Zombie Attack : Saving President Daughter, Part1

Part 1 : Awal Dari Perjalanan.

 

Di daerah di pusat kota Jakarta hiduplah sepasang kakak-beradik, nama nya Dendhi Yoanda dan Shania Gracia, mereka hidup berdua karena kedua orang tua mereka beserta kakak nya sudah meninggal karena kecelakaan empat tahun lalu, sehingga Dendhi harus bekerja. Keberuntungan menaungi Dendhi, ia bekerja sebagai Paspampres, jadi ia masih bisa untuk membiayai sekolah adiknya yang duduk di bangku Sekolah Menengah Atas.

Di hari minggu pagi kakak nya baru saja pulang dari Banyuwangi hanya sekedar untuk melepas kerinduan dengan teman-temannya, namun tiba-tiba

“Kak.. kak… kak bangun dong?” adiknya tengah berusaha membangunkan kakaknya

“Apaan sih Gre? Ngantuk tau” ujar kakaknya yang tak mau beranjak dari tempat tidur nya.

“kak Dendhi jangan minta jatah makan lagi ke aku ya, aku nggak mau masak”  ujar adiknya.

“Gre, ngancem nya nggak seru nih” ujar Dendhi yang terbangun dari tidur nya. Dengan malas ia menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri nya. Dengan semangat Dendhi keluar dari kamarnya. Di ruang tamu hanya ada Gracia yang sedang asyik menonton acara music di TV

“Ayo jogging Gre. Keliling perumahan” ajak Dendhi pada Gracia, adiknya.

“Ya udah deh, ayo” Gracia yang bersemangat, lalu meninggalkan kakak nya di belakang. Saat mereka sedang berjogging ria keliling kompleks perumahan. Handphone milik Dendhi berdering, ketika Dendhi melihatnya

“Melody Nurramdhani calling”

Langsung ia menerima panggilan itu

Dendhi : ada apa mel?

Melody : Kamu bisa ke kantor nggak sekarang, penting ini menyangkut keamanan keluarga Presiden

Dendhi : Ayolah Mel, aku baru aja pulang dari Timor Leste, kenapa nggak kamu kasih ke Rafles, atau Yoshi

Melody : cepet, aku kasih waktu kamu satu jam untuk nyampe di kantor.

“dasar nenek-nenek” umpat Dendhi dalam hati.

“Dapet tugas lagi ya kak?” tanya Gracia

Dendhi hanya mengangguk pelan

“ya udah, di lanjut in kapan-kapan aja lari nya” kata Gracia. Mereka lalu pulang, sesampainya di rumah, Dendhi langsung mengganti baju nya. Lima menit berselang ia sudah mengenakan Jas dan tanda pengenal pasukan pengaman Presiden.

“Gre, kakak berangkat dulu ya” ujar Dendhi yang memeluk Gracia dan mengelus pelan rambutnya

“Iya kak, hati-hati” ujar Gracia yang melihat Dendhi mulai berjalan keluar dari rumahnya

 

*Di Istana Negara*

Dendhi yang baru saja sampai langsung diarahkan ke ruangan Melody oleh ajudannya,

TOK.. TOK… TOK

“Masuk” ujar seseorang di balik pintu

“Ibu Melody, ada yang ingin bertemu anda. Tanda pengenal nya adalah DY075” ujar Ajudan nya itu

“Suruh masuk” ujar Melody kepada ajudannya

Masuklah Dendhi ke dalam ruangan Melody

“Ada apa mel, keliatannya kamu lagi panic banget tadi” ujar Dendhi kepada Melody

“Iya, kamu tau kan, beberapa waktu lalu presiden mengadakan kunjungan ke Spanyol” ujar Melody.

“Iya aku tau, dua hari yang lalu kan presiden berangkat. Kalo nggak salah Rafles, Yoshi, Michael, dan Ilham ikutan juga kan” kata Dendhi sambil mengingat-ingat

“masalahnya beberapa saat setelah pesawat presiden mendarat, mereka di serang sama orang. Perilaku nya aneh banget, Yoshi Michael dan Ilham meninggal karena kena Bazooka. Anak Presiden yang namanya Michelle di culik dan di bawa di sebuah desa terpencil di Spanyol, sedangkan presiden  statusnya sampai saat ini nggak jelas” Melody menerangkan masalah yang di hadapi nya.

“Apa kamu tau Mel siapa orang yang Bertanggung jawab atas serangan itu?” tanya Dendhi

“Osmund Saddler” kata Melody

“dari info yang saya dapat, Osmund Saddler menggunakan parasite yang bernama Las Plaga untuk mengontrol seluruh warga desa” tambahnya lagi

“kapan aku berangkat” tanya Dendhi

“Malam ini, kamu akan berangkat pukul 11 malam dengan pesawat milik TNI Angkatan Udara menuju ke Spanyol, aku sudah koordinasi dengan panglima TNI” ujar Melody.

