“Directions The Love and It’s Reward” Part 4

IMG_20160414_165052

DOORRR!!!

DOORRR!!!

DOORRR!!!

“Akhhh!!!…”

Terdengar suara seperti tembakan.Yona menjerit dan dengan cepat ia menutup matanya. Fyuhhh selesai juga ternyata ya hehe.

“Happy Birthday Yona…!!!

Happy Birthday Yona!!!

Happy Birthday! Happy Birthday!

Happy Birthday Yona..!!!” Nyanyian semuanya dan seketika lampu menyala. Terlihat seorang pria paruh baya membawakan sebuah kue untuk Yona dengan lilin berbentuk angka 16. Disusul dibelakangnya juga ada seorang wanita paruh baya menembakka corveti.

“Yeay!!! Happy Bierthday anak Papah!” ucap lelaki paruh baya itu langsung memeluk dan mecipika-cipiki Yona.

“HBD My Honey, sorry gara-gara kami, kamu jadi kaget” wanita dibelakang pria itu ikut andil dengan Yona.

“Ishhh Mamah sama Papah gitu deh… Makasih semuanya!” Yona langsung memeluk ayah dan ibunya itu.

“Oke sebagai pelengkap nih Yon…” Rendy mengambil sesuatu dari belakang punggungnya

“Ini kado dari aku! Dibuka ya, dan semoga kamu suka” ucap Rendy memberikan sebuah kado. Langsung saja kado itu dibuka Yona.

“Wah boneka Teddy Bear! Luvchu banget!!! Makasih Rendy” langsung saja Yona memeluk Rendy.

“Aduh-duh Yon, nggak bisa nafas ini uhuk…” Rendy seperti terbekap oleh pelukan Yona yang sangat erat.

“Eh iya sorry-sorry” Sontak Yona langsung melepaskan pelukannya, sedangkan orang tuaya hanya tersenyum melihat tingkah laku anak semata wayangnya itu.

“Hmm… pantesan aja aku pas di garasi ngeliat mobil” ucap Rendy melirik pria paruh baya di depannya.

“Eh ini Rendy? Hehe om sengaja dateng buat ultah anak kesayangan om ini. Wah Rendy! Kamu tambah ganteng aja. Keponakan om udah bujang nih kayaknya. Pacar mana pacar Ren?” ucap om Andre menepuk-nepuk bahu Rendy akrab.

“Ah nggak punya kok om. Om gimana kabarnya nih?” tanya Rendy.

“Om sehat wal afiat kok seperti yang kamu lihat. Yah, om cuma sibuk aja belakangan ini” ucap om Andre duduk di sofa.

“Gimana ceritanya sih?” tanya Yona sembari menimang-nimang boneka Teddy Bear di pelukannya.

“Jadi gini…

Pagi itu saat tante Citra dengan dandanan medusanya dateng ke kamarku. Yah awalnya sih Cuma nge cek. Eh ternyata dikasih tugas kayak gini nih. Katanya suruh ngajak kamu muter-muter kek atau jalan-jalan kek sambil nunggu persiapan ultah kamu dan juga sambil nunggu kedatangan om Andre” ucap Rendy menceritakan asal mulanya.

“Oh gitu”.

“Udahlah, kalo pengen lebih tau tanya tante Citra aja sana. Tan,Om,Yon, aku pamit ke kamar dulu. Udah bau matahari nih baju. Mau mandi dulu deh biar seger” ucap Rendy

“Iya” ucap mereka bersamaan.

“Tapi sebelum itu…” Rendy mengambil sedikit krim pada kue itu. Langsung saja ia colek dan oleskan merata pada wajahnya Yona. Sontak dengan cepat Yona marah.

“Ishhh Rendy…!!! awas kamu ya!!!” langsung saja Rendy lari dari amukan Yona yang bagaikan singa kelaparan itu.

“Kejar aja kalo bisa wlee :p haha” Rendy langsung berlari ke kamarnya yang berada di lantai dua dan menutup pintunya serta menguncinya rapat-rapat.

“Buka pintunya Rendy…!!!.”

