“Directions The Love and It’s Reward” Part 10

direction

Yuvia tersenyum “Ma…ka..”

“Tolong! Tolong!!!

Tolong…!!!”

“Eh siapa tuh?” Rendy mengalihka pandangannya mencari sumber suara.

“Tolong!!!” suara itu terdengar lagi. “Eh? Itu kayaknya suaranya Shani deh” pikir Rendy. Ia langsung berlari mencari sumber suara.

“Eh mau kemana Ren?” tanya Yuvia. Tapi Rendy tidak menjawab dan terus berlari mencari sumber suara tersebut. Karena kesal tidak diperhatikan, Yuvia ikut berlari mengekori Rendy. Suara tersebut bersumber di tepi hutan.

*****

“Aduh gimana nih?” Shani masih gelisah mondar-mandir ke sana kemari. Hingga beberapa saat, datang dua orang cowok.

“Eh Shani? Itu si Gre kenapa Shan?” Rio ternyata.

“Duh bantuin Yo, gimana nih?” Guntur sendiri juga panik.

Cukup lama, hingga Medical Team datang, tapi tak bisa berbuat banyak karena mereka lupa menyiapkan tandu.

“Medical Team, ini gimana?! Kok lupa bawa tandu sih?” kak Ve datang melihat keadaan dari dekat. Dia marah, karena Medical Team lupa membawa tandu dari sekolah karena ia tahu bahwa dia yang akan kena imbas selaku penanggung jawab dan ketua OSIS.

TAP!

TAP!

TAP!

Datang seorang pemuda dengan nafas tersengal-sengal. Sedikit mengelap peluh keringat di wajahnya. Tak lama kemudian, datang seorang gadis dengan poni yang basah menutupi wajah cantiknya.

“Rendy!” Shani terlihat sedikit senang dan lega. Ia berharap banyak pada pemuda itu.

“Ini kenapa?” tanya Rendy masih mengatur nafas sembari menanyakan apa yang terjadi pada salah seorang temannya.

“Gini Ren, Medical Team lupa bawa tandu. Kita kesusahan bawa korban yang sedang dalam keadaan sakit” kak Ve menjelaskan dengan penuh gelisa di wajah cantiknya.

“Eh itu kenapa?” tanya Yuvia yang baru saja datang.

“Tadi pas aku lagi nyari kayu bakar, ti-tiba tiba aja Gre pingsan” ucap Shani panik.

Rendy sedikit berpikir sejenak. Mencari beberapa barang yang ia butuhkan untuk idenya.

“Ah ketemu!” ucap Rendy.

“Yo!, Tur! Pegangin tongkat ini satu-satu. Samain dengan ukuran tubuh kallian, terus bentangin secara horizontal. Cepetan!” ucap Rendy sambil mengambil 2 gulung tali pramuka dari pinggangnya. Merasa bingung, tapi Guntur dan Rio yakin akan apa yang dilakukan temannya itu.

“Oke!” ucap mereka bersamaan dan langsung mengerjakan apa yang diperintahkan Rendy.

Rendy dengan cepat menali simpul pangkal pada ujung kedua tongkat tersebut. Menyilangkan satu sama lain dan menyimpul jangkar setiap bagian sebanyak hampir 7 bagian. Ia mengencangkan ikatan satu sama lain dan terakhir memangkal lagi bagian ujung dari tongkat tersebut.

“Tur, Yo tarik!” ucap Rendy. Mereka berdua langsung menarik sesuatu yang dibuat Rendy tersebut. Dan benar mereka berdua telah membantu Rendy mengencangkan ikatan setiap bagian. Sekitar 2 menit, apa yang dibuat Rendy itu jadi.

“Eh? Tandu?” ucap semuanya terheran-heran. Bingung, kagum, dan takjub.

“Ayo Tur sekarang lu bantuin gue gotong siapa namanya ini gue lupa. Dan Yo, tolong tahan badannya dan bentangin tandu buatannya” ucap Rendy sembari mengangkat tubuh Gre yang lemas terkapar di tanah itu. Sementara Rio ikut membantu membentangkan tandu untuk mempermudah Gre bisa diangkat.

Shani sedikit lega, begitu juga kak Ve yang  sekarang sedang tersenyum menatap hasil kerja keras Rendy,Guntur,dan Rio. Yuvia seakan diam membisu, tak percaya dengan apa yang diperbuat lelaki yang disangkanya selalu modus dengannya itu.

