“Hitam Putihnya Panda : Sinka” Part 5

Sebisa mungkin aku dan kak Naomi memilih meja yang jauh dengan Rizal, baru kali ini aku benar-benar kesal dengan seseorang seperti ini. Tapi apa tidak masalah membiarkan kak Naomi melihat cowok yang disukainya sedang makan malam bersama cewek lain? Aku tidak tega melihat kak Naomi.

“Kak, kita pergi ke resto lain aja yuk.”

Kak Naomi menatapku setelah dia melihat Rizal yang duduk sedikit jauh dari kami, bukannya dia kesal malahan kak Naomi tersenyum padaku sehingga membuat hatiku menjadi tidak karuan.

“Apa kamu mau tau sesuatu?”

Ucapan kakakku terasa sedikit serius, jarang sekali dia bersifat seperti itu, “Iya kak, apa?” Mungkin informasi ini akan sedikit membantuku.

“Rizal.. baru balik ke Indonesia dari mulai kelas 1 SMA, dulunya dari SD dia sudah belajar di Jepang, katanya sih karena keluarganya mengembangkan perusahaan di Indonesia. Dan yang menarik dari dia adalah kejeniusannya, dia berIQ 200,”

Mustahil? Aku sempat tidak percaya dengan kak Naomi jika saja dia tertawa pada akhirnya, namun kali ini benar-benar serius terlihat dari raut wajahnya.

“Kakak mulai ngeliat dia saat ajaran baru berlangsung, selama satu tahun sampai sekarang kakak nggak pernah liat dia tersenyum bahagia, ekspresi wajahnya selalu tenang dan datar.”

Tidak disangka jika ada orang seperti itu. Aku mencoba memperhatikan Rizal selama kami di resto, memang aneh rasanya melihat Rizal berekspresi datar dan tenang di depan cewek cantik yang sedang bersamanya, malah saat-saat mereka mengobrol hanya ceweknya saja yang tertawa maupun tersenyum.

Memang mengejutkan mengetahui informasi seperti itu saat aku baru mengenalnya, apa mungkin karena kejeniusan dan IQ tingginya membuat Rizal bersikap seperti itu? Jika benar mungkin aku yang harus merubah sikapku di hadapannya.

Keesokan hari aku bertemu dengan kapten tim basket di ruangan klub, dia sedang duduk sambil membaca beberapa buku pelajaran dan komik Jepang, aku menelan ludahku dan mencoba beranikan diri berbicara dengannya.

“Apa benar kamu mau aku keluar dari tim?”

Dia hanya diam tanpa memalingkan wajahnya dari buku bacaan, sedangkan aku hanya diam berdiri di depannya selama sekitar hampir satu menit, “Kalo kamu emang mau seperti itu berarti aku akan melakukannya, tapi tolong jawab pertanyaanku ini. Dengan kejeniusan kamu, kenapa kamu mau jadi ketua tim basket?”

Sepertinya pertanyaanku tepat, secara perlahan kini dia memalingkan wajahnya untuk menatapku. Satu yang aku dapat yaitu ekspresi dia hanya datar, “Gue gak punya niat buat jadi tim basket sekalipun.”

Ucapannya terngiang sampai jam siang istirahat, aku duduk termenung sendiri di kantin memikirkan pembicaraan tadi. Beberapa menit bersamanya menambah satu perasaan baru dalam hatiku yaitu kami mempunyai jarak yang jauh satu sama lain.

“Hei ngelamun aja kamu.”

Sedikit terkejut melihat senyum kak Yoga yang terlihat di sebelahku, disaat-saat seperti ini malah kak Yoga begitu membantu untuk membuatku tersenyum dan melupakan tentang perasaanku barusan.

“Makasih ya kak udah bikin aku ketawa lagi.”

“Iya sama-sama, Oiya kapan kalian mulai latihan?”

Benar, aku lupa jika sehabis istirahat ada sesi latihan pertama aku bersama tim basket. Karena belum menyiapkan apa pun akhirnya aku pergi meninggalkan kak Yoga sendiri di kantin, aku mencoba secepat mungkin pergi ke ruang klub. Yah kosong, tidak ada orang diruang itu, dengan super kilat aku mengambil beberapa lembar kertas di ruang klub dan berlari lagi menuju hall indoor.

