Sebuah Cinta dan Kenangan, (Last Part)

“Mungkin pencipta lagu ini yang kamu tau hanya satu orang kan ?” Ucap X.

“Ini lagu yang ciptain dua orang. Satu orang lainnya itu adalah gue”

X meletakan gitarnya dan mulai memegang topengnya bersiap untuk membuka. Memperlihatkan wajah asli dibalik topengnya yang ia gunakan selama ini guna menyembunyikan identitasnya dari hadapan Shani dan Gracia.

“Eh ?!”

“Kakak….”

Kaget Shani dan Gracia saat mengetahui siapa wajah dibalik topeng tersebut.

“Kenapa gue lakuin ini ? Karna Erza selalu dapet apa yang bisa buat gue iri. Gue dari dulu suka sama lu, shani dan Erza juga ternyata suka sama lu, gue milih buat ngalah. Gue mulai suka sama Gracia dan Erza juga mulai rebut lagi orang yang gue sayang. Dengan kaya gini Erza ga bisa milikin kalian berdua dan gue juga tau, gue ga bisa milikin kalian juga”

“Tapi kakak salah paham antara aku sama kak Erza” Ucap Gracia.

“Salah paham ? Gue tau lu suka sama Erza kan ? Gue kenal Erza juga udah lama, lu pasti juga udah tau itu gre”

“Terakhir yang bikin gue makin pengen habisin Erza. Saat gue liat lu (nunjuk Gracia) bareng sama Erza ditaman belakang sekolah. Kalian keliatan mesra. Gue tau karna gue liat kalian. Sejak hari itu niat gue buat habisin Erza sama hancurin hubungan kalian semakin kuat”

“Dan tujuan lain gue culik kalian disini selain buat jauhin dari Erza. Gue juga mau jadiin kalian sebagai umpan supaya Erza bisa datang kesini dan kita bisa dengan mudah buat habisin dia ditempat ini. Dibelakang hutan, jadi kalo Erza mati gue bisa dengan mudah kuburin dia atau ga buat makan hewan buas. Hahaha” Ucap X terus menerus semakin menggila.

“Tapi ini bener-bener salah paham kak !”

“Bedebah sama salah paham atau ga”

“Ikat mereka !” Perintah X pada anak buahnya.

Sebaiknya malam ini kita balik dan bicarain lebih matang rencana kita buat langkah besok. Langkah yang udah kita susun beberapa hari ini harus berhasil” Ucap Aldo.

“Gue setuju. Kita balik aja, besok baru kita lakuin” Ucap Nanto menyetujui.

“Dia bakal balik lagi kerumah itu buat nemuin Shani sama Gracia biasanya pagi hari sebelum masuk jam pelajaran sekolah. Jadi, kita besok terpaksa buat absen aja. Terserah kalian kalo mau main cabut tanpa izin atau dengan izin. Bolos sekolah disaat suasana darurat apa salahnya” Ucap Ardi.

“Gue ga mikirin hal itu buat sekarang”

“Gue ngikut aja” Ucap Nanto ikut menanggapi ucapan Aldo.

“Okelah, kita balik aja”

Mereka bertiga memutuskan untuk menunda rencana malam itu dan akan mereka lakukan dipagi harinya. Dengan langkah megendap-endap, mereka mulai menjauh dari semak-semak tempat mereka bersembunyi.

Mereka berhasil pergi dari tempat gelap itu tanpa ada yang mencurigai atau mrgetahui.

Waktu pada jam tangan Erza menunjukan pukul dua dini hari. Setelah semua urusannya malam itu telah berakhir, Erza megendarai sepeda motornya dengan kekuatan pompaan piston mesin yang pelan. Entah apa yang ia pikirkan. Entah gambaran apa yang pikiran Erza ciptakan. Ia terus mengendarainya dengan pelan dijalan komplek perumahannya yang sudah terbilang sepi.

Sebelum tepat sampai didepan gerbang rumahnya, Erza terlebih dahulu mematikan mesin motornya karena takut mengganggu tetangga maupun kakaknya akibat suara yang ditimbulkan oleh knalpot motor sportnya.

Erza sedikit kaget. Terdapat tubuh Kakaknya dan juga tubuh Ve tertidur diatas sofa ruang keluarga. Dengan langkah yang tak menimbulkan suara keras, Erza berjalan mendekat. Pertama hanya tatapan mata yang Erza lakukan kemudian ia berjongkok tepat didepan sofa yang dipakai oleh kakaknya untuk tidur.

“Erza sayang kakak…”

“Maafin Erza yang selama ini buat kakak marah dan nyusahin kakak”

Hanya kalimat pelan itulah yang terlontar dari mulut Erza untuk kakaknya, Melody. Kini Erza berpindah pandangan dan juga perpindah tempat. Ia sekarang tepat berjongkok didepan Ve. Ia menundukan kepala dengan sebelumnya sempat memegang sebentar pipi Ve, namun tak lama langsung ia lepaskan kembali.