Kini Rendy sudah ada di bagian depan, memegang kedua tongkat bagian depan. Guntur berada di bagian belakang sembari memegang kedua bagian belakang tongkat. Medical Team langsung berlari menyediakan tempat di pos. Rendy mengkode Guntur.

“Ayo Tur! 1…2…3… angkat!” berhasil. Tandu buatan itu berhasil mengangkat tubuh Gre. Langsung berlari-lari kecil menuju posko kesehatan Medical Team. Mereka semua yang ada di sana juag mengikuti Rendy dan Guntur menuju posko.

“Ke sini Ren” ucap kak Ve menunjukkan jalan.

“Langsung dibaringkan di ruang khusus” ucap salah seorang anggota PMR Medical Team. Langsung saja Rendy mennggendong Gre ke tempat tidur khusus posko kesehatan. Terlihat Shani dan lainnya juga baru saja sampai.

“P3K!” ucap salah seorang anggota PMR Medical Team itu.

“Gre kenapa?” tanya Shani yang masih panik. Rendy mencoba memeriksa denyut nadi Gre di pergelangan tangannya.

“Normal, dia Cuma pingsan biasa” ucap Rendy.

“Syukurlah, alhamdulillah Gre nggak kenapa-napa” Shani sedikit lega lantaran temannya tidak apa-apa.

“Tapi…” Rendy sedikit menggantungkan kalimatnya. Ia mencoba menyentuh kening Gre Benar saja, ternyata sangat panas.

“Dia demam” ucap Rendy. Shani langsung saja berlari ke belakang.

“Eh Shani, ngapain Shan?” tanya Anin.

“Ada air dingin dan kain?” tanya Shani masih gelisah.

“Ambil aja dibelakang” ucap Anin sembari berjalan mengecek kotak-kota persediaan obat.

*****

Sementara itu, beberapa siswa PMR Medical Team mencoba meringankan demam Gre dengan obat penurun panas.

“Kok nggak ada reaksi ya?” tanya Rendy. Shani juga baru saja datang membawa sebuah baskom berisi air dingin dan wash lap. Ia langsung mengompres Gre.

“Ayo Gre, bangun” Shani sedikit berkaca-kaca. Keadaan Gre semakin memburuk, beberapa Medical Team hanya bisa pasrah berharap sembari menyelimuti Gre dengan selimut. Rendy berpikir sejenak, kemudia ia keluar entah ke mana.

Yuvia yang memergoki Rendy hendak keluar bertanya.

“Mau kemana?” tanya Yuvia.

“Ke hutan sebentar. Nyari tanaman obat-obatan” ekspresi Rendy tidak berubah. Diam tenang tapi sepertinya cukup gelisah hingga ia mempercepat langkahnya.

“Tunggu! aku ikut” ucap Yuvia.

Mereka berdua berjalan beriringan dengan langkah yang cukup cepat menuju hutan

*****

Kini, mereka sudah sampai di perbatasan hutan. Menelusuri sedikit dan tidak banyak seluk-beluk daerah perbatasan hutan. Rendy mencari ke sana dan kemari. Menyingkirkan beberapa tanaman dan dedaunan dari pandangannya untuk mencari tanaman obat-obatan.

“Nah itu dia!” Rendy langsung berlari menuju sebuah tanaman rambatan itu.

“Eh-eh tungguin!” Yuvia menyusul Rendy.

“Ini apa?” tanya Yuvia.

“Daun sirih,daun dewa,daun pegagan,daun beluntas,dan alang-alang. Dah yuk kita pulang” Rendy sedikit berlari-lari kecil kembali ke daerah perkemahan, tepatnya ke posko kesehatan Medical Team.

*****

“Duh gimana nih? Badannya makin panas lagi” Shani masih khawatir dengan keadaan Gre. Wajah Gre sudah tampak pucat lemas memerah panas. Dia masih terus mengompresi Gre, berharap ada keajaiban menolong temannya. Matanya mulai berkaca-kaca. Medical Team tidak bisa membantu banyak. Saat ia hampir kehilangan harapan, dan hampir putus asa…

“Shani! Aku temuin obatnya” Rendy datang membawa beberapa lembaran daun. Dengan penuh keringat dan nafas yang tersengal-sengal. Begitu juga Yuvia yang datang bersama Rendy.

