“Directions The Love and Its Reward”, Part 6

“Eh bu, ini bakso pesenan masnya itu kan? Ucap gadis itu menunjuk pada seorang pemuda yang sedang bercanda ria bersama para gadis.

“Iya mbak, kenapa ya?” tanya ibu kantinnya.

“Gue punya rencana” batin gadis itu.

“Eh-eh mbak mau diapain itu pesenan baksonya?!” Ibu kantin sedikit terkejut. Gadis itu mengambil banyak sekali sambal dan juga menghabiskan separuh botol saos, memasukannya ke dalam bakso tersebut.

“Ssstttt…. udah ibu diem aja” gadis itu mengambil selembar uang kertas merah dari dompetnya. “Ini bu, tolong diem aja.” Ibu kantin hanya mengangguk dengan ragu, masih juga dengan raut wajah ketakutan. Gadis itu kemudian pergi tak terlalu jauh, mungkin dia sedang mengawasi atau mungkin ingin melihat reaksi pada cowok yang sedang ia kerjai.

“Ini balesan buat lo, Rendy. Jadi cowok tuh jangan sok makanya” seringai gadis itu.

*****

Di meja lain, para kakak kelas terkhusus ekskul basket dan juga futsal sedang berkumpul. Ya memang seperti itu kekompakan dan kebiasaan mereka yang selalu nongkrong bersama saat jam istirahat. Ada sekitar 10 anak basket dan juga 10 anak futsal yang duduk bersebelahan meja. Sekedar nongkrong, bahas latihan, atau semacamnya.

Di meja anak-anak ekskul basket…

Seorang pemuda dengan kacamata sedang berjalan menunduk membawa sebuah buku. Dengan sengaja, ada seseorang yang memang punya niat buruk pada pemuda itu. Ia sengaja menyandung kakinya agar terjatuh.

“Aduhh!!!” erang pemuda itu. Dia tahu kalau ini memang perbuatan teman kelasnya yang selalu saja membullynya.

“Eh culun! Kalo jalan tuh liat-liat. Pake mata! Mata lu kan banyak. Itu dimuka udah ada 2, di tangan 2, di kaki juga dua. Biar nggak kesandung, lu mesti gunain mata kaki lo!” orang berbadan paling kekar diantara anak ekskul basket menoyor remeh anak dengan kacamata itu. Anak itu hanya tertunduk lesu, mengetahui dirinya akan menjadi korban pembullyan lagi hari ini.

“I-iya Dik, maaf” ucapnya ketakutan sambil bangun.

“Eh To, ambilin pesenan gue dong” ucap pemuda yang tubuhnya lebih kekar dan lebih besar itu.

“Tap-tapi Dikta…” Anto agak ragu dan takut, padahal itu adalah temannya sendiri.

“Lo mau ngelawan gue hah! Belom puas lo gue pukulin?! Mau gue hajar lagi lo sampe jadi ikan teri!” marah cowok dengan badan kekar bernama Dikta itu.

“I-iya” Anto berjalan dengan lebih hati-hati kali ini.

“Eh jangan lupa, pesenan gue bakso!” ucap Dikta.

“Lu nggak kasian sama tuh anak Ta?” tanya Refal.

“Heh, anak kayak gitu pantesnya dijaiin pesuruh kita” ucap David

“Biarin aja, gue bebas kan di sini?” ucap Dikta dengan sombong menunjukkan mimik muka arogannya.

“Yoi!” jawab semua anak ekskul basket.

“Secara kan Dikta anak donatur terbesar di sekolah ini. Jadi bebas lah” ucap Rony.

“Bener banget tuh bro” ucap Dikta.

—o0o—

Ibu kantin melambaikan tangannya kepada Rendy tanda pesanan mereka sudah siap. Rendy mengangguk dan hendak pergi.

“Eh aku ikut Ren” ucap Lidya memegang tangan kanan Rendy.

“Aku juga” Shani juga ikut, ia memegang tangan kiri Rendy berharap diperbolehkan.

“E-eh ya, ya. Tapi lepasin dong, nggak enak nih diliat yang lain” Rendy hanya salah tingkah. Mereka mengambil pesanan tersebut.

“Kita bagi tugas aja ya. Shani bawa nasi goreng 2 sama es teh 2, Lidya bawa mie ayam 2 sama es jeruk 3. Sisanya aku bawa bakso 3, dan 3 jus alpukat.”

“Oke” jawab mereka berdua bersamaan. Dengan sedikit estafet mereka membawanya hingga tersisa pesanan yang harus Rendy bawa.

“Mau aku bantuin?” tawar Shani.

