Sebuah Cinta dan Kenangan, Part22

Hari ini, hari dimana Shani mulai masuk sekolah kembali. Shani telah duduk dibangkunya dengan beberapa murid lainnya yang telah datang bergerombol menanyakan keadaan Shani.

“Emang kamu udah baikan shan ?” Tanya teman sekelas.

“Udah kok” Balas Shani.

“Syukur deh kalo uda baikan”

“Yang lain belum pada berangkat ya?” Tanya Shani menyapu pandangan kesekeliling ruang kelas.

“Bentaran lagi juga pada nongol”

“Oh iya, kok ga bareng sama Erza, shan ?”

“Itu…ga papa sih, cuma buat kejutan ? Soalnya aku juga ga bilang hari ini mau mulai masuk lagi”

“Cie…Erza pas ga ada kamu kesepian tuh. Hahaha”

“Apaan sih kalian” Balas shani tersenyum malu.

Tak beberapa lama teman kelas yang lainnya mulai berdatangan. Dari Anin, Sinka, Elaine dan lainnya. Yang tadinya bergerombol kini mulai kembali ke bangku masing-masing.

Lima belas menit sudah setelah bel masuk berbunyi. Shani masih duduk dibangkunya sendirian. Bangku disebelahnya masih kosong belum terduduki. Ya, Erza belum juga datang. Shani mencoba bertanya pada Anin, namun Anin tak tahu begitu juga dengan yang lain. Shani mencoba mengikuti pelajaran pertama dengan fokus walau sesekali melihat ke arah luar pintu melihat apakah ada sosok Erza yang datang.

“Maaf bu !” Seru Shani pada guru mengajar.

“Iya Shani, ada apa ?”

“Apa Erza hari ini minta ijin ?”

“Erza…ga tuh, hari ini Erza ga minta ijin”

“Kemana ya ? Kok ga masuk sih” Batin Shani.

“Yaudah, makasih bu”

“Baik, kita lanjutin lagi pelajarannya”

Penghuni kelas berhamburan keluar. Kebanyakan pasti menuju kantin sekolah. Shani tetap duduk dibangkunya. Bukan tak ada yang mengajak atau apa tapi Shani memang sedang tak ingin ke kantin bersama yang lain. Ia memilih tetap untuk didalam kelas.

“Masih disini aja” Sapa Anin yang meihat Shani meletakan kepalanya diatas meja.

“Katanya mau ke kantin ?” Tanya Shani.

“Mikirin Erza ?” Tanya Anin, Shani membenamkan wajahnya diantara tangannya tak membalas ucapan Anin.

“Yaelah, nih bawa…” Anin meletakan botol minuman dingin dimeja Shani.

Shani mengangkat kepalanya dan memandang bingung Anin.

“Buat apa ?” Tanya Shani.

“Erza ada ditaman belakang bareng Gracia tuh, dihukum dari tadi pagi gara-gara terlambat”

Shani langsung mengambil botol minuman yang Anin berikan dan berjalan keluar kelas.

“Dasar, denger namanya aja langsung semangat” Ucap Anin sambil geleng-geleng kepala.

“Kok gue laper lagi ya ?”

Di taman belakang sekolah. Terdapat dua murid sedang duduk bersebelahan diatas rumput taman tepat dibawah pohon membelakangi Shani. Mereka tampak akrab, saling berbicara satu sama lain. Shani melangkahkan kakinya untuk mendekat ke arah mereka.

“Hai, berduaan aja” Sapa Shani pada mereka.

“Loh kak Shani ? Kok udah masuk sekolah” Tanya Gracia kaget saat melihat hadirnya sosok Shani.

“Hehehe…udah baikan kok, makanya aku masuk. Kalo kelamaan kan ga enak”

“Oh iya di, Erza kemana ?” Tanya Shani pada Ardi.

“Tadi bilangnya mau kebelakang bentar…”

“Nah itu anaknya” Lanjut Ardi sambil menunjuk.

