Iridescent, Part 8

mGue ingat semua kenangan saat kelas dua SMP itu, gue nembak seorang cewek yang enggak gue kenal sama sekali saat hari valentine. Tapi gue malah ditolak di hadapan temen-temen saat itu dan cewek itu adalah Anin …

Kenapa disaat sebagian masalah selesai, malah datang masalah baru didepan? Ini benar-benar gila … Jujur sekarang gue malah sangat emosi menanggapi semua masalah yang terus datang, tapi inilah yang terjadi. Gue menatap wajah Anin dengan tatapan datar.

“Sorry buat yang waktu SMP itu, jujur gue malu karna didepan temen-temen. Tapi kalau dulu elo dulu ungkapin itu semua sendiri, pasti gue terima elo Wil” ucap Anin menjelaskan masa lalu itu.

“Sekarang gue yang gak bisa Nin! Gue udah punya tunangan, namanya Shani” balas gue.

“Uhm, sorry kalau gue…” ucapan Anin terhenti.

“Sorry gue harus balik dulu” ujar gue sambil meninggalkan nya sendiri.

Gue keluar dari toilet dan jalan kembali menuju ke meja tempat berkumpul. Dari jauh gue melihat ada yang hadir lagi dan dia hanya satu-satunya menyusul, dia lah Gracia. Gue menoleh ke arah kerumunan orang yang berdansa, tapi ada sebuah pemandangan kurang menyenangkan didepan mata gue.

Shani??? Apa ini serius? Kenapa ini ….

Sebuah alunan lagu romantis yang terdengar di telinga gue dan mereka kebanyakan sedang berdansa dibagian tengah Cafe, yang membuat gue terdiam sekarang adalah Shani yang berdansa dengan Shanji. Mereka terlihat sangat dekat sekali, pikiran gue udah gak karuan lagi.

Gue gak mengira kalau mereka seperti ini, terlebih lagi Shanji sudah tau kalau Shani adalah tunangan gue. Apa maksudnya? Tiba-tiba ada sebuah panggilan yang terdengar …

“Wil”

“Wil”

“Hey, kenapa melamun sih?”

Gue kaget dengan panggilan-panggilan barusan, gue menengok ke sumber suara. Ternyata Gracia yang memanggil, dia duduk di samping Gaby dan disana juga ada Kelik. Gue pun menghampiri mereka bertiga, kemudian duduk didekat Gracia.

“Gapapa kok. Btw elo kapan datangnya Gre?” tanya gue mengalihkan topik.

“Dari rumah lah … Oh ya, Ini Shani mana? Biasanya kalian nempel mulu” tanya Gracia.

“Oh kalau soal itu …” entah kenapa, gue gak bisa melanjutkan ucapan gue barusan.

Gue lalu menoleh ke arah kerumunan yang tengah berdansa, dan diikuti mereka bertiga, janggal iya, aneh juga iya. Tunangan nya Cuma bisa lihat dari jauh aja. *Nasib

“Eh, gue malah baru sadar kalau mereka berdua dansa” ujar Kelik.

“Udah lah kalian berdua kan udah tunangan, saling percaya satu sama lain aja. Jangan negatif thinking dulu” ucap Gaby memberi nasehat.

“Kalau sampai mesra kayak gitu, siapa yang gak cemburu Gab” balas gue sambil berdiri.

“Hey slow dong, Wil. Mungkin Gaby ada bener nya juga” ujar Gracia.

“Terserah lah, biar aja mereka mesra-mesraan” ucap gue jengkel.

“Kelik, ini kunci mobil. Gue mau pulang duluan” ucap gue sambil memberikan kunci.

“Loh, kok malah pulang Wil? Kan acara nya baru aja mulai, terus lo pulang naik apa?” tanya Kelik heran.

“Gue jalan kaki” jawab gue ketus dan meninggalkan mereka bertiga.

