BREAKOUT! Chap1

‘s.c.h.c.o.o.l edition’

Seven Complicated Hours of Our Life

SPRING^^

–Chap/1—

Ramai.

Kelas berubah sunyi saat seorang guru berbadan besar dan berkacamata tebal dengan rambut awut-awutanmasuk menenteng sebuah setoples kaca dan sebentuk jam pasir.Aku mengenalinya sebagai guru yang tadi pagi memberikan kami plototan maut karena terlambat menghadiri upacara penyambutan murid baru.Dia membanting tasnya di atas meja,lalu menatap kami satu per satu dengan tatapan gusar.

“Pagi ini,aku bangun terlambat,tidak sempat kopi dan lupa membawa dompet,karena itulah suasana hatiku sangat buruk,” katanya. “Walaupun begitu,aku tiba tepat waktu di sekolah.Itu pulalah yang kuharapkan dari kalian semua.Apapun masalah kalian diluar sana,jangan sampai mengganggu urusan sekolah,Aku tidak menoleransi murid terlambat atau pekerjaan rumah yang tidak dikerjakan, camkan itu.” Dia mengulas senyum masam . “Namaku Robi Hardiman.Kalian bisa memanggilku Pak Robi.Tahun ini,aku wali kelas kalian”

Selamat Pagi, Pak Robi.” Secara otomatis, kami semua membeo.

Pak Robi menunjuk jam pasir di sebelah kiri meja. “Jam ini akan menjadi indikasi periode kelas kita.Saat pasir habis,pelajaran berakhir,tak peduli bel sudah berbunyi atau belum. Tidak ada yang meninggalkan kelas,kecuali kuperbolehkan.” Jarinya menyentuh stoples kaca  di sebelah kanan.”Sekarang ,giliran kalian mengambil nomor meja untuk penentuan tempat duduk.Nomor itu adalah takdir kalian selama setahun.Tidak ada pertukaran nomor,tidak ada keluhan ,tidak ada kecurangan,dan tidak ada keributan.Ambil nomor bergiliran ,bawa semua barang kalian dan pindah ke meja sesuai nomor yang tercantum.Kalian akan tetap disana sampai kelas satu berakhir.”

Kami semua berbaris untuk mengambil nomor meja.Beberapa orang berbisik-bisik sembari bertukar pandangan waswas.Mendapatkan teman sebangku memang asyik memang penting.Tahun lalu,aku terpaksa duduk di sebelah murid yang suka mencontek sehingga sepanjang tahun aku harus getol menolak permintaanya untuk memberikan jawaban semasa ujian.Ana sahabatku bahkan lebih sial lagi,teman sebangkunya punya kasus bau badan akut,jadi setiap hari dia membawa sebotol minyak angin untuk menetralkan baunya.Memang terdengar lucu,sampai kau harus mengalaminya sendiri.

Dari tahun ke tahun,penentuan tempat duduk lebih terasa seperti lotre—antara kau beruntung atau tidak.

Ku buka lipatan kertas yang kudapakan dengan perasaan tak menentu.

Nomor tiga belas.

Aku bukan jenis  orang yang mempercayai takdir,kebetulan,apalagi superstisi,tetapi ucapan Pak Robi masih teringiang di kepalaku.Nomor ini adalah takdir kalian selama setahun.Sepertinya ,nomor tiga belas inilah yang yang telah memilihku.

Aku mencari mejaku,melewati Ana yang mendapat tempat duduk di barisan paling depan,di depan seorang gadis berambut coklat yang terlihat sangat muda untuk usianya.Aku berhenti di kursi palingbelakang,persis di samping jendela besar.Seoseorang telah duduk di sana,dengan lengan tertelungkup di atas meja,menyembunyikan wajahnya yang menghadap jendela.Kacanya terbuka sedikit sehingga angin semilir masuk dan membuat rambutnya bergerak-gerak tertiup hembusan angin musim semi.

“Maaf,ini mejaku.Nomor tiga belas.”

Murid itu menoleh,memperlihatkan wajah laki-laki yang tadi pagi menabrakku di bawah pohon sakura,dan memuatku jadi bahan tertawaan selama upacara penerimaan murid baru.

 

AH,SAKURA.

            Aku menghentikan langkah dan mendongak,menyaksikan hujan bunga sakura yang perlahan-lahan berderai menyentuh tanah.Kutengadahkan telapak tangan untuk menangkap helai-helainya yang jatuh tertiup angin.Kelopaknya selalu lembut seperti beledu.

            Sakura yang mekar pada hari pertama masuk sekolah pasti merupakan pertanda baik,aku percaya itu.Lagi pula,masyarakat selalu menganggap mekarnya sakura sebagai awal baru—karena itulah tahun sekolah biasanya bermula pada bulan keempat setiap tahunnya.

            Aku memejamkan mata dan merentangkan kedua tangan,menarik nafas dalam-dalam ,lalu menghembuskannya pelan-pelan.Segarnya…

            Minggu pertama bulan April merupakan favoritku,saat kuncup-kuncup bunga mulai bermekaran,dan berjalan kaki di kota terasa berada di tengah padang bunga yang harum.Jalan setapak menuju SHS Katakura,sekolah baruku,dinaungi oleh pohon-pohon raksasa berbatang kekar,dengan dahan-dahan yang sarat oleh sakura.Ditambah lagi langit biru amat cerah,dihiasi gumpalan awan putih yang menandakan musim dingin telah resmi telah berakhir.

