Directions The Love and It’s Reward, Part 11

direction

“Kamu bintang di langit itu” ucap Rendy pelan.

“Apa? Nggak kedengeran” Yuvia bertanya kembali.

“Bukan apa-apa kok” Rendy mengalihkan pembicaraan. Sedangkan Yuvia kembali menatap langit.

“Hayooo ngaku nggak?! Pasti ngomongin jorok ya?! Dasar mesum! Nih rasain!” Yuvia mendekati Rendy sembari mencubiti bagian tubuhnya. Membuat Rendy sedikit kesakitan.

“Aduh! Udah Yup udah. Sssttt…sakit tau” Rendy mengusap-usap beberapa bagian seperti tangan dan perutnya yang terkena amukan cubitan dari Yuvia. Pandangan Rendy tertuju pada sesuatu di leher Yuvia. Ya, sebuah kalung. Kalung berbentuk huruf “Y”.

“Apa mungkin? Tapi …” batin Rendy

“Eh? Yup? Kamu manggil aku apa ta…”

“Rendy, kopinya udah…

CTAR!!!

Si..ap” Shani memecahkan gelas itu. Entah mengapa hatinya sakit melihat kebersamaan mereka.

“Eh apaan tuh?” Rendy mengalihkan pandangannya ke belakang.

“Denger suara tadi nggak?” tanya Rendy pada Yuvia.

“Hmm… iya, kayak ada sesuatu yang pecah” Yuvia ikut mengalihkan pandangannya pada tempat yang menurutnya menjadi sumber suara itu.

*****

“Hmpphhh…. hhmmppphhhh…” Shani dibekap mulutnya sambil air matanya menetes.

“Sssuussssttt… jangan bersisik, oke? Tenang. Ini aku” ucap seorang pemuda menggunakan jaket hitam bertuliskan ‘BEATTEN BOYS’ itu.

“Da-vid?” Shani mulai tenang dan cowok bernama David itu melepas bekapan tangannya dari mulut Shani. Saat itu, Shani sedang tidak bisa berpikir cukup fokus dan jernih. Langsung saja ia bersandar pada bahu cowok itu. Air matanya tumpah seketika. Berlinangan tetes demi tetes bagaikan hujan.

“Kenapa… Rendy?” Ia masih pilu dengan apa yang dilihatnya tadi. Dia bahkan menumpahkan air matanya pada bahu cowok itu.

“Udah tenang Shan, aku di sini kok” David membelai rambut Shani pelan, halus memberikan ketenangan. Mencoba menenangkan Shani yang larut dalam kesedihan.

“Udah, mendingan kamu tidur sekarang ya” David memegang kedua bahu Shani, mencoba menatap matanya dalam. Shani mengangguk sembari menyeka air matanya. Tertunduk diam sesaat.

Setelah itu, dia dongakan lagi ke atas mendapati senyumnya diselah bekas air mata linangan di pipinya. Dengan sedikit keberanian, David menyeka sisa air mata pada pipi Shani.

“Dah sekarang kamu balik ke tenda. Udah malem, tidur ya. Lupain kejadian yang tadi, and…

…Good night”

Shani tersenyum tipis “Makasih.” Shani kembali ke tenda.

Tiba-tiba, muncul seseorang dengan jaket ‘BEATTEN BOYS’ sama seperti dirinya. Bedanya, jaket orang itu sedikit berwarna merah di beberapa bagian corak dan bermodel hoddie.

“Gimana?” David tersenyum licik.

“Sandiwara yang bagus” Orang itu tersenyum jahat menatap David.

“Mau bermain sekarang?” tanya David.

“Tidak…” ucapnya. David hanya menganguk dan berjalan duluan meninggalkan cowok itu.

“…Untuk saat ini” cowok itu tersenyum jahat sejenak menatap Rendy dan Yuvia. Setelah itu ia berbalik dan pergi entah berantah ke mana.

—o0o—

“Dah, tidur sana gih” ucap Rendy sembari menambahkan beberapa batang kayu bakar karena sudah semakin meredup apinya.

“Ngusir nih?” tanya Yuvia dengan nada jutek.