“Medical Team! Tolong cariin air segelas. Dan tolong saringan juga” ucap Rendy.

Beberapa siswa Medical Team lansgung berlari mengambil apa yang dibutuhkan Rendy. Rendy langsung saja menghaluskan beberapa dedaunan itu kecuali alang-alang. Langsung saja ia masukan ke dalam gelasn berisi air tersebut. Mencampur adukan rata. Ia lalu menyaringnya dengan saringan.

“Suruh dia minum ini” ucap Rendy. Shani mengangguk menerima obat itu. Langsung saja ia minumkan pada Gre yang sudah terbaring lemas. Sambil berharap Gre cepat sadar.

Mereka kini masih menunggu. Ya, masih menunggu. 5 menit sudah, tapi Gre belum juga tersadar. Shani hanya bisa menunduk pelan menahan tangis. Tiba-tiba sebuah tangan meraih tangannya.

“Shan…” lirih Gre.

“Gre! Akhirnya kamu sadar” Shani menggenggam erat tangan Gre. Semua yang diruangan itu menghembuskan nafas lega.

“Fyuhhh…” Rendy berjalan santai keluar diikuti Yuvia dan kak Ve.

“Ren, makasih ya kamu udah bantuin. Kalo nggak ada kamu, pasti udah bingung sekarang” ucap kak Ve sembari tersenyum manis.

“Oh iya kak nggak papa. Sudah kewajiban untuk saling tolong menolong” Rendy menggaruk kepalannya yang tidak gatal.

“Kamu pinter juga ya. Hebat! Bisa bikin tandu buatan seadannya” kak Ve memujinya lagi.

“Hmm… hehe iya kak” Rendy hanya tersipu malu

“Kakak tinggal dulu ya, ada urusan pentig di sekretariat” ucap kak Ve meninggalkan Rendy dan Yuvia di depan posko.

“Lu tau darimana dedaunan itu bisa nyembuhin demam?” Yuvia bertanya sembari menyidekapkan tangannya.

“Hmm… darimana ya? Kalo kata orang-orang zaman dulu ya gitu. Dedaunan itu bisa nyembuhin secara tradisional” Rendy hanya menjawab ngasal.

“Lah tumben nggak pake teori” Yuvia bergedik heran.

“Yah kalo secara ilmiah dedaunan obat-obatan itu tadi memiliki kandungan andrografolid lactones yang bersifat pahit, namun mendinginkan suhu tubuh. Terus juga ada zat antiflamasi yang mencegah peradangan, serta antioksidan yang meningkatkan daya tahan tubuh” jelas Rendy.

“Oh gitu. Dah terserah lu lah Einstein” Yuvia Cuma manggut-manggut tau ngerti tau nggak ini anak.

Rendy melirik jamnya, ternyata sudah menunjukan pukul 18.00. Sudah sore ternyata. Langsung saja ia kembali ke tenda dan melaksanakan kewajiban Maghribnya.

—o0o—

Malam pun tiba, ini sudah menunjukan pukul 19.00. Setelah semuanya ibadah Isya, mereka semua berkumpul di lapangan tengah.

“Perhatian pada seluruh siswa dimohon untuk menuju ke lapangan tengah karena akan diadakan api unggun utama.”

“Yo, si Guntur kemana?” tanya Rendy pada Rio yang sedang memakai sepatu.

“Om Gun? Tadi katanya disuruh buat latihan pembukaan api unggun. Dia jadi petugas dasa dharma tuh” Rio menunjuk ke beberapa siswa yang berjumlah sekitar 10 anak yang sedang membawa obor sembari mengelilingi pusat api unggun dan tumpukan kayu yang belum dinyalakan.

“Lah tumben-teumbenan?”

“Tadi katanya setiap perwakilan kelas harus ada pengajuan satu wakil dari kelasnya masing-masing buat jadi petugas api unggu, disuruh OSIS” ucap Rio kemudian berdiri

“Oh gitu” Rendy ikut berdiri di sampingnya.

“Dah yok ke lapanga tengah, bentar lagi upacaranya mau mulai” ajak Rio.