“Mau masuk sekolah kok ga bilang-bilang sih. Kalo bilang kan bisa aku jemput” Ucap Erza.

“Ah, ngga papa kok”

“Oh iya, nih…” Shani meberikan botol air mineral dingin.

“Makasih”

“Jangan diganggu, duduk sana aja yuk” Ajak Shani. Erza mengangguk.

“GLEK ! GLEK !”

“Ah…segernya” Ucap Erza.

“Kok tau kalo aku ada disini sama Gre ?” Tanya Erza.

“Tadi kata Anin. Anin mau ke kantin tapi balik lagi ke kelas cuma mau ngasih tau kalo kamu ada disini sama ngasih botol mineral” Jawab Shani.

“Kamu ga ke kantin ? Jadi belum makan ?” Ucap Erza.

“Eh ? U…udah kok tadi dikelas”

“Ga usah bohong”

“Beneran tadi udah kok”

Erza mengambil tasnya dan mengeluarkan sesuatu dari dalamnya.

“Tadi pagi kak mel bawain bekal”

“Makan gih” Lanjut Erza sambil menyerahkan kotak bekalnya.

“Beneran udah makan aku”

“Makan…” Ucap Erza.

“Tapi kamu kan belum makan juga” Ucap Shani.

“Tenang aja, tuh tadi Ardi kesini bawa makanan juga dari kantin. Udah makan tadi bareng sama Gre juga” Ucap Erza meyakinkan.

“Yaudah sini biar aku suapin aja. Jangan ngelawan”

Shani hanya bisa diam tak berani menolak.

“Ayo dibuka mulutnya. Pesawat mau masuk” Erza menirukan gaya seorang ibu menyuapi anaknya.

“Ih, apaan sih ? Aku kan bukan anak kecil”

“Dimataku kamu emang masih anak kecil”

Shani membuka mulutnya menerima suapan pertama dari bekal yang Erza bawa.

“Gimana ?” Tanya Erza.

“Ini buatan kak mel ?”

“Iya lah, masa buatan aku sendiri. Ga enak ya ?”

“Ga, ini enak banget tau. Kapan-kapan kalo aku minta ajarin masak sama kak melody boleh apa ga ya” Ucap Shani.

“Belajar masak ? Emang kalo nanti udah bisa masak mau masakin buat siapa ?” Tanya Erza.

“Kelak buat suami sama anak” Balas Shani.

“Udah ada calonnya emang ?”

“Semoga aja yang sekarang emang bener buat jadi calon”

“Sekarang ? Aku maksudnya”

“Ih GR, siapa juga yang bilang kamu. Wlee”

“Lah tadi bilangnya yang sekarang…” Ucap Erza.

“Erza kepengin ya jadi calonnya Shani ? Kepengin ya, cie…” Ucap Shani.

“Udah ah, makan lagi nanti keburu bel masuk loh. Capek nih, pengen masuk kelas buat tidur. Hahaha”

“Ih, tidur mulu makanya suka telat kalo masuk sekolah”

“Nih. Aaa….” Erza kambali menyuapi Shani.

Saat Erza akan menyuapi Shani kembali, tangan Erza dipegang oleh Shani. Dengan gerakan pelan Shani mengambil alih sendok berisi makanan dan nasi yang siap dimasukan kemulut. Shani gantian memberikan suapan tersebut pada Erza.

“Buka mulutnya dong. Aaaa….” Ucap Shani.

Erza masih diam menatap Shani dengan lekatnya.

“Hei…kalo ga mau makan, aku juga udahan loh makannya” Ucapan Shani menyadarkan Erza dari lamunanya.

“Eh, jangan ! Iya ini buka mulut” Ucap Erza mebuka mulutnya menerima suapan dari Shani.

Momen suap-suapan berlanjut. Erza meyuapi Shani satu suapan dan sebaliknya, setelah Erza berganti Shani yang menyuapi. Berhenti ketika makanan yang ada telah habis berpindah tempat.