“Misi kamu adalah temukan Presiden dan anaknya, dan bawalah keluar dengan selamat” kata Melody tegas.

“Oh iya, nanti kamu akan di kabari oleh Veranda mengenai informasi terbaru yang aku dapatkan” tambah melody

“Oh iya, ini apa aku nggak bawa senjata Mel? Gila kamu kalo aku nggak bawa senjata ngelawan ornag-orang semprul itu”  tanya Dendhi

“Ada, itu di koper” ujar Melody sambil menunjuk koper hitam yang tergeletak di meja. Dendhi langsung mengambil koper itu.

“Mel, ini aku boleh pergi?” tanya Dendhi

“Boleh silahkan” kata melody.

Dendhi berjalan keluar meninggalkan ruangan Melody. Di sana ia bertemu dengan temannya

“Dapet kerjaan lagi bro?” tanya seseorang pada Dendhi

“Iya, sudah tau kan kalo Singa (Samaran untuk Presiden) di Spanyol” kata Dendhi

“Iya” jawab temannya singkat

“beberapa saat setelah singa mendarat, singa di serang, Yoshi, Michael meninggal karena di Bazooka oleh beberapa orang dari mereka, menurut ibu ketua, orang yang bertanggung jawab adalah Osmund Saddler” kata Dendhi.

“Yang gue tau Berlian (Samaran untuk anak Presiden) juga ikut ya” Tanya temannya

“Iya, status nya Singa sama Berlian masih abu-abu.” Ujar Dendhi pelan.

“apa pihak kepolisian Spanyol udah nyari singa?” tanya Lidya

“Hmmm… mereka sudah berusaha. Tapi mereka semua mati di desa terpencil. I don’t know about it names, pokok nya ntar malem aku bakal Spanyol dan pergi ke desa terpencil itu” kata Dendhi

“Itu berarti sama aja Misi bunuh diri Den, menurut pengalaman gue orang yang nyerang singa itu bukan orang biasa, mungkin dia lebih handal dari teroris-teroris yang berusaha nyerang kita, mungkin si orang itu tau kalo hubungan negara Indonesia-Amerika Serikat lagi stabil-stabilnya” ujar Lidya panjang lebar

“Ya elah, kamu itu nggak doain temen, malah ngomong itu misi bunuh diri, kalo soal politik aku nggak mau ngurusin, yang penting singa sama berlian aku bawa keluar” ujar Dendhi sebal

“hehehe, sorry… sorry, gue doain supaya lu selamet deh selama misi di sana” ujar Lidya

“Thanks Lid” ujar Dendhi yang berjalan kembali ke parkiran

“hmmmm… baru aja pulang dari tugas, dapet panggilan lagi” kata Dendhi dalam hati.

Butuh waktu tiga puluh menit dari Istana Negara ke rumah nya, di sana Dendhi melihat Gre yang sedang tertidur pulas di kursi. Entah kenapa air matanya menetes melihat adiknya yang tertidur di kursi itu

“semenjak papa, mama, dan kak Frieska meninggal, Cuma kamu harta kakak satu-satunya. Kakak seneng banget ngeliat perkembangan kamu mulai dari kecil sampai sekarang” ujar Dendhi pelan sambil mengelus pelan kepala Gracia. Namun tiba-tiba Gracia terbangun

“eh, kakak. Kapan datang” tanya Gracia

“Baru aja, kenapa Gre?” tanya Dendhi

“Nggak ada, eh.. kakak abis nangis ya?” tanya Gracia

“eh… eng… enggak kok. Mata kakak kelilipan” kata Dendhi berbohong.

“ya udah, makan yuk kak” ajak Gracia.

Hari mulai gelap. Jam dinding menunjukkan pukul enam malam, Dendhi sudah bersiap-siap dengan rompi tahan peluru, beserta dengan koper yang diberikan oleh Melody tadi siang. Dendhi menuju ke kamar Gracia, sang empunya kamar terisak dalam tangis nya

“Gre..” panggil Dendhi pelan

“aku tau kakak bakal pergi ke Spanyol. Kakak bakal menghadapi zombie” ujar Gracia yang menangis di pelukan kakak nya

“Jadi kamu tau kalo kakak bakal ke Spanyol?” tebak Dendhi

“Iya lah kak” ujar Gracia.

“Tadi sore pas kakak lagi tidur orang dari istana nelpon ke sini” ujar Gracia

“Oh iya kak, saranku kalo emang kakak menghadapi zombie, tembak aja di kepala” ujar Gracia

“Heii.. kamu ini kebanyakan nonton The Walking Dead” ujar kakak nya yang tertawa lepas. Dendhi lalu melepaskan pelukan dari Gracia.

 

*TING-TONG*

 

“Dek, udah waktu nya kakak berangkat” ujar Dendhi yang mulai berjalan.

