Serangan Titan : Kapten Ulung, Part 7

Ternyata rekan Kapten Ulung selama ini adalah Naomi. Tidak disangka,
bagaimana mungkin ia masih hidup setelah dimakan Titan? Setelah itu,
Kapten Ulung dan Naomi kembali terbang dengan 3DMG milik mereka.

Mereka sangat mahir menggunakan alat 3D Manuever Gear yang ada
dipinggang mereka. Mereka sudah terbang, penggulung yang ada
dipinggangnya telah menarik mereka terbang. Rusdi memperhatikannya
lamat-lamat.

Beberapa jam kemudian, kini sisa tim sukarelawan telah tiba di
Omotemachi. Mereka bergabung kembali dengan para kapten yang
meninggalkan mereka. Mereka beristirahat sejenak, menunggu di sebuah
bangunan tua.

“Kau ini apa-apaan?” Boim memukul pelipis Rusdi hingga ia terjengkang,
sementara yang lainnya hanya menonton.
“Kalau ingin mati, mati saja sendiri!” Boim meninggalkan Rusdi yang masih jatuh.

“Kau menyebalkan!” Rusdi bangun dari jatuhnya.
“Hah? Apa kau bilang?” Boim kembali berjalan kearah Rusdi.
“Kau menyebalkan!” Rusdi perlahan berdiri, lalu Boim kembali memukulnya.

Tapi kali ini Rusdi menangkisnya. Tak pelak, terjadilah perkelahian
disana. Orang-orang berusaha memisahkannya, tapi mereka terlalu
bernafsu untuk saling memukul. Sehingga sulit untuk dipisahkan.

Rusdi memukul Boim, tapi Boim menangkisnya dengan tendangan. Rusdi
semakin kesal, lantas menyerangnya brutal. Tentu saja Rusdi unggul,
nilainya berada di posisi kedua. Sementara Boim kesembilan.

Rusdi menendang Boim dengan kaki kirinya, tapi Boim menahan kakinya.
“Kau lambat!” Boim menyeringai.
“Terima kasih!” Rusdi melompat, lalu menendang dagu Boim dengan lutut
kaki kanannya.

Boim terjatuh, ia memegangi dagunya yang berdarah. Tiba-tiba Naomi
memisahkan perkelahian mereka.
“Berhentilah berkelahi!” Naomi menatap dingin Rusdi, lalu kembali pergi.

“Naomi! Kenapa kau berubah?” tanya Epul, tapi Naomi tidak menggubrisnya.
“Naomi?” Rusdi menatap Naomi yang berjalan semakin menjauh, tiba-tiba
ada yang menepuk pundaknya.

“Kapten Ulung!” Rusdi menghormat.
“Siapa namamu?” tanya Kapten Ulung.
“Rusdi!” masih menghormat.
“Aku suka tendanganmu, ikut aku!” Kapten Ulung mengajaknya pergi.

Boim masih kesal, lantas ia kembali berdiri. Boim masih memegangi
dagunya,  ia hendak memukul Rusdi dari belakang. Tapi Ikhsan
menghadangnya. Boim semakin kesal saat itu.

“Minggir!” Boim menatapnya kesal.
“Kenapa kau hanya menyalahkan dia? Padahal aku juga salah, aku ada
disana saat itu. Tentu saja, kau juga tau itu.” Ikhsan menatapnya
dingin.

“Aku bilang minggir!” Boim menatapnya tajam.
“Apa kau tidak berani padaku?” Ikhsan sedikit tersenyum.
“MINGGIR!!!” teriak Boim, lalu Ikhsan menantangnya duel.

“Kau berani padaku? Baiklah!” Boim berlari kearah Ikhsan, dengan
mudahnya Ikhsan menjatuhkan Boim tanpa harus memukulnya.
“Masih kurang?” Ikhsan menyeringai.

Orang-orang memisahkan mereka, kali ini lebih mudah dipisahkan. Ikhsan
tidak melawan saat ia dibawa oleh temannya. Boim pun tidak melawan,
karna ia sudah terluka dan kehabisan tenaga.

“Kau berani sekali melawan Ikhsan dan Rusdi. Padahal mereka adalah
lulusan terbaik pertama dan kedua.” Dendhi mengobati luka Boim,
sementara Boim hanya meringis kesakitan.

“Rusdi sedang sedih, ia kehilangan gadisnya yang bernama Naomi.” Epul
menghampiri Boim dan Dendhi.
“Kapten Naomi?” tanya Boim, Epul hanya mengangguk pelan.

Di tempat lain, Rusdi dan Kapten Ulung sedang bercakap-cakap.
“Naomi kenapa?” tanya Rusdi.
“Kenapa? Kenapa ia bisa membunuh Titan? Aku yang mengajarinya.” Kapten
Ulung tersenyum, sementara Rusdi hanya diam.

“Aku juga harus membunuh Titan!” Rusdi sangat antusias.
“Musuh sebenarnya bukanlah Titan, melainkan keselamatan para
penduduk.” Kapten Ulung menatapnya lamat-lamat.

“Kau sebut apa hewan yang dikurung di dalam pagar yang takut pada
serigala?” tanya Kapten Ulung.
“Ternak?” tebak Rusdi.
“Lalu kau itu apa?” Kapten Ulung kembali bertanya.
“Aku bukan…” sambung Rusdi.
“Kalau begitu terbanglah!” potong Kapten Ulung, tertawa.

Setelah itu, Kapten Ulung pergi meninggalkan Rusdi di tempat itu.
Rusdi masih mematung, ia tidak mengerti apa maksud perkataan Kapten
Ulung.
“Terbang?” Rusdi bingung.

Kapten Ulung menemui Komandan Reza. Disana ada para kapten yang
selamat. Ada Kapten Nabilah, Kapten Melody, Kapten Yona, Kapten Sendy,
Kapten Ghaida, Kapten Agil, Kapten Andri, Kapten Dipa dan Kapten
Naomi.

Ya, karna kehebatannya kini Naomi diangkat menjadi kapten. Selain itu
ia sudah berpengalaman. Bukan lagi orang baru seperti Rusdi dan Epul.
Naomi sangat cekatan, seperti Kapten Ulung.

Dari beberapa kapten yang ditinggalkan, hanya ada 2 kapten yang mati.
Yaitu Kapten Fajar dan Kapten Ibra. Dari 5 kelompok yang dibagikan,
kini telah berkurang 2 kapten yang memimpin. Sebagai gantinya, Kapten
Ulung dan Kapten Naomi akan ditugaskan untuk memimpin mereka.

Awalnya ada 10 kapten, 5 wanita dan 5 laki-laki yang memimpin. Tapi
kini ada 6 wanita dan 4 laki-laki, masih tetap 10 kapten. Kapten
terhebat diantara mereka adalah Kapten Ulung.

“Dimana peledaknya?” tanya Komandan Reza.
“Lewat sini.” Kapten Ulung lalu membuka sebuah pintu rahasia, di
dalamnya terdapat banyak sekali bahan peledak.

Para kapten sangat terkejut. Tapi wajah Naomi terlihat biasa saja.
“Selamat datang di tempatku.” Kapten Ulung tersenyum, lalu Komandan
Reza masuk kesana diikuti oleh para kapten.

BERSAMBUNG

@RusdiMWahid Juniornya Shinta Naomi ^_^

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s