Fiksi dan Fakta part 38

“WOOD!” Ucap mereka bersamaan.

“Hehe.. boleh masuk ga nih?” Tanya Wood sopan.

“Silahkan..” Mereka duduk di ruang tamu.

“Temen kamu, vin?” Tanya ayah Kelpo kepada anaknya.

“Iya, pah. Namanya Wood. Wood, kenalin ini bokap gue.” Kelpo mengenalkan.

Wood bangkit dan bersalaman dengan papa Kelpo.

Obrolan mereka kembali berlanjut. Tak ada masa lalu yang terlupakan, hanya beberapa yang buruk perlu disingkirkan.
“Ah, langsung aja nih. Gue sebenernya cuma inisiatif buat kesini, gaada suruhan dari siapapun ko.” Wood memulai pembicaraan seriusnya.

Semuanya memperhatikan.

“Soal baliknya kami, ini bukan bagian dari ngajak rusuh.” Wood memulai.

“Maksud lu?” Jaka menatap Wood serius.

“Si Kembar? kalian inget?” Tanya Wood disertai anggukan dari mereka semua.

“Kami disini buat mereka berdua.” Wood tersenyum.

“Jadi gima-“

“Udah, Mike. Gue udah paham.” Potong Jaka cepat
Wood bermain mata dengan Jaka.

“Oke, jadi bikin suasananya se-crowded mungkin?” Sahut Kelpo yang sudah mengerti sejak sebelumnya.

Wood mengangguk.

“Pancing dia. Gilang gaakan mau kerjasama, dia gaakan percaya.” Wood menghembuskan nafasnya.

“Maaf, Wood. Tapi, kami juga sama. Apa jaminan dari kata-kata lo?” Pungkas Jaka sangat kena.

Wood membuka sebuah map biru.

“Perjanjian diantara kita. Kalian boleh memegangnya.”

Jaka membaca setiap kata dan kalimat pada perjanjian itu. Jelas tidak ada unsur penjebakan

Ketika Jaka hendak menandatangani, Rendi meminta Jaka untuk berdiskusi dengannya.

“Jak, boleh gue ngomong ama lu dibelakang?” Tanya Rendi disertai anggukan dari Jaka dan Wood.

Mereka masuk ke dapur.

“Kalian udah lengkap?” Tanya Bobby yang sejak tadi hanya diam memperhatikan.

“Untuk inti iya. Kami ga ngajak seluruhnya. Cuma yang terlibat kemaren.” Jawab Wood mantap.

“Gue udah muak. Gue gaboleh keluar 1 tahun. Camkan itu, Wood.” Tegas Bobby kesal.

“Tentu. Kami juga gamau ini berlanjut.
Selama masih ada dendam di kubu Iman, kebenaran harus bener-bener terungkap. Kita semua harus mengecamkan ini.” Tegas Wood balik.

Kelpo dan Mike hanya memperhatikan obrolan itu.

“Lu serius, Raz?” Tanya Rendi langsung.

Jaka mengangguk.

“Shit. Tapi kenapa? Mereka bisa aja ngejebak kita. Dulu juga gitu!” Rendi meyakinkan Jaka.

“Ga, Ren. Mereka juga dijebak. Si Kembar itu, Ren. Buka pikiran lu.” Balas Jaka dengan sangat yakin.

“Kembar itu bagian dari mereka. Pembunuh Iman itu mereka. Mereka cuma memperumit ini semua!” Tegas
Rendi lagi.

“Ga! Fuuto ga mau masuk ke penjara sebodoh itu. Ayolah, Ren. Liat detailnya, jangan percaya ama alibi-alibi orang yang diluar ini semua!” Jaka terus meyakinkan Rendi.

“Ga, Jak! Kita bakal terjebak 2 kali! Waktu itu, Iman aja ngaku bukan dia, lu harus inget kejadian itu!” Rendi terus naik ke tingkat emosi tertingginya.

