Fiksi dan Fakta part 36

Bayangan akan datangnya tahun ajaran baru mulai dirasakan. Hari-hari yang panjang juga telah dilewati. Hari terakhir, mungkin akan menjadi lebih spesial.

Berbeda dengan Jaka, semuanya tampak bercanda gurau di ruang keluarga.

Jaka terus memandangi kaca jendela kamarnya. Tiupan angin lembut getarkan dawai-dawai nyanyian daun, diikuti hentakkan rintik air hujan yang menyapu dan menyentuh lembut permukaan tanah. Terbesit rasa kecewa dalam hatinya, karena gagal menghentikan semuanya seperti yang Zidane sang sahabat lama minta. Terlebih lagi, sosok Ve yang menghilang begitu saja, buat hari Jaka semakin sepi.

“Raz, ayo turun?” Michelle membuka pintu kamar Jaka, dan berdiri menatapnya.

“Chel? Iya, nanti ya..” Jaka menoleh sejenak. Berusaha menangkap tatapan Michelle agar tak ada ekspresi salah yang perlu dijelaskan.

“Razaqa..” Ucap Michelle khawatir.

Jaka menoleh kearah Michelle. Jaka tersenyum.

“Aku tunggu ya..” Michelle membalas senyuman itu dan berlalu.

Michelle paham, bahwa Jaka sedang mengalami momen yang sulit. Malam ini? Entahlah, tampaknya terlihat biasa-biasa saja.

Sedikit pembahasan, Gre terlihat tetap dengan perawakannya yang selalu tersenyum dan gembira. Sepertinya, papa Michelle juga bingung dengan sikap keponakannya yang sangat gembira ini (?). Sialnya, Jaka mencuri dengar saat Gre terisak dari dalam kamarnya. Gre berulang kali mengatakan sesuatu, namun Jaka tak bisa mendengar dengan jelas.

*Skip

“Udah tipis banget..” Keluh Kelpo pada Jaka, Mike dan Bobby.

“Iye, gue juga nih..” Bobby memandangi dompetnya yang sudah kurus (?)

“Tenang, bro. Mulai hari ini, bokapnya Michelle yang ambil alih.” Mike sedikit menari girang, buat Kelpo dan lainnya
memukuli Mike.

“Ahh.. lu pada gitu ma gue-_-“

“Lu sih.. lagian kita gaboleh gitu aja minta ke keluarga Michelle..” Sambung Kelpo.

“Ngerepotin mereka nanti..” Bobby melemparkan guling pada Mike.

“Perasaan kita udah ngerepotin mereka..” Kini mereka melihat satu sama lain.

Entah, tak jelas apa yang mereka pikirkan. Mereka terus memandangi satu sama lain, seperti berpikir ‘Jadi harus gimana?’.

“Udeh.. daripada cenga-cengo, maen kartu hayuk!” Ajak Jaka tiba-tiba sambil meraih kartu remi.
“Cangkul yak?” Pinta Mike.

“Ga sekalian hantu?” Sahut Kelpo diikuti tamparan keras ke kepala Mike.

Suasana kembali cair. Mereka beberapa kali menolak berbicara tentang ketidakjelasan seperti Fuuto, tahun ajaran baru dan lainnya.

Disisi lain, Viny terus mengunci rapat-rapat telinganya dengan headphone warna hitamnya. Beberapa lagu lama juga menjadi pilihan utama Viny, seperti lagu-lagu dari band Weezer, Radiohead, The Beatles, The Rolling Stones, Led Zeppelin, Indecent Obsession, dan masih banyak lagi.

Viny kehilangan sosok Mike. Sepertinya kalimat barusan mewakili perasaan Viny yang sebenarnya.

Ia melihat isi dompetnya. ‘Wallet’-nya
masih stabil. Semuanya mulai mempermasalahkan uang.

“Viny?” Tepukan dari seseorang kagetkan Viny.

“Eh?” Viny berbalik.

Elaine berdiri sambil tersenyum tipis kearah Viny.

“Ayo, kamu dicari Michelle sama Shania..” Elaine menarik tangan Viny begitu saja.

Viny mengikuti langkah kaki Elaine.

“Oh iya, btw kamu dengerin lagu apa sih? kayanya asik banget, huu…” Tanya Elaine pada Viny.

“Ehh? engga ko, cuma lagu-lagu favorit aku aja..” Jawab Viny seadanya.
“Kasih refrensi dong! aku bosen denger lagu-lagu di hp aku..” Pinta Elaine dengan nada manja.

“Boleh kok.. boleh banget. Nanti aku kirim satu-satu deh..” Viny tersenyum.

Mereka telah menemui Michelle, Shania, Gre, dan Andela. Kini, sepertinya mereka ingin membahas destinasi wisata selanjutnya.

Viny hanya duduk memperhatikan.