“Maaf…”

Kalimat pertama yang Erza ucapakan untuk Ve. Erza kembali mengangkat kepalanya, pandangan menatap fokus kearah wajah Ve dan mulai bersuara…

“Maaf kak Ve, Erza gagal buat jagain Gre. Maaf karena Erza menempatkan Gre disituasi yang berbahaya. Maaf karena semua yang terjadi saat ini bersumber dan diakibatkan oleh Erza sendiri…”

Jika saat Erza sedang berbicara dan Ve dalam keadaan bangun tanpa memejamkan matanya mungkin Ve bisa melihat dengan jelas dari mata Erza kini mulai terlihat bayang-bayang air mata dan mungkin juga tak lama kemudian Ve bisa melihat butiran air mata itu jatuh membuat garis-garis dipipi Erza. Namun sayangnya Ve tengah memejamkan matanya.

“Tapi Erza janji besok Erza bakal kembaliin Gre ke kakak…bukan hanya Gre, tapi juga dengan Shani” Erza menatap lekat waja Ve.

“Apapaun resikonya nanti”

Erza menyeka pipinya yang telah basah oleh air mata penyesalan dan kemudian bangkit dari posisinya. Langkah pertama. Langkah kedua Erza terhenti. Sebuah tangan menggenggam tangan Erza, mencoba menahan. Ve bangkit dari sofanya. Tanpa sepatah kata Ve yang menggenggam erat tangan Erza langsung menuntunnya menjauh dari ruangan tersebut.

Udara dini hari yang dingin menerpa pori-pori kulit. Berada di rooftop rumah. Tempat dimana sekarang Erza dan Ve berada. Erza sempat merasa canggung disituasi tersebut. Tanpa adanya percakapan yang terlontar dari mulut masing-masing.

“Ga usah ngrasa bersalah” Ucap Ve memulai.

“Ga ada yang mesti disesalkan. Lagian semua belum terlambat kan ? Kita bisa bersama-sama buat wujudin hal yang belum terlambat itu”

“Kadang ada orang (orang disekitar maupun orang yang kita sayangi) terpelest kedalam lubang tanpa kita sadari. Saat kita menyadarinya malah kita berpikir kitalah yang mengakibatkannya, kitalah penyebab terpelesetnya orang itu. Dengan rasa bersalah kita menjadi bingung. Bertindak dengan cepat itu…ceroboh”

“Kita bertindak tanpa menggunakan cara apapapun, tanpa memikirkannya terlebih dahulu akibatnya, bukan kita mengangkat orang itu dari dalam lubang tapi malah kita ikut terpelosok juga kedalamnya. Gunakan lah tali, lilitkan pada tubuh dan kaitkan ke pohon”

“Tali yang dimaksud adalah dukungan dan semangat sedangkan pohon sebagai sahabat, teman, keluarga dan orang-orang yang kita sayangi berdiri kokoh yang siap membantu. Intinya, kita bisa kuat dengan saling membantu satu sama lain. Jangan menyelesaikan masalah seorang diri. Jangan hanya kesenangan yang kamu bagi tapi bagilah juga kesusahanmu”

Ve terus berbicara sedangkan Erza hanya diam mendengarkan.

Tiba-tiba Erza langsung memeluk tubuh Ve dari samping. Ve yang mendapatkan pelukan langsung membalas pelukan tersebut dengan erat. Hangat. Pelukan hangat yang diberikan oleh masing-masing.

Pagi hari Erza bangun sedikit kesiangan dari jam bangun yang sudah ia rencanakan. Tanpa sarapan dan juga dengan terburu-buru tanpa berpamitan pada kakaknya dan juga Ve yang semalam ikut menginap, Erza langsung keluar dari rumahnya dan masuk kedalam sebuah mobil yang telah menunggu sedari tadi di depan gerbang rumah Erza.

Dengan cepat pula roda berputar dan meninggalkan rumah Erza, membawa si penghuni rumah. Didalam mobil bukan hanya terdapat Erza maupun si pengemudi, namun ada satu orang lagi duduk tepat dibangku depan sebelah si pengemudi. Pengemudi Aldo, disebelah Aldo adalah Nanto sedangkan Erza dibangku tengah. Masih dengan fokus mengemudikan jalan mobilnya, Aldo berbicara.

“Ada masalah yang terjadi” Ucap Aldo.

“Masalah apa ?!” Tanya Erza.

“Sebelumnya gue mau minta maaf ka…” Ucap Nanto.

“Sebentar, hp gue bunyi” Ucap Erza memberhentikan ucapan Nanto.

 

Erza : ada apa len ?

