Sebuah Cinta Dan Kenangan, Part23

Pagi hari pukul 06.02. Hari Kamis.

 

“Pagi ini jangan telat, nanti kaya biasa aku jemput” Ucap Erza lewat chat Line.

“Hari ini aku berangkat sendiri aja deh” Balas Shani.

“Kenapa ?”

“Ga papa kok”

“Beneran ?” Tanya Erza memastikan.

“Aku bilang ga papa ya ga papa. Aku mau berangkat sendiri aja, kamu berangkat duluan”

“Loh kok nadanya kaya agak marah ?”

“Jangan chat dulu !” Balas Shani.

Hari berikutnya.

 

“Nanti jalan yuk” Ajak Erza.

“Nanti aku ada acara, aku ga bisa” Tolak Shani dengan nada agak berat karna sebenarnya Shani juga tak mau menolaknya.

“Yaudah deh”

 

Setelah mengajak Shani jalan namun Shani menolaknya. Erza mencoba mengajak Gracia karna Erza merasa bosan terus berada dalam rumah.

 

“Gimana ?” Tanya Erza.

“Maaf hari ini aku ada janji sama mama buat nemenin dia kerumah saudara, kak” Balas Gracia.

“Yaudah, tapi lain kali mungkin bisa” Ucap Erza.

“Maaf kak, jangan kontak aku dulu ya” Ucap Gracia.

“Loh kenapa emangnya ?” Tanya Erza, namun Gracia tak membalasnya lagi.

 

Beberapa hari telah berlalu. Banyak keanehan yang Erza rasakan disekitar. Saat Erza menanyakan pada para sahabatnya dan juga kak Melody malah Erza mendapat jawaban dari mereka bahwa Erza lah yang terlihat aneh.”Apa yang aneh dengan diri gue ?” Erza merasa bingung dengan suasana sekeliling.

 

Dari Melody yang menjadi suka ngelarang ini itu. Ga boleh keluar malam. Pokoknya Melody semakin mendekat dengan Erza. Mendekat dalam artian selalu menunjukan rasa sayang yang besar untuk adiknya lebih dari biasanya.

 

Shani, emosinya selalu berubah-ubah. Kadang seperti biasa namun seketika berubah jutek dan kadang bisa menaikan nada suaranya saat berbicara dengan Erza. Tersenyum manis dan tiba-tiba meluk dan nangis.

 

Gracia. Bisa dikatakan Gracia sangat dekat dengan Erza. Bahkan, Gracia sangat sering menunjukan sifat bermanja-manja denga Erza. Periang, bawel, agak gesrek tapi kadang bisa jadi sangat anteng dan kalem. Tapi beberapa hari ini Erza merasakan keanehan juga dari diri Gracia.

 

Hidup yang membingungkan. Seakan semua menjadi berubah setelah malam itu. Malam ketika Shani menginap dirumah Erza dan disaat malam itu juga Shani menangis entah dengan alasan apa. Semua masih berlari-lari dipikiran dengan bebasnya.

 

“Bikin bingung aja” Lirih Erza.

 

Saat keluar dari tempat parkir. Erza melihat Ardi tak terlalu jauh berada diambang pintu gerbang. Erza ingin menghampiri dan menyapanya untuk megajak masuk ke dalam kelas bareng. Namun, Erza urungkan niatnya karna Ardi terlihat sedang menjawab panggilan telfon dengan wajah serius.

 

Sebelum Erza melangkahkan kakinya kembali, Erza mendengar ucapan terakhir Ardi sebelum menutup panggilan tersebut.

 

“Oke” Ardi menutup panggilan dengan tersenyum dan pergi menjauh kembali dari sekolah.

 

“Lah ? Itu anak mau kemana ? Bolos” Ucap Erza melihat perginya Ardi.

 

Dengan langkah ringan nya melewati kelas-kelas yang terlihat masih belum terlalu banyak muridnya. Pagi itu Erza berangkat tanpa menjemput atau bareng dengan siapapun. Shani, ia bilang bahwa pagi itu tak usah Erza jemput. Erza terus bertanya kenapa pagi itu tak mau bareng tapi malah Erza mendapat jawaban keras dari Shani. Akhirnya Erza hanya bisa mengalah untuk tak menjemput Shani. Gracia ? Hampir sama dengan Shani, namun Gracia menolak dengan halus.

 

“Lah kenapa gini ? Bodo lah” Batin Erza memikirkan.

