Shinta Naomi : Jakarta, I’m Coming, Part 3

Paginya, Naomi memutuskan untuk pergi ke Ibukota.
“Omi berangkat dulu ya. Jaga diri umi baik-baik.” Naomi mencium tangan ibunya.
“Iya, Omi juga hati-hati ya di Jakarta.” ibunya mencium kening Naomi.

“Sinka, teteh berangkat ya.” Naomi menatap Sinka.
“Iya teh, jaga diri teteh.” Sinka tersenyum, sejenak mereka berpelukan
selama beberapa menit.

Lalu, Naomi pergi dari rumah itu. Ia melambaikan tangan pada ibu dan
adiknya. Sungguh mengharukan sekali jika harus berlama-lama disana.
Naomi pergi ke jalanan besar.

Di tepi jalan, Naomi mendengar seseorang meneriaki namanya. Ia
menengok, ternyata Epul yang meneriakinya. Epul berlari menghampiri
Naomi.

“Omi teh yakin mau ke Jakarta?” tanya Epul sekali lagi.
“Iya atuh Epul, yakin seyakin-yakinnya.” Naomi tertawa, untuk kesekian
kalinya ia mengulangi kata-kata itu.

“Hahaha, yaudahlah. Sekarang mah Epul bantuin Naomi nyari kendaraan
aja.” Epul tertawa.
“Hatur nuhun nyah, Epul.” Naomi tersenyum.

Beberapa menit kemudian, ada sebuah mobil sayuran berjalan kearah
mereka. Epul memberhentikannya, lalu bertanya.
“Pak, hampura! Ari bapak teh mau kemana?” tanya Epul.
“Mau ke Jakarta, kang.” jawab supirnya.

“Ajib, mau ke Jakarta! Temen saya boleh ikut numpang gak?” Epul
melihat Naomi, lalu kembali bertanya.
“Oh, boleh! Tapi di belakang, gak apa-apa kan?” ucap supirnya.
“Gak apa-apa kok!” Naomi lalu menaiki mobil sayuran itu, dibantu oleh Epul.

Naomi sama sekali tidak merasa jijik karna harus menumpang di mobil
itu. Wajah manis dan cantik Naomi rasanya tidak pantas untuk menumpang
disana. Ia layak mendapatkan tempat lebih baik dari pada itu.

Mobil mulai berjalan, Naomi duduk di sebelah sayuran.
“Hati-hati Naomi!” teriak Epul, melambaikan tangannya.
“Iya atuh Epul! JAKARTA, I’M COMING!!!” teriak Naomi, merentangkan
kedua tangannya.

Mobil mulai melaju, Naomi nampak sangat bahagia. Rambut panjangnya
tergerai diterpa angin. Tangannya direntangkan lebar-lebar. Senyum
bahagia terukir di wajahnya.

Perjalanan ke Ibukota memerlukan waktu 4 jam. Selama 4 jam itu pula,
Naomi tengah asik tertidur. Satu dua orang bahkan melihatnya aneh,
mengapa gadis secantik dia bisa tertidur pulas di mobil sayuran?

“Neng, neng bangun!” supir mobil itu membangunkan Naomi.
“Eh, iya pak.” Naomi bangun.
“Kita udah nyampe di Jakarta, neng mau turun dimana?” tanyanya.
“Disini aja pak, hatur nuhun.” Naomi turun dari mobil sayuran itu.

“Hatur nuhun pak!” Naomi melambaikan tangannya.
“Hadeh… Jakarta teh indah pisan!” Naomi nampak terkagum-kagum
melihat gedung pencakar langit, ia baru pertama kali menginjakkan
kakinya di Ibukota.

Naomi berjalan tak tentu arah, lalu menaiki angkutan umum. Di dalam
angkutan umum itu ada 2 orang preman. Tapi Naomi sama sekali tidak
takut sedikit pun. Akalnya sedang dipenuhi angan-angannya yang hampir
terwujud.

Angkutan umum itu berhenti di sebuah tempat sepi. Disana tak ada
siapapun. Naomi lalu turun, hendak membayar. Tapi supirnya keluar,
diikuti oleh 2 preman yang tadi duduk di belakang.

“Serahin semua uang yang lu punya!” supirnya mengacungkan pisau.
“Eh, eh, eh, ari akang teh tidak tau ya? Ini itu pisau, bahaya tau.”
Naomi dengan santai merebut pisau itu, caranya sangat halus
sampai-sampai supirnya pun lengah.

“Eh, lu mau macem-macem ya?” ucap salah seorang preman.
“Hah? Apa?” tanya Naomi, secara tidak sengaja ia mengacungkan pisau
itu kearah preman yang baru saja bertanya.

“Berani banget lu ngacungin tuh piso kearah gue.” preman itu marah-marah.
“Hajar Boim!” ucap supirnya.
“Reza, lu juga harus bantu gue!” ucap Boim pada supirnya.

Tanpa berkata apapun lagi, Boim hendak menghajar Naomi. Naomi
terkejut, lalu menundukkan kepalanya dan secara tidak sengaja
mengacungkan pisau itu diatas kepalanya.

Pukulan Boim tepat mengenai ujung pisau itu. Kepalan tangannya
berdarah, Boim meringis kesakitan. Boim terus memegangi tangannya.
Darahnya mengucur deras, padahal hanya satu sayatan saja.

“Cabut! Cabut bro!” Reza lalu masuk ke dalam mobilnya, diikuti oleh Boim.
“CEPET!!!” teriak Boim, lalu Reza menginjak gas sekuat tenaga.
“Hey!” ucap preman satunya, mereka meninggalkannya.

“Kamu enggak apa-apa kan?” tanya preman itu.
“Enggak kok.” jawab Naomi.
“Kamu kok sama sekali gak takut sama saya? Kamu orang baru ya disini?”
tanya preman itu.

“Iya, saya teh orang baru disini. Saya dari kampung. Saya kesini teh
mau nyari alamat ini, saya mau casting.” Naomi memberikannya sebuah
kertas, membiarkan preman itu membacanya.

“Oh, ini saya tau!” ucap preman itu.
“Beneran?” tanya Naomi, ia tersenyum bahagia.
“Iya, mari saya anterin!” jawab preman itu.
“Hah? YES!!!” Naomi terlihat sangat senang.

“Udah lama gue gak liat ekspresi senang kayak gitu.” ucap preman itu dalam hati.
“Oh iya, kita belum kenalan. Nama saya Ulung.” preman itu menjabat tangan Naomi.

“Nama saya teh Shinta Naomi, panggil aja Naomi. Tapi temen-temen di
kampung mah sering manggil Omi.” Naomi balas menjabat tangan preman
itu.

“Sepertinya akang teh lebih tua dari saya!” Naomi tertawa.
“Terserah! Yuk berangkat!” ajak Ulung.
“Yuk!” balas Naomi, lalu membuang pisau yang sedari tadi ia pegang.

BERSAMBUNG

Jika kalian punya pertanyaan tentang bahasa Sunda yang tidak
dimengerti, silahkan mention ke @RusdiMWahid

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s