5 Meter Per – Detik

Kecepatan jatuh bunga sakura? 5 Detik per meter! Dingin suasana pagi ini sangat menusuk-nusuk sampai kedalam tulang, seorang siswa dan siswi sekolah dasar sedang saling kejar-kejaran di bawah hujan salju yg sangat lebatnya. Di perlintasan kereta api yg sebentar lagi akan menutup karena akan ada kereta yg akan melintasi, seorang siswi sekolah dasar itu langsung saja menyebrang perlintas kereta api itu.

 

“Kita akan segera bertemu kembali..,” ujar siswi itu sambil berbalik badan ke arah anak laki-laki yg terhenti larinya gara-gara palang perlintasan kereta api sudah menutup, cewek itu langsung mengenakan payung dan berbalik badan lagi saat kereta api melintas di kedua palang perlintasan kereta api itu.

“Shani..,”

 

Saat kereta api sudah lewat rel dua perlintasan palang kereta api, cowok itu sudah tidak mendapati lagi cewek yg dari tadi ia kejarnya itu.

 

Hiroichi Hans? Ya itulah namaku, aku bersekolah di salah SMU yg ada di kota Bandung, jawa barat. Aku menjalani hari-hari sepiku ini seperti biasanya, membosankan, dan melelahkan. Sebelum berpisah dengan dia? Sahabatku waktu di SD, kehidupanku tidak membosankan seperti ini. Setelah acara kelulusan dia pergi bersama orang tuanya ke kota solo, dan disana ia harus tinggal, memang cukup menyedihkan dulu aku harus berpisah dengannya.Tanpa ada kabar sekali pun darinya, membuatku semakin rindu akan padanya.

 

“Anak-anak kelas satu..,” Kakak kelas kami menendang bola kearah kami bertiga yg tengah istirahat di atas kursi. Sontak kami bertiga pun kaget dengan suara kakak kelas kami yg cukup keras,

 

“Siap..!!” Kami dengan posisi berlari mengelilingi lapangan sepak bola.

 

 

Dear Hans,

 

Aku dengar kamu akan pindah sekolah ya? Minggu depan? Aku sangat sedih ketika kamu harus pindah kesekolah yg sangat jauh dari rumah kamu!

 

 

Setiap seminggu sekali aku mendapatkan surat kabar dari dia? Ya terkadang tidak tentu datangnya sih, tapi aku sangat bahagia dengan itu semua.

 

Di dalam kelas.

 

“Eh aku dengar kamu mau pindah sekolah ya?,” Seorang gadis manis tengah berdiri di hadapanku.

 

“Iya nih..,” balasnya dengan senyum.

 

“Nanti ada eskul, kamu datangkan?,” tanya cewek di depannya itu.

 

 

“Maaf, aku nggak bisa hadir, karena aku harus berbenah-benah..” Balasku.

 

“Oh tidak apa-apa kalau gitu..” Cewek itu langsung pergi meninggalkanku begitu saja dari pinggir kaca jendela kelas.

 

*0*

 

Jam dua siang tiba, dan aku harus bergegas naik kereta api. Jadwal hari ini aku harus mulai berjumpa dengan dia yg sudah menungguku di depan stasiun kereta, aku harus bertemu dengan dia jam 7 malam set di depan stasiun kereta api.

 

“Mohon maaf kepada seluruh penumpang kereta api jurusan stasiun balapan solo dan sekitarnya, karenakan cuaca yg tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan ke kota solo, kereta akan berhenti sekitar 15 menit atau lebih jika cuaca masih kurang membaik,” Informasi dari PT.KAI kepada seluruh penumpang kereta api yg sudah masuk kedalam gerebong kereta api yg telah berhenti di stastiun.

 

Suara gemuruh angin di sertai dengan hujan salju yg membuat suasana semakin dingin sekali di dalam gerbong kereta, setiap kali kereta api berjalan menuju ke kota Solo, badai semakin kencang saja, dua atau empat kali berhenti di setiap stasiun kereta berbeda, dan jam perjanjian kita buat ketemuan juga udah lewat.

 

Saat aku berdiri di depan pintu gerbong kereta api, pintu gerbong kereta di tutup oleh bapak-bapak yg dari tadi tidur di samping pintu masuk gerbong.

 

“Udah masih lama jalannya..,” Ucap bapak paruh baya itu sambil kembali tidur lagi.

 

Kereta api yg aku naiki ini jalan kembali ke kota tujuan dengan waktu tersisa, tapi sayang hambatan besar menghadang di jalan menuju ke koa solo, kereta api kembali lagi berhenti di tempat entah barantah dengan kondisi salju menutupi seluruh wilayah.

 

Kondisi badai semakin di perparah dengan suara perutku yg mulai keroncongan sejak tadi siang belum di isi makanan apa pun.

 

 

Dear Hans.

 

Aku menulis surat ini diatas kereta yg tengah berjalan, semoga kamu baik-baik saja di sana ya. Aku minggu depan akan pindah ke aceh bersama kedua orang tuaku..

 

Hans mengingat sebuah surat yg pernah di terimanya dari orang yg dulu pernah dekat sama hans, hans mencoba untuk menuliskan sebuah kata-kata di atas kertas kosong di depannya itu, tapi tetap saja hans tidak bisa melakukan itu semua. Jam tangan di letakan hans di pinggir jendela kaca gerbong kereta api,

 

*0*

 

Jam 12,40 WIB, Hans sampai di tujuannya. Saat hans mau mendekati perapian yg slalu ada di setiap stasiun, Hans melihat seorang gadis tengah tertidur dengan kondisi duduk di depan tungku perapian itu. Hans mulai berjalan kearah cewek yg tak asing buatnya, dan cewek itu juga mulai terbangun dari tidurnya gara-gara suara langkah kaki yg membuatnya terbangun itu.

