“Hitam Putihnya Panda : Sinka” Part 3

Semenjak kemarin aku sudah susah fokus mengerjakan pekerjaan rumahku, setengah jam aku memainkan pulpen di atas meja karena tidak tahu harus mengerjakan soal fisika mulai dari mana, apa lebih baik aku melihat tugas Yupi saja hitung-hitung bayaranku atas tugas membantunya.

“Ngerjain PRnya yang bener.”

Kak Naomi sedang asik memainkan smartphone di atas kasurku, bukannya membantu malah dia asik seorang diri, tapi seketika pikiran burukku hilang ke kak Naomi karena aku juga penasaran dengan masalah asmaranya.

“Kak, kakak kan cantik terus punya banyak fans di sekolah, kenapa sih buat ngedeketin satu cowok aja minta bantu aku?”

Dia tetap diam beberapa detik hingga badannya dijatuhkan ke kasur, “Bukan seperti itu, bisa aja kakak ngedeketin dia tapi jika kamu yang melakukannya itu akan menambah pengalaman kamu.”

Aku tidak mengerti di bagian kata ‘pengalaman’, emang apa untungnya berdekatan dengan cowok yang bahkan tidak aku kenal data dirinya. Apa bisa aku mendekati dua cowok sekaligus? Sepertinya aku cewek murahan sekali.

Berkat Yupi mengirim tugas sekolah akhirnya aku bisa mengumpulkan tugas itu pada keesokan harinya, bila dipikir baru sekarang ini aku menyontek saat mengerjakan tugas rumah, huh benar-benar memalukan.

“Oh iya yup, kamu mau kontaknya kak Yoga? Aku punya nih.”

“Tapi aku bingung mau ngomong apa nanti.” Balas Yupi.

Jika bukan aku yang bertindak ini tidak akan mendapat kemajuan yang berarti, aku langsung mengirim pesan singkat ke kak Yoga untuk bertemu di kantin nanti sewaktu istirahat.

“Sin, ke kantin yuk.”

Aku hanya mengangguk dengan ajakan Yupi, mulai  dari sinilah rencanaku akan dimulai. Mulai memasuki kantin gantian aku yang menarik tangan Yupi, dengan paksa aku menariknya bertemu dengan kak Yoga.

“Hei kak, udah lama nunggu ya?” sapaku.

Dia tersenyum sambil menatap kami bergantian, dia pasti bingung kenapa aku mengajak orang tambahan dalam pertemuan kami berdua.

“Oh iya kak kenalin ini temen aku Yupi, jadi Yupi tolong temenin kak Yoga ya di kantin soalnya aku harus ke ruang osis dulu. Oke bye.”

Pasti kaget menjadi mereka berdua karena belum sempat mereka berbicara aku sudah pergi bagaikan kilat, apalagi saat menatap wajah Yupi yang panik huh itu membuat kebahagianku tersendiri, baiklah sekarang balik ke masalah yang lain.

“Permisi… permisi…”Aku mencoba menggeser pintu ruang osis itu secara perlahan.

“Silahkan masuk.”

Di dalam ruangan terdapat seorang murid cowok dan cewek, disana juga aku melihat kak Yona sedang duduk sambil membuka lembaran-lembaran kertas yang tidak kupahami.

“Nama kamu udah ada di dalam daftar anggota osis untuk bagian pengembangan olah raga, dan ini name tag kamu.”

Sebuah name tag berukirkan namaku terlihat jelas disana, apalagi di bagian sisinya berwarnakan emas yang mengkilau, benar-benar indah dilihat.

“Hei guys, kenalin ini anggota osis kita yang baru, dia akan masuk ke tim pengembangan olah raga. Kenalkan dirimu sin.”

“I..iya, halo nama aku Sinka Juliani, aku kelas 10 IPA2 dan kakakku bersekolah disini juga namanya Shinta Naomi di kelas 12 IPA1. Jadi salam kenal.” Jujur saja aku adalah tipe cewek pemalu yang jarang ngomong di depan umum tapi entah kenapa aku bisa mengatasinya.

“Hai, aku Kinal.” “Shania.” “Lidya.” “Angga.” “Aku Veranda, panggil aja Ve.”

Aku mengangguk mengerti, wajah mereka cantik-cantik dan juga keren, sepertinya akan menarik masuk keanggotaan osis.

“Oh iya sin, kak Ve ini wakil osis.”

“Dan siapa ketuanya?” tanyaku langsung.