“Nggak juga. Udah malem tau” ucap Rendy menggosok-gosokan kedua tangannya.

“Ya deh, terserah” ucapnya kemudian masuk ke tenda putri.

“Thanks jaketnya” senyum terakhir sebelum ia masuk ke tenda.

“Nggak masalah” balas Rendy pelan.

“Fyuhhh dingin juga ya ternyata” Rendy meniup pelan kedua telapak tangannya.

“Hai Ren” ucap seorang wanita datang menghampirinya, membawa dua cangkir minuman hangat.

“Oh, hai kak Ve” balas Rendy ramah.

“Nih” kak Ve memberikan secangkir minuman hangat itu pada Rendy.

“Ini apaan kak?” tanya Rendy.

“Itu kopi cappucino espresso. Kakak denger-denger kamu suka itu. Anggep aja ucapan makasih kakak buat pertolongan kamu untuk bantuan di Medical Team” ucap kak Ve membenarkan jaketnya.

“Nggak usah terlalu begitu kak. Aku ikhlas bantu kok” ucap Rendy.

“Yah, nggak apa-apa lagi hehe. Kakak perhatiin dari tadi… kok kamu akrab banget sama adik kakak ya?” tanya kak Ve.

“Si Yuvia maksudnya?” tanya Rendy meyakinkan lagi. Dan kak Ve hanya berdehem mengangguk sembari meminum coklat panas di cangkir miliknya.

“Ah nggak juga kok kak. Cuma itu anak kasian aja. Tadi nggak ada temennya. Katanya dia juga tadi insom. Ya udah aku temenin sampe dia bener-bener ngantuk.”

“Masa sih?” kak Ve tersenyum penuh arti sambil memiringkan kepalannya.

“E-eh  i…iya kok kak, bener” Rendy mengacungkan kedua jari peace yaitu tengan dan telunjuk.

“Hahahaha, lucu tau ekspresi kamu” Kak Ve hanya mencolek pipi Rendy pelan. Wah beruntung banget tuh bocah.

“Bercanda kok” ucap kak Ve.

“Ya udah, kakak balik ke sekretariat dulu ya” ucap kak Ve meninggalkan Rendy yang masih duduk di depan api unggun.

“Iya” balas Rendy. Jam menunjukan pukul  23.15.

“Hoamzz… ngantuk juga nih. Tidur aja lah” Redny memasuki tendanya. Di sana sudah terlihat dua orang berpelukan layaknya pasangan persis. Seperti terasa nyaman memeluk satu sama lain. Rendy hanya menggeleng pelan menahan tawa.

“Dasar” ucap Rendy melihat kelakuan dan tingkah kedua temannya. Rendy mencari bagian yang kosong pada bagian tenda itu. “Night Tur, Yo” Rendy melepaskan sepatu dan menyelimuti tubuhnya.

—o0o—

Keesokan harinya…

“Pagi adik-adik semua!” kak Ve menyapa melalui ruang sekretariat.

“Pagi kak!” jawab semuanya. Semuanya kini sudah berkumpul di lapangan karena semalam beberapa anggota OSIS sudah memberitahukan kepada sebagian siswa untuk esok paginya berkumpul.

“Hari ini, kita bakalan ngadain penjelajahan dan ekspedisi nih! Nanti akan dibagi tiap kelompok ya! Untuk itu, kalian bisa mempersiapkan membawa beberapa barang secukupnya untuk penjelajahan dan ekspedisi nanti. Sekian, terima kasih” ucap kak Ve dari megaphone.

“Yuk Tur, Yo. Siapin perlengkapan” ajak Rendy.

“Yoi!” ucap mereka berdua.

“Hmm… tenda otomatis bawa aja sekalian lah” batin Rendy sembari memasukan enda otomatis itu pada tas ranselnya. Tiba-tiba seseorang menepuk bahunya.

“Eh? Iya kak kenapa?” tanya Rendy pada wanita itu.

“Kamu dan dua teman kamu, satu kelompok sama mereka” tunjuk kakak itu kepada empat orang gadis yang masih ribut, rusuh itu.