“Ini Fuuto dan Joey! beda dengan Iman, Ren! Lagian jangan pake kata waktu itu atau dulu. Hidup mereka banyak yang lebih hancur dari kita. Ini kesempatan besar buat nyatuin semuanya!” Jaka mengeraskan nadanya lagi.

“Jadi, lu takut Raz? Nyatuin? Persetan! Ini semua tentang balas dendam! Kita ga masuk ke penjara itu kan?! Mereka
bales disini!” Rendi masih kekeh.

Jaka menggenggam kerah kemeja Rendi.

“Jangan egois! Fosa juga lebih dari saudara bagi gue, tapi ga gini juga! Takut? Persetan juga!! Kita udah SMA, bahkan gue udah kelas 3. Ini bukan saat yang tepat lagi buat jadi kaya bocah! Pikirin kedepannya! Jangan berbalik ke belakang! Kita pasti lupa detail yang terjadi kalo terlalu fokus mengulang!” Jaka melepas genggamannya.

Rendi menghembuskan nafasnya panjang.

“Baiklah. Kalo ini bakal berakhir dengan damai. Gue rasa Fosa bakal lebih seneng.” Rendi tertunduk.

Mereka pun berjalan kembali ke ruang
tamu.

Jaka segera menandatangani perjanjian tertulis itu, diikuti Wood dan Kelpo.

“Gue pamit ya..” Wood bangkit.

Sedikit basa-basi diantara mereka saat perjalanan Wood menuju mobilnya.

“Ohiya, Mana Satria?” Tanya Wood tiba-tiba.

“Satria? ada.” Jawab Kelpo langsung.

Bobby yang tak tau tentang perkembangan Satria hanya menatap Jaka bingung.

“Baguslah. Salam ya buat dia. Gue pamit dulu Raz, Bob, Kelv, Mike, Ren.” Wood segera meninggalkan kawasan rumah Kelpo.

*Skip

Proses belajar mengajar sudah dimulai.

“Lu udah liat tanda-tanda Gilang?” Tanya Jaka yang membawakan 3 gelas es teh manis untuk dia dan kedua temannya.

“Belom. Oh iya, sekolah juga bakal stop dalam 2 minggu ke depan.” Ucap Mike sambil fokus menikmati es teh manisnya.

“Bakso-nya disini 4 kang!” Teriak Kelpo kembali mengingatkan.

“Udah tau soal Elaine, car?” Ucap Jaka pelan.

Mike mengangguk dan tersenyum.
“Sekolah bener-bener aneh-_- Liburannya kecepetan, masuknya kecepetan-_-”  Lanjut Jaka lagi.

“Hahaha… kirain cuma gue yang mikir gitu, lol.” Mike tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Dah H-1 aja nih.” Jaka melihat arlojinya.

Tak lama berselang, Bobby datang menghampiri Jaka, dkk.

“Wey, ga ngajak-ngajak lagi nih.” Bobby mengambil posisi duduk disebelah Jaka.

Mereka bercanda gurau, sekaligus mengingat kekonyolan selama berlibur di Bali.

“Eh, eh.. kalian pernah liat dia ga?” Semuanya menoleh kearah tangan
Mike menunjuk.

“I-itu kan? Yu-Yu-Yur….i” Jaka segera berdiri dan memperhatikan pemuda yang berjalan itu.

“Gue ga liat dia pas upacara tadi.” Bobby memperhatikan pemuda yang mereka kira Yuri itu.

“Kayanya itu emang dia. Mancungnya ga ketahanan.” Kelpo menahan tawa.

Perlahan, pemuda yang mereka perbincangkan tadi mulai tak terlihat lagi. Mereka melanjutkan makannya.

“Jadi, MOS setelah lebaran yak?” Tanya Mike memastikan.

“Iye.” Jawab Jaka singkat.

“Beda banget nih, Ketos.” Bobby mengacak-acak rambut Jaka.

