Fiksi dan Fakta part 35

Terkadang, hidup mulai menjadi lebih sulit. Sebenarnya, lebih kepada ‘menjadi lebih rumit’. Tidak ada sesuatu yang sulit, hanya saja beberapa faktor membuatnya jadi lebih rumit.

Hal ini juga sama seperti saat ini. Entah apa yang dipikirkan Gilang, Fuuto dan Jaka/Sony. Dikenal sebagai ‘Permusuhan Ideal’ oleh berbagai siswa di hampir seluruh kota, terutama di pulau Jawa. Di kalangan siswi, Blok Fuuto sempat menjadi artis media sosial setelah beberapa foto Joey, Dobby, Karel, Jerry, dan yang lainnya terpublikasikan. Tak banyak masyarakat awam yang mengetahui tentang blok Sony dan Iman, kecuali di wilayah Bandung sendiri.

“Bukan perkelahiannya, tapi kesalahan ada pada endingnya.” Perkataan Joey
yang selalu diingat Fuuto. Perkataan itu juga sukses buat Fuuto keluar dari dendamnya. Lalu, dendam apa lagi yang hendak dibalaskan Fuuto setelah keluar dari jeruji besi? Dia harus sadar bahwa rencana ini akan membawanya kembali ke ‘neraka dunia’ tersebut. Namun, seorang Fuuto tentu memiliki pemikiran yang lebih dari matang.

*Skip

“Udah siap, kak Raza-“

“Siap! Razaqa aja kali.” Jaka bangkit dari sofa ruang tamu rumah Michelle tersebut, lalu tersenyum tipis kearah Gre.

“Hehehe.. siap!” Gre mengalungkan kamera-nya dan memakai jaket Adidas warna biru andalannya.

“Weh..weh..wehh.. Mau kemana nih?”
Tanya Mike yang tiba-tiba mendekat.

“Ehh.. elu Mike.” Jaka menatap Mike sekilas.

“Kita mau jalan, Car!” Gre membalas sambil tersenyum lebar kearah Mike.

“Serius Gre? hati-hati loh.. Jaka suka makan orang..” Mike sedikit berbisik.

“Gue denger somplak-_-“

“Hahaha.. apaan deh..” Tawaan Gre sukses buat Kelpo, Viny, Andela, dan Bobby mendekat.

“Kemana, Jak?” Tanya Kelpo dan Bobby nyaris bersamaan.

“Gatau nih, Po, Bob. Ngikutin ‘Ekstrak Kulit Manggis’ aja nih.. pffttt..” Jaka terkekeh.
“Paan deh, Razaqa!” Gre melipat kedua tangannya dan menggembungkan pipinya.

“Hahaha.. mangstab!” Teriak Kelpo lalu tos dengan Mike dan Bobby.

“Elaine mana, Bob?” Mike tiba-tiba bertanya.

“Ehh?” Viny seperti terkejut, ia menjatuhkan buku yang sejak tadi ia genggam.

Semuanya menoleh kearah Viny.

“Viny?” Panggil Mike bingung.

Viny terdiam, matanya membulat.

“Eng..Engga. Permisi..” Viny segera masuk.

“Inyi kenapa?” Tanya Kelpo pada yang
lainnya.

Semuanya hanya menggeleng tidak tau.

“Yaudah, kami berangkat dulu ya..” Jaka tiba-tiba menarik tangan Gre.

“Ehh.. Sabar Razaqa.” Gre segera bergegas mengikuti langkah kaki Jaka.

“Itu siapa?” Shania datang dan bertanya begitu saja.

“Razaqa sama Gre..” Jawab Kelpo sambil memperhatikan Jaka dan Gre yang sedang memasuki mobil dari jauh.

“Oh..” Ucap Shania pelan.
Shania berbalik menuju kamarnya.

“Keren. Gue penasaran deh, kira-kira siapa yang bakal ama Jaka?” Ucap
Mike berpikir.

“Emm.. mungkin Gre. Hahaha..” Bobby tertawa.