“Maaf pak aku terlambat.” Ucapku.

Seorang guru olah raga hanya mengangguk tanpa berbicara, sebenarnya fungsi guru olah raga hanya memberikan ilmu basket kepada tim tanpa ikut camput dalam turnamen, itu juga aku yang membuat jadwal latihan tim basket.

Semua anggota sedang berlatih, tapi Rizal duduk di bangku penonton sambil membaca buku pelajaran, dengan inisiatif sebagai penanggung jawab mereka aku pun pergi untuk menghampirinya.

“Kamu gak latihan?” tanyaku lalu duduk di sebelahnya.

Seperti biasa dia tidak menanggapi ucapanku, “Baiklah kamu ini kan kaptennya jadi terserah kamu.”

“Kenapa sifat lu berubah?” tanya Rizal tiba-tiba.

Huh? Pertanyaan dadakannya membuatku bingung harus menjawab apa. Jika dipikir benar juga kenapa aku malah bersikap seperti ini, biasanya aku selalu kesal jika melihatnya.

“Emmm itu, bukan masalah kan aku bersifat baik seperti ini? Lagian sifat kamu juga berubah, biasanya kamu selalu bikin aku kesel tapi sekarang kamu malah jadi pendiam.”

Buku bacaannya pun ditutup dan disimpan di sebalah kiri, dan sekarang dia menoleh kearahku, entah kenapa saat dia melakukan itu membuatku tersenyum dan malah aku duduk menghadapnya walau badan dia tidak menghadapku, setidaknya wajahnya menoleh ke arahku, ya itu cukup. Saat itu aku mulai cerewet, aku menceritakan beberapa cerita kehidupan dan melemparkan beberapa pertanyaan ringan padanya, untung saja dia menjawab pertanyaanku itu, malah ada beberapa moment saat ceritaku lucu dan aku tertawa, aku sedikit bisa melihatnya tersenyum tipis, senyum yang kak Naomi beri tahu, sebuah senyuman tidak lepas. Tapi sepertinya itu cukup buatku, aku bisa mengobrol banyak dengannya selama latihan ya jika di hitung lebih dari 90% aku yang banyak berbicara.

Hari yang melelahkan, sepulang sekolah aku menjatuhkan diriku ke atas kasur. Sesekali aku tersenyum saat mengingat wajahnya, tidak aku sangka ekspresi datar dan tenangnya malah membuatku tertarik. Tunggu, apa mungkin aku jatuh cinta sama dia? Tidak mungkin aku menyukainya.

Beberapa hari berlalu tanpa kuduga membuat hubungan aku dan Rizal semakin dekat, bahkan hubunganku bersama kak Yoga juga tidak kalah dekatnya, cuma ada sedikit perbedaan dari kedua kedekatann ini, yaitu jika dengan Rizal selalu aku yang memulai mendekatinya, untung saja dia selalu menerima kehadirannku walau dia selalu pelit berbicara. Sedangkan dengan kak Yoga, kadang-kadang aku yang menemuinya dan kadang-kadang dia menemuiku. Saat aku sedih dengan sikap dinginnya Rizal disitu kak Yoga membuatku tertawa dan melupakan, aku beruntung bisa kembali kenal dengan kak Yoga.

Sepulang sekolah hari kamis, aku beserta petinggi osis dan osis bidang olah raga berkumpul di hall Indoor, para anggota klub olah raga juga tidak luput dari rapat. Ada yang dari tim voly, bulu tangkis, bela diri, dan masih banyak.

“Besok hari jumat sekitar pukul delapan pagi kita akan pergi ke luar kota untuk melakukan malam bersama, tentu saja beberapa guru akan ikut serta, tujuannya sudah jelas yaitu demi membangun kebersamaan antara bidang olah raga satu dan lainnya.” Ucap ketua osis.

Eh aku lupa memberitahu jika katua osis sekaligus kakak Rizal itu bernama Melody Nurramdhani Laksani, salah satu orang yang aku kagumi di sekolah.

“Rizal…..” Sapa kak Melody begitu manis.

“Tidak, aku gak akan pergi.” Ucapnya sambil membaca sebuah buku pelajaran.

Aku sedikit memanyunkan bibirku mengetahui dia tidak akan ambil bagian dalam kegiatan ini, sejujurnya mungkin aku merasa kehilangan.