“Udah nggak usah Shan, kamu sama Lidya duluan duduk aja. Ntar aku nyusul, bisa kok aku bawa sisanya” Langsung saja Rendy membawa bakso yang telah ia pesan itu tanpa melihat dan menghiraukan itu pesanannya dan membawanya ke meja Yona dan teman-teman.

*****

Anto berjalan mengambil pesanan, dan sempat berpapasan dengan seorang pemuda tampan yang tak dikenalnya membawa sebuah pesanan.

“Yang mana ya pesenannya?” Anto bingung. “Ah tadi bilang bakso! Mungkin yang ini” pikirnya melihat sebuah mangkok berisi bakso. Langsung saja dia ambil tanpa menghiraukannya.

Dia kembali ke meja Dikta dan para anak ekskul basket untuk memberikan pesenan Dikta.

“Ini Dik” ucapnya dengan gugup memberikan bakso itu.

“Dari mana aja sih lu?! Lama banget! Udah sono lu” ucap Dikta kasar. Anto hendak berjalan beberapa langkah.

“Udah laper daritadi juga” langsung saja ia mencicipi bakso pesanannya yang dibawakan Anto.

“Hsssttt…. Huekkk!!! Bakso apaan nih!!! Pedes banget!!!” Dikta langsung berdiri mencengkram kerah baju Akto yang baru 3 langkah akan pergi meninggalkan meja anak-anak ekskul basket. “Eh-eh kenapa Dik?” tanya teman-temannya Dikta.

“Lu mau bales dendam sama gue?! Lu sengaja ya mau bikin gue sakit perut!!!” Dikta marah dan langsung melancarkan pukulan terhadap Anto. Kacamata Anto terlempar dan dia hanya bisa memegangi pipinya yang memar.

“Bu-bukan aku Dik, sumpah beneran” Anto mencoba menjelaskan apa adanya kalau itu bukan perbuatannya.

“Weh parah nih anak Dik, kita kasih pelajaran nih harusnya” David berdiri dan menganggukan kepalannya pada beberapa anak ekskul basket pengikut Dikta, pertanda mulai ‘pelajaran’ yang dimaksud.

CTAKKK!!! KRTEK!!!

TAKKK!!!

CTARRR!!!

Dikta mendekat dan menginjak kacamata Anto hingga pecah. “Kita mulai dari mana guys?” Dikta tersenyum licik penuh arti sambil meregangkan jari-jari tangannya.

~~~

“Gue nggak sanggup liatnya” Author menutup mata dengan bantal. “Gue nggak bisa liat yang di bawah umur kayak beginian.”

“Woi-woi! Lu kira ini adegan seksual, porno, atau semacemnya gitu?!”

“Oh bukan ya? +_+” tampang tak berdosa Author.

“Bukan!!!”

“Ya udah, gue mau balik ke bintang dulu ya~” ^^~

“Mau ngapain?”

“Loh, bukannya ini kisah ‘My Love from The Star’ ya?”

“Bukan!!!” Author langsung saja lari dengan jurus kaki seribu karena ditimpukin kerikil sebanyak 7 kali. “Biasa, ritual lempar jumroh buat ngusir setan di tengah-tengah adegan kayak si Author.”

“Oke para Reader bisa dilanjutkan” ^_^~

~~~

“Kenapa lagi tuh Zal?” tanya seorang pemuda yang sedang bermain bass dengan gitarnya melihat kericuhan yang dibuat anak ekskul basket.

“Paling si Dikta bikin ulah lagi” ucap seorang pemuda satunya dengan stick dramnya.

“Kita nggak bisa bertindak, udah liat dari sini aja. Lu berdua tau kan Dikta siapa di sekolah ini?” kedua pemuda itu mengangguk mengerti akan omongan pemuda yang sedang fokus pada laptopnya.

“Yang penting kita nggak usah ikut campur, kewenangan guru juga nggak terlalu berarti.” Ucap pemuda dengan ekspresi cool masih memperhatikan layar laptopnya.

“Lu bener juga Zal. Bisa-bisa kita ntar kena masalah” ucap salah satu orang di ekskul futsal itu.

“Bener tuh” sahut yang lainnya.

“Kita lihat” batin Rizal.

—o0o—

Di meja Rendy dan kawan-kawan…

Mereka telah selesai menyantap makanan mereka masing-masing.

“Aduh kenyangnya” ucap Yona sambil mengelus-ngelus perutnya. Yang lainnya juga mengangguk satu suara dengan Yona.

“Hamil berapa bulan Yon?” tiba-tiba muncul seekor nyamuk hap lalu ditangkap *eh bukan-bukan. Maksudnya muncul seorang gadis tembem dengan sweater panda yang ia kenakan menambah kesan lucu padanya.

“Eh Sinka!” Ucap Yona dan yang lainnya kaget.

“Ke kantin nggak ngajak-ngajak lagi” gadis itu memasang muka cemberut yang menggemaskan.

