The Rescuers 3 -Part 2-

 

Cerita sebelumnya…

“Nah udah nih, terus setelah ngotak atik, gue coba lingkarin huruf pertamanya, tim satu itu berarti M dan Z, tim 2 G dan T, tim 3 F dan s, tim 4 C dan P, dan sisanya empat orang, L untuk Lidya, A untuk Ayana dan N untuk Nabilah, juga Y untuk Yansen.

Kalo kita perhatiin, jumlah huruf ada 26, dari A sampe Z, kalo dibagi dua akan terpotong di N. so, dari A sampe M adalah bagian 1, dan N sampe Z bagian dua. Dari sini udah keliatan nggak sih? Kalo semua member yang udah punya tim itu yaa sesuai dengan posisi abjadnya, dari Melody dan Zahra aja, itu udah M sama Z, udah merupakan huruf akhir.

Simplenya, ya A pasti sama N, Ayana sama Nabilah, so Lidya pasti sama Yansen, begitu,” ujar Refal.

“Yak! Sempurnaaa~” ujar si Staff..

“Anjeeer, lu niat amaat pake nulisin nama lengkapnyaa,” ujar Jeje.

“Heleuuh, ternyata gitu,” ujar Beby.

“Jadi hasil akhirnya adalaah….

Tim 1 = 100

Tim 2 = 40

Tim 3 = 50

Tim 4 = 80

Yak! Selamat untuk tim satu tim tiga dan tim empat, kalian berhak melanjutkan ke misi selanjutnyaaa,”

…….

Hari kedua.

“Selamat pagi semuanyaa,” ujar Melody.

“Pagi Meel,” jawab semuanya.

“Nah, kemaren kan kita udah ngelewatin babak pertama dari OFC ini, dan untuk tim 2 karena kalian mendapatkan poin paling rendah, sesuai perjanjian, kalian nggak bisa ngelanjutin ke babak berikutnya,” ujar Melody.

“Lha? Terus kita di sini ngapain dong?” tanya salah satu fans yang berasal dari tim 2.

“Jadi, nanti kalian se tim akan melakukan kegiatan bowling, di lantai dasar hotel ini,” ujar Melody.

Beberapa fans terlihat kecewe, eh kecewa.

“Ya harus nepatin janji doong, kan ini sistim gugur, nah biar kalian nggak pada bosen, makanya diadain event bowling untuk yang kalah,”

“Yaa, daripada langsung pulang,” ujar Guntur.

Melody tersenyum mendengarnya.

“Baik untuk anggota tim 2 silahkan ikut kakak ini ke ruang bawah yaa,” ujar Melody. Tiga orang staff berdiri dan beranjak dari tempat itu.

“Yang lama aja ya, biar gue puas maen bowling nya,” ujar Sagha kepada ketiga temannya.

“Kampret,” umpat Anto.

“Menang banyak dia, ada Shania ada Sinka,” ujar Refal.

“Nah, untuk tim yang masih tersisa di sini, babak selanjutnya adalah….”

Sebuah layar turun  di belakang Melody.

‘Bentengan!

Bentengan.

Game yang mempertahankan sebuah benteng di mana pada benteng itu akan ditancapkan satu bendera. Cara mainnya mudah, masing-masing kelompok harus bisa mengambil semua bendera. Kelompok yang kehilangan benderanya akan kalah.

Batas waktunya adalah 180 menit. Tiga jam yang akan di mulai dari pukul 09.00 pagi hingga 12.00 siang.

Selamat menjalankan!’

“Ogut kira bentengan kaya yang pas dimaenin jaman SD dulu,” celetuk Refal.

“Haha iya juga tuh, gue kira juga itu,” ujar Ahmad.

“Ng, boleh nanya kak?” Viny mengacungkan tangannya.

“Ya Vin?”

“Nanti, apakah kita dilengkapi dengan senjata gitu? maksudnya untuk mempertahankan bentengnya?” tanya Viny.