“Rizal, aku bilang kegiatan macam ini harus kamu coba, pasti akan menyenangkan,” kali ini ucapan kak Melody begitu lembut tidak seperti biasanya yang selalu tegas, apa karena sedang di depan banyak orang.

“Tidak berarti tidak, sekali lagi aku gak akan pergi.”

“Rizal…” ucap Melody.

“No.. no..” balasnya sambil menggeleng.

Saat itu ekspresi kak Melody langsung berubah serius, sepertinya ini tidak akan baik menurutku. Ketua berjalan mendekati Rizal dan lalu berdiri menghadapnya, semua orang yang lain hanya diam menunggu apa lanjutan dari ini.

“Rizal, kamu tau aku punya sesuatu yang sangat penting, kepunyaanmu yang kakak punya.”

Ekspresi Rizal pun ikut berubah, tatapnya kini sedikit tajam menatap kakaknya, “Kakak!.” Matanya pun sedikit diciutkan menatap kak Melody.

“Sangat Penting! Sesuatu yang kamu cari.” Ucap kak Melody sambil memperagakan sesuatu yang aneh menurutku. Saat kak Melody melakukan hal aneh itu Rizal pun tidak tinggal diam, telunjuk tangan kanan Rizal di tempatkan di mulutnya agar kak Melody tahu untuk tetap diam. Jujur saja aku menatap heran bergantian kakak beradik ini dan sepertinya yang lain pun sama.

“Kak, jangan lakukan ini.” Rizal memohon dengan kedua tangannya walau dia terlihat gregetan dan kesal.

“Kalo gitu kamu dan kakak akan membereskan masalah ini di luar hall.” Secara bersamaan kakak dan adik itu berjalan keluar Hall, sedangkan aku dan yang lainnya tetap berada di dalam.

Tidak disangka besoknya Rizal datang ke sekolah bersama kak Melody tapi eh? Tunggu, siapa cewek yang bersama mereka berdua? Sepertinya aku pernah melihatnya, saat mau pergi juga Rizal dan cewek itu terlihat akrab sehingga membuatku merasa sedikit kesal. Aku benar-benar kembali penasaran apa yang kak Melody lakukan sehingga Rizal bisa menurut seperti itu.

Sesuai jadwal kami semua ke bandara untuk pergi ke luar kota, kebetulan atau tidak saat di pesawat aku duduk bersebalah dengan kak Yoga dan Yupi, sedangkan Rizal? Dia duduk agak jauh dengan wajah ketidak puasannya, padahal aku berharap bisa duduk di sebelahnya. Selama di perjalanan kami tertawa bersama, seperti biasa kak Yoga, Yupi, Nabilah, Acha, dan Iqbal bisa membuatku tertawa tanpa henti dengan lawakan mereka.

Beberapa jam di udara akhirnya kami sampai, mulai dari situ kami melanjutkan menggunakan dua bus besar untuk sampai ke tempat tujuan, sekedar info kami akan menuju perbukitan dangan nuansa alamnya, sudah pasti pemandangannya pun akan sangat indah.

Di dalam bus aku duduk bersama Nabilah dan kak Yoga, tidak seperti di dalam pesawat, kali ini kami sepertinya kelelahan dan aku malah tertidur selama perjalanan. Sesampainya di lokasi semua lelahku di bayar lunas oleh suasana disana, udaranya begitu segar walau sudah pukul dua siang, pasti udaranya lebih segar pada pagi hari besok.

Perjalanan ini belum berakhir, kami harus berjalan kaki masuk lebih dalam ke perbukitannya, karena jauh di depan ada lapang berumput hijau yang nantinya akan menjadi tempat menginap, tapi sebelum itu kami berjalan melewati jalan setapak di dalam hutan, walau jalannya tidak menanjak tapi tetap saja aku merasa lelah. Setelah berjalan hampir 45 menit akhirnya kami sampai di lokasi, benar-benar lapangan luas dengan rumput hijaunya ditambah angin yang begitu sejuk dirasa. Sepertinya tidak salah aku ikut dalam acara seperti ini.

 

 

 

*To Be Continued ………

Twitter : https://twitter.com/BeaterID

 

Iklan

Satu tanggapan untuk ““Hitam Putihnya Panda : Sinka” Part 5

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s