“Ntar kalo diajak kamu abisin semua makanannya Dudutku. Lagian dari mana aja sih?” tanya Hanna dan yang lainnnya.

“Iya dari mana aja sih lu Sin?” tanya yang lainnya.

“Biasa tuh, kakak gue. Tau hari ini demo ekskul kan, nah terus gue disuruh daftar 2 ekskul sekaligus hari ini” Sinka memasang muka bete dan duduk di kursi kosong meja itu bersama yang lainnya.

“Ekskul apaan aja?” tanya Yona.

“OSIS sama idol grup” jawab Sinka.

“OSIS?” tanya Shafa heran.

“Iya kan secara kakaknya Sinka kan juga anak OSIS, wakil ketua lagi” ucap Hanna.

“Eh tapi yang ekskul idol grup itu apa? Kayak gimana?” tanya Lidya, yang lainnya penasaran, sedangkan Rendy dan Shani hanya medengarkan dengan seksama.

“Nih, liat aja katalog semua ekskulnya” ucap Sinka memberikan sebuah buku berisi daftar dengan isi,visi, dan misi semua ekskul.

“JKT48?” Tanya Viny. Sinka hanya mengangguk sambil meminum jus alpukat pesanannya.

“Sebuah Idol grup sister dari Jepang yaitu AKB48. Grup idol lokal yang pertama kali di Asia. Syarat pandai menyanyi,menari,dan berakting. Yang ingin ikut bisa berkumpul di aula sekolah.

NB : Pengalaman tidak dibutuhkan

Warning! : Hanya untuk siswi perempuan” semuanya ikut membaca katalog tersebut.

“Kayaknya bagus juga nih ekskul” ucap Lidya.

“Ya udah kita putusin, ikut semua ya!” ucap Yona menyemangati teman-temannya.

“Oke!” semangat semuanya kecuali Rendy dan Shani.

“Kamu ikut nggak Shan?” tanya Rendy pada Shani yang sedari tadi hanya diam.

“Hmm… nggak tau juga sih Ren, aku nggak pinter-pinter banget nari atau nge-dance. Nanti aku pikirin dulu deh, moga aja temen-temen aku mau ikut ekskul ini” ucap Shani.

“Oh gitu ya. Baguslah” Rendy hanya tersenyum pada Shani.

JDUAKKK!!!

“Apaan tuh?” Rendy berdiri untuk melihat keadaan tersebut.

“Eh kenapa sih itu?” tanya yang lainnya. Sontak seluruh isi kantin *terkecuali bangku,meja,taneman,buah,sayur-sayuran, pokoknya benda-benda mati nggak lah. Sedang memperhatikan kericuhan yang terjadi. Terlihat seorang cowok sedang terkena baku hantam dari beberapa cowk bertubuh kekar. Mereka memukuli dan sempat meninju cowok itu hingga terpental dan membentur meja kantin yang membuat meja kantin itu patah.

“Rasain lo!!!” ucap cowok yang paling depan. Sepertinya dia adalah bos atau profokator dari kejadian baku hantam ini. Cowok yang terhantam itu mencoba bangun dengan memegangi perutnya.

“Uhuk…uhuk…” dia mengelurakan beberapa tetes darah dari mulutnya.

“Aduh!!! Gagal! Gagal! Rencana aku. Duh malah jadi kacau lagi. Niatnya mau ngerjain tuh anak, eh malah salah sasaran lagi” ucap seorang gadis yang masih mengawasi di area sekitar kantin itu sambil mengehentak-hentakkan kakinya.

“Itu Dikta kan? Anak donatur terbesar di sekolah ini sekaligus kapten tim basket SMA 48 Jakarta” ucap Shafa meyakinkan.

“Iya bener Shaf, itu emang Dikta” ucap Hanna.

“Pembullyan lagi ya? Emang guru nggak punya wewenang mencegah apa?” ucap Viny kesal.

“Iya tuh” Dhike ikut mendukung Viny.

“Dikta dari kelas X-A.Wewenang guru nggak terlalu berarti sama Dikta. Soalnya Dikta anak donatur terbesar sekolah ini. Dia emang udah sering melakukan pembullyan kayak gitu semenjak pertama kali masuk sekolah kita ini” ucap Sinka masih fokus meminum jus alpukatnya.

“Berarti dia sekelas sama aku dan Shani dong?” tanya Rendy dan yang lainnya hanya mengangguk.

“Eh bentar-bentar. Kayaknya aku pernah liat dia” Shani mengingat-ingat. “Oh iya, dia kan siswa yang duduk paling belakang pojok kanan dan suka bikin keributan di kelas itu.”

Rendy berjalan mendekati Dikta dan beberapa anak ekskul basket.