Kak Yona sejenak tersenyum, “Nanti juga tau.”

“Eh iya yon, Sinka masuk ke olah raga apa?” tanya Kinal.

Aku menatap kak Yona yang terlihat sedang berpikir, aku tidak tahu jika harus memilih klub olah raga, pikirku semua bidang olah raga menjadi tugasku dan anggota lainnya.

“Anggota osis bidang olah raga ini hampir sama dengan manajer sebuah tim, dia yang ngurus jadwal dan turnamen yang mereka ikuti,”

“Jadi?” tanyaku gantung.

“Kamu pilih mau jadi manajer tim futsal atau basket? Karena tinggal dua tim itu yang lagi kosong.”

Aku hanya diam sambil berpikir tidak jelas, setahuku kak Yoga menjadi ketua tim futsal berarti untuk membantu Yupi aku akan memilih tip futsal. Tapi tunggu, bila gitu kenapa kak Naomi memasukan aku ke osis? Apa dia mau aku memilih dengan tim basket?

“Pasti kamu bingung ya sin? Ini karena dua anggota osis yang mengurus tim futsal dan basket tiba-tiba pindah sekolah, jadinya ya gitu.”

Saat ini otak dan perasaanku tidak selaras, otakku memerintahkan untuk memilih futsal dan perasaanku malah sebaliknya. Beberapa detik terdiam akhirnya ada satu ide yang datang.

“Suruh tim futsal dan basket untuk membuat presentasi mereka di depan Sinka, biar dia bisa memilih dengan baik.”

“Eh ketua.”

Dengan cepat aku memalingkan wajahku, melihat sesosok wanita cantik, huh baru ingat jika aku pernah lihat dia sewaktu kami bertabrakan di depan kelas kak Yoga. Ternyata dia ketua osis, tidak salah jika dia menjadi ketua osis, pasti aku juga akan memilihnya bila dia mencalonkan sebagai ketua.

“Sinka, apa kamu setuju sama idenya?” Dia berjalan sambil menatapku, aku hanya diam terpanah sambil perlahan mengangguk.

“Baiklah kalo gitu, Yona sama Ve tolong urus itu buat besok.”

“Baik ketua.”

Keluar ruang osis membuatku sedikit bergetar, siapa sangka besok aku harus memilih olah raga yang harus aku urus.

“Sinka gimana? Kamu milih tim basket kan?”

Ini nih sumber masalahnya datang, kak Naomi. Ternyata benar jika dia mau aku memilih basket, jika tahu sebelumnya sudah pasti aku akan memilih basket tanpa repot-repot presentasi besok.

“Besok kepastiannya kak, jadi besok tim futsal sama basket presentasi di depan aku.”

Tatapan kak Naomi sedikit menipis, “Oh kamu masih ada rasa ke Yoga mangkanya kamu mikir buat pilih futsal?” wajah senyum curiganya membuatku kesal, apa dia tidak tahu aku mendekati kak Yoga karena Yupi? Kalo sudah gini kan lebih jelas kalau aku bakal memilih basket, setidaknya setelah itu kak Naomi akan membantuku untuk masalah Yupi.

Besoknya aku duduk di hall indoor dengan ditemani kak Yona dan kak Ve, dihadapan kami sudah berkumpul kak Yoga selaku ketua tim futsal bersama anggota lainnya dan beberapa anggota tim basket.

“Dimana ketua kalian?”

Semua anggota tim basket saling menatap satu sama lain mendengar pertanyaan dari kak Yona, aku pikir diantara ketujuh anggota tim basket itu ada salah satunya ketua.

“Kalo gitu biar tim futsal dulu yang mulai.” Ucap kak Ve.

Tenang saja, ini bukan presentasi kelihaian mereka, melainkan hanya menunjukan keuntungan bila aku mengelola tim. Tawaran kak Yoga begitu menjanjikan, bila ini asli karena orientasi ke depan untuk memajukan olah raga sekolah paling aku memilih timnya kak Yoga, namun bisa saja tim basket memiliki rencana yang lebih bagus.

“Jadi seperti biasa dia nggak dateng.” Ucap Yona.

“Apa kalian gak nyari ketua kalian?” tanyaku.

Pada saat itu seseorang dari mereka langsung berlari keluar hall, sepertinya dia mencari ketuanya. Heh bagaimana akan memiliki progress bagus jika sebagai ketua tim malah tidak hadir saat tim mereka membutuhkan manajer.