Elaine : kita udah dapetin Gre. Shani sekarang masih belum bisa kita selametin. Lu kesini sekarang ! Rumah kosong belakang bekas pabrik pinggir kota. Tut…tut…

 

“Darimana anak-anak yang lain tau tempat Shani sama Gre ?!” Bentak Erza pada Aldo dan Nanto.

“Itu juga masalah yang mau gue omongin za. Gue mau minta maaf, tadi malam setelah kita selesai omongin rencana kita, gue ngasih tau ke dia. Awalnya emang ga percaya tapi gue kirim buktinya ke dia dan dia percaya. Makanya sekarang dia ada disana sama anak-anak yang lain buat selamatin Gre sama Shani” Ucap Nanto.

“Ah, sial !” Ucap Erza.

“Do ! Lu masih suka main Besbol kan ?” Tanya Erza.

“Masih, kenapa ?”

“Tongkat Besbol nya gue pinjem”

“Ada tepat dibawah kursi yang lu dudukin. Gue selalu bawa sama cadangannya juga malah”

“Tapi buat apa ?” Tanya Aldo kemudian.

Rumah belakang bekas pabrik pinggir kota. Anin, Elaine, Rezki, Yogi dan yang lain telah berada dengan Gracia terlihat menangis tengah dipeluk oleh Anin. Sementara dikejauhan, tepat didepan rumah yang dipakai untuk menyembunyikan Shani dan Gracia telah berdiri X, ketiga anak buahnya, eh ? Bukan tiga sekarang. Terdapat enam anak buah X dan juga adanya Shani disana dengan pisau yang diarahkan ke perut guna untuk mengancam Anin dan yang lainnya.

Namun tak terlihat adanya si anak berandal yang bertugas mengawasi dan menjaga Shani dan Gracia saat Ardi tak ada dan memberikannya makan, minum.

“Gue ga nyangka ternyata kecurigaan gue selama ini salah besar. Gue udah curigain orang yang ga bersalah sedikitpun dan gue malah percaya sama orang gila kaya lu” Ucap Anin.

“Itulah bodohnya lu. Lu malah percaya sama gue dan malah curigain si Erza”

“Sialan lu!” Hardik Anin yang tersulut ucapan Ardi.

“Gue tau, sekarang polisi pasti sedang menuju kesini” Ucap X dengan sedikit berteriak karena jarak antar mereka lumayan jauh.

“Apa yang lu lakuin Di ?!” Bentak Rezki pada…ya, si X adalah Ardi.

“Apa yang mau gue lakuin ?! Gue pengen habisin Erza !” Balas Ardi.

“Lu udah gila ya ?! Erza itu sahabat kecil lu ! Lu kenapa tiba-tiba jadi gini ?” Tanya Yogi.

“Sahabat ? Sahabat ga bakal selalu rebut apa yang sahabat lainnya sukai. Gue selalu ngalah sama Erza dan Erza selalu menang dari gue!”

“Udah gila lu!” Ucap Elaine.

“Iya, gue emang udah gila len. Kalian emang Brengsek ! Selalu yang kalian hanya Erza Erza dan Erza ! Tanpa kalian tau apa yang gue rasa dan hidup apa yang gue jalanin. Temen macam apa kalian, hah ?!”

“Lu jangan berpikir kaya gitu. Kita peduli sama lu” Ucap Sinka.

“Omong kosong !”

“Selama ini gue sembunyiin apa yang gue rasain sama orang tapi gue ga bisa kaya gini terus, berperan kaya orang idiot!”

“Gue udah muak sama semuanya. Gue udah muak sama kalian”

Ardi terus menerus mengeluarkan apa yang ia pendam dan apa yang ia rasakan selama ini. Tanpa lagi memperdulikan siapa orang yang ada didekapannya yang ia arahkan pisau tepat diperut sikorban. Tanpa memperdulikan lagi siapa yang ada dihadapannya. Pikirannya telah terpenuhi oleh rasaa iri dan kemarahan.

“CKIT !”

Suara decitan rem mobil terdengar. Yang tadinya terfokus pada Ardi kini mengalihkan pandangannya kearah suara, begitu juga dengan Ardi sendiri.

Pintu mobil terbuka dengan memunculkan sosok Aldo dan Juga Nanto. Keduanya keluar dengan meletakan tongkat Besbol dipundak masing-masing. Kemudian diikuti pintu tengah yang terbuka memunculkan sosok Erza dengan senjata yang sama, tongkat besbol. Namun tongkat yang Erza bawa tak diletakan dipundaknya melainkan Erza seret sambil sesekali dipukul-pukulkan ke permukaan jalan sehingga setiap jalannya diikuti bunyi…”Srrreettt…Tang ! Tang !”

Mereka berjalan terus bertiga melewati Elaine, Anin dan tang lainnya dengan ekspresi datar. Terutama Erza. Ia memandang fokus ke arah Ardi. Tak terlihat ekspresi kaget atau apa diwajah Erza saat mengetahui siapa orang utama dibalik penculikan Shani dan Gracia.

