Di Dalam Hatiku Ada Sepucuk Cinta..

Suara gema adzan telah berkumandang dan suara ayam berkokok telah berhenti, dengan malasnya seorang pemuda bangun dari atas tempat tidurnya yg sangat empuk, dan enggan untuk beranjak dari atas tempat tidurnya. Cowok itu mulai berjalan hontai kearah kamar mandinya, tiga puluh menit berlalu, cowok itu mulai keluar dari dalam kamar mandi, memang kebiasaan buruk cowok yg bernama lengkap Raden Mas Hantaro itu adalah kalau mandi lama banget kayak kebiasaannya cewek, asalkan kalian tau saja, Hans ( Nama sapaan akrab dari teman-teman kepada dirinya). Adalah anak yg di beri kemampuan khusus dari orang tuanya, Hans bisa mengendalikan badan seseorang dengan gerakan jari-jarinya sendiri. Memang hans adalah anak yg aneh, di balik itu semua hans adalah anak yg pandai dalam segala bidang tak termasuk dalam bidan study, peringat pertama pernah di sabet oleh Hans selama tiga tahun berturut-turut, banyak yg iri dengan kemampuan dan kepintarannya Hans. Hingga banyak wanita yg mendamba-dambakan hans, di balik itu semua Hans anaknya polos banget, walau dia punya banyak teman, hans tidak mudah bergaul dengan teman-temannya. Ia lebih memilih untuk menyendiri dari pada harus bergaul dengan teman-teman sebayanya itu.

Banyak teman-temannya Hans yg curiga dengan kelakuan hans yg tak suka bergaul dengan teman-temannya sendiri. Beberapa orang berpendapat bahwa hans adalah anak yg tak suka bergaul, ada juga yg berpendapat kalau hans itu phscyo anaknya.

 

Tapi tidak bagi seorang anak baru pindahan dari kota Bandung, Jawa barat. Setiap saat dan setiap waktu ia mengikuti hans kemana pun hans pergi, cewek yg bernama Rezky Wiranti Dhike itu slalu bikin risih Hans.

 

 

Hans setiap saat bersembunyi dari Dhike cewek yg biasa di sapa teman-temannya itu. Bukan karena takut sama Dhike atau gimana, hans tidak pengen berteman dengan siapa pun, dhike berusa sekeras mungkin untuk mendekati Hans agar dhike bisa kenal dan deket sama cowok ganteng itu.

 

“Udahlah dhike, kamu jangan pernah ikut-ikutin aku terus. aku tidak ingin berteman denganmu begitu juga dengan yg lainnya.” Kata Hans yg sedang duduk di atas rumput belakang sekolah.

 

“Tapi..”

 

“Nggak ada tapi-tiapan lagi, sekarang kamu pergi dari sini atau biarkan aku saja yg pergi dari sini.” Ucap Hans.

 

Memang postur dari badannya Hans lebih tinggi dan lebih besar dari pada dhike, dhike mematap matanya hans yg memerah dan secara tiba-tiba mengeluarkan darah di pelipis matanya. Saat dhike mau mengusap air mata darah dari kelopak mata hans, hans meneplak sapu tangan yg akan menghapus air mata darah yg sudah membasahi pipinya itu.

 

“Jangan pernah sesekali lo bilang guru atau bahkan temen-temen yg lain tentang hal ini semua, jika mereka sampai tau soal ini. Lo Orang pertama yg akan gue buat nyesel udah kenal sama gue.” Kata Hans sambil meninggalkan dhike di belakang sekolah.

 

Dhike masih duduk lemas di atas rumput gara-gara mendengar ucapan dari cowok yg baru di kenalnya itu. Jam pelajaran telah usai dan dhike masih tak percaya dengan apa yg di lihatnya tadi di sekolahan.

 

“Gak mungkin itu gak mungkin..” Ucap Dhike dalam hati yg sedang terduduk di pinggir jendela kamar lantai dua rumahnya.

 

Saat di perjalan menuju kerumah mata sebelah hans benar-benar sakit banget, hans mulai menghentikan laju sepeda motornya di SPBU. Hans melihat kearah kaca spion motor dan benar saja kedua kelopak matanya mengeluarkan darah lagi tapi kali ini aliran darah yg keluar dari kedua kelopak matanya hans makin deras alirannya.

