X-World (Pt.42) : The Dragon’s Evolution

~Viny’s POV~

*GRGRGRGRGRGRG!!!*

“Gempa!” –Viny

“Ini tidak mungkin….” –Chalice

“….Kematian ada di depan mata kalian dan kalian tidak akan bisa kabur darinya–” –Kenzaki

*ZzzZZZzzttTTttt!!*

“Hajime-San, Tabungnya!” –Viny

Situasi di ruang dalam ruang bawah tanah ini berubah menjadi kacau. Dari rekaman Kenzaki dapat disimpulkan bahwa ia telah menggabungkan dirinya dengan monster bernama Jashin 14 yang berada di dalam tabung di depan kami. Tabung berisi monster itu bergetar dan mengeluarkan banyak buih di dalamnya.

Kaca pada tabung mulai retak, dan tidak butuh waktu yang lama retakan itu berubah menjadi lubang-lubang kecil. Air dari dalam tabung mulai menyembur keluar. Pertama gempa, dan sekarang tabung berisi monster.

“Cepat cari dan hancurkan sumber tenaga tabung. Kalau ini dibiarkan, bisa-bisa….” –Chalice

“Apa kemungkinan terburuknya?” –Viny

“Jashin 14 akan bangkit.” –Chalice

Aku dan Gary mencari alat yang memberi tabung Jashin 14 tenaga. Kami mengikuti arah salah satu kabel yang terhubung dengan tabung. Ujung dari kabel itu adalah sebuah box hijau yang berada di sudut ruangan. Tidak salah lagi, box itu adalah box listrik yang memberi tenaga pada ruangan ini.

Tanpa pikir panjang, aku langsung mencabut penutup box itu dengan paksa, dan menarik semua kabel yang ada di dalam box itu hingga putus. Seisi ruangan langsung gelap dalam sekejap. Aku berhasil, tapi kenapa gempanya masih tidak berhenti?

“VINY! GARY!” –Chalice

“Kita di sebelah sini!” –Gary

“Aku sudah memutuskan sumber tenaganya, tapi kenapa gempanya masih belum berhenti?” –Viny

………………….

“GRAAAOOO!!!!!” –Jashin 14

“HAH?!!” –Gary & Viny

“TORNADO!” –Rouzer

Apa itu yang barusan?

Tepat setelah suara raungan misterius itu terdengar, tiba-tiba saja muncul hembusan angin yang kuat di dalam ruangan ini. Aku tau kalau hembusan angin ini adalah ulah Hajime, tapi aku tidak tau mengapa tiba-tiba ia menciptakan hembusan angin ini secara tiba-tiba. Suara raungan aneh itu kembali terdengar, dan tepat setelah itu, aku merasa seperti ada sesuatu yang menghantamku dengan sangat kuat dari arah depan.

Rasanya seperti dihantam oleh cambuk. Ternyata bukan hanya aku saja yang terkena hantaman itu, tapi Gary yang berada tepat di sampingku juga ikut terkena hantaman itu. Kami berdua terpental dengan kuat hingga menabrak dinding ruangan yang ada di belakang kami.

“AKU TIDAK AKAN MEMBIARKANMU!” –Chalice

“CHOP!” –Rouzer

*PRAK!*

“ARGH!!!” –Chalice

“GRAAWWGHHH!!!!” –Jashin 14

Suara Rouzer Hajime kembali terdengar, dan tepat setelah itu suara teriakan Hajime menggema di seisi ruangan. Aku tidak tau apa yang terjadi pada Hajime karena ruangan ini benar-benar gelap.

Lampu ruangan tiba-tiba kembali menyala. Aku langsung terkejut begitu melihat apa yang ada di depanku. Gary yang berada tepat di sampingku tengah terbujur kaku dan tidak sadarkan diri, sementara Hajime….

“K-K-Kau….” –Viny

“Grghh… Rupanya kau masih Hidup.” –Jashin 14

“Kenzaki?” –Viny

“Hehehe… Sudah ku bilang, kematian ada di depan mata kalian. Kalian tidak akan bisa lari darinya.” –Jashin 14

Inikah wujud sebenarnya Jashin 14? Monster bertangan empat bertubuh naga?!!

Hajime berusaha bangkit untuk kembali melawan Kenzaki yang sekarang telah menyatu dengan Jashin 14, tapi dengan mudahnya Jashin 14 membuat Hajime kembali tertunduk tidak berdaya setelah menghantamnya menggunakan ekornya.

Mood-ku untuk membunuh kalian sepertinya sudah hilang. Kalian bertiga terlalu menyedihkan untuk dibunuh. Akan ku biarkan bangunan ini saja yang menyelesaikan kalian, HAHAHAHA!” –Jashin 14

Jashin 14 terbang dan menembus paksa langit-langit ruangan, membuat sebuah lubang besar menuju ke permukaan. Tindakannya itu bukan hanya membuka jalan keluar bagi kami, tapi di saat yang bersamaan dia juga membuat bangunan di atas kami (Markas Regime) runtuh karena dasar bangunan dibuat amblas olehnya.

