Romansa DI Kota Itu, Part13

Keesokan pagi nya, masih seperti pagi-pagi sebelumnya di rumah Dendhi, di mana harus ada adegan bentak-bentak lagi, kali ini yang membentak bukan kak Ve, melainkan adiknya.

“Kakak…” Michelle berteriak

“hmmm…” ujar kakaknya yang masih tertidur.

“bangun, ini udah jam setengah tujuh, kalo nggak bangun aku tinggal nih” Michelle berteriak

Mendengar kata setengah tujuh mata Dendhi langsung terbuka sempurna.

“kok kamu gak bangunin sih le?” kata Dendhi kaget

“apanya yang nggak bangunin Den, Michelle udah bangunin kamu mulai jam enam, tapi kamu kalo tidur kayak orang mati” ujar Kak Ve membela Michelle.

Dendhi menuju ke kamar nya lagi, lima menit berselang dia sudah keluar dengan seragam pramukanya, ooh iya. Sekarang hari nya sabtu

“ayo berangkat le” ujar Dendhi sambil menarik Michelle, mereka berdua pergi ke sekolah dengan menggunakan motornya.

“hmmm.. bentar lagi libur natal nih, enaknya aku ngajak Viny jalan-jalan” kata Dendhi dalam hati. Kala itu Dendhi mengendarai motornya hingga kecepatan 80 km/jam, kecepatan segitu sudah mampu untuk membuat Michelle menjerit.

Mereka tiba di gerbang luar, pas sekali dengan pak satpam yang bersiap-siap menutup gerbang luar.

“pak-pak. Tunggu” ujar Dendhi

Pak satpam yang kaget itu langsung membatalkan sejenak. Motor Dendhi dan Michelle melintas dengan cepat

“hoooh… dasar cah gemblung” umpat pak satpam itu

“kakak, udah di bilang jangan ngebut” ujar Michelle sambil mencubit perut Dendhi

“Aduh le… sakit tau” ujar Dendhi kesakitan.

“Biarin” ujar Michelle yang masih mencubit perut nya.

“kak, aku masuk dulu ya ke kelas ku” ujar Michelle yang lalu meninggalkan Dendhi sendirian di koridor sekolah

Dendhi yang melihat jam di HP nya lalu beranjak masuk ke kelas nya, di saat dia menuju ke kelas nya, tiba-tiba

“Aduh..” Dendhi tak sengaja menabrak seseorang.

“eh.. maaf ya, aku nggak sengaja” ujar Dendhi yang lalu membantu orang itu berdiri.

“iya” ujar Dendhi sambil tersenyum

“Oh iya, aaku bisa minta tolong anterin ke ruang kepala sekolah?” tanya wanita itu

“bisa kok, ayo aku anter” ujar Dendhi.

Dendhi mengantarkan anak itu ke ruang kepala sekolah. Sesampainya di sana. Dendhi kembali ke kelas nya. Ketika Dendhi sampai di kelas, suasana kelas saat itu sangat ramai karena guru yang seharusnya mengajar berhalangan.

“Beri salam” ujar Gio

“sel…” ujar teman sekelas yang di potong Dendhi

“Rek, iki aku” ujar Dendhi (Rek, ini aku)

Gio mendengus sebal, sedangkan Dendhi langsung di dekat Viny.

“kok tumben kamu telat?” tanya Viny

“iya, aku tadi bangun kesiangan, terus tadi aku abis nganterin anak ke ruang kepala sekolah, kayaknya sih dia anak baru” kata Dendhi

“wiiih.. bakal ada anak baru?” tanya Sando antusias.

“iya, kayaknya sih anak baru, dia cewek”  ujar Dendhi

“akhirnya ada anak baru cewek” kata Sando akhirnya lega.

“ya elah ndo, perasaan si Shani kan cewek” Rafles protes

“Shani itu buk…” ujar Sando terpotong karena kakinya sakit diinjak. Sedangkan yang menginjak hanya menatap Sando tajam

“maaf Shan, aku cuman bercanda” ujar Sando terkekeh

“gak gitu juga kali ndo” ujar Shani

Baru saja Dendhi berkata demikian, masuklah guru BK yang diikuti oleh gumpalan gula seseorang dengan mata sipitnya

“anak-anak, ini ada murid baru, perkenalkan nama kamu” ujar guru BK itu

“hai teman-teman, nama aku Sofia Meifaliani, aku pindahan dari Jakarta.” Kata wanita itu

Sosok wanita itu terlihat kaget ketika ia melihat sosok Rafles, mereka berdua beradu pandangan sejenak, sampai akhirnya Rafles membuang muka nya pada Shani.

“ya sudah Sofia, kamu duduk di belakang nya Rafles, itu anak nya yang pakai kacamata” ujar guru BK itu menunjuk posisi Rafles.

“bapak tinggal dulu, ingat jangan bikin keributan” ujar guru BK itu meninggalkan kelas Dendhi

“udah-udah. Aku mau tidur dulu ya, masih ngantuk” ujar Dendhi yang lalu tak bersuara lagi.

Cukup lama Dendhi tertidur, tiba-tiba waktu menunjukkan pukul 9.45 WIB

“si Dendhi masih tidur juga tuh?” tanya Sando

“Iya san, aku nggak tega bangunin dia” balas Viny

“kan bentar lagi ada rapat OSIS buat Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa, pak Rion udah standby lho di ruang OSIS” kata Sando

“ooh iya ya, padahal acaranya masih tiga bulan lagi lho” kata Viny yang teringat

“oiii.. si Dendhi mana?” tanya Lidya

“tuh” ujar Sando sambil menunjuk Dendhi yang sedang tertidur dengan mulut terbuka

“Njirr.. Mulutnya kebuka.”  Lidya kaget awalnya, namun tiba-tiba  terlintas sebuah ide jahil.

Lidya membawa gorengan yang di bungkus dengan plastik, lengkap dengan sambal nya, Lidya langsung mencolek kan sambal itu ke mulut. Entah kenapa Dendhi malah menjilat mulutnya

“A** pedes c**” Bentak Dendhi

“busett.. koala marah” ujar Lidya yang di barengi oleh tawa Sando dan Viny

“Apaan sih kamu Lid, aku ngantuk tau” ujar Dendhi sebal.

“lu tuh tidur terus Den, bentar lagi kan rapat OSIS” kata Lidya

“oh iyo yo, lali aku (Oh iya ya, lupa aku)” balas Dendhi terkekeh

“ayo berangkat ke ruang OSIS” ajak Dendhi pada Sando, Viny dan Lidya,

Mereka bertiga berangkat ke ruang OSIS

 

*to be Continued*

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s