Anin beserta yang lain hanya bisa diam saat Erza beserta Aldo dan Nanto terus berjalan lurus mendekat ke arah Ardi dan ke’enam anak buahnya. Tiga lawan enam ?

“Serang mereka bodoh !” Perintah Ardi pada ke’enam anak buah bayarannya.

Sesuai perintah dari Ardi, ke’enam anak buahnya langsung masing-masing bergegas mengambil potongan besi. Mereka langsung lari menuju Erza, Aldo dan Nanto yang masih terlihat berjalan santai dengan ekspresi datar seakan-akan didepannya tak melihat ada enam orang yang berlari akan menyerangnya.

“Kayaknya bakal menyenangkan nih” Batin Nanto melihat ke’enam anak buah Ardi semakin dekat didepannya.

“Saatnya pesta” Ucap Aldo lirih dengan menggenggam erat tongkat besbolnya.

“Hyaa !!”

“Do…” Lirih Nanto sambil melirik Aldo dan Aldo mengangguk.

Satu orang telah didepan Aldo dengan potongan besi siap untuk menghajar Aldo, namun Aldo masih terlihat santai. Hingga saat orang itu hendak mengayunkan tongkatnya, Aldo terlebih dulu menghantam kepala orang tersebut dengan tongkat besbolnya.

“Tang !”

Kini diikuti oleh orang lainnya. Mereka semua kini telah beradu keahlian saling memukul dan memukul. Baik Erza, Aldo, Nanto mendapat bagian musuh dua orang yang harus dilawan oleh satu anak. Mengayunkan tongkat ke kanan dan kiri. Bunyi dua tongkat saling berbenturan menimbulkan bunyi. Hampir mirip seperti berkelahi menggunakan sebuah pedang.

“TANG ! BUK !”

“Arrrgghh !”

Erza tepat mengenai salah satu kepala dan perut hingga orang tersebut sempoyongan dan tersungkur ditanah. Terlihat lelehan darah dihidung dan kemudian tak sadarkan diri. Sesaat setelah memukul KO orang tersebut, Erza sempat sedikit lengah hingga pipinya juga dihantam oleh pipa besi orang satunya lagi. Erza sempat sempoyongan akibat hantaman tersebut, namun langsung berdiri tegak kembali.

“BUK !”

Kembali Erza berhasil mendaratkan pukulnya tepat diperut. Tersungkur dan tanpa memberi waktu, Erza dengan cepat memukul-mukul tubuh orang tersebut dengan tongkat besbolnya hingga kembali tak sadarkan diri. Bagian Erza kini telah habis. Ia melihat Aldo disana seperti mengalami sedikit kesulitan. Dengan cekatan Erza mengunci salah satu tangan orang yang akan menyerang Aldo dan… “Krak !”

“Aaarrrggghhh!”

Erza memuntir tangan kangan orang tersebut hingga persendiannya berputar arah, retak. Hingga tangannya terlihat berputar. Sebelum berganti lawan Erza sempat memukul kepala dan juga tempurung lutut orang tersebut hingga berdarah dan mungkin juga lutut orang itu pecah.

Dengan saling bekerja sama Erza, Aldo, Nanto bisa melumpuhkan ke’enam anak buah bayaran milik Ardi. Sebagian dikalahkan dengan mematahkan tulang persendian dan sebagian lagi tumbang akibat serangan di kepala yang keras hingga tak sadarkan diri.

Bisa mengalahkan ke’enam orang tersebut bukan berarti baik Erza, Aldo maupun Nanto tak mendapat luka. Erza dengan darah segar terlihat mengalir dari kepalanya walau tak banyak. Aldo dengan bibir berdarah dan beberapa gigi hilang akibat pukulan di mulut. Nanto, tak jauh beda dengan Erza. Kepala berdarah dan sudah pasti dibalik pakaian yang mereka bertiga gunakan terdapat lebam biru dimana-mana.

Sementara Gracia dikejauhan terlihat menangis kembali sambil memberontak dari dekapan Elaine. Gracia ingin mendekat ke arah Erza setelah Gracia melihat Erza yang terluka, namun ditahan oleh anak-anak yang lain.

“Kak Erza…” Tangis Gracia kembali pecah sambil melihat Erza dari kejauhan.

“Ini Polisi lama banget lagi. Ga pas banget sama situasi” Kesal Sinka.

“Rasanya pengen gue lempar juga nih pisau ke arah Ardi” Ucap Elaine.

“Loh kok pisau lu jadi pisau mainan gini ki ?” Tanya Elaine pada Rezki.

“Coba liat”

“Ini mah bukan pisau gw. Pisau gw tadi sengaja gw tinggalin buat Shani. Lu tadi kan ambil yang dimeja kecil”

“Iya, ini tadi pisau gue ambil di meja kecil yang lu tunjuk”

Erza berjalan pelan mendekat ke arah Ardi yang sedang mendekap Shani sambil mengarahkan pisau ke perutnya.