“Habis !” Seru Shani meletakan sendok didalam kotak bekal milik Erza.

“Nih…” Erza memberikan botol minum yang ia bawa didalam tasnya.

“Itu belum diminum” Lanjut Erza kemudian meminum air mineral yang Shani bawa tadi.

“Masuk yuk” Ajak Shani.

“Yaudah, ayo”

“Di, gre ! Mau pada balik kelas apa ga ? Bentar lagi bel masuk” Ucap Erza sambil menggandeng tangan Shani.

“Eh, iya”

Gracia bangkit dari duduknya dan berhalan bersama Ardi meninggalkan taman belakang menyusul Erza dan Shani yang telah berada didepan. Sebelum Ardi kekelasnya, Ardi terlebih menemani Gracia kembali ke kelasnya. Walau awalnya Gracia menolak karna sedikit merasa tak enak pada Ardi tapi karna Ardi terus memaksa untuk menemani akhirnya Gracia mau ditemani sampai kelasnya.

“Gre…” Ardi menahan tangan Gracia.

“Iya kak ?”

“Mm…bisa minta kontakmu ga ? Line, BBM atau no hp”

“Loh, emang kak Ardi belum punya ?”

“Punya darimana, ini aja baru diberaniin minta”

“Apa kak ?”

“Ah, ga papa. Boleh ga ?”

“Boleh kok. Nih Line aku kak. Nanti kalo mau minta pin atau nomor hp chat aja” Ucap Gracia.

“Kalo gitu aku masuk kelas dulu ya kak. Makasih loh udah nganterin” Gracia masuk kedalam kelasnya dengan sebelumnya memberi senyum pada Ardi.

“Ah…manisnya” Lirih Ardi.

SKIP

Malam harinya Erza telah berada di rumah Shani. Duduk sendiri disofa ruang tamu. Sedangkan Shani pamit pergi kebelakang untuk membuatkan minuman untuk Erza dan mengambil beberapa cemilan.

Pandangan Erza melihat salah satu bingkai foto yang berada diatas sebuah meja kecil. Terdapat Shani dan kedua orang tuanya. Tergambar jelas senyum bahagia dari masing-masing anggota. Erza ikut tersenyum kecil saat melihatnya. Sosok Shani lah yang membuatnya tersenyum.

“Hayo, kenapa senyum-senyum sendiri gitu ?” Tanya Shani mengagetkan Erza.

“Ah itu, acara tv nya lucu”

“Lucu apanya ? Orang lagi adegan nangis gitu” Shani meletakan nampan berisi dua buah minuman dan beberapa cemilan diatas meja.

“Yupi emang kemana Shan ?” Tanya Erza mengalihkan pembicaraan.

“Yupi ijin mau nginap dirumah temen katanya. Ya, jadinya gini…aku sendirian dirumah makanya aku ngajak kamu buat main kesini. Hehehe”

“Menurutku sih, kalo emang kamu sendirian mending ke rumahku aja. Daripada disini kita cuma berdua nanti dikira tetangga malah ya ga ga loh” Ucap Erza.

“Bener juga sih”

“Tuh kan, tidur aja dirumah aku ada kak Melody juga jadi aman”

“Tapi ga repotin ?”

“Ga lah, malah kak mel juga ikut seneng karna ada temen curhat gitu. Kalo curhat sama aku kadang jarang konek soalnya”

“Yaudah tapi diminum dulu ini, masa udah dibuat main ditinggal aja” Ucap Shani.

Sesaat setelah sampai didepan rumah Erza. Keadaan tak jauh beda dengan suasanya saat dirumah shani. Sepi. Kemungkinan kak Melody belum pulang.

“Kok sepi, za ?” Tanya Shani.

“Bentar lagi palingan kak mel juga pulang kok. Masuk aja dulu”

Erza mengajak Shani untuk masuk ke dalam rumah. Baru saja Erza berusaha membuka kunci pintu rumahnya, terdengar suara mesin mobil berhenti didepan gerbang.