Sudah lima menit setelah kepergian orang itu, dia belum juga kembali dan bila ini terus berlanjut sudah dipastikan aku akan menangani tim futsal, itu berarti….. Ya kak Yoga sudah menatapku sambil tersenyum, berarti tanpa sengaja pikiran kami memiliki alur yang sama.

“Baiklah, kalo begitu Sinka akan menangani tim ……”

Saat kak Ve berbicara, pintu hall terbuka dengan tiba-tiba sehingga membuat suara besar, aku bahkan sempat kaget mendengar suara pintu. Tapi dibalik itu terlihat seorang murid cewek yang ku kagumi yaitu ketua osis, dia.. dia… dia….. haah? Dia sedang menjewer kuping seorang murid cowok. Aku hanya menatap heran melihat mereka yang berjalan mendekati kami.

“Ketua..” ucap kak Yona.

Cowok yang kupingnya sedang dijewer oleh ketua terlihat asing bagiku. Dia berpenampilan tidak begitu rapih dengan kemeja tidak dimasukan ke dalam celana, serta blazer yang dipakainya juga sedikit kucel, dan rambutnya, ya rambut lebatnya hampir menutupi telinga dan mata, aku heran kenapa dia tidak kena potong rambut dari guru BP. Untung saja dia memiliki wajah yang ganteng dengan kulit hampir sama putihnya denganku, bila diukur tinggi mungkin aku setinggi dagunya, pada saat itu aku terus saja menatapnya tanpa berhenti.

“Lakukan tugas kamu sebagai ketua tim basket.” Ucap ketua osis sambil melepas telinga cowok itu.

“Emang udah ada calon menejer baru? Huh?” balasnya dengan menggosok telinga.

“Kenalin ini Sinka, dia osis baru di bidang olah raga.”

Aku langsung sedikit membungkukan badan di hadapannya, entah kenapa tapi aku malu bila dia menatapku. Aku, kak Ve dan kak Yona kembali duduk melihat cowok itu, dia pun menatap kami bertiga secara gantian, asli tatapan matanya bagus banget walau pun dia menatap kesal.

“Kalo gitu mulailah presentasi.”

Cowok itu sejenak melirik ke arah tim futsal, terutama kak Yoga, “Jadi Yoga udah duluan presentasi? Kalo gitu pilihlah timnya.”

“Hei ayo presentasi. Apa kamu mau tidak ikut turnamen tahun ini?” Potong kak Ve.

Cowok itu sepertinya semakin kesal, dia hanya diam beberapa detik sambil matanya sedikit di ciutkan saat menatap kami, “Gak gampang jadi pengurus tim basket, lagian aku tidak percaya dengan cewek itu.” Ucapnya selesai.

Huh? Presentasi macam apa itu? Dia malah pergi meninggalkan hall dengan anggota tim basket lainnya. Aku yang mendengar hanya bengong menatap punggungnya menjauh dari kami.

“Seperti biasa dia selalu dingin.” Ucap kak Ve.

“Kak Yona..” sapaku.

“Iya sin, ada apa?”

Perlahan aku menelan ludahku sendiri, “A..apa itu cowok yang kak Naomi …”

“Iya, dia cowoknya.”

Untuk apa kak Naomi menyukai cowok seperti itu? Cowok jutek dan tidak ada semangat dimatanya begitu kenapa disukai? Dasar kak Naomi aneh. Baiklah aku akan memutuskan.

“Jadi kamu pilih tim apa?”

“Aku.. aku pilih tim basket.”

“Baiklah kalo begitu.”

“Oh iya kak, kapten tim basket itu, siapa namanya?” tanyaku.

“Dia? Dia adiknya ketua osis kita, namanya Rizal Syahm Laksani.”

“Semoga kamu beruntung.” Tambah kak Ve dengan nada jahatnya.

Bukan tanpa alasan aku memilihnya, tapi aku ingin tahu lebih banyak kenapa kak Naomi menyukai cowok seperti itu, aku tidak mau kak Naomi mendapatkan cowok yang kurang baik untuknya. Jujur saja tatapan matanya… tatapan matanya itu… dia… tatapan mata malasnya seakan aku melihat diriku yang dulu.

 

 

*To Be Continued ….

Twitter : https://twitter.com/BeaterID

Iklan

Satu tanggapan untuk ““Hitam Putihnya Panda : Sinka” Part 3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s