“Za…” Tangis Shani melihat Erza.

Erza menghentikan langkahnya saat melihat Shani menangis. Dari belakang Ardi muncul satu orang lagi, si anak berandal. Kesempatan itu membuat dorongan ide untuk menggertak Erza. Karna dengan Shani menangis maka Erza akan diam. Pikir Ardi.

“Ancam aja dia bos. Tenang, sesuai permintaan bos pisau yang sedang anda pegang itu pisau bohongan jadi ga udah takut bisa lukain cewe yang bos suka ini” Bisik si berandal pada Ardi.

“Lu maju, gue ga bakal segan-segan buat tusukin ini pisau ke Shani yang lu sayang” Gertak Ardi. Erza diam.

“Jatuhin tongkat lu dan suruh mereka (Aldo dan Nanto) buat menjauh ke belakang”

Erza melirik ke arah Aldo dan Nanto. Mereka tau apa yang dimaksud oleh Erza pun langsung berbalik berjalan sedikit pincang ke arah dimana terdapat Anin, Elaine, Gracia, Yogi dan yang lain. Namun Erza tak mendengarkan perintah Ardi soal untuk menjatuhkan tongkat. Erza malah meletakan Tongkat besbol tersebut dipundaknya.

“Gue bilang jatuhin tongkat lu ! Bukan buat ditaro disitu, BODOH !” Hardik Ardi.

Erza yang mendengar kata terakhir yang diucapkan oleh Ardi langsung dengan cepat Erza melemparkan tongkat besbol miliknya ke arah Ardi. Namun tak mengenai. Tongkat tersebut melewati Ardi lewat samping kepalanya dan sempat bergesekan dengan telinga Ardi. Seketika Ardi dan si berandal diam mematung. Sementara Shani dengan reflek menutup matanya.

Setelah tongkat yang Erza genggam dilemparkan. Erza melihat celah diantara Ardi maupun si berandal, dengan rencananya Aldo langsung melemparkan tongkat besbolnya pada Erza dan setelah tertangkap Erza langsung berlari kencang ke arah Ardi.

Si berandal yang menyadari akan pergerakan cepat yang Erza lakukan menjadi takut. Karena tak tau harus berbuat apa dan di sampingnya Ardi masih terdiam. Si berandal menyuruh Ardi untuk menekan pisau yang mengarah ke perut Shani dengan hasutan pisau bohongan. Ardi yang percaya langsung menekan pisau tersebut ke perut Shani bertujuan menghentikan pergerakan Erza dan mereka bisa kabur tapi…

“CRAT !”

“Aa…arrghh!”

(Flashback ON)

“Kalian” Ucap Shani menyadari Elaine, Rezki mendekat berhasil menyelusup masuk.

“Ssttt…jangan keras-keras” Ucap Elaine.

“Cepet bukain talinya” Ucap Elaine pada Rezki untuk membukakan tali milik Gracia terlebih dahulu.

“Itu diatas meja kecil ada pisau juga tuh” Bisik Rezki pada Elaine.

Rezki berhasil membuka tali ikatan tangan milik Gracia, namun sebelum tali milik Shani terpotong pintu akan terbuka dari luar. Elaine dan Rezki langsung membawa Gracia keluar lewat jendela namun Rezki sempat meninggalkan pisau miliknya.

(Flashback OFF)

“Kata lu ini bohongan ?!” Tanya Ardi dengan keras. Sementara Erza berhenti dari larinya memandang kaget.

“Beneran bos, semalem udah saya siapin di meja kecil pisaunya”

Shani terjatuh dengan darah diperutnya.

“Shan, bangun shan ! Gue ga bermaksud buat tusuk lu pake pisau asli. Gue mohon bangun” Ucap Ardi.

“Bangs*t!!!” Teriak Erza dan berlari kembali dengan kencang.

Si berandal yang kembali menyadari kemarahan Erza yang kini berkali-kali lipat langsung lari melarikan diri tapi langsung di kejar oleh Aldo. Nanto tak dapat lari karba kakinya pincang. Ardi yang ikut mejadi panik kini ikutan melarikan diri ke dalam hutan. Erza tak tinggal diam, ia mengejarnya. Sementara itu, Anin beserta yang lain berlari mendekat ke arah Shani dan memanggil Ambulan juga. Dibelakang terlihat dua mobil polisi baru saja datang.

Dari mobil rombongan petugas polisi terdapat sosok Ve, Melody dan tante Indira dengan berlari sambil menangis.

“Selusur area sekitar, cepat ! Kemungkinan palaku belum jauh” Perintah komandan pada bawahannya.

“Astaga ! Tulang tangannya kenapa sampai pada patah gini ? Cepat panggil Ambulan, banyak yang terluka disini” Lanjutnya.