“Yap jelas, jadi sejak malam para staff sudah mempersiapkan semuanya. Mereka sudah membangun tiga benteng yang berada di sudut-sudut pulau ini. Di sana sudah di siapkan senjatanya,”

Pada layar kini terlihat bentuk senjata seperti dalam permainan Paintball.

“Maen PB?” tanya Kinal.

“Yap seperti itu, nanti untuk tim 1 akan menggunakan warna biru, sedangkan tim 3 menggunakan warna merah, dan tim empat menggunakan warna ungu,” ujar Melody.

“Yeay ungu!” pekik Gre pelan.

“Hadeuuh,” Feni langsung menggelengkan kepalanya.

“Nah ada yang mau ditanyain?”

“Pelindungnya ada kan?” tanya Rizal.

“Iya ada kok tenang aja, kenapa emang? Nggak tega nembak kita-kita ya?” goda Melody.

“Bukan nggak tega Teh, sayang nyawa,” celetuk Anto.

“Maksudnya?”

“Nembak Teteh di depan banyak member mah berani, tapi keluar dari sini Teteh bisa ngejamin nyawa saya dari Melodiest?” ujar Anto.

“Hahaha,” ruangan jadi dipenuhi gelak tawa.

“Yasudah, nanti tiap tim akan dipandu oleh staff menuju bentengnya masing-masing, inget, nanti dengerin kata instur…intru..”

“Instruktur Teh,” ujar Nabilah.

“Nah eta deuh, meuni susah pisan disebutnya. Dengarkan dan pahami ya, karena kalo salah menggunakan senjata atau pelindugnya takut terjadi hal yang tidak di inginkan,” ujar Melody.

“Siap Teeh!!” semuanya bersorak bersamaan.

Kemudian mereka di pandu oleh staff untuk menuju bentengnya masing-masing.

Sesampainya di sana, mereka diberi pengarahan bagaimana menggunakan senjatanya, dan juga harus selalu mengenakan pelindung, meski sudah terkena tembakan, tetap harus memakai pelindung sampai keluar dan tiba di zona aman.

“Mengerti kan? Ada yang ditanyakan?”

Melody menggeleng pelan.

“Paham kok kak,” ujar Nabilah.

Di tim 3 dan juga tim 4 mereka sudah bersiap untuk memulai permainan.

Mereka memasang helm mereka.

“Di pinggiran helm ini, ada tombol, jadi fungsi nya sama kaya HT, kalo mau ngobrol pencet dulu, terus bilang ‘ganti’, dan ini cuma bisa di denger sama tim kalian, begitu juga dengan tim lainnya, kalian tidak bisa mendengarkan percakan tim lain, pahamkan?”

“Paham kak, tapi ini kaga ada yang agak gedean lagi?” tanya Anto.

“Haha, nggak ada, sabar aja ya, nggak terlalu sempit kan?” tanya staff.

“Ngg.. nggak sih hehe,”

“Tim 1 siap?”

“Siap!!”

“Tim 3 siap?”

“Siaaap!!”

“Tim 4 siap?”

“Siaaap!!”

“Baiklah, game start!”

Para staff kembali menuju hotel menggunakan motor avp yang disiapkan di sana.

“Oke, jadi kita harus ngapain?” tanya Rully.

“Hm, nyerang merekalah,” ujar Yupi.

“Yee, maen nyerang aja, nggak mau bikin strategi dulu?” tanya Yona.

“Ada ide?” tanya Ghaida kepada timnya.

“Gimana kalo 7 orang maju, 3 orang jaga benteng?” tanya Viny.

“Boleh, nanti formasinya, dua orang di depan, buat liat sudut pandang depan, terus di tengah tiga orang, satu lihat ke kiri, satu lihat ke kanan, yang tengah jadi komando, dua lagi di belakang untuk jagain belakang, gimana?” ujar Rizal.

“Nteu pat pat dua Cal?” celetuk Rully.

“Yee dikata bola,” ujar Naomi.

Sedangkan di tim 4.

“Lima maju, lima jaga benteng,” ujar Kinal.