*Skip

“JOKER!!” Teriak Mike penuh semangat.

Jaka meletakkan joker merah dengan santai.

“SIAL?!!!” Teriak Mike lagi.
“Huaahahaha..” Kelpo tertawa keras.

“Sadis lu, Jak. Hahaha..” Timpal Bobby.

Jaka tersenyum lebar.

“YAHH…!! gagal menang..” Mike menepuk jidatnya.

Semuanya tertawa.

“Udah ah, males tau..” Mike bangkit dan mengambil jaket tracktop warna biru-nya.

“Mo mane lu?” Tanya Bobby cepat.

“Diluar masih ujan, gelo.” Kelpo berdiri.

Mike menggeleng-geleng.

Jaka hanya terkekeh melihat jawaban Mike.
“Gue nemuin Ndel dulu. Hoaaamm..” Kelpo bangkit dan meninggalkan yang lain, lalu diikuti dengan Mike.

Saat Bobby sedang menyusun kembali kartu remi yang berserakan, tiba-tiba Jaka bertanya.

“Bob, lu suka Shania?” Tanya Jaka buat Bobby tertawa.

“Hahaha.. paan sih lu, Jak? mana ada lah, kami kan temen doang..” Bobby memang terlihat tenang, tapi dia tak melihat mata Jaka. Itu yang membuat Jaka ragu.

“Hahaha.. gue cuma nebak doang. Kayanya kalian sama-sama suka.” Jaka basa-basi.

“Ahh.. beneran lu, Jak?” Respon Bobby sempat kagetkan Jaka
“Em..em..emang kenapa, Bob?” Jaka terbata.

“Ehh.. engga engga..” Bobby tertunduk, jelas sekali mukanya memerah.

Jaka membuang tatapannya acak. Mencoba menghilangkan rasa canggung diantara dia dan sahabatnya itu.

“Tapi, Shania itu manis..” Bobby bangkit dan meletakkan kartu yang telah ia susun.

“Ehh?” Jaka kembali menatap Bobby.

“Gue cabut yak! Mau cari-cari suasana luar, Jak.. Mari..” Bobby tersenyum lebar lalu pergi.

Jaka tersenyum senang. Ia terus menatap ke langit. Mencoba mencari alasan kenapa kebahagiaan bisa
datang secepat ini. Kebahagiaan apa?

*Skip

Andela dan Kelpo menghabiskan waktu dengan membahas sebuah buku tentang sejarah blok Poros pada perang dunia kedua.

“Huh, akhirnya selesai.” Ucap Kelpo sambil merebahkan kakinya.

“Menurut aku, setiap orang yang bilang ini salah atau itu salah, mereka semua bohong.” Andela tampak membolak-balikan halaman yang membuatnya tertarik.

“Hmm.. sebenernya gaada yang perlu disalahin disetiap kesalahan(?). Ya, tergantung kita lihat dari sudut mananya..” Secara tidak langsung, Kelpo menyetujui perkataan Andela.
“Ga gitu juga sih. Kita ambil contoh pencuri deh. Kenapa sih, orang-orang selalu menghakimi pencuri? padahal kesalahan itu juga ampe di pemerintah loh.” Kelpo mengangguk-angguk sambil menatap nanar ke lantai, memikirkan sesuatu.

“Kesejahteraan mereka yang ga terpenuhi, bikin angka kejahatan meningkat..” Kelpo menambahkan.

“Tapi, gimana kalo mereka ngelakuin itu demi kesenangan semata?” Andela malah memperumit.

“Eh? Kok kamu nanyanya gitu?”

“Ini obrolan bebas, kan?” Andela menaikkan alis sebelah kirinya.

Kelpo tertawa pelan.

“Semua orang punya strategi masing-
masing. Dan, menurut aku sih, Psikopat ngebunuh juga karena mereka punya gangguan jiwa. Itu aja udah cukup jelasin semuanya. Aku inget kejadian wak-” Kelpo terhenti.

Kelpo mengacak rambutnya.

“Kejadian yang mana?” Andela menatap Kelpo serius.

“Ehh, Engga..”

“Engga apanya?” Kini Andela melotot.

“Aku permisi..” Untuk pertama kalinya, Kelpo meninggalkan Andela begitu saja.

Kelpo keluar dan mengambil payung yang tersender di teras. Lalu, menuju halaman depan.

“Halo, Kelvin! Jalan-jalan juga?” Tanya
seseorang dengan suara yang tak terlalu jelas.

“Eh, Kok diluar om? hujan gini, hehehe..” Kelpo menghampiri papa Michelle.

“Hahaha.. hujan-hujan gini, enaknya duduk di pondok ini.” Ucap papa Michelle tersenyum.

“Hehehe.. iya juga sih, om.”

“Kamu mau nyusul Oscar dan Bobby ya? mereka udah berangkat duluan tuh.” Kelpo kaget.