“Eh… mau kemana Ren?” tanya Shani dan Lidya bersama. Mereka nampak khawatir dengan apa yang akan dilakukan Rendy.

“Tenang, aku cuma ke sana sebentar kok” Rendy hanya membalas dengan tenang dan kembali berjalan. Mereka semua cemas.

*****

“Eh eh, itu anak siapa? Berani bener?” tanya seseorang yang membawa gitar di tangannya.

“Rendy” balas seseorang yang masih fokus menyantap makanannya.

“Lu tau darimana om Gun” tanya seseorang yang membawa stick drum.

“Dia temen sekelas gue” ucap Guntur santai.

“Kita lihat, apa nyalinya sebesar pembuktiannya” ucap Rizal yang kini mengalihkan pandangannya pada pemuda itu.

—o0o—

Anto masih memegangi perutnya dan berdiri dengan membungkuk menahan rasa sakit. Dengan sigap Dikta bersiap melancarkan pukulannya lagi.

TAP!

 

Ada seorang pemuda yang tiba-tiba menghalangi pukulannya. “Berhenti, jangan beraninya keroyokan” ucap pemuda itu dengan ekspresi wajah cool dan tenangnya.

“Sialan! Emangnya lu siapa? Nyali lu gede juga” dengan cepat Dikta melancarkan pukulan lagi dengan tangan kirinya.

Dari kejauhan…

“Aduh gimana ini?! Makin kacau urusannya” ucap gadis itu gelagapan menghentak-hentakan kakinya untuk mencari solusi.

“Sebenarnya, Dikta itu ahli Muay Thai” ucap Sinka kini memperhatikan Rendy. Yona dan yang lainnya masih memperhatikan

“APA?! Aduh gawat!” Yona panik kalau-kalau terjadi sesuatu pada Rendy. Shani dan Lidya serta lainnya juga merasa khawatir.

“Semoga nggak terjadi apa-apa sama Rendy” batin Shani.

“Semoga kamu nggak kenapa-napa” batin Lidya.

*****

TAP!

Pukulan kedua Dikta ditangkis oleh pemuda itu. Langsung saja ia plintir dan tendang Dikta pada bagian perutnya.

“Akhkkk!!!” Dikta kesakitan.

“Heh, hebat juga lo Einstein cilik. Temen-temen” Dikta mengisyaratkan. “Maju!”

“Formasi!” ucap David.

“Itu formasi Killer Snake. Nggak pernah ada yang bisa lolos dari kepungan itu” ucap Sinka membuat yang lainnya semakin khawatir. Sementara para anak kelas lainnya masih terbengong memperhatikan dengan rasa takut, bahkan sebagian sudah ada yang pergi dari kantin.

“Mati lo!” David memberi aba-aba keempat temannya.

“Trhee Hoechook” Rendy langsung merubah posisi tubuhnya. Ia tapakkan tangan di tanah dan melakukan putaran tendangan itu. Ia lancarkan putaran tendangan itu dengan dorongan angin.

JDAK!!!

DAK! DAK! DAK!

JDUAK!!!

Semuanya terpental, ada yang membentur meja dan ada yang membentur dinding. Rendy masih berdiri tenang dan dalam keadaan membelakangi Dikta. David maju dari depan dan mencoba memukulnya. Rendy menghidar dan memukul tengkuknya. Sementara keempat teman David sudah bangun. Mereka melancarkan serangan dari satu arah yang sama. Hasilnya nihil, tidak ada sama sekali satu pun seragan yang mengenai Rendy

“Wih! Hebat bener tuh temen lo om Gun” ucap Sagha.

“Temen siapa dulu?” ucap Guntur masih fokus melahap mie gorengnya.

“Dianya yang hebat om Gun, bukan elunya” ucap Sagha.

“Lah, nggak baik kebanyakan makan mie goreng om. Ntar usus lu melilit” ucap Sagha.

“Alah, paling diminumin Combantrin juga sembuh.”

“Itu obat cacingan anjir!!!”

“Bela diri macam apa itu?” batin Rizal.

*****

“Sebenernya lo siapa?” batin Refal

Kembali ke pertarungan… *ah bahasanya terlalu. Perkelahian dah gitu aja.

Rendy melancarkan pukulan lagi pada empat orang itu. Tanpa Rendy sadari, Dikta maju untuk memukulnya secara tiba-tiba dari arah belakang, selagi Rendy masih folus menghadapi keempat anak buahnya.

“Rasain nih!!!” Dikta hendak melancarkan pukulannya. Tapi…

DUK!!!

“Apa?! Pukulannya nggak kena?” ucap Yona.

“Eh liat siapa tuh?” ucap Viny.

Dengan sigap Rendy berbalik dan menopang tubuh gadis itu.