Aku buru-buru bangun untuk mengangkat Gary yang tidak sadarkan diri, tapi saat aku hendak mengangkat tubuhnya, bagian reruntuhan bangunan yang berasal dari atas lubang jatuh ke arahku.

“BIO!” –Rouzer

Sebuah sulur tanaman muncul entah darimana dan mengikat tubuhku. Sulur itu menarikku dan menyelamatkanku dari reruntuhan bangunan yang jatuh tadi. Saat aku melihat ujung dari sulur tersebut, ternyata sulur tersebut berasal dari Rouzer Hajime.

“Kau tidak apa-apa?” –Chalice

“Aku baik-baik saja, tapi Gary…” –Viny

“Kita bantu dia nanti. Pertama-tama kita harus keluar dari sini terlebih dahulu.” –Chalice

Hajime mengambil sebuah kartu dari dalam sakunya. Kemudian dia menggesekan kartu tersebut dan menyuruhku untuk berpegangan pada tubuhnya. Hajime mengangkat tubuh Gary di pundaknya, dan sesaat kemudian tubuh Hajime terbang ke arah lubang di langit-langit ruangan bawah tanah.

Reruntuhan bangunan yang berjatuhan menjadi gangguan kami untuk keluar dari sini, tapi sepertinya itu bukan masalah bagi Hajime. Dengan mudahnya ia menghindari tiap reruntuhan yang jatuh ke arah kami.

“Sedikit lagi, bertahanlah!” –Chalice

*WUSH!!!*

Kami berhasil keluar tepat waktu sebelum lubang yang jadi jalan keluar kami tertutup oleh reruntuhan markas Regime. Pendaratan kami kurang mulus karena tadi ada pilar jatuh dan tidak sempat dihindari oleh Hajime. Pundaknya tertabrak dan kami bertiga jatuh di atas reruntuhan markas Regime.

“Maaf soal pendaratan tadi. Sekarang kita urus Gary terlebih dahulu sebelum kita melanjutkan pertarungan.” –Chalice

“Tapi tim medis kan….” –Viny

“Tidak perlu. Serahkan padaku.” –Chalice

“RECOVER!” –Rouzer

Rouzer Hajime bercahaya mengeluarkan energi. Energi tersebut merambat ke seluruh tubuh Gary. Sesaat kemudian, Gary tersadar dari pingsannya. Luar biasanya, ternyata kartu-kartu yang dimiliki Hajime tidak semua berfungsi untuk bertarung saja, tapi ada juga yang bisa digunakan untuk menyembuhkan.

“Hadeh… Kepala gue. Eh? Ini dimana?” –Gary

“Kita masih di Neo-Utopia. Kau tadi pingsan.” –Viny

“Oh… Gue inget. Tadi ada benda mirip ekor gede gitu yang ngantem badan gue. Apa jangan-jangan ekor itu ekornya Jashin 14?” –Gary

“Ya. Yang menghantammu itu adalah ekor Jashin 14. Kenzaki menggabungkan dirinya dengan monster itu begitu dia tau semua rencana kita.” –Chalice

“Dimana dia sekarang?” –Gary

“Tepat diatas kita.” –Chalice

Jashin 14 saat ini tengah bertarung melawan puluhan Kurokage Troopers yang mengendarai Dandeliner dan Baju tempur dari Suika Lockseed. Ini bukan pertarungan lagi, ini adalah pembantaian masal. Jashin 14 dengan mudahnya menghabisi para Kurokage. Sementara itu, Castle Doran yang berada di belakangnya bersama Kiva dan Birth, hanya diam menonton.

“KALIAN SEMUA AKAN MATI!” –Jashin 14

Imperialdramon yang telah berubah menjadi Paladin Mode datang dan berusaha menyerang Jashin 14. Untuk beberapa saat, Imperialdramon mampu mengimbangi Jashin 14 walaupun dia kalah jauh dari segi ukuran tubuh. Castle Doran yang tadi hanya melihat saja, langsung mengintervensi pertarungan dan membantu Jashin 14.

“MENYINGKIR KALIAN!” –Jashin 14

Di luar dugaan, Jashin 14 menghantam Castle Doran. Apa maksudnya? Bukankah Kiva dan Birth adalah rekannya?

Tidak hanya menghantam Castle Doran, Jashin 14 juga melilitnya menggunakan ekornya kemudian lanjut membantingnya ke tanah. Kiva dan Birth yang masih berada di atas Castle Doran ikut terjatuh ke tanah dengan kencang. Tidak puas hanya dengan menjatuhkan mereka ke tanah, Jashin 14 mengakhiri mereka dengan menembakan laser dari matanya. Castle Doran, Kiva, dan juga Birth tamat di tangan ketua mereka sendiri.