“Ehh? Mereka pergi bareng om?”

“Engga sih, tadi Oscar duluan. Pas Bobby keluar, dia buru-buru banget. Dia juga ga denger panggilan om.” Kelpo mengangguk-angguk tanda paham.

“Om tau mereka kemana?”

“Nah, kalo itu sih kurang tau.” Lanjutnya sambil menyeruput kopi panas perlahan.

Kelpo terdiam sejenak.

“Ayo duduk. Mau kopi juga ga nih?” Tawar papa Michelle.

“Ahh.. Makasih om. Tapi Kelvin mau nyusul mereka, hehehe..” Kelpo pamit. Entah apa maksudnya ‘menyusul’, dia saja tidak tau kemana perginya Mike dan Bobby.

Kelpo melanjutkan perjalanannya menuju ke suatu tempat.

*Skip

“Fuu! Syukurlah!” Ucap Andy lega.

“Ah? Ada apa?”

“4 penerbangan dalam satu hari? Sialan! semuanya done!” Mendengar ucapan Andy, Fuuto hanya tertawa lepas.

“Dasar pemalas! Buruan kesini! Hahaha..” Fuuto mengakhiri panggilan, mengabaikan Andy yang mulai mengumpat kepadanya.

“TOK! TOK!” Ketukan keras dari pintu depan kagetkan Fuuto.

“Ahh, ada bel masih aja ngetok.” Keluh Fuuto.

“Ting-Tong! Ting-Tong!” Entah mungkin sang tamu mendengar ucapan Fuuto, bel pun ditekan.

“Ya, ada a-“

“FUU!!!” Seorang pemuda dengan tinggi kira-kira 170cm memeluk Fuuto.

Fuuto terhenyak.

“Ka-kalian??” Mata Fuuto terbelalak.

“We’re here, Fuu!” Ucap Hoffler yang kemudian izin masuk.

Karena kebiasaan, Zoski langsung masuk begitu saja melewati Fuuto dan segera berguling-guling di sofa.

“Fuu-san.. lu tau perjalanannya kira-kira gimana? hahaha..” Dee-dee menghampiri Fuuto dan memeluk sahabatnya itu.

“Dee, gue cuma tau rasanya perjalanan Jakarta-Bandung ama orang waras. Hahaha..” Fuuto merangkul Dee-dee dan menuntunnya menuju ruang
keluarga.

“Syukurlah, gue termasuk orang waras dong. Hahaha..” Dee-dee duduk di sofa.

“Ah, kalian mau minum apa?” Tanya Fuuto pada semuanya.

“Gausah repot-rep-“

“Es teh manisnya satu, Fuu!” Potong Zoski yang mulai menggeledah koleksi kaset PS3 Fuuto.

“Hahaha.. gapernah berubah. Dasar Zoski!” Fuuto berjalan menuju dapur.

“Fuuto-kun! Lo punya FIFA 15?” Tanya Hoffler.

“Ahh, diatas Hof. Di lemari kedua sebelah kiri, cari aja.”
“Oke, Fuuto-kun.” Hoffler segera menuju lantai 2.

“Fuu-san, Kenji dan Andy belom nyampe?” Tanya Dee-dee lagi.

“Ah, Andy masih menuju ke Bandung. Tadi dia telfon, ngeluh soal penerbangannya. Kayanya baru nyampe Jakarta.” Jelas Fuuto.

“Hahaha, Jetlag Fuu?” Zoski tertawa terbahak-bahak, mungkin membayangkan muka mesum Kenji ditambah muka lesu ala Andy.

“Ting-Tong!” Bel rumah kembali berbunyi.

“Tolong bukain..” Ucap Fuuto.

“Fuuto-kun, pinjem ya!” Hoffler kembali sambil menunjukkan kaset FIFA 15 dan GTA 5.

Fuuto hanya mengangguk sambil tersenyum.

“Dee, tolong bukain.” Pinta Zoski yang masih fokus pada gamenya.

Dee-dee berdiri, lalu berjalan kearah pintu.

“Ting-Tong!”

“Iya, tunggu!” Teriak Dee-dee.

“Ki, ganti FIFA aja..” Pinta Hoffler pada Zoski, mereka duduk bersama.

Pintu perlahan dibuka.

“Ada yang bisa di-“

“Deny!”

“Dobby!”

Mereka pun berpelukan.

“Eh, Dobby?” Fuuto melihat dari jauh.

“Dobby??” Zoski dan Hoffler segera bangkit.

“Eh, ada Zoski ama Karel..” Dobby pun masuk.

“Konbanwa!” Dobby melepas sepatunya.

Zoski memeluk Dobby. Sementara, Hoffler hanya tersenyum kearah Dobby.

“Belanja Dob?” Tanya Fuuto sambil membawa gelas-gelas minuman diatas nampan.