“Oh gitu. Makasih ya kak Naomi” Rendy hanya tersenyum tipis.

“Nanti kalo kamu sakit atau nggak kuat, mampir ke pos kakak yah” kak Naomi berkedip dan berlalu pergi.

“Eh?” Rendy hanya terheran diam mematung. Sementara sedang membereskan, ia teringat kalung yang diapakai Yuvia semalam.

“Masa sih? Ah palingan yang pake kalung kayak gitu ada banyak. Bukti yang kuat ada di pasangan kalung ini” batin Rendy memegang sembari melihat ke arah kalung hati berlian berwarna biru miliknya. Tiba-tiba sebuah tangan datang membantunya memberesi perlengkapannya, bersentuhan dengan tangan Rendy.

“Eh? Sorry, gue bantuin yah. Nih jaket lo semalem. Makasih, itung-itung gue balas budi” gadis itu tersenyum sambil membantu Rendy.

“Udah  nggak usah, aku bisa kok” ternyata itu Yuvia.

“Gapapa, gue ikhlas bantuin” Yuvia hanya tersenyum tipis. Mereka akhirnya sudah selesai memberesi perlengkapan.

“Lah, ini anak kesambet apa ya? Semalem juteknya minta ampun” batin Rendy sambil menggeleng pelan.

“Woy! Ciailah malah mesra-mesraan pegang-pegangan tangan” Guntur memamnggil Rendy.

“Diem lu! Mau gue kasih ini?!” Yuvia menatap tajam ke arah Guntur yang membuat wajahnya Guntur pucat.

“Sabar napa Tur” Rendy hanya menanggapi lemah. Setelah itu, Rendy dan Yuvia pergi menuju ke perkumpulan kelompoknya karena mereka satu kelompok. Ternyata empat orang gadis yang ditunjuk kak Naomi tadi adalah Yuvia, Gracia, Viny, dan Shani.

“Hai Shan” sapa Rendy. Tapi Shani hanya diam membisu. Pura-pura tidak mendengar dan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Bibir tipisnya seakan memasang mimik muka bete. Rendy yang menyadari hal itu hanya terdiam bingung.

“Yaelah, kenapa harus sekelompok sama lu sih?” Yuvia hanya mendengus kesal. Ini anak beneran kesambet. Tadi sok manis bantuin. Nah sekarang? Jutek lagi.

“Siapa juga yang mau” Rendy acuh tak acuh.

“Lah lumayan juga dapet kelompok ini hehe” ucap Guntur pada Rio.

“Pikiran lu om” Rio tidak menghiraukan. Kini semua siswa dan siswi sudah berkumpul di lapangan. Sementara OSIS memberi intruksi kepada para siswa apa-apa saja rutenya. Dan juga semua hal yang harus dikumpulkan dan dicari.

“Oke semuanya udah paham?” tanya kak Ve.

“Udah!!!” jawab semuanya.

“Sekarang bisa jalan sesuai kelompoknya ya” kak Ve memberikan arahan.

*****

Mereka bertuju berjalan beriringan. Merasakan angin pergantian musim panas berhembus. Tangan mereka semua dibentangkan sembari menutup mata. Menikmati keragaman hayati di bumi perkemahan setiap perjalanan pejelajahan itu. Tak terasa, mereka sudah sampai pos 1.

“Hai kak” sapa Shani. Ternyata kak Shania yang menjaga pos 1 bersama wanita dengan rambut sebahu.

“Hai juga kak…” Shani menggantungkan ucapannya.

“Kinal” ucap kakak itu.

“Gimana Shan, kemarin di bis?” kak Shania hanya menaikkan sebelah alisnya pada Shani.

“Ah kakak apaan sih” Shani hanya terdiam malu. Guntur,Rio,Rendy dan yang lainnya hanya heran sekaligus bingung.

“Ini adek kamu Shan?” tanya kak Kinal.

“Iya Nal, ini adik aku Shani” ucap kak Shania.

“Pantes aja mirip, namanya juga” ucap Kinal.

“Jadi Shan, kamu…” Rendy menggantungkan ucapnnya.