“Nggak mau!!!” ucap Rendy hingga kelamaan hari sudah semakin gelap. Akhirnya Rendy bisa terlepas dari cengkraman singa yang sedang mengamuk kala itu. Karena terlalu merasa berkeringat, Rendy langsung saja mandi dan bergati baju. Tak lupa setelah itu, ia beribadah menjalankan kewajibannya.

—o0o—

Malam telah datang silih berganti dengan siang.

“Ren! Ayo turun! Kita makan malem bareng” kalau didengar-dengar sih itu suaranya Yona.

“Iya bentaran Yon!” jawab Rendy. Setelah beribadah, ia langsung menuruni anak tangga itu. Terlihat tante Citra, om Andre, dan juga Yona telah menunggunya.

“Malem om,tante,Yon” sapa Rendy ramah.

“Malem juga. Ayo sini cepetan, udah tante siapin nih buat kamu” ucap tante Citra mempersilahkan Rendy. Dengan cepat, Redy berjalan dan duduk di kursi meja makan itu

“Makan yang banyak Ren” tambah om Andre.

“Iya Om” Rendy mengangguk tersenyum. Mereka semua makan bersama dengan harmonis. Sungguh seperti sebuah keluarga yang sangat hangat. Canda tawa diselingi senyuman selalu menyertai mereka malam itu

“Yah spesial juga hari ini. Terutama malam ini ya. Kita bisa kumpul bareng di tengah kesibukannya masing-masing” ucap Om Andre menutup semuanya.

“Mah,Yon,Ren. Hmm… Besok Papah harus ke Amerika lagi. Maaf ya kalo Papah terlalu sibuk” ucap Om Andre.

“Iya nggak papa Mas. Yang penting sebisanya kamu hadir di sini. Selalu ada di hari spesia keluarga kita” ucap tante Citra pengertian akan pekerjaan suaminya yang sibuk itu.

“Iya Pah. Papah jaga kesehatan aja yah” ucap Yona.

“Dan buat Rendy, kamu harus jagain Yona yah. Temenin dia saat butuh atau pun ada masalah. Om percaya sama kamu” Om Andre memegang bahu Rendy.

“Beres Om. Lagian Yona juga tanggung jawab aku. Aku juga nggak bakal biarin Yona nangis” janji Rendy.

“Yah malam ini kita tutup sekian. Dan semuanya bisa kembali ke kamarnya masing-masing karena ini udah malem” ucap tante Citra memecah keheningan. Benar saja, ini sudah pukul 21.10. Mereka semua langsung kembali  ke kamarnya masing-masing, tapi tidak dengan Rendy.

—o0o—

Angin pergantia musim datang menusuk dingin malam itu. Terlampau memasuki sebuah ruangan yang terdapat seorang pemuda sedang duduk memegang sebuah foto. Di bawalah foto yang ia temukan di tempat lemari kenangannya itu keluar, di balkon tepatnya. Angin dingin terus merasuki tubuhnya.

Terlihat foto 5 orang anak kecil dengan masing-masing membawa sebuah kalung, ada yang dipegang di tangan, ada yang dikalungkan, dan ada juga yang memegangnya di leher.

“Kalian kemana kawan-kawan? Terutama kamu” pemuda itu adalah Rendy. Dia terihat sangat merindukan seorang anak gadis kecil yang berfoto paling kanan dengan ekspresi wajah hampir menangis. Seketika ia sedikit menahan tawa melihat ekpresi gadis kecil itu.

Dia ingat, terekam jelas di ingatannya. “Waktu umurku 5 tahun…

Kita selalu bermain bersama. Janji kecil kita masih aku ingat. ‘Selalu bersama dan selalu ada. Melupakan berarti sama saja dengan mengingat kembali’ janji kelingking kita dulu” ucap Rendy memandangi foto itu. Mereka memegang kalungnya masing-masing. Rendy melihat ke arah langit dan mendapati kilauan siluet cahaya bintang yang terang benderang menemaninya kala malam itu

Dari pojok kiri terlihat seorang anak laki-laki tampan dengan memegang huruf “R” di kalungkan dan dipegang dengan bangga olehnya. Selanjutnya juga seorang anak laki-laki juga dengan kacamatanya sedang memegang huruf “A”. Ditengah-tengah terlihat seorang anak gadis dengan rambut sebahunya tersenyum penuh arti dengan memegang huruf “I”. Sebelahnya lagi terlihat seorang anak kecil pemuda dengan gagahnya memegang huruf “N”. Dan terakhir dia…

Seorang anak gadis mungil dengan poninya yang lucu dan dengan ekspresi hampir menangis memegang kalung berhuruf “Y”. Tiba-tiba petir menyambar dan seketika hujan turun malam itu membuat suasana tambah dingin di balkon tempat Rendy berdiri.