“Dasar pengecut! Beraninya mukul cewek!” Rendy berdiri dan memukul Dikta. Dikta mengelap darah yang keluar dari mulutnya.

“Awas lo lain kali!” ancam Dikta. “Yuk guys” isyarat Dikta pada teman-temannya.

Yona dan kawan-kawan langsung mendekat.

“Eh bangun dong?” Rendy menepuk-nepuk pipi gadis itu pelan. “Itu bantuin yang di sana juga” ucap Rendy menunjuk cowok yang terkapar akibat pembullyan Dikta. Lidya disusul Shafa, Dhike, dan Viny mendekati cowok itu.

“Kamu nggak papa” tanya Lidya.

“Egghhh… ma..kasih” cowok itu masih lemah.

“Langsung dibawa ke UKS aja” ucap Shani. Dengan sigap, Rendy menggendong gadis itu dengan gaya Bridal Style agar lebih mudah. Sedikit berlari-lari kecil bersama Shani, Yona, Sinka, dan Hanna. Sementara cowok itu, tubuhnya ditopang oleh Lidya dan Viny menuju ruang UKS.

Setelah agak cukup lama, akhirnya mereka sampai di UKS.

“P3K Shan” ucap Yona. Langsung saja Shani mengambil P3K. Sebagian lainnya langsung mengambil air hangat untuk mengompres luka. Rendy langsung saja menidurkan gadis tersebut di kasur ruang UKS *kode keras, bukan meniduri *plak. Sedangkan Viny dan Lidya langsung mendudukkan cowok itu di kasur lain ruang UKS.

Langsung saja Viny dan Lidya mengompres luka-luka yang ada pada tubuh cowok itu.

“Sssttt aw! Sakit. Pelan-pelan” cowok itu sedikit mengerang kesakitan.

“Oh sorry, nggak sengaja” ucap Viny yang mengompresinya.

“Shan, itu luka di pelipisnya langsung di kompres. Memar tuh” ucap Rendy.

“Iya” ucap Shani langsung mengompresi pelipis gadis itu dengan perlahan.

“Yon, ambilin minyak angin” ucap Rendy.

“Kamu kira minyak ada yang berwujud gas?” ucap Yona.

“Ini anak ngartiin perkataan secara harfiah atau emang otaknya lagi konslet? -_-“ batin Rendy.

“Apa kek, minyak kayu putih” ucap Rendy.

“Nah gitu dong, bilang dari tadi. Tunggu bentar, aku cariin di kotak P3K” ucap Yona.

Shani masih mengompresi gadis itu. “Kamu nggak kenapa-napa Ren? Ada yang sakit atau memar?” tanya Shani.

“Enggak ada kok, Cuma luka biasa” ucap Rendy.

“Eh tapi liat tuh, pelipis kamu berdarah” Shani khawatir. Shani kini berganti ingin mengompresi Rendy.

“Eh-eh nggak usah repot-repot Shan. Aku bisa sendiri” ucap Rendy.

“Udah nggak usah banyak protes. Diem, nurut aja dan jangan gerak biar nggak sakit.” Ucap Shani dan Rendy hanya menurut saja.

~~~

“Asik nih, masuk adegan hot nya ~_~” Author datang lagi dengan pesawat aliennya.

“Ah sialan, pikiran lu terlalu kotor” ucap Rendy.

“Lah itu kalimatnya bikin gue gimana gitu. Yang kaya gini nih ‘Diem, nurut aja dan nggak usah banyak gerak’ kalimatnya sangat membuat halusinasi filter imajinasi gue tingkat dewa.”>_<

“Udah mendingan lu pergi aja karena lu membuat suasana nggak enak. Pemikiran lo jangan sampe nular ke yang lainnya” Rendy mendorong-dorong Author ke dalem kockpit pesawatnya. Dia masukan author ke tempat jumper.

“Bye Thor~ semoga lu sampe ke bintang kayak ‘My Love From The Star’ dah ^^” Rendy memencet tombol Reject dan Author terpental ntah kemana

~~~

Perlahan Shani mengobati pelipis Rendy dengan hati-hati. Membersihkan sedikit darah dan meringankan luka memarnyanya.

“Ssstt aw! Aduh sakit Shan” Rendy memegang tangan Shani. Pandangan mereka bertemu. Saling menatap mata dalam-dalam. Rendy sangat deg-degan begitu pula Shani hingga wajah Shani memerah tersipu malu. Cukup lama hingga…

“Eh, ini UKS woi! Nih minyak kayu putihnya” Yona membuyarkan tatapan mereka berduaa.

“Eh-eh i..iya” jawab mereka bersamaan dengan masih gugup.

“Langsung aja dikasih ke Yuvia, Shan” Shani hanya mengangguk.