“Aku tidak butuh kalian lagi, LEMAH!” –Jashin 14

Jashin 14 berpaling ke Imperialdramon. Ini buruk, Castle Doran saja bisa musnah dengan mudahnya. Membunuh Imperialdramon sepertinya bukan hal sulit bagi Jashin 14.

“Imperialdramon bisa mati kalau melawannya sendirian. Kita harus membantunya!” –Viny

“Kita kekurangan orang.” –Chalice

“Lo salah. Masih ada mereka… *Nunjuk kerumunan Riot Troopers* …Mengingat Kenzaki baru aja ngebunuh Kiva dan Birth di hadapan mereka, kayaknya mereka nggak akan sungkan untuk nolong kita dengan sukarela. Selain mereka, kita juga masih punya Ve, Anto, Delta, Mach, sama Sagha. Oiya, ngomong-ngomong mereka dimana yak?” –Gary

“Disana! Lihat, itu Anto, Ve, dan Delta. HOY!!!!!” –Viny

Aku berusaha memanggil mereka dengan berteriak dan melambaikan tanganku ke arah mereka. Untunglah mereka melihatku, dan mereka segera berlari menghampiri kami. Tunggu dulu, tadi kan Sagha dan Mach ikut masuk kedalam markas bersama aku, Chalice, dan Gary. Jangan-jangan mereka berdua….

“Tadi itu, Sagha dan Mach ikut menerobos masuk ke dalam markas bersama kita kan?.” –Viny

“Iya. OH IYE GUE LUPA! Wah, gawat. Jangan bilang kalo dia udah–” –Gary

“HAJIME! GARY!” –Sagha

“Sagha?!! Mach?!!” –Gary & Viny

Fiuh… Ternyata mereka berdua masih hidup, tapi tunggu! Ada seseorang yang tidak asing bersama mereka. Itukan Thebee? Kenapa dia mengikuti Sagha dan Mach?

“Syukurlah kalian semua selamat. Aku panik sekali begitu melihat bangunan markas hancur. Aku pikir kalian sudah mati.” –Ve

“Viny sama Hajime yang nyelamatin gue. Kalo bukan karena mereka, mungkin gue udah kekubur hidup-hidup di ruang bawah tanah. Yang gue bingung tuh lo, Gha. Kayaknya lo ada aja dah hokinya.” –Gary

“Stock hoki gue banyak cuy. Nggak lah, tadi gue juga hampir mati ketiban bangunan, tapi Gou nyelamatin gue pake kecepatan supernya. Gempa yang tadi tiba-tiba banget, udah gitu kejadiannya cepet pula.” –Sagha

“Lalu apa yang dia lakukan bersama kalian? *Nunjuk Thebee*” –Viny

“Tenang saja, dia ada di pihak kita sekarang. Setelah melihat insiden Kiva dengan Birth tadi, dia memutuskan untuk membantu kita.” –Mach

“Semuanya udah disini kan? Delta, gimana status pasukan kita?” –Gary

“Habis. Serangan tadi adalah serangan All-Out atas perintahku. Maaf aku mengambil keputusan sendiri tadi.” –Delta

“Tidak apa-apa. Kau merasa terdesak tadi. Aku paham.” –Chalice

“Berarti pasukan yang kita punya tinggal para Riot Troopers itu aja. Hei, Thebee lo bilang lo di pihak kita kan? Gue minta tolong, lo coba bujuk para Riot Trooper buat bantuin kita. Situasi udah parah, dan bakalan makin parah kalo kita nggak ambil tindakan dari sekarang. Suruh mereka untuk mengevakuasi semua penduduk Neo-Utopia. Bawa mereka keluar dome.” –Gary

Thebee mengangguk. Kemudian dia pergi menuju para Riot Troopers dan bicara pada mereka. Thebee berpaling ke arah kita dan memberi isyarat dengan menunjukan ibu jarinya. Para Riot Troopers mulai bergerak meninggalkan pusat kota menggunakan kendaraan mereka masing-masing.

“Oke, sekarang rencana inti. Hajime, Jashin 14 punya kelemahan nggak?” –Gary

“Ada. Benda bernama core yang berada di dalam tubuhnya. Kalau kita hancurkan benda itu, dia pasti akan mati.” –Chalice

“Ini tidak akan mudah. Masalah pertama, makhluk itu tidak bisa diam. Lalu kedua, tubuhnya sangat tebal seperti baju zirah. Selain itu melukai atau bahkan menyentuhnya hampir mustahil karena dia memiliki 4 tangan dan juga ekor sebagai senjatanya. Ketiga, kita kekurangan orang, setidaknya sampai para Riot Troopers itu selesai mengevakuasi para penduduk Neo-Utopia.” –Viny

“Kalo gitu begini aja. Ve, Sagha, Mach, Delta, lo berempat bantuin proses evakuasi. Viny, gue, Chalice, sama Anto bakalan nahan Jashin 14 untuk sementara waktu. Kalo evakuasi udah selesai, baru kita mulai perlawanan sebenarnya bareng-bareng.” –Gary

Ve, Sagha, Mach, dan Delta pergi dengan kendaraan pengangkut yang sebelumnya kita pakai untuk membawa pasukan Kurokage untuk membantu proses evakuasi. Aku memanggil Dragreder untuk membawa kami bertiga (Aku, Gary, dan Chalice) naik agar bisa menyerang Jashin 14 dari jarak dekat. Begitu Dragreder datang, kami bertiga langsung melompat naik ke atasnya.