Musim Semi,aku datang!

            Baru sesaat menikmati suasana pagi yang nyaman ini,seseorang tiba-tiba menabrakku kencang dari belakang.Aku kehilangan keseimbangan,lalu terdorong ke depan; untung tak saja tak sampai jatuh.

            Kubuka mata dengan gusar,tetapi sekelilingku telah sepi,padahal tadi masih banyak murid-murid berseragam yang lalu-lalang di sekitarku,Yang terlihat hanyalah sosok murid laki-laki yang sedang berlari sambil sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan aku baik-baik saja.Tubuhnya pendek dan kurus,mengenakan seragam hitam yang serupa dengaku,tetapi miliknya terlihat kebesaran di badannya.Dia terus berlari,tetapi ketika melihatku terpaku di tempat,dia berbalik dan berteriak latang ke arahku. “Hoiii! Kau akan terlambat,Bodoh!!.” Sedetik kemudian sosokmya kembali berlari,lalu menghilang di balik gerbang sekolah yang dicat abu-abu.

            Sudah menabrakku sembarangan,seenaknya menyebutku bodoh!

Sambil bersungut-sungut,kulirik sekilas jam yang melingkar indah di pergelangan tanganku,lantas tersikap.Dia benar,sebentar lagi aku akan terlambat! Seolah meimpali ucapannya ,dari kejauhan samar-samar terdengar dentang bel sekolah yang bergema,membuatku berderap dengan kecepatan maksimal menuju gerbang yang sebentar lagi akan tertutup rapat.Penjaga sekolah paruh baya yang memegang serenceng kunci geleng-geleng kepala saat aku melesat masuk.

 

Dia lagi! Tahun ini,peruntunganku pasti sedang sangat buruk.

Ekspresinya ikut berubah saat melihatku.Dengan senyum lebar yang bagiku mengesalkan,dia mengulurkan sebelah tangan,seperti sedang meminta sesuatu. “Ucapan terima kasih,” pintanya. “Kau berutang ucapan terima kasih kepadaku.Karena aku,kau tak jadi terlambat.”

Aku balas mengulurkan tangan.”Kalau begitu,kau juga berutang permintaan maaf karena telah menabrakku sampai hampir jatuh.”

“Tapi,kau tak jatuh.” Dia mengambil satu langkah mendekat,membuatku reflex mundur selangkah karena risih berdekatan dengannya.Wajahnya begitu dekat dengan wajahku,dan aku dapat melihat warna bola matannya—coklat tua dengan bulu mata yang terlalu lentik untuk seorang laki-laki.Bibirnya yang merah menarik seulas senyum yang membuatku semakin kesal.

“K-kau…kau…” Aku begitu geram sampai tak tau harus berkata apa “Dasar tidak tahu malu!”

Senyumnnya lenyap sekitika. “Dasar tidak tahu terima kasih!”

Deheman Pak Robi yang berwibawa membuat kami berdua berhenti seketika.”Hei,kalian berdua,nomor tiga belas dan empat belas.Tadi dengar aku bilang apa?”

“Nomor ini adalah takdir kalian selama setahun.” Kami berdua membeo malas-malasan.

Pak Robi mendesah. “Itu benar,tapi apa hanya itu yang bisa kalian ingat?Aku tadi bilang aku tak mau ada keributan! Kamu,murid berambut jamur,sebutkan namamu.”

Eh,maksudnya aku? Rambutku memang selalu dipangkas pendek agar praktis,tetapi bukan berarti bentuknya mirip jenis tumbuhan bulat.Anak laki-laki di sampingku terkekeh,tanpa berusaha menutupi bahwa dia merasa semua ini lucu.

Aku merengut. “Namaku Anggita Bramantyo,Pak.”

“Dan kau,murid ber alis rumpun,namamu?”

Kali ini,giliranku yang tertawa.Ya,ya,alisnya memang mirip rumpun!

Dia bilang namanya Angga Saputra.Tawaku langsung berhenti.

“Anggi dan Angga.Nama kalian saja mirip,seperti kembar.Jadi,berbaik-baiklah sampai akhir kelas satu.Setelahnya,aku tak peduli apa yang kalian lakukan,

Mengerti?”

Sambil bersungut-sungut,kami mengambil tempat duduk masing-masing.Bocah bernama Angga itu masih mengamatiku lekat-lekat.

“Oi,sesama orang yang namanya mirip,” bisiknya. “Kau tak percaya dengan yang namanya takdir,ya?”

Sebelum aku sempat menjawab,dia sudah kembali membenamkan kepala di atas lengan,lalu memejamkan mata.Tak lama kemudian,kulihat dia sudah tertidur.Dasar aneh.

Hari pertama sekolah,dengan teman sebangku berupa anak laki-laki iseng beralis rumpun,dan meja nomor tiga belas.

 

Lengkap sudah kesialanku!

.

.

.

.

WHAT A STRANGE THING!

TO BE ALIVE

BENEATH CHERRY BLOSSOMS.

-KOBAYASI ISSA-

Created by: – Enaena –

Iklan

Satu tanggapan untuk “BREAKOUT! Chap1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s