 

Di dalam toilet, hans benar-benar kesakitan dengan penyakit yg di deritanya sejak lama ini. Alasan kenapa hans tidak mau berteman dengan teman-temannya adalah hans tidak ini semua orang tau tentang penyakit langka yg di deritanya itu.

 

“Dok, air mata darahku semakin deras alirannya.” Hans menelphone dokter yg menangani penyakit yg sangat langka yg ia deritanya itu.

 

“Nanti malem kamu bisa datang kerumahkan? , nanti saya suntikan lagi serum itu.” Balas Dokter yg menangani hans.

 

“Bisa dok..”

 

Di rumahnya dhike, dhike meminta ijin kepada mamanya untuk keluar rumah sebentar. Setelah dhike mendapatkan ijin, dhike langsung pergi kerumah teman-temannya hans. Dhike mencoba mencari tau tentang informasi lebih detail tentang hans, tapi teman-temannya hans tidak ada yg tau pasti dimana tempat tinggalnya Raden Mas Hantaro.

 

“Oh yaudah kalau kalian nggak tau tempat tinggalnya hans.” Ucap dhike sambil menyalakan mobilnya lagi, dan meninggalkan rumah teman  yg duduk sebangku dengan hans.

 

 

ARGH!

 

Hans sangat kesakitan dengan sebuah serum anti virus yg di suntikan dokter yg dulu adalah teman dari kedua orang tua hans. Hans tak sadarkan diri diatas matras putih dan di selimuti oleh para perawat, dokter yg menangani hans hanya kagum melihat kondisi hans yg masih mampu menghadapi penyakit langka sepertinya.

 

“Hans, hans lo itu bikin gue kagum aja sama lo. Penyakit yg sangat ganas seperti itu bisa lo tekan seperti itu, seandainya penyakit itu menempel di badan orang lain pasti sudah sejak lama meninggal tuh tapi kamu hans, kamu masih bisa bertahan hidup sampai sekarang.” Ucap Dokter Sagha membersihkan peralatan suntiknya.

 

Setiba di dalam kantin sekolah, hans langsung memesan makanan di kantin, dari kejauhan hans melihat seorang cewek tengah di bully oleh kakak-kakak kelasnya itu.

 

“Kak mohon jangan bully cewek itu ya.” Hans datang ke pojok toilet dan berbicara baik-baik dengan tiga orang kakak kelasnya.

 

“Siapa lo, lo datang-datang nyuruh gue seenak jidat lo kayak gitu.” Kata Kak Rega mendorong badannya hans mundur kebelakang.

 

“Aku Hans teman sekelas cewek yg sedang kalian bully itu. Tolong lepasin cewek itu kak, kasian dia.” Ucap Hans meminta halus ke kakak kelasnya buat melepaskan cewek yg sedang mereka bully itu.

 

“Kalau kita nggak mau ngelepasin nih cewek, lo mau apa hah?.” Balas Kak Renald.

 

Hans hanya diam saja saat itu.

 

“Lo mau ngehajar gue kalau kami semua nggak ngelepasin ini cewek.” Kak Renald menarik rambutnya dhike sampai keatas, dhike kesakitan sambil nangis-nangis.

 

BUGZ!

 

Hans menghajar kakak kelasnya sendiri sampai tersungkur ke tanah..

 

“Kurang ajar..” Kak sagha dan kak Rio gak terima temannya di hajar oleh adik kelasnya sendiri, mereka berdua menghajar hans sampai babak belur, kak Renald yg baru bangun langsung memukuli perutnya hans yg badannya sedang di pegang kedua temannya itu.

 

“Ini akibatnya lo jadi pahlawan kesiangan, yok guys tinggalin mereka berdua disini sebelum ada guru bp.” Kata Renald menendang kepalanya hans sampai kebentur dinding toilet.

 

Mereka bertiga langsung pergi dari pojok toilet tempat dimana hans tersungkur di lantai dengan darah yg mengucur dari hidung dan mulutnya. Hans mulai bangun dari lantai dengan kaki yg masih tak seimbang, sering kali hans jatuh lagi ke lantai tapi badannya hans di tahan dhike agar tidak kehempas ke lantai lagi.

 

“Udah biar aku bantuiin kamu berdiri.” Ucap Dhike menaruh lengan kirinya hans di tengkuknya, hans hanya diam saja sambil di bantu dhike berdiri. Dhike langsung memapah jalannya Hans ke UKS, setibanya di dalam Uks dhike mendudukan hans diatas matras putih, dhike mengobati luka lebam yg di derita Hans akibat menolong dirinya dari bullyan kakak kelas.