*****

Upacara kini sedang berjalan. Terlihat di tengah sudah ada kayu tumpukan api unggun utama tadi. Dikelilingi lampion sederhana yang terbuat dari botol air mineral bekas yang dipotong dan ditutupi kertas HVS, diisi lilin ditengahnya. Semua petugas sudah melaksanakan tugasnya masing-masing, hanya tinggal penyalaan api unggun utama saja.

“Penyalaan api unggun utama” MC protokol melanjutkan tata upcara. Langsung ke-10 siswa itu berlari termasuk Guntur membawa obor yang sudah menyala. Mereka berlari tiga kali mengelilingi tumpukan api unggun utama hingga aba-aba berhenti. Satu persatu, mereka maju sembari mengucapkan dasa dharma. Kalau dilihat, posisi Guntur kini berada di urutan nomer 10.

“Dasa Dharma Pramuka! Ikhlas Bhakti Bina Bangsa! Berbudi Bawa Laksana” ucap semuanya. Mereka semua maju satu langkah.

“Pramuka itu, satu! Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa!” kak Refal yang diurutan pertama.

“Dua! Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia!” di urutan kedua ada Sinka.

“Tiga! Patriot yang sopan dan kesatria!” Eh? Si Yona ikutan juga ternyata.

“Empat! Patuh dan suka bermusyawarah!”

“Lima! Rela menolong dan tabah!”

“Enam! Rajin,terampil,dan gembira!”

“Tujuh! Hermat,cermat,dan bersahaja!”

“Delapan! Disiplin,berani,dan setia!”

“Sembilan! Bertanggung jawab dan dapat dipercaya!”

“Giliran om Gun nih” Rio menyenggol bahu Rendy pelan.

“Se-sepuluh! Suci dalam pi-pikiran,perkataan, dan…”

“Duh gawat tuh si om malah lupa kalimat” Rio udah geregetan bung.

“Dan perkataan” Fyuhhh… hati-hati malu setengah mati tuh si om Gun. Langsung mereka bersepuluh maju, meletakkan obor pada api unggun dan…

WOOBBB!!!

BWOSSHH!!!

“Mari semua kita nyanyikan lagu api unggun” ucap kak Ve memimpin.

Api kita sudah menyala…

Api kita sudah menyala…

Api! Api! Api! Api! Api!

Api… kita sudah menyala

Semuanya larut dalam nyanyian. Kehangatan terasa saat kebersamaan nyanyian itu berlanjut bersama. Riuh tepukan berirama menjadi alat instrumen pengiring lagu itu.

“Upacara selesai, pasukan dibubarkan!” semuanya membubarkan diri. Masing-masing kembali menuju tenda, sebagian ada yang ke warung warga desa yang berdiri di dekat bumi perkemahan, sebagian ada yang masih foto-foto selfie ria, sebagian juga ada yang ke toilet. Sedangkan Rendy dan Rio pergi menjumpai Guntur.

“Wah gimana sih tadi lu om? Berabe tuh” ucap Rio menggelengkan kepalanya pelan.

“Dasar onta! Susah tau! Gue deg-degan setengah mati njir!” Guntur nimpuk Rio pake naskah protokol.

“Dah, dah jangan ribut ah” Rendy melerai.

“Lagian darma ke-10kurang cocok ama lu Om. Itu kan bunyinya suci dalam pikiran. Nah, lu aja mikirnya 18+ mulu haha” Rio mengejek Guntur.

“Ah diem aje lu!” Guntur menjitak kepala Rio.

“Duh!! Ssttt sakit napa om” Rio mengusap kepalannya pelan.

“Emang gue kagak sakit lu ledekin hah? Di mana harga diri aku mas!” oke ekspresi yang ini bener-bener pengen ditampan *eh ditampar.

“Dah, dah. Balik ke tenda aja yuk” ucap Rendy. Guntur dan Rio mengikuti tapi masih riuh ribut di belakang Rendy.

Di tengah perjalanan menuju tenda. Ia melihat beberapa sekelebat bayangan hitam, menarik perhatiannya.

“Tur, Yo, ikut gue” ucap Rendy. Dia mengikuti bayangan hitam itu menuju suatu tempat tersembunyi di perbatasan hutan. Gelap gulita, dingin, dan sepi.

*****

“Mau kita apain nih Dik?” David menyeringai tajam.

“Kita kasih pelajaran aja bro” ucap Tony.