“Kok aku deg-degan banget sih? Apalagi tadi pas… ah! Udah!” batin Shani menjerit dalam hati.

“Itu anak kenapa, kayak nahan emosi” Rendy keheranan dengan sikap Shani.

“Nggak tau juga tuh Ren” balas Yona.

Sementara di bagian lain, Dhike,Viny,Shafa, dan Lidya tengah sibuk memplester beberapa luka di tangan,kaki, hingga wajah cowok tersebut.

“Kamu kenapa bisa diginiin sih?” tanya Lidya.

“Itu kebiasaan mereka dari dulu sama aku. Aku dijadiin pesuruh, terus kalo aku salah atau nggak bener, aku jadi uhuk… korban bully mereka” ucap cowok itu.

“Mereka semua siapa?” tanya Viny.

“Dikta dan kawan-kawannya, anak ekskul basket.”

“Apa semua anak ekskul basket?” tanya Dhike.

“Nggak semua, Cuma pengikut Dikta aja.”

“Ngomong-nggomong, nama kamu siapa?”

“Aku Anto Teo dari kelas X-D.” Anto mencoba bangkit.

“Eh-eh mau kemana?”

“Aku mau berterima kasih sama orang yang udah nolongin aku.” Anto berjalan mendekati Rendy.

“Bro, makasih ya tadi udah nolongin gue uhuk…” Anto berterima kasih pada Rendy.

“Eh i…iya nggak masalah kok. Gue Cuma nggak suka aja ada pembullyan kayak gitu, apalagi mainnya keroyokan” ucap Rendy.

“Dan buat semuanya juga yang nolongin gue. Gue ucapin terima kasih. Suatu saat kebaikan kalian bakalan gue bales. Gue pamit ke kelas dulu” ucap Anto kemudian pergi meninggalkan UKS.

“Kasian banget yah” ucap Shani.

“Yah gitu lah Shan. Mau sekolah di tingkat se-elite apa pun pasti ada siswa atau siswi yang nakal” ucap Rendy.

“Hmm…  aduh” gadis itu memegangi kepalannya yang terasa agak pusing. “Di mana aku?” tanyanya hendak mencoba duduk.

“Kamu di UKS sekolah” ucap Shani.

“Gak usah banyak gerak dulu. Makasih tadi udah nolongin aku” ucap Rendy.

“Emang tadi ngapain sih? Kok bisa gitu?” tambahnya lagi.

“Anggep aja ini bales budi gue ya karena lu tadi nolongin bersihin toilet” Yuvia menyidekapkan tangannya.

“Ya deh iya, tapi nggak sampe segitunya juga” Rendy mengelus puncak kepala Yuvia pelan. Seketika wajah Yuvia memerah.

“Eh?! Udah ah kita balik ke kelas aja. Nggak betah nih di sini” ucap Yuvia mengajak Shani dan Rendy pergi. Sebenarnya, ia sedang mencoba tidak salah tingkah dengan mengganti topik pembicaraannya.

“Yon, guys, kita balik ke kelas yuk. Udah pada agak mendingan nih. Bentar lagi juga mau bel masuk” ucap Rendy.

“Oke” jawab mereka bersamaan. Satu per satu mereka keluar dan berpamitan, menyisakan Rendy,Shani, dan Yuvia.

Yuvia mencoba bangkit tapi…

“Aduh! Sstt…” Yuvia meringis kesakitan. Dengan sigap, Rendy menahan tubuhnya.

“Kalo nggak kuat tuh bilang, kalo gini susah jadinya” Rendy membantu Yuvia duduk kembali.

“Halah kesempatan aja lu, mau modusin gue lagi palingan” Yuvia berdecak.

“Terserah, Shan mendingan kita tinggalin aja dia” Rendy menarik tangan Shani.

“Eh eh! Tungguin gue dong. Kaki gue sakit nih! Huhuhu…” rewel banget nih cewek.

“Shan, kamu duluan ke kelas aja ya” ucap Rendy. Shani hanya mengangguk. Sementara itu, Rendy berbalik menuju UKS lagi.

“Udah ah jangan berisik” Rendy membungkuk.

“Eh mau ngapain?!”

“Yuk aku gendong ke kelas” ucap Rendy.

“Nggak mau!” tetap berdecak teguh.

“Ya udah, di sini aja. Mana aja tau di sini UKS nya angker. Mungkin juga ada semacem hewan kayak uler,kelabang,kalajengking,cicak, banyak deh pokoknya. Dah, aku ke kelas dulu” Rendy hendak pergi lagi.

“Huhuhu… aku takut! Ih nyebelin! Ya udah cepetan jongkok” Yuvia akhirnya mau, sedangkan Rendy hanya tersenyum tipis.

“Dasar anak kecil.”