“Gary, sepertinya proses evakuasi ini tidak akan berjalan lama. Kurang dari setengah jam, kami akan segera menyusulmu ke dalam pertarungan.” –Ve

“Sip!” –Gary

Ve baru saja mengontak Gary lewat walky talky. Setengah jam, baiklah. Semoga saja kami berempat cukup kuat untuk bertahan selama itu. Chalice mengeluarkan kartunya, kali ini berbeda dari sebelumnya. Dia tidak menggesekan kartu yang baru diambilnya pada senjatanya, tapi dia menggesekan kartu itu pada sabuknya.

“EVOLUTION!” –Rouzer

Semua Rouze Card milik Hajime yang ia simpan di dalam sakunya keluar dan masuk ke dalam sabuknya. Wujud Chalice berubah. Baju zirahnya berganti warna dari hitam menjadi merah dengan aksen emas.

Tidak mau kalah, Gary menggabungkan semua GN-Bitsnya dengan GN-Swordnya, membuat fitur Buster Mode pada GN-Swordnya aktif. Gary memintaku untuk menyuruh Drageder terbang mendekati wajah Jashin 14.

“Ini dia. Kita lakukan ini bersama-sama!” –Chalice

Gary sudah siap dengan GN-Swordnya yang berada pada Rifle Buster Mode. Chalice mengeluarkan semua Rouze Cardnya, kemudian dia menggabungkan semuanya jadi satu lalu menggesekannya pada busurnya. Aku sendiri juga sudah siap. Strike Vent ku sudah berada di tangan kananku dan siap untuk menembak.

Sesuai aba-aba Chalice, kami bertiga menembak kepala Jashin 14 secara bersama-sama. Begitu kami menembak, Imperialdramon langsung menyingkir agar tidak terkena serangan dari kami bertiga. Sepertinya serangan kami cukup ampuh, terbukti Jashin 14 terpental sedikit begitu dia terkena serangan kami.

“KURANG AJAR!” –Jashin 14

*PRAK!!!*

“ARGH!” –Viny, Gary, Chalice

*TAP! TAP! TAP!*

“Dapat!” –Imperialdramon

Jashin 14 membalas serangan kami dengan menghantam Dragreder. Dragreder terpental, begitu juga kami bertiga. Kalau bukan karena Imperialdramon menangkap kami bertiga, mungkin kami sudah mati.

Dragreder jatuh ke tanah dengan kencang. Sepertinya Dragreder tidak kuat lagi untuk melanjutkan pertarungan dengan keadaannya sekarang. Jashin 14 menghampiri Dragreder dan langsung menyerangnya bertubi-tubi dengan ekornya.

“DRAGREDER!” –Viny

“Sepertinya Kenzaki sudah kehilangan akal sehatnya.” –Chalice

“Keterlaluan!” –Gary

Gary kembali berdiri dan kembali mengaktifkan buster mode pada GN-Swordnya. Dia kembali menembak Jashin 14, tapi serangannya tidak berdampak pada Jashin 14. Dia bahkan tidak menghiraukan Gary. Dia terus menyiksa Dragreder dengan ekornya.

Aku tidak terima teman seperjuanganku diperlakukan seperti itu. Aku melompat turun dari tangan Imperialdramon, dan menyerang Jashin 14 menggunakan Strike Vent-ku. Aku tau tindakanku ini sia-sia, tapi aku tidak mau berdiam diri saja melihat dia disiksa seperti itu.

“HEAH!!!!” –Viny

“VIN! LO UDAH GILA?!!” –Gary

“MENJAUHLAH DARI TEMANKU!” –Viny

“MATILAH KAU BERSAMA MAKHLUK MENYEDIHKAN INI!” –Jashin 14

Jashin 14 siap untuk melancarkan serangan pamungkasnya untuk mengakhiri Dragreder. Aku sudah berkomitmen dari awal aku menerima advent deck ini dan melakukan kontrak dengan Dragreder. Aku tidak akan meninggalkan teman seperjuanganku apapun yang terjadi. Aku berdiri di depan Dragreder sambil membentangkan kedua tanganku.

Jashin 14 menembakan lasernya ke arahku dan Dragreder. Kaki ku bergetar karena ketakutan. Jadi seperti inikah rasanya ketika maut sudah ada di depan mata? Aku tutup mataku dan aku palingkan pandanganku dari depan, agar aku tidak harus tau kapan laser itu akan mengenaiku dan Dragreder.

