Saat Cinta Merubah Segalanya 2, Part 1

Dua tahun sudah berlalu. Kini Robby telah kuliah di salah satu universitas ternama di kotanya. Semuanya telah berubah semenjak kepergian Shania keluar negeri. Kini Robby menjadi lebih tertutup? Dia menjadi agak cuek dengan sekitarnya? Ah, mungkin lebih tepatnya ia menutup hatinya untuk semua perempuan yang mendekatinya. Karena hatinya telah dimiliki seseorang yang berada jauh darinnya sekarang.

Tetapi itu bukannya hal wajar bukan? Perasaan yang sangat mencintai kepada seseorang. Dan satu tahun belakangan ini Robby menjadi uring-uringan, karena satu tahun belakangan ini Shania tidak lagi menghubunginya.

Entah karena apa Shania tidak lagi menghubunginya, dan itu membuat Robby menjadi kesal? Rindu? Khawatir? Entahlah, yang pasti ia menjadi uring-uringan satu tahun belakang ini. Robby selalu menunggu kabar dari Shania, dan ia juga selalu menunggu Shania pulang.

Alarm berbunyi sangat keras sekali di samping tempat tidur. Robby terbangun dari tidurnya. Kini ia tinggal sendirian di apartement milik Naomi. Padahal semua orang yang berada di rumah, menolaknya agar tidak tinggal sendirian di apartement. Tetapi Robby tetap pada pendiriannya, ia pun tinggal sendirian di apartement milik Naomi.

Terkadang satu minggu sekali Naomi dan Yupi mengunjunginya, entah itu melihat kondisi Robby, Naomi memberikan uang jajan untuk Robby atau memberikan keperluan yang diperlukannya. Dan mungkin hanya untuk bermain saja ketika mengunjunginya.

Robby bergegas masuk ke kamar mandi, karena ia ada kelas pagi ini. Setelah selesai mandi dan berpakaian, Robby pun mengambil tasnya kemudian mengambil kunci mobilnya yang ada di dalam tas miliknya.

Setelah itu, ia pun keluar dari apartementnya dan pergi menuju kampusnya…

~

Hari sudah mulai siang, Robby baru saja selesai kuliah. Dan kini ia berjalan menuju kantin, ia merasa lapar sejak tadi. Karena ia hanya meminum susu yang dibelinya tadi, dan ia pun tidak memakan apa-apa.

Robby memesan makanan dan minuman untuknya, kemudian ia pun duduk di kursi ujung sebelah kanan.

Baru saja ia duduk, ada yang menepuk bahunya..

“Lo udah kelar?”

“Iye, gue baru kelar ini dari si botak.”

“Gila lo, kualat baru tau rasa lo.” Orang tersebut pun duduk di hadapan Robby.

“Yee, dia emang botak kali,” ucap Robby.

By the way, lo sendirian? Reizo sama Aldy mana?” tanya orang tersebut.

“Paling masih ada kelas kali mereka Ben, kan beda jurusan,” jawab Robby.

Ah iya, yang barusan mengobrol dengannya itu adalah Benny, teman barunya ketika masuk kuliah.

Mereka pun berbincang-bincang, sampai kedua temannya datang. Kemudian mereka pun pergi bersama, entah kemana…

Di lain tempat, atau lebih tepatnya di sebuah airport, kini seorang perempuan baru saja mengambil barang-barangnya. Kemudian ia pun berjalan keluar dari airport tersebut. Ia menyetop sebuah taksi, dan masuk ke dalam taksi tersebut.

Perempuan tersebut duduk menghadap kaca jendela..

“Udah lama rasanya enggak pulang ke sini,” gumam perempuan tersebut.

Kemudian perempuan tersebut, mengambil handphone miliknya yang ada di dalam jaket. Ia melihat wallpaper handphonenya yang memperlihatkan dirinya dan seorang laki-laki yang ia rindukan.

“Gimana kabar kamu? Kamu masih punya perasaan yang sama kayak aku kan? Aku kangen,” lirihnya pelan.

Setelah itu, ia membuka lockscreen handphonenya, dan mengetik sebuah nomor untuk ditelponnya.

“Halo?”

“Lo dimana?”

“…”

“Alamat rumah lo dimana?”

“…”

“Oke, gue langsung ke sana ya? Capek gue nih, lagian gue gak mungkin pulang ke rumah juga.”

“…”

“Iya ah bawel, dah bye.”

Ia pun mengakhiri telpon tersebut. Kemudian ia memberitahukan sebuah alamat rumah pada supir taksi tersebut, untuk mengantarnya ke alamat rumah itu…

~

Robby baru saja sampai di apartementnya, kemudian ia melepas sepatu dan berjalan menuju ruang tengah. Ia duduk di sofa, kemudian ia pun merebahkan tubuhnya di sofa. Robby mengambil handphone di saku celananya dan membuka gallerykenangannya bersama Shania dulu.