 

“Hans…” Cewek itu terkejut dan langsung saja memeluk seorang laki-laki di depannya begitu juga dengan laki-laki itu.

 

Cukup lama mereka berpelukan, akhirnya mereka melepaskan pelukan mereka dan mereka mulai duduk sambil membuka makanan nya.

 

“Tau saja kamu, kalau aku sudah tidak pernah makan ini lagi,” Ucap Hans sambil melahap nasi kepal.

 

“Aku juga pengen,” Cewek itu juga ikutan melahap nasi kepal yg sama yg di makan oleh hans.

 

“Hoy kalian, cepat kalian pulang, sebentar lagi nggak akan ada kereta yg akan kesini lagi,” Suara seorang pegawai stasiun yg mengingatkan dua orang remaja itu di depan tungku penghangat.

 

Cewek itu membawa hans ke depan pohon sakura yg sudah tidak berbunga lagi, cewek itu mulai mendekatkan wajahnya begitu juga dengan Hans.

 

CuPS!

 

pagi harinya hans di antarkan ke stasiun yg sama oleh Shani.

 

“Sampai jumpa lagi hans, semoga kita bisa bertemu lagi..” Shani melambai-lambaikan tanganya ke hans yg sudah ada di dalam gerbong kereta. Hans hanya bisa tersenyum sesekali melambai-lambaikan tangannya ke Shani.

 

Wushh!!!

 

Byurr!!

 

Suara gemuruh angin laut dan deburan ombak yg mengulung-gulung permukaan air laut, menemani keseharianku di pantai sebagai surfing yg prefisional yg handal dan berbakat tentunya, sehabis aku pulang sekolah aku di temani oleh kakak ku buat berselancar di pantai, aku naik papan selancarku dengan ombak-ombak yg aku naiki, tapi sebenarnya aku kecewa sekali dengan tingkah kakak ku yg slalu acuh terhadapku.

Kakak slalu melihatku dari dalam mobil atas bukit dengan memandangin ponselnya, dan menunggu kabar pacar kakak.

 

TAGz!  Suara busur panah yg di lepaskan dari busurnya,  dengan sangat kuatnya anak panah itu menacap di lingkaran kayu warna hitam putih kayak catur itu.

 

Taps!! Langkah kaki seorang cewek mengendap-endap di belakang parkiran sepeda motor, saat seorang pemuda sedang latihan busur, di belakang sekolah.

 

“Haruka..!”

 

“Kamu kenapa ada disini, bukannya kamu ada kelas?,” Hans mulai bertanya kepada gadis berusi muda yg muncul secara tiba-tiba.

 

“Iya, aku menyempatkan mampir sebentar kesini, buat melihat kamu latihan.,” Balasnya.

 

Hans mulai duduk di atas balok-balok kayu di sampingnya itu..

 

“Oh gitu rupanya, tapi gak baik loh kalau kamu berlama-lama disini, entar bisa ketahuan sama guru BK,”

 

Cewek itu mengangguk dan langsung meninggalkan hans begitu saja seperti itu, mungkin sedih sih yg dialami oleh cewek itu tapi mau gimana lagi, ia tidak bisa mengungkapkan semua isi hatinya ke Hans, cowok yg slalu dia suka sejak pertama masuk ke SMU.

 

“Kenapa dengan motor kamu?,” Hans menghentikan laju sepeda motornya.

 

“Nggak tau nih, tiba-tiba gak bisa nyala gini,” Katanya.

 

Hans mulai turun dar sepeda motornya dan mulai menyetater sepeda motornya cewek di depannya itu. Sekian lama hans menyetut sepeda motor cewek yg ia tolongnya itu, tapi tetap saja hasilnya tidak bisa nyala.

“Kayaknya aki motor kamu deh yg mati,” Ujar Hans.

 

“Yah gimana donk ini…” Haruka Mulai mengeluh dengan kondisi memegangi sepeda motornya.

 

“Udah nggak udah khawatir seperti itu, kamu naik motor aku aja, biar aku yg jalan kaki pulang sampai rumahku, motor kamu biar keluarga kamu yg ambil,” Ucap Hans turun dari atas motornya.

 

“Gak trimakasih..” Tolaknya.

 

Tapi mereka berdua malah memutuskan jalan bareng kerumahnya haruka dan meninggalkan sepeda motor mereka berdua di parkiran super market yg ada di desa terpencil, suara anjing mengonggong yg tiba-tiba datang menghampiri haruka.

 

“Ichiroo, ini hans dia…”

 

Setelah menghantarkan haruka pulang, hans mulai berjalan lagi kesupermarket yg jaraknya cukup jauh dari kedua sepeda motor yg terparkir di super market. Haruka melambai-lambaikan tangannya ke Hans. Pagi tiba dan sudah beberapa tahun tlah berlalu, haruka tidak berani mengungkapkan isi hatinya kepada hans, hans yg kini sudah bekerja di perusahan swasta di bandung hanya menjalani kisah hidupnya dengan penuh ke kosongan. Shani yg dulu sangat ia cintainya tak tau entah kemana, begitu juga dengan Haruka yg dulu sangat suka dengan hans..

 

 

*Tamat*

 

 

Teradaptasi dari anime yg judulnya 5 Centimeters perscond, nama dan tempat sengaja aku bedakan, ada juga sih alur ceritanya yg hampir sama juga. Jika kurang greget harap di maklumi, aku tak pandai merangkai kata-kata kawan.

 

 

Kritik & saran bisa langsung Person me :

Twitter : @lastwota

Facebook : Namaku Vylendo Hasyim Asy’ari

IG : @lastwota

 

Iklan

Satu tanggapan untuk “5 Meter Per – Detik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s