“Ah iya” ucap Shani.

“Duh, pada main kakak adekan semua. Dah-dah mau lanjut nggak nih?” ucap Guntur.

“Bener tuh. Hmm.. kak, selanjutnya kemana ya?” tanya Rendy.

“Ini masih lurus aja kok” ucap kak Shania.

“Oh gitu, makasih kak” balas Rendy.

“Makanannya udah dihabisin?” tanya kak Kinal pada lelaki di sebelah Rendy. Langsung semua pandangan tertuju pada lelaki itu.

“Rio? Jadi lu?” semuanya bingung.

Lantas kak Kinal langsung menuju ke arah Rio.

“Eh kak-kak mau di apain?” Rio hanya terdiam pasrah ketika kak Kinal menggeledah tasnya. Diambilnya sesuatu dari tas Rio. Sesuatu yang… berwarna feminim berbentuk kotak. Ya itu kotak makan. Dibukannya kotak makan itu oleh kak Kinal dan isinya…

“Kok masih utuh?” tanya kak Kinal dengan tatapan pembunuh.

“Ya mau aku makan buat perjalanan nanti kak” ucap Rio meyakinkan kak Kinal dengan sedikit ragu.

“Yaudah, habisin loh” kak Kinal mengembalikan kotak makan itu pada Rio.

“Dah sekarang bisa lanjut” ucap kak Shania dan mereka bertuu kembali melanjutkan perjalanan.

“Jadi Yo, lu adeknya kak Kinal?” tanya Rendy.

“Iya” balasnya malas.

“Njir, ngapa lu nggak bilang-bilang” ucap Guntur kesal.

“Pffttt… kotak makan warna pink gambar hello kitty” Guntur menahan tawa. Sedangkan yang para wanita hanya terdiam menatap seperti pandangan heran.

“Feminim amat hahaha…” Guntur masih mengejek Rio.

“Dah aah om. Males gua bahasnya” ucap Rio berjalan semakin lemah.

“Dah, yuk lanjutin perjalanan” ucap Rendy.

*****

Di pos 2, mereka bertemu dengan kak Refal dan temannya. Tugas di pos 2 suruh menjawab pertanyaan tentang pengetahuan umum.

Pos 3 suruh jawab kode morse lah sama si Rizal.

“Wah parah lu Zal, lupa ama temen” ucap Guntur.

“Lah, namanya lagi nugas OSIS Tur” ucap Rizal seadanya.

Pos 4 dengan kak Ghaida yang suruh jawab semaphore.

—o0o—

“Duh masih lama banget ya?” keluh Rio.

“Baru juga empat pos Yo” ucap Rendy.

“Waktu ekspedisinya sampe jam berapa Vin?” tanya Rio pada Viny yang sedang mengecek jam.

“Katanya sih sampe besok tepat pukul 12 siang kalo bisa cepet mah. Kan besok sekalian geladhi bersih” ucap Viny.

“Sekarang jam berapa sih?” tanya Yuvia yag sedari tadi sudah tak tahan berjalan, ingin segera mungkin membangun tenda dan beristirahat di pertengahan jalan.

“Sekarang udah jam 5 sore. Nanggung, 1 pos lagi yuk. Kan ada 10 pos, otomatis kalo kita nerusin 1 pos lagi, berarti kita udah sampe setengahnya dan habis itu kita cari tempat untuk bermalam” ucap Viny memeriksa peta perjalanan.

“Oke deh” ucap semuanya kecuali Yuvia.

Sekitar 20 menit mereka berjalan mengikuti jalan setapak berlumuran tanah, mereka akhirnya sampai di pos ke-5. Di sana sudah ada mmm… wush…!!! seorang vedadari bersayap menghembuskan angin badai. Tunggu, masih ada satu lagi seorang gadis seksi dengan kedipan genitnya. Dah itu terlalu lebay oke, gampangnya udah ada kak Ve sama kak Naomi di sana.

“Hay semuanya!” sapa kak Ve dan kak Naomi bersamaan pada kelompok Guntur cs.

