Zombie Attack, Part 5 : terkepung

“kak, kita bakal baik-baik aja kan?” tanya Michelle dengan wajah khawatir

“Iya, kita bakal baik-baik aja, dan bakal keluar dari desa kampret ini” balas Dendhi

“Kamu laper?” tanya Dendhi

“sedikit sih kak, tadi siang ada orang pakaian serba merah, nyelametin aku, dia nendang aku ke pintu itu, emangnya dia nggak tau apa aku anak Presiden” ujar Michelle sebal sambil menggembungkan pipi

“ini aku ada roti, di makan ya” ujar Dendhi yang lalu memberikan roti dari dalam ranselnya

“ini juga air mineral” ujar Dendhi lagi

Michelle menerima pemberian Dendhi dengan sedikit tersenyum.

“Ini anak kenapa sih?” tanya Dendhi dalam hati. Sedangkan Rafles memilih untuk memainkan Hp Milik Dendhi, Mereka bertiga melanjutkan perjalanan. Di tengah perjalanan Dendhi baru ingat kalau mereka belum memberikan kabar terbaru

“Raf, telpon kantor dong” kata Dendhi kepada Rafles

Rafles dengan sigap langsung memanggil Kantor mereka di Jakarta

Rafles : Ve, kita udah masuk ke dalam gereja, dan nyelametin Berlian.

Veranda : kerja bagus buar kalian, aku bakal mengarahkan helicopter buar mengangkut kalian bertiga keluar dari desa ini

Rafles : terima kasih, kami akan jalan lagi

Rafles lalu menutup panggilan nya

Mereka bertiga terus berjalan. Tiba-tiba

SREKKK..

SREKKK..

SREKKK…

“kak, suara apa itu?” tanya Michelle

“Aku nggak tau” balas Dendhi

“Raf, lindungi Michelle, cari tempat persembunyian, ini buat handgunmu” ujar Dendhi yang lalu memberikan peredam kepada Rafles.

“Ayo, kita sembunyi” ujar Rafles sambil menarik tangan Michelle, mereka memasuki salah satu rumah.

 

DENDHI POV

 

Shit, apa lagi ini? Baru aja kita bertiga istirahat sebentar, udah ada suara yang bisa saja membunuh kami bertiga,

SREKKK…

SREKKK…

SREKKK…

Suara itu semakin mendekat, aku membuka tas ransel ku, aku cari senjata Shotgun yang ampuh untuk pertarungan jarak dekat.

Mahkluk itu menampakkan dirinya.

“Njirrr,, itu manusia?” aku setengah berteriak. Asli itu tinggi banget, mungkin tinggi nya sekitar 190 cm an, sosok itu bawa kapak yang asli gede banget.

Kalo aku pake shotgun, sama aja aku setor nyawa sama dia. Mahkluk itu lari ke arah ku, cepet banget lari nya, asli deh. Nggak boong. Dengan tinggi kayak gitu, dia masih dapat lari sekencang itu, emejing broooh :v. dia lalu mengayunkan palu nya ke arahku. Dengan cepat aku menghindar

“Nyaris aja” kata ku pelan

Aku lalu berlari untuk menjaga jarak dari dia, dia lalu mengayunkan kapaknya lagi ke aku, aku menghindar lagi, sehingga serangan nya menghantam pagar salah satu rumah yang terbuat dari kayu. Entah karena saking kuatnya serangannya, pagar kayunya langsung hancur.

RAFLES POV

BRRAAAAAAKKKK…

Apaan tuh? Kayaknya suara itu deket banget sama tempat persembunyian ku, ku lihat Michelle yang mengeluarkan air mata sambil memejamkan matanya.

“shut…shut… jangan nangis ya” ujar ku menenangkan nya

“aku takut kak Dendhi kenapa-napa kak” ujar Michelle.

“udah tenang aja, dia satu-satunya agen terbaik kita, dia lebih hebat dari aku, Cuma ya gitu, dia doyan makan” kataku lagi

“hahahaha….” Kali ini Michelle tertawa lepas.

“shuttt… shuttt..ketawa nya jangan keras-keras” kata ku menyuruh nya diam. Jujur, aku takut kalo zombie itu nemuin kita

DENDHI POV

“hahahaha…”

Shit, ketawanya siapa tuh? Kenceng banget. Mahkluk yang tadinya focus ke aku, langsung berubah. Pandangannya mengarah ke arah rumah yang pagar nya hancur karena kena serangan nya tadi

Jangan-jangan Rafles sama Michelle sembunyi di rumah itu, gawat, ini asli gawat.