“Kak, tunggu” ujar adiknya pelan, Dendhi langsung memutar badannya

“Kita selfie yuk” ujar Gracia yang mengeluarkan Hp nya. Dua foto telah diabadikan oleh Gracia.

“Permisi pak, ibu Melody sudah menunggu di mobil” ujar ajudannya Melody

“Gre, kakak berangkat dulu ya” Dendhi melambaikan tangannya. Dia lalu masuk ke dalam mobil nya

“Moment yang sangat mengharukan” kata Melody

“dia itu harta aku satu-satu nya mel” ujar Dendhi

“Oh iya, sekarang kita ke mana? Apa kita langsung ke Halim Perdanakusuma?” tanya Dendhi

“iya, eh.. koper dari aku mana?” tanya Melody

“Udah aku ganti sama tas ransel, koper nya terlalu bagus, jadi buat aku aja” ujar Dendhi terkekeh

Melody hanya menggelengkan kepala.

“Tapi Mel, apa kamu serius cuman bawa in aku handgun doang sama amunisi, dan teropong” tanya Dendhi.

“iya, semakin banyak barang bawaan yang kamu bawa, takutnya itu malah menghambat kamu” kata Melody

“Bener juga ya” kata Dendhi dalam hati.

 

*Di suatu tempat*

“Viny, gue ada kerjaan buat lu” kata atasan nya

“Apa itu?” tanya Viny

“Bawain gue sample dari parasite Las Plaga” kata atasan nya

“hmmm… berarti aku harus ke Spanyol?” tanya Viny

“Iya, gue udah ngatur semuanya, lu berangkat malem ini jam sebelas malem” kata atasannya

“semerdeka kamu aja deh Anto Teo” kata Viny yang berjalan meninggalkan Anto

 

*Di Bandara*

“Den, nanti sesampai nya di Spanyol, kamu bakal langsung di sambut sama Kepala kepolisian Spanyol” kata Melody

“iya” kata Dendhi singkat

“nanti selama misi kamu ini, Veranda akan menghubungi kamu kalo ada informasi-informasi yang dirasa perlu untuk di sampaikan ke kamu” kata melody

“Hmmm…” ujar Dendhi yang mulutnya penuh oleh Roti.

Lima belas menit berselang ajudannya menghampiri Melody dan Dendhi

“Bu, semua nya sudah siap”

“Baiklah” ujar Melody yang berjalan mengikuti ajudannya, diikuti oleh Dendhi

Ketika mereka di hangar. Melody dan Dendhi di sambut oleh Panglima TNI.

“Jadi ini Mel yang pergi ke Spanyol” tanya panglima TNI

“Iya pak, dia adalah satu-satunya agen terbaik kami” ujar Melody

“Semoga berhasil nak, keselamatan keluarga Presiden berada di tanganmu, kami menantikan kabar baik darimu” kata Panglima TNI

“Terimakasih pak, saya akan berusaha sebaik-baiknya” kata Dendhi yang mnejabat tangan Panglima TNI.

“Letnan Penerbang Adi, dan Slamet akan mengantarkan kamu ke Spanyol, selamat bertugas” kata Panglima TNI

Dendhi memasuki pesawat yang disiapkan oleh TNI Angkatan Udara, pesawat Hercules 130. Pesawat ini terlalu besar mengingat hanya Dendhi saja yang terbang ke Spanyol. Di dalam pesawat mereka bertiga hanya bercakap-cakap

“Oh iya, tadi kata bapak (Panglima TNI) dia nyiapin oleh-oleh buat kamu” kata letnan Slamet.

“Di mana pak?” tanya Dendhi

“cari aja, pokok nya nggak jauh dari kursi penumpang, di taruh di koper warna putih” kata letnan Slamet

Dendhi langsung mencari nya, ketika di buka oleh-oleh dari panglima TNI itu, isinya adalah, Senjata kriss, Sniper Dragunov, Flash Bang, dan High Explosion Grenade

“Ini Baru greget” ujar Dendhi tertawa, yang diikuti oleh Letnan Adi, dan letnan Slamet.

“pak, maaf pak saya tinggal tidur dulu.” Ujar Dendhi

“Iya, monggo aja kalo mau tidur, besok kan hari yang berat buat kamu” ujar letnan Adi

Dendhi pun meninggalkan kokpit dan berjalan kembali ke kursi penumpang.

 

*KRIIIING*

 

Dendhi terbangun karena alarm di hp nya yang menunjukkan pukul lima pagi, dia langsung berdoa, lima menit setelah ia selesai berdoa.

“We’re entering Spain Airspace, please be prepared” kata Letnan Slamet

“It’s gonna be very long day” ujar Dendhi

 

To Be Continued

-Dendhi Yoanda-

 

Iklan

2 tanggapan untuk “Zombie Attack : Saving President Daughter, Part1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s