“Biarin wlee :p” dia hanya menjulurkan lidahnya da kembali ke kelas.

“Ntar kalo udah sampe kelas, tolong turunin di depan aja. Jangan masuk sambil gendong, nggak enak diliatnya.” Ia masih cemberut.

“Iya lah terserah. Bawel banget sih.”

Setelah cukup lama, akhirnya mereka sampai di kelas. Seperti yang dibilang Yuvia tadi bahwa Rendy menurunkannya di depan kelas.

KRINGGG!!!

“Untung nggak telat” Rendy sedikit tenang.

“Dasar, lama banget jalannya.” Yuvia jutek.

“Yang berat itu siapa?”

“Dasar gendut” Tambah Rendy dengan nada mengejek.

“Gendut dari mana?! Lu tuh yang nggak ada tenaganya!” Yuvia mengelak.

“Udah lah diem aja. Males kelamaan ribut.” Rendy berjalan santai menuju bangkunya.

“Lama banget lu? Abis ngapain aja?” tanya Guntur.

“Insiden Tur, biasa” ucap Rendy dan ia fokus ke depan karena gurunya sudah datang.

“Eh ngomong-ngomong, lu rencana ikut ekskul apaan?” tanya Rendy.

“2 sih, basket sama futsal” Guntur ikut fokus.

“Emang ekskulnya apaan aja sih?” tanya Rendy.

“Banyak sih. Kayak basket,futsal,fotografer,voli,jurnal,paskibra,PMR,tennis,badminton…”

“Buset, banyak amat.”

“Elite bro, elite” kata Guntur.

“Gue denger-denger nih ya, ada ekskul baru. Tapi khusus buat cewek.”

“Iya gue juga tau. JKT48 kan?”

“Lu tau darimane? Kan cuma anggota OSIS aja yang tahu. Gue aja tahunya dari anak kelas X-B” ucap Guntur.

“Gue nggak tahu dia anak kelas mana, tapi siapa namanya gue agak lupa gitu. Sin-sin…”

“Sinka!!!” ucap Guntur membenarkan.

“Nah iya tuh, namanya yang itu” ucap Rendy.

“Ya jelaslah bro. Dia itu adiknya anggota OSIS. Lagipula dia juga udah ditunjuk buat jadi OSIS ngebantuin anak kelas XI”.

“Kok lu tahu?”

“Temen gue anak X-B juga sama kayak Sinka” Guntur membenahi bukunya.

Saking fokusnya ngobrol, mereka sampai lupa bahwa pelajaran telah usai.

“Baik anak-anak, sekian untuk hari ini kegiatan KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) belum terlalu efektif karena masih minggu-minggu pertama. Sebelum itu, ibu ada pengumuman sebentar” guru itu mengambil beberapa lembar kertas HVS yang terdapat sebuah pemberitahuan.

“Ketua kelas di kelas ini siapa ya?”

“Guntur BU!!!” ucap satu kelas.

“Lah, KENAPA JADI GUE!!! Milih aja belom?!” Guntur mengeluh.

“Udah lah, gue mah percaya ama lu om Gun” ucap pria dibelakang Guntur.

“Kampret, nasib dah” ucap Guntur.

“Terus wakilnya siapa?

“Rendy BU!!!” Guntur berteriak sangat kencang.

“Ya sudah, tolong bagikan ini pada seluruh anak di kelas” Rendy dan Guntur maju mengambil selembaran kertas dan membagikannya pada semua murid di kelas.

Saat membagikan pada Shani.

“Makasih” Shani terseyum manis. “Sama-sama” jawab Rendy. Rendy hendak pergi melanjutkan membagikan kertas selembaran itu. Tapi Shani menarik bajunya.

“Please, aku mau bantu.”

“Ta-tapi…”

“Udah nggak papa” Shani mengambil sebagian kertas yang dibawa Rendy dan ikut membantu membagikannya.

“Enak banget idup lo Frankeinstein.” Ucap Guntur iri.

“Lah mana gue tahu Tur. Panggilan macam apa itu?” +_+

“Frankenstein itu bodoh.”

“Ya maka dari itu gue gabungin. Bodoh tapi Cerdas. Jadinya Frankeinstein.”

“Serah, lanjut bagiin sono”.

Setelah 5 menit akhirnya seluruh anak di kelas sudah mendapatkan kertas selembaran itu masing-masing.

“Jadi begini. Karena berhubung ini masih awal-awal, anggota OSIS mengajukan proposal untuk membuat acara.”

“Kemah?”

“Ya benar. Perkemahan di Bumi Perkemahan Garut, Jawa Barat untuk memperingati pergantian dan liburan musim panas.” Jelas guruitu menerangkan.