“Kalian semua, cepet pindah tempat persembunyian, kalo nggak kalian tinggal nama” aku teriak sekenceng mungkin sambil nembakin handgun ku ke arah Mahkluk besar laknat itu

Mereka masih belum keluar. Aku mulai takut, kalau seumpama mahkluk itu nemuin mereka berdua, terus membunuh mereka berdua, misi ku gagal, aku terus kehilangan pekerjaan ku. Makan dari mana aku sama Gracia.

HEIII…

Ya elah, ini kenapa lagi kok ada orang-orang kampret ini. Masih belum puas dari tadi siang nyerang aku. Fix, kondisi ku bener-bener nggak diuntungkan, aku aja ngadepin mahkluk ini udah kesusahan, sekarang malah ketambahan orang-orang kampret ini.

DAAAR…

DAAAR…

DAAAR…

Suara tembakan tiba-tiba terdengar.

“Hei bro, Miss me? (Hai bro, kangen aku?)” tanya seseorang

“Ooh, you. Not really, thanks (ooh.. kamu, nggak terlalu, terima kasih)” jawabku lega

Orang itu ternyata Ramires, yang ngaku nya sih polisi local di Spanyol. kalian masih inget nggak? Kalo nggak baca part sebelumnya, kami lalu membagi peran, Ramires dapet bagian ngabisin warga desa yang dateng dari sebelah selatan sama timur, aku ngabisin bagian barat, utara, sama Mahkluk laknat itu. Aku lalu bersembunyi sebentar, lalu aku suruh Rafles untuk keluar.

“Michelle gimana Den?” tanya Rafles

“suruh dia sembunyi, entah di WC, atau di lemari gitu lho Raf, kalo nggak kita berempat bisa mati” kata ku sedikit terpancing emosi. Aku lalu keluar lagi. Dan mulai memberondong warga desa sama mahkluk laknat itu dengan senjata kriss.

Aku nggak sengaja nembak salah satu warga desa, kepala nya sih pecah, terus tiba-tiba dari dalem kepalanya keluar tentakel nya. Asli aku di situ sempet mikir bentar, itu kepala apa gurita sih? Kok ada tentakel nya segala. Mahkluk itu lalu berjalan ke arah tempat persembunyian Rafles sama Michelle

“Den, aku butuh pengalihan, di deket rumah banyak zombie, aku nggak bisa keluar sekarang” kata Rafles. Tanpa pikir panjang, aku langsung ngeluarin Flashbang, dan melemparkan ke deket rumah tempat persembunyian Rafles sama Michelle. Warga desa itu nutupin matanya, sedangkan mahkluk yang kepala nya tentakel langsung tergeletak di tempat, dan nggak gerak sama sekali.

Rafles lalu keluar dan mulai nembakin orang-orang itu dengan senjata Uzi. Kerumunan orang yang haus darah itu mulai berkurang.

VINY POV

Aku sedang berjalan menghindari kejaran seseorang yang dulunya teman lama ku, namanya Chris Vylendo,ooh iya, Chris ini juga temen nya Dendhi juga. kita dulunya bersekolah di sekolah yang sama, selama masa sekolah itu, Chris jadi orang yang sangat baik, dia sering banget mengantarkan aku ke rumah ku, pas kelulusan SMA, dia bilang kalo dia ingin jadi perwira TNI. Lima tahun aku nggak ketemu sama diaAku nggak tau apa yang membuat dia menjadi seorang yang bisa di bilang Psikopat, dia membunuh serigala, dan memakan nya mentah-mentah, aku berniat berlari menjauh, tapi aku nggak sengaja menginjak ranting pohon.

Dengan cepat aku menembakkan hook gun ku menjauh dari dia, aku nggak ingin bernasib sama seperti serigala itu. Aku masih terus berlari, aku menoleh ke belakang, seperti nya dia sudah tak mengejar ku lagi.

Tunggu, ini kan jalan ke desa. Hmmm.. aku sebenernya sungguh penasaran sama kastil itu.

Hp ku berdering lagi, nama Anto Teo tertera di layar itu, dengan malas aku mengangkat panggilan itu

“Halo Vin, lu susah amat sih di telpon, lu ngumpet di gorong-gorong ya?”