 

Sesampainya di ruang kelasnya. Baru terlihat Anin, Elaine dan Yogi. Elaine dan Yogi duduk bersebelahan pada bangkunya saling ngobrol, entah apa yang diobrolin. Anin sibuk dengan sarapannya. Mungkin belum sempat sarapan dirumah kali.

 

“Pagi, za” Sapa Anin.

“Yo, pagi juga…lanjutin makan aja” Ucap Erza duduk dibangkunga.

“Kok lu ga bareng sama Shani, za ?” Tanya Elaine.

“Oh itu ? Kata Shani tadi gue disuruh duluan. Ada keperluan bentar soalnya”

“Eh, gi !” Panggil Erza pada Yogi.

“Ya ?”

“Hari ini si Ardi mau bolos ya ? Tadi gue liat digerbang terus cabut lagi”

“Kaga bolos. Dia tadi sms gue katanya ada urusan mendadak bareng keluarganya, penting” Balas Yogi.

“Oh iya, hari ini si Rezki juga kaga masuk. Kemarin gue ketemu di bandara pas mau jemput tante gue” Lanjut Yogi.

“Mau ngapain emang ?” Tanya Erza.

“Mau ke rumah saudaranya. Katanya mau nikah”

 

“Shani belum masuk juga”

 

Erza melihat jam tangannya. Keadaan kelas sudah penuh dengan murid lainnya bahkan pelajaran pertama pun sudah dimulai. Namun, belum juga nampak tanda-tanda Shani.

 

Para siswa maupun siswi terlihat disekeliling saling ngobrol dengan makanan dan minuman dimejanya. Erza dan yang lain telah berada di kantin sekolah sedari tadi sambil menunggu pesanan mereka datang.

 

“Eh, maaf…” Ucap Erza pada salah satu siswi adik kelasnya yang duduk dibelakangnya hanya berjarak satu meja.

“Iya, ada apa ya kak ?” Tanya nya dengan sopan.

“Kamu teman satu kelasnya Gracia kan ?”

“Iya, bener kak. Mm…kakak, kak Erza ya ?” Tanya nya, Erza tersenyum.

“Gracia kemana ? Kok ga ke kantin bareng kalian ?”

“Loh emang kakak ga tau ?” Ucapnya.

 

Seketika jantung Erza berdetak dengan satu denyutan keras.

 

“Emang Gracia kenapa ?” Tanya Erza mulai khawatir.

“Gracia kan hari ini ga masuk sekolah”

“Sakit ?”

“Ga tau kak, ga ada keterangannya tapi kayaknya sih sakit. Mungkin surat izin nya nyusul nanti kalo udah masul lagi, kak”

“Kalo gitu, makasih” Ucap Erza tersenyum dan berbalik ke mejanya.

“Kak Erza ganteng banget”

“Iya, aduh jadi gemes”

“Beruntung banget ya Gracia bisa deket banget sama kak Erza” Ucap para siswi yang berada satu meja.

 

“Gre dikelas ?” Tanya Elaine. Erza menggeleng.

“Taman belakang ?”

“Yang jelas diarea sekolah kaga ada. Hari ini dia kaga masuk”

“Sakit ?” Tanya Anin.

“Mungkin” Balas Erza.

“Terus Shani ada kabar ga ? Ga masuk sekolah kenapa gitu” Ucap Elaine.

“Belum ada. Chat kaga di baca, telfon kaga diangkat”

“Gini aja, habis jam pulang nanti kita bareng aja cabut ke rumah Gre sama Shani” Usul Elaine.

“Oke”

“Gw setuju”

“Ayo”

 

Persingkat waktu. Erza bersma Anin, Elaine dan Yogi sampai didepan rumah Shani. Dikarenakan rumah Shani lebih dekat dengan sekolah dari pada rumah Gracia yang lebih jauh. Rumahnya kan juga dekat dengan rumah Erza. Namun suasana rumah tampak sepi dari luar.

 

“Beneran nih Shani sakit ? Kok kaya sepi rumahnya” Ucap Anin kemudian melongok kearah halaman depan rumah Shani lewat atas gerbang pendek rumah.

“Lah emang ibunya dimana ?” Tanya Elaine.

“Mungkin udah pergi buat kerjaan” Balas Erza.

“Coba pencet tuh bel” Ucap Yogi.

 

“TING TONG !” Anin menekan bell.