“Hay kak” sapa Rendy. Sedangkan Guntur hanya diam memandangi kecantikan kedua kakak kelasnya yang notabene menyandang status bidadari populer di sekolah.

“Woy om!” Rio menyadarkan Guntur.

“Ishh…. apaan dah. Gangguin aja dah lu” ucap Guntur sedikit kesal.

“Hai Rendy” cling! Wink genit 3 kali yang menghasilkan critical damage. Rendy hanya mengangguk bingung sedangkan Guntur yang mengira kedipan itu untuknya sudah mimisan dan berbusa mulutnya.

“Om sadar om. Astagfirullah kak, over dosis wink ini” Rio menahan tubuh Guntur yang tergeletak di rumput.

“Ada-ada aja” Rendy menggeleng pelan.

“Kak, hmm… di pos 5 ini kita suruh ngapain?” tanya Shani.

“Oh, nggak ada tugas kok di pos 5. Kami di sini Cuma membimbing ekspedisi para siswa untuk segera mencari tempat istirahat sebelum malam tiba” jelas kak Ve.

“Oh gitu” Gre dan Viny hanya mengangguk pelan.

“Eh, Yuv. Gimana?” kak Ve melirik ke arah seorang pemuda yang sibuk melerai kedua pemuda dengan tingkah konyolnya itu.

“Gimana apanya?” Yuvia hanya heran. Sedangkan Shani hanya was-was mendengar percakapan kedua kakak beradik itu.

“Udah ada pendekatan?” kak Naomi ikut nimbrung sambil menaikkan sebelah alisnya.

“Ish…apaan sih!” Yuvia hanya mengelak malu.

“Iya deh iya. Kan kakak udah pernah bilang. Benci bisa jadi cinta loh” ucap kak Ve.

“Terserah” Yuvia hanya bergedik menyilangkan kedua tangannya di depan dengan tatapan bete dan jutek.

“Eh, kakak pamit ke posko lagi ya. Rendy, Guntur, Rio, kakak pamit balik dulu. Dah~” kak Ve dan kak Naomi berpamitan kembali menuju posko di buper.

“Iya kak, hati-hati” ucap semuanya.

“Dah dah, liat udah sore nih. Mau maghrib, mendingan kita cari tempat istirahat dan cepet bangun tenda.” Rendy melirik jam tangannya.

“Yaudah yuk” ucap semuanya.

—o0o—

Sore telah tiba, kian berganti malam. Rendy dan kawan-kawan sedang membangun tenda. Kini mereka sudah sedikit bisa untuk mengatasi membangun tendanya masing-masing. Meskipun bagian cewek masih sedikit ada kendala. Bagian tenda putri hanya tinggal menyusun tongkat tengah. Shani yang melakukan tugas itu, tapi sedikit kesulitan.

“Duh, kok susah banget ya” Shani masih mencoba-coba sedari tadi.

“Sini aku bantuin” Rendy memegang  tongkat itu bersama Shani. Tapi Shani hanya diam, berusaha tidak menganggap keberadaan pemuda itu. Dia hanya bingung mengapa Shani sedari tadi seperti itu.

“Dah selesai” ucap Rendy. Sedangkan Shani hanya berlalu pergi keluar tanpa mengiraukan Rendy.

“Aku salah apa?” batin Rendy sambil melagkahkan kakiknya keluar.

Semuanya sedang berkumpul di luar tenda. Menyaksikan matahari terbenam bersama di kala jingganya langit senja. Sementara lainnya sedang menyiapkan beberapa lampu emergency karena tadi tidak sempat mencari kayu bakar untuk penerangan.

“Weh, mantap nih. Asek… mataharinya mau terbenam” ucap Guntur senang.

“Langitnya indah tuh mah” ucap Yuvia pada Viny.

“Iya baby dino. Eh, selfie yuk” ajak Viny pada Yuvia.

cdl

Beberapa gambar mereka berdua ambil. Hingga Viny merasa kurang dan akhirnya…

“Eh, kita selfie bareng yuk!” ajak Viny pada semuanya.

“Ayo!” Rio dan Guntur semangat sedangkan Rendy hanya menahan tawa.

