Vepanda part 3

Rezza dan siswi tadi berjalan berdua ke parkiran. Di sana hanya ada beberapa motor anak yang sedang ekstrakulikuler.

“Nih kamu pake helmnya,” suruh Rezza sambil memberikan helmnya pada siswi tadi.

“Terus kamu pake apa?” tanya siswi itu.

“Aku gapapa, kamu aja yang pake,” jawab Rezza sambil menaiki motornya.

Setelah Rezza menyalakan motornya, siswi itu meniki motor Rezza dan mereka berdua keluar dari parkiran.

“Kamu mau langsung pulang ke kosan kamu ato mampir ke kosan aku dulu?” tanya Rezza memperlambat laju motornya.

“Mampir dulu deh, lagian juga aku udah lama nggak ke kosan kamu,” jawab siswi itu tersenyum.

“Yaudah tapi ke warung dulu ya beli makanan soalnya di kosan aku lagi nggak ada makanan,” ucap Rezza.

“Iya sayang…,” ucap siswi itu mempererat pelukannya.

Rezza menghentikan motornya di depan rumah makan masakan padang.

“Kamu mau makan apa?” tanya Rezza.

“Beli satu aja deh, ntar dimakan berdua soalnya aku juga belom laper banget,” jawab siswi itu.

“Yaudah kalo gitu,” ucap Rezza lalu turun dari motornya dan masuk ke rumah makan itu.

Beberapa saat kemudian Rezza keluar dari rumah makan itu dengan membawa kantung plastik yang cukup besar.

“Nih pegangin,” ucap Rezza memberikan kantung plastik itu kepada siswi tadi.

“Kamu beli apa aja kok kayaknya banyak banget,” tanya siswi itu.

“Beli nasi 5 bungkus, gorengan, sama es teh,”

“Kok banyak banget nasinya?”

“Itu buat anak kos yang lain,”

“Ahhh… kamu baik banget sih,” ucap siswi itu sambil mencubit pipi Rezza.

“Ehh… sakit tau,” ucap Rezza memegangi pipinya.

“Hihihi…,” siswi itu hanya tertawa kecil.

Mereka berdua pun melanjutkan perjalanan ke kosan Rezza.

Sesampainya di kosan, Rezza memakirkan motornya di garasi. Sedangkan siswi itu sudah masuk ke kosan.

Di ruang tamu kosan siswi itu melihat ada dua orang cowok sedang berbincang.

“Tumben kamu kesini Ve?” tanya salah satu cowok itu yang sedang berbincang itu.

“Iya dit, mumpung lagi nggak sibuk jadi mampir ke sini dulu,” jawab siswi itu yang ternyata adalah Ve.

“Ke sini sendiri ato bareng sama Rezza?” tanya cowok tadi yang bernama Adit.

“Sama Rezza kok,” jawab Ve tersenyum.

“Yaudah sini duduk dulu Ve,” tawar cowok satunya lagi.

“Iya…,” jawab Ve sambil duduk disofa depan mereka berdua.

“Kamu Toni kan?” tanya Ve pada cowok yang menyuruhnya duduk tadi.

“Iya, hehe…,” jawab Toni cengengesan.

“Oiya ini ada nasi, tadi dibeliin sama Rezza,” ucap Ve sambil mengambil satu bungkus nasi dan dua bungkus es teh lalu meletakkan sisanya di atas meja.

“Duhh… jadi enak nih, hehe…,” ucap Adit.

“Nggak enak woy! Yang bener jadi nggak enak!” ucap Toni kesal.

“Hihihi…,” Ve hanya tertawa kecil.

“Kok lu berdua udah pada pulang? Biasanya kan masih ntar,” tanya Rezza saat masuk.

“Kita kan lagi PKL, jadi pulangnya nggak kaya biasanya,” jawab Toni.

“Emang lu PKL dimana?” tanya Rezza sambil duduk disebelah Ve.

“Di rumahnya Sulis hahaha…,” jawab Adit tertawa.

“Lohh… kok dirumahnya Sulis?” tanya Ve.

“Kan bapaknya dia punya toko, jadi daripada ribet nyari tempat PKL mending di rumahnya Sulis aja, udah jarang kerja, nilai pasti bagus, dapet gaji pula hahaha…,” jawab Adit tertawa.

“Enak bener hidup lu,” ucap Rezza.

