Shinobi : My Eyes, part 4

*Flashback On*

Sagha pergi meninggalkan ruangan hokage.

“Asfani aku mempunyai sesuatu untukmu,” ucap Hokage.

“Apa itu ?,” tanyaku kepada Hokage.

“Sebelum melakukan misi ini Kagami menitipkan sesuatu padaku,” jawab Hokage.

“Apa itu ?,” tanyaku lagi.

“Ikut aku,” jawab Hokage.

Hokage mengajakku menuju suatu tempat.

“Kita sudah sampai,” ujar Hokage.

Tempat yang dimaksud Hokage adalah Rumah Sakit. Entah apa yang dia ingin tunjukkan. Kami memasuki Akhirnya kami tiba di ruang operasi.

“Sebelum Kagami menjalankan misi dia memintaku untuk menukar mata sharingannya dengan mata biasa,” jelas Hokage

“Kenapa Kagami sensei melakukan itu ?,” tanyaku.

“Mungkin dia sudah mempunyai firasat dia akan gugur dalam misi, oleh sebab itu dia mempercayakan mata sharingannya padamu agar mata sharingannya tidak jatuh ke tangan musuh, belakangan ini banyak terjadi kasus shinobi dengan doujutsu lebih banyak diincar untuk dibunuh dan diambil matanya,” jawab Hokage.

Aku terdiam sejenak, aku sedang berfikir bagaimana apa yang harus kulakukan nanti dengan sharingan milik Kagami sensei.

“Dia sudah mempercayai matanya padamu, jangan kecewakan kepercayaannya,” kata Hokage.

“Baiklah akan kuterima kepercayaan guruku,” jawabku.

Akhirnya kami melakukan proses transplantasi mata mataku kudonorkan untuk orang  tuna netra. Proses transplantasi mata ini memakan waktu yang cukup lama dan dibantu beberapa ninja medis terbaik di desa yang di ketuai ole Hokage sendiri. Setelah 2 jam proses transplantasi mata selesai.

“Bagaimana rasanya ?,” tanya Hokage.

“Seperti tidak ada perubahan,” jawabku.

“Coba kau aktifkan sharinganmu,” pinta Hokage.

            *Sriinnkk*

Ku aktikan sharinganku, aku dapat melihat aliran cakra milik Hokage dan beberapa ninja medis disini, dan aku juga merasakan kekuatan yang luar biasa dari sharingan.

“Sekarang bagaimana ?,” tanya Hokage lagi.

“Aku dapat melihat aliran cakra ninja yang ada disini aku juga mendapatkan kekuatan yang luar biasa dari mata ini,” jawabku.

“Sepertinya kau akan nyaman dengan mata barumu ini,” sahut Hokage.

Aku dan Hokage keluar dari rumah sakit.

“Oh ya, mata sharinganmu itu sudah berevolusi menjadi mangekyou sharingan kau harus tau kapan menggunakan kekuatan dari mangekyou sharingan, jangan berlebihan menggunakannya,” jelas Hokage.

“Baiklah,” jawabku aku pergi dari rumah sakit.

*Flashback off*

“Jadi begitu, pantas waktu itu dia tidak menggunakan sharingan sama sekali,” ucap Veranda dalam hati.

Tiba-tiba …….

*Duuaaarrr*

Terjadi ledakan di dalam gua, menimbulkan asap yang tebal, tiba-tiba muncul  segerombolan orang dari dalam gua.

*Sriinnnkkk* Aku mengaktifkan sharinganku.

“Akhirnya kita bertemu lagi,” ucap Shania.

Kulihat Shania, Naomi, dan 50 ninja yang mengenakan jubah akatsuki berada di hadapanku.

“Dasar pengecut, Kage bunshin no jutsu” kataku.

            *Buusshh*

Aku mengeluarkan banyak bunshin. Shania memerintahkan pasukannya untuk menyerang, para bunshinku maju untuk melawan.

Aku dan dua bunshinku melindungi Veranda. Shania dan Naomi datng menuju kami.

“Lepaskan dia,” suruh Naomi.

“Tidak akan,” kataku.

“Fuuton: Kaze no Yaiba,” ucap Shania, dia melempar belati angin ke arahku.

“Suiton: Suijinheki,” kataku, aku membuat dinding dari air.

“Suiton: Suiryuudan no jutsu,” bunshinku.

“Raikiri,” ucap bunshinku yang lain.