“Dih, kalo cuma lima orang mah dikit kak, terus gue tebak lo jaga benteng nih?” ujar Beby.

“Nah itu lo tau,”

“Ih curang banget lo kak, huu Kak Kinal Gendut,” cibir Gaby.

“Hoit hoit, kak pe kan ketuanya, kak pe aja yang perintahin kita tinggal roger roger,” ujar Della.

Beberapa dari mereka yang tidak ikut perdebatan Kinal Gaby Beby mengangguk, meski agak aneh mendengar bahasa Della.

“Hm, kalo kita bertahan aja gimana?” tanya Ve.

“Setuju!” pekik Kinal.

“Lha? Diem aja gitu kak?” tanya Feni.

“Iya, kita ngejagain benteng aja dulu, nunggu mereka nyerang, jadi kita tinggal nunggu,”

“Kalo nggak nyerang?” tanya Edho.

“Yaa.. harus ada yang jadi umpan,” ujar Ve.

“Umpan? Siapa?” tanya Celine.

Ve menoleh kea rah Anto, semuanya mengikuti arah pandangan Ve.

“Ape lo liat-liat padaan?”

Tim 1.

“Gimana?” tanya Refal.

“Kayaknya bisa di pake,” ujar Melody. Yang lainnya mengangguk.

“Oke, gue yakin kalo ketua tim nya Ghaida, pasti akan nyerang duluan, selain itu ada Naomi sama Yona juga, ditambah Rizal, strategi mereka jangan dianggap remeh,” ujar Refal.

“Kalo di tim empat, kak Ve pasti milih bertahan deh, terus juga kak Kinal mana mau dia lari-lari begini haha,” ujar Lidya.

“Haha, iya tapi ati-ati dia kalo udah ngamuk kaya kebo lepas,” ujar Saktia.

“Waah, parah, dikutuk bidadari lho Sak,” ujar Nabilah.

“Haha, ya map, Isyana khilaf,”

“Hadeuuh, masih aja Isyana,” ujar Sisca.

“Haha, oke cukup ya, gue ulangin lagi. Jadi, kita akan bergerak jadi dua regu, regu bertahan dan menyerang. Enam orang nyerang, empat orang bertahan. Enam orang yang nyerang itu, Melody, Nabilah, Sisca, Shani, Vina, Gue, nanti Teh Mel, Shani, sama Vina di depan, terus lapis kedua Nabilah sama Sisca, paling belakang gue,” ujar Refal.

“Kenapa lo paling belakang?” tanya Ahmad.

“Gue paling tinggi Mad, kalo mereka nggak keliatan ada musuh di depan, gue bisa ngeliat duluan,” ujar Refal kalem. Tapi kemudian dihadiahi jitakan oleh Sisca dan Shani.

“Lha? Lha? Kenapa di jitak?” ujar Refal.

“Kamu mau bilang kita pendek gitu?” ujar Shani.

“Lha? Nggak kok, kan gue bilang, gue paling tinggi. Lagian ini udah pisah tim sama yang lainnya tetep aja gue dijitakin,” sunggut Refal.

“Untung pake helm ya kak?” ujar Nabilah.

“Pake helm malah lebih sakit Bil,”

“Haha, udah udah.. oke setuju,” ujar Melody.

“Huh..untuk yang bertahan, Lidya, Saktia, Desy, Ahmad. Kenapa? Bongsor-bongsor, lawan juga bingung mau nyerangnya. Terus gue harap Ahmad bisa ngumpet, kan badan lu kecil Mad, jadi biar keliatannya cuma tiga orang yang ngejaga,” ujar Refal sambil mengelus kepalanya.

“Hmm oke got it,” ujar Ahmad.

“Oke, ayo berdoa dulu,” ujar Melody.

“Yap,” semuanya berkumpul membentuk lingkaran. Kemudian berdoa kepada Yang Maha Kuasa agar dilancarkan misi kali ini.

~

“Jadi kita nyerang mana dulu kak?” tanya Yuriva.