“Anjer-_- pomade gue jadi rusak.” Keluh Jaka sambil merapikan rambutnya dengan sisir.

“Jarang-jarang lu pake pomade, Jak. Hahaha…” Ejek Mike sekenanya.

Ditengah tawaan mereka, suara panggilan pelan terdengar sangat jelas. Jaka menoleh.

“Eh, Sin. Ada apa?” Tanya Jaka langsung.

“Boleh duduk bareng?” Tanya Sinka sopan.

“Boleh..” Ucap mereka bersamaan.

Sinka menunjukkan file-file yang berisikan proposal kegiatan dan lainnya.
Mereka semua melihat-lihat bergantian.

Sebuah kertas dengan daftar nama buat Jaka penasaran.

“Ini tulisan Rusia?” Tanya Jaka.

“Gatau tuh. Aku dikirimin itu.” Balas Sinka sambil mengumpat tentang pengirim yang tidak jelas.

“Lu teliti juga ya, Sin..” Puji Mike sambil masih membaca sebuah proposal kegiatan lama.

“Cieee…” Ucap semuanya spontan.

“Eh, nape?” Mike menatap semua temannya.

“Hahaha..” Semuanya pun tertawa, tak terkecuali Sinka.
“Kamu lucu juga ya, Car..” Sahut Sinka ditengah tawanya.

“Lucu darimanya Sin. Awalnya aja kocak. Lama-lama kek tai. Hahaha…” Timpal Kelpo buat tawaan mereka semakin menjadi-jadi.

Tak lama, Viny, Andela, dan Michelle datang menghampiri mereka semua.

“Hai!” Sapa Andela dan Michelle bergantian.

Kelpo dan Andela memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama di perpustakaan karena ada koleksi buku terbaru yang berjumlah sekitar 52 buku.

Viny memperhatikan kertas dengan tulisan tak jelas yang terus Mike lihat.

Tak lama, Rendi datang dengan
gayanya yang tak pernah memakai dasi.

“What’s up, semua?” Sapanya akrab.

Obrolan formal diantara mereka berlangsung.

“Wait, Car. Ini punya lu?” Tanya Rendi sambil merampas kertas yang sejak tadi Mike analisa.

“Woy kampret, gue lagi baca.” Gerutu Mike.

“Emang lu bisa baca huruf ini?” Tanya Rendi lagi.

Mike menggeleng-geleng malas.

“Ini bahasa Rusia.” Jelas Rendi.

“Lu udah tau, Ren?” Tanya Jaka pada Rendi.

“Tau apaan?” Rendi mengangkat kedua bahunya.

“Yuri disini..” Ucap Jaka pelan.

“NJIR! SERIUS LU?!!” Teriak Rendi sangat keras.

Semuanya menoleh kearah Rendi. Rendi sibuk meminta maaf sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Makanya jangan lebay amat-_- hadeh.” Keluh Jaka.

“Tapi, lu serius Jak?” Tanya Rendi memastikan.

“Gue lempar pake nih mangkok juga dah-_-” Kesal Jaka diikuti tawaan dari yang lainnya.
“Hai..” Sapa Shania yang baru saja datang.

Shania mengajak Bobby untuk bertemu kak Teno pelatih teater.

“Kami pergi dulu ya..” Pamit Bobby yang tangannya jelas digaet erat oleh Shania.

“Raz, nanti pas pulang, aku ke kelas kamu ya. See ya…” Michelle berpamitan.

“Mau kemana, Chel?” Tanya Jaka.

“Aku mau ke kelas, ngelanjutin tugas pak Joy.” Jawab Michelle.

“Emang kamu lagi pelajaran Soyjoy?” Tanya Jaka kaget.

“Iya. Eh, kok Soyjoy? Hihihi..” Michelle terkekeh.

“Hahaha, serah deh. Semoga kamu dikuatkan sama yang diatas.” Jaka memperingati sambil tos dengan Mike.

Viny terlihat berjalan kearah ruang guru dan ruang kelas 12 IPA.