*CIUWH!!!!!*

“VINY!!!” –Gary

………………….

*BUUUM!!!!!!*

Hangat…

Apa jangan-jangan aku sudah berada di alam lain? Jadi begini rasanya mati? Cepat juga ya prosesnya, tapi apa benar seperti ini rasanya mati? Aku belum berani membuka mataku. Aku takut….

“Viny.” –Shinji

Eh?

“Hei, buka matamu.” –Shinji

Suara itu, Shinji? Ah iya, benar. Aku sudah mati. Berarti aku sudah benar-benar ada di alam sana. Buktinya aku mendengar suara Shinji. Aku beranikan diriku untuk membuka mataku.

“Tempat ini… Ini dimana?” –Viny

“Viny, kau memang bodoh ya?” –Shinji

“Bodoh? Maksudnya?” –Viny

“Mengorbankan dirimu hanya untuk hewan yang memang sudah seharusnya menjadi pelayan bagimu. Memang kau tidak tau kalau Advent Beast memang diciptakan untuk melindungi kita? Bukan sebaliknya.” –Shinji

“Awalnya aku kira juga begitu, tapi seiring waktu berlalu aku sadar kalau mereka bukan hanya sekedar hewan peliharaan atau pelayan saja.” –Viny

“Hmm?” –Shinji

“KALAU KAU MENGANGGAP ADVENT BEAST HANYALAH PELAYAN, BERARTI KAU SUDAH BUTA!” –Viny

“…………” –Shinji

“Asal kau tau saja, mereka lebih daripada itu! Kalau kau sudah lama bertarung dengan Advent Beast-mu, harusnya kau sudah mengenal mereka! Mereka bukan hanya monster, mereka juga makhluk hidup dan teman!” –Viny

“Apa maksud ocehanmu itu, Hah?” –Shinji

“Walaupun Dragreder tidak bisa berbicara bahasa manusia, tapi dia mengerti aku. Melalui tiap pertarungan dengannya, kami saling belajar untuk memahami satu sama lain. Dia bahkan pernah menolongku di saat itu aku tidak menggunakan kartu Add Vent sama sekali. Itu adalah bukti kalau mereka bukan monster yang tidak berotak!” –Viny

“…………” –Shinji

“Terserah kau mau menyebutku bodoh, idiot, atau apapun. Orang lain mungkin menganggap Dragreder hanya peliharaan atau monster pelayaan, tapi tidak bagiku. Aku akan selalu bersamanya dalam keadaan apapun, sekalipun aku terjebak di dalam keadaan yang dapat membunuhku!” –Viny

“Hmph… Ratu Vienny Fitrilya. Selamat….” –Shinji

“Hah?” –Viny

“Sepertinya aku tidak salah memberimu kartu itu. Apa kau masih ingat?” –Shinji

“Kartu? Maksudmu? Jangan-jangan… *Mengambil sesuatu dari kantong* …Kartu ini?” –Viny

“Untung kau mengambilnya. Maaf aku tidak bisa memberikannya secara langsung, untung kau membaca tandaku.” –Shinji

“Aku masih tidak mengerti. Apa maksud dari semua ini?” –Viny

“Saat aku mati, sempat terpikir suatu hal. Ini tentangmu. Aku lihat kau punya banyak potensi di dalam dirimu dan juga partnermu Dragreder, tapi kalian tidak bisa membukanya. Padahal kalau aku lihat, kau sudah punya semua kriteria untuk membuka potensi dalam dirimu. Keberanianmu, dan juga solidaritasmu dengan Dragreder adalah kriteria yang aku maksud. Sepertinya kalian memang butuh sebuah pemicu untuk membuka potensi dalam diri kalian masing-masing. Oleh karena itu, aku memberikan kartu itu untuk kalian.” –Shinji

“Untuk apa? Bukankah aku sudah mati?” –Viny

“Hei, kau belum mati tau. Kalau kau tidak percaya, sekarang cepat bangun dan lihat apa yang ada di depanmu.” –Shinji

Aku belum mati? Benarkah?

Tepat setelah Shinji selesai bicara, tiba-tiba saja ia menghilang dan pandanganku seolah berputar. Rasanya seperti mengalami migraine untuk sesaat, tapi berangsur-angsur pandanganku mulai kembali. Saat aku tersadar, aku masih seperti sebelumnya. Berdiri di depan Dragreder sambil membentangkan kedua tanganku.

“WOY! MELEK! SAMPE KAPAN LO MAU BERDIRI DI SITU?!!” –Gary

“Hah?” –Viny

Tepat di depan mataku, Gary, Chalice, dan Imperialdramon tengah berusaha menahan serangan dari Jashin 14. Sementara itu, Dragreder masih tidak sadarkan diri di belakangku. Jadi tadi itu hanya mimpi ya? Tapi kenapa terasa sangat nyata sekali?

