di balas anggukan oleh teman-teman nya

Mereka berjalan ke kamar Dendhi. sedangkan kak Ve terlihat sibuk memasak kan sesuatu untuk adiknya itu

“ya ampun Dendhi” Viny setengah berteriak

“eh… halo rek” sapa Dendhi

“Den, wajahmu kok babak belur? Siapa yang abis mukulin kamu” tanya Rafles geram

“oiii Fles, sabar…” ujar Dendhi berusaha menenangkan teman kecil nya itu

“Fles… fles. Kamu pikir aku ini flash kamera? Panggil Rafles kek, atau Raf” ujar Rafles sebal

“yo… yo…” ujar Dendhi singkat

“aku di keroyok sama lima orang, dari seragam nya itu seragam sekolah kita” kata Dendhi menerangkan

“apa yang ngelakuin ini Gio Den?” tanya Viny

“eh.. kok bisa Gio Vin?” tanya Ilham

“Gio tadi siang cari masalah sama si Dendhi, gue sama Viny udah pergi agak jauh. Gue denger Jordan ngomong, untung adek lu nggak ketahuan sama OSIS pas mindah petunjuk penjelajahan malam. Nah. Dendhi emosi. Terus dia ngebentak Gio” kata Lidya menerangkan

“waaah… gak adik, gak kakak, sama aja. Cari masalah terus. Gak bosen apa mereka?” tanya Dhika yang tersulut emosi, sedangkan Dendhi hanya memukul pelan jidatnya

“kita bikin perhitungan besok ke Gio kalo gitu pas masuk sekolah” ujar Ilham yang tersulut emosinya

“jangan dulu ham, kita nggak ada bukti” kata Viny

“waaaah… kayaknya seru ini obrolan nya.” Ujar Ve yang tiba-tiba memasuki kamar Dendhi sambil membawa nampan yang berisi makanan kesukaan Dendhi dan orange juice

“eh.. kak Ve” ujar mereka kaget.

“makin banyak aja yang dateng. Kakak bikin minuman nya cuman dua” kata Ve terkekeh.

“udah kak, nggak apa-apa kok, kalo kakak maksa, kita cuman mau di kasih air mineral aja, kalo bisa sih yang dingin” ujar Dhika

“Ih.. lu malu-maluin banget sih Dhik” ujar Lidya geram

“udah Lid, gak apa-apa kok” kata Ve tersenyum, lalu ia kembali ke dapur, Ve membuatkan kembali orange juice kepada teman-teman Dendhi. hanya butuh waktu sepuluh menit Ve untuk membuatkan orange juice bagi tamu-tamunya.

“di minum ya” ujar Ve yang masuk kembali ke kamar Dendhi.

“eh, iya kak” kata Reza dan teman-temannya.

 

~oOo~

 

Hari beranjak sore, semua tamu yang ada di rumah Dendhi sudah meninggalkan rumah Dendhi, tak lama kemudian

“aku pulang” ujar seseorang dari depan pintu rumah nya

“iya, masuk aja” ujar Dendhi yang saat itu sedang menonton TV

Seseorang itu masuk ke dalam rumah nya, dia duduk di samping kakak nya yang sedang menonton TV.

“Ya ampun kakak, itu wajah kakak kenapa kok babak belur?” tanya Michelle kaget

“udaah, jangan teriak. Ini udah gak terlalu sakit kok, Kakak abis di keroyok.” Kata Dendhi sambil tersenyum

“kok masih bisa senyum sih kak? Ngomong sama aku, siapa yang ngeroyok kakak” Michelle geram

“mereka semua pake helm, lagian emang kamu berani?” goda Dendhi

“eh.. nggak sih” Michelle lalu tertawa terkekeh.

“aku mau ke taman Blambangan, sekalian mau makan di sana, mau nitip apa?” tanya Dendhi pada adiknya

“hmmmm.. nasi goreng aja deh kak” kata Michelle.

“oke” Dendhi lalu keluar ke Taman Blambangan menggunakan mobil Innova hitam kesayangan nya.

