Oh Senyummu, part 2

“Thanks men” Isi pesan yang dikirim Luki.

Kini di depan kantin hanya ada Luki dan Sinka. “Eh sin gimana liburan kamu kemaren?” Tanya Luki mencoba membuka pembicaraan.

“Boring banget, selama liburan aku cuma diem di rumah aja” Jawab Sinka.

“Ohh…” Ucap Luki.

“Ihh.. kok cuma ohh sih jawabnya” Ucap Sinka kesal sambil mengembungkan pipi dan membuang muka.

“Lahh emang maunya aku jawab gimana?” Tanya Luki polos.

“Ya apaan kek, asal jangan cuma ohh” Jawab Sinka kesal.

“Kamu gitu aja ngambek -,-“ Ucap Luki.

“Aku nggak ngambek!” Ucap Sinka cuek.

“Hahaha kamu kalo lagi ngambek lucu tau sin, pipinya jadi tambak gede” Ucap Luki tertawa.

“Ihhh… kamu jahat banget sih” Ucap Sinka manja sambil memukul pundak Luki.

Namun bukanya kesakitan dan mencoba meredakan amarah Sinka. Luki malah semakin membuat Sinka kesal. “Hahaha.. sumpah sin, pipi kamu tuh gede banget kayak pantat bayi” Ucap Luki tertawa.

“Ahh.. tauk ah” Ucap Sinka yang kemudian berdiri membelakangi Luki.

“Tapi meskipun pipi kamu kaya pantat bayi, kamu tetep cantik kok sin” Ucap Luki.

“Bodo amat…” Ucap Sinka kesal.

“Kamu tau nggak…” Ucap Luki.

“Nggak!” Ucap Sinka memotong pembicaraan.

“Tunggu aku selesai ngomong dulu napa” Ucap Luki.

“Gausah, aku udah tau kamu mau ngomong apa” Ucap Sinka.

“Apaan coba?” Tanya Luki.

“Gatau ah, nggak penting juga” Ucap Sinka.

“Makanya kalo ada orang ngomong dengerin dulu -,-“ Ucap Luki.

“Hmmm…” Ucap Sinka bergumam.

“Eh… luk gue ke kelas dulu ya” Teriak Navis berlari keluar kantin.

“Iya…” Ucap Luki.

“Itu sinka ngapain kok malah berdiri bukannya duduk?” Tanya Shania berjalan keluar dari kantin.

“Biasa lah, ngambek dia” Jawab Luki.

“Lu kalo bego gausah kebangetan luk, gebetan ngambek malah didiemin aja” Ucap Shania duduk di depan Luki.

~oOo~

Ya, Sinka adalah gebetan Luki sejak ia masih kelas 10. Mereka bertemu pertama kali saat MOS hari kedua, saat itu Luki sedang dihukum oleh para senior untuk membersihkan sampah di lapangan karena ia telat. Saat Luki sedang memunguti sampah di lapangan ia melihat ada cewek yang juga telat, cewek itu memakai jaket panda dan rambut yang cempol. Itulah saat pertama kali Luki melihat Sinka. Luki lanjut memunguti sampah di lapangan dan tidak memperhatikan Sinka lagi. Saat kantung plastik yang dibawanya sudah penuh dengan sampah Luki berniat membuangnya dan pergi ke kelas, namun saat ia berjalan ke arah tempat pembuangan sampah ia melihat Sinka seperti kebingungan. Luki pun mengurungkan niatnya untuk membuang sampah dan merubah haluannya ke arah Sinka. “Hei.. kamu kenapa kok keliatannya bingung gitu?” Tanya Luki.

“Umm.. aku gatau harus ngumpulin sampahnya gimana” Jawab Sinka.

“Ya tinggal ambil aja terus masukin ke plastik” Ucap Luki.

“Iya kalo itu sih aku tau, tapi masalahnya tadi kata kakak senior kantung plastiknya abis” Ucap Sinka.

“Ohh.. yaudah nih kamu buang aja punya aku biar nanti aku cari lagi” Ucap Luki tersenyum lalu meninggalkan Sinka.

Sinka hanya terdiam melihat Luki berjalan semakin jauh. Sejak saat itu mereka berkenalan dan semakin dekat sampai akhirnya jadi gebetan. Namun sampai sekarang masuk kelas 11 mereka belum juga pacaran.

~oOo~

“Lahh lu kan tau sendiri gue tuh paling nggak bisa kalo soal ngerayu cewek” Ucap Luki.

“Ya paling nggak usaha lah daripada didiemin gini” Ucap Shania.

“Iya ini gue juga lagi mikir gimana caranya bikin sinka nggak ngambek lagi” Ucap Luki.

“Emang lu ngomong…” Ucap Shania.

“Dasar cowok bego!” Teriak Sinka memotong pembicaraan dan berlari ke arah taman sekolah meninggalkan Shania dan Luki.

Shania dan Luki hanya bisa melihat Sinka dengan tatapan heran. “Gue kejar sinka dulu ya nju” Ucap Luki berdiri.

“Iya, gue juga mau liat papan pengumuman, ngecek masuk kelas mana” Ucap Shania juga berdiri.

“Yaudah sekalian liatin gue masuk kelas apa” Ucap Luki mulai berjalan mengejar Sinka.

Sesampainya di taman, Luki mencari keberadaan Sinka, ia berjalan ke arah pohon besar yang berada di ujung taman. Setelah berjalan lumayan jauh, Luki memutuskan untuk duduk dibangku yang berada di bawah pohon besar itu. Saat Luki diam memikirkan bagaimana caranya untuk membuat Sinka agar tidak marah lagi dengannya, ia mendengar seseorang menangis dibalik pohon besar itu.

“Kenapa sih kamu bego banget.. hiks… hiks….” Ucap seseorang dibalik pohon itu.

“Aku tau pasti kamu bakalan kesini sin” Ucap Luki dalam hati.

Setelah menghela nafas panjang, Luki berdiri dan memutuskan untuk berjalan ke balik pohon untuk menemui Sinka. Sinka masih menangis dibalik pohon itu sehingga ia tidak menyadari saat Luki duduk di sampingnya.

“Maafin aku ya sin” Ucap Luki.

Sinka menoleh ke arah Luki dan memeluknya. “Kenapa sih aku harus sayang sama orang bego ini hiks.. hiks…” Ucap Sinka menangis.

Luki tidak menanggapi perkataan Sinka, ia hanya mengelus-elus rambut Sinka. Setelah beberapa saat Sinka pun mulai berhenti menangis.

“Sampai kapan sih kita harus kaya gini terus?” Tanya Sinka masih terisak-isak.

“Sabar ya sayang, kita tunggu waktu yang tepat buat ngomong ini ke semuanya” Jawab Luki.

“Iya tapi sampai kapan? Nggak enak kalo gini terus” Ucap Sinka.

“Aku juga gatau sampai kapan, kita tunggu aja, sabar ya” Ucap Luki mengecup Sinka.

“Iyaa….” Ucap Sinka sedih.

“Yaudah kita ke kelas aja yuk, udah hampir jam 8 nih” Ucap Luki.

“Iyaa…” Ucap Sinka.

Kemudian Sinka pergi ke kelasnya dan Luki pergi ke papan pengumuman untuk melihat ia masuk kelas apa. Saat berjalan ke arah papan pengumuman tiba-tiba. “Wooyyyy… vangsat!” Teriak seseorang.

*to be continue

-Luki Himawan-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s