Gue sempat melihat ke arah Shani dan Shanji, tapi mereka terlalu sibuk sendiri. Biarlah! Gue lalu lanjut jalan keluar dari Cafe.

Mungkin ini Cuma membawa masalah baru. Tapi jujur gue sangat gak suka lihat Shanji deketin tunangan gue, Shani. Tapi seharusnya Shanji juga harus punya attitude! Udah tau Shani tunangan gue, pakai acara dansa berdua segala.

Malam ini gue gak bakal pulang ke rumah, rasa marah ini membuat gue malas untuk bertatap muka dengan Shani.

_ _ _ _

 

Gue terus berjalan menyusuri jalan yang masih basah, mungkin belum lama hujan mengguyur daerah ini. Entah seberapa jauh gue berjalan kaki, yang jelas ini sudah sangat jauh. Sebenarnya rasa capek dan haus sekarang mulai gue rasakan sekarang. Tapi di sekitar sini hanya ada pepohonan saja, mungkin masih jauh kalau mau cari minimarket.

Gue kini melewati jalan yang masih basah, mungkin aja belum lama hujan mengguyur daerah ini, tapi sekarang gue bingung mau menuju kemana.

Capek!!! Gue udah gak kuat lagi jalan kaki, lebih baik istirahat dulu deh. Daripada mati dipinggir jalan gara-gara kecapean, kan gak epic gitu mati nya. Mati yang epic harusnya kayak di sinetron-sinetron, misalnya kanker otak stadium akhir, ketabrak mobil atau apalah. *abaikan

Gue duduk diatas trotoar, kotor dikit gapapa yang penting bisa istirahat. Saat baru enak-enaknya duduk, tiba-tiba ada sebuah mobil berhenti tepat didekat gue.

“Siapa ya? Jangan-jangan Satpol pp, tapi gak mungkin juga. Masa Satpol pp bawa mobil sebagus ini” batin gue.

Kemudian ada seorang cewek cantik keluar dari mobil itu, lalu dia berjalan mendekati gue dan jongkok di depan gue.

“Hei, kok bisa ada disini sendirian sih? Ini udah malem loh, anak kecil kayak kamu kok jalan-jalan di tempat sepi kayak gini. Mama kamu dimana? Atau kamu diusir yah …” ucap cewek itu.

Gue Cuma bisa pasang muka segaris, waktu dia bilang gue anak kecil. -_-

Oke mungkin wajah gue emang masih lucu dan imut-imut kayak anak kecil, tapi gue udah besar. *plak *bakarauthor

Abaikan yang barusan terjadi, harap maklum. :v

“Kok diem aja sih? Jawab dong pertanyaan kakak” tanya cewek itu.

“Sorry Kak, gue bukan anak kecil. Gini-gini gue udah kelas sebelas” jawab gue.

“Hihihi sorry, ternyata beda setahun doang. Tadi, gue kirain anak kecil hilang. Jadinya gue khawatir kalau lo kenapa-napa” ujar cewek itu.

“Ternyata Cuma terpaut setahun -_-“ balas gue.

“Oh ya, kenalin nama gue Chikita Ravenska Mamesah. Panggil aja Chika” ucap gadis bernama Chika sambil mengulurkan tangannya.

“Nama gue Willy Debiean, panggil aja Willy” ucap gue menjabat tangannya.

“Btw lo kok bisa disini?” tanya Chika penasaran.

“Sebenernya …”

Gue pun cerita semuanya pada Chika tentang masalah Shani dan Shanji di Cafe tadi, dia hanya jadi pendengar saja. Sekarang sedikit perasaan gue lega, karena semua keluh kesah ini bisa dikeluarkan.

“Jadi sahabat lama elo dansa sama tunangan lo … Hmm, gue gak berhak nge-judge apapun ke mereka. Tapi gue tau gimana perasaan lo sekarang” ucap Chika mengelus pundak gue.

Gue tersenyum kearah Chika, kalau dilihat lebih dekat ternyata manis juga orangnya.

