“Hitam Putihnya Panda : Sinka” Part 7

Sudah dari siang tadi Yupi terlihat pucat, hingga malam ini dia tidak sadarkan diri. Aku terus saja menangis sambil memeluknya erat, aku takut jika Yupi kenapa-napa ditambah kami hanya berdua di tengah hutan saat matahari sudah terbenam, aku tidak tahu harus berbuat apa lagi, aku terus menangis dan memeluk tubuhnya yang terlentang tak sadarkan diri.

“Tolong! Tolong!” hanya itu yang bisa aku lakukan sekarang, berharap ada seseorang berhasil menemukan kami.

“Sinka.”

Aku mendengar seseorang memanggilku, kemudian tubuhku aku tegakkan untuk melihat asal suaranya. Dia.. dia datang menghapiriku, aku pun bangkit dan berlari kearahnya, “Rizal.” Dengan erat aku memeluknya sambil menangis di pelukannya. Kurasakan jika tubuhku dia peluk erat juga, bahkan kepalaku dia elus dengan tangan kirinya.

“Aku menemukanmu, semuanya akan baik-baik aja.” Ucapnya.

“Aku sudah menemukanmu.” Tambahnya.

Aku terus saja menangis bahagia tanpa melepaskan tubuhnya yang ku peluk erat hingga beberapa detik lamanya, “Kamu terluka?” tanyanya sambil melepaskan pelukan dan kedua tangannya memegang kedua pipiku yang basah karena air mata.

Hampir lupa, aku tidak terluka tapi Yupi, dengan cepat aku menarik tangannya untuk ikut denganku menghampiri Yupi yang tergeletak bagitu saja. Aku sejenak melihat Rizal mengeluarkan baterai senter, alumunium dan sedikit kapas ditambah daun kering serta ranting pohon, beberapa detik dia melakukan hal yang tidak aku mengerti hingga tanpa diduga sebuah api muncul dari  tumpukan daun dan ranting, entah apa yang Rizal lakukan tapi itu sangan membantu.

“Rizal, cepatlah.”

Rizal lalu duduk memeriksa Yupi, mulai dari lehernya, suhu tubuh di keningnya, pergelangan kedua kaki, tangan kanan dan tangan kiri, lalu aku melihat apa yang Rizal lihat. Tangan kiri bagian dalam Yupi memerah, aku baru ingat ketika kami bermain saat lomba siang tadi Yupi mengeluh karena ada sesuatu yang menggigitnya, aku tidak memikirkan terlalu jauh karena itu hanya luka kecil.

“Apa yang harus kita lakukan? Aku gak tau apa yang menggigitnya.” Ucapku sambil menangis.

Rizal pun terlihat bingung, dia kemudian duduk terjatuh sambil hanya menatap Yupi, “Apa yang harus kita lakukan Rizal? Bagaimana kita menolongnya? Pikirkan… huh?” Aku menangis sambil mengganggam tangan kanan Rizal, tatap saja dia hanya diam. “Apa yang harus kita lakukan?” tambahku.

Disaat seperti ini Rizal terdiam, dia hanya duduk sambil menatap wajahku saja, saat aku ikut terdiam sambil menatap wajahnya barulah dia berbicara, “Aku nggak tau.”

“Bagaimana mungkin kamu gak tau? Apa yang tidak kamu tau? Rizal pikirkan! Apa dia akan bangun? Nggak bisa kayak gini, cobalah untuk berpikir Rizal, aku tahu kamu jenius! Rizal! Pikirkan!”

Rizal hanya diam walau aku tahu wajahnya menggambarkan jika dia pun panik tapi dia menutupinya dengan hampir sempurna, aku malah yang tidak tahu apa-apa merasa sangat bingung, aku pun memukul-mukul pelan pundak Rizal.

“Siapa itu?” teriak Rizal sambil dia menoleh ke arah kiri kami.

“Aku tanya siapa itu?” teriak Rizal yang kemudian dia berdiri.

Apalagi sekarang? Aku berdoa agar itu bukan sesuatu yang berbahaya. Tidak lama setelah Rizal berteriak seorang pria paruh baya menghampiri kami, “Malam hari di tengah hutan, kamu tidak boleh terlalu berisik.” Ucapnya.

Kami bertiga pun dibawa pergi ke sebuah gubuk tua di tengah hutan, gubuk itu terlihat rapih dan dihiasi dengan berbagai bahab-bahan herbal.

“Tidak, kepalanya disana.” Ucap paman itu saat Rizal hendak menurunkan Yupi dari gendongannya.

“Ambil ini untuk menurunkan suhu tubuh temanmu.” Tambahnya.

“Aku?” balasku.

“Iya.”

Dengan cepat aku menghampirinya dan menerima baskom berisikan dedaunan, aku panik apa yang harus aku lakukan dengan itu, sedangkan Rizal, dia diminta oleh paman untuk membantunya meracik obat, “Buat api yang besar sampai airnya mendidih dan biarkan selama 10 menit kemudian kecilkan apinya.” Perintah paman itu ke Rizal.