Skip

Dendhi sudah berada di taman Blambangan, ia beranjak mencari tempat duduk, suasana di taman Blambangan sore itu sedikit ramai, mungkin karena sore itu banyak orang yang pulang kantor dan sedang mencari makan di Taman Blambangan yang terkenal karena banyak nya warung-warung PKL dengan rasa yang bisa di bilang enak. Dia akhirnya mendapatkan tempat duduk, ia lalu menempati tempat duduk itu, dan ia mulai menyambungkan headphone Bluetooth ke Hp nya. Ia mulai memejamkan matanya sejenak.

“permisi mas, boleh duduk di sini?” tanya seorang wanita

“ooh.. boleh kok” ujar Dendhi yang lalu bergeser memberikan ruang bagi wanita itu, suasana hening kembali. Dendhi membuka mata nya dan menoleh ke arah wanita itu

“kamu Sofia kan? Murid baru di SMA 4 Banyuwangi?” tanya Dendhi

“iya kok tau?” tanya wanita itu

“iya lah, kita kan sekelas” kata Dendhi

“maaf ya, aku nggak tau, masih belum terlalu kenal sama kelas” kata Sofia terkekeh

“udah kenal siapa aja di kelas?” tanya Dendhi

“hmmm… Cuma Shani doang” kata Sofia

“ini anak anti social kali ya?” ujar Dendhi dalam hati

“ya udah, hari senin ikut aku, aku bakal kenalin sama temen-temenku” kata Dendhi

“iya, nama kamu siapa?” tanya Sofia

“nama ku Dendhi, Dendhi Yoanda” kata Dendhi yang lalu bersalaman dengan Sofia.

“wajah kamu kenapa kok babak belur gitu?” tanya Sofia khawatir

“iya, aku abis di keroyok, tenang aja, ini belum apa-apa kok” balas Dendhi tersenyum

“kamu Asli orang sini ya? Logat jawamu keliatan banget” kata Sofia sedikit tertawa

“iya” kata Dendhi

“wait… wait… wait kamu itu ketua OSIS ya?” tanya Sofia

“hmmm… lebih tepatnya mantan ketua OSIS, aku tadi siang ngundurin diri” kata Dendhi

“lho kenapa kok ngundurin diri? Aku malah pengen masuk OSIS” tanya Sofia

“hmmm… aku nggak bisa mengimbangi antara OSIS sama kegiatan ku di sekolah. Jadi daripada nanti semuanya kacau, mending aku pilih untuk ngundurin diri, kalo kamu mau masuk OSIS, hari senin kamu juga aku anter ke ruang OSIS buat daftar” kata Dendhi

Sofia kembali termenung. ia lalu meneteskan air matanya.

“kamu kenapa?” tanya Dendhi sopan, ia takut membuat mood teman baru nya itu semakin hancur.

“aku baru aja di putusin pacar ku, aku udah coba nahan air mataku supaya nggak jatuh, masih jatuh juga, dia ngomong ke aku, kalo dia rela LDR an sama aku, tapi kenapa dia mutusin aku” kata Sofia, ia lalu menangis.

“udah Sof, jangan nangis, mungkin dia bukan jodoh kamu. Percaya sama aku, Tuhan udah nyiapin jodoh yang terbaik buat kamu” kata Dendhi mencoba menenangkan nya

“makasih Den” ujar Sofia yang lalu memeluk Dendhi. sontak jantung Dendhi berdegup cepat.

“eh, maaf Den, nggak sengaja aku” kata Sofia lalu melepaskan pelukan nya.

“iii…iya sof, kamu udah makan belum? Kalo belum ayo ikut aku cari makan di deket sini, walaupun kaki lima, tapi rasa nya bintang lima” kata Dendhi.

“belum makan aku Den, serius nih nggak ngerepotin?” tanya Sofia memastikan

“nggak Sof, orang aku juga mau cari makan  sebenernya” kata Dendhi, mereka lalu bangkit dari kubur bangkit dari tempat duduk, dan berjalan menuju ke stand PKL, sesampainya di sana, Sofia kebingungan karena saking banyak nya stand PKL yang berjualan di sana.

“aduh.. bingung nih Den, pilihan nya banyak, keliatan nya juga enak-enak ini makanan” kata Sofia.

“mending kita beli nasi goreng atau mie goreng, aku tau tempat yang enak dan harga nya lumayan murah” ajak Dendhi.

Mereka berdua berjalan menuju ke tempat yang di sarankan Dendhi.