“Gimana kabar kamu? Perasaan kamu masih untuk aku kan? Asal kamu tau, hati ini udah untuk kamu seutuhnya Shan,” lirih Robby.

Ia memejamkan matanya, mencoba menahan rasa rindu yang selama ini selalu ia rasakan. Menahan rindu itu sulit pikirnya. Ia sangat rindu sekali dengan perempuannya ini.

Drt..drrtt..drtt..

Robby membuka matanya, dan menatap layar handphonenya.

“Gre?” batin Robby.

Robby pun mengangkat telpon dari Gre tersebut.

“Halo Rob?”

“Iya Gre? Ada apaan?”

“Ngg, lo lupa hari ini?”

Dahi Robby berkerut, hari ini? Ada apa dengan hari ini, pikirnya.

“Hari ini? Emang ada apaan?”

“Haaah, sudah gue duga lo pasti lupa. Kita kan mau ngerjain tugas Robby.”

“Aish, gue lupa Gre hehe. Lo sekarang dimana?”

“Gue udah pulang, kita ngerjain di rumah gue aja deh.”

“Oke, kirim alamat rumah lo. Biar gue langsung otewe.”

“Oke.”

Dengan malasnya Robby pun bangkit dari rebahannya, dan berjalan keluar dari apartement menuju rumah Gre..

~

Robby kini telah sampai di rumah Gre, ia sedang menunggu Gre di dalam mobilnya. Sejak berada di depan rumahnya, Robby langsung mengirimkan pesan bahwa ia telah di depan rumah. Tetapi cukup lama Robby menunggu, Gre belum keluar juga dari rumah. Atau balasan pesan pun tidak ada sama sekali..

Tak berapa lama, kini pagar rumah tersebut terbuka. Gre berjalan menuju mobil Robby. Robby pun keluar dari mobilnya. Gre ini adalah teman sejurusan dengan Robby, dan ia juga mendapatkan tugas kelompok bersama Robby. Nama Gre ini sebenarnya Shania Gracia, dan Robby sering memanggilnya dengan Gre yang cukup simple. Daripada ia memanggil Shania, itu membuat Robby ingat saja dengan Shania yang cukup lama tidak ada kabarnya..

“Maaf lama, tadi gue lagi ngomong sama sepupu gue jadi lupa ngecek hape deh. Yaudah yuk masuk,” ucap Gre.

Robby mengangguk dan mengekori Gre dari belakang.

“Kita ngerjain tugasnya di belakang aja ya?” tanya Gre.

“Terserah lo aja, gue sih oke-oke aja ngerjainnya dimana,” jawab Robby.

“Di toilet mau?” Gre terkekeh pelan dengan candaannya.

“Enggak di toilet juga kali,” ucap Robby sebal.

“Yaudah, lo ke belakang aja duluan. Di gazebo ya kita ngerjainnya, gue mau ngambil buku dulu sama alat tulis,” ucap Gre yang berlalu menuju kamarnya.

Robby pun berjalan ke belakang, dan ia berjalan kearah gazebo yang terletak di samping kolam renang. Robby duduk di sana, ia menatap sekelilingnya. Perasaannya saja atau ini memang benar, sedari tadi ia tidak melihat orang tuanya Gre. Mungkin lagi kerja pikirnya.

Tak berapa lama kini Gracia datang dengan membawa beberapa buku beserta alat tulis. Gre duduk berhadapan dengan Robby.

“Lo sendirian doang?” tanya Robby.

“Ya begitulah, orang tua gue lebih mentingin bisnis dari pada anaknya yang cantik ini,” jawab Gre.

“Pede banget lo,” cibir Robby.

“Emang, kenapa? Eh tunggu dulu, lo enggak mau ngapa-ngapain gue kan?” Gre menatap Robby dengan tatapan takut(?).

“Ya enggak lah, enak aja lo. Lo kira gue mau ngapain? Orang cuma nanya doang,” ucap Robby lesu.

Gre terkekeh pelan, “Yaudah yuk, kita kerjain tugasnya biar kelar hehe.”

Mereka berdua pun mengerjakan tugas bersama-sama, tetapi dengan cara dibagi rata supaya cepat selesai. Dan Robby kebagian tugas yang sulit, mau tidak mau ia akan lama mengerjakan tugas ini.

Hari sudah menjelang sore, kini Robby telah selesai mengerjakan tugasnya di rumah Gre. Sedangkan Gre sudah sejak lama selesainya, dan ia membantu Robby juga untuk menyelesaikan tugasnya.

“Akhirnya, selesai juga,” ucap Robby yang meregangkan otot-otot tangannya. Karena sangat pegal sekali kelamaan menulis.

“Tunggu bentar ya, gue ke dalam dulu. Gue lupa belum buatin minum,” ucap Gre.