“Yoi bro…,” ucap Toni sambil menyalakan rokok.

“Yaudah gue ke kamar dulu ya, yuk Ve,” ajak Rezza pada Ve.

“Yuk…,” jawab Ve.

“Jangan lupa dimakan nasinya,” ucap Ve pada Adit dan Toni.

“Iya pasti dimakan kok, tenang aja,” ucap Adit.

Setelah masuk kamar dan menutup pintunya, Rezza merebahkan tubuhnya dikasur. Sedangkan Ve hanya duduk disamping Rezza.

“Kamar kamu bau rokok banget sih,” tanya Ve.

“Iya soalnya pengharum ruangan aku abis, belom sempet beli lagi,” jawab Rezza.

“Capek banget hari ini,” ucap Ve sambil merebahkan tubuhnya disebelah Rezza.

“Emang kamu ngapain aja tadi di sekolahan?”

“Nggak ngapa-ngapain sih,”

“Lahh… terus kenapa bisa capek kalo nggak ngapa-ngapain,”

“Ya kan mikir terus jadinya capek, emangnya kamu, ke sekolah tapi nggak pernah mikir,”

“Eh? Kata siapa aku nggak pernah mikir di sekolahan?” tanya Rezza bangkit dari tidurnya.

“Kata aku barusan,” jawab Ve bangkit dari tidur dan menjulurkan lidahnya.

“Aku mikir kok,” ucap Rezza.

“Mikir apaan?” tanya Ve.

“Mikirin kamu lah,” jawab Rezza mencubit perut Ve.

“Ihhh… sakit tau,” ucap Ve memegangi perutnya.

“Sakit ya?” goda Rezza sambil mencubit perut Ve lagi.

“Ihhh… awas ya,” ucap Ve membalas mencubit perut Rezza.

Dan cubit-cubitan perut pun tidak bisa dihindari.

“Udah ah aku capek,” ucap Rezza menghempaskan tubuhnya ke kasur.

“Sama, aku juga capek,” ucap Ve merebahkan tubuhnya di sebelah Rezza.

“I love you…,” ucap Rezza menoleh ke arah Ve.

“I love you too…,” ucap Ve.

Perlahan mereka berdua mulai tertidur.

-di rumah Sinka-

“Sinka… cepetan turun, makan dulu,” teriak mamanya Sinka dari lantai bawah.

“Iya ma…,” teriak Sinka lebih kencang dari dalam kamarnya.

“Bangunin kakak kamu juga,” teriak mamanya sinka tak mau kalah dari sinka.

Dan mereka berdua pun saling meneriaki satu sama lain.

Beberapa saat kemudian, Sinka keluar kamar dan berjalan ke kamar Naomi yang berada disebelah kamarnya.

Tok… tok… tok…

“Kak bangun, makan malem,” teriak Sinka dari luar kamarnya Naomi.

“Iya bentar,” jawab Naomi sambil merenggangkan badannya.

Beberapa saat kemudian Naomi keluar dengan wajah yang masih mengantuk dan rambut yang berantakan.

Sinka terlihat menahan ketawa melihat kakaknya itu.

“Apa?” tanya Naomi.

“Gapapa hihi…,” jawab Sinka tertawa kecil.

Mereka berdua pun berjalan ke ruang makan.

“Ya ampun Naomi, kamu cuci muka dulu gih sana,” ucap mama setelah melihat Naomi.

“Iya, jelek tau kak mukanya hahaha…,” ucap Sinka tertawa.

Naomi tidak menghiraukan Sinka yang mengejeknya. Dengan wajah mengantuknya itu, Naomi berjalan ke kamar mandi dan mencuci mukanya.

“Kamu ngapain aja sih di kamar mandi? Lama banget,” tanya mama.

“Nggak ngapa-ngapain kok,” jawab Naomi sambil duduk disebelah Sinka.

“Kakak tau nggak? Aku tadi liat nenek sihir loh dirumah ini,” ucap Sinka mendekatkan wajahnya ke wajah Naomi.

“Di mana?” tanya Naomi menoleh ke arah Sinka.

“Nih yang barusan tanya ke aku, hahaha…,” jawab Sinka tertawa.

“Apaan sih, nggak lucu tau!” ucap Naomi kesal.

“Udah… jangan berantem terus, cepetan makan,” ucap mama.