“Iya, Fuu. Kalian baru dateng? Ada yang lain?” Dobby melepas sweater
turtle neck warna coklat yang ia pakai, menyisakan baju kaos warna putih yang terlihat cukup casual.

“Baru, Dob. Baru mereka yang dateng.” Fuuto duduk di kursi kayu favoritnya.

“Perjalanan kaya lama banget deh. Pfuuhh..” Keluh Dee-dee.

“Andy dan Wood gimana perkembangannya?” Dobby bertanya lagi.

“Andy menuju kesini. Wood mungkin sama.” Jelas Fuuto.

Mereka bercerita banyak hal, tentu saja yang berhubungan dengan semua hal yang telah dialami oleh mereka semua. Sebenarnya, tidak ada rasa dendam bagi semua rombongan Fuuto terhadap rombongan Sony ataupun murid-murid SMU 48.

“Ting-Tong!” Bel kembali berbunyi.

“Siapa yang mau buka?” Tanya Fuuto kepada semuanya.

“Gue aja..!” Dobby bangkit diikuti tepuk tangan dari semuanya.

“Andy dan Kenji, 20ribu Hof!” Zoski bertaruh.

“Hmm.. Wood 20ribu!” Balas Hoffler lagi.

“Dee-dee dan Fuuto-kun ga ikutan?” Ajak Hoffler.

“20ribu buat Jerry!” Dee-dee ikut.

Fuuto tampak berpikir sejenak.

“20ribu buat Luke!” Fuuto ikut.
Kini, mereka fokus.

Pintu pun dibuka.

“Ow!! What the??!” Dobby sangat terkejut. Ia segera memeluk seseorang yang datang itu.

“Kami nyaris tersesat, Fuuto kurang jelas nulis alamatnya.” 1 dari 2 orang yang datang meletakkan payungnya yang basah.

“Hahaha.. jangan berlebihan, Sagara-kun. Kabar baik, Dobby?” Seseorang bernama Joey itu izin masuk.

“Sangat baik, Joey! Silahkan!” Dobby lalu menutup pintu.

“Malam semua!” Sapa Joey hangat.

“Joey! Sagara! Ahh!!!” Semuanya nyaris memiliki logat sambutan yang
sama.

“Konbanwa!” Sapa Sagara juga.

“Joello? Tak kusangka!” Fuuto berdiri dan memeluk sahabatnya itu.

“Kabar baik, semua?” Pertanyaan khas dari Joey.

Semuanya membalas iya.

“Tentu, Midokaze-kun!” Salah satu suara yang membuat Joey langsung menoleh.

“Ahh, Karel Hoffler Al-Kareem! Seneng bisa ketemu lagi!” Joey memeluk seseorang yang terlewat itu (?)

“Perasaan, haircut kita berubah semua..” Zoski mengambil foto blok Fuuto jadul yang masih terselip di dompetnya.

“Hahaha.. efek trend pomade juga nih..” Sagara tertawa.

“Strodick, semuanya akan berganti. Dan memang itu yang seharusnya kita terima.” Joey terkekeh.

“Hahaha.. terserah Joey. Yang jelas, lu keliatan lebih muda.” Zoski tertawa geli.

“Ivy-nya sukses kan?” Tanya Joey penuh percaya diri.

“Ivy League classic, kaya anak-anak punk pas nonton Circle Jerks. Hahaha..” Celetuk seseorang yang sepertinya tak ada di ruang keluarga (?)

“Ahah! Lo gapernah lupa bawa kunci cadangannya!” Teriak Fuuto sambil mengacungkan jempolnya.

“Eh, Wood?” Semuanya menyambut Wood.

“Gila! rambut kita semua udah berevolusi, lo masih botak aja!” Teriak Zoski heboh.

“Bacot lo, Dick-_- gue cocoknya gini. Kalo panjang, jadinya kribo.” Bela Wood.

“Sendirian, Wood?” Kini, Joey bertanya.

“JOEY!! Kangen!” Wood memeluk Joey.

Joey hanya tertawa melihat tingkah temannya itu.

“Udah berapa rubik yang lu selesaiin?” Tanya Sagara yang juga menyender di sudut pintu kamar.

“Sagara! Kurang lebih udah ke-99”
Ucapan Wood membuat semuanya tertawa.

“Yang satu lagi kemana?” Pancing Fuuto dengan menyindir antara rubik dan orang yang ia jemput.

Wood menepuk jidatnya. Ia bergerak kedepan.

“Come on, Yuri!” Wood menarik tangan Yuri dan menyeretnya ke ruang keluarga.

“Konbanwa!” Yuri membungkuk.

“Yuri-san!!” Semuanya bersorak, terutama Zoski, Sagara, Hoffler, dan Dee-dee.

“Joey-kun, it’s been so long!” Yuri memeluk Joey.