“Putriku !” Histeris tante Indira saat melihat Shani dengan darah mengalir diperutnya.

“Ma…ma” Lirih Shani terbata-bata saat melihat ibunya tepat dihadapannya.

“Gre !” Ucap Ve.

“Kak Ve !” Gracia langsung memeluk Ve dan Ve pun membalasnya dengan erat sambil keduanya menangis haru.

“Erza mana ?!” Tanya Melody menyadari tak adanya sosok Erza disana.

Menerobos dedaunan. Mengejar dan dikejar. Ardi terus berlari dengan lari yang cepat tanpa memperhatikan sekitar apapun ia lewati dengan terdapat Erza dibelakangnya yang terus mengejar. Pikiran Ardi saat itu sungguh sangat tak karuan. Apa yang terjadi sama gue ? Apa yang udah gue lakuin ? Shani masih hidup kan ? Terus berlari sambil memenuhi isi kepalanya denganhal-hal yanh baru saja terjadi.

“Berhenti lu bangs*t !!” Hardik Erza sambil terus mengejar.

Erza terus berlari, terus menambah kecepatannya walau kecepatan lari yang ia keluarkan sudah menemui batas kemampuannya. Dengan terus berusaha menyusul. Akhirnya kini hanya terpaut jarak kisaran tiga meteran dari arah Erza berada.

Karena kecepatan lari Erza yang tak mungkin lagi ditambahkan lagi dan juga kondisi stamina Erza yang sudah terkuras sejak perkelahian tadi, Erza terpaksa melemparkan tongkat besbol yang ia bawa ke arah Ardi dan…

“TANG !”

HeadShoot ! Tongkat yang Erza lemparkan kembali tepat sasaran dikepala Ardi dengan keras. Lari Ardi langsung berbelok akibat kesadarannya mulai hilang akibat benturan keras tongkat besbol yang Erza lemparkan.

“BAK !”

Ardi menabrak pohon besar didepannya dan langsung tak sadarkan diri dengan darah yang keluar dikepala dan hidungnya. Erza yang tak lagi kuat berlari tersandung akar dan jatuh tersungkur ditanah. Masih dalam kondisi sadar, Erza mengatur nafasnya yang tak karuan dan detak Jantungnya yang sangat cepat.

Tak beberapa lama beberapa anggota polisi yang ikut mengejar sampai ditempat Erza dan Ardi berada. Ardi dibopong oleh salah satu anggota kepolisian, sementara Erza yang masih sadar hanya dipapah.

Berada di tempat yang berbeda. Udara dingin mulai menjadi teman bagi Erza. Semua aktifitasnya di dunia luar kini telah benar-benar dibatasi. Hidup seperti ayam didalam kandangnya. Tidur hanya dengan berasalkan tikar tipis dan harus berbagi degan penghuni lainnya. Dinding yang dingin.

“Muhamad Erza Dwi Alamsyah…” Panggil seorang anggota kepolisian yang berjaga.

“Saya pak”

“Ada yang mau jenguk kamu” sambil membukakan pintu sel.

Erza berjalan melewati lorong dengan kaki tanpa alas dan didampingi oleh petugas. Terlihat dari kejauhan…Shani, Gracia, Melody dan yang lainnya. Senyum Erza terlihat sedikiy mengembang dengan mata yang mulai berkaca-kaca melihat orang-orang yang ia sayang telah datang.

“Pak, kok sebanyak ini boleh masuk semua” Tanya Erza pada petugas disampingnya sambil berjalan.

“Sebenernya sih ga boleh tapi mereka terus memaksa. Saya kasih kalian waktu lima menit saja”

Sesampainya Erza didepan. Erza langsung dipeluk beramai-ramain, tangis haru langsung pecah. Shani terus memeluk Erza.

“Udah jangan nangis. Perut kamu sudah sembuh ?” Tanya Erza, Shani mengangguk dalam pelukan.

“Untung dikasih keringanan, jadi cuma harus jalanin dua tahun aja disini. Katanya kasus kekerasan” Ucap Erza.

“Kan lu buat jaga diri” Ucap Yogi.

“Makanya gw dikasih keringanan. Kalo ga mah bisa nyampe lima tahun”

“Yang kuat ya dek” Ucap Melody sambil menangis.

Erza tersenyum, “tenang aja kak”

“Kita semua bakal nunggu kamu. Tante juga ga sabar buat hari itu dateng” Ucap tante Indira.

“Kamu harus baik-baik disini. Jangan pernah berpikir kalo kamu bakal sendirian, Itu ga bener. Kita bakal ada terus buat kamu dan kita bakal nunggu kamu” Ucap Shani sambil melepaskan pelukannya.

Erza mengusap air mata Shani yang meleleh dipipinya.

“Kita bakal tunggu lu bro” Ucap Yogi. Rezki, Aldo, Nanto, Naufal tersenyum.

