Last Love

Keynan POV

 “Key… bangun dong udah nyampe nih,”

Suara lembut kakakku berhasil membangunkanku dari tidur. Berkali-kali kukedipkan kedua mataku sambil berusaha mengumpulkan nyawaku secara perlahan. Aku menguap sambil melihat kearah luar melalui kaca jendela mobil honda jazz putih kakakku ini.

“Wha….what!?” Tanyaku setengah berteriak.

 

“Kenapa sih? Ayo deh buruan itu barang-barang kamu diturunin dulu,”

 

Masih dengan rasa terkagum-kagum dengan sekolah baruku ini, aku turun dari mobil menuju bagasi untuk membantu kakakku menurunkan barang-barang pindahanku.

 

SMA48, sekolah baruku. SMA bertaraf International yang terletak di ujung Indonesia ini merupakan salah satu SMA unggulan. Banyak yang mendaftar di sekolah ini tiap tahunnya, namun banyak juga yang tidak diperkenankan bersekolah disini.

 

Bukan karena anak itu bodoh atau apa, hanya saja peraturan sekolah ini begitu ketat dan selalu on time. Jadi pemilihan siswa barunya juga sangat…. susah(?)

 

Aku yang menggendong tas ransel merahku di punggung hanya dapat mengekori kakakku yang membawakan tas koperku. Kak Melody Nurramdhani Laksani, satu-satunya saudara kandungku yang dapat kuandalkan.

 

Sebenarnya aku juga memiliki satu kakak laki-laki, tetapi ia sudah menghilang entah kemana. Dulu, ayahku pernah bertengkar hebat dengannya yang menyebabkan kakakku itu kabur dari rumah.

 

Kak Melody menangis 1 minggu lamanya karena hal tersebut. Jujur saja tidak ada satu orangpun yang memberitahukan permasalahan tersebut padaku, kenapa kakakku itu pergi dan kenapa kak Melody sangat sedih karenanya.

 

“Dek,” panggil kak Melody

 

“Hmmm?” Aku menjawabnya tanpa menoleh. Aku malah asik melihat kearah Mading yang berada di sampingku.

 

“Scan dulu kartu ID mu, abis itu baru kamu terdaftar jadi murid disini,” katanya.

 

Aku mengangguk dan mulai mengeluarkan kartu ID milikku. Kugesekkan kartu tersebut pada alat yang ada di depanku yang terhubung dengan cpu komputer di sebelahnya.

 

Name : Rama Keynan Putra Laksani

Age : 16

Class : 1B

Room Number : 048

– Nicholas Alexander Hae

Student ID : 000712948

 

Setelah melihat profile ku di layar komputer, kak Melody pun langsung menunjukkanku tentang jalan-jalan mana yang harus di ingat saat bersekolah disini nantinya, juga peraturan-peraturan yang harus kutaati.

 

“Ok, jadi ini kantin sekolah, kamu kesini waktu istirahat doang dan jam bukanya juga cuma pas waktu sekolah aja. Gesekkin kartu ID mu disini, abis itu teken menu apa yang mau kamu pesen, trus kamu bayar deh disitu. Bebas mau bayar pake ATM atau Cash,” Jelas kak Melody panjang lebar

 

Kami berdua kembali berjalan, kini aku dan kakakku menaiki lift.

 

Ting !

 

Ia berjalan terlebih dahulu dan berhenti tepat di depan sebuah kamar bertuliskan ‘Room 048’. Oh, well, itu kamarku.

 

“Ini kamar kamu. Cara masuknya tinggal gesek kartu ID kamu itu trus tinggal masuk aja deh,”

 

“Oh, jadi orang lain ga bisa masuk ke kamar lain selain kamarnya sendiri dong?” Tanyaku

 

“Ya kalo murid biasa emang ga bisa, tapi kalo murid OSIS bisa. Soalnya dia punya wewenang khusus buat ngeliat apa yang dilakuin murid-murid di SMA ini,” jelas kak Melody. “Contohnya kakak. Kakak bisa masuk ke kamar kamu, pake ID kakak sendiri,”

 

Ia mulai menggesekkan ID nya, dan pintu pun terbuka lebar. Layar kecil di dekat gagang pintu memperlihatkan profile kak Melody.

 

Name : Melody Nurramdhani Laksani

Age : 17

Class : 2A

Room Number : 029

– Jessica Veranda

Student ID : 000382729

 

Aku melihat profile kakakku itu dan sedikit terkejut ketika melihat teman sekamarnya. Jessica Veranda! Pekikku dalam hati.

 

“Kok malah bengong? Masuk gih,”

 

“O…ah, ya.”

 

Aku mulai berjalan masuk sambil melihat keadaan kamarku itu. Kak Melody meletakkan koperku di dekat kasur lalu berbalik untuk keluar.

 

“Oh iya, jangan lupa ntar malem jam 7 ada pertemuan murid baru. File jadwal kegiatan sekolah selama 3 tahun kedepan udah kakak kirim ke kamu,” katanya sebelum benar-benar menutup pintu kamarku.

 

Kayaknya dia sibuk banget. Ga pernah-pernahnya kak Melody sesingkat itu ngejelasinnya, batinku.

 

Aku langsung saja menghempaskan tubuhku ke atas kasur sambil memejamkan kedua mataku. Lelah. Perjalanan selama 7 jam tadi membuatku lelah, meski aku hanya menggantikan kakakku untuk menyetir saat malam hari saja.

 

Cekrek

 

Pintu kamarku terbuka dari luar. Seorang anak tinggi yang menggendong tas ransel hitam di punggungnya terlihat di ambang pintu ditemani seorang kakak kelas yang mukanya sangat familiar bagiku.