“Gue cabut dulu, Jak.” Mike berpamitan.

Jaka mengangguk sambil memperhatikan dan menebak gerak-gerik Mike.

“Pfuhh.. mumpung hari pertama.” Ucap Jaka sambil menarik nafas panjang.

“Vin, tunggu!” Mike menahan tangan Viny.

“Lepasin!” Ronta Viny spontan.

“Eh, ini Mike alias Oscar, Vin.”

“Maaf, aku lagi gamau ngobrol.” Viny terus berjalan sambil tertunduk.

Mike bingung akan cara lain meluluhkan hati Viny.

“Uhuk.. uhuk.. uhuk..” Suara batuk itu berasal dari Viny.

“Kamu gapapa, Vin?” Mike segera menyusul dan mencoba menangkap wajah Viny.

“Aku gapapa..” Ucap Viny pelan.

Tanpa basa-basi, Mike memegang kening Viny.

“Panas, Vin!” Seru Mike.

Viny tertunduk.

“Aku anter pulang ya? aku kebetulan
bawa mobil.” Tawar Mike.

“Gausah, gaperlu. Aku gapapa.” Viny kembali melanjutkan perjalanannya.

Mike seperti ditampar sangat keras.

Mike memutuskan untuk pergi ke UKS dan mengambil obat pereda demam dan flu batuk.

“Ca! Minta tolong dong!” Mike memanggil seorang teman wanita yang cukup akrab dengannya itu.

“Iye, Car?” Ica datang menghampiri Mike.

“Tolong kasih ini ke Viny. Anak baru yang dikelas lu. Jangan bilang dari gue. Inget, jangan bilang.” Mike memberikan barang yang ia maksud.

“Obat? Lu naksir dia ya?” Ica
menyipitkan matanya.

“Hadeh-_- gue cuma was-was liat dia jir.. ayo, buruan gih.” Suruh Mike lagi.

“Dah nyuruh, ga ngasih tip lagi-..-” Keluh Ica.

“Elah, kode mulu. Ntar gue traktir Mie Ayam dah.” Bujuk Mike.

“Ama minum dong. Ntar seret.”

“Elah, minum kuah mie ayam aja-_- ribet amat.” Mike memanyukan bibirnya.

“Yaudah kalo gitu, gue gabisa no-“

“Iye-iye, ama minuman. Kalo bisa ama desert-nya yak, biar bangkrut sekalian. Sono buruan.” Ica tertawa lalu melengos masuk ke kelasnya.
Mike berbalik sambil menghirup nafas lega.

“Pengorbanan Mike?” Tanya Jaka yang sejak tadi bersender di dinding.

“Kampret lu, Jak!-_- pfftt diem-diem aje.” Ucap Mike kaget.

“Iye, gue juga pernah gitu.” Ucap Jaka pelan.

“Ke siapa?” Tanya Mike lagi.

“Ke-“

“Gila! Adek kelas berantem! 2 lawan 13 ato 14 gitu!” Ucap Ridwan heboh.

Jaka dan Mike bergerak ke lapangan belakang. Dengan santainya, mereka pun sampai.

“Apa-apaan ini?” Ucap Mike kaget.

Belasan murid terkapar.

Disisi lain, 2 orang mendapat tepuk tangan dan sorakan yang meriah.

“ARIA??!!!” Ucap Jaka kaget.

“YURI??!!!” Ucap Mike kaget bersamaan dengan Jaka.

“Kau punya alasan untuk mengulang. Jika sudah cukup, cobalah untuk mensyukuri dan memulai hal baru. 10 mata pelajaran dengan nilai cukup lebih baik dibanding 1 mata pelajaran dengan nilai sempurna, tapi mengabaikan 9 lainnya.” – Kelvin Mandala Putra

*To Be Continued*

@ArthaaSV & @KelvinMP_WWE

Iklan

Satu tanggapan untuk “Fiksi dan Fakta part 38

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s