“Terus elo mau kemana sekarang?” tanya Chika.

“Gue nggak tau, sekarang gue Cuma mau menghindar buat sementara, gue butuh waktu untuk tenangin perasaan gue” jawab gue tertunduk.

“Gimana kalau elo tinggal dirumah gue? Disana gue Cuma tinggal sama pembantu dan satpam doang kok” ucap Chika.

“Terus orang tua elo?” tanya gue spontan.

“Gapapa kok, nanti gue bilang ke Mama gue juga” balas Chika.

“Yaudah yuk masuk ke mobil, kita pulang ke rumah gue” ucap Chika.

“Ah, iya-iya” balas gue sedikit kaget.

Kami berdua masuk ke dalam mobil dan Chika mulai melajukan mobil menuju ke rumahnya. Selama perjalanan gue dan Chika hanya mengobrol satu sama lain, hanya sekedar obrolan ringan aja.

Tak lama … Kami memasuki sebuah pekarangan rumah yang luas dan rumahnya lumayan besar, gak disangka rumahnya Chika suasananya nyaman dan semegah ini.

Chika memberhentikan mobil didekat rumahnya, lalu menoleh kearah gue.

“Masuk sekarang yuk, ntar kita ketemu Mama gue dulu” ajak Chika.

“Oh, oke” balas gue.

Kami berdua keluar dari mobil dan jalan menuju ke pintu masuk rumah. Tapi hanya Chika aja, sedangkan gue Cuma diem dideket mobil.

“Loh, kok diem di situ sih? Ayo masuk” ucap Chika.

5 detik

10 detik

15 detik

Gue masih diam sambil melongo doang, bukan masalah apa-apa, Cuma gue baru sadar kalau Chika itu lebih keliatan cantik kalau ditempat terang. *apaansih

Chika menghampiri gue lagi dan langsung menarik tangan gue untuk mengikuti nya, keliatan mesra yaa …. >,<

“Lo itu kalau diajak ngomong jawab dong, bukan nya malah bengong” omel Chika.

“Sorry deh abis baru sadar kalau Chika cantiknya keliatan pas ditempat terang” ujar gue sambil nyengir.

“Ihhh itu ngeledek apa mau ngegombal?” tanya Chika sambil tertawa.

“Lebih ke ngegombalnya sih :v” jawab gue ikut tertawa.

Saat sampai didepan pintu Chika lalu menekan bel rumahnya, apa gak ganggu ya. Tak lama pintu rumah terbuka dan ada wanita seumuran Mama gue, mungkin dia Mama nya Chika.

“Anak Mama baru pulang, eh ini siapa? Pacar nya Chika ya?” tanya Mama nya Chika.

Lalu tiba-tiba …

Ckittttt

“Aduhhh, kok di cubit sih?” tanya gue sambil mengelus bekas cubitan Chika barusan.

Sedangkan Chika hanya melotot kearah gue, maksudnya apaan? Bingung gue :v …

“Gak usah malu-malu sayang, bilang aja kalau cowok ini pacar kamu” ujar Mama Chika ke anaknya itu.

“Gini Ma, sebenernya dia itu … Ehmm aku nemu dia dipinggir jalan, aku pikir dia butuh bantuan. Bahkan aku baru aja kenal. Kasian kan kalau dia gak aku tolong” ucap Chika menjelaskan sedetail mungkin.

“Sial emang gue barang, pakai dikatain nemu???” batin gue.

Mama nya lalu menghela nafas panjang, terlihat ada kekecewaan di raut wajahnya. Ada apa ya, kok Mama nya malah sedih gitu.

“Yaudah diajak masuk dulu aja, ada yang mau Mama bicarakan sama kamu Chika” ucap Mamanya Chika.

“Makasih ya Tante” ucap gue.

“Sama-sama” balas Mama Chika sambil tersenyum.