 

“Oh, kayaknya temen sekamarmu udah dateng duluan,” kata kakak kelas itu.

 

Kak Veranda.

 

Anak tadi hanya mengangguk kecil sambil memasuki kamar kami berdua ini. Ia melemparkan tas ranselnya ke arah kasur bagiannya lalu melakukan apa yang kulakukan. Mengistirahatkan diri kami.

 

“Semoga kalian akur ya,” pamit kak Ve

 

“Eeh. Tunggu,” baru saja ada hal yang ingin kutanyakan, tetapi kak Ve sudah menutup pintu kamar dan melakukan tugasnya yang lain sebagai OSIS.

 

“Hhh~” anak itu menghela nafas panjang. Bahkan namanya saja aku belum tau.

 

“Lo yang namanya Nicholas itu?” Tebakku

 

“Hm. Dan lo Keynan Keynan itu kan?” Tebaknya

 

“Yep. Yaudah kalo gitu gue mau jalan-jalan dulu, lo gue tinggal ga masalah kan?”

 

“Yaelah nyantai aja jadi orang. Dah gih pergi gue mau tiduran dulu, ngantuk,” katanya mengusirku(?)

 

Aku mengenakan jaket biru milikku dan mulai keluar dari kamar. Kulihat kearah kiri, sebuah lorong panjang yang dikiri dan kanannya hanya ada kamar kamar dan kamar saja. Sementara diarah kanan juga sebuah lorong panjang namun tak terlalu panjang. Diujungnya ada sebuah lift yang tertutup.

 

Berjalan santai menuju lift sambil melihat-lihat pintu kamar memang agak membosankan. Tapi….-

 

Brugh!

 

Saat aku sedang membayangkan sesuatu, salah satu pintu kamar yang akan kulewati terbuka. Membuatku harus mencium kayu kasar pintu tersebut. Bisa-bisa dower mulut gue, batinku.

 

“Eh… maaf… maaf….” suara yang tak asing lagi bagiku.

 

Seorang gadis langsung mengulurkan tangannya hendak membantuku berdiri. Kutatap wajahnya. Tidak terlalu berubah dibanding wajahnya dulu. Matanya yang sipit membuatku menjadi teringat akan kenang-kenangan masa kecil yang kami berdua lewati.

 

“Heeyyy…. mau duduk disitu sampe kapan?”

 

Pertanyaannya membuyarkan lamunanku. Aku langsung berdiri tanpa bantuannya. Kulihat nomor kamarnya, 40. Lalu tanpa sengaja kulihat dalamnya, kamar yang berantakan.

 

“Oh iya. Nama kamu siapa? Aku murid baru disini,”

 

“Hm? Oh panggil aja Key. Kamu sendiri?”

 

“Aku Elaine, Elaine Hartanto. Salam kenal ya,”

 

“Iya salam kenal juga. Ngomong-ngomong kamu satu kamar sendiri?”

 

“Enggak juga. Aku sekamar sama Andela, sahabat aku dari kecil. Seneng deh bisa satu kamar sama dia,”

 

Aku hanya manggut-manggut saja mendengarkan penjelasannya. Dia aja ga inget gue siapa. Huft sadar diri Key sadar…

 

Tak berapa lama, gadis yang diomongin pun datang. Ya dia Andela, berlari dari lift yang baru saja terbuka dan langsung memeluk Elaine dengan erat. Well, cewek mah bebas.

 

Cewek meluk cewek bebas. Cewek meluk cowok dikira pacaran. Cowok meluk cewek dikira modus, cowok meluk cowok dikira maho.

 

“Aaaa…. Ilen, aku kangen banget tau…” kata Andela

 

“Duh, aku juga kangen Ndel…” balas Elaine

 

Setelah mereka berpelukan layaknya teletubies, kak Melody datang sambil menggerek tas koper orange milik Andela.

 

“Nah, ini kamarnya.” Kata kak Melody. “Lah, ngapain kamu disini Key? Trus itu merah kenapa?”

 

Aku meraba kening kananku yang sempat bertabrakan dengan pintu kamar Elaine, sakit. “O..oh. ini tadi kejedot sama atasnya kasur pas dikamar. It’s okey.” Jawabku

 

“Yaudah, kalo gitu kakak tinggal dulu ya. Masih banyak tugas,” aku pun mengangguk disusul Andela dan yang terakhir Elaine.

 

“Hoo, kamu Keynan ‘kan? Gak nyangka ketemunya disini ya,” kata Andela

 

Kedua mataku menyipit, memperhatikannya.

 

“Eeh? Mak..maksudku udah lama gak ketemu, eh taunya ketemu disini,” lanjutnya.

 

Elaine tertawa garing, “hahahah, udah yuk masuk Ndel. Dingin banget diluar,”

 

“I..iya Len. Yaudah Key, aku sama Ilen masuk dulu ya. See you later!”

 

“Daah Key,” pamit Elaine sambil melambaikan tangannya.

 

Mereka berdua masuk ke dalam kamar, meninggalkanku sendirian di lorong kamar yang panjang ini. Aku kembali melanjutkan perjalananku menuju lift yang ternyata masih tersangkut di bawah sana.

 

*Tbc

 

Perkenalkan saya author lama tapi baru muncul di KOG, nama saya Seena. Nah ff ini udh prnah gue publish sebelumnya, tapi ini real 100% halal punya gue sndiri. Gue yang nulis, dan gue yg ngirim ke KOG(?) Ya pokoknya, tunggu aja ye

Iklan

11 tanggapan untuk “Last Love

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s