“pak sego goreng kalih nggih” kata Dendhi kepada penjual nasi goreng itu

“nggih mas” balas penjual nasi goreng itu

“minumnya apa mbak?” tanya penjual nasi goreng itu

“hmmm… es jeruk aja pak” balas Sofia

“kamu minum nya apa Den?” tanya Sofia

“hmmm… samain aja pak” kata Dendhi

“mas, kok suwe ora tau mangan ning kene?” sapa penjual nasi goreng itu (mas, kok lama nggak pernah makan di sini?)

“iyo pak, lagi sibuk aku” (iya pak, lagi sibuk aku) balas Dendhi menggunakan Bahasa Jawa

“iki sopo mas? Pacare?” tanya penjual nasi goreng itu lagi (ini siapa mas? Pacarnya?)

“ora pak, rencang kulo niki” balas Dendhi (bukan pak, ini temen saya)

Sofia dari tadi hanya melongo saja, karena ia tak mengerti apa yang Dendhi dan penjual nasi goreng itu ucapkan.

“mereka ini ngomong apa sih?” tanya Sofia dalam hati.

Sepuluh menit mereka menunggu, kini pesanan mereka sudah sampai di depan meja.

“bau nya aja udah enak, ini rasanya pasti enak” kata Sofia.

“udah, makan aja. Jangan banyak ngomong, ntar keselek lho” ujar Dendhi

“keselek? Apa itu?” tanya Sofia

“waduh.. iyo rek, wong iki ora iso boso jowo” Dendhi menepuk pelan jidatnya

“nanti tersedak kamu kalo banyak ngomong” kata Dendhi yang kali ini menggunakan Bahasa Indonesia

“ooh, iya Den” kata Sofia

Mereka lalu menikmati pesanan mereka, Sofia diam-diam mencuri pandang ke arah Dendhi. di tengah acara makan itu, Dendhi tiba-tiba teringat sesuatu

*FLASHBACK ON*

“kak, aku nitip nasi goreng ya” kata Michelle

*FLASHBACK OFF*

“pak nambah nasi goreng nya satu porsi, di bungkus” ujar Dendhi kepada penjual nasi goreng itu

“siap mas” ujar penjual nasi goreng itu yang lalu berkutat lagi dengan kompor dan wajan nya.

“itu kamu Den yang makan? Aku aja nggak abis lho” kata Sofia

“nggak, itu bukan buat aku, itu buat adik aku, aku baru aja inget” kata Dendhi terkekeh.

“ooh” balas Sofia singkat.

“mas, sudah selesai pesenan nya” kata penjual nasi goreng itu

“ooh iya pak, semua nya abis berapa?” tanya Dendhi

“dua puluh delapan ribu mas” kata penjual nasi goreng itu

“ini pak uangnya” ujar Dendhi lalu mengeluarkan uang dua puluh ribu dan sepuluh ribu

“kembalian nya dua ribu ya mas, matur nuwun nggih” kata penjual itu.

Dendhi lalu pergi dengan Sofia meninggalkan warung nasi goreng itu

“Den, nasi goreng tadi seporsi berapa?” tanya Sofia

“delapan ribu sof, kalo minum nya tadi dua ribu” kata Dendhi

“eh… murah ya ternyata, kalo di Jakarta seporsi gitu bisa nyampe tiga puluh ribu” kata Sofia

“udah tau keleus mbak” ujar dendhi dalam hati

“ini buat nggantiin uang kamu”kata Sofia sambil mengeluarkan uang pecahan sepuluh ribu

“lha.. ngapain? Nggak usah,. Nggak etis kalo cowok ngajak makan cewek, tapi yang bayar cewek, mending uang kamu itu kamu simpen aja, buat beli sesuatu yang lebih berarti” kata Dendhi

“ma… makasih banyak Den” kata Sofia yang lalu memasukkan kembali uang nya ke dompet.

“rumahmu di mana sof? Sekalian aku anter kamu pulang” tanya Dendhi.