“Yuri-san, you still the same man as i
knew before.” Bisik Joey juga.

“then and forever, Yuri is always be Yuri..”

“Hahaha.. udah-udah pelukannya..” Fuuto datang membawakan 4 kotak ice cream dengan 4 rasa berbeda.

Mereka kembali mengobrol dan bercanda bersama.

Singkatnya, pada malam ini Jerry juga kembali. Andy dan Kenji juga kembali, namun telat dikarenakan perjalanan Jakarta-Bandung sangat macet. Maklum saja, sebentar lagi liburan panjang akan berakhir.

*Skip

Jaka yang sedang mengobrol bersama para gadis dikejutkan dengan panggilan yang masuk.

“Ya, bang?”

“Apa kabar lu, Jak?” Sapa Sony, sang kakak.

“Baik, bang. Gimana promonya?”

“Lumayan sukses sejauh ini, Jak. Hahaha.. gimana liburannya? kangen nih..” Sony mulai memakai jurus suara anak kecilnya yang manja.

“Jijik tau :v liburan gue aman, dan tentunya tenang karna gaada elu, hahaha..”

“Gitu lu sekarang. Ntar gue jodohin ama Esti anak pak lurah baru tau rasa lu.” Ancam Sony.

“Sono, lu aja ama dia. Gue mah najis.”

“Sayangnya, gue ga level ama orang-
orang rendahan kaya dia ataupun lu, banzheng lu..” Obrolan kakak beradik itu terus berlanjut.

Mereka tidak menunjukkan kata-kata yang kesal seperti hari-hari biasanya, mungkin karena faktor sudah beberapa minggu tak berjumpa.

Obrolan singkat mereka juga berhujung kepada pertanyaan-pertanyaan mengenai persiapan blok Jaka.

“Sekolah swasta katanya ga akan diem aja..” Salah satu kata-kata Sony yang perlu dicatat.

Tidak terlalu jelas, tapi begitulah info yang Sony dapat. Mungkin, pemerintah juga akan bertindak tegas jika permasalahan kembali membara.

*Skip

Mike, Bobby dan Kelpo juga telah bertemu. Setelah nongkrong di sebuah cafe, mereka memutuskan untuk kembali.

“Hai semua! Lagi ngomong serius kayanya nih?” Sapa Bobby santai.

“Ajak-ajak kali..” Kelpo menyimak.

“Kalian itu kemana aja, huu..” Elaine menggembungkan pipinya.

“Ciahh.. jurusnya keluar!” Teriak Mike diikuti tawaan dari semuanya.

“Ihhhh..!” Keluh Elaine.

Michelle menjelaskan bahwa besok mereka akan menuju destinasi wisata yang bisa dibilang komplit. Mereka sempat membatalkan rencana bersepeda mengitari perbukitan yang
juga memakan biaya yang tidak sedikit.

“Oke semuanya, udah deal? besok kita berangkat jam 8.. jangan kesiangan ya..!” Michelle mengakhiri obrolan. Kini, mereka kembali ke kamarnya masing-masing. Papa Michelle juga sudah beristirahat terlebih dulu.

Jam menunjukkan pukul 21.40, Mereka kompak istirahat di waktu yang bisa dibilang belum terlalu larut.

*Skip

H-2, kini rombongan mulai meninggalkan kediaman Michelle.

“Ahh.. gasabar!!” Teriak Mike.

“Oke, udah siap semua?” Tanya Michelle menoleh dari bangku terdepan.

“Siap!” Teriak semuanya bersamaan.

“Oke kita berangkat!” Papa Michelle mengambil kemudi, mobil mulai meninggalkan halaman rumah.

Mereka berjalan-jalan ke berbagai macam tempat wisata. Sekitar jam 14.00 waktu setempat, mereka memutuskan untuk menuju kawasan Ubud.

“Yeahh!!” Teriak Mike.

“Akhirnya sampe!”

“Ayo turun semua!” Ajak papa Michelle diikuti anggukan dari semuanya.

“Wahh, aromanya alami banget!” Salut Andela.

“Kita belom masuk ke dalem lagi nih,
disana indah banget loh..” Elaine menarik tangan Andela.

Viny terlihat memejamkan matanya.

“Gre! Foto kami dong?” Pinta Jaka.

Gre mengangguk.

“Ehh… ikut dong!” Mike menghampiri Jaka, Bobby, dan Shania yang hendak berfoto.

Jaka senang melihat hasil foto tersebut. Shania menggandeng tangan Bobby (?) Hahaha.

“Gre, sini!” Michelle memanggil Gre.

“Ada apa, kak Michelle?” Gre mendekati Michelle.

“Ah, ini fotonya! Inget?” Michelle menyodorkan sebuah foto masa kecil
kepada Gre.

“Hahaha.. masih aja disimpen! tau aja aku suka Ubud, dasar kak Michelle!” Gre memeluk Michelle.