“Akibat Ardi lu lempar pake tongkat besbol gue, sekarang dia ada di RSJ. Dia gila” Ucap Aldo.

“Maaf waktu jenguk sudah habis”

“Baik-baik ya, sayang” Ucap Shani kembali memeluk Erza dengan Erat.

Mereka semua akhirnya saling memberikan ucapan semangat untuk Erza dan berpamitan pulang.

Daridulu Erza memang bisa dikata bermusuhan dengan Aldo tapi semenjak saat itu, mereka mulai baikan. Saat Shani tiba-tiba menghilang dengan sendirinya Aldo menghampiri Erza dan mengajak berdamai. Aldo bersama Nanto membantu Erza mencari Shani. Merencanakan langkah bersama. Awalnya Erza memang tak mempercayai acara damai tersebut tapi dengan perlahan Erza mulai mempercayai Aldo.

Beberapa hari ini saat mulainya kasus Shani dan Gracia hilang, sebenernya Erza juga tau kalo dia dicurigain sama anak-anak yang lain akibat tingkah laku nya yang suka pergi tak jelas. Bukan apa-apa, Erza cuma pengen nyelesein masalah sendiri, ga sendiri tapi bertiga bareng Aldo dan Nanto. Kenapa Erza tak bilang aja ke yang lain ? Erza yakin kalo pun ia bilang kalo sedang bekerjasama dengan Aldo pasti pada tak setuju. Akhirnya ya Erza harus diem dan main umpet-umpetan sama temen-temen, sahabat nya sendiri hanya karna untuk ngomongin rencana buat selametin Shani dan Gre bareng Aldo, Nanto.

Kini Erza harus hidup dua tahun kedepan dalam dunia tertutupnya. Aktifitas pagi, siang, malam selalu sama setiap harinya. Penjara yang awalnya Erza pikirkan memang banyak orang-orang kasar kini sedikit keliru. Memang banyak yang kasar, namun tak kalah banyak juga yang ramah sesama penghuni.

Hidup baru. Hidup baru sebagai penghuni lapas. Membuat Erza banyak belajar tentang apapun. Erza banyak mendengarkan pengalaman atau hanya sekedar cerita dari para penghuni sel sesamanya. Jangan pernah anggap semua orang penghuni lapas itu kasar, arogan dan tak punya sopan santun.

Dua tahun terlewat. Hari yang dinanti-nanti telah tiba saatnya.

Erza POV

Hari ini, hari dimana gue bisa menghirup udara segar kembali. Tepat dua tahun gue berhasil tinggal i lapas. Bukan berarti udara penjara juga ga bersih. Maksudnya, udara bebas luar lebih menyegarkan dan lebih membuat kita nyaman. Didepan gue terdapat pintu hitam lumayan besar. Dari pintu itu gue akan menyambut hidup baru, catatan hidup baru. Pintu kebebasan.

Terlihat dua orang petugas sipir mebukakan pintu tersebut. Sungguh bahagianya saat ini. Terlihat juga dari balik pintu gue bisa melihat orang-orang yang gue sayangi telah menunggu dengan pakaian rapi dan senyum ramah yang mengembang. Shani, ya terlihat Shani disana dengan penampilan cantiknya. Kak Melody, kak Ve, Gracia yang terlihat senyum tapi nangis. Lucu banget pengen cubit rasanya. Aldo, Rezki, Nanto, Yogi, Elaine, Anin dan yang lain.

Kulangkahkan kaki menuju ke arah mereka. Melewati pintu kekebasan ini dan setelah bener-benar keluar kukatakan…

“Selamat datang kembali Erza…” Sambut mereka buat gue secara bersama-sama.

Gue balas sambutan mereka dengan senyum lebar yang gue perlihatkan. Kubalikkan tubuh gue kembali menghadap ke arah pintu hitam itu.

“Makasih sekolah kehidupanku. Sampai jumpa semua”

Sekarang gue tau bahwa sekarang Naufal telah meyatakan perasaannya pada Anin. Sekarang, Gre telah bareng dengan Aldo akibat di combalangin samayang lain begitu juga dengan Sinka dan Nanto. Elaine yang masih awet dengan Yogi. Tapi ada satu yang sekarang sedikit berbeda. Rezki jomblo. Dia bilang sudah tak lagi dengan Michelle.

“Ga papa bro, nanti gue cariin yang baru buat lu”

“Ah pala lu ! Kesannya gue kaga laku njir” Sewot Rezki dengan melempar minuman gelas plastik yang sudah kosong isinya.

“Ibu kantin lapas janda tuh”

“Si kampret !”

“Hahaha…”

Semua tertawa melihat kekesalan Rezki, termasuk gue juga menertawainnya. Sungguh momen seperti inilah yang selama dua tahun ini gue rindukan. Saling lempar candaan.