“Hahaha.. udah ah, gue ama Ndel nonton diatas dulu. Yok, Ndel.” Ajak Kelpo disertai anggukan setuju dari Andela.

“Pfuhh..” Shania menarik nafas panjang. Kata-kata Mike dan Bobby tadi sempat hentikan langkahnya. Shania tidak berharap kepada Jaka, namun ia merasa Jaka mulai tergantikan dengan orang lain. Ya, Bobby.

*Skip

“Dia yang termuda kan?” Tanya Wood langsung kepada Fuuto.

“Tentu.” Balas Fuuto tersenyum.

“Dia masuk 48.” Ucap Wood yang mulai mengutak-atik rubiknya.

“Eh, Kenapa?” Fuuto kaget.

“Permintaannya gitu. Ayolah, lo tau kan gimana style Yuri?” Fuuto tampak berpikir sejenak, lalu mengangguk setuju kepada Wood.

“Gue permisi ya..” Wood bergerak pergi.

Fuuto hanya terpaku pada kaca jendela yang memperlihatkan pemandangan luar rumah. Hebatnya, ia merasa senang melihat pemandangan luar dengan status masyarakat bebas diraga-nya.

“Goodluck, guys..” Ucap Fuuto pelan kala melihat jelas seorang Wood memasuki mobil BMW-nya.

“Drrrttt..” Sebuah panggilan masuk ke ponsel Fuuto.

“Fuu-san, Ini gue udah deket Jakarta. Fokus ke Hoffler dan Zoski kan?” Ucap Dee-dee dari seberang sana.

“Yap, Dee. Jemput mereka 3 jam lagi. Buat Jo-“

Fuuto terhenti.

“Ya? Joey? Kenapa Joey?” Tanya Dee-dee bingung.

“Hehehe.. engga Dee. Joey nanti gabungnya telat. Dia masih ada urusan.” Lanjut Fuuto sedikit ragu.

“Emmm.. Oke, Fuu-san. Dobby, Andy, Wood, Kenji, dan lainnya gimana?” Tanya Dee-dee lagi.
“Dobby istirahat. Andy ke Semarang buat ngajak Kenji. Wood lagi jemput Yuri-“

“Wait! Yuri?!” Tanya Dee-dee kaget.

“Heeh.” Jawab Fuuto singkat.

“What the?! Ahh..!” Dee-dee sangat bersemangat.

“Hahaha.. selesaiin tugas lu, terus kita kumpul bareng.” Balas Fuuto, lalu Dee-dee berpamitan melanjutkan fokusnya pada perjalanan.

Fuuto masih terpaku pada kaca jendela ruang keluarga rumahnya itu.

“Semoga semuanya lengkap..” Harap Fuuto lalu memejamkan matanya.

*Skip
“Ren, lu pindah Bandung?” Tanya Sony lewat telpon.

“Iya, Bang. Ini lagi menuju kesana.” Balas Rendi cepat.

“Ehh, Jaka, Kelpo, Mike ama Bobby lagi diluar, Ren.”

“Mereka kemana, Bang?” Tanya Rendi lagi.

“Mereka ke Bali, liburan gitu deh.” Jawab Sony.

“Kok abang ga ikut?” Sesi wawancara terus berlangsung.

“Hehehe.. ini aja lagi ada waktu luang doang, Ren. Gue promosi band di Jakarta, Ren. Masih ‘Elm Street Circus’ kok.” Balas Sony.

“Ohh.. sukses deh bang! Ama bang
Falvi dan kak Tara, kan?”

“Iya dong. Hehehe.. Amin.” Balas Sony lalu hendak mengakhiri panggilan.

“Sip deh, nanti Rendi contact Troy aja. Ya, sekedar flashback. Hehehe..” Ucap Rendi santai.

“Ohh, sip Ren. Troy ga liburan, dia penghuni tetap Bandung emang. Hahaha.. udah du-“

“Bang, udah tau kan?” Pertanyaan akhir Rendi membuat ucapan Sony terhenti.

“Ehh, apaan ren?” Tanya Sony tidak mengerti.