“Liat tuh, dulu ga sebagus sekarang. Tapi, tetep sama ya? Hahaha..”

“Suasana alaminya selalu kena!” Komen Gre.

“Oke, semuanya. Kita masuk dulu, terus langsung menuju Museum.” Ajak papa Michelle diikuti anggukan setuju dari semuanya.

Mereka berjalan-jalan siang itu. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 16.23, Mereka berjalan menuju sanggar.

“Gre, don’t miss anything, ya!” Seru Jaka membuat Gre tertawa dan
mengajaknya selfie dengan latar sawah.

Setelah puas melihat sanggar-sanggar tari, mereka menuju hutan yang berisikan ratusan monyet.

“Yeay! Monkey Forest!” Seru Mike heboh.

“Tolong dijaga barang-barang kalian..” Papa Michelle memperingati.

Disisi lain, Mike, Kelpo, Viny dan Andela memutuskan untuk mengambil foto ditengah pematang sawah.

“Yah, po. Padahal gue mau ngajak elu ke air apa gitu, yang katanya bisa nyembuhin penyakit..” Keluh Mike.

“Alah, udah poto dulu. Gue tau kok, lu mau nyembuhin penyakit sinting lu kan?”

“Bacot lu-_-” Mike malas.

Mereka tampak berjalan pelan ke tengah, sambil memfoto pemandangan sekitar.

“Viny, ayo!” Panggil Kelpo, Mike dan Andela.

Viny yang sedang mengajak 2 orang turis asal Australia mengobrol pun berpamitan.

“Nice to meet you, hope we’ll see again!” Pamit Viny.

Viny mendekat.

“Kamu ngobrol ap-“

“Viny!!!” Teriak Andela.

“Ahh! Aduh!” Viny tergelincir

“Inyi!” Kelpo berlari mendekat. Sepertinya Viny tak bisa bangkit.

“Ahh.. aduh sial!” Kelpo salah bertumpu, kakinya keseleo.

“Kelvin!” Teriak Andela lagi.

Tanpa basa-basi, Mike langsung berlari sambil fokus dengan langkahnya. Andela membantu Kelpo berdiri dan minggir.

“Mike! Hati-hati!” Ucap Kelpo.

Entah, tiba-tiba ini semua berubah menjadi kepanikan.

“Ehh, mana mereka?” Tanya Jaka pada yang lainnya.

“Mike gaada!” Ucap Elaine melapor.
Rombongan pun bergegas keluar. Mereka melihat Mike, Viny, Kelpo, dan Andela di pematang sawah.

“Mereka main kejar-kejaran?” Tanya Bobby konyol.

Viny menatap Mike yang semakin mendekat.

“Viny! Ayo pegang tangan aku!” Mike menyodorkan tangannya.
Sial! kondisi Viny cukup sulit untuk melepaskan tumpuannya.

“Kaki aku sakit!” Teriak Viny lagi.

Mike dengan tenangnya meraih tubuh Viny dan menariknya.

Berhasil! Kini Mike harus membantu Viny berdiri.

“Plek!” Viny memeluk Mike.

“Oscar! Aku takut!” Viny dengan kondisi pakaian bagian bawah yang berlumuran lumpur memeluk Mike sangat erat.

“Viny, tenang. Ada aku disini..” Mike mengusap lembut kepala Viny.

Air mata Viny tak bisa dibendung.

Timing yang sangat buruk. Elaine melihat Viny dan Mike berpelukan dari jauh.

“I-i-itu M..Mike???” Tanya Elaine.

“Iya, itu dia.” Bobby masih menatap mereka ber-empat dengan bingung.

“Baju mereka kenapa kotor gitu?” Shania curiga.

“Viny nangis!” Michelle berlari,
mencoba mendekat.

“Ah, Iya! Bob, ada masalah!” Jaka bergegas berlari menghampiri mereka.

“Hey! Hati-hati!” Papa Michelle ikut mendekat, namun tetap mengingatkan yang lain.

Beberapa petugas juga mendekat.

“Ini masalah!” Shania juga ikut berlari mendekat.

Mike menggotong Viny yang tak bisa berjalan ke pondok dekat sawah.

Jaka, Bobby dan papa Michelle membantu Kelpo.

Kelpo yang duduk disebelah Viny, melihat jelas tatapan serius dari Mike.

“Sejak kapan, Mike bisa se-serius
itu??” Kelpo bertanya dalam hati.

“Viny, kamu gapapa?” Andela, Shania dan Michelle cemas.

“Aku gapapa kok.” Viny masih meringis kesakitan.

“Sini biar aku bantu, Vin.” Mike melepas sepatu yang Viny pakai. Lalu, mengurut kakinya perlahan dengan minyak gosok yang diberikan petugas disekitar.