“Yoi” Dikta meregangkan jari-jari tangan dan juga lehernya.

“Kita mulai dari mana?” Dikta bersiap melancarkan pukulan.

“Tolong! jangan siksa gue lagi” ucap Anto kembali disandera untuk korban pembullyan lagi.

“Sudah terlambat, ayo kita main-main guys” Dikta tersenyum jahat. Tangannya mengepal, siap melancarkan pukulan pertama.

TAP!

DAK!

“Cukup!” tiba-tiba seseorang datang menangkis pukulan Dikta dengan cepat. Dikta sepertinya sudah sangat muak dengan pemuda itu.

“Guys…” Dikta memandang tajam ke arah Rendy.

“Kita mundur kali ini. Tapi awas lain kali lu!” ancam Dikta.

“Waduh… cepet banget lari lu Ren, hosh… hos…” Guntur menghela nafas.

“Lah iya, udah kayak Flash aja lu” Rio juga baru datang menyusul Guntur.

“Lu nggak papa?” tanya Rendy.

“Nggak, thanks bro” ucap Anto kemudian pergi entah ke mana.

“Dah, balik ke tenda aja. Kita beres-beres buat persiapan tidur” ucap Rendy mengajak Guntur dan Rio kembali ke tenda.

—o0o—

Rendy melirik jam. Sudah menunjukan pukuk 22.00. Sudah terlalu larut malam sebenarnya. Tapi dia masih terjaga di depan tenda, menatap bisu api unggun buatannya.

“Lah Ren, belom tidur lu?” ucap Guntur.

“Belom, kenapa Tur?” tanya Rendy.

“Gue mau tidur duluan nih. Itu si Rio udah ngebo duluan. Cepet dah lu daripada ntar kagak dapet tempat buat tidur. Soalnya ntu anak kalo tidur grapyakan kagak bisa diem. Hoamzz… gue cabut duluan” Guntur kembali masuk ke tenda.

“Ren??” panggil seorang gadis menepuk bahunya.

“Eh?” Rendy terkejut, melompat dan mundur beberapa langkah. “Huh… Shan, ngagetin aja” Rendy menghela nafas pelan. Shani keluar dengan menggunakan jaket hijau baseball miliknya, kesan casual simple nan cantik.

“Hmm… makasih ya tadi udah bantu sembuhin Gracia” ucapan terimakasih dari Shani.

“Oh, iya-iya. Nggak usah terlalu dipikirin” ucap Rendy menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

“Tapi kamu hebat banget loh tadi! Bisa bikin tandu dengan peralatan seadanya. Terus juga bisa bikin ramuan obat tradisonal dari tumbuhan seadanya kayak gitu” Shani mendekatkan wajahnya yang membuat Rendy diam terpaku menahan rasa deg-degan di jantungnya yang kian semakin cepat. Sejenak, lalu Shani tersadar, malu dan menundukan wajahnya.

“Maaf, nggak sengaja” hanya tiga kata itu yang keluar dari mulutnya.

“E-eh iya eng…nggak papa” Rendy masih mengontrol detak jantungnya.

“Gimana keadaan Gre?”

“Semakin membaik” Shani tersenyum tipis.

“Hmm… tunggu di sini sebentar deh” Shani kemudian pergi entah ke mana.

“Lah mau kemana?” batin Rendy menatap kepergian Shani.

Tiba-tiba dari depan tenda putri, terlihat sebuah bayangan hitam. Dengan rambut berantakan, kuku dan taring yang tajam. Seperti sedang mencabik orang di dalamnya. Terdengar sebuah suara teriakan…

“Arkkkhhhh…” Rendy langsung saja memasuki tenda putri itu yang berada tepat berseberangan di depan tendanya.

Hmmm…. oke ekspresinya sekarang udah berubah. Ternyata itu si Yuvia yang lagi ngerengek-rengek.

“Ayo mamah dino anterin aku pipis sebentar!!!” Duh suaranya merusak dunia lagi nih anak.

“Rendy?” ucap Viny dan Yuvia. Rendy hanya berbalik arah dan memasang muka tak enak.

Yuvia keluar dari tenda sendirian dengan menggunakan sweater gajah yang ia kupluki untuk melindungi dirinya dari hawa dingin. Cantik dan masih lolli. Tak lupa juga mengenakan sarung tangan.