Teringat omongan Shinji soal kartu pemberiannya, aku langsung merogoh ke dalam deck-ku untuk mencari kartu itu. Sebenarnya kartu itu bukan sebuah pemberian. Malahan lebih tepatnya aku yang memungutnya karena kartu itu terjatuh sendiri dari deck milik Shinji.

Kalian ingat bukan? Yap, sesaat sebelum aku dan pasukan Rebel berangkat meninggalkan camp untuk menyerang markas Regime.

Terakhir kulihat, kartu itu tidak berwarna. Hanya kartu bergambar sayap kanan sebuah burung yang semuanya hitam putih, tapi kali ini berbeda. Entah kenapa saat aku melihat kembali kartu itu, kini kartu itu telah berubah.

Gambarnya masih tetap sama, hanya saja sekarang sudah berwarna. Memang terdengar biasa, tapi aku bisa merasakan sesuatu yang berbeda dari kartu ini sekarang. Seperti ada yang ‘berkobar’ di dalam kartu ini. Gambar sayap yang sebelumnya hitam putih kini berwarna emas, dan latarnya bukan lagi berwarna abu-abu, tapi merah menyala seperti api.

“Gunakan kartu itu, dan bukalah pintu menuju potensi yang tidak terbatas!” –Shinji

Suara Shinji terdengar lagi. Sepertinya hal yang tadi kualami bukan mimpi. Ah terserah. Mau itu mimpi atau bukan, ada hal lebih penting yang harus kulakukan saat ini. Aku harus mengalahkan Jashin 14 dan melindungi partner, juga teman-temanku.

Kartu pemberian Shinji yang bertuliskan ‘Survive’ tiba-tiba mengeluarkan cahaya dan gambarnya seolah bergerak. Visor milikku mengeluarkan api tanpa sebab. Aku sempat mengira tanganku akan terbakar, ternyata tidak. Api tersebut menyelimuti visor-ku dan merubah bentuknya dari sebuah sarung tangan menjadi senapan berbentuk kepala naga.

‘Mulut’ pada pada senapan itu terbuka, memperlihatkan sebuah slot kartu di dalamnya. Entah apa yang kupikirkan, tanganku bergerak dengan sendirinya seolah aku tau kalau slot di dalam ‘mulut’ senapan itu adalah slot untuk kartu survive ini. Begitu aku memasukannya dan menutup mulut senapan, munculah suara….

“SURVIVE!” –Visor

….Dan tubuhku langsung diselimuti oleh api yang keluar entah darimana. Beberapa saat kemudian, api yang menyelimuti seluruh tubuhku hilang dan baju zirahku kini telah berubah.

“Viny??” –Gary

“Wujud itu… Survive Mode.” –Chalice

Semuanya melihatku dengan kaget. Dragreder kembali tersedar dan dia langsung meraung. Tubuh Dragreder mengeluarkan retakan. Awalnya hanya sebuah retakan kecil, dan aku hanya berpikir bahwa itu pasti hanya luka biasa. Lama kelamaan retakan itu menyebar ke seluruh tubuhnya dari kepala hingga ekor. Sampai akhirnya, tiba-tiba saja retakan itu pecah seperti cermin dan Dragreder ikut berubah wujud sepertiku.

“Inilah wujud baru Dragreder yang telah berevolusi. Dia telah berubah menjadi Dragranzer. Sekarang cepat bantu teman-temanmu!” –Shinji

“Baik!” –Viny

Dragranzer, Wow! Oke Viny, FOKUS! Sekarang kau harus membantu teman-temanmu yang tengah kesulitan menahan serangan Jashin 14. Aku mengambil kartu dari dalam deck-ku, tapi saat kulihat kartu yang kuambil, ternyata berbeda.

Loh? Ternyata set kartuku ikut berubah juga dengan wujud baru ini? Baiklah, bukan masalah. Ayo kita coba kekuatan baru ini.

“SHOOT VENT!” –Visor

Dragranzer telah bersedia di belakangku. Aku mengarahkan visorku ke arah laser yang ditembakkan oleh Jashin 14. Kemudian ku tarik pelatuk visorku. Visorku menembakkan laser, bersamaan dengan Dragranzer yang menembakan semburan api dari dalam mulutnya. Serangan gabungan dari Dragranzer, aku, Chalice, Gary, dan Imperialdramon mampu membalikkan serangan dari Jashin 14.

“BERHASIL!” –Viny

“Ini belum selesai… Lihat!” –Chalice

“CUKUP SUDAH, TIDAK ADA LAGI MAIN-MAIN!” –Jashin 14

………………….