“Ayo Ren, kamu juga” ucap Viny.

“Ya deh, iya” Rendy berlari kecil menuju mereka semua.

“Siap ya!

1…

2…

3…!”

CEKREK

“Liat dong” Yuvia langsung merebut kamera DSLR milik Viny itu.

“Wih keren om. Pemandangannya” ucap Rio.

“Ya iyalah, ada gue di situ. Bagus deh jadinya itu foto.” Semua hanya memasang wajah datar mendengar ucapan Guntur.

“Eh hehe…” Guntur hanya menggaruk kepalanya pelan.

*****

Malam pun tiba. Sekitar sudah pukul 8 malam. Sebagian sudah ada yang tidur. Guntur sudah tidur, sedangkan untuk para cewek, Gre juga sudah tidur dikarenakan belum pulih betul ditemani Shani. Selain itu, Viny dan juga Yuvia juga sedang ada di dalam tenda. Ya sekedar mengecek sosmed sembari menunggu terlelap untuk tidur. Rendy dan Rio masih mengawasi di depan tenda bermodalkan lampu senter dan juga lampu emergency.

“Yo, dingin juga ya” ucap Rendy menggosok-gosokan kedua tangannya.

“Hmm… mending kita cari kayu bakar” usul Rio.

“Ide bagus tuh.”

“Yaudah yuk, kita cari” Rio hendak berdiri, tetapi ditahan oleh Rendy.

“Dah nggak usah, biar gue aja. Lu di sini aja jagain mereka. Lagian si Guntur udah tidur, nanti siapa yang jagain mereka kalo lu ikut.” Rendy berdiri mengambil senter dan ranselnya.

“Tapi….”

“Dah, gue nyari dulu” ucap Rendy.

 

Di tenda cewek.

“Yuv, aku duluan ya tidurnya. Udah gantuk nih, liat udah jam 9 malem” ucap Viny dengan matanya yang sayup-sayup.

“Eh nanti dulu, anterin aku pipis dulu. Kebelet nih, aku takut sendirian.” Yuvia kembali memasang ekspresi wajah menahan gelisah.

“Ya jangan jauh-jauh pipisnya. Hoamz…” Viny sudah terlanjur terlelap tidur.

“Iihh… mamah dino bangun!” Yuvia terus menggoyang-goyangkan tubuh Viny tetapi hasilnya nihil, Viny sudah terlanjur terlelap ke alam bawah sadar mimpinya.

“Huftyup… yaudah deh” Yuvia hanya cemberut. Dengan cara paksa ia menarik tangan Viny

*****

PLAK!

CTAP!

PLES!

“Anjir, nyamuknya udah kayak vampire aja” Rio terus saja menangkis serangan dari para nyamuk ganas itu.

“Ini nyamuknya peliharaan vampire kali” gumam Rio.

“Dah ah, mendingan gue nemenin om Gun masuk ke tenda. Njay nyamuk banyak banget, mana lupa bawa lotion lagi” Rio menggeleng pelan dan masuk ke dalam tenda. Tak sengaja, ia berpapasan dengan Yuvia dan Viny yang hendak keluar dari tenda.

“Eh Yuv, mau kemana?” tanya Rio.

“Kebelet. Dah, urusan cewek pokoknya” Yuvia masih menarik tangan Viny yang masih sayup-sayup itu.

“Mau kemana zeh… ba..by dino” Viny perlahan tersadar dan mengucek matanya.

“Dah yuk Vin” ucap Yuvia menarik paksa tangan Viny.

“Parah… maksa banget itu bocah. Ada-ada aja” Rio kemudian melanjutkan niatnya yang ingin lekas tidur.

—o0o—

Sudah beberapa lama hingga sedikit jauh masuk ke hutan dan meninggalkan area tenda. Rendy masih mengumpulkan beberapa kayu bakar. Dinginnya malam menusuk tidak membuatnya gentar sedikit demi sedikit mengumpulan beberapa kayu bakar itu.