“Kayaknya kita bakal ke tim 4 dulu deh, soalnya di sana cuma ada Beby sama Kinal, yang lainnya mah gampang,” ujar Ghaida.

“Eh, ada Feni juga kak,” ujar Okta.

“Oh iya, kalian pernah latihan militer gitu ya,” ujar Yona.

Okta mengangguk.

“Oke, berarti yang harus di waspadain tiga orang itu,” ujar Ghaida.

“Yosh, ayo..”

Tujuh orang dari tim Ghaida maju menyerang menuju tim 4. Ghaida bersama Naomi, Yona, Okta, Rizal, Rully, dan juga Yuriva berjalan perlahan menelusuri hutan.

Mereka memasang siaga satu, takut-takut terdapat jebakan saat menuju markas tim 4.

“Nah itu mereka, bener kan mereka nggak maungkin nyerang kalo ketuanya Ve,” ujar Ghaida saat mereka bisa melihat tim 4 sedang berkumpul mengelilingi bendera.

“Tunggu kak, kok Cuma ada tu wa ga pat ma nam juh… lha kok tujuh orang?” ujar Okta.

“Jangan..jangan,” Rizal menoleh kebelakang.

“Weeiits..” Rizal masih bisa menghindari tembakan dari Kinal.

“Aaah, dikit lagi,” ujar Kinal.

“Pea lu kak,” ujar Beby.

Beby, Kinal dan Edho yang berada di belakang mereka terus menembaki ke arah tim Ghaida.

“Yaah kalo udah begini, majuuu,” ujar Ghaida.

Semuanya keluar dari tempat persembunyian.

“Kita di seraaaang,” teriak Feni.

“Roger roger, kak Ve, order kak ve order,” ujar Della.

“Order? Emang aku jualan baju,” ujar Ve panic, ia langsung menyiapkan senjatanya.

“Maksudnya perintaah,” ujar Della.

“Yee ni anak, udah serang ajaa,” pekik Ve.

Terjadilah saling tembak di sana. Tim Ve yang cukup terkejut menerima serangan ini jadi bingung harus seperti apa, meski sebelumnya sudah diberikan strategi oleh Kinal dan juga Beby.

Beby dan Kinal juga Edho tidak serta merta bisa mengalahkan Rizal, Rully dan juga Yona yang berada di bagian belakang tim Ghaida.

“Woe, jagain bidadari gue,” teriak Kinal.

“Yee, jagain benderanyaa!” ujar Edho.

“Iyaaa,” teriak Feni dan juga Celine.

“Kamu mau jagain benderanya?” Naomi mundur kebarisan belakang, kemudian ia mengedipkan matanya ke arah Kinal.

“AARGH GUE DIKEDIPIN BUNDAAA!!” teriak Kinal.

Ceprat!

Tembakan Yona tepat mengenai helm Kinal.

“Woe aduh!”

“Wahaha, mampus lu kak, Bunda punya gue!” ujar Yona.

“Yeuh si gendut, sana…sana ganggu tauu,” ujar Beby geram.

Kinal terpaksa menyingkir dari situ menuju zona aman.

Beberapa menit kemudian tim Ve terpojok, hanya menyisakan Ve dan juga Gre.

“Yaah, kalah ini mah Kak,” ujar Gre yang sudah pasrah.

“Jangan nyerah dulu Gre,” ujar Ve memberi semangat, sedangkan di tim Ghaida tinggal Rizal, Ghaida, dan juga Yona.

“Ayolah Ve, dua lawan tiga, nyerah ajaa,” ujar Ghaida.

Rizal diam-diam menuju ke belakang Ve, mencari sudut mati.

“Yakin nggak mau nyerah?” goda Yona.

Gre hanya memanyunkan bibirnya, kemudian mengarahkan tembakannya ke Yona, tapi meleset karena Yona dengan mudahnya mengelak.

“Hihi, sudahlaah, ayo Zal,” ujar Ghaida.

“Hai, Gre, hehe maaf yaa,” Rizal sudah menodongkan senjatanya ke arah helm Gre, dengan jarak hanya sepuluh senti tidak mungkin tembakan Rizal meleset.