“Mohon maaf sebelumnya, bapak dan adik-adik. Kami sangat meminta maaf atas kejadian ini.” Salah satu petugas meminta maaf.

“Ini kelalaian kami, pak. Ini juga cuma musibah.” Ucap papa Michelle tersenyum.

Ya, semuanya tampak saling
mengobrol.

“Om, Michelle, Razaqa, dan semuanya. Saya mohon kita pulang saja sekarang. Viny dan Kelvin ga memung-“

“Oscar! Ga! Kita harus terus! Aku bisa kok, kalian lanjut aja.. jangan pikirin aku..”

“Gue udah bisa jalan, Mike.” Kelpo juga menambahkan.

Untuk pertama kalinya, Mike terlihat sangat berbeda. Bahkan ia memanggil Jaka dan Kelpo dengan nama asli mereka.

“Ga, Vin. Kalo kita lanjut, aku bakal nemenin kamu istirahat.” Mike menjadi aneh.

Semuanya terhenyak.

“Kamu! Dasar cewe gatau malu!” Elaine yang baru datang, tiba-tiba langsung memaki Viny.

Semuanya terdiam.

“Apa-apaan, Len?!” Teriak Mike cukup emosi.

“Ah, ini bukan Mike!” Ucap Jaka dalam hati.

“Dia lebay! Cuma kepleset gitu doang! Dasar gatau malu! Ngerebut cowo orang!” Jaka, Michelle, dan Shania membantu Mike untuk menghadangi Elaine.

“Elaine! Stop! Hey, Stop!” Mike terus berteriak.

Papa Michelle ikut membantu.
Elaine mereda.

“Kamu berubah Mike! Kamu ngehianatin aku! Demi dia!” Entah, mungkin Elaine merasakan perubahan Mike. Semakin dibumbui dengan Viny yang memeluk Mike barusan.

“Apa-apaan kamu, Len? Jangan ngom-“

“Oscar!! Cukup! Jangan bentak Elaine gitu!” Viny tiba-tiba berteriak keras.

Semuanya terdiam.

Semuanya juga mengerti bahwa ini hanya kesalahpahaman.

“Cukup. Emang aku yang salah.” Viny kembali menurunkan nadanya.

“Viny?” Panggil Mike pelan.

“Sok suci kamu! Dasar-“

“STOP ELAINE!!! AKU BILANG STOP!!!” Mike berteriak sangat keras.

Papa Michelle juga menemui petugas sekitar yang sejak tadi menyaksikan apa yang terjadi di pondok, sekedar menjelaskan bahwa hanya terjadi kesalahpahaman.

“Sial! Ini adalah Mike! Ini Mike yang asli!” Tegas Jaka dalam hati.

Semuanya terhenyak melihat reaksi Mike.

“Udah, ayo kita lanjut. Oscar, kamu gaboleh gitu. Aku bisa-” Viny mencoba berdiri.

“Aduh!” Viny tidak sanggup.

“Inyi!” Teriak Kelpo sambil memegang tangan Viny, diikuti Bobby dan Mike.

Elaine melihat pemandangan saat Mike begitu cemas terhadap Viny.

“Huaaa… liat aja kamu!!!” Elaine menangis, lalu berlari sambil menutup mulutnya.

“Elaine!” Andela dan Michelle mengejar Elaine.

“Mike.. Kejar!” Perintah Jaka.

“Apa, Raz? Ngejer dia? Buat a-“

Jaka memegang kerah Mike.

“Dia pacar lo!!” Tegas Jaka.

“Lepasin!” Ucap Mike sambil menepis tangan Jaka.

Mike bergerak mengejar Elaine.
“Maaf, semuanya. Aku ga bermaksud ngerusak ini semua..” Viny tertunduk, air matanya tak bisa dibendung.

“Udah, Vin. Ini bukan salah kamu.” Jelas mereka semua sambil terus menyemangati Viny.

“Elaine, Tunggu!” Andela dan Michelle berhasil disalip oleh Mike yang berlari sangat cepat.

Dapat! Mike menggenggam tangan Elaine.

“Lepasin!” Elaine berteriak.

“Elaine, dengerin penjelasan aku. Jangan gini, gaenak diliatin orang-orang.” Ucap Mike sedikit berbisik.

“Aku gaperlu penjelasan kamu! Kamu ga mikir kalo pas kamu meluk Viny, itu gaenak diliat!” Mike terdiam.

Elaine berjalan menjauh sambil terisak menahan air matanya agar tak kembali jatuh.

Elaine stop dan berbalik.

“Kamu berubah Mike! KITA PUTUS!” Mike tersentak.

“Ta-tapi..??” Mike tersungkur lesu.

Andela dan Michelle hanya diam mematung melihat permasalahan dihadapan mereka barusan.

Mike kembali ke pondok. Semua acara selesai hari itu. Elaine ikut mobil Michelle. Sementara, Jaka, Viny, Kelpo dan Mike naik taxi.