“RASAKAN INI!!!” –Delta & Mach

*WUUSH!!! BHUAK!!! BUUUM!!!!*

“SEMUANYA! SERANG DIA SECARA BERSAMAAN!!!” –Ve

“HOY! Sori lama!” –Sagha

“Bagus! Semua udah disini. Anto! Suruh Imperialdramon motong semua tangan Jashin 14 mumpung dia lagi keganggu gara-gara serangan Riot Troopers.” –Gary

“Oke!” –Anto

“Chalice, lo bisa motong ekornya nggak? Kalo nggak bisa semua ekornya, potong ujungnya aja.” –Gary

“Baiklah, akan kucoba.” –Chalice

“Vin, simpen tenaga lo. Gue pengen lo sama Dragreder–” –Gary

“Namanya Dragranzer!” –Viny

“Eh? Udah ganti nama? Uh, okelah. Siapapun namanya, gue pengen lo sama dia yang nerobos masuk ke dalem tubuh Jashin 14 dan ancurin corenya. Gue bakalan bikin celah buat lo sama naga lo biar bisa masuk ke dalam tubuhnya.” –Gary

“Siap kapten!” –Viny

Bantuan akhirnya datang. Puluhan Riot Troopers dengan Jet Sliger dan Side Basshar langsung membombardir Jashin 14 dengan persenjataan mereka. Mach dan Delta bersama-sama melakukan serangan pamungkas mereka ke arah dada Jashin 14.

Ve datang dengan Jet Sliger yang dikendarainya untuk menjemput Chalice. Dia akan ikut bersama Chalice untuk menyerang ekor Jashin 14. Sementara itu, Imperialdramon bersama Anto dan Gary maju face-to-face dengan Jashin 14. Sebenarnya, tujuan mereka berdua menghampiri Jashin 14 bukan untuk meladeninya dalam pertarungan.

Imperialdramon akan memotong tangan-tangan milik Jashin 14. Setelah itu dia akan menurunkan Gary di atas pundak Jashin 14 agar Gary bisa menciptakan celah untukku menerobos masuk ke dalam tubuh Jashin 14.

Imperialdramon sudah mulai berkutat dengan targetnya. Dibantu puluhan Riot Troopers, dia berhasil memotong tangan-tangan Jashin 14 satu persatu. Tidak butuh waktu lama, pekerjaan Imperialdramon sudah selesai. Imperialdramon mundur untuk beristirahat karena kelihatannya Imperialdramon sendiri sudah kelelahan karena bertarung menggunakan Paladin Modenya sedari tadi.

“Ve, tolong antar aku ke bagian pinggang Jashin 14.” –Chalice

Kini giliran Ve dan Chalice. Jet Sliger Ve bermanuver menghindari serangkaian serangan laser Jashin 14 untuk mengantarkan Chalice ke spot tembaknya. Begitu mereka sudah berada persis di depan pinggang Jashin 14, Chalice langsung memulai aksinya.

“WILD!” –Rouzer

*BOOSH!!!!*

“HEAAAAH!!!” –Chalice

Seiring energi yang dipancarkan oleh Rouzer Chalice perlahan-lahan mengikis tubuh Jashin 14, Jet Sliger Ve ikut bergerak berputar mengitari pinggangg Jashin 14. Jashin 14 meronta. Dia mengangkat ekornya, berniat untuk menyerang Jet Sliger milik Ve. Sebelum ekor tersebut dapat menghantam Jet Sliger milik Ve, puluhan misil datang dan menghantam ekor Jashin 14, membuat serangannya terhadap Ve dan Chalice meleset.

“Oi oi, jangan lupa sama gue disini. Semua unit, SIKAT EKORNYA!” –Sagha

Sagha mengendalikan sebuah Side Basshar dan tepat di belakangnya ada puluhan Riot Troopers yang juga mengendalikan Side Basshar. Sagha bersama Riot Troopers di belakangnya melancarkan serangan ke arah ekor dan kepala Jashin 14 agar dia tidak mengganggu Ve dan Chalice.

*WUUSH! SRAK!!!*

“Ekor, dimusnahkan.” –Chalice

“Giliran kita. Siap, Vin?” –Gary

“Ya.” –Viny

Gary kembali mengangtifkan Buster Mode. Dia melompat dari pundak Jashin 14 dan menancapkan pedangnya pada dada monster itu. Pedang Gary yang tertancap dalam menciptakan luka sobekan pada dada Jashin 14 seiring dengan pedangnya bergerak turun membelah lapisan tubuhnya.

Melihat luka yang dibuat Gary hampir cukup besar untuk dimasuki Dragranzer, akupun melompat naik ke atas Dragranzer untuk bersiap-siap. Kami menunggu aba-aba dari Gary untuk maju.

“SEKARANG!” –Gary

Aku dan Dragreder langsung melesat ke arah dada Jashin 14 yang kini telah terbelah. Gary melepaskan tusukan pedangnya dari dada Jashin 14 dan iapun jatuh bebas ke bawah. Tidak perlu khawatir. Ve berhasil menangkapnya tepat waktu sebelum ia menghantam tanah. Sekarang hanya tinggal menghancurkan core itu saja.

“Itu dia, core Jashin 14.” –Viny

Core sudah ada tepat di depan mataku. Tanpa membuang-buang waktu lagi, aku langsung mengambil kartu Final Vent dari dalam deck, lalu memasukkannya ke dalam Visor. Dragranzer kembali meraung. Dia berputar ke belakang untuk mengambil ancang-ancang, kemudian DIA KEMBALI BERUBAH.