“Asik nih kayaknya om” ucap seorang cowok dibelakang meja Guntur dan Rendy.

“Asik pala lu peang! Banyak serangga” Guntur mengubah ekspresinya dengan gemetar ketakutan.

“Lah kenapa Tur?” tanya Rendy padanya.

“Itu, si om Gun takut sama serangga. Oh iya dari tadi kita belom kenalan. Gue Rio Edy Waluyo. Temennya ini anak dari SMP” ucap cowok itu.

“Rendy, salken bro” ucap Rendy akrab.

“Masa lu takut serangga Tur?”

“Gue kagak takut, tapi gue geli njir” -_-

“Alah, alesan aje lu om” Rio ikut andil berbicara.

“Ya sudah. Kalian beritahukan surat ini kepada orang tua atau wali kalian masing-masing. Jangan lupa juga untuk persiapan, karena tertulis di selembaran itu bahwa OSIS juga mengadakan ekpedisi malam dan beberapa game. Perbanyak istirahat untuk besok ya anak-anak. Sekian dan selamat siang!” Guru itu keluar meninggalkan kelas.

Shani mendekat pada Rendy.

“Hmm… anu Ren. Boleh aku minta kontak kamu?” Shani tersipu malu.

“Oh boleh kok. Nih di scan sendiri ya” Rendy memberikan HPnya pada Shani. Shani menscan kode batang milik Rendy.

“Makasih ya” Shani mengembalikan HP milik Rendy kembali.

—o0o—

Di kelas lain…

Tepatnya di kelas X-C

“Vin, OSIS ngadain ekspedisi malem ya? Itu kayak gimana?” tanya Dhike karena tahu kalau Viny itu adalah salah satu kelas X yang diagkat menjadi anggota OSIS untuk membantu kelas XI

“Biasa, paling Cuma muterin buper mencari hingga 10 pos. Sama api unggun juga, palingan Cuma gitu, tapi yang tau pasti itu anggota OSIS kelas XI” jelas Viny.

“Kayaknya bagus juga nih Lid, kemah di buper Garut” ucap Yona.

“Iya Yon, katanya pemandangan di sana bagus, udaranya juga sejuk, nggak kayak di Jakarta” balas Lidya.

—o0o—

Di kelas X-B

“Zal, ntar jadi kan kita demo ekskul futsalnya.”

“Jadilah Bran” balas Rizal.

“Yoi! Ntar kumpulin anak-anak dimana?”

“Di lapangan futsal aja kayak biasa”

“Oke deh sip. Lah terus yang ekskul basket gimana?”

“Udah diurus sama Dikta dan lainnya” ucap Rizal

“Tapi Zal, gue takut ntar ada yang kagak bener” ucap Gibran gelisah.

“Tenang, adak kak Refal dan kak Dion serta kakak kelas lainnya kok di sana. Rio dan Guntur juga bantu, nggak usah terlalu khawatir. Kalo dia bikin masalah, ntar kita tinggal turun tangan” Rizal meyakinkan teman-temannya.

—o0o—

KRINGGG!!!

KRINGGG!!!

KRINGGG!!!

“Udah bel tuh, yuk kita ke lapangan. Demo ekskul katanya di sana.”

“Tungguin gue Tur” ucap Rendy disusul Rio. Langsung saja mereka mengemasi barang-barangnya dan mengikuti Guntur.

Sambil berjalan-jalan mereka sedikit berbincang.

“Lu ikut ekskul apa Yo?” tanya Rendy.

“Gue sama kayak si Guntur, tapi gue juga ikut satu ekskul lain juga” balasnya.

“Apaan?” tanya Guntur.

“Rahasia dong.”

“Kalo lu apaan Ren?” tanya Guntur.

“Gue kayaknya futsal,basket,fotografer kayaknya” jawab Rendy. “Tapi kok nggak ada ekskul musik ya?” tanya Rendy lagi.

“Ya emang sih kayaknya sekolah kita nggak ada ekskul musik. Tapi adanya Paduan Suara” balas Rio.

“Oh gitu, tapi kalo mau bikin Band boleh kok”  ucap Rio lagi.

“Iya, tuh kayak si Dikta, ikutan bandnya kakak kelas” ucap Guntur.

“Nama band nya apaan?” tabya Rendy.

“BEATTEN BOYS”.

*****

“Yuk guys, kita main-main sama anak-anak baru” Dikta tersenyum licik.

“Kalo lu ikut ekskul ini, berarti lu bakalan gue abisin…

…Einstein”

-To Be Continued-

Created By : rezalical

Sorry nih guys, kayaknya part ini agak ngebosenin. Sorry kalo masih ada typo. Komentar,kritik, dan saran perlu asupan +_+

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

11 tanggapan untuk ““Directions The Love and Its Reward”, Part 6

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s