“Dengan begini, lengkap sudah hujan. “RAINY” kalung kita masing-masing” ucap Rendy memegang kalung yang menempel di lehernya.

“Kamu nggak pernah kasih tau nama kamu yang asli. Yang aku tahu, aku hanya suka nama panggilan kamu yang luvchu kayak permen itu. Yupi…” Rendy masih fokus pada foto anak gadis paling kiri itu. “Aku masih ingat perpisahan kita kala hujan waktu itu” ucap Rendy mengingat-ingat kembali masa lalunya

[FLASHBACK ON]

Jakarta, 14 Januari Tahun 2005

Rendy’s P.O.V.

Saat umurku 5 tahun kala itu…

 

Hari yang cerah saat itu. Hari yang tepat untuk bersenang-senang. Oh aku hampir lupa, ini hari kepindahanku ke Semarang. Tapi… bagaimana mungkin? Aku nggak bisa ninggalin mereka pikirku.

“Ren ayo siap-siap dek, kita kan bakal pindah hari ini” ucap kak Melody.

“Iya kak” tapi aku masih melamun saja. Aku bimbang dan ingin rasanya menangis karena harus berpisah. Kalau begini, aku benci pertemuan. Kenapa harus bertemu kalau akhirnya harus berpisah? Nggak adil bukan?.

“Oh iya hampir lupa. Ini kan hari ulang tahunnya Yupi” ucapku dan langsung saja aku ambil sebuah kado yang sudah aku siapkan untuknya. Aku harap, dia suka. Dan aku bakal ngomongin kepindahanku ini.

Hari itu di sore hari, memang aku sudah mengajaknya. Kami janjian di taman dekat komplek waktu itu. Yupi datang menghampiriku yang tengah duduk di bangku taman sore itu.

“Hai Rain, nunggu lama ya?” ia bicara dengan nada anak kecil manja.

“Ah nggak juga kok Yup. Ada sesuatu yang mau aku kasih ke kamu nih. Tapi… tutup mata dulu yah” ucapku. Dia mengangguk dan menutup matanya.

“Tadaaa…!!! Selamat ulang tahun…!!!” aku memberikannya sebuah kado boneka gajah.

“Wuah!!! Bagus banget Rain!” ucapnya senang dan tersenyum ceria.

“Suka?” tanyaku.

“Hmm suka banget” anggukannya.

“Sebenernya Yup, ada yang aku pengen omongin ke kamu” ucapku. Ku hela nafas memberanikan diri.

“Aku bakalan pindah” seketika petir menggelegar kala itu. Langit yang cerah berubah menjadi abu-abu sunyi kelam hitam gulita. Raut wajah Yupi menandakan kesedihan dan air matanya tak sanggup ditahan.

“Kamu jahat!!! Rain jahat!!! Kenapa kamu ninggalin aku…?!?!?” tangisnya dan hujan mulai turun.

“Dengerin dulu Yup. Awalnya aku juga sedih kenapa kita harus pisah. Tapi aku ada sesuatu lagi” ucapku, ku ambil sesuatu yang sudah kusiapkan untuknya saat itu.

“Kalung ini. Lihat, setengah kalung hati ini aku kasih ke kamu. Tolong jaga semoga kamu ingat denganku terus. Dengar, maafin aku ya kalo ini harus jadi perpisahan kita. Tapi… aku janji suatu saat kita akan bertemu lagi. Setengah hati ini, aku titipin sama kamu” Aku mengambil dan memakaikan sebuah kalung berbentuk hati yang terbagi menjadi 2 bagian dengan berlian merah untuk Yupi. Sedangkan aku memakai setengahya lagi dengan berlian berwarna biru.