“Gre..” Ve menoleh ke arah Gre, tapi dengan sigap Ghaida menembak, dan mengenai punggu Ve.

“Aaah Ghai curang, mainnya dari belakaang,” rengek Ve.

“Hihi, kita menaaang,” ujar Rizal.

Klik.

Gre membuka matanya perlahan, ia tidak melihat ada cat yang mengenai tubuhnya.

“Kok mati? Apa macet?” tanya Rizal.

Ghaida dan Yona juga mencoba tembakannya. Tapi sama, tidak keluar apa-apa dari sana.

“Jangan..jangan.., Vin masuk Vin,” ujar Ghaida sambil menekan tombol pada helmnya.

“Yaah kak Ghai maaf, benderanya udah direbut duluan sama kelompok satuu,” ujar Viny.

Rizal dan Yona yang juga mendengar itu langsung lemes.

“Yailaaah, selangkah lagii,” ujar Naomi geram.

“Yeaaay menaaang,” ujar Ve dan Gre.

“Belum lha, kan yang dinyatakan menang itu ya yang dapetin semua bendera,” ujar Ghaida. Ia juga menuju zona aman di dekat situ, berkumpul bersama teman satu timnya.

“Banyakan bacot sih lu Ghai,” ledek Kinal.

“Yee, diem lu gendut,” ujar Ghaida.

“Yaah, satu lawan sepuluh mana menaaang,” rengek Gre sambil menghentakkan kakinya.

Ceprat!

“Aduuh!” pekik Gre.

“Hahaha, Gre bedon malah ditengah-tengah gitu,” ujar Sisca yang kemudian keluar dari persembunyiannya, begitu juga Melody dan yang lainnya.

“Hehe, maaf ya Gre, ini aku ambiil,” ujar Nabilah yang kemudian mengambil bendera milik tim empat.

“Yeaay! Menaaaang,” ujar Nabilah girang.

“Menang Sak,” ujar Refal yang menghubungi markas mereka.

“Woe menang Liid, Dees,” ujar Saktia girang.

“Iya, gue juga denger kali Sak,” Lidya menahan Saktia yang ingin memeluknya.

“Eh, oh iya, kan helmnya samaan ya,” Saktia mengelus helmnya.

~

“Hoaaah capeee,” ujar Kinal yang langsung tiduran di lantai Aula.

“Cape karena kegendutan lu mah Kak,” ujar Gaby.

“Iya deh terserah lo Yam,”

“Yak, selamat selamat,” para Staff muncul dari bagian depan.

“Jadi yang menang tim berapa aja nih?” tanyanya.

“Tim Satu doong,” ujar Sisca dan Nabilah bersamaan.

“Juara duanya?”

“Tim empaaat!!” teriak Kinal.

“Wahaha, yaudah yaudah, selamat ya untuk kalian semua, dan seperti perjanjiannya, tim tiga berarti nggak bisa ngelanjutin ke babak selanjutnya,” ujar Staff.

“Ya… iya dah, mau gimana lagi,” ujar Yona.

“Hehe, maaf ya kakak tuaa,” ujar Lidya.

“Diem lo Lid,”

“Sekarang silahkan istirahat dulu, untuk yang mau mandi silahkan, mau ibadah dulu silahkan, nanti kita kumpul lagi di sini jam tiga sore ya,”

“Lha? Babak selanjutnya langsung hari ini kak?” tanya Desy.

“Iya, tenang nggak nguras tenaga kok, makanya kalian di kasih waktu sampe jam tiga, pergunakan dengan baik waktunya ya,”

Kemudian para Staff kembali keluar dari ruangan.

Refal dan Rizal menatap ke arah Staff yang baru saja keluar dari ruangan.

“Kayaknya ada yang aneh deh,” ujar Refal.

Rizal mengangguk setuju, sambil terus menatap para staff yang kemudian menghilang dibelokan koridor.

TBC

@falahazh

Iklan

8 tanggapan untuk “The Rescuers 3 -Part 2-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s