Selama perjalanan, mereka hanya diam seribu bahasa
Hari itu berakhir. Makan malam tidak dihadiri baik Viny, Jaka, ataupun Elaine. Tak ada candaan yang bisa mereka lontarkan, hanya cerita-cerita sedikit tentang sekolah.

Hari berakhir dengan sangat buruk.

Semuanya tau ini hanya kesalahpahaman. Viny tidak bersalah. Hanya saja, Elaine terlalu cemburu.

“Jujur, Mike emang gitu kalo udah ama sahabat atau pacarnya. Gue rasa, itu Mike yang asli..” Ucap Kelpo kepada Bobby sambil merokok bersama di loteng.

Jaka mengajak Mike berbicara.

Para gadis juga tak berhasil mengajak Elaine berbicara. Viny tak mau berkomentar, dia hanya menyampaikan permintaan maaf
kepada Mike dan Elaine.

“Gimana, Chel?” Tanya Jaka saat bertemu Michelle di dapur.

“Nihil, Raz. Kamu mau ambil susu coklat ya? itu ga dikulkas. Disana!” Michelle menunjuk kearah lemari penyimpanan.

“Sip, thanks Chel.” Jaka mengambil susu, lalu pamit kembali ke kamar.

*Skip

Mike menyulut rokoknya.
Jaka membukakan jendela agar asap rokok keluar.

“Marlboro? Boleh?” Pinta Jaka.

“Nih..” Mike menyodorkan rokok beserta zippo-nya.
“Dulu pas gue kecil, Sony selalu ganggu gue. Suatu hari, dia kena batunya. Dia jatoh ke parit depan rumah gue. Gue ga ketawa, anak satu komplek ngetawain dia. Pas dia dibantu berdiri, lo tau dia bilang apa? dia bilang ‘Razaqa! Ayolah, jangan terlalu idealis gitu! Lihat dunia sekitar lu! Ketawa dong!’, waktu itu gue ga ngerti maksud dia. Pas kelas 4 SD, gue baru tau artinya idealis.” Jaka menyelesaikan ceritanya.

“Maaf sebelumnya, Jak. Jadi intinya apa?” Mike menatap Jaka.

“Entah, anak umur 7 tahun ngomong ke adiknya tentang idealis dan nyuruh buat liat dunia sekitar. Bahkan dia 90% gatau apa artinya idealis. Lo tau apa yang anak umur 7 tahun biasanya pikirin? Kartun! Yakin dah ama gue.” Jaka mematikan rokoknya.
Mike terus menatap Jaka bingung.

“Intinya, gue gabisa ngomong apa-apa tentang masalah lu yang sekarang. Lu itu bukan Mike yang udah ber-“

“Tunggu! Maksud lu apa?” Mike menatap Jaka serius.

“Mike, lu lagi dikuasain perasaan kacau lu. Berubah itu harus, Mike. Inget! lu itu udah jadi orang yang lebih sabar walau lu jadinya suka konyol ga jelas. Gue gabisa nasehatin atau motivasi lu sekarang! Bangun Mike! Liat sekitar lu! Kalo ada mata air yang muncul di tengah padang pasir yang luas, lu bukan cuma harus manfaatinnya, tapi juga harus terus menggalinya, biar jadi aliran yang ga terbatas!” Jaka meninggalkan Mike begitu saja.

Malam benar-benar selesai denga
buruk. Tak ada tawa atau candaan, hanya dipenuhi nasihat dan ratapan.

“Kunci untuk menang itu bukan hanya bertahan. Tim sepakbola yang memiliki semua striker kelas dunia pun bisa kalah jika hanya fokus menyerang. Namun, tim yang memiliki pertahanan yang kuat tak akan bisa dibobol gawangnya. Berdasarkan penjelasan, bertahan berarti sama saja dengan pasrah. Pasti ada saatnya dimana pertahanan yang kokoh itu tertembus. Dan disinilah letak kelemahannya. Tak pernah ada 9 bek dalam sejarah sepakbola. Itu artinya bertahan atau pasrah sama saja dengan membiarkan nasibmu berada di ambang-ambang, tanpa berusaha untuk terus maju. Bertahan juga berusaha, tapi sama saja dengan tidak bangkit dan berinovasi. Ini hanyalah opini, jangan menghakimi-ku. Ketahuilah, dalam banyak versi,
Bertahan tetap dikatakan kunci untuk menang. Dunia itu luas, sangatlah luas. Ini adalah tugas utama kita, membuat suatu pemikiran tentang ini semua, lalu mengujinya.”
– Joello ‘Joey The Hunter Magician’ Midokaze

*To Be Continued*

@ArthaaSV & @KelvinMP_WWE

Iklan

3 tanggapan untuk “Fiksi dan Fakta part 36

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s