Mamanya Chika masuk ke dalam rumah lebih dulu dan Chika sendiri menggandeng gue ke dalam. Lalu kami duduk di ruang tamu dan tentu nya gue juga dipersilahkan duduk, karna kasian. *abaikan

“Kamu anter temen kamu masuk ke kamar tamu dulu” perintah Mamanya Chika.

“Iya Ma” jawab Chika.

Chika lalu berdiri dan jalan lebih dulu, sedangkan gue mengekor dibelakang nya. Kami naik ke lantai atas, lalu sesampainya disana kami berhenti didepan pintu kamar tamu yang dimaksud.

“Gue minta maaf ya, kalau bikin elo repot?” ucap gue.

“Udah gapapa kok, lagian gue ikhlas bantu nya” balas Chika memegang pundak gue.

“Oh iya soal gue cubit elo tadi itu, buat jawab pertanyaan nyokap tadi. Eh malah elo Cuma diem” tambah Chika.

“Thanks ya mau pungut gue dari pinggir jalan” ucap gue sambil memeluk Chika.

“Eh eh eh, ini kok pakai acara peluk gue segala. Mau modus ya? Hahahaha” celetuk Chika.

Gue hanya diam dan terus memeluk Chika, punggung gue terasa  olehnya. *menangbanyak

“Udah ya pelukin gue nya nanti lagi” celetuk Chika.

“Eh sorry …” gue reflek melepas pelukan.

“Gue turun dulu ya, kalau butuh apapun bilang aja. Kamar gue sama kamar tamu kan sebelahan” ujar Chika sambil menunjuk pintu kamarnya.

“Iya Chika” balas gue tersenyum.

Lalu dia berjalan meninggalkan gue dan gue sendiri langsung masuk ke dalam kamar tamu, untuk istirahat. Di dalam kamar gue melongo karena ini termasuk kamar yang mewah, semua fasilitas ada, bahkan ada lemari es kecil. Pantes aja tadi disuruh langsung ke kamar dan gak disuguhi minun dulu, ternyata tinggal ambil doang. Fasilitas tingkat dewa ^_^

Gue Cuma minum air putih doang dan langsung berbaring dikasur. Gue lalu merogoh hp disaku dan mengecek nya, ternyata banyak notif dari Shani, Gaby, Gracia dan Kelik. Jumlahnya banyak banget dan ada juga notif miss call dari Shani juga.

Gue membuka chat dari mereka semua, kebanyakan hanya tanya. Kemudian gue membuka chat dari Shani …

Shani : Sayang kamu dimana? Aku minta maaf soal yang kamu lihat aku dansa sama Shanji. Please bales dong …

Shani : Please sayang, bales pesan ini. Aku bener-bener minta maaf sama kamu.

Oke berhenti lah alay, mungkin gue juga berlebihan. Tapi jujur gue cemburu melihat mereka berdua mesra kayak tadi … Kemudian gue mengetikkan pesan untuk balasan chat Shani.

Gue : Maaf Shan bikin kamu khawatir, aku Cuma butuh waktu buat tenangin pikiran ku. Jangan merasa bersalah juga, mungkin aku aja yang egois. Maaf J

Karna memang sudah sangat lelah, gue langsung memejamkan mata dan masuk ke dunia mimpi.

_ _ _ _

 

“Sayang ….”

“Sayang ….”

samar-samar gue mendengar suara yang selalu gue dengar saat bangun tidur. Perlahan gue membuka mata … Alangkah kagetnya ketika gue benar-benar sadar.

“Shani …?” ucap gue kaget.

Dia langsung memeluk gue dengan erat, wajahnya dia benamkan ke dada gue. *cieeee :v

Hiks hiks hiks

Shani menangis dipelukkan gue, tapi gue masih bingung kenapa Shani tau gue ada disini.

“Kamu kok tau sih aku ada disini?” tanya gue heran.

“Hiks hiks, siapa suruh kamu kesini” jawab Shani.