Aku melihat Rizal mengipasi perapian kompor, sedangkan aku membawa baskom ke sebelah Yupi, “Ini dia! Laba-laba!” ucapnya sesaat setelah memeriksa tangan kiri Yupi.

“Laba-laba?” tanyaku.

“Bagaimana gejala temanmu?”

Aku kembali harus mengingat kejadian dari tadi siang saat Yupi mengeluhkannya kepadaku, “Awalnya dia sangat lemas dan kemudian dia bilang haus dan terkadang dia merasa dingin, terkadang dia merasa panas.” Paman itu pun sambil mendengar ucapanku dia mengambil beberapa obat herbal dan menaruhnya di mangkuk kayu.

“Anak muda! Ini.” Ucap paman itu memberikan mangkuknya ke Rizal.

Aku melihat Rizal yang sedikit bingung dengan mangkuk itu, saat dia mau memasukan ramuannya ternyata paman dengan cepat memberi tahu bahwa salah kompor.

“Cepatlah! Ini, tumbuk ini sampai halus dan tiup juga apinya.” Ucap paman.

Tanpa berpikir panjang Rizal langsung melakukannya, aku hanya bisa melihat dia dari sebelah Yupi. Hingga paman itu masuk ke dalam rumahnya.

“Rizal! Siapa paman itu?” tanyaku.

Rizal seperti biasa tidak memusingkannya dan hanya menumbuk sambil terus mengipasi perapian secara bersamaan, sedangkan aku mengelap tubuh Yupi dengan handuk basah.

“Udah selesai, anak muda tiup itu.” Ucap paman kembali menghampiri Rizal.

“Apa kamu sudah menghaluskannya?”

Paman memeriksa hasil tumbukan Rizal dan tumbukan itu kini diberikan kepadaku, “Kamu gosok ke atas ke arah jantung, jangan gosok ke bawah, oke?” Aku hanya mengangguk saat diperintahkan oleh paman itu.

“Sampai panasnya turun, hati-hati jangan mengangkat tumbuhannya dari luka.”

“Ya.” Balasku.

Aku sejenak melihat Rizal dan begitu sebaliknya, “Anak muda, letakkan pot tanaman herbal di dekat kepalanya, cepatlah!” Rizal terlihat sangat sibuk mengikuti semua intruksi dari paman untung saja dia melakukannya dengan sigap, “Dan juga masukan beberapa tumbuhan ke dalam pot.” Rizal berjalan mendekati toples yang berisikan amplop coklat di dalamnya dengan cepat dia mengambil dan mencampurkannya ke dalam pot.

“Gadis muda, apa kamu punya jam?” tanyanya.

“Ya aku punya.”

“Berikan temanmu obat setiap satu jam sampai demamnya turun.”

Aku kemudian diberikan mangkuk panas berisikan minuman obat herbal, untuk sekarang aku dan Rizal hanya bisa percaya kepada tuhan dan mengikuti setiap perintah dari paman ini.

“Anak muda kemarilah.” Kini Rizal di posisiku sedangkan aku duduk di sisi lain Yupi untuk meberikannya obat, “Tekan dibagian lukanya, jangan sampai berselisih.” Rizal lalu menekan luka Yupi dengan obat herbal, lalu aku kembali pindah duduk dan kini bersebelahan dengan Rizal.

“Jika kamu lapar, makanlah ini.” Ucap paman kembali dengan sepiring kue ditangannya, piring itu pun disimpan di samping kiriku.

“Paman, terima kasih.” Ucapku.

Paman itu hanya diam dan kemudian masuk kembali ke dalam rumah, “Paman! Paman mau kemana?” tanyaku.

“Aku akan tidur.”

Huh? Tidur? Aku hanya heran menatap kepergiannya, sekarang tinggal ada aku dan Rizal untuk merawat Yupi. Tangan Rizal terus saja menahan luka sedangkan aku mulai menyerah, aku benar-benar lelah, “Kita… bisakah kita berhenti menggosok Yupi sebentar?” tanyaku.

“Kenapa?” balas Rizal menatapku heran.

Aku sedikit malu mengatakannya dan kemudian aku hanya diam sambil menoleh ke arah piring melihat makanan yang tersedia, setelah itu aku kembali menatap Rizal. Siapa sangka sambil tangan kiri Rizal menahan luka, tangan kanannya melewati depanku untuk mengambil kue yang terletak di sebelah kiri, kue itu pun di sodorkan mendekati mulutku.

“Huh?” ucapku canggung.