Kenapa ini? Tiba-tiba saja Dragranzer melipat tubuhnya, lalu muncul roda pada lehernya. Wow, dia berubah menjadi motor! Kami melesat dengan kecepatan tinggi. Ini dia, akan kutabrak core itu!

“HEAAAH!!!” –Viny

*BOOOOM!!!!!*

Berhasil! Core itu hancur berkeping-keping begitu aku menabraknya. Dragranzer masih terus melesat maju walaupun core sudah hancur. Eh? KENAPA INI?!!

“HEI! BERHENTI!!!” –Viny

Dragranzer tidak menghiraukanku. Dia terus maju, sampai akhirnya kami menembus tubuh bagian belakang Jashin 14 dan keluar dari tubuh monster itu. Aku baru mengerti sekarang, ternyata dia terus maju agar kami bisa keluar dari tubuh Jashin 14. Untunglah kami keluar tepat waktu, karena tepat setelah kami keluar dari tubuh Jashin 14 dan masih dalam keadaan melayang di udara, tubuh Jashin 14 meledak.

Ledakan itu cukup dahsyat, bahkan beberapa bagian dome ada yang retak akibat ledakan itu. Dragranzer dan aku berhasil mendarat di tanah dengan selamat. Setelah menurunkanku, Dragranzer pergi masuk ke dalam kaca yang ada pada bangkai motor Jet Sliger yang ada di dekat kami. Aku kembali ke wujud semula, dan teman-temanku semua berlari menghampiriku.

“BERHASIL, VIN!” –Gary

Di tengah sorakan teman-temanku, tiba-tiba saja tubuhku lemas dan pandanganku berubah menjadi gelap. Kaki ku tidak kuat lagi untuk menopang tubuhku, hingga akhirnya aku jatuh pingsan. Hal terakhir yang kuingat sebelum aku tidak sadarkan diri adalah, teman-temanku meneriaki namaku.

~Gary’s POV~

Fiuh… Akhirnya perang di domain ini selesai juga. Nggak ada lagi yang namanya Rebel atau Regime, Cuma ada New Utopia. Insiden Jashin 14 menyebabkan kerusakan berat pada kota Neo-Utopia. Akhirnya, kota dibangun ulang dan namanya diganti sebagai simbolis kalau kota ini udah move on (#Azekkk) dari masa lalunya.

Kemaren Viny bener-bener hebat. Dengan kekuatan barunya, dia berhasil menuntaskan Jashin 14 dengan rapih. Sayangnya, di tengah euforia keberhasilannya, dia malah pingsan. Menurut gue wajar, karena menghancurkan monster sebesar Jashin 14 dari dalam bukanlah pekerjaan yang bisa dibilang gampang.

Kita udah pamitan sama orang-orang di New Utopia seperti Hajime, Gou, Mihara, dan juga Yaguruma yang udah tobat. Setelah berpamitan kita pergi meninggalkan New Utopia menembus gurun di luar dome untuk mencari pesawat Ve. Kita sempet kesulitan sedikit karena Ve markirin pesawatnya di tengah gurun. Untung aja pesawatnya dipasang pelacak. Jadi kita nggak harus muter-muter gak jelas karena kebingungan nyariin pesawat Ve.

Sampai di dalam pesawat, Gue, Anto, dan Sagha ngangkut perbekalan yang merupakan hadiah dari Hajime dari Jeep yang kita pake untuk nerobos gurun ke pesawat. Jangan kira kita nerobos gurun dengan jalan kaki. GEMPOR COY! Ya, kali.

Selesai mindahin perbekalan, Jeepnya gue tinggalin di tengah gurun dan kita berlima masuk ke dalam pesawat. Sambil nungguin mesinnya panas, gue pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil sebentar, lalu gue kembali lagi ke cockpit.

**

“Hah… Akhirnya. Gila, Vin, jago juga lo kemaren.” –Sagha

“Ah, itu bukan apa-apa. Dibanding aku, Gary masih lebih hebat. Kalian tidak sadar saat pertarungan kemarin dia berhasil menggunakan Buster Mode dalam waktu yang cukup lama?” –Viny

“Oh iya, gue nggak nyadar. Padahal gue deket Gary mulu dari kemaren. Badan lo gapapa kan, Ger? Nggak ada kaku-kaku lagi?” –Anto

“Beh… Slaw bro. Aman kok, aman.” –Gary

*JEGGG!!!!!!*

Anjrit! Kenapa nih?!! Kok kepala gue jadi puyeng begini?

“Ger, lo gapapakan?” –Sagha

………………….

*BRUKK!!!!*

“GARY!!!” –Anto, Sagha, & Viny

……………..

~To Be Continued~

By : @ahmabad25

Iklan

4 tanggapan untuk “X-World (Pt.42) : The Dragon’s Evolution

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s