“Nggak Rain! Kamu tetep jahat sama aku!!! Aku Benci kamu!!! Aku benci hujan!!!” Yupi langsung berlari pergi sambil menangis tersendu-sendu sesegukan dari taman komplek itu. Pergi meninggalkanku seorang sendirian di taman kala itu hujan deras mengguyur dan petir menggelegar dimana-mana.

“Maafin aku Yup. Aku janji, suatu saat nanti kita akan ketemu lagi” batinku. Aku ikut mengangis pecah sambil pulang dengan pakaian basah kuyup. Dingin,kehampaan,teman, itu yang kurasakan dan pikirkan hanya saat itu. Aku pulang dan bertemu kak Melody di rumah.

*****

“Loh kamu dicariin dari mana aja dek? Itu baju kamu basah kuyup gitu ntar masuk angin. Udah sekarang kamu mandi dan ganti baju. 10 menit lagi kita berangkat ke bandara” perintah kak Melody karena melihatku basah kuyup terguyur air hujan. Ku langkahkan kaki melewati kak Melody.

“Eh tunggu-tunggu… Mata kamu sembab. Kamu abis nangis?” tanyanya tapi tidak aku hiraukan. Aku tetap berjalan lurus karena yang kupikirkan hanya dia. Setelah itu langsung ganti baju dan pergi dari rumahku dulu itu bersama keluargaku untuk pindah ke Semarang.

Di perjalanan, aku terus memikirkannya. Ku pegang kalung berbentuk hati itu yang letaknya sudah kusambungkan dengan kalung “R” milikku.

“Semoga suatu saat nanti, kalung ini bisa jadi petunjuk. Semoga bisa menjadi petunjuk aku buat nemuin kamu lagi Yup suatu saat nanti. Mengikuti Arah Sang Cinta dan berharap sebuah Balasannya datang walaupun harus menentang arah mata angin” batinku sambil memegang kalung itu erat.

[FLASHBACK OF]

“Semoga kalung ini jadi petunjuk aku nemuin kamu. Di mana pun kamu berada, walaupun disembunyikan awan hujan, walaupun kamu berada di ujung cakrawala yang jauh. Aku pasti tetap akan mencarimu. Mengikuti Arah Sang Cinta dan Balasannya karena kamulah Sang Matahariku. Matahari selalu terus melihat mimpi, karena rasa sayang adalah petunjuk” ucapku sambil mempererat genggamanku pada kalung itu.

“Kamu ngapain di sini? Dingin loh. Masuk gih sana” Aku tersadar dari lamunan itu karena seseorang membuyarkannya.

“Iya Yon, udah sana” ucapku.

“Ye dibilangin malah nyangkal” ucap Yona kemudia hendak pergi.

“Eh tunggu-tunggu. Sejak kapan kamu ada di balkon kamar aku?” tanyaku

“Udah agak lama juga sih. Lagian tadi aku udah ketuk pintunya tapi nggak ada respon. Ya langsung aja deh aku nyelonong masuk. Lagian risih juga ngeliatin kamu ngelamun gak jelas kayak gitu. Ya aku takutnya sih kamu kesurupan nantinya” ucap Yona menjelaskan.

“Ya udah sana, aku mau istirahat” ucapku

“Nih anak dibilangin nyangkal mulu” ucap Yona kemudian keluar dari kamarku.

“Di mana pun kamu berada… have a nice dream yah” ucapku kemudian masuk dan menghempaskan tubuhnya ke kasur untuk beristirahat menyambut hari esok malam itu. Baru saja sejenak ia hempaskan tubuhnya tapi…

Author’s P.O.V.

“Ren, beliin aku martabak dong! Lagi kepengen nih” suara nyaring Yona membuatnya harus terbangun. Segera ia berganti baju dan turun kembali.

“Iya. Kamu tuh lagi kepengen apa ngidam sih?” tanya Rendy memakai jaket hoddienya.

“Ngidam? Dikira aku hamil apa? Sssttt… nggak baik ngomong kayak gitu. Namanya laper tengah malem.”

“iya deh iya. Padahal juga belom tengah malem banget. Masih jam setengah sepuluh juga” Ia menuju garasi dan mengambil motornya.