 

Hans melihat kearahnya cewek yg tengah mengobati lebamnya itu, sesekali hans merintih kesakitan akibat kena obat merah. Hans terdiam cukup lama yg masih memandangi cewek yg masih saja mengobati lukanya itu.

 

“Makanya kalau gak bisa berantem tuh gak usah sok jadi pahlawan kesiangan deh lo kak.” Ucap Dhike sambil membersihkan perlatan P3K kembali ke tempat semula. Hans hanya diam saja sambil nyengir,

 

“Di bilangin malah nyengir kayak gitu, tapi makasih ya tadi udah nolongin aku dari kakak kelas kita itu.” Ucap Dhike lagi.

 

“Iya tidak apa-apa..” Kata Hans.

 

 

Satu minggu telah berlalu dan hans kini sudah bisa berteman dengan seorang wanita yg bernama Rezky Wiranti Dhike, yah walau pun temannya hans hanya dhike saja sih, tapi hans sudah mulai bisa terbuka lagi dengan orang-orang di dekatnya.

 

Pagi hari ini Hans ada janji dengan dhike untuk menghantarkan dhike ke toko granmedia untuk membeli sebuah buku novel baru.

 

“Ayo dhike buruan, keburu hujan nanti..” kata Hans.

 

“Iya sebentar..” balas dhike sambil keluar dari dalam kamarnya.

 

Mereka berdua langsung pergi ke toko buku yg letaknya tak jauh dari jalan daan mogot, memang hari ini cuaca tidak mendukung untuk beraktifitas sebelum nyampe di toki buku, air hujan sudah menjatuhi jalan mereka menuju kearah granmedia terdekat. Untung saja Hans membawa mobil bukan motor, jadi mereka berdua tidak kebasahan gara-gara kena air hujan. Setibanya di granmedia mereka berdua langsung masuk saja kedalam toko buku.

“Aku tungguin disini ya dhike.” kata Hans sambil duduk di depan kasir.

 

“Iya, lagian aku nggak lama kok nyari bukunya.” Ucap Dhike sambil berjalan ke kumpulan rak-rak buku yg berjejer rapi di pojok toko.

 

“Itu pacarnya ya kak?” Tanya kasir granmedia yg aku tau namanya adalah Desy.

 

“Bukan kak, dia bukan pacar aku, dia temen aku.” kataku.

 

“Oh, aku kiraiin tadi itu pacar kakaknya.” Ucap Desy.

 

“Hehehe, banyak orang yg bilang cewek tadi itu pacar aku sih, tapi padahal bukan.haha” Hans tertawa begitu juga desy cewek di depannya itu.

 

“Udah lama mbaknya kerja di sini?” Tanya Hans kepada penjaga kasir buku.

 

“Udah hampir tiga bulan sih..” Katanya.

 

Setelah mendapati buku yg di carinya, dhike langsung menghampiri hans yg tengah asik berbincang-bincang dengan kasir toko granmedia itu.

 

“Udah selesai nyari bukunya?” Tanya Hans yg tengah memegang handphone blackberrr yg qwertynan.

 

“Udah donk, habis ini pulang yuk.” Ajak Dhike sambil mengeluarkan uang dari dalam dompetnya.

 

“Ayo, desy kami pulang dulu ya. Kalau ada waktu nanti aku main kesini lagi kok.” Ucap hans ke penjaga kasir.

 

“Iya, aku tunggu kedatangan kamu loh.” Penjaga kasir itu sambil mengedipkan sebelah mata kirinya ke hans., dhike yg pada saat itu tau kalau cowok di sebelahnya sedang di genitin mba-mbak penjaga kasir, dhike merangkul dari samping badannya hans.

 

“Eh loh kenapa kamu?” Hans terkejut dengan apa yg sedang di lakukan oleh dhike, cewek penjaga kasir itu hanya tertawa kecil melihat tingkah laku konyol dari cewek yg tengah memeluk erat bahu kirinya.

 

Di perjalanan pulang dhike menatap terus hans yg sedang mengemudi, sesekali hans melirik dhike, dhike mulai menyenderkan kepalanya di bahunya hans. Awalnya hans hanya diam saja dengan apa yg di lakukan oleh dhike tapi lama kelamaan dhike mulai menciumi pipinya hans, sontak hans terkejut dengan apa yg di lakukan oleh dhike itu.