“Nah, bener kan itu kak mel pulang” Ucap Erza.

“Bentar” Erza melangkahkan kakinya kembali ke arah gerbang untuk membuka pintu gerbang.

“Eh, ada Shani” Sapa Melody setelah turunnya dari mobil.

“Malam kak mel, malam banget pulangnya”

“Malam juga. Iya, lagi banyak tugas soalnya” Balas melody.

“Yaudah, pada masuk yuk”

“Oh iya, dek, shan. Tinggal dulu ya, kakak mau bersih-bersih dulu” Ijin Melody.

“Eh iya kak” Ucap Shani.

Dapur malam itu terasa sedikit berbeda dari biasanya. Melody sedang menyiapkan makan malam untuk Erza dan juga terdapat Shani disana yang ikut nimbrung. Katanya sih pengen belajar masak.

Dikarenakan Shani masih pemula jadi Melody mengajarkan Shani dari hal yang mudah terlebih dahulu. Membuat nasi goreng. Sedangkan Erza ? Ia menunggu diruang tamu dengan ditemani acara televisi. Entah acara apa yang ia tonton. Bodo amat.

Sekian waktu Erza menunggu. Akhirnya yang ditunggu telah tiba. Waktunya menyantap makan malam yang telah dibuat oleh pacarnya dan juga oleh kakaknya sendiri.

“Yang ini buatan aku sendiri. Cobain dulu enak apa ga. Sekalian minta pendapatnya” Ucap Shani menyerahkan piring berisi nasi goreng buatannya.

“Pasti enak, cobain aja dulu” Ucap Melody.

Erza mulai menyendok dan mulai memasukan suapan pertamanya.

Hening. Baik Shani maupun Melody diam menatap Erza saat suapan pertama masuk kedalam mulut Erza. Mengunyah dan mengunyah secara perlahan. Menunggu reaksi.

“Enak” Ucap Erza membuka kesunyian.

“Yang bener ?” Tanya Shani.

“Bener kan apa kata kakak tadi, Pasti enak” Ucap Melody.

“Yaudah, lanjutin makannya dulu nanti baru ngobrol” Lanjut Melody.

Berada di ruang tengah sambil menikmati acara televisi yang ada setelah acara makan malam telah selesai. Melody dan Shani duduk dalam satu sofa, sedangkan Erza duduk di sofa lainnya. Obrolan kecil terus diciptakan memecahkan keheningan malam dan udara dingin.

“Kakak malah seneg kalo kamu tidur disini” Ucap Melody menanggapi ucapan shani.

“Jadi ga papa kak ?” Tanya Shani meyakinkan kembali.

“Pantes Erza sayang banget sama kamu ya, shan” Ucap Melody.

“Emang kenapa sama aku kak ?” Bingung Shani.

“Kamu anaknya lucu. Hahaha”

Malam telah larut. Menunjukan pukul 00.23 WIB. Erza terbangun dari tidurnya. Ia melangkahkan kakinya menuju balkon rumanya. Langkanya terhenti ketika terlihat jelas bayangan wanita dari pandangannya. Erza memundurkan langkahnya pelan. Merubah tujuan ke lantai bawah, dapur.

Erza kembali menaiki tangga dan menuju balkon. Dengan langkah tenangnya ia sudah berdiri dibelakang wanita tersebut tanpa si wanita sadari.

“Buat anget-anget. Udara malam dingin” Ucap Erza menyodorkan segelas teh manis hangat.

“Eh ?”

“Ambil…” Ucap Erza.

“Ngapain jam segini belum tidur ?” Tanya Erza dan menyeruput tehnya.

“Lagi pengen aja. Kamu sendiri ngapain ?”

“Kenapa ? Tadi lagi tidur tiba-tiba denger suara ngedecit, eh pas dicek ternyata arahnya dari sini” Ucap Erza.