Mereka bertiga pun makan bersama-sama.

Setelah makan, Naomi pergi ke ruang keluarga untuk menonton TV, sedangkan Sinka kembali ke kamarnya.

Sinka tiduran di kasur sambil memeluk boneka panda kesayangannya.

“Kira-kira besok bakalan seru nggak ya?” ucap Sinka dalam hati.

“Menurut kamu besok seru nggak?” tanya Sinka pada boneka pandanya.

Sinka diam beberapa saat dan befikir.

“Kayaknya aku udah mulai gila deh,” ucap Sinka dalam hati.

“Bodo amat ah, selamat tidur panda,” ucap Sinka pada boneka panda dan mempererat pelukannya.

-di rumah Melody-

Tuut… tuut…

“Hallo…,” ucap Melody.

“Iya kak, ada apa?” tanya seseorang yang ditelfon Melody yang tidak lain adalah Rezza, adikya.

“Gapapa, kakak cuma mau nanya kamu udah makan malam apa belom?” tanya Melody.

“Udah kok, baru aja selesai,” jawab Rezza.

Melody diam beberapa saat dan kembali memulai percakapan.

“Kakak kangen sama kamu, kamu gausah ngekos lagi ya,” ucap Melody sedih.

“Aku pengen belajar mandiri kak, lagian kan kita masih bisa ketemu disekolahan,” ucap Rezza.

“Iya sih, tapi rumah jadi sepi kalo nggak ada kamu,”

“Yaudah, kapan-kapan aku main ke rumah deh,”

“Besok ya,”

“Aku gabisa kalo besok, lusa aja ya kak,”

“Emang kenapa kalo besok?”

“Aku ada latian futsal besok,”

“Yaudah kalo gitu,”

“Maaf ya kak,”

“Iya gapapa,”

Keheningan kembali terjadi di antara mereka berdua.

“Oiya, tadi kamu kemana? Kok kakak nggak liat seharian,” tanya Melody.

“Tadi aku di kelas terus seharian, males mau keluar,” jawab Rezza.

“Udah gausah bohong, kakak tau kamu tadi nggak masuk ke kelas dari istirahat pertama, ya kan?”

“Eh?! Kakak tau dari siapa?”

“Dari Yupi, katanya kamu nggak masuk ke kelas lagi setelah istirahat pertama,”

“Iya sih, sebenernya aku nggak masuk ke kelas tadi,”

“Kamu mau sampe kapan sih gini terus?”

“Aku juga gatau kak bakalan sampe kapan,”

Melody tidak berkata apa-apa, dia hanya menangis.

“Yaudah, aku mau tidur dulu ya kak,” ucap Rezza menutup telfon dari kakaknya.

Melody masih menangis memikirkan adiknya itu.

-di kosan Rezza-

“Barusan siapa yang nelfon?” tanya Ve bangun dari tidurnya.

“Kak Melody, katanya dia kangen aku,” jawab Rezza.

“Terus?”

“Ya gitu deh, kak Melody nangis, dia nyuruh aku buat tinggal di rumah aja gausah ngekos,”

“Yaudah kalo gitu besok kamu jengukin kakak kamu sepulang sekolah, ajak jalan-jalan kemana gitu biar dia nggak sedih lagi,”

“Terus acara sama kamu besok gimana?”

“Dibatalin aja, kan masih bisa kapan-kapan kalo jalan sama aku,” jawab Ve tersenyum sambil memeluk Rezza dari belakang.

“Yaudah deh besok sama lusa aku tidur di rumah aja kalo gitu,” ucap Rezza.

“Nah gitu dong, itu baru namanya adik yang baik,” ucap Ve mengecup pipi Rezza.

“Iyaa…,” ucap Rezza tersenyum.

“Sekarang anterin aku pulang yuk, udah malem banget nih,” ucap Ve.

“Yaudah bentar aku keluarin motor, kamu siap-siap aja dulu, jangan sampe ada yang ketinggalan,” ucap Rezza pergi keluar dari kamar kosnya.

“Iyaa…,” ucap Ve tersenyum.

Setelah mengantarkan Ve pulang ke kosannya, Rezza merebahkan tubuhnya ke atas kasur dan mulai memejamkan matanya.

*to be continue*

Author : Luki Himawan

Iklan

5 tanggapan untuk “Vepanda part 3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s