“Eh lu, anterin gue pipis dong” rengeknya. Eh buset nih anak. Masa iya anak cowok suruh nemenin anak cewek pipis ~_~

“Lah, ng-nggak ada yang lain apa?” Rendy terkejut dengan ucapan Yuvia.

“Udah ayo cepetan, gue takut sendirian” Yuvia langsung saja menarik tangan Rendy.

*****

Gelap, sunyi, hening di perbatasan hutan. Di semak-semak, Rendy masih menunggu Yuvia selesai dengan ‘acaranya’.

HUG!

GUK GUK!

HUG!

Suara burung hantu menambah kesan mencekam. Rendy ke sana kemari melihat dan mengawasi kalau-kalau ada sesuatu dengan senternya. Ia melihat ke semak-semak yang sedanng bergoyang sedari tadi.

“Eh, itu apaan?” Lantas Rendy menyenter ke arah semak-semak itu.

“Akhhh…!!!! dasar mesum!!! Matiin senter lo!!!” Duh gawat, salah lagi. Utung gelap jadinya kagak keliatan. Sekarang ekspresi wajah Rendy bukan takut gegara hantu, tapi takut di gebukin Yuvia lah, beredar gosip mesum lah.  Rendy hanya menelan ludahnya dengan keraguan. Setelah beberapa lama, kemudian Yuvia keluar dari semak-semak itu.

“Apa lo liat-liat!!! Gue kasih bogem lu ya! Dasar cowok mesum!!!” Yuvia mengepalkan tangannya, bersiap memukul Rendy. Tiba-tiba…

HUG!

GUK GUK!

HUG!

“Eh? Apaan tuh?!” Yuvia kaget, dan langsung memeluk tangan kanan Rendy.

“Siapa sekarang yang modus?” Rendy menahan tawanya.

“Huh… terserah, huftyup….” Yuvia hanya memanyunkan bibirnya. Mereka berjalan kembali ke bumi perkemahan sambil terus mengeratkan pegangan tangannya pada Rendy. Sebenarnya Rendy agak risih, tapi ini bukan situasi yang tepat untuk berdebat. Mencekamnya malam membuatnya bisa menahan diri. Terangnya bulan purnama, memberi mereka petunjuk jalan pulang.

*****

“Sampe juga ternyata” ucap Yuvia.

“Dah sana tidur” ucap Rendy.

“Ngusir nih ceritanya?” ucap Yuvia dengan tatapan jutek.

“Nggak juga sih” ucap Rendy.

“Gue insom nih. Di sini dulu aja lah” Yuvia kemudian duduk di sebatang pohon ang digunakan untuk Rendy duduk tadi.

Hangatnya api unggun, belum cukup untuk menghangatkan tubuh Yuvia. Beberapa kali ia meniup dan menggosok-gosokan kedua telapak tangannya. Insting naluri lelaki Rendy keluar. Segera saja ia lepaska jaket hodienya dan ia kenakan pada Yuvia.

“Apaan nih? Nggak usah sok perhatian” tanyanya masih dengan wajah jutek.

“Udahlah nggak usah bohong. Aku tau kamu kedinginan” ucap Rendy tersenyum tipis.

“Terserah deh, kalo lu kedinginan gue nggak tanggung jawab.” ucapnya jutek

“Hmm… Btw makasih ya” Sedikit terketuk pintu hatinya. Yuvia mencoba berterima kasih pada Rendy.

“Iya” Rendy mengusap puncak kepala Yuvia lembut. Membuat Yuvia kaget, wajahnya memerah.

“Duh kenapa sih si Rendy. Ihhh…!! ngapain juga dia!” batin Yuvia menahan emosinya.

Rendy mengalihkan pandangannya pada sesuatu benda. Benda yang tak asing baginya. Ya sebuah gitar.

“Tunggu bentar” Rendy berjalan menuju sebuah gitar yang tergeletak di depan sebuah tenda.

” Fyuh… Untung dia pergi. Tapi… Hmm kok ada yang beda ya. Rasanya nyaman banget sama dia” Yuvja membayangangkan kejadian tadi dengan senyum-senyum sendiri.

“Ini gitar siapa?” Rendy bertanya-tanya.

“Gitar gue” ucap Gibran.

“Gue pinjem ya bro” ucap Rendy.