 

“Stop dhike! Kamu itu kenapa sebenarnya, kok kamu menciumiku terus-terusan seperti itu.”

Hans mulai menghentikan laju kendaraan di pinggir jalan, dhike mulai menangis di pundaknya hans.

 

“Gak tau kenapa perasaanku campur aduk hans, ketika tadi kamu ngobrol sama cewek penjaga kasir itu dan cewek itu juga mengedipkan mata kearahmu, nggak tau kenapa aku gak suka dengan cewek yg genit-genit sama kamu itu.” kata Dhike memeluk badannya hans dari samping.

 

“Jadi kamu cemburu gitu sama cewek yg aku ajak ngobrol tadi?”

 

“Iya, aku cemburu sama dia, aku nggak mau jika kamu di ambil dia. Kan aku duluan yg suka sama kamu masa dia yg harus ngedapetin kamu.” Ucap Dhike.

 

“What! Kamu suka aku gitu, sejak kapan kamu suka aku, bukannya kamu bilang kamu udah punya pacar ya.” Hans kaget dengan ucapannya dhike.

 

“Memang aku sudah punya pacar tapi itu dulu sebelum aku kenal sama kamu hans, kamu punya perasaan yg sama kayak aku kan?” Kata dhike.

 

Hans terdiam sesaat, melihat cewek di sampingnya berbinar-binar, tanpa ia sadari beberapa orang datang menghampiri mobil yg terhenti di tengah jalan itu.

 

“Woy buka jendela kaca lo..” Beberapa orang bersenjata menodongkan pistol kearah hans, hans di tarik keluar dari dalam mobil begitu juga dengan dhike.

 

Orang-orang itu mulai menjarah semua hartanya hans, begitu juga dengan dhike, dhike mulai menangis ketakutan sambil memegang erat tangan kirinya hans. Salah seorang penjahat bersenjata itu menembakan beberapa proyektil peluru ke badannya hans, dan mereka berdua langsung ngabur dengan membawa hasil jarahan setelah menembakan beberapa butir peluru ke badan cowok. Hans terjatuh ke tanah dengan darah yg mengucur sangat deras di bagian perut dan bagian lengan kirinya, dhike memeluk kepalanya hans sambil menangis meminta pertolongan kepada orang-orang yg lewat di depan mereka.

 

“Dhik..e..” Panggil hans lirih.

 

“Iya hans apa apa?.” sahut dhike sambil mendekatkan telinganya ke mulutnya hans.

 

“Aku sayang bang..et sam..a k..amu d..hike.” lirih hans ketelinganya dhike.

 

“Aku juga sayang banget sama kamu hans, aku mohon kamu jangan tinggalin aku..” Dhike menangis sejadi-jadinya sambil memeluk badannya hans.

 

“Maa..fin a..ku.. Dhike.” Hans sambil menyentuh pipinya dhike, setalah itu lengan kananya hans jatuh kehempas ke tanah.

 

“Hans tidaak hans, kamu jangan tinggalin aku sendirian hans..” Dhike tidak percaya dengan apa yg di lihatnya di depan, orang yg seminggu ini dia sayang tewas akibat menyelamatkan dirinya dari letusan pistol yg mengarah kedirinya dhike.

 

Setelah upacara pemakaman hans selesai, dhike masih menangisi kepergian orang yg sangat ia cintai itu.

 

“Semoga kamu tenang di sana ya hans, aku nggak akan melupakan kebaikanmu semasa hidupmu.” Dhike sambil mengelus-elus batu nisannya hans dan menciumnya sebelum dhike pergi dari atas makannya hans.

 

Dari kejauhan sesosok lelaki berpakain serba putih dari atas sampai bawah sedang memperhatikan dhike yg baru saja pergi meninggalkan makamnya itu.

 

“Kamu memang benar-benar wanita yg sangat baik dhike, aku nggak akan melupakan kenangan indah bersamamu sewaktu aku masih bisa tertawa bersamamu. Semoga kamu mendapatkan sesosok pendamping pengganti yg lebih baik dari pada aku.” Orang yg tengah berdiri di samping pohon cemars itu mulai menghilang dengan sendirinya.

 

 

 

The ends…

 

Created by: @lastwota

Iklan

Satu tanggapan untuk “Di Dalam Hatiku Ada Sepucuk Cinta..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s