“Gue pindah bukan tanpa alasan, bang.” Jelas Rendi buat Sony mengerti.
“Ohh.. ngerti hehehe. Santai, Ren.” Ucap Sony dan akhirnya panggilan tersebut diakhiri.

Rendi sudah bergerak. Semoga pengabdiannya pada Fosa benar-benar diapresiasi oleh yang lain. Dan, tentu saja ini ajang untuk membalaskan kesengsaraan Fosa.

*Skip

Michelle turun dengan tegesah-gesah.

“Kenapa, Chel?” Tanya Bobby mewakili kebingungan yang lain.

“Hehehe.. gapapa kok. Papa aku mau kesini.” Balas Michelle lalu bergegas membuka pintu depan.

“Ehh, gimana Chel?” Mike berdiri.

“Kita ga beli apa-apa lagi.” Sambung
Elaine.

“Iya, Chel. Mendadak ya?” Lanjut Kelpo.

“Emm.. papa udah bilang sih kemaren. Aku-nya lupa, hehehe..” Michelle tertunduk.

“Tapi, kita gapapa disini?” Bobby ragu.

“Ahh, gapapa kok. Papa malah seneng kalian disini (: nemenin aku.” Michelle tersenyum.

Yang lainnya hanya mengangguk sambil membalas senyuman Michelle.

Tak lama, ayah Michelle sampai.

“Pah…!!” Michelle menyambut sang ayah.

“Iya, temen kamu mana, Chel?” Tanya
papa Michelle seraya melepaskan pelukan anaknya tersebut.

“Ada didalem, pah. Ayo masuk!” Michelle menarik tangan papa-nya itu dengan manja.

“Iya-iya, wes pelan-pelan aja. Hahaha..” Papa Michelle mengelus lembut kepala anaknya itu.

“Pak, tolong bawain barang papa ke kamar tengah ya..” Pinta Michelle diikuti anggukan dari ‘Sang-Pemegang Kunci’. Begitulah julukan yang diberikan Mike.

“Om, selamat datang kembali.” Mike menyambut papa Michelle didepan pintu.

“Malam Om.” Ucap Bobby, Shania, Kelpo, Viny, Andela dan Elaine bersamaan.

Mereka berbaris seolah sedang menjadi penerima tamu di acara resepsi pernikahan.

“Makasih ya. Makasih juga udah nemenin Michelle nih. Ayo masuk semua, om ada sedikit oleh-oleh.” Lalu, mereka berkumpul di ruang keluarga.

“Asyik!” Teriak Mike diikuti tawaan hangat dari semuanya.

TV dimatikan.

“Ini buat yang cowok, ini buat yang cewek. Ini buat Michelle-nya papa.” Ayah Michelle membagikan bungkusan-bungkusan tersebut.

“Buka Po!” Suruh Mike bersemangat.

“Ahh, makasih Om!” Teriak Elaine kala melihat ada sebuah gantungan kunci
bergambar anak bebek.

“Hahaha.. sama-sama. Kamu suka binatang ya?” Tanya ayah Michelle bersemangat.

“Eng-” Elaine terhenti.

“Lebih tepatnya-“

“Bebek!” Semuanya menjawab bersamaan.

Mereka tertawa bersama.

“Huuu.. gitu ya kalian.” Elaine melipat kedua tangannya.

“Ciee ngambek. Tak ambil nanti gantungannya.” Goda Andela.

“Isshh.. jangan Ndel. Iya deh, ga ngambek.” Ekspresi Elaine buat semuanya makin larut dalam tawa.

“Lucu juga nih, ‘Bebek-KwekKwek’, wooo..” Mike menirukan muka bebek dengan pipi digembungkan, dan memonyongkan bibirnya.

Setelah puas membuka ‘hadiah’ dan tertawa bersama. Makan malam pun dimulai.

“Chel, Razaqa-nya mana?” Tanya papa Michelle.

“Ehh, Razaqa-nya lagi keluar pah. Nemenin Gre.” Jawab Michelle sambil melahap hidangan penutupnya.

“Ohiya, papa lupa kalo Gre udah pulang ke Bali. Mau kemana mereka?”

