Fiksi dan Fakta, part 31

Pertemuan itu berlanjut. Michelle bangkit dari bangkunya saat Jaka dan gadis itu saling menatap bingung.

“Kalian udah saling kenal?” Tanya Michelle bingung.

“Ehh..” Jaka menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Kita kenal, kami satu pesawat kemarin.” Gadis bernama Ve itu tersenyum kearah Jaka dan Michelle.

“Ohh.. ko kamu ga cerita, Raz?” Michelle kembali duduk.

“Lagian aku gatau kalo kalian temenan.” Jaka merasa canggung.

Sebenarnya, tidak ada hubungannya dengan Michelle. Baik Jaka dan Ve hanya bingung, mengapa mereka
berdua selalu dipertemukan selama liburan ini.

Obrolan malam itu berakhir. Obrolan berjalan baik karena Jaka, Ve dan Michelle memiliki sifat seru dalam suatu obrolan. Singkatnya, topik obrolan tak pernah ada habisnya, dan setiap topik terasa sangat menarik untuk didengar.

*Skip

Hari ke-4, menandakan bahwa liburan Jaka dkk di Bali tinggal 8 hari lagi.

“Saurus, ada kabar baru?” Jaka melirik kearah Mike yang baru bangun.

“Cek dolo,” Mike meraih ponselnya.

“Jak, soal Zidane. Dia kecelakaan..” Ucap Bobby kejutkan semuanya.
“Ehh, kecelakaan dimana?” Timpal Kelpo yang segera mem-pause gamenya.

“Kaga, dia cuma tabrakan disekitar perbatasan,” Lanjut Bobby.

“Ohh, gara-gara salju ya?” Lanjut Jaka menatap Bobby.

Bobby menaikkan kedua bahunya, tanda tak tahu.

“Nih, Yona nge-post di insta,” Mike menyodorkan ponselnya kepada Jaka.

“Wihh.. tangan kirinya patah.” Ucap Jaka.

“Syukurlah..” Ucap Bobby, Kelpo, dan Mike bersamaan.

“Eh?” Jaka bingung.
“Mending tangannya patah, Jak.” Kelpo paham dengan rasa bingung Jaka mendengar tanggapan mereka.

“Daripada tulangnya remuk.” Lanjut Mike dilanjutkan dengan anggukan dan senyuman tipis dari mereka semua.

Hari ini begitu menyenangkan, sama seperti hari kemarin. Kali ini, Jaka izin untuk istirahat seharian.

“Weitss, udah pada bangun nih?” Sapa Michelle hangat.

“Akhirnya keluar kamar juga nih, cowo-cowo pemales..” Canda Shania, anehnya senyuman itu bukanlah mengarah ke Jaka.

Jaka menoleh ke arah mata Shania menatap. Ya, Bobby. Tak salah lagi.
“Gue ga ikut hari ini, badan sakit semua..” Jaka bergegas mendekati meja makan. Mengambil 2 lembar roti tawar, mengoles selai kacang dan kembali lagi ke kamar.

“Ada apa dengan Razaqa?” Elaine yang sejak tadi menonton tv, langsung bertanya spontan kepada mereka semua.

“Ehh..?” Mike tersendat.

“Razaqa kecapekan mungkin Len,” Balas Kelpo dengan sedikit tersenyum.

“Ohh.. dia pergi sama kamu kan, C-“

“Pagi semua..” Sapaan Viny memotong perkataan Andela.

“Ehh, Viny. Udah mandi?” Tanya Michelle tersenyum.
“Hehehe.. iya. Belum telat, kan?” Viny tersenyum dan bergerak mendekat kearah ruang keluarga yang ramai itu.

“Vin, kemaren aku ketemu anak kecil, namanya Viny juga.” Bobby mulai bercerita.

“Ohh, yang ngasih kita minuman ya, Bob?” Tanya Shania terkekeh.

“Hahaha.. iya Shan.” Balas Bobby tersenyum.

“Hahaha.. iya lucu banget!! emeshh.” Lanjut Elaine.