“Yoi” Gibran mengacungkan jempolnya.

—o0o—

Rendy kembali menemui Yuvia yang masih terdiam memandang bintang di langit kala malam itu.

“Hei, senyam-senyum sendiri. Kesambet apaan mba?” Yuvia langsung kaget dan mengalihkan pandangannya.

“Huftyup… Ngagetin aja!” kesalnya

“Nunggu lama ya?” tanya Rendy.

“Siapa juga yang nungguin lo? Kegeeran lo” ucap Yuvia.

“Ngapain bawa gitar?”

“Mau nyapu mbak, saya tukang sapu injuk di sini. Ya mau main gitar lah!” ucap Rendy.

“Oh” hanya itu jawaban dari Yuvia.

*Jreng*Jreng*Jreng*

Di gelap langit malam…

Ada berapa cahaya berpijar di kejauhan?

Rendy memandang langit malam hitam kala itu yang dihiasi bintang-bintang yang berpijar terang. Yuvia merasa tertarik dengan sebuah lagu yang dinyanyikan Rendy.

Pada kain, beludru hitam

Batu mulia yang, dijajarkan…

Semua orang juga, hanya ingin melihatnya saja

Entah kenapa malam itu seperti ada sebuah cahaya berwarna-warni. Aurora? Bukan, itu supernova. Tepatnya cakrawala muncul saat mereka berdua memandang langit malam kala itu.

Akan menghela nafas,

Dan kemudian akan berhenti meghitung

Yah, sia-sia saja menghitung jutaan bintangyang banyaknya tidak terhitung di angkasa luas ini. Rendy mengalihkan pandangannya ke Yuvia. Pandangan mereka bertemu.

Sampai dirimu menjadi bintang!

Milikilah kekuatan ‘tuk mengejar mimpi…

Kesempatan, untuk bersinar pasti akan terlihat!

Seluas! Bentangan langit itu, kamu bisa mencoba

Raihlah masa depan!

Bagaikan pikiran yang, berada di angkasa

Suatu saat terkabul

Hari-hari kau ‘kan bersinar…

Mereka alihkan lagi pandangan mereka ke angkasa.  Hangatnya api unggun menemani mereka berdua. Seperti sebuah pasangan.

Kilauan sinar cahaya…

Dari lampu sorot akan menyinari tubuhmu

Sambil menari juga menari

Bergerak berputar, di atas stage

Dilihat semua orang…

Ini adalah angkasa kecil

Kiluet sinar cahaya bintang jatuh menyilaukan

Bagai hujan meteor, yang ada di dalam lensa teleskop bintang…

 

Sampai dirimu menjadi bintang!

Ku akan, melihat langit dan terus percaya

Doa ini, ‘kan berlanjut menembus keabadian…!

“Rain… Kamu bisa denger doaku? Aku selalu berharap kamu datang menjemput aku suatu hari nanti. Tuhan, berikan aku kesabaran dan kekuatan menunggu dia yang selalu melindungiku,menjagaku,dan berjanji akan selalu ada disampingku. Jaga dia ya Tuhan” batin Yuvia.

“Yupi? Kamu di mana? Coba deh kamu keluar, bintangnya bagus loh. Tuhan, berikan aku petunjuk untuk bertemu Yupi. Kalau saat ini dia sudah jatuh dipelukan orang lain, tolong jagalah dia ya Tuhan. Cinta nggak harus memiliki, cinta juga nggak perlu status. Liat kamu bahagia sama orang lain, mungkin itu udah jadi kebahagiaan tersendiri untuk aku. Tapi kalau belum, aku akan percaya akan Arah Sang Cinta dan Balasannya. Aku percaya kamu akan selalu menjaga hatimu untukku” batin Rendy tersenyum.

 

Janganlah engkau menghapus api semangat, yang membara…

Tembus ruang dan waktu!!!

Rendy mengalihakan pandangannya lagi ke arah Yuvia. Dia melihat wajah Yuvia dari samping yang sedang tersenyum melihat bintang jatuh di dinginnya malam itu.

Bintang paling bersinar, yang dirimu dambakan

Akan terlihat, ku ingin melihatmu bersinar!

 

Entah kenapa saat kembali ke bagian reff. Yuvia juga ikut bernyanyi. Itu membuat Rendy terkejut sekaligus cukup senang.