“Kurang tau, pah. Tadi, Razaqa sama Gre bilang ke kalian ga?” Kini, Michelle melemparkan pertanyaan ke yang lainnya.

“Emm, Jak- Ehh.. Razaqa maksudnya. Dia ga bilang mau kemana.” Balas Mike.

“Gre juga om.” Timpal Bobby.

Kelpo hanya diam sambil tertunduk. Sesekali ia melirik kearah Shania, Shania terlihat berpikir. Lalu, ia melihat kearah Viny, tenang sekali. Ia menerawang Michelle yang tampak asyik dengan makanan penutupnya, tentu tidak memikirkan apapun mengenai Jaka.

“Kemana Gre dan Jaka ‘kemungkinan’ pergi? dan untuk apa?” Itulah pertanyaan yang menghantui Kelpo.

“Gre suka banget tuh foto-foto pemandangan di Bali. Apalagi kalo udah bahas Ubud.” Michelle memecahkan keheningan.

“Iya ya? dulu om sama ayahnya Gre suka banget nonton tari Kecak ama Barong. Kalian udah nonton?” Lanjut papa Michelle.

“Tari Kecak udah om!” Seru Mike.

“Tapi, Barong belum.” Lanjut Kelpo.

“Aku aja gapernah nonton Barong. Perasaan, Papa gapernah ngajak.” Michelle menyipitkan matanya.

“Hahaha.. iya-iya. Tarian itu banyak maknanya loh. Kalo ke Bali, harus nonton pokoknya.” Lanjut papa Michelle lagi.

“Batubulan dimana ya, om?” Kini, Kelpo bertanya.

“Ahh, Tempat itu! Keren! kalo dari sini, kira-kira 25 menit-lah.” Balas papa
Michelle

“Tari Legong juga ada disana kan, om?” Tanya Kelpo lagi.

“Iya ada, tempat itu jadi tempat wajib banget deh. Mumpung deket dari Denpasar nih, dijamin gaakan nyesel deh.” Lanjut papa Michelle meyakinkan

“Kita pernah lewat itu, sayangnya Kelvin, Razaqa, dan Viny ga ikut.” Andela mengingat.

“Iya-iya. Inget! waktu itu kita juga ke tempat saudara-nya Mike, kan?” Lanjut Bobby.

“Kamu ada saudara disini?” Tanya papa Michelle pada Mike.

“Ehh.. engga om. Lu apaan sih, Bob?-_- aneh.” Mike lesu.
“Lahh, bukannya seneng banget pas liat ‘Pohon Senpai’.” Ucapan Bobby sukses buat Kelpo tertawa keras.

“Hahahaha.. gue ngerti maksud lu, Bob! Hahaha..” Kelpo ikut tertawa.

“Waduh, ketawa ajak-ajak kali.” Papa Michelle menahan tawa.

“Hahaha, maksud Bobby itu Sangeh, om.” Kelpo menjelaskan.

“Ada video-nya, pas kita baru nyampe, trus Mike seneng banget. Sangking senengnya, ampe ngomong ‘Sangeh’ aja salah-salah. Hahaha.. maksudnya sengaja salah. Hahaha..” Lanjut Bobby.

Perlahan, Andela, Elaine dan Shania ikut tertawa.

“Wihh.. bagi video-nya dong! nyesel gue gaikut.” Kelpo antusias.

“Kalian ini-_-” Mike makin malas.

“Hahaha.. walaupun gitu, kera-kera disana sakral loh. Terus, kalian foto dibawah pohon ga?” Tanya papa Michelle lagi.

“Foto dong, om. pffttt..” Bobby terkekeh.

“Mike sama Bobby jorok, om.” Kini, Elaine ikut angkat bicara.

“Namanya beneran Pohon Lanang Wedon ya, om?” Tanya Andela.

“Iya. Itu disebut pohon yang melambangkan pria dan wanita. Jangan liat sisi lainnya.” Papa Michelle masih menahan tawa.

“Hahaha… tapi di Sangeh beneran seru om.” Pungkas Mike diikuti anggukan
setuju dari yang lainnya.