“Segini kayaknya udah cukup deh” batin Rendy yang masih tegak di kedinginan malam itu. Kemudian ia mencoba mencari jalan pulang kembali ke tendanya dengan penerangan senter seadanya.

~o0o~

Sudah semakin masuk ke dalam hutan, entah seberapa jauh dua gadis itu pergi meninggalkan tendanya.

“Duh mana yah, di sini aja deh” ucap Yuvia.

“Ya ampun! Jauh banget Yuv” Viny baru sadar karena ia baru membuka matanya penuh. Melihat ke sana kemari di keadaan gelap dengan remang-remag penerangan cahaya lampu senter.

“Dah diem aja deh. Jagain ya” ucap Yuvia lalu pergi ke semak-semak. Viny hanya mengangguk ragu dengan memegang sebuah senter di tangannya yang merupakan satu-satunya senter yang mereka bawa. Masih waspada mengawasi ke sana kemari dengan sorot lampu senternya.

HUG!

GUG! GUG!

HUG!

Keadaan semakin menakutkan. Suara burung hantu terdengar entah dari sisi mana membuat bulu kuduk Viny berdiri dan merasakan merinding yang dahsyat di bagian lehernya.

Dia mengusap bagian lehernya untuk mengatasi bulu kuduknya yang berdiri. Tiba-tiba…

KRESEK!

Sumber suara di atas pohon. Langsung saja senternya ia arahkan ke atas. Benar saja, ada seekor burung hantu menghadap ke belakang, hanya menunjukan sisi punggungnya.

“Oke Viny tenang. Itu Cuma burung hantu” Viny masih megatur nafasnya. Burung itu sedikit bergerak. Memutar lehernya menghadap ke Viny, sedangkan tubuhnya masih memperlihatkan bagian punggung.

“A-apa?!?! Viny menutup mulutnya. What?! Mata kuning tajam menyala dari seekor burung hantu itu. Memperlihatkan kepalanya yang bisa berputar 180 derajat. Senternya masih ia pegang dengan gemetar.

“Mamah dino?” Yuvia kini telah selesai dan hendak menemui Viny yang berjaga di balik semak-semak.

*****

HUG!

Suara burung hantu itu terdengar lagi.

AUUU….!!!

GUG! GUG! WUUU…!!!

Kini terdengar suara lolongan serigala. Viny sudah tak kuat akan ketakutannya.

KRESEK!

“Lari…!!!” dengan sekuat tenaga tanpa menghiraukan apa pun, Viny berlari dengan kencangnya. Ranting pohon dan semak belukar yang di depannya hanya ia tepis menggunakan tangan saking takutnya dan berlari tak tentu arah menurut keyakinannya.

“Mamah dino!!! Tungguin aku!!!” ternyata itu Yuvia. Kemunculannya membuat Viny takut hingga berlari. Yuvia juga tengah berlari di tengah gelapnya malam.

“Hosh… hosh… hosh…” Yuvia merunduk pelan di tengah gelap gulitanya malam. Kesan mencekam seakan terus menghantui. Dia sedikit masih bisa mengatasi rasa takut tersebut.

“Huuhuu… aku takut” kecemasan timbul di tengah wajah cantiknya. Dia hanya memeluk tubuhnya sendiri dengan kedua tangannya. Berjalan maju tanpa penerangan yang jelas. Hanya cahaya bulan purnama yang menembus pohon yang menerangi langkahnya. Tiba-tiba…

KRETK…

CTAK…

Sebuah suara misterius datang. Sekelebat bayangan hitam ke sana kemari berkeliaran. Yuvia hanya mundur sembari menutup mulutnya, berharap ia tidak membuat suara yang bisa di dengar makhluk misterius itu. Ia terus berjalan mundur…

CTAK!

Kakinya tersandung pohon yang membuatnya jatuh dikarenakan ia berjalan mundur. Tanpa ia sadari, sesuatu dari dirinya juga terjatuh.

“Aduh…” ia masih mengusap bagian sakit di punggungnya.

TAP!

TAP!

TAP!

Suara langkah kaki terdegar. Ia melihat dengan tatapan waspada sekaligus takut ke sana dan kemari.