Sampai dirimu menjadi bintang!

Milikilah kekuatan ‘tuk mengejar mimpi…

Kesempatan, untuk bersinar pasti akan terlihat!

Seluas! Bentangan langit itu, kamu bisa mencoba

Raihlah masa depan!

Bagaikan pikiran yang, berada di angkasa

Suatu saat terkabul

Hari-hari kau ‘kan bersinar…

“Kamu bintang di langit itu” ucap Rendy pelan.

“Apa? Nggak kedengeran” Yuvia bertanya kembali.

“Bukan apa-apa kok” Rendy mengalihkan pembicaraan.

“Pasti ngomongin jorok nih!” Yuvia bergedik menyelidiki.

“Eh… Eng-enggak kok” Rendy mulai panik kehabisan kata-kata.

“Dasar Mesum! Rasain nih! Kasih tau atau aku cubit!” Yuvia mulai mencubiti sekujur tubuh Rendy.

“Eh ssttt… Yuv udah Yuv! Sakit nih” Rendy merinta kesakitan.

“Hmm… Gantian rasain nih!” Kini giliran Rendy yang menggelitiki Yuvia.

“Hehe hihi ahaha! Udah Ren! Geli haha” Yuvia hanya tertawa sambil melepaskan dirinya dari gelitikan maut itu.

“Serangan balasan!!!” Yuvia membalas Rendy.

“Hahaha! Duh geli Yup! Geli, udah dong” mereka berdua hanya tertawa bersama. Suasana malam penuh kehangatan menghiasi tawa dan canda mereka.

Rendy menatap dalam wajah Yuvia dari samping. Sedangkan Yuvia kembali menatap langit.

“Indah ya langitnya” ucap Yuvia tersenyum.

“Iya…”

*****

“Rendy, kopinya udah…

CTAR!!!

Si..ap” Shani memecahkan gelas itu. Entah mengapa hatinya sakit melihat kebersamaan mereka.

“Apaan tuh??” mereka berdua menoleh ke sumber suara benda yang pecah itu.

 

“Aku ngerti perasaan kamu Shan” seorang lelaki datang.

“David…” lirih Shani. Dia menangis di bahu David karena hatinya sudah tidak kuat menahan, memendam rasa sakit.

“Hiks… kenapa Ren… hiks… kenapa…!?” kesalnya. Tak kuasa air matanya ditahan, perlaha mulai berlinangan bersamaan dengan bintang jatuh yang ditatap Rendy dan Yuvia.

“Udah tenang Shan” David mengelus pelan puncak kepala Shani. Mencoba menenangkan Shani.

“Kita mulai permainannya Rendy… bukan, maksudku…

…Einstein”

-To Be Continued-

Twitter : @Rendyan_Aldo & @rezalical

Nggak tahu kenapa ya gais. Padahal udah nulis minimal sekitar 10 lembar tapi tetep aja ini cerita plotnya lama banget jalannya. Oke makasih yang udah baca. Ikuti terus Arah Sang Cinta dan Balasannya dan sering-sering mampir ke karyaotakgue.wordpress.com ya gais! J

[PROMOTE]

Oh iya, ada promo buat yang mau ikut grup Blacklist Author.Ya walupun gue nggak ikut grupnya tapi diharap kalian mau gabung. Maklum, main solo. Di sana, kalian bisa belajar bareng bikin ff. Tanya satu sama lain tentang hal yang nggak ngerti juga bisa. Kalo buat bahas bercandaan juga bisa, tapi bedain waktu serius ya serius, bercanda ya bercanda. Jadi intinya kalian bisa sharing satu sama lain dan nggak ada maksud untuk menggurui karena manusia nggak ada yang perfect lah ya. Bisa mention ke twitternya bang willy selaku admin Blacklist Author ke @wi_debiean92 atau @blacklist_athr

Yah sekian dari gue. Salam #JustKiding. Gabung aja ya dan  gunakan palu mjolnir kalian untuk menjadi auTHOR!

 

 

 

 

 

 

Iklan

4 tanggapan untuk ““Directions The Love and It’s Reward” Part 10

  1. Ya, thank’s udah mampir. Ikutin terus ya! Itu sebagian true story :”v kegiatan pramuka. Asal jangan salam pramuka aja deh :”v. Salam #JustKiding

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s