Ealah kok jawaban nya gak masuk akal sih? Jadi bingung nih gue. Lalu tiba-tiba ada Chika, Gaby, Kelik dan Gracia masuk.

“Kalau mau minta tempat persembunyian itu yang aman dong” celetuk Gracia.

“Eh? Maksudnya apaan, Gre?” tanya gue heran.

“Gak perlu gue jelasin, intinya lo minta tolong ke orang yang salah. Kak Chika itu sepupu gue, semalam gue mampir kesini dan dia sempat cerita banyak kalau dia habis mungut cowok dari pinggir jalan. Dan gue minta dilihatin siapa cowok itu, dan waktu lihat ke kamar tamu, ternyata cowok itu elo. Yaudah gue langsung laporan sama Gaby” jawab Gracia detail banget.

“Udahlah … Lagian kalian berdua itu udah tunangan, jangan saling nyakitin satu sama lain. Gak baik …” ucap Gaby.

“Kalian seharusnya itu saling percaya aja, jangan ikutin emosi kalian” timpal Chika.

Aduh sekarang gue juga merasa bersalah sama mereka, gara-gara gue mereka sampai kerepotan. Apalagi Shani, dia sampai nangis terus.

“Maafin aku Shan, udah bikin kamu khawatir. Jujur aku cemburu kalau lihat kamu sama cowok lain” ucap gue sambil mengelus punggung Shani, walau sedikit terganjal sesuatu. :v

“Gapapa, aku juga minta maaf soal itu …” balas Shani masih sesenggukan.

“Udah clear kan masalah kalian berdua?” tanya Kelik coba meyakinkan.

“Iya … Semua udah clear kok, sama kayak merk shampo nya mengatasi ketombe dan kulit kepala gatal” jawab gue polos.

“Oke …” sahut Kelik.

Sedangkan Gaby, Gracia dan Chika hanya pasang muka segaris karena melihat kebodohan gue dan Kelik. -_-

Harap maklum …

Akhirnya tanpa mandi dulu, gue, Shani dan yang lain pamit untuk pulang. Kami sudah didalam mobil, parahnya gue yang jadi sopir lagi. Emang nasib gue kali ya??? -_-

“Tante, makasih banyak buat ijinin aku nginep disini dan maaf merepotkan” ucap gue.

“Ah gausah dipikirin, besok lagi kalau mau kabur kesini aja. Pintu terbuka 24 jam kok” balas Mamanya Chika.

“Bhahahahahaha”, semuanya tertawa mendengar ucapan Mamanya Chika, termasuk Chika nya juga. Huh pada jahat amat sih dari cowok ganteng dan imut ini. *plak *abaikan

“Chika makasih juga mau pungut gue dari pinggir jalan” ujar gue.

“Iya… Jangan sering-sering kabur ya” celetuk Chika. :v

“Iya dah ….” balas gue. -_-

Gue pun melajukan mobil meninggalkan kediaman Chika, kami semua melambaikan tangan ke Chika dan Mamanya. Kami pun meninggalkan daerah ini …

Saat diperjalanan gue Cuma bisa menerima omelan super duper bawel dari Gaby, sedangkan yang lain bukannya bantuin malah ngetawain aja. Tapi berbeda dengan Shani, dia lebih banyak diam dan menarik-narik kaos yang gue pakai. Kayak anak kecil minta permen aja. :v

1 jam perjalanan kami tempuh untuk sampai ke rumah, dan sekarang akhirnya sampai juga. Gue memarkirkan mobil di depan garasi aja dulu, biar nanti dimasukkin sama Bi Ijah. *emangbisa *abaikan

Di depan rumah berdiri ibu-ibu, maksud gue para Mama dari kami semua. Kami lalu keluar dari mobil dan menghampiri mereka.

“Eh anak-anak udah pada pulang, gimana tadi? Gampang kan negosiasi sama anak ngambekan?” tanya Mama gue.