 

Dari luar suara bel terdengar nyaring menggema didalan rumah. Belum ada respon. Anin kembali menekan bell. Hasil masih sama. Tak ada respon dari dalam rumah.

 

Beberapa saat pintu gerbang dari rumah sebelah membuka. Muncul pria paruh baya dengan rambut yang sedikit beruban namun masih tampak sehat, bugar.

 

“Anak-anak ini mau cari siapa ya ?” Tanyanya.

“Maaf pak, penghuni rumah ini pada kemana ya ?”

“Kalo jam segini mah paling ada di butik. Tapi memang tadi saya liat ibu dari rumah ini lagi ngurus pekerjaanya ngurusin butik. Nah, kalo anaknya paling bentar lagi pulang dari sekolah”

“Kalian teman nya Shani ?” Sambungnya.

“Iya pak, kami temen nya Shani. Tapi…” Kalimat Elaine terhenti.

“Hari ini Shani ga masuk sekolah, makanya kami kesini buat nyari tau kalo Shani ga masuk itu karna sakit atau apa”

“Loh, nak Shani ga masuk ? Orang tadi pagi saya liat sendiri Shani keluar rumah dengan seragam lengkap kok”

 

Mereka saling pandang. Bingung. Katanya masuk tapi anaknya disekolahan tak terlihat. Masa iya Shani bolos ? Ya kali Shani kaya Author cerita ini. Bolos sampe 22x *abaikan.

 

Karena merasa bingung dan bercampur khawatir. Erza meminta alamat butik dari ibu Shani kepada bapak tetangga Shani tersebut untuk menanyakan langsung pada ibunya Shani. Setelah diberikannya alamat butik merekapun pamit. Erza dengan memboncengkan Anin dan Elaine bersama Yogi. Mereka bersama menuju alamat yang dimaksud.

 

Tak terlalu jauh memang, hanya memakan waktu kurang lebih Lima belas menit lamanya dari rumah Shani. Ibu Shani langsung menghampiri dan mereka pun juga langsung berbicara apa tujuan mereka datang.

 

Dari wajah Tante Indira (Ibu Shani) tergambar jelas ke khawatiran seorang ibu pada anaknya. Apalagi si anak adalah anak gadis. Ternyata kata tante Indira, Shani tadi pagi berangkat sekolah seperti biasanaya. Sementara itu yang disekolah malah tak terlihat Shani masuk. Ditambah lagi Shani yang tak dapat dihubungi dimana keberadaannya sekarang. Hal tersebutlah yang membuat pikiran semakin tak karuan.

 

“Kita lapor polisi” Ucap tante Indira.

“Jangan dulu tan, lagian harus Satu kali Dua puluh Empat jam kan kita baru bisa melapor” Ucap Erza.

“Tapi Shani dimana ?!”

“Tante tenang aja dulu, kita coba cari. Semoga aja ga terjadi apa-apa” Ucap Yogi.

 

Setelah berhasil sedikit menenangkan tante Indira. Erza beserta yang lain bergegas ke rumah Gracia. Lagi-lagi, rumah yang mereka datangi dalam keadaan sepi.

 

“Kak Ve pasti belum pulang dari tugas kampusnya” Ucap Erza.

“Hubungin aja kak Ve” Usul Anin.

“Itu dia masalahnya. Kontak kak Ve kehapus”

“Aelah…disini ada yang punya ?” Tanya Anin. Semua menggeleng.

“Ga ada pilihan lain, kita tunggu sini sampe kak Ve pulang” Ucap Anin.

“Kalo gitu tunggu dirumah gw aja” Ucap Erza.

“Ga usah. Mending nunggu bareng aja disini” Ucap Elaine.

 

Cukup lama mereka menunggu kembalinya Ve dari aktifitas harian. Namun belum juga terlihat tanda-tanda akan bayangan yang mereka tunggu mendekat. Mereka juga menunggu kabar dari Gracia namun lagi-lagi masih sama hasilnya, belum ada.

 

“Gimana ini ?” Tanya Anin.

“Iya, kita disini udah hampir 3 jam loh” Ucap Elaine.

 

Erza yang sedari tadi sibuk sendiri dengan mengotak-atik ponselnya akhirnya ikut bersuara…

 

“Kita tunggu aja sebentar lagi, kalo masih belum pulang kita balik lagi aja besok” Ucap Erza.

