Untold Story

Tatapannya nanar, kilauan jingga yang terpantul di danau seakan tak berarti baginya. Di saat yang lain menikmati keindahan mentari senja, dia hanya terduduk di sana, termenung, dengan berbagai macam pikiran memenuhi otaknya.

Beberapa ekor angsa mencoba menarik perhatiannya, sesekali mereka lewat sembari mengeluarkan suara yang khas, namun pria tersebut tak bergeming, menoleh pun tidak.

Ya, seorang pria kantoran biasa, dengan pakaian yang kusut serta wajah yang kusam. Bibirnya terasa berat untuk tersenyum, nafasnya terasa berat, seakan setiap beban yang dia rasakan terhembus keluar berasamaan dengan karbon dioksida di paru-parunya, matanya berair, berteriak, memaksa agar diizinkan menangis, namun kodrat sebagai lelaki menghalangi niatannya itu.

“Mas di mana ? kok belum pulang ?”

Sebuah pesan singkat hinggap di smartphone berwarna hitam pekat dengan retakan pada layarnya. Sebuah pesan yang menggambarkan kekhawatiran dari seseorang yang berharga, seseorang yang di daulat menjadi temah hidup, seseorang yang menjadi pengikut dalam bahtera rumah tangga yang dipimpinnya.

Pesan itu tidak berarti, yah setidaknya untuk saat ini. Dengan dingin pria tersebut meletakkan gadget miliknya di atas bangku taman yang menjadi temannya. Barisan kata penuh perhatian itu dianggap terlalu kecil untuk menghapuskan rasa pahit yang dia rasakan.

Tekanan dalam pekerjaan, dijebak dalam sebuah pernikahan, dan ancaman yang datang terus menerus dari seorang yang fanatik akan dirinya, sudah cukup jadi alasan hilangnya senyum dari bibir pria itu.

Bagi pria itu kebahagiaan hanyalah sebuah ilusi, ilusi yang menolak untuk menjadi kenyataan.

Lelah, terlalu lelah, bahkan hanya memikirkan semua itu membuat seluruh tenaganya terkuras. Perlahan dia mencoba untuk bangkit dan akhirnya meninggalkan tempat favoritnya untuk merenung, sebuah bangku di pinggir danau.

Di sepanjang jalan seluruh mata terarah padanya, sosok pria yang depresi dengan segala masalah dalam hidupnya, itulah yang terlintas di pikiran orang-orang ketika melihat langkahnya yang gontai beserta tampilannya yang jauh dari kata rapi.

Pria tersebut berhenti di sebuah rumah, rumah yang jauh dari kata mewah tapi pantas untuk menyandang gelar sederhana.

Dia melangkahkan kakinya,  terasa berat, namun dia tidak memiliki tempat lain untuk mengistirahatkan tubuh dan pikirannya selain di sini.

Tidak ada ucapan salam, hanya hening yang menemaninya masuk ke dalam rumah tersebut. Pria tersebut meletakkan sepatu berserta kaos kaki yang menemani aktifitasnya hari ini di tempat yang semestinya.

Perlahan dia menggulung kemejanya,memperlihatkan kulit hitam khas terbakar matahari lalu melemparkan badannya di sofa empuk yang siap menampung seluruh lelah yang dia rasakan.

Untuk sejenak dia memejamkan matanya mencoba memaksa masuk ke alam mimpi. Memang belum waktunya, suara langkah kaki memaksanya untuk menjauh dari gerbang mimpi yang sudah ada di depan mata. Semakin lama suara langkah tersebut semakin dekat hingga akhirnya menampakkan sosok seorang wanita lengkap dengan celemek yang menutupi bagian depan tubuhnya.

“Loh Mas udah pulang ? kok gak bilang-bilang ?” wanita tersebut duduk di sebelah sang suami, menatapnya dengan tatapan penuh tanya.

Pria tersebut hanya diam sambil memaksakan untuk tersenyum. Yah mungkin memang wanita di hadapannya ini adalah istrinya namun bukan istri yang dia inginkan. Hampir  tiga tahun dia bertahan dalam kepura-puraan ini, sebuah topeng yang selalu ia kenakan, topeng bernama cinta yang selalu dia tunjukkan di hadapan sang istri.

Ingin rasanya untuk menghentikkan semua itu, tapi semuanya terlambat, terlebih setelah pernikahan yang dia anggap sandiwara ini berhasil membuat wanita yang ia cintai sepenuhnya pergi bersama orang lain.

Tidak ada yang menyadari sandiwara ini, ya hanya dia, orang yang terjebak di ilusi tak terbatas, sendirian, tanpa ada seseorang yang mampu menolongnya.

“Makan dulu Mas, udah di siapin tadi.” wanita tersebut menggandeng tangan sang Suami, menuntunnya menuju meja makan.

Saktia, itulah nama sang istri. Bukan gadis yang jelek, cenderung cantik malah, tapi entah kenapa seberapa keras pria itu mencoba untuk membuka hatinya hasilnya selalu nihil, seolah-olah tidak ada ruang lagi untuk diisi oleh kehadiran wanita lain.

“Gimana kerjaannya tadi Mas ?”

“Baik… .” Jawab pria tersebut sambil melahap makanan yang disiapkan oleh sang istri.

“Tapi kok tumben lemes kayak gitu ? ada masalah ya di kantor ?” tanya Saktia.

“Enggak kok, cuman kecapean doang, paling besok juga udah lupa.” Pria tersebut berhenti, menyisakan sebagian makanan di atas piring. “Aku duluan ya, capek banget, mau tidur duluan.”

Pria itu beranjak dari ruang makan menuju kamarnya, meninggalkan Saktia yang menatapnya dengan tatapan heran.

Sesampainya di kamar, pria 28 tahun itu langsung merebahkan badannya. Dari sekian banyak hal buruk yang terjadi setidaknya ada satu hal yang bisa ia syukuri, tidur. Bagi pria itu tidur adalah hal yang menyenangkan, seberat apapun masalah yang kau hadapi tidur adalah sebagian besar solusinya.

Dulu kata-kata itu terasa sangat nyata bagi dirinya, namun sekarang, setelah terjebak dalam situasi ini, tidur hanya mampu menghilangkan lelahnya, bukan masalahnya.

*****

“Ini salah ? gimana sih ? emangnya udah berapa lama kerja di sini ? masa kerjaan anak magang lebih bener daripada kamu ?!” Ucap seorang gadis di balik meja kerja yang penuh dengan tumpukan dokumen di atasnya.

Gadis tersebut menatap kesal ke arah pria yang berdiri di hadapannya. Pria tersebut nampak terkejut, dia merasa telah mengerjakan semua yang diperintahkan dengan sempurna tapi kenapa masih saja ada kesalahan ?

“Tapi Mel, eumm maksud saya Bu, semuanya udah seperti yang Ibu perintahkan, bahkan udah sayang cek berulang-ulang,” Pria itu mencoba membela diri.

“Buktinya ini ? masih ada file yang kurang, profesional dikit lah Tur, jangan gara-gara kita pernah punya hubungan kamu jadi kerjanya gak bener.” Wanita bernama Melody itu meleparkan tumpukan kertas di tangannya ke atas meja kerja.

Pria itu terkejut, kenapa atasannya ini malah mengungkit masa lalu mereka ?

“Yaudah coba kamu kerjain ulang.”

Pria itu hanya mengangguk dan meninggalkan ruangan sang atasan. Rasa kesal memenuhi dirinya di sepanjang perjalanan menuju meja kerjanya.

Profesional ? kurang profesional apanya ? bahkan dirinya sudah mencoba melupakan hubungan masa lalu dengan sang atasan saat hari pertama bekerja di perusahaan ini.

Baginya justru Melody lah yang tak bisa bersikap profesional. Pria tersebut merasa di ‘anak emas’ kan oleh sang atasan, tapi dalam arti negatif. Beban pekerjaan yang dua kali lipat lebih banyak, hampir selalu di salahkan bahkan untuk hal kecil sekalipun. Dirinya tidak mengerti apa maksud di balik semua itu, mengingat zaman sekarang mencari pekerjaan adalah hal yang sulit, bertahan sudah menjadi keharusan karena tidak ada pilihan lain yang tersisa.

“Abis dimarahin lagi ya ?”

Pria tersebut mengangkat kepalanya ke arah seseorang yang mengajukan pertanyaan retoris pada dirinya.

“Kayaknya kalo yang itu gak usah di jawab deh Sil, yaudah jangan ganggu dulu, pagi ini udah cukup ribet.” Pria tersebut kembali fokus pada monitor di hadapannya.