Robby mengangguk menanggapi ucapan Gre, dan Gre pun berlalu masuk ke dalam membuatkan minum untuk Robby.  Tak berapa lama, Gre pun kembali dengan membawa dua gelas minuman dingin berwarna merah.

“Nih diminum dulu,” ucap Gre yang menaruh gelas dihadapan Robby.

Robby mengangguk, kemudian ia pun meminum minuman tersebut.

“Gre!!”

Robby menatap Gre sambil menaikkan alisnya seolah-olah bertanya ‘siapa?’

“Itu sepupu gue, dia baru aja pindah. Terus gue suruh tinggal di sini aja, biar bisa nemenin gue,” ucap Gre.

Robby mengangguk-nganggukkan kepalanya menanggapi ucapan Gre.

“Gue dibelakang Shan!!” teriak Gre.

Dahi Robby berkerut, ‘Shan?’ apa semua keluarga Gre mempunyai nama belakang Shania, pikirnya.

Dan kini seorang perempuan baru saja keluar dari rumah, dan berjalan menuju gazebo tempat Robby dan Gre sedang berada.

“Ish! Aku nyari kamu tau, rumah segede gini aku takut sendirian.”

“Kan tadi udah gue bilang, gue di belakang ngerjain tugas sama temen gue,” ucap Gre lesu.

Perempuan tersebut pun menengok kearah Robby, “Eh, masih ada temen kamu rupanya ya.”

Robby tersenyum kikuk pada perempuan tersebut.

“Nah Rob, kenalin nih sepupu gue Shani,” ucap Gre.

“Robby.”

“Shani.”

Mereka saling berjabat tangan dan keduanya pun saling tersenyum. Kemudian ia melepaskan tangannya.

“Yaudah deh, gue balik ya? Udah sore banget nih,” ucap Robby.

“Loh udah mau balik? Baru juga ketemu,” ucap Shani mengerucutkan bibirnya.

Dahi Robby kembali berkerut, sikap Shani yang begini apa pada semua orang? Atau pada dirinya saja? Pikirnya.

“Ya lain kali kan bisa ketemu,” ucap Robby.

Shani mengangguk sambil memamerkan senyum termanisnya.

Robby pun sempat terperangah dengan senyum Shani, yang menurut Robby itu adalah senyum termanis setelah senyuman milik Shania. Sedangkan Gre melihat gerak-gerik keduanya, ia seperti merasakan ada sesuatu yang dirasakan oleh mereka.

“Yaudah yuk, gue anter lo ke depan,” ucap Gre yang sedari tadi diam.

Robby mengangguk, kemudian ia pun berjalan beiringan bersama Gre ke depan. Robby masuk ke dalam mobilnya, dan dengan perlahan melajukan mobilnya..

“Gue pulang Gre.”

“Hati-hati Rob.” Gre melambaikan tangannya ketika mobil Robby telah melaju.

Sudah tak terlihat lagi mobil Robby, Gre pun masuk kembali ke dalam rumahnya. Ia mengunci pintu, dan ketika berbalik ingin berjalan menuju kamarnya. Ia melihat Shani yang berada di depan melihat ke luar.

“Ngapain lo di sini?” tanya Gre.

Shani menggelengkan kepalanya.

“Jangan bilang kalau lo dari tadi di sini, terus ngeliatin gue tadi di luar,” tebak Gre.

Shani hanyar memamerkan giginya dan senyum tak jelas.

“Astaga lo, kenapa sih?”

“Aku sekampus sama kamu aja ya Gre?” pinta Shani.

“Terserah lo aja sih, nanti biar gue urusin deh.”

Shani mengangguk, dan berjalan melewati Gre, “Aku ke kamar dulu.”

Kayaknya Shani suka deh sama Robby.. pikir Gre, yang menatap punggung Shani yang kian menjauh.

 

*To be continued*

 

Created by : @RabiurR

 

Cuap-cuap Author :

Hai! Kita ketemu lagi nih hehe. Kemarin banyak minta season 2 nya kan ya? Nah ini, gue tepatin janji bikin season 2 buat kalian *kecupsatusatu*

Gimana? Semoga kalian suka deh ya. Gue ngerasa ini makin gaje deh ya, entah kemana jalan ceritanya nanti pantengin aja terus. Jangan pada bosen. Tungguin kelanjutannya oke?

Baca juga cerita di wattpad punya gue deh ya https://www.wattpad.com/story/48349797-hear-me

*Promosi*

Oke, sekian dari gue. Pai-pai~

Iklan

15 tanggapan untuk “Saat Cinta Merubah Segalanya 2, Part 1

    1. Akhirnya dilanjut juga ya bang haha. Lama banget bang nunggunya, kangen banget sama gue ya? :v
      Gara-gara lo bang anjir, nyepam foto Shani mulu sih di twitter 😂

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s