“Tiati kang. Ntar kalo ada yang minta ngojek jangan dihirauin. Siapa tahu itu kalo cewek tante kunthi. Kalo cowok bisa aja itu om genderuwo” Yona menakut-nakuti.

“Nggak mempan Yon. Iman kalo udah kuat mah selalu berpegang teguh” ucap Rendy kemudian pergi tancap gas.

—o0o—

Di satu tempat di malam itu, ada seorang gadis sedang menangis di suatu taman. Matanya sembab sembari melihat ke arah langit. Seakan-akan mencari bintang yang dia dambakan. Angin malam itu menusuk tubuhnya. Mencari celah melalui helai-helai benang bajunya.

“Dasar cowok itu emang gitu ya! Seenaknya bikin hati wanita sedih dengan semena-mena!!! Hiks… Kenapa kamu selingkuhin aku Dion? Kenapa?!.”

*****

“Martabak manis komplit Mang.”

“Iya dek, bentaran yak.”

“Adek asalnya dari mana? Jarang banget saya liat adek. Orang baru ya?” tanya abang-abang yang jualan martabak itu memperhatikan Rendy dari atas hingga ke bawah.

“Iya mang, baru pindah ke sini kemarin. Saya dari Semarang” ucap Rendy

“Wong Jowo toh?” logat Jawa abang-abang itu keluar.

“Nggak juga mang. Saya aslinya sih sini. Tapi kerjaan orang tua pindah ke Semarang, ya mau nggak mau harus ikut” ucap Rendy menjelaskan.

“Oh gitu toh. Ini martabaknya” ucap abang itu memberikan martabak pesanan Rendy yang sudah jadi.

“Berapa Mang?” tanya Rendy.

“35.000 aja dek.” Rendy mengambil uang berwarna biru dari dompetnya.

“Ini mang. Kembaliannya ambil aja” ucap Rendy memberikan uang itu.

“Oh iya makasih dek. Kapan-kapan mampir lagi. Sering-sering juga nggak papa” ucap abang yang jual martabak itu.

“Iya mang, makasih. Duluan.”

“Hati-hati dek.”

*****

Di perjalanan pulang, Rendy melewati sebuah taman. Seingatnya rute perjalanan tadi bukan yang seperti ini.

“Salah jalan apa ya? Tapi kok kayak nggak asing sama tempat ini?” masih bingung celingukan mencari jalan yang benar. “Puter balik aja lah” hendak pergi.

Ada yang menahannya. Terlihat seorang gadis dengan pakaian putih pendek sedang menangis di bangku taman itu. Hanya ditemani sebuah lampu taman terang yang hampir redup.

“Hiks….hiks…hiks…”

“Siapa tuh? Kok kayak mbak kunthi ya?” Rendy mulai merinding.

“Ah udahlah, samperin aja. Siapa tahu itu emang cewek beneran. Ntar kalo bukan juga tinggal kuatin iman. Bisa juga kok pake jurus kaki seribu” pikirnya mendekati gadis itu.

*****

“Dion kamu jahat!!! Hiks…” tangis gadis itu.

“Ini…” datang seseorang memberikan sapu tangan. “Hapus air mata kamu” tambahnya.

Di menatap pemuda itu. Langsung saja tanpa basa-basi ia ambil sapu tangan itu dan langsung menyeka air matanya.

“Makasih” ucapnya memberikan sapu tangan itu lagi.

“Mbak sendirian aja?” tanya Rendy ramah. “Tenang, saya orang baik-baik kok” ucap Rendy.

“Boleh saya duduk di sini?”. Gadis itu hanya mengangguk.

“Mbak lagi ada masalah ya?” tanya Rendy.

“Iya” balasnya singkat.

“Kenalin saya Aldo Rain Rendyan. Siswa sekolah SMA 48 Jakarta kelas X.”

“Shani, Shani Indira Natio. Kelas X juga salam kenal. Eh tunggu bentar…” gadis itu berpikir.

“Kamu kelas X-A kan? Kayaknya aku pernah liat kamu” ucap gadis bernama Shani itu mengingat-ingat.

“Iya, benar.”

“Kita itu sekelas tau” ucap Shani mulai tenang karena kehadiran Rendy.

“Oh gitu. Ngomong-ngomong, kenapa kamu nangis? Kalo nggak cerita juga nggak papa. All people have privacy oke.”