“eh.. jangan Den, ngerepotin kamu nanti” kata Sofia sungkan

“udahlah sof, nggak usah sungkan, ini udah malem lho, gak baik kalo anak cewek pulang malem-malem, lagian angkot udah gak ada” kata Dendhi

“emmmm… ya udah deh” ujar Sofia yang lalu mengikuti Dendhi menuju ke mobil nya

Mobil innova hitam milik Dendhi perlahan meninggalkan taman Blambangan

“oh iya Sof, rumah kamu di mana ya?” tanya Dendhi.

“di jalan anggrek, nomer XX” kata Sofia

“ooh…” balas Dendhi singkat. Sepuluh menit waktu yang mereka tempuh untuk ke rumah Sofia.

“Sof, udah nyampe di rumah kamu nih” kata Dendhi.

“eh… iya Den, makasih ya buat tumpangan nya ya, maaf ngerepotin” kata Sofia tersenyum manis, lalu ia keluar dari mobil Dendhi dan masuk kembali ke dalam rumah nya.

“it’s time to go home” gumam Dendhi

Dendhi lalu pulang menuju ke rumah nya, ia lalu melihat jam tangan nya

“masih jam setengah delapan ternyata” kata Dendhi, ia lalu mengetikkan SMS kepada adiknya

Michelle yang berada di rumah saat itu sedang menonton film Korea mendapatkan notifikasi dari kakak nya itu

“Le, bentar lagi kakak nyampe, standby ya”

Begitulah SMS kakak nya

“ihhh… nyebelin banget sih kakak, ini adegan lagi seru-seru nya” kata Michelle geram, tanpa pikir panjang ia langsung menuju ke depan.

Mobil innova hitam milik kakak nya sudah berada di depan gerbang, dengan malas Michelle membuka kan gerbang dan garasi untuk kakak nya.

“makasih le” ujar kakak nya yang lalu memasukkan mobil nya ke dalam garasi mobil. Tak lama kemudian ia keluar dari mobil nya dan mengunci garasi mobil itu

“kak, pesenan ku nggak lupa kan?” tanya Michelle sambil menyilangkan dada

“iya, ini” kata Dendhi yang lalu memberikan nasi goreng pesanan adiknya itu

“yeeay.. makasih kak” ujar Michelle yang lalu masuk ke dalam rumah nya.

Dendhi bergegas masuk ke dalam kamarnya. Dia lalu menghempaskan badan nya ke tempat tidur.

“dek, Kakak boleh masuk?” sapa seseorang dari balik pintu kamarnya.

“iya kak, masuk aja” balas Dendhi, tak lama kemudian kakak nya masuk ke dalam kamar Dendhi

“dek, kakak boleh tidur di kamar kamu nggak? Kakak nggak berani tidur sendirian, tadi abis diajak nonton film horror sama temen kampus.

“maka nya, kalo nggak berani jangan nonton film nya kak” kata Dendhi meledek kakak nya

“kakak di paksa dek sama temen kakak” ujar Ve mendengus sebal. Sedangkan Dendhi tersenyum

Posisi Ve lalu membelakangi Dendhi. suasana kamar itu hening sekali

“Dek, kakak lagi seneng sama seseorang nih” kata Ve

“Den.. dendhi’ panggil Ve lagi

Ve yang penasaran lalu menoleh ke arah Dendhi, di lihatnya wajah Dendhi yang tengah tertidur pulas.

“ya ampun ini orang ternyata udah tidur, mimpi indah adikku yang banyak makan dan nyebelin” kata Ve lalu mencium kening adiknya.

To Be Continued

 

Author’s Note :

Halo rek, apa kabar? Pasti baik kan? Makasih buat kalian yang baca karya ku ini di blog karyaotakgue.wordpress.com, buat yang kasih komentar dari part satu sampe part ini mungkin, akum au ngucapin “matur nuwun nggih”. Ooh iya, buat kalian, iya kalian, kalian yang lagi baca part ku ini. Bagi kalian yang mau gabung di grup Blacklist Author, bisa add line ku, di grup itu kita bisa sharing-sharing tentang FF JKT48, kolaborasi, dan belajar bikin FF.

Dan juga yang mau ngajak aku kolaborasi secara personal, monggo. Tinggal kontakin entah itu di twitter atau LINE..

Special thanks to KOG. Jangan bosen baca karya ku ya ^_^

ID LINE : dendhi97

@Dendhi_yoanda

 

Iklan

7 tanggapan untuk “Romansa Di Kota Itu, Part15

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s