Rizal lalu memakan sedikit bagian kue dari yang dia ambil tadi, setelah digigit kemudian kue itu di dekatkan lagi ke mulutku, entah kenapa barulah aku membuka mulutku dan mengigitnya juga. Selagi kedua tanganku mengosok tangan kiri Yupi, tangan Rizal yang memegang gue menyuapiku sembari dia makan kue yang sama. Aku menggigit lagi dan dia mengigit kue itu juga, sampai pada kue itu berukuran sedang dan disiapkan  untuk aku makan, aku menggigitnya sedikit agar Rizal kebagian juga, tapi dia memaksaku untuk makan semuanya sampai mulutku yang belum siap malah manyun karena kue itu. Rizal tertawa kecil melihatku, tawanya membuatku senang karena tawa itu murni dan tidak dibuat-buat, begitu lepas, aku pun ikut tersenyum karena melihat tawa kecilnya.

Malam semakin larut, aku sekuat tenaga terus menggosok tangan Yupi dengan kesadaranku yang hampir hilang, aku berharap agar bisa tertidur sambil terus menggosok, ya sepertinya aku tertidur. Saat pagi hari kami meninggalkan gubuk paman itu, keadaan Yupi membaik dan dia digendong oleh Rizal menuju tenda osisi dan guru.

“Rizal…. Sinka….!” teriak kak Ve.

Kak Ve langsung memeluk kami bertiga sekaligus, “Yupi harus ke dokter secepatnya.” Pinta Rizal.

“Aku baik-baik aja, tidak ada yang salah dengan aku.” Ucap Yupi.

Memang benar sekarang wajah Yupi sudah kembali segar, aku sangat senang melihatnya. Rizal dengan cepat pergi ke dapur dan tidak kembali dalam beberapa menit, tapi saat dia kembali, Rizal membawa sebuah mangkuk berisikan obat yang sama seperti semalam kemudian diberikannya kepada Yupi.

“Sinka! Sinka! Kemana kamu menghilang? Dimana kamu terluka? Apa kamu lapar? Huh?” ucap kak Yoga yang tiba-tiba datang. Tidak lama kak Melody, guru, pengurus osis lainnya datang menghampiri kami, mereka begitu senang melihat kami kembali dengan selamat.

“Yupi hampir meninggal.” Balasku.

“Yupi apa yang terjadi sama kamu?” tanya kak Melody.

“Paman dokter bilang ke kami kalo Yupi digigit laba-laba.” Jawabku.

“Paman yang mana?”

Saat aku mau menjelaskan lanjutannya, Rizal mengambil alih semua jawabanku, dan pada saat itu juga kami tahu bahwa di pedesaan itu tinggal seorang dokter herbal. Kelegaanku tidak selamanya terasa, wajah kak Melody seketika berubah menyeramkan sepertinya aku akan kena hukum darinya apalagi masalahku melibatkan adiknya ikut menghilang semalam.

Aku bersantai di dalam tenda sambil memikirkan tentang kejadian semalam, tidak disangka aku mendapat momen berharga seperti itu, sampai-sampai aku tidak hentinya tertawa saat sedang melamun. Saat sedang asik melamun tiba-tiba Yupi, Nabilah dan Acha mendekatiku, wajah mereka terlihat begitu sangat serius.

“Sinka, apakah seseorang menciummu?” tanya Yupi.

“Arrrr …” balasku.

“Lihat! Kamu ‘arrr’ berarti iya” sambung Nabilah.

“Arr arr aku haus.”

Entah kenapa mereka bersikap aneh, lebih baik aku keluar tenda agar tidak disidang seperti ini. Sesaat ingin pergi, dengan kompak mereka menahan tubuhku, aku benar-benar tidak bisa lolos.

“Seseorang menciummu kan? Aku melihatnya.” Ucap Yupi.

Itu tidak mungkin karena aku belum pernah dicium apalagi ciuman, beberapa kali pun aku berpikir aku tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan, “Kapan?” tanyaku menantang.

“Tunggu, itu bukan intinya. Intinya bagaimana dan dengan siapa.” Balas Acha.

“Arrr…..”

“Sinka, apakah Rizal mencium kamu tadi malam?” tanya Yupi tegas.

Huh? Tadi malam? Tidak mungkin, “Tadi malam nggak, dia gak menciumku. Yupi, kamu hanya sakit dan berimajinasi, gak masuk akal.”

“Sinka, aku serius, semalam aku sempat sadar dan liat kamu nyender di pundak Rizal, nah saat itu juga Rizal nyium kamu.” Ucap Yupi.

Huh benar kata Rizal jika Yupi harus segera dibawa ke rumah sakit, sepertinya dia masih mendapat gangguan atas racun laba-labanya. Aku dengan santai keluar tenda, sudah jelas jika Yupi berhalusinasi dan lebih baik aku bersiap. Berhubung hari ini adalah hari terakhir acara malam bersama membuat kami begitu sibuk membereskan bawaan, dan lusa kami akan memulai kembali pembelajaran di sekolah.

 

 

*To Be Continued ………

Twitter : https://twitter.com/BeaterID

Iklan

2 tanggapan untuk ““Hitam Putihnya Panda : Sinka” Part 7

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s