Hadeeeh, ini pasti yang dimaksud itu adalah gue.

“Gampang banget Tante, cukup Shani nangis aja. Udah langsung luluh” jawab Gracia.

“Oh ya nak, Mama kejutan buat kamu” ujar Mama.

“Wah … Apaan ya kira-kira?” ucap gue penasaran.

Tiba-tiba ada yang menepuk gue dari belakang, dan ternyata ….

“Kakak???” ucap gue kaget, karena didepan gue berdiri orang yang sangat gue rindukan.

“Dek ….”

Kami berdua langsung berpelukan, lama sekali gak bertemu kakak gue, sejak tinggal bareng Gaby dan Tante di Jakarta.

“Kangen Kak …” ucap gue dan lama kelamaan air mata gue mengalir deras. *momenharu

Semuanya yang berkumpul tersenyum melihat keakraban kakak-beradik seperti gue dan Kakak tercinta.

“Yah … Kok malah nangis sih, adik Kakak yang satu ini. Udah, gak usah nangis dong . Cup cup cup …” ujar Kakak gue sambil menepuk punggung gue.

“Kakak kok gak kasih kabar sih kalau mau datang” tanya gue masih nangis.

“Kemarin udah kabarin Mama dan waktu mau ngobrol sama kamu. Eh Mama bilang kamu baru kabur” jelas Kakak gue.

“Kamu itu udah gede, harusnya kamu udah jauh lebih dewasa daripada dulu waktu masih satu rumah sama Kakak. Kamu juga udah ngelangkahin Kakak loh, kamu malah udah tunangan. Kakak aja belum” ucap Kakak sambil mengusap pipi gue.

“Belajar lah jadi lebih dewasa, walaupun itu Cuma sedikit” ucap Kakak menasehati gue.

“Iya Kak Elaine …” jawab gue sambil tersenyum.

“Nah, itu baru adik Kakak” ujar Kak Elaine.

Selama ini memang dia yang selalu mengajarkan banyak hal yang dia ketahui ke gue. Banyak pelajaran dari nya yang gue ambil, pelajaran yang sangat berharga bagi gue pribadi. Dialah yang selalu memberi motivasi ke gue, Kak Elaine. Kakak terbaik buat gue. ^_^

“Yaudah yuk mending kita masuk sambil ngerayain Willy pulang dan juga kedatangan Elaine” ujar Mamanya Kelik dan Gracia.

“Ide bagus tuh Tan” balas Gaby.

Mereka mulai masuk lebih dulu, lalu gue langsung melirik Kak Elaine dan Shani. Langsung kuraih tangan mereka berdua dan gue gandeng dua wanita yang punya arti khusus dihati gue.

Mereka berdua yang membuat gue merasa jadi pria paling beruntung di dunia. Terima kasih telah mewarnai hidup ini J

 

To Be Continued ….

 

 

Created By : Willy Debiean

 

 

 

Note :

Sorry buat part 8 ini lebih pendek dari kemarin karena sempet berhenti nulis hari Sabtu dan Minggu, karena author masih dalam kondisi masih berkabung setelah mendengar berita dari jagoan author yang telah tiada. L

LS

Rest In Peace Luis Salom ( 07 AUG 1991 – 03 JUNE 2016)

Always miss you … Always In our Hearts

#LS39ALWAYS #Mexicano39

 

Maaf kalau bagi kalian ini Cuma sampah … 😦

Dipart berikutnya bakal diusahakan semaksimal mungkin dan bakal dibuat panjang lagi … Masukkan dan kritik sangat membantu J

Thanks udah mampir buat baca dan jangan lupa baca ff karya kami di Blog tercinta KOG

^_^

Kritik & Saran :

Twitter : @wi_debiean92

Id Line : wi_debiean92

E-mail : willydebiean@yahoo.com

Iklan

13 tanggapan untuk “Iridescent, Part 8

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s