“Yah jutek amat, ntar makan siang di mana ?” lanjut gadis bernama Sisil itu.

“Ga kemana-mana, mau delivery aja kayaknya.”

“Aku temenin ya ?” Sisil berpindah tempat tepat di sebelah si Pria.

“Gak usah, jangan nambah masalah deh.” Pria itu menepis tangan Sisil yang tengah mencoba untuk merangkulnya.

Sisil terdiam. Dia merasa kesal karena diabaikan oleh seseorang yang menjadi incarannya. Dia memandang pria yang kini sedang fokus dengan pekerjaannya lalu mendengus kesal dan berlalu meninggalkan pria itu sendirian.

Pria itu menghembuskan nafas lega. Ya ini bukan kali pertama Sisil mengganggunya, puluhan bahkan ratusan kali gadis itu mencoba merayunya dan biasanya berujung pada masalah.

Tak peduli seberapa keras penolakan yang dia dapatkan ataupun mengetahui ada seorang istri yang menunggu pria tersebut di rumah, Sisil tetap kembali dan sepertinya akan terus begitu.

Jam makan siang, hampir seluruh penghuni kantor meninggalkan meja mereka, sekedar menikmati suasana baru sambil menikmati santapan untuk mengisi kekosongan perut mereka.

Hanya meyisakan satu orang di sana, ya, seorang pria dengan berbagai masalah yang hinggap di pundaknya.

Pria tersebut hanya duduk di meja kerjanya sambil menyantap makanan siap saji yang dia pesan beberapa waktu lalu. Sebenarnya dia tidak ingin makan, entah kenapa belakangan ini lidahnya menolak untuk mengecap berbagai macam rasa. Namun makan bukan soal rasa semata, tapi soal bagaimana kau memenuhi kebutuhan nutrisi tubuhmu.

“Kak Gun~ aku gabung ya,” Sapa seorang gadis sambil membawa kantong plastik di tangannya.

“Ngapain sih ? ntar dikira macem-macem lagi sama anak-anak.” Pria tersebut menatap risih pada gadis berhidung pesek itu.

“Biarin aja, emang kalo beneran macem-macem kenapa ?” Sisil menatap pria tersebut dengan tatapan menggoda.

“Ya kita bisa dipecat.” Pemuda itu kembali berbalik menghadap monitor sambil mencoba menghabiskan santap siangnya.

“Alasan, bilang aja takut sama Bu Bos.”

“Ngomong apaan sih kamu ? ngawur aja.” Pria tersebut mencoba mengabaikan gadis bernama Sisil itu.

“Yaelah, aku tau kalo Kak Gun sama Bu Melody dulu pernah pacaran, hampir nikah malah, tapi Kak Gun malah milih Saktia gara-gara keluarganya kakak hutang budi kan sama keluarganya Saktia.” Sisil tersenyum licik.

Pria tersebut tersedak, dia segera mengambil air mineral yang terletak di meja kerjanya. Setelah menyeka mulutnya dia menatap kaget ke arah Sisil, tatapannya tajam seolah mengatakan “bagamana dia bisa tahu ?”

“Mungkin itu sebabnya Kakak jadi anak kesayangannya Bu Bos.” Terdengar penekanan di kata ‘anak kesayangan’ yang cukup untuk merubah makna sebenarnya dari kata-kata tersebut.

“Trus kalo kamu udah tau kenapa ? toh semuanya gak bakal berubah.” Pria tersebut mencoba untuk tetap tenang.

“Yaelah, semua orang di kantor juga tau kalo Bu Bos itu paling susah bersikap Profesional ke Kak Gun, gimana ya kalo dia tau alasan sebenernya Kak Gun ninggalin dia ? hmmm.” Sisil meletakkan telunjukknya di bibir.

Pria itu langsung bangkit dan mencengkram kedua bahu Sisil. Gadis itu kaget, rasa takut timbul ketika matanya menatap mata pria yang dipanggilnya Kak Gun.

“Sebenernya mau kamu apa sih ?! hidup gue udah ribet, sekarang elu nambah ribet lagi, maunya apaan !?” Kata-kata formal sepertinya hilang dari tiap ucapan pria tersebut. Dia mencengkram kuat bahu gadis di hadapannya, membuat Sisil meringis kesakitan.

“GUNTUR ! ngapan kalian berdua ?! kalian tau kan kalo sesama teman kantor gak boleh punya hubungan romantis ?” Melody datang sembari menatap ke arah dua orang tersebut. “Kamu di pecat ! beresin barang-barang kamu trus tinggalin kantor ini Tur.”

“Eh tapi Bu, enggak, Mel, ini gak seperti yang kamu kira.” Pria tersebut panik dan berlari menghapiri Melody.

“Pokoknya kamu dipecat, apa yang aku liat udah jadi alasan yang cukup kuat untuk ngeberhentiin kamu.”

“Tapi Mel… .” Pemuda itu memegang lembut tangan sang atasan.

“Keluar atau aku panggilin security.” Melody menatap dingin ke arah pria yang pernah singgah di hatinya tersebut.

Pria tersebut hanya menunduk, dia paham betul bagaimana sifat atasannya, sifat Melody. Sekal dia memutuskan sesuatu tidak ada yang mampu merubah keputusannya itu.

Sang pria tertunduk pasrah, dia berjalan pelan menuju meja kerjanya, memasukkan beberapa barang yang memang merupakan miliknya ke dalam sebuah kardus kecil, beruntung barang miliknya tidak terlalu banyak sehingga tidak memakan waktu yang lama untuk membereskan itu semua.

Dengan langkah gontai pria tersebut berjalan melewati mantan atasannya, tanpa menoleh sedikitpun.

*****

Pria itu kembali duduk di singgasananya, menatap kosong ke arah danau. Entah apa yang salah dengan dirinya kali ini. Seolah-olah ada dosa besar yang telah dia perbuat sehingga kesialan terus datang menimpanya.

Dia tertunduk sambil memegangi kedua kepalanya. Yang dia inginkan hanya sebuah kehidupan sederhana, tapi entah kenapa hal itu menjadi begitu mahal.

Dia merogoh sakunya, mengambil telepon genggam yang baru saja bergetar dengan notifikasi pesan singkat tertera di layarnya.

“Mas di mana ? buruan pulang, ada Mamah sama Papah di rumah.”

Pria itu menggenggam kuat telepon genggam miliknya. Seandainya bisa, dia ingin meremukkan alat komunikasi itu namun tenaganya tak cukup kuat.

Semuanya menjadi semakin baik saja, kini mertuanya sudah berada di rumah. Entah ada angin apa mereka tiba-tiba berkunjung. Memang hal yang wajar jika orang tua ingin mengunjungi anaknya yang kini tengah menjadi tanggung jawab orang lain, tapi di saat sekarang ini ? sepertinya bukan hal yang baik.

Dalam perjalanan menuju rumah pria tersebut bingung memikirkan apa yang harus dijadikan obrolan pada kedua mertuanya. Apa dia harus mengatakan bahwa hari ini dirinya baru saja dipecat ? atau mungkin mengatakan jika sebenarnya dia tidak mencintai anak mereka dan terpaksa mengikat janji suci itu ?

Jika ingin sang mertua mendapat serangan jantung mendadak dan Saktia menjadi liar seperti dulu mungkin tidak ada topik obrolan yang lebih baik dari kedua pilihan di atas. Namun akal sehat pria itu masih cukup bagus sehingga tak menjadikan topik tersebut sebagai pilihan utama.

Menjadi liar ? ya, Saktia memang bisa menjadi liar dan itulah salah satu alasan mengapa pria itu terpaksa menikahinya. Wanita yang jadi istrinya itu memiliki masalah dengan kejiwaannya, terkadang dia mengamuk, bahkan kerap kali melukai orang-orang yang mencoba mendekatinya.

Hingga akhirnya peristiwa itu terjadi. Berawal dari sebuah perkenalan biasa, hanya acara di mana kerabat memperkenalkan anak mereka satu sama lain. Di sanalah pria tersebut pertama kali bertemu dengan Saktia. Tak diduga acara kecil itu malah menyeretnya ke situasi tak terduga.

Saktia yang biasanya sulit dekat dengan orang lain justru terlihat senang berinteraksi dengan pria tersebut. Yah pada waktu itu si pria memang masih menjadi pemuda yang konyol, selalu membuat orang-orang di sekitarnya tertawa, tipikal orang yang mudah dekat dengan siapa saja.

Namun kedua orang tua Saktia menganggapnya lain. Mereka menganggap sang pria adalah jawaban untuk segala penderitaan yang anaknya alami. Dan akhirnya sebuah obrolan yang tidak diketahui oleh Saktia berlangsung. Mereka meminta Pria itu untuk mendampingi Saktia dalam sebuah ikatan pernikahan.

Awalnya sang pria menolak, namun karena desakan dari kedua orang tuanya dan beberapa alasan yang membuatnya tidak bisa mengelak serta rasa enggan untuk menjadi seorang anak yang durhaka, membuat pria tersebut mau tidak mau menyetujui rencana tersebut.

Dan semenjak itu kehidupannya berubah drastis. Ya, dia terpaksa harus meninggalkan kekasihnya yang sekarang jadi mantan atasannya, sifatnya juga berubah drastis, tidak ada lagi lelucon-lelucon konyol pengundang tawa, dirinya yang sekarang adalah orang yang berbeda.

Tanpa terasa sang Pria kini sudah berada di depan rumahnya. Benar saja, ada mobil sedan berwarna hitam terparkir di halaman rumah, dan dia mengenali siapa pemilik mobil tersebut.

“Aku pulang,” ucap Pria tersebut sambil berusaha melepaskan sepatunya.

“Eh mas udah pulang, ayo buruan, udah ditungguin mamah-papah di meja makan.” Saktia mencium tangan suaminya lalu kembali menghambur ke ruang makan.

Pria itu menyusul sang istri sambil menggulung lengan kemejanya. Di ruang makan dia mendapati dua wajah orang tua yang tersenyum hangat kepadanya.

“Mah, Pah, udah lama ?” Pria tersebut melontarkan sebuah basa-basi busuk kemudian mencium tangan kedua mertuanya itu.

“Enggak kok, yaudah ayo makan, kasian Saktia udah masak capek-capek,” ucap sang ibu mertua.

Akhirnya mereka berempat menyantap hidangan yang sudah tersedia di atas meja. Suasana menjadi hening, semua orang fokus pada makanan yang ada di atas piring masing-masing.

Semua berjalan baik, dalam hati pria tersebut berharap jika situasi ini dapat bertahan hingga kedua orang tua istrinya pulang ke rumah mereka.

“Jadi kapan nih kita bisa gendong cucu ?” tiba-tiba sang ayah membuka topik untuk mencairkan suasana.

“Uhuk… .” sang pria tersedak kemudian mencoba menyeka bibirnya.

“Hush ayah apaan sih ? jangan langsung ngomongin yang kayak gitu dong.” Si Ibu mertua menyenggol pelan lengan suaminya. “maaf ya, si ayah emang suka begitu.”

“Gapapa kok mah, kalo urusan anak sedikasihnya aja kalo aku sih, iya kan ?” pria tersebut menatap istrinya sambil menggenggam tangan Saktia.

“Yah bukannya apa-apa sih, cuman ini udah tiga tahun loh, tangan papah udah gatel pengen nimang cucu.” Sang ayah meletakkan piring dan garpunya di atas piring yang sudah kosong. “Ah iya, mobil kamu mana ?”

“Eh ?” pria itu nampak terkejut.

“Iya mobil, emangnya selama ini kamu ke kantor naik apa ?” lanjut sang mertua.

“Eumm kita gak punya mobil Pah, kalo ke kantor sih biasanya naik angkot soalnya kan gak jauh-jauh banget dari rumah.”

“Wah, harusnya beli mobil dong, apa gaji kamu gak cukup ? ntar kalo udah punya anak mau diajak jalan-jalan naik apa ? masa iya kalian bertiga naik angkot.” Sang ayah mertua mengambil gelas yang ada di hadapannya.

“Bukan gitu, abis kayaknya kita belum perlu deh, sayang uangnya.” Pria tersebut menggenggam erat sendok di tangannya. Ingin rasanya dia melemparkan sendok itu tepat ke wajah orang tua di hadapannya, namun mengingat pria itu adalah mertuanya hal itu tak mungkin dia lakukan.

“Yaudah ntar biat papah beliin satu, mau yang gimana ? mobil keluarga atau model sedan gitu ?” entah kenapa pertanyaan tersebut terdengar seperti penghinaan di telinga pria tersebut.

“Gak usah Pah,” balas si Pria dengan suara sedikit bergetar.

“Udah gak usah malu, apa perlu supir juga ? biar ntar Saktia ada yang nganterin kalo mau kemana-mana.”

Pria tersebut mendadak bangkit, mengundang fokus seluruh orang yang ada di ruang makan tersebut. Tubuhnya bergetar, berusaha menahan segala amarah yang dia rasakan agar tidak tersalur ke arah yang salah.

“Maaf aku ke kamar duluan, hari ini banyak banget kerjaan.” Pria tersebut memaksakan sebuah senyuman kemudian berjalan meninggalkan Istri dan mertuanya yang menatap dengan tatapan heran.

Sesampainya di kamar pria tersebut langsung menuju ke kamar mandi. Dia menanggalkan semua bajunya lalu memutar keran, berharap pancuran air dari shower bisa menghapus rasa kesal yang dia rasakan.

Harga dirinya sebagai seorang pria benar-benar dijatuhkan kali ini. Semua hanya karena materi,materi dan materi. Dulu dia bermimpi untuk mencari sebuah kebahagiaan tanpa harus mengandalkan materi, dulu semuanya terasa mungkin, semangat untuk membuktikan pada dunia jika materi itu hanya sebuah alat begitu membara.

Namun dunia bekerja dengan cara yang lebih kompleks dari yang dia pikirkan. Dengan kejam dan perlahan, mimpi itu hancur seiring berjalannya waktu.

*****

Hari yang baru, cerah dan sedikit menyengat. Di bawah sinar mentari seorang Pria berjalan sambil membawa map berwarna coklat, mencoba menjajakan tenaganya pada tiap-tiap perusahaan.

“Hmmm, Ghifari Guntur, Anda dulunya karyawan Laksani Corp ya ?”

“Iya Pak benar, ada yang salah dengan itu ?” pria tersebut menatap heran pada orang yang mewawancara dirinya tersebut.

“Enggak ada, track record anda bagus, hanya saja posisi yang sesuai dengan keahlian anda saat ini tidak membutuhkan tambahan tenaga, jadi mohon maaf ya.” Sang HRD menyerahkan kembali map berisi kumpulan berkas pada sang pria.

Lagi-lagi sebuah penolakan, ini sudah perusahaan ketiga yang dia datangi namun belum ada hasil yang diharapkan. Memang penolakan adalah hal yang wajar namun tiga kali penolakan berturut-turut dengan alasan yang sama, apa itu masih dalam kategori wajar ?

Jelas ada sesuatu yang salah di sini,  tidak diperlukan sebuah analisis mendalam serta hipotesis yang luar biasa untuk mengetahui hal itu.

Sang pria memutuskan untuk duduk sebentar di halte tak jauh dari kantor yang baru saja menolaknya, sekedar untuk melepas lelah sebelum melanjutkan perjalanan.

Saat sedang sibuk memikirkan tujuan selanjutnya, ada sesuatu yang menarik perhatiannya, sesosok gadis berbadan pendek dengan kulit putih bersih serta rambut hitam yang panjang tergerai.

Melody, ya, sosok yang saat ini membuat pria tersebut harus berjuang mencari pekerjaan untuk menyambung hidup. Mulai timbul pertanyaan dalam benaknya, apa yang sebenarnya sedang dilakukan mantan atasannya di tempat ini ? hingga akhirnya kedua mata mereka saling bertemu.

Sebuah koneksi singkat, hanya beberapa detik dan Melody langsung memalingkan wajahnya, menghambur masuk ke dalam mobil berwarna merah yang baru saja berhenti di hadapannya.

Pria itu merasa bahwa wanita itu ada hubungannya dengan beberapa penolakan yang dia alami hari ini. Sang pria akhirnya memutuskan untuk mengejar Melody, berbekal tenaga seadanya dia berlari ke arah mobil merah tersebut.

Mobil itu melesat terlalu cepat, kedua kaki pria tersebut tak mampu mengimbangi kecepatannya. Namun dia tidak menyerah, dia tahu jika tak jauh dari sana ada persimpangan yang artinya pasti ada lampu lalu lintas di sana. Jika cukup beruntung dirinya akan mampu menyusul Melody saat lampu lalu lintas menyala merah.

“Aduuhhhh… .”

Saking fokusnya mengejar Melody pria tersebut sampai tidak memperhatikan seseorang yang tengah berjalan di depannya.

Mereka terjatuh, karena merasa bersalah pria tersebut langsung membantu wanita yang dia tabrak untuk bangun.

Wajah pria tersebut nampak terkejut, sosok yang ditabraknya ternyata adalah salah seorang yang dikenalnya. Wajah wanita tersebut masih terekam jelas di ingatannya. Jelas saja, bagaimana pria itu bisa lupa pada seseorang yang menjadi alasan dirinya tidak punya pekerjaan ?

“Sisil ?! ngapain kamu di sini ?”

“Kak Gun ? lah Kakak sendiri ngapain di sini ?” Sisil membersihkan beberapa debu yang menempel di pakaiannya.

“Nyari kerjaan lah, gak inget kemaren baru aja dipecat ?” balas pria itu sarkas

“Ah iya, terus gimana udah dapet kerjaan baru ?” tanya gadis itu sambil berjalan di sebelah pria tersebut.

“Blom,” jawab pria itu ketus.

“Lah kok bisa ?”

“Gak tau, entah kenapa semua perusahaan menolak waktu tau kalo aku pernah kerja di perusahaan Melody.”

“Ah mungkin… ,” Sisil tak melanjutkan ucapannya saat tatapan pria itu terarah kepadanya.

“Kenapa ? kok diem ?” pria tersebut menaikkan sebelah alisnya.

“Enggak anu… .” Gadis itu semakin gugup karena sang pria terus menatapnya.

Sang pria tidak bergeming, dia melipat kedua tangannya sambil menghentakkan kaki.

“Jadi dari pagi Kak Melody emang udah rada aneh gitu, dia uring-uringan ga jelas, hampir semua karyawan dia marahin padahal gak ada kerjaan yang salah,” Merasa tak punya pilihan, akhirnya sisil buka suara.

“Terus ?”

“Yaaa gitu deh, gak lama akhirnya Bu Bos keluar sambil nelpon, karena penasaran akhirnya aku ikutin deh kemana dia pergi.” Sisil mengela nafas sejenak lalu kembali melanjutkan ceritanya. “Kak Melody cuman mampir ke beberapa perusahaan, aku pikir mungkin itu urusan kerjaan, gak lama setelah Kak Melody keluar dari kantor yang dia masukin eh ada Kak Gun juga yang keluar, awalnya aku pikir cuman kebetulan tapi kejadian itu berulang sampe sekarang.”

Mendengar cerita dari penggemar beratnya itu sang pria langsung terdiam. Dia mengepalkan tangannya kuat lalu berlari sekuat tenaga, tanpa menghiraukan teriakan Sisil yang mencoba menghentikannya.

Pria itu berhenti tepat di depan sebuah gedung 13 lantai. Bajunya nampak kusut karena beberapa kali dia sempat menabrak orang karena terlalu fokus untuk berlari. Dia tertunduk sambil memegangi pinggangnya, sekedar mengatur nafas sebelum melangkah masuk ke dalam.

Saat melewati pintu masuk, seorang security mencoba menghentikannya, pria itu tidak peduli dia menepis tangan petugas keamanan itu dan menghambur menuju lift yang baru saja terbuka.

Kini dia berada di dalam lift, bersama dengan dua orang karyawan yang menatapnya dengan tatapan aneh. Pria tersebut tidak memperdulikan mereka, dia hanya fokus pada tujuannya, bertemu dengan seseorang yang menghalangi dirinya untuk kembali menjadi seseorang yang berpenghasilan.

“Terima kasih Pak atas bantuannya, pokoknya kalo dia mencoba ngasih lamaran lagi tolong lakuin seperti yang saya bilang ya,” Ucap Melody pada seseorang di saluran teleponnya.

Akhirnya bukti konkrit bahwa Melody yang menjadi alasan sang Pria tidak diterima bekerja terkuak sudah.

“Wah, wah, makasih ya atas bantuannya.” Pemuda itu melangkah masuk sambil bertepuk tangan sebagai pelengkap ucapan sarkasnya.

“G-g-guntur ?” Wanita itu terkejut. Segera dia memutus panggilan di telepon genggamnya.

“Aku gak tau apa salah aku sama kamu Mel, sampe-sampe kamu bertindak sejauh ini, apa pemecatan kemaren gak cukup ?”

Melody hanya diam, dia menundukkan kepalanya, menghindari bertatapan langsung dengan seseorang yang pernah menjadi sesuatu di masa lalunya.

“Aku pikir akulah yang kurang profesional tapi ternyata ? seorang Melody yang terhormat, seorang Bos dari perusahaan sekaliber Laksani Corp menyabotase karir mantan karyawannya sendiri ?” pria itu menggelengkan kepalanya. “abis ini apa ? bayar orang buat mukulin aku ? mungkin aja sih, kan gak mungkin seorang Melody ngotorin tangannya sendiri.”

Melody masih diam, kali ini dia mengepalkan tangannya sekuat tenaga.

“Entahlah, aku gatau sampe kapan kamu bakal puas.”

“Kamu pikir yang kamu lakuin ke aku itu gak nyakitin ?!” Tiba-tiba Melody angkat bicara dengan nada tinggi dan sedikit berteriak, seolah-olah seluruh isi hatinya tercurahkan pada kalimat tersebut. “Kamu ninggalin aku demi si gila itu ? seharusnya yang ada di posisi dia itu aku !”

“Kamu gak ngerti, aku punya alasan sendiri.”

“Alasan apa ?”

“Kamu gak perlu tau itu.” Pria itu menundukkan kepalanya.

“Udah gila ya kamu, pergi gitu aja, ninggalin aku demi cewek yang mentalnya rusak kayak Saktia.”

“Cukup… .”

“Kenapa emang kenyataannya gitu kan ? kamu kira semua kenangan kita bisa gitu aja di lupain ! emang apa sih lebihnya dia dibanding aku !”

“Aku bilang cukup !” Pria tersebut mengangkat tangannya, bersiap melayangkan sebuah tamparan namun terhenti karena melihat air mata yang mulai menetes dari mata mantan bosnya itu.

“Terserah, kamu mau ngelakuin apa aja aku gak peduli, yang jelas ada beberapa hal yang gak bisa aku ceritain.”

Pria itu berbalik dan menjauh dari ruangan tersebut, meninggalkan Melody yang menangis sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan.

*****

Sebuah batu melesat masuk ke dalam danau, mengacaukan air yang tadinya tenang. Dari pinggir danau terlihat seorang pria tengah menggenggam sebuah batu dan melemparkannya lagi ke tengah danau.

Pria tersebut melempar dengan sekuat tenaga, mencurahkan seluruh kekesalannya di setiap lemparan, namun itu tidak banyak membantu. Sebanyak apapun batu yang dia lempar, sekuat apapun dia melempar batu tersebut, rasa kesal yang dia rasakan tetap tidak mau pergi.

Akhirnya pria itu menyerah, tenaganya terkuras untuk sesuatu yang sia-sia. Dengan pasrah pria tersebut duduk di singgasananya, menatap langit sambil menikmati hangatnya mentari sore yang membelai lembut kulitnya.

“Sekarang apa lagi yang salah ?” ucap pria itu setelah menghela nafas berat.

Tidak lama kemudian matanya menangkap sosok seorang gadis berhidung pesek, berdiri di belakangnya sambil melempar tatapan heran.

“Masih sering ke sini Kak ?” ucap gadis itu lalu mengambil posisi di sebelah pria tersebut.

“Ngapain ke sini sih Sil ? semua makin baik aja, bahkan di tempat favorit aku gak bisa sendirian,” balas pria itu dengan nada kesal.

“Pengen ngecek aja, mana tau mana tau kan… .”

“Mana tau apa ?”

“Mana tau Kak Gun pengen bunuh diri.” Sisil meletakkan tas milikinya tepat di antara dia dan pria tersebut.

“Aku gak percaya sama solusi instan kayak gitu.”

“Bagus deh.”

Hening menyelimuti mereka berdua. Bahkan hangatnya matahari sore tak mampu mencairkan suasana beku yang tercipta antara pria tersebut dengan gadis yang merupakan mantan teman sekantornya.

Pria itu menghela nafas, terkesan berat seperti baru saja melakukan pekerjaan yang sangat melelahkan. Ya, dia hanya tidak suka situasi ini, terlalu hening. Tidak ada alasan khusus, dari dulu dia memang tidak bersahabat baik dengan keheningan.

“Entah kenapa semuanya terasa salah, ya, semenjak pernikahan dengan Saktia dunia terasa terbalik, aku kehilangan duniaku dan terjebak di dunia yang asing ini.” Pemuda itu melemparkan tatapannya ke danau yang menjadi tempat bermain bagi angsa-angsa liar.

“Maksudnya ?”

“Entahlah, seolah-olah seluruh kesialan datang tanpa henti.”

“Mungkin itu cuman perasaan Kakak aja, dunia tetep gak berubah kok.” Sisil melirik ke arah pria di sampingnya yang masih menatap kosong ke arah danau.

“Udah kuduga kamu gak ngerti, ya wajar, kamu gak ngerasain, bahkan untuk sekarang ini, tersenyum jadi pekerjaan yang cukup berat untuk dilakukan.” Pemuda itu menyenderkan badannya. “Dipecat, karir disabotase, entah apa yang ada dipikiran Melody, seharusnya dia bisa melupakan masa lalu, sama seperti yang aku lakukan.”

“Gimana dia bisa lupa kalo setahun belakangan selalu ketemu sama Kakak.”

Kehadiran Sisil sepertinya tidak banyak membantu, malah membuat pikirannya semakin tak karuan. Dia tahu jika gadis itu mencoba menenangkannya tapi ternyata usahanya tidak membuahkan hasil.

“Namanya juga punya sendiri, jadi bebas mau ngelakuin apa aja, kayak perusahaan itu meskipun skalanya beda tapi tetep aja Melody punya hak.” Gadis itu mengikat rambutnya karena merasa gerah.

Seolah mendapat pencerahan, pemuda itu langsung membetulkan posisi tempat duduknya. Dia melihat ke arah Sisil yang masih berusaha mengikat rambutnya. Kata-katanya tadi seperti sebuah suntikan ide.

“Hahahahaha, ya benar, mungkin saat ini udah waktunya untuk berubah,” pemuda itu tertawa keras, suatu hal yang dia sendiri hampir lupa kapan terakhir melakukannya.

Pria itu bangkit lalu meninggalkan Sisil yang mematung karena melihat perubahan sikapnya yang drastis.

Pria tersebut berjalan sambil terus tersenyum. Di dalam pikirannya dia sudah menyusun beberapa rencana yang mungkin akan membuatnya lepas dari segala kesialan yang menimpanya.

Saking bersemangatnya terkadang terdengar suara tawa keluar dari mulut sang pria, membuat orang-orang di sekelilingnya terkejut dan melemparkan tatapan heran.

Dia tidak perduli, bagi sang pria ini merupakan babak baru dimana dia akhirnya mencoba memutar balikkan keadan sehingga sesuai dengan apa yang dia inginkan.

******

Akhirnya sang pria tiba di rumahnya. Setelah meletakkan sepatu di rak, dia berjalan menuju ruang tamu, duduk di atas sofa yang empuk sambil melonggarkan dasi yang sedari tadi membuat lehernya risih.

“Mas udah pulang, nih kopinya.” Saktia meletakkan sepiring kopi yang masih mengepul di atas meja ruang keluarga. “gimana tadi kerjaannya ?”

Pria itu hanya diam, dia menatap wajah istrinya dalam, lalu berbalik hingga tubuhnya berhadapan dengan wanita itu.

“Ada yang mau aku bicarain,” ucap pria itu dengan nada rendah.

“Apa itu ? kayaknya serius banget.” Saktia membetulkan posisi duduknya.

“Ya, ini tentang kita, lebih tepatnya tentang pernikahan kita.” Sang istri mengerutkan dahinya saat mendengar ucapan pria itu. “apa kamu tau kalo selama ini pernikahan kita cuma sandiwara ?”

“Maksudnya mas ?”

“Ya, aku gak pernah benar-benar cinta sama kamu, dan pernikahan ini, ilusi ini, semuanya hanya rekayasa keluarga kita, sebenarnya aku terpaksa menikahi kamu karena orang tuamu bilang kamu punya gangguan mental dan entah kenapa saat bersamaku penyakit kamu itu bisa hilang.” Pria tersebut menundukkan kepalanya, sementara sang istri masih berusaha menghilangkan rasa terkejut yang dia rasakan.

“Semuanya sudah diatur, aku terpaksa menyutujui pernikahan ini karena orang tuamu sudah banyak membantu keluargaku, toh mereka pada dasarnya memang berteman. Orang tuaku juga memaksa dan menyetujui saran itu jadi aku tidak punya pilihan lain selain menyetujuinya.” Dalam hati sang pria merasa senang, sejauh ini rencana yang dia susun sukses.

Yah, rencananya adalah membuat Saktia patah hati dan berharap penyakitnya kambuh lagi, dengan begitu dia bisa mengatakan jika pernikahan ini tidak berhasil karena nyatanya dirinya tak mampu menyembuhkan penyakit mental yang diderita oleh istrinya tersebut. Setelah mampu menunjukkan bukti konkrit, pria tersebut berharap keluarga mereka mau mengerti dan mengakhiri sandiwara panjang ini.

Pria tersebut menganggap jika Saktia adalah penyebab segala kesialan yang dia alami dan mungkin dengan berpisah dari wanita tersebut, kehidupan lamanya akan kembali, kesialan juga dianggap akan berhenti mengetahuinya.

Pria itu hanya terdiam, memperhatikan istrinya yang masih membeku, kehabisan kata-kata sambil menatap dirinya dengan tatapan tak percaya. Dengan sabar dia menunggu reaksi yang diharapkan, amukan membabi-buta dari orang yang kini menjadi istrinya.

“T-t-tapi ini udah jalan tiga tahun Mas, apa gak mau pikir-pikir dulu ? kayaknya terlalu telat kalo kita pisah sekarang,” ucap Saktia dengan nada suara bergetar, berusaha keras untuk tidak menangis.

Pria tersebut membelalakkan matanya. Ini tidak seperti yang dia harapkan. Kenapa Saktia tidak menggila ? kenapa wanita itu malah terlihat cukup tegar ?.

Keadaan berbalik, seluruh rencananya gagal total. Pria tersebut berusaha untuk meyakinkan dirinya bahwa ini tidak nyata, namun semua sia-sia, wanita di hadapannya tidak menjadi liar, hanya seluruh tubuhnya yang bergetar mencoba menahan tangis.

“KENAPA !! KENAPA KAMU GAK MENGAMUK ?!” Pria tersebut mencengkram bahu sang istri sekuat tenaga, membuat wanita tersebut menatap dirinya dengan tatapan takut.

“Mas, s-s-sakit.” Saktia meringis sambil mencoba melepaskan cengkraman suaminya namun sia-sia, tenaganya tak cukup kuat.

“Ayolah ! bukannya harusnya kamu kecewa ? bukankah harusnya kamu marah ! kenapa kamu gak menjadi liar seperti dulu !”

“Maksudnya apa Mas ? aku beneran gak ngerti,” ucap Saktia.

“Arrrrghhh !” pria tersebut mendorong badan Saktia, membuat tubuh wanita tersebut terlempar ke samping hingga membentur meja.

Saktia kini terduduk di lantai sambil memegangi bahunya. Benturan akibat ulah suaminya juga membuat luka memar menghiasi bahunya. Kini wanita itu hanya bisa menangis sambil menatap suaminya dengan tatapan tak percaya.

Pria tersebut merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya. Bukan perasaan bersalah, melainkan perasaan senang karena berhasil mendominasi sesuatu. Ya secara teknis Saktia adalah miliknya jadi dia bebas melakukan apa saja terhadap wanita itu.

Untuk pertama kalinya pria tersebut merasakan kenikmatakan karena berkuasa akan sesuatu. Rasa senang yang membludak membuat tawanya pecah, tawa mengerikan yang juga menimbulkan rasa takut dalam benar Saktia karena wanita tersebut tidak pernah melihat sikap suaminya yang seperti ini.

“Hahahaha, baiklah kalo begitu, mungkin cara lembut gak bakal bekerja, mari kita paksa sisi liarmu keluar.”

Pria tersebut mengangkat tubuh istrinya, lalu mendaratkan sebuah tamparan di pipi wanita tersebut, menyebabkan kulit putih Saktia mulai memerah.

“Aaaaaakkk !” jerit Saktia sambil memegangi pipinya.

“Hahaha, ayo tunjukkan sisi liarmu, bukannya sekaran kamu merasa marah !” pria tersebut kembali mendaratkan sebuah tamparan di wajah istrinya.

Hanya jeritan saktia yang terdengar, namun itu tidak membuatnya merasa kasihan, justru dia merasa sangat senang. Ya setelah sekian banyak kesialan yang dia lalui, baru kali ini dia merasakan kembali apa yang namanya kesenangan. Oleh sebab itu dirinya tidak ingin menyia-nyiakan momen ini.

Tamparan demi tamparan dilayangkan oleh pria tersebut, namun hasil yang dia harapkan tetap tidak muncul. Kali ini dia tidak kecewa, dengan begitu dia tetap memiliki alasan untuk melakukan hal ini terus menerus.

Namun mereka berdua bukanlah manusia super, stamina mereka bukannya tak terbatas. Peluh menetes dari dahi pria tersebut dan saktia nampaknya tak memiliki tenaga unuk terus berteriak.

Tangan pria tersebut terasa perih, ya bagaimanapun juga memukul pasti memiliki efek samping meskipun tak separah korban pukulan.

“Baiklah sepertinya kamu cukup keras kepala juga.” Pria tersebut melepaskan cengkramannya dari Saktia, membuat wanita tersebut terkulai lemas di lantai. “ingat, aku bukan orang yang gampang menyerah hahahaha !”

Pria tersebut berjalan menuju lantai dua, meninggalkan Saktia yang tak berdaya dengan darah yang menetes di kedua sisi bibirnya serta luka memar di sekujur tubuh wanita tersebut.

*****

“Tumben ngajak ketemuan Kak ?” seorang gadis dengan rambut terikat menarik kursi dan duduk di hadapan pria yang dikenalnya.

“Lah kenapa ? emangnya gak boleh ?” ucap pria tersebut sambil tersenyum.

“Bukannya gitu Kak Gun, cuman rada aneh aja kayaknya hahaha.” Gadis itu tertawa seadanya. “emangnya ada perlu apa Kak ?”

“Gak ada yang penting sih, lagi bosen aja.” Pria itu menyeruput minuman yang sudah tersisa setengah. “sibuk gak ? nonton yuk, kebetulan ada tiket bonus nih.”

“Hah ?” gadis itu nampak terkejut. Dia benar-benar tak bisa percaya jika pria itu barusan mengatakan hal yang selama ini ingin dia dengar.

“Malah bengong, mau gak ? Cuma berlaku hari ini tiketnya Sil.”

“B-b-boleh deh.” Sisil mengangguk pelan.

“Nah gitu dong.” Pemuda itu menghabiskan minumannya dengan segera.

“Tapi… .” Sisil nampak ragu, dia masih sulit mempercayai kejadian ini karena selama ini dia hanya mampu memimpikannya.

“Apa lagi ? jarang-jarang loh dapet tiket gratisan kayak gini, mubazir kalo dianggurin,” pria itu kembali mencoba meyakinkan Sisil.

“Saktia gimana Kak ?”

“Ya gak gimana-gimana ? dia kan gak suka nonton film, lagian kamu tau lah kalo otaknya rada-rada jadi daripada ntar nanya-nanya mending dia di rumah aja.” Pemuda itu mengulurkan tangannya. “Yuk.”

Dengan ragu Sisil menyambut uluran tangan tersebut. Sesaat setelah tangan mereka bersentuhan, gadis berhidung pesek itu merasakan sesuatu, dia merasakan ada jutaan kupu-kupu yang terbang kesana-kemari dalam perutnya, rasa gugup yang biasa dirasakan saat berada dekat dengan orang yang disukai.

Mereka berdua pun berjalan menuju bioskop yang berada di lantai lima pusat perbelanjaan tempat mereka bertemu. Setelah menanti beberapa saat dan memesan popcorn serta dua gelas softdrink berukuran besar, mereka melanjutkan menuju pintu masuk teather sesuai dengan yang tertera pada tiket mereka.

Akhirnya mereka sudah duduk di tempat yang semestinya. Tak lama setelah seluruh penonton masuk, lampu mulai dipadamkan, suasana ruangan gelap gulita, satu-satunya sumber cahaya hanyalah film yang saat ini sedang mereka tonton.

Entah kenapa Sisil justru tidak bisa fokus pada film, sesekali dia melirik ke arah pria di sebelahnya yang seluruh perhatiannya tersedot pada film yang sedang diputar. Yah, bagi Sisil ada sesuatu yang lebih spesial dibandingkan dengan film itu, bersama dengan seseorang yang daridulu dia idam-idamkan.

Akhirnya gadis itu memberanikan diri untuk menggenggam tangan pria idamannya. Bagaimana reaksi pria tersebut merupakan urusan belakang bagi sang gadis, toh dia tidak akan tahu jika tidak mencoba.

Sungguh benar-benar reaksi yang terduga, pria tersebut membalas genggaman Sisil dengan hangat. Jika tidak ingat sedang berada di bioskop mungkin Sisil ingin berteriak sekencang-kencangnya, namun kenyamanan penonton yang lain membuatnya mengurungkan niatan itu.

Dua jam lebih mereka bersama dan akhirnya film tersebut selesai. Mereka berdua berjalan menuju pintu keluar yang ditunjukkan oleh petugas bioskop.

“Sekarang mau kemana ? kamu laper gak ? makan yuk,” ajak pria tersebut.

Sisil hanya mengangguk, saat ini dia terlalu senang sampai tidak bisa mengeluarkan kata-kata.

Mereka bedua kini berada di restoran cepat saji. Setelah pesanan mereka datang akhirnya mereka berdua mulai menyantap hidangan tersebut.

Sisil sepertinya mulai terbiasa dengan keadaaan ini. Dia sudah tidak canggung lagi untuk membuka obrolan, bahkan komunikasi mereka kali ini lebih menarik dibanding sebelumnya.

Pria di hadapannya ini benar-benar berbeda dari pria yang belakangan ini dia temui. Meskipun wajahnya sama tapi sifatnya benar-benar berbanding terbalik. Pria itu tidak lagi murung, bahkan lebih murah tertawa, untuk sesaat gadis itu seperti tidak mengenal orang yang berada di hadapannya ini.

Akhirnya mereka berdua melanjutkan perjalanan. Tidak ada sesuatu yang benar-benar spesial, hanya sesuatu yang biasa dilakukan oleh sepasang kekasih. Berjalan-jalan mengelilingi Mall, melihat-lihat baju dan beberapa aksesoris juga menghabiskan waktu untuk bersenang-senang di pusat permainan.

Tanpa terasa hari sudah semakin sore dan mereka harus berpisah. Bagi Sisil hari ini benar-benar hari terbaik dalam hidupnya, menghabiskan waktu seharian bersama orang yang dari dulu dia sukai tanpa ada yang mengganggu, benar-benar luar biasa.

“Wah gak kerasa ya udah gelap aja, yaudah kita pisah di sini ya, aku pulang dulu, kamu juga hati-hati ya di jalan,” Ucap sang pria sambil tersenyum.

“Iya Kak, makasih ya atas waktunya, Kak Gun juga hati hati.” Sisil melambaikan tangannya lalu berlai menghampiri sebuah taksi yang terparkir di depan pintu mall.

Gadis itu masih tidak tahu ada angin apa yang merubah sikap pria itu. Namun itu tidak penting lagi, saat ini dia sudah bahagia, dan itu lebih dari cukup.

*****

Pria tersebut membuka pintu rumahnya, wajahnya nampak berbeda, kali ini terlihat banyak kerutan. Dia menatap tajam ke arah tangga menuju lantai dua. Setelah melepas sepatunya dia berjalan perlahan hingga berada di depan sebuah pintu, pintu kamarnya.

Setelah masuk ke dalam kamar, dia melihat sosok yang sedang tidur di balik selimut, Saktia. Mendadak perutnya langsung terasa mendidih, dia berjalan menghampiri istrinya tersebut, menjambak rambutnya hingga membuat wanita itu terkejut dan terbangun dari tidurnya.

“Hei, siapa bilang kamu boleh tidur ? kita sudah punya janji untuk melakukan treatment khusus bukan ?” dengan kasar pria tersebut melemparkan tubuh Saktia ke lantai. Beberapa helai rambut wanita itu tertinggal di telapak tangan pria itu.

Tak ada jawaban dari Saktia, gadis itu hanya bisa menangis dan menangis. Dia tidak tahu iblis apa yang merasuki suaminya sehingga mampu berbuat kejam seperti itu.

“Hahaha, ayolah keluarkan sisi liarmu !” bentak Pria itu diikuti dengan sebuah tamparan yang membuat tubuh Saktia terlempar lagi.

“Kayaknya tamparan udah gak berguna lagi yah,” ucap pria tersebut setelah melayangkan beberapa tamparan ke pipi Saktia. “mari kita coba yang sedikit lebih keras.”

Pria itu mengepalkan tangannya. Saktia hanya bisa menutup mata saat melihat tinju yang dilayangkan suaminya melesat ke arah wajahnya. Sesaat kemudian Saktia merasakan sesuatu yang keras menghantam wajahnya, dan lagi-lagi membuat tubuh wanita itu terlempar, kali ini cukup jauh.

Rasa anyir memenuhi mulut wanita itu, darah menetes memngotori lantai kamarnya. Air mata mengalir deras sebagai tanda bahwa dirinya benar-benar kesakitan.

Namun hal itu tidak membuat sang pria menghentikan aksinya, dia terus dan terus memukuli Saktia, menanti sisi liar yang dia harapkan keluar agar mampu membebaskannya dari kutukan yang selama ini menghantuinya.

Dunia pun kembali berubah, baik bagi pria itu juga bagi Saktia.

Sang pria kini seperti mempunyai semangat baru, dia menghabiskan siang hari untuk bersenang-senang dengan Sisil dan malamnya gilirannya untuk bersenang-senang dengan sang istri.

Hal ini terus berlanjut, berlanjut hingga Saktia terlalu lelah, terlalu lelah untuk menangis.

Kini dia ibarat robot tanpa emosi. Air matanya tak lagi keluar seberapa banyakpun siksaan yang dilakukan oleh sang suami terhadap dirinya. Wajahnya kini membengkak, luka memar dan darah yang mengerin sudah menjadi hiasan yang lumrah di tubuhnya.

Entah sampai kapan hal ini berlanjut. Dia tidak tahu apa yang sebenarnya diinginkan oleh sang suami, seandainya dia tahu dia pasti sudah memberikannya agar sang suami berhenti bertingkah seperti orang sinting dan menghentikan siksaannya.

*****

“Kayaknya ini bener deh alamatnya,” ucap seorang pria setelah melihat pesan singkat yang mampir di telepon genggamnya. “ngapain sih Sisil ngajak ketemuan di tempat kayak gini ? gak biasanya.”

“Terserah deh, kayaknya dia udah nunggu di dalem.”

Pria tersebut melangkahkan kakinya memasuki bangunan tiga tingkat dengan area yang cukup luas. Sesaat setelah melewati pintu masuk dia di sambut oleh seseorang berpakaian serba putih di meja resepsionis lengkap dengan topi persegi panjang yang khas.

Setelah menjelaskan maksud kedatangannya, wanita di balik meja resepsionis mempersilahkan pria tersebut untuk menunggu di tempat duduk yang sudah disediakan.

Sambil menunggu, mata pria tersebut memperhatikan ke sekeliling. Beberapa orang berseragam serta memakai jas putih lengkap dengan stetoskop melingkar di lehernya terlihat berlalu lalang. Rumah sakit, untuk apa Sisil mengajaknya bertemu di tempat seperti ini.

Cukup lama menunggu akhirnya rasa bosan menghinggapi pria tersebut. Dia bangkit dan memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar, sekedar untuk mengusir kebosanan yang dia rasakan.

Dia berjalan menelusuri lorong panjang di hadapannya. Di sepanjang perjalanan dia mencium bau obat-obatan yang khas, beberapa orang mendorong kursi roda serta kumpulan kotak berisi infus terlihat sedang di dorong di atas troley.

Setelah cukup lama berjalan, pria tersebut menemukan sosok yang dicarinya, Sisil. Gadis itu tengah terduduk sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Karena penasaran dengan apa yang terjadi, sang pria menghampiri gadis tersebut.

“Hai Sil, ada apa ? kok ngajak ke temuannya di sini,” sapa pria tersebut.

Sisil langsung menatap pria itu, matanya sembab, masih ada sisa-sisa air mata yang mengering menghiasi matanya.

“K-k-kenapa… ,” ucap sisil dengan suara bergetar. “Kenapa kakak tega ngebuat Saktia kayak gitu !”

Pemuda itu terkejut, dia hanya terdiam saat sisil memukul-mukul pelan dadanya. Bajunya kini sudah mulai basah oleh air mata gadis tersebut.

“Kemaren Saktia nelpon aku, waktu itu aku lagi di jalan jadi gak sempet buat ngangkat teleponnya. Pas sampe di rumah akhirnya aku mutusin untuk nelpon balik, awalnya gak diangkat tapi setelah nyoba beberapa kali akhirnya teleponku dijawab tapi gak ada suara apapun. Akhirnya untuk mastiin, aku mampir ke rumah Saktia, rumah kakak, dan kakak tau apa yang aku dapet ? saktia babak belur, luka-luka, pokoknya keadaannya mengenaskan, kenapa kak ! kenapa !” Sisil meninggikan nada bicaranya.

Pemuda itu tersenyum, kali ini sebuah senyuman jahat yang membuat ketakutan muncul dalam diri Sisil.

“Bukannya ini lebih baik ? bukannya kamu seneng ? dengan begini kita bisa ngabisi waktu sama-sama terus kan ? lagian aku cuman nyoba pisah dari Saktia dengan memancing sisi liarnya keluar hahaha.”

Sisil nampak terkejut, kali ini pria di hadapan benar-benar sosok yang tidak dikenal. Ini bukan pria yang selama ini dia idamkan, melainkan adalah orang sinting yang menjadi penyebab sahabatnya hampir kehilangan nyawa.

“Kak, aku gak ngenalin kakak, Kakak ternyata udah jadi gila ! ya bukan Saktia yang liar tapi kakak !” ucap Sisil sambil terisak.

“Terserah, tapi aku cukup suka dengan diriku yang sekarang.” Balas pria itu dingin.

“Mana Kak Gun yang selama ini kusuka ! Kak Gun yang selalu konyol, tidak perduli dengan perkataan orang lain, dia yang selalu baik meskipun dalam keadaan tersulit sekalipun, orang yang tidak pernah berlaku kasar seperti sekarang ini !”

“Hahaha, aku lelah menjadi orang baik, pada akhirnya orang baik tidak akan mendapatkan apa-apa, hanya memikul beban yang tidak seharusnya dipikul.”

“Ya tapi karena orang baiklah saat ini kakak masih bisa berkata seperti ini, masih bisa berdiri di sini, bukannya di balik jeruji besi.” Sisil berlari meninggalkan pria itu dengan tanda tanya besar di pikirannya.

Untuk sejenak Pria tersebut mencoba mencerna perkataan Sisil. Apa yang dimaksud karena orang baik dirinya masih bisa berada di sini ?

“Maaf Pak, bapak keluarganya Bu Saktia ?” Seorang Suster menyadarkan pria tersebut dari lamunannya.

“Eeeeh ? iya, saya suaminya,” jawab pria itu gugup.

“Nah tolong tanda tangan di sini ya pak.” Sang suster menyerahkan sebuah kertas. “terima kasih bapak, ah iya belakangan kejahatan emang lagi marak Pak, jadi disarankan untuk meningkatkan keamanan di rumah.”

“Maksudnya Sus ?” ucap pria itu sambil mengembalikan pulpen milik sang suster.

“Iya, istri bapak jadi korban perampokan, untung ada temennya yang cepet-cepet ngebawa dia ke sini jadi pihak rumah sakit bisa cepet-cepet ngasih pertolongan dan nyelamatin nyawa istri bapak.” Sang suster pun melenggang pergi setelah menerima pulpen yang diserahkan oleh pria tersebut.

Perampok ? apa maksdudnya semua itu ? perkataan suster tadi benar-benar berbanding terbalik dengan apa yang sebenarnya terjadi.

Bukan perampok yang menjadi penyebab Saktia seperti itu, melainkan dirinya lah yang bertanggung jawab atas apa yang menimpa Saktia, tapi kenapa pihak rumah sakit mengatakan jika Saktia adalah korban perampokan.

Begitu banyak hal yang tidak pria itu mengerti. Rasa penasaran akan apa yang sebenarnya terjadi sungguh menyiksanya. Tidak ada pilihan lain, ya tidak ada pilihan selain masuk ke dalam sana dan meminta penjelasan dari sang istri.

Akhirnya pria tersebut masuk kedalam ruangan tempat Saktia di rawat. Di sana terlihat saktia yang hampir seluruh tubuhnya terbalut perban. Wajah wanita itu masih terlihat membengkak, meskipun tidak separat terakhir kali pria itu melihatnya.

Pria tersebut berjalan mendekati orang yang secara teknis masih menjadi istrinya. Sepertinya wanita itu masih tertidur. Perlahan pria itu duduk di atas kursi yang berada tepat di sebelah ranjang, menanti Saktia bangun agar dirinya bisa mendapat sebuah penjelasan yang memuaskan rasa penasaran yang dia rasakan.

Tak lama berselang, pria tersebut menyadari ada pergerakan di wajah saktia. Perlahan tapi pasti, kelopak mata wanita itu bergerak, berusaha membuka, seolah-olah menyadari jika ada seseorang yang sedang memperhatikannya.

“M-m-mas,” sapa Saktia dengan suara parau.

“Apa maksudnya semua ini, kenapa… kenapa mereka bilang kalo kamu jadi korban perampokan ?” tanya pria itu sambil merapatkan kedua tangannya.

“Ya, mungkin itu lebih baik mas.”

“Padahal kan aku yang udah melakukan itu ! kenapa kamu gak lapor polisi aja ?”

“Mana tega aku liat kamu berada satu tempat bareng orang-orang jahat,” jawab Saktia.

Pria itu nampak terkejut.

“Kalau boleh aku mau bercerita sedikit Mas.”

Pria itu hanya mengangguk, sekarang ini dia benar-benar tidak tahu harus melakukan apa.

“Aku tahu Mas, aku tahu kalo kamu dipecat, dan aku tau kalo mantan bos kamu ngehalangin kamu untuk dapet kerjaan, aku tau kamu tertekan sama pernikahan kita, sama sifat kedua orang tua aku yang terlalu banyak nuntut dan aku juga tau kalo dari awal kamu emang terpaksa melakukan pernikahan itu,” jelas Saktia.

“…waktu kamu nyuruh aku untuk ngeluarin sisi liar aku sebenarnya aku beneran gak bisa. Cerita tentang penyakit mental itu cuman skenario yang aku buat supaya Mas mau nikahin aku.”

Pria itu terkejut saat istrinya membeberkan fakta yang selama ini tak dia ketahui. Jadi semuanya sudah diatur bahkan oleh Saktia juga.

“… pada awalnya mungkin aku berhasil dan berharap setelah melalui hari-hari bersama kamu bisa jatuh cinta sama aku, tapi semua itu kayaknya gagal, ya melihat perubahan sifatmu yang drastis aku tau kalo aku gagal, kamu lebih pendiem, jadi orang yang pemurung dan terkesan menutup diri.”

“… makanya waktu kamu lepas kendali aku gak lapor siapa-siapa, karena aku sadar kalo aku juga menjadi salah satu penyebab kamu jadi lepas kontrol, mungkin ini jadi hukuman buat aku karena mempermainkan perasaan orang serta merebut seluruh kebahagiannya, jadi kalo kamu masih berkenan, aku mau minta maaf ya mas.”

Pemuda itu nampak shock, dia hanya terdiam setelah kebenaran terungkap. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, pria itu bangkit dan berjalan meninggalkan ruangan itu.

*****

Dan seperti yang sudah-sudah, pemuda itu mencoba merenungi seluruh kejadian di singgasananya, sambil menatap ke arah danau yang berwarna keemasan.

Apa yang harus dia lakukan sekarang ? semuanya sudah benar-benar di luar kendalinya. Sekarang dia tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Awalnya dia sudah berencana untuk berhenti menjadi orang baik dan menempatkan diri pada posisi yang salah namun itu juga tidak berhasil.

Jika dipandang dari prespektif yang berbeda, ada benarnya jika istrinya lah, Saktia, yang menjadi penyebab dia melakukan hal-hal kejam itu. Dan pada akhirnya dia tidak bisa berada dalam sisi jahat, sisi di mana semua orang bebas melakukan apa saja meskipun sudah mengetahui konsekuensi yang akan di terima.

Pria itu menatap ke atas. Dia mencoba mengingat kembali dirinya yang dulu, dirinya sebelum dia terperangkap ke dalam ilusi tak terbatas ini.

“Apa yang akan kau lakukan saat berada di situasi seperti ini ?” tanya pria itu pada dirinya sendiri.

Akhirnya otaknya mulai bekerja, menggali setiap teori-teori yang pernah dia ketahui. Setelah cukup lama merenung akhirnya dia berhasil menyimpulkan sesuatu.

Ya, dunia itu memang adil, bahkan sangat adil hanya saja terkadang dirinyalah yang tak mampu menerima keadilan tersebut. Menjadi orang baik bukanlah tentang mendapatkan balasan atau apapun, menjadi orang baik adalah keharusan tak peduli berbalas atau tidak yang jelas setiap yang hidup harus selalu berusaha menjadi orang yang baik agar bisa berguna bagi sesamanya.

Mungkin selama ini pria tersebut hanya dibutakan oleh rasa kesal dan amarah sehingga tidak bisa melihat keadilan yang sudah ada di depan mata. Egonya membuat pria itu merasa enggan menerima situasi yang merupakan situasi yang cukup menyenangkan.

Akhirnya pria itu tersenyum, dia memejamkan matanya sambil menunduk. Kini dia sudah mendapatkan jawaban, dan sekarang dia tahu apa yang harus dilakukan.

“Terima kasih… sepertinya aku selalu bisa mengandalkanmu,” ucap pria tersebut pada dirinya sekali lagi.

*****

“Aduh Mah jangan banyak gerak dong, ntar kalo si kecil kenapa-napa gimana ?”

“Tapi Mas, ini kan pelangganya lagi rame, mau gak mau aku harus ikut bantuin dong,” ucap seorang Wanita dengan perut yang sudah membesar.

“Yaudah, pokoknya kamu di sini aja, biar aku yang keliling-keliling nyatet pesanan.” Pria tersebut membungkuk dan mencium perut sang istri lalu menghambur meninggalkan mobil Van yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa hingga menjadi sebuah restoran berjalan. “inget jangan banyak gerak.”

“Duh enaknya istri pertama di sayang mulu, yang kedua kapan nih dapet jatahnya ?” Ucap seorang gadis dengan hidung pesek dengan wajah kesal.

“Yaelah Sisil ! darimana aja ? buruan siap-siap kita lagi banyak tamu nih.” Ucap pria tersebut sambil mengenakan celemek berwarna kuning terang.

“Oh Kak Gun mau ngalihin pembicaraan ? udah ah aku gak mau kerja.” Sisil melipat kedua tangannya.

“Makanya Sil cepet hamil biar disayang,” celetuk Saktia.

“Gimana mau cepet hamil kalo si Papah sama istri pertama terus.”

“Udah-udah jangan pada ribut dong, profesional, kita selesain dulu kerjaan di sini untuk urusan itu ntar di rumah aja di bahas,” Pria tersebut mencoba menenangkan kedua istrinya.

Tiga tahun lagi sudah berlalu. Kini keluarga pria tersebut sudah menerima keadaannya dan mencoba memulai kisahnya bersama Saktia dari awal lagi. Dan karena satu dan lain hal, Saktia meminta pria tersebut untuk menikahi sahabatnya juga.

Awalnya pria tersebut ragu, namun setelah Saktia meyakinkannya dan mengatakan jika dirinya tidak mempermasalahkan apapun akhirnya sang Pria menyutujuinya.

Sekarang di sinilah mereka, merintis sebuah bisnis food truck yang sudah lama menjadi impian bagi pria tersebut. Meskipun terlihat aneh tapi untuk sekarang ini mereka benar-benar bahagia, apalagi Saktia yang sedang mengandung anak pertamanya bersama pria itu.

“Saktia !!! Sisil !!!” teriak seorang wanita sambil melambaikan tangannya tak jauh dari tempat food truck mereka terparkir.

“DELAAAAA !!!” ucap Saktia dan Sisil bersamaan.

“Hai hai ! how are you ?”

“Cie cie udah lancar aja nih bahasa inggrisnya.” Sisil memeluk Dela yang sudah ada di hadapannya.

“Iya dong, wuih Saktia udah tekdung aja, kamu kapan Sil ? atau jangan-jangan belom punya pasangan ya ?” celetuk Dela.

“Enak aja, aku udah nikah dong, tapi ya emang blom dikasih aja,” Balas Sisil.

“Ngomong-ngomong suami kalian mana ? mau kenalan dong,” pinta Dela.

“Tuuuuhh.” Kompak Saktia dan Sisil menunjuk ke arah pria yang baru datang sambil membawa nampan di tangannya.

“Eeeehhh ?” Pria tersebut heran melihat tingkah kedua istrinya.

“Wahhhh ! suami kalian sama ? wuih mau dong daftar jadi yang ketiga.” Dela mengedipkan matanya ke arah sang pria

The End

Created by: 9 4 15

#BoxerUnguGoesToHSJKT48

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

11 tanggapan untuk “Untold Story

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s