“Eh, kedengeran ya ? Maaf deh jadi kebangun kamu”

“Lagian ngapain gesekin telapak kaki ke lantai, shan ?”

“PLUK !”

“Dingin kan ? Tidur gih” Ucap Erza saat Shani tiba-tiba memeluknya.

Shani menggeleng pelan dan diamnya. Diam dalam memeluk.

“Aku sayang kamu…” Lirih Shani.

“Hey, kenapa ? Lah, nangis…” Khawatir Erza.

Erza melepas pelukan Shani dan memegang kedua pipi Shani.

“Kenapa ?” Tanya Erza menatap Shani.

“Ga papa kok”

“Masuk yuk, tidur udah malem” Erza mengajak Shani masuk kedalam kamar Melody.

Namun Shani memberhentikan langkahnya.

“Ga…” Ucapnya.

“Disini aja” Lanjut Shani.

Erza menghela nafas dan membuangnya dengan pelan ditambah senyuman.

“Duduk sini aja kalo gitu” Ucap Erza menepuk sofa yag terdapat dibalkon rumah.

“Biar aku temenin” Sambung Erza.

Shani ikut duduk di sofa tersebut bersebelahan dengan Erza. Hanya keheningan yang ada tanpa percakapan. Shani mulai merubah posisi duduknya. Shani menyandarkan kepalanya di paha Erza. Masih dalam keadaan hening.

Erza memperhatikan tingkah Shani malam itu. Terlihat Shani mulai kedinginan oleh angin malam. Dengan perlahan Erza melepas jaket yang ia kenakan dan ia gunakan untuk menutupi sebagian tubuh Shani dari terpaan angin malam.

Tak terasa maupun tak terlihat lagi air mata keluar dari kedua bola mata Shani. Erza bingung apa yang dipikirkan atau yang sedang terjadi pada Shani malam itu.

Terlihat telah terpejam dalam tidurnya. Erza yang sedari tadi mengelus rambut Shani kini telah berhenti. Ia silangkan kedua tangannya didepan dadanya. Erza juga mulai merasakan dinginnya malam. Walau begitu Erza tak berani membangunkan Shani ataupun mengganggu tidurnya. Ia coba paksakan matanya untuk terpejam waktu dalam keadaan dirinya yang merasa dingin.

“Aku tak tau apa yang kamu pikirkan tapi aku sedikit bisa merasakan”

“Good night, shan. Selamat tidur bidadari dalam kehidupanku”

Erza mulai memejamkan matanya. Hingga beberapa saat ia benar-benar terlelap dalam tidurnya.

Melody datang dengan selimut tebal ditangannya. Melody sedari tadi mengintip aktifitas Erza dan Shani. Bukan bermaksud atau sengaja mengintip tapi ia terbangun gara-gara suara tangis Shani tadi.

Melody mulai menyelimuti tubuh adik kesayangan dan juga pacar dari adiknya tersebut.

“Mimpi indah…berjanjilah kalian akan saling mengisi satu sama lain” Ucap Melody lirih sambil memandang Erza dan Shani.

“Muachh…” Melody mencium kening Erza sebelum kembali masuk kedalam kamarnya.

“Selamat malam…” Melody berjalan sambil tersenyum kecil namun sangat manis.

*bersambung…

 

 

Wali Murid : Shanji bukan Shanju

Iklan

8 tanggapan untuk “Sebuah Cinta dan Kenangan, Part22

    1. Sumpah baca nya delusi ane,ane ngebayangin yg jadi erza itu ane…hidup terasa sempurna πŸ˜‚πŸ˜‚ keren” cerita nya bagusπŸ‘πŸ‘ lanjut kan πŸ‘πŸ‘

      Suka

  1. Sumpah delusi gua baca nya,keren cerita nya ane jadi ngebayangin yg jadi erza itu ane…..hidup terasa sempurna πŸ˜‚πŸ˜‚ lanjut kan …keren” πŸ‘πŸ‘

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s