“Oh iya, kalian sempet di Kuta, kan? Kemana aja nih?” Papa Michelle membuka topik baru lagi.

“Itu excited banget, om. Pengalaman terbesar deh kalo pas disana.” Seru Mike heboh.

“Waduh waduh, kok bisa gitu?”

“Gimana engga, om. Dari yang belanja mulu di Kuta Square, ampe yang nembak pacar di Jimbaran. Dari awal ke akhir itu banyak banget kisahnya, om.” Ucapan Mike sukses mendapatkan tatapan sinis dari Kelpo dan Elaine.

“Aku ga belanja mulu tau.” Elaine mengerucutkan bibirnya.

“Ciee, padahal aku ga nyebutin nama
orangnya, loh. Berarti ngerasa. Ehmm..” Pancingan Mike benar-benar sukses. Ruang makan rumah Michelle kembali dipenuhi tawa.

“Yang jadian mah kalem. Iya ga, Car?” Ucap Bobby pada Mike.

“Iya dong, Bob. Apalagi di ‘Tempat Dinner Teromantis’.” Lanjut Mike kini tos dengan Bobby.

“Ett dah, apaan sih lu pada-_-” Kelpo malas.

Andela hanya tertunduk, pipinya memerah mengingat momen itu. Hubungan mereka masih seumur jagung, namun dilihat dari kebersamaannya, semua pasangan bisa saja tersaingi dengan mudah.

“Hahaha.. jadi kalian jadian di Jimbaran ya? hebat-hebat. Selamat
ya..” Papa Michelle memberi selamat pada Kelpo dan Andela.

“Makasih om.” Ucap Kelpo sambil tertunduk tidak enak.

“Nih, om. Kerjaannya Legian mulu tiap malem.” Bobby mendorong-dorong bahu Mike.

“Fitnah lu, Bob. Engga kok om, engga.” Mike menyangkal.

“Waduh, beda nih yang mau 18 tahun. Hahaha.. om juga pernah kok seru-seruan pas masih jaman-jamannya baru ‘nyoba’. Santai, hahaha..”

“Ketauan, papa ternyata nakal juga. Bilangin anaknya gaboleh nakal, tapi papa-nya nakal. Huuu..” Gerutu Michelle.

“Nakal dalam hal yang wajar, itu yang
bagus, nambah pengalaman hidup. Kalo nakal untuk yang negatif, itu yang harus dihindari.” Bela papa Michelle.

“Setuju om!” Ucapan yang sama dari para cowok-cowok.

“Iya deh, iya. Yang penting udah ga nakal lagi.” Michelle menatap ayahnya itu sambil menyipitkan matanya.

Mereka kembali larut dalam canda dan tawa.

“Kalo bahas soal shopping, dan lain-lain, pasti kalian udah ke Seminyak kan?” Tanya papa Michelle lagi.

“Iya kesana, om. Tapi bentar banget, masalahnya mau ke tempat yang lain waktu itu. Jadi buru-buru.” Jelas Bobby mendapat anggukan dari yang lainnya.

“Ohh, gitu. Disana juga lumayan.”

“Pengennya ke Bali Zoo om, ama yang pasar tradisional itu loh.” Lanjut Mike.

“Liat deh, om. Ga bosen-bosen dia, selalu bahas binatang.” Ucap Bobby sekenanya.

“Hahaha.. gapernah lepas dari ‘Kebun Binatang’ ya?” Tanya papa Michelle.

“Mereka sebangsa, om.” Timpal Kelpo lagi, buat semuanya menertawai Mike.

“Lah, sekarang malah om jadi ikut ngebully gua-_- hadeh” Mike tertunduk lemas.

“Hahaha.. udah, kasian tuh.” Ucap papa Michelle mengakhiri tawaan mereka.

“Ubud udah?”

“Hari terakhir, pah.” Balas Michelle
singkat.

“Iya, om. Rencananya gitu.” Sahut Mike diikuti anggukan dari yang lainnya.

“Hmm.. emang kalian berapa hari lagi disini?” Kini, Papa Michelle terlihat berpikir.