“Lucuan aku-_-” Mike malas.

“Huuu.. apa lucunya kamu?” Lanjut Elaine mencubit pipi Mike gemas.

“Ishhh.. sakit,” Mike memegangi kedua pipinya.

Semuanya pun tertawa.

“Polos banget dia ya, aku mau deh punya adik kaya gitu.” Michelle kini mendahului yang lain.

“Jadi nyesel ga ikut._.” Kelpo menunduk malas, semuanya pun larut dalam tawa lagi.

“Udah udah, daripada galau ama ketawa mulu, mending kita mulai sarapan, oke?” Ajak Michelle dengan sedikit berteriak karena ruang keluarga yang cukup terpisah dari ruang makan.

“OKE!” Jawab semuanya bersamaan.

“Vin, kamu panggil Razaqa, gih.” Shania memerintahkan Kelpo.

“Kamu sendiri aja, kan biasanya juga gitu.” Balas Kelpo sambil menaikkan
alis sebelah kirinya.

“Ehh? engga lah, takutnya nanti dia lagi gimana gitu.” Bantah Shania sambil tertunduk.

“Hahaha.. oke oke,” Kelpo pun berlalu.

Semuanya memasuki ruang makan.

“Gue masih kepikiran ama anak kecil yang kita temuin itu..” Bobby berkata kepada Mike.

“Hahaha.. Eh, Vin!” Mike memanggil Viny yang sedang mengutak-atik ponselnya.

“Iya?”

“Cewe yang kemaren itu, selain namanya sama kaya kamu, kawaii-nya juga mirip tau! Hahaha..” Mike tertawa begitu keras.

Michelle, Shania, Bobby dan Andela hanya menggeleng-geleng sambil tersenyum. Elaine mencubit perut Mike yang sedang tertawa terbahak.

“Duh.. duh.. Sakit len, sakit..” Rintih Mike.

Semuanya pun tertawa, namun lain halnya dengan Viny. Ekspresi Mike saat mengatakan hal barusan begitu polos. Viny menyukai pola yang tergambar di tawa Mike tersebut.

“Oke, ayo semuanya!” Ajak Kelpo yang baru saja kembali.

“Razaqa-nya mana, Vin?” Tanya Michelle bingung.

“Anu.. Jaka lagi mandi, bentar lagi dia gabung, katanya duluan aja.” Kelpo mengambil posisi duduk diantara Mik
dan Andela.

Sarapan bersama pun dimulai. Tak lama, setelah memulai sarapan tersebut, sosok Jaka kembali. Jaka memutuskan hanya ikut mengobrol, karena tadi sudah menyantap roti dengan selai.

*Skip

Liburan ini tak perlu dijelaskan, siang hari mereka habiskan untuk mengunjungi tempat-tempat wisata berupa pura-pura, dan sebagainya.

Malam mulai mengepung mereka. Terlihat seorang Elaine sedang berdebat di telpon, yang membuat Mike mengurungkan niat untuk mengetuk pintu kamarnya.

“Mike, kita pergi dulu ya..” Pamit Bobby mewakili Shania, Michelle, Kelpo,
Andela dan dirinya sendiri.

“Ehh.. iye-iye. Jaka masih ngebo yak?” Tanya Mike seraya berlari kecil kedepan teras.

“Iye, lu bangunin aja ntar. Kelewatan kalo ampe jam 8 kaga bangun-bangun..” Lanjut Kelpo terkekeh.

“Hahaha.. gile lu, dia kan sempet bangun jam 3 tadi, buktinya dia ngechat gue.” Bantah Bobby tak setuju.

“Lah, salahnya gue dimana?”

“Lu bilang ‘kelewatan’ -_- engga kelewatan lah,” Dukung Bobby diikuti tepukan dan sorakan dari Mike.

“Hadeh-_- udah deh, nyerah. Ayo pergi.” Kelpo berjalan mendahului yang lain.

“Hahaha.. ngambek tuh anak.” Mike ta
bisa berhenti tertawa.

“Hahaha udeh, mari Car.”

“Iye, ati-ati