“Yaudah”

 

Bukan apa-apa karna mereka memang sudah menunggu sekitar tiga jam lebih dengan posisi bediri dan kadang berubah jongkok karna merasa pegal.

 

Tak berapa lama mulai terlihat sebuah mobil dengan warna hitam mendekat. Orang yang sedari tadi ditunggu kini telah mendekat. Ve akhirnya pulang kerumah.

 

“Loh kalian disini ?” Ucap Ve mebuka kaca mobil sesampainya didepan gerbang rumahnya.

“Udah lama ?” Lanjutnya.

“Lumayan sih, kak” Balas Yogi.

“Loh kok ga bareng sama Gre ?” Tanya Ve saat menyadari tidak adaknya sosok adiknya disitu.

“Nah itu yang mau kita tayain ke kak Ve” Ucap Elaine.

“Maksudnya ?”

“Hari ini Gre sakit ya kak ?” Ucap Anin.

“Sakit ? Kata siapa ? Ngga kok, tadi pagi juga berangkat sekolah kaya biasanya”

“Masa kak ?” Bingung Elaine.

“Lah, emang ada apa ? Gre kemana ?”

“Hari ini Gracia ga keliatan disekolah kak. Makanya kita kesini buat mastiin Gracia sakit atau apa” Ucap Anin.

 

Ve langsung keluar dari mobilnya dan mengambil tasnya yang berada di kursi belakang. Merogoh sesuatu didalamnya. Sebuah ponsel. Ve mencari kontak nama disana dan mencoba menghubunginya. Namun, beberapa kali Ve mencoba hasil nya masih nihil.

 

“Hp nya Gre ga aktif…” Ucap Ve mulai khawatir.

“Nah itu juga masalahnya kak, hp Gre ga aktif dari tadi pagi. Bukan hanya Gre, hp punya Shani juga sama” Ucap Erza.

“Hari ini Shani ga masuk sekolah tapi tadi saat kita tanya langsung sama ibunya katanya Shani tadi pagi juga masuk sekolah” Lanjut Erza.

“Shani ga bisa dihubungi juga ?” Tanya Ve.

 

Semua mengangguk menanggapi pertanyaan Ve barusan.

 

Ve mengajak semua masuk kedalam rumah. Saat didalam mereka hanya saling pandang melihat raut wajah khawatir yang tergambar jelas di wajah lelahnya Ve.

 

“Udah kak jangan khawatir dan jangan mikir yang macem-macem” Ucap Erza.

“Iya kak, mungkin Gre lagi main sama Shani ? Tapi hp mereka sama-sama habis batrainya” Sambung Anin.

 

Ve hanya diam sambil menggigit kuku jari tangannya.

 

Suara dering ponsel dari salah satu terdengar berbunyi. Suara tersebut berasal dari saku celana milik Erza. Erza langsung meminta izin untuk menerima panggilan tersebut dan pergi menjauh dari yang lain menuju halaman belakang. Lumayan jauh.

 

“Kak Ve ambilin minum buat kalian ya”

 

Ve berucap setelah sekian lama hanya diam dan bangkit dari duduknya, namun tanganya langsung ditahan oleh Anin.

 

“Biar aku aja yang buat, kak” Ucap Anin, Ve mengangguk dan duduk kembali.

 

Anin melangkakan kakinya menuju dapur. Namun, belum juga sampai di dapur ia melihat Erza dihalaman belakang yang sedari tadi mengangkat panggilan masuk. Anin yang sedikit muncul rasa ingin taunya mencoba mendekat untuk sedikit menguping pembicaraan yang terjadi antara Erza dan entah siapa diujung panggilan tersebut.

 

“Oke, kerja bagus. Nanti kita bicarain lagi langkahnya. Makasih banget” Ucap Erza dan menutup panggilannya.

 

Anin yang mengetahui percakapn telah selesai langsung pergi menuju dapur. Takutnya Erza bisa melihat Anin yang sedang mengupingnya.

 

“Kerja bagus ? Langkah ? Langkah apa dan apa yang mereka bicarakan ?”

 

Selama didapur saat membuat minuman pikiran Anin terus berlari-lari liar memikirkan ucapan Erza yang ia dengar.

 

Tak terlalu lama mereka disana, mereka memutuskan untuk berpamitan kepada Ve. Tentunya setelah Ve sudah sedikit membaik dari rasa khawatirnya.

 

“Gue penasaran sama obrolan Erza tadi pas nerima telfon” Batin Anin.