Ini sakit banget sih, jujur. Dia nggak tau kalau aku nyaris saja mati tadi sore, gara-gara Dendhi.

“maaf, aku lagi banyak urusan tadi”

“posisi lu di mana?”

“Aku masih di desa, ternyata orang di sini banyak banget”

“Ya iyalah banyak, kalo dikit bukan desa namanya”

Ini orang kayaknya ngajak berantem.

“udahlah to, jan…” ucapku terpotong suara tembakan yang sangat banyak dan membabi buta.

“ntar aku telpon lagi, Bye”

“eh.. tungg” ucapnya terpotong

Aku memasukkan Hp ku ke dalam ransel ku, aku sedikit penasaran, siapa ya yang kira-kira nembak secara membabi buta kayak gitu tadi. Apa mungkin polisi koplak yang namanya Ramires itu? Aku naik ke tembok rumah,

“mereka bertiga, apa lagi sih masalah yang mereka bikin, kok kali ini hampir seluruh warga desa turun tangan” kataku pelan

“Mahkluk itu? Kalau nggak salah aku pernah berurusan di Moskow, tepatnya di Kamchatka, dulunya Uni Soviet membangun sebuah pangkalan kapal selam, aku di suruh meledakkan pangkalan kapal selam itu, ketika aku ingin meledakkan pangkalan itu, computer yang sangat pinter bernama Red Queen dengan sengaja melepaskan semua Zombie yang ada di pangkalan itu, dan salah satunya adalah mahkluk itu. Tinggi besar, dan membawa kapak. Dulu aku membunuh mahkluk itu dengan senjata berat, Bazooka. Apakah di desa ini nggak ada senjata berat

Nggak sengaja aku melihat ada orang dengan pakaian serba hitam membawa senjata berat yang aku maksud, tanpa pikir panjang, aku membidik kepala orang itu, dan kepala orang itu dengan sukses berlubang karena peluru handgun ku

Aku mengambil bazooka itu, dan naik ke genteng rumah itu, sesampainya di sana, aku memakai topeng kucing yang dulu di beri oleh Dendhi, dan mulai membidik mahkluk tinggi besar itu,

“RPG” Ramires berteriak. Yang sontak membuat Dendhi dan temannya kaget.

Dan..

DENDHI POV

“RPG” suara Ramires bener-bener ngagetin banget, dia lagi nunjuk sesuatu, hmm.. lebih tepatnya seseorang, terlihat seseorang di atas genteng rumah, dengan pakaian serba merah, dia lagi membidik mahkluk laknat itu.

“Run” kata Ramires dan Rafles yang lalu berlari. Sedangkan aku masih mematung di sana

“Itu topeng kayak pernah liat, tapi di mana ya? Sama mata itu”

DAAAAR…

Suara ledakan bener ngagetin aku. Ledakan nya berada lima langkah dari aku. Aku terpental, dan telinga ku berdengung.

Samar-samar aku melihat wanita dengan pakaian serba merah itu lari. Menjauh dari kita. Semua yang tadi ngepung kita langsung habis nggak tersisa lagi.

AUTHOR POV

Dendhi dan Rafles lalu masuk kembali ke rumah tempat persembunyian Michelle tadi, mereka mencari ke WC, namun mereka tidak menemukan Michelle.

“Den, kalo nggak salah dia tadi sembunyi di lemari lantai dua” kata Rafles terkekeh. Dendhi hanya menatap tajam Rafles.

Mereka berjalan menuju ke lantai dua rumah itu, dan membuka lemari itu. Mereka melihat Michelle yang sedang ketakutan.

“kak, gimana? Orang-orang nya udah mati semua?” tanya Michelle dengan suara bergetar

“Iya, mereka semua sudah mati” balas Rafles

“kita istirahat dulu di sini, tidur sebentar, ini udah jam sebelas malem” kata Dendhi

“kak.. tapi’ ujar Michelle terpotong

“aku udah masang jebakan di sekitar rumah ini, kita juga naruh senjata di tempat yang nggak jauh dari jangkauan tangan kita, kalau seumpama ada orang yang berniat macem-macem sama kamu tinggal kita tembak aja” ujar Dendhi menerangkan, terlihat sedikit ekspresi lega dari wajah Michelle, selisih setengah jam mereka bertiga sudah tak bersuara lagi.

To be Continued

@Dendhi_yoanda & @MichelleTeofani

Iklan

3 tanggapan untuk “Zombie Attack, Part 5 : terkepung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s