“Fyuh… untung aja” ia lega dan berdiri. Saat ia hendak berbalik ke belakang…

KRESEK…

“Aaa….aarrkkhhh….!!!”

—o0o—

“Hosh… hosh…” Viny masih berlari dan akhirnya menemukan sebuah cahaya. Ya benar, dia akhirnya sampai di tenda mereka dengan pakaian yang agak kusut karena terjal dari semak-semak dan ranting pohon yang tumbuh liar dan peluh keringat membasahi tubuhnya. Langsung saja ia masuk ke tenda cowok dan membangunkan Guntur dan Rio.

“Yo! Tur! Bangun…!!!” Viny menggoyangkan tubuh kedua pemuda itu.

“Hmm… apaan sih?” Rio dan Guntur masih mengucek matanya.

“I…i-itu… Yu-Yuvia ilang!!!” Viny melancarkan kata-katanya sambil mengatur nafasnya.

“Apa?!?!?!” Rio dan Guntur langsung bangun. Tapi karena tidak melihat…

JDUK!

“Aduh!” kepala Rio dan Viny berbenturan satu sama lain. Tapi karena tidak seimbang, Viny jatuh di atas Rio. Untung dia masih sempat menahan tubuhnya. Mereka saling memandang, cukup lama hingga…

“Woy! Kalian nggak bisa ngelihat situasi apa?! Liat nih, di sini ada jomblo yang merana!” Oke gue paham. Si Guntur kasian tuh. Langsung saja Rio bangun dan membenarkan posisi duduknya.

“So-sorry…” ucap Viny menunduk malu sambil meminta maaf.

“Eh, aku harusnya yang bilang gitu” ucap Rio menggaruk kepalanya pelan.

“Ini ada ribut-ribut apaan sih?” tiba-tiba, Shani dan Gracia datang dari tenda sebelah karena suara gema riuh yang membangunkan tidur mereka.

“Eh bentar-bentar. Si Yuvia ilang Vin?” tanya Guntur.

“Iya” Viny menjawab pelan.

“Kok bisa?” tanya Shani.

“Tadi kan aku diajak pipis ke belakang. Terus kita masuk ke hutan. Abis itu udah kan, nah pas itu tuh ada burung hantu yang serem sama suara serigala. Ya aku takut dan langsung lari ninggalin si Yuvi. Lagian burung hantunya aneh, masa kepalanya bisa muter-muter gitu kan serem, aku takut dan langsung lari jadinya” jelas Viny dengan nada bersalah.

“Yaelah Vin, burung hantu emang kepalanya bisa muter 180 derajat kali” -_- ucap Guntur.

“Nah, terus gimana sekarang?” tanya Shani dan Gre.

“Eh tunggu-tunggu. Tadi si Rendy juga nyari kayu bakar dan belom balik lagi sampe sekarang” ucap Rio.

“Jadi…” Shani menggantungkan kalimatnya.

Mereka semua saling menatap satu sama lain dan secara bersamaan “Rendy dan Yuvia ilang…?!?!?!”

-To Be Continued-

Created By      :  rezalical

Twitter            : @Rendyan_Aldo

 

 

 

 

 

Iklan

7 tanggapan untuk “Directions The Love and It’s Reward, Part 11

  1. Adegan orang ilang waktu kemah di hutan kayak nya udah banyak deh thor, kenapa gak nyoba hal baru misalnya digigit serigala, jatuh ke jurang, atau diculik sama tarzan gitu? :v

    Suka

  2. Wa getok lu pake mjolnir~
    Ya kali gue mau bikin kek GGS -,- lagian jatuh ke jurang ama diculik tarzan kagak masuk akal di dunia nyata. Thanks dah mampir, tunggu aja kejucraf* eh kejutan di part 1000~~

    Suka

    1. Ya ada sih dikit² 😂 lemot mb. Lagian bagian socmednya kan nggaj menonjol bgtz. Paling itu anak sama ibu dino cuma ngecekin postingan yg belom dilihat dari rumah. Bisa aja banyak notif yg belom dibaca. Bukan mau upload atau semacamnya ✌

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s