“Gue harus tau” Lanjutnya dalam lamunan tepat dibelakang Erza, membonceng.

 

“Hei…udah sampe. Mau turun ga ?” Ucap Erza membuyarkan lamunan Anin.

“Ah, udah nyampe ya ?” Ucap Anin sambil turun dari motor.

“Lagi ngelamunin apa ? Bahaya loh lagi bonceng terus ngelamun”

“Iya maaf”

“Lain kali jangan diulangi. Selain bahaya nanti gue juga yang repot” Ucap Erza tetsenyum.

 

“Masa iya Erza ada hubungannya ?” Batin Anin.

“Ah, apaan sih ? Baru juga gitu udah dipikir yang ngga ga”

 

“Tuh kan ngelamun lagi” Ucap Erza.

“Yang ngelamun juga siapa ? Udah ah, gue mau masuk duluan. Hati dijalan, jangan ngebut” Ucap Anin.

“Gue masuk duluan ya” Pamit Anin.

“Oke”

 

Anin berjalan akan memasuki rumahnya. Sementara Erza memutar arah sepeda motornya dan mulai terlihat pergi menjauh dari hadapan rumah Anin. Sebelum masuk benar-benar masuk, Anin melihat kepergian Erza dengan menatap punggungnya.

 

Tak banyak kata yang terucap dimulut, namun banyak yang melintas dipikiran. Anin memasuki rumahnya dengan pikiran yang masih berlari kesana kemari memikirkan banyak hal. Termasuk hal yang paling baru. Ketertarikan dengan obrolan yang Erza ciptakan tadi saat menerima panggilan di rumah Ve.

 

Keesokan harinya. Tak terlalu banyak pembicaraan ataupun hanya sekedar obrolan kecil yang terlihat. Keduanya entah kenapa merasa canggung satu sama lain. Erza sibuk dengan ponselnya begitu juga dengan Anin.

 

Sudah satu hari ini Shani maupun Gracia masih juga belum ada kabar. Pihak yang bersangkutan sudah melaporkan ke pada pihak yang berwajib. Hanya tinggal berdoa meminta agar orang yang mereka sayangi berada dan bisa kembali dengan selamat bisa berkumpul kembali.

 

“Za..” Panggil Anin lirih. Erza menengok sebentar.

“Shani sama Gre…”

 

“BRREETTTT”

 

Belum sempat Anin menyelesaikan ucapannya, ponsel Erza berdering. Dengan terpaksa Anin harus menghentikan ucapannya barusan.

 

“Sebentar nin….” Ucap Erza.

“Gue kesana sebentar ya” Lanjutnya.

 

Pamit Erza dan pergi melangkah mejauh dari Anin. Dengan rasa penasarannya Anin kembali mendekat secara diam-diam ke arah Erza untuk menguping. Setelah dirasa tempat yang ia gunakan aman, Anin memasang pendengaranya dengan fokus.

 

“Jangan…gue ga mau ketauan sama yang lain” Ucap Erza menjawab panggilan masuk.

“Pokoknya jangan dulu. Kalo lu tetep ga mau, Shani sama Gre biar gue yang urus”

“Makanya…kalo waktunya udah pas kita lakuin”

 

“Aarrgghhh…”

 

“Ga tau, kita udahin aja dulu”

 

Erza dengan cepat mematikan pembicaraannya karna mendengar suara teriakan kecil dibalik semak.

 

Sementara itu.

 

“Sebenarnya apa yang mereka bicarakan sih ?” Ucap Anin sambil mencerna ucapan yang ia dengar dari mulut Erza.

 

Saat Anin menengokan sedikit kepalanya. Tepat disebelahnya, disalah satu ranting terdapat ulat bulu lumayan besar. Mata Anin melebar melihatnya, secara reflek…

 

“Aarrgghhh…” Anin sedikit berteriak namun langsung bisa ia tahan.

 

“Ngapain juga ini ulet bulu ada disini ?” Lirih Anin sambil mencoba membuang Ulat bulu tersebut dengan salah satu batang ranting.

 

“Harusnya pertanyaan itu buat lu. Ngapain lu ada disini ?” Ucap Seseorang.

“Eh ?!” Anin kaget mendengarnya sambil menoleh.

 

 

 

*bersambung…

 

 

Wali Murid : Shanji bukan Shanju

 

Iklan

3 tanggapan untuk “Sebuah Cinta Dan Kenangan, Part23

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s