“Aku diputusin pacar aku. Nggak, tepatnya dia selingkuh aku” air matanya hendak menetes kembali

“Emang ya cowok itu kayak gitu” tambahnya.

“Ya memang sebagian sih kayak gitu. Udahlah cowok kayak gitu mah nggak usah ditangisin. Itu berarti Tuhan sayang sama kamu Shan. Kenapa? Karena berusaha ngasih tahu kamu kalo cowok itu bukan yang terbaik buat kamu” jelas Rendy.

“Kamu bener. Makasih kamu udah nenagin aku” ucapnya berdiri.

“Ya udah, sekarang kamu pulang gih. Udah malem nih. Nggak baik kan anak cewek keluar malem-malem. Aku anterin mau?” Ucap Rendy.

“Ah nggak usah. Aku naik taksi aja, dan makasih ya” dia menyetop taksi yang baru datang. Sejenak berbalik dan melambaikan tangannya pada Rendy.

“Selamet dah, dikira tadi mbak kunthi. Ah sekarang pulang lah. Martabaknya ntar keburu dingin” ucap Rendy kemudian pulang dengan motornya.

*****

“Rendy ya? Nama yang bagus. Kayaknya aku mulai tertarik” senyum tipis terukir di wajah gadis berkulit putih itu yang sekarang sedang berada di taksi.

*****

Di sebuah kamar…

“Dasar itu cowok ngeselin banget sih” geram seorang gadis di kamarnya.

“Kebanyakan modus. Nggak di sekolah, nggak di tempat lain. Ishh, apalagi waktu kejadian yang direstoran waktu itu” ucap gadis itu mengingat-ingat.

“Argghhh! kok malah jadi keinget sih!!!”.

“Hey kamu kenapa dek?” tanya seorang gadis masuk ke kamar gadis itu. “Teriak-teriak nggak jelas, awas kesambet loh”.

“Ah kak Ve nakut-nakutin mulu”.

“Kenapa sih adikku yang cantik,lucu,nan imut ini? Cerita dong sama kakak” ucap gadis bernama Ve itu.

“Ah masa kakak nggak tau. Itu loh cowok mesum yang gangguin aku terus. Lagian kakak sih pake acara nyuruh dia buat ngasih bunga ke aku buat apa coba?!”.

“Ya kakak khawatir aja kamu ngelamun kemarin pas di taman. Ya terus kakak suruh aja deh dia buat nemenin kamu. Eh tunggu-tunggu…

Kamu kok bahas cowok itu terus, suka ya?” goda kak Ve

“Iiihhh siapa juga yang suka cowok yang kayak begitu”.

“Udahlah Yuv, keliatan dari muka kamu tuh” ucap kak Ve memanas-manasi.

“Ah udahlah, aku mau tidur” ucap Yuvia.

“Ye.. malah ngambek” ucap kak Ve. “ Ya udah, have a nice dream” kak Ve kemudian keluar dari kamar itu.

Hujan turun kala itu. Yuvia belum tidur karena hujan itu mengingatkan masa lalunya. Ia mengambil sebuah kotak berwarna merah kecil. Dia buka dan mendapati sebuah kalung. Dia pegang kalung itu dan melihat ke arah foto yang terpajang di meja sebelah tempat tidurnya. Mendapati sebuah foto kenangan kecilnya.

“Aku kangen kamu…

Rain…”

—o0o—

“Assalamu’alaikum”.

“Wa’alaikum salam. Mana pesenan aku?” tanya Yona.

“Iya-iya nih. Udah ah, aku mau tidur” ucap Rendy berjalan gontai menuju kamarnya.

“Ya sana. Makasih ya” ucap Yona.

“Ma-sama” Rendy menutup pintu kamarnya dan mengganti pakaiannya. Langsung saja ia hempaskan tubuhnya ke kasur. Terlelap, mungkin peri tifur menaburkan serbuk pixie hollow di atas kepala Rendy yang membuat ia sangat nyenyak tidurnya. Hari yang menyenangkan.

-To Be Continued-

Created By      : Rezalical

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

2 tanggapan untuk ““Directions The Love and It’s Reward” Part 4

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s