Bunshinku mengeluarkan naga air, sedangkan bunshinku yang lain mengeluarkan jutsu milik Veranda yang berhasil kutiru dengan sharingan, kamipun mengkombinasikan elemen air dan petir.

“Shoton: Kurenai no Kajitsu,” kata Naomi, dia membuat kubah dari kristal untuk melidunginya dan Shania.

Shania melempar beberapa jarum beracun ke arahku, aku menangkisnya dengan kunaiku

“Giliranku, Shoton: Omiwatari no Jutsu,” Naomi mengikatku dengan kristalnya

Shania melempar kembali jarum berancunnya.

“Sial aku tidak bisa menghindar lagi,” ucapku dalam hati.

Jarum itu semakin dekat padaku, aku tidak bisa apa-apa, kulihat pasukan bunshinku telah berhasil di kalahkan. Kemudian salah satu bunshinku berlari ke arahku untuk melindungiku dari jarum tersebut.

*Buussshhh*

Bunshinku yang terakhir menghilang.

Aku  menjadi terpojok sekarang. Tiba-tiba Sagha datang dari belakang.

“Lama sekali kau,” kataku pada Sagha.

Dia hanya diam lalu dia mengeluarkan pedangnya mencoba menebasku, aku berhasil menghindar.

“Kenapa kau lakukan itu ?,” tanyaku.

Sagha tidak menjawab, dia terus berusaha menebasku.

“Apakah dia dikendalikan,” pikirku.

            *Srriiinnnkk*

Aku mengaktifkan sharinganku untuk melihat aliran cakranya. Aliran cakra Sagha sangat normal, dia tidak terpangaruh oleh genjutsu atau sebagainya, dia melakukan semuanya atas kehendaknya sendiri.

Aku terus menghindar dari serangan Sagha, sampai aku tidak sadar Veranda berhasil melarikan diri.

“Apa yang membuatmu menyerangku ?,” tanyaku.

“Kau ingin tau ?,” tanya Sagha.

“Karna aku adalah anggota akatsuki,” jawab Sagha.

“Penghianat !!!,” teriakku, aku balik menyerang Sagha.

“Suiton: Suigadan,” aku mengeluarkan

“Doton: Doryuuheki,” Saghaa melindungi diri dengan benteng tanah.

“Naomi ayo bantu Sagha,” ajak Shania.

“Baik,” jawab Naomi.

“Shoton: Omitawari no Jutsu,” Naomi mengikatku dengan kristalnya.

Aku menutup mataku, berkonsentrasi, dan mencoba membalikan posisi seperti saat itu tapi Shania menusukku dari belakang dengan jarum beracunnya. Aku langsung merasa pusing dan pingsan.

~Author POV~

“Baiklah akan ku habisi dia” kata Sagha, dia mau menebas Asfani sampai.

*Wuuuiiiinnnggg*    

Seseorang akatsuki bertopeng muncul.

*Drrrrrrrr*

            Akatsuki yang lain muncul dari bawah tanah, dia memiliki sisi hitam, dan sisi putih, serta diselubungi oleh tudungg seperti tanaman Venus.

“Berhenti !!!,” perintah akatsuki bertopeng.

“Kenapa ?, kenapa aku tidak boleh membunuhnya ?,” tanya Sagha.

“Ada sesuatu yang ingin kuambil dari dirinya,” jawab orang bertopeng itu.

“Apa itu ?,” tanya Sagha.

“Sudah !!!, jangan banyak tanya aku yang akan mengurusnya,” jawab orang itu.

@Desa Konoha

“Baiklah karna kalian sudah ada disini pertarungan…” kata Anto, belum sempat dia selasai bicara, Rizal menyerangnya.

“Katon: Goukakyuu no Jutsu,” ucap Rizal, dia menyemburkan bola api yang masih belum sempurna dari mulutnya.

“Doton: Doryuuheki,” balas Anto, dia membuat benteng dari tanah.

“Juken,” Reza muncul dari belakang Anto dan menutup aliran cakra Anto.

“Bagus Reza” puji Rizal.

“Dasar keras kepala, aku-kan belum berkata “dimulai” kalau terlanjur begini, baiklah pertarungan dimulai!!!!,” kata Anto.

*Buuusssshhh*

“Sial ini hanya bunshin” ucap Rizal kesal.

“Mereka hebat juga,” kata Anto.

“Jangan remehkan mereka,” sahut Hokage.

Mereka bersembunyi di balik pohon.

BERSAMBUNG

 

Created by : Asfani Rahmatullah

Contact :

Facebook         : AsFani Ex

Twitter            : @As_Ex

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s