“3 hari lagi, om.” Kelpo menjawab.

“Bukannya 4?” Kini, Mike ikut angkat bicara.

“Au ah, ga liat tanggal gue..” Kelpo mengalah.

“Yah, berarti om telat nih. Maaf ya. Nanti kita ke Uluwatu,dan lain-lain deh. Om anterin.” Tawar papa Michelle.

“Ahh.. gausah, pah. Kami nanti ga comfo-”
“Boleh tuh, om!” Sahut Mike semangat.

“Iya, om. Boleh banget tuh. Kami suka nyasar om.” Bobby ikut menimpali.

“Liat, Chel. Temenmu aja ga masalah. Dasar anak papa satu ini.” Papa Michelle tersenyum.

“Iya deh. Huu..” Michelle melipat tangannya.

“Ohiya, nama kamu siapa?” Kini, Papa Michelle bertanya kepada Viny.

“Viny, om.” Viny sedikit membungkuk.

“Ohh, Viny. Itu kalung kamu Golden Snitch ya?” Tanya papa Michelle lagi.

“Hehehe.. iya om. Ini pocketwatch.” Jelas Viny.

“Wihh, beneran, Vin? Tunjukin dong!”
Mike sangat antusias.

“Oke, hehehe..” Viny menunjukkan cara membuka pocketwatch berbentuk Snitch tersebut.

“Itu om pernah dikasih temen kerja. Pas om kasih Michelle, dianya gamau. Tapi, bukan kalung atau jam sih. Cuma pajangan aja.”

“Ohh.. gitu om. Keren tuh, sayang Michelle-nya nolak. Hehehe..” Viny sedikit merasa nyaman untuk ikut mengobrol. Ya, mungkin ia pikir ada salah satu dari orang-orang dirumah tersebut yang mengetahui tentang kalung apa yang ia pakai.

Obrolan kembali berlanjut.

*Skip

Sementara itu, Jaka dan Gre masih
bingung menentukan tempat yang hendak mereka tuju.

Jam mulai menunjukkan bahwa 1 jam lagi menuju 6 sore.

“Kemana, Gre?” Jaka bertanya sambil terus fokus pada kemudi-nya.

“Hmm.. kemana ya?” Gre berpikir.

“Sanur?” Usul Jaka.

Gre menggeleng.

“Tenang sih, tapi bosen tauk.” Gre menggembungkan pipinya.

“Hahaha.. kaya bayi tau.” Jaka tertawa.

“Ihh.. engga kali-_-” Sangkal Gre.

“Kita keluar atau di kawasan ini aja?” Tanya Jaka lagi.

“Gimana kalo Batubulan?” Kini, Gre yang memberi usul.

“Kamu pernah kesana?” Tanya Jaka pada Gre.

“Pernah, tapi pas kecil. Hehehe..” Gre tertawa garing (?)

“Aku kurang tau jalan kesana. Gimana ya?” Jaka bingung.

Gre tampak berpikir.

“GPS?” Tanya Jaka lagi.

“Ahh.. iya Google Maps aja!” Seru Gre.

Gre menyetel destinasi mereka. Perjalanan menjadi sangat-sangat mulus. Ya, itulah keuntungan dari canggihnya teknologi.
17.40, mereka akhirnya sampai di Batubulan. Sambutan hangat dari ‘Bli-Bli Ganteng’-sebutan dari Gre buat Jaka dan Gre semakin tidak sabar untuk melihat-lihat.

Gre dan Jaka dibimbing mengelilingi kawasan tersebut. Tentunya, Gre tak pernah lupa mengabadikan momen-momen indah yang sedang ia jalani saat ini.

“Cklek!” Sangat mengejutkan, ternyata Jaka juga membawa kamera.

“Razaqa!” Teriak Gre kesal.

“Keren tau candid-nya.” Jaka menahan tawa.

“Hapus ihh..” Gre mengerucutkan bibirnya.

“Hahaha.. iya-iya. Tapi, traktir makan
ya?” Telak Jaka.

“Hmmm.. iya deh.” Gre terpaksa mengiyakan.