Tiba-tiba tubuh gue mendapat dorongan dari Shani dan dia langsung peluk gue dan tak berselang lama diikuti juga oleh yang lain. Bahagia itu sederhana. Bisa kumpul bareng sama orang-orang yang kita sayangi contohnya.

Erza POV End

“Aku kangen banget sama kamu” Ucap Shani sambil memeluk Erza.

“Aku juga” Balas Erza.

“Kak !” Dengan Cepat Gracia ikut memeluk tubuh Erza dengan tangis bahagia yang telah pecah.

“Dek…” Panggil Melody mendekat dan langsung ikut memeluk Erza juga.

Melihat momen apa yang sedang terjadi didepan mata, mereka ikut mendekat ke arah Melody, Shani, Gracia dan Erza. Mereka semua memeluk secara bersamaan.

“Kita harus jenguk Ardi” Ucap Erza ditegah-tengah pelukan.

“Siap” Balas mereka bersamaan.

“Makasih juga buat semua yang mau nunggu buat hari ini” Ucap Erza setelah terlepas dari momen saling melepas rindu.

“Makasih karna sudah setia nunggu aku” Ucap Erza pada Shani.

Erza kendekatkan wajahnya ke arah Shani. Mata Shani terpejam dan…

“Cupz !” Satu kecupan lembut Erza daratkan dibibir Shani.

Semua bersorak dan bertepuk tangan dengan apa yang mereka liat didepannya. Shani dan Erza yang menempelkan bibirnya.

Shani membuka matanya kembali. Terlihat wajah Erza didepannya sedang tersenyum ke arahnya. Shani kembali memeluk Erza degan eratnya sambil menangis bahagia.

“Makasih Shania Junianatha karna telah mewarnai dan ikut berperan dalam catatan hidupku. Kamu adalah sebuah kenangan yang tak akan bisa terganti dan sudah tertoreh rapi dibuku diary kehidupanku”

“Makasih Shani Indira telah menjadi bidadari keduaku. Sebuah cinta baru yang datang. Kalian memang berbeda tapi akan selalu sama berharganya dihidupku. Sebuah Cinta dan Kenangan…” Ucap Erza sambil melihat birunya langit siang itu.

Tak berapa lama pintu hitam, pintu kebebasan pun tertutup kembali dengan membawa catatan buku Erza juga. Buku kehidupan yang terdapat banyak coretan dan kini terdapat buku baru juga yang telah menanti, buku dengan kondisi masih bersih menanti untuk segera diisi dengan goresan tinta kehidupan dan catatan perjalanan hidup yang baru dari seorang pria bernama Muhamad Erza Dwi Alamsyah.

Begitu juga sama halnya dengan ditutupnya catatan dari cerita ini. Sampai jumpa dicatatan yang baru. Catatan yang lebih baik. Kehidupan yang lebih cerah dari sebelumnya.

-THE END-

 

Akhirnya selesai juga buat SCdK nya ^_^ makasih banyak udah mau baca story absurd ini. Maaf juga kalo endingnya terkesan maksa. Aura terasa suram. Kritik, saran akan diterima dengan baik di story gue. Bisa langsung lewat kolom komentar atau lewat Twitter ( @ShaNjianto ) bisa juga lewat chat Line dengan ID : shanjianto

 

Wali Murid : Shanji bukan Shanju

 

Iklan

16 tanggapan untuk “Sebuah Cinta dan Kenangan, (Last Part)

  1. Wihhh keren bang serius , ini ending nya antimainstrim :v btw ko sampe kepikiran buat masukin si erza ke penjara yak , wa jadi curiga jangan2 yg bikin nih ep ep mantan napi :3

    Suka

    1. kan udah gue bilang. gue bakal bikin ending yang sedikit antimainstream :3

      anjer dah :v aku anak baik”. pergi ke LP (bukan Linkin Park tapi LaPas) aja kaga pernah :v

      Suka

  2. Wah, openingnya berasa baca webtun dice. “Erza! Gunakan kekuatan time pause untuk menghentikan Ardi!” Aldo ngelempar dadu ular tangga muehehe.
    Terus bagian ‘lelehan darah’ terkesan kayak ingus njir :v sorry canda. Haha, antimainseterum bgt dah. Ngakak, mencekam, dan mengharukan. Perfect njir :v bikin rangkain momen absurd lagi deh :v

    Disukai oleh 1 orang

  3. Apik tenan iki mas (bagus banget ini mas πŸ˜‚πŸ˜‚)
    Anti mainstream, asli.. Terharu baca nya πŸ˜‚
    Di tunggu karya yg lain 😁😁😁

    Suka

  4. next story “Harapan untuk adikku, Gracia” (cerpen aja sih) :3 tinggal nunggu waktu yang pas aja byay dikirim.

    bocoran dikit. genrenya melo2 drama antara adik kakak yang hidup dalam lingkungan yang keras…udahlah spoilernya dikit aja πŸ˜‚

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s