Jaka tertawa lepas.

Tepat jam 18.15, Jaka dan Gre bersiap menonton pertunjukkan tari Kecak. Tentunya, suasana cukup ramai.

Tak lama, pertunjukkan dimulai.

“Wow!!!” Gre sangat excited.

Jaka hanya memandangi Gre sambil tersenyum-senyum sendiri. Tentu bukan rasa suka. Pasti bukan.

*Skip

Pertunjukkan akhirnya selesai. Gre dan Jaka masih belum bangkit. Jaka memandangi Gre yang masih melihat-
lihat hasil jepretannya itu. Ide usil melintas dipikiran Jaka.

“Cklek!” Foto pertama diambil.

Gre terkejut. Ia menoleh kearah sumber flashlight muncul.

“Ceklek!” Foto kedua diambil Jaka.

“Razaqa! Kamu udah janji kan?!” Gre segera bangkit dan berusaha meraih kamera genggam Jaka.

“Weittss.. ga semudah itu ngambilnya. Wekk!” Jaka berlari menghindar.

“Huh.. huh..” Nafas Jaka dan Gre tidak teratur.

“Lemme’ take a break.” Ucap Jaka lalu terduduk.

Gre yang masih terengah-engah
menatap Jaka pelan. Ia tersenyum, lalu terduduk.

Jaka memperhatikan Gre.

Sial! Gre menangis.

Jaka segera bangkit dan berlari menghampiri Gre.

“Kamu kenapa, Gre?” Tanya Jaka pelan.

“Eng..engga, Raz.” Gre menegakkan kepalanya dan tersenyum tipis kearah Jaka.

Air mata Gre tak bisa dikontrol. Tentu saja tak bisa, jelas tersirat luka yang amat dalam di kedua mata Gre.

Jaka mungkin menjadi orang pertama yang mengetahui ada sesuatu yang salah dalam senyum riang Gre. Ah,
Tidak. Michelle-lah yang menjadi orang pertama.

“Ayo kita pulang, Gre..” Ajak Jaka yang mulai merasa di situasi yang tidak pas.

Gre menggeleng tanda menolak.

Jaka bingung, ia kembali duduk disamping Gre. Kini, ia mendekatkan posisi duduknya. Berharap Gre akan berbicara pelan, dan mulai menceritakan sesuatu yang merasuki batinnya (?)

“Mau turun hujan nih..” Ucap Jaka basa-basi.

Nihil, tak ada jawaban dari Gre.

“Lakuin sesuatu untuk yang bakalan dateng. Tentu, melihat ke belakang bukan termasuk pilihannya.” Jaka bangkit.

“Raz..” Panggil Gre pelan.

“Ya?” Jaka kembali duduk.

Plek! Gre memeluk Jaka. Menenggelamkan kepalanya di dada bidang Jaka. Jaka tak membalas pelukan Gre. Ia tersentak.

“Dingin..” Ucap Gre pelan.
Mendengar ucapan Gre, Jaka segera memeluk Gre. Mengusap kepala Gre. Mencoba memberikan kehangatan.

Perlahan, Jaka melepaskan pelukan tersebut. Ia menggenggam tangan Gre sambil terus meniup-niup dan menggosok-gosok tangan Gre. Tentu, Jaka berusaha memberikan yang terbaik agar Gre tetap hangat.

“Ayo, Gre. Mau turun hujan nih.” Jaka bangkit sambil terus menggenggam
tangan Gre.

Gre menyerah. Sebenarnya, ia tak ingin pulang. Dia tak ingin momen malam ini selesai terlalu dini (?)

“Pake ini.” Jaka memberikan jaket kulitnya.

Gre tak bisa menolak. Jaket Adidas andalannya telah gagal menahan angin malam yang berhembus cukup liar.

Jaka merangkul dan menuntun Gre berlari kecil kearah mobil.

“Ah, akhirnya..” Mereka telah masuk ke dalam mobil.

Gre masih diam seribu bahasa. Ia menatap kearah air hujan yang terus jatuh menghantam tanah
“Kita pulang ya..” Jaka melepaskan rem tangannya.

“Raz..” Ucapan Gre buat Jaka kembali menarik tuas rem tangan mobilnya itu.

“Jangan langsung pulang..” Pinta Gre pada Jaka.

“Tapi, Gre-“

Gre menatap Jaka.

“Oke, kita jalan-jalan dulu..” Jaka segera meninggalkan kawasan Batubulan tersebut.

Kini, hal yang menghantui otak Jaka adalah bagaimana caranya agar dapat menghabiskan malam ini dan membuat Gre kembali riang dengan membunuh kecanggungan diantara mereka.
*Skip

Jaka memarkirkan mobilnya. Jam menunjukkan pukul 21.20.

Jaka hanya diam memandangi suasana diluar. Hujan mulai mereda.

“Sanur?” Tanya Gre sambil menatap Jaka heran.

“Ya, gaada tempat lain di Denpasar yang lebih tenang untuk saat ini. Iya kan?” Sebenarnya, ini merupakan ‘perjudian’. Gre bisa saja kesal karena diajak kesini. Atau Gre bisa saja senang karena anggapan tentang pantai Sanur telah diubahnya.

“Raz, Makasih..” Gre sedikit membungkuk.

“Ehh, kok makasih?” Jaka bingung dengan Gre.

“Maaf, tapi ayo pulang.” Ucapan Gre sempat membuat Jaka kesal. Namun, rasa kesalnya itu hilang begitu saja.

Gre menghidupkan tape mobil, dan menghubungkan koneksi bluetooth mobil dengan hp-nya.

Jelas sekali, terputar lagu-lagu favorit Gre dari band The Beatles, Oasis, Creed, dan lainnya.

“Kamu suka Creed juga ya?” Tanya Jaka pada Gre.

Gre mengangguk dan tersenyum kearah Jaka.

“Keren!” Ucap Jaka yang kini membesarkan volume.

“Hujannya berisik nih..” Gre tersenyum kearah Jaka.

“Hahaha.. I wanna hold your hand.. I wanna hold your hand..” Mereka terus bernyanyi sambil sesekali tos atau benar-benar saling berpegangan tangan (?)

*Skip

Mereka sudah sampai dirumah.

“Makasih, Razaqa!!” Seru Gre tersenyum lebar.

“Siap, My Gracia!” Tiba-tiba Jaka memeluk Gre.

Gre membalas pelukan tersebut.

Aneh, walau pipi Gre memerah. Tapi, ia mulai melihat Jaka sebagai panutannya.

Mereka turun. Tentu saja disambut
oleh yang lain. Percakapan kembali berlangsung. Terlebih lagi, papa Michelle baru saja pulang. Gre sempat menunjukkan foto-foto view yang berhasil ia abadikan.

“Liat nih!” Seru Jaka menunjukkan 3 foto Gre yang berhasil ia ambil.

Semuanya tertawa dan memuji.

“Keren posenya!” Seru Elaine.

“Itu ga sengaja loh..” Ucap Jaka terkekeh.

“Ihh.. Razaqa! katanya mau dihapus yang pertama itu..” Gre melipat kedua tangannya.

“Lagian, siapa yang ngajarin ‘ngelawak’ pas lagi ngefoto?” Semunya tertawa lagi, tak terkecuali Gre.
Hebat!.

“Semuanya perlu proses. Sebuah negara yang baru mengeluarkan kebijakan, tak bisa langsung diterima begitu saja oleh rakyatnya. Kecuali, ia menjanjikan ketegasan bagi yang menolaknya. Begitu juga persahabatan. Jika kau hanya mengejar sesuatu yang membuatmu disegani, maka itu namanya pertemanan. Tetapi, jika kau membiarkan suatu hal mendekat dan menjadi bagian dari keseharianmu, tentu itu persahabatan. Bisa saja disebut ‘Persahabatan Abadi’.” – Fuuto (kepada Iman)

*To Be Continued*

@ArthaaSV & @KelvinMP_WWE

Iklan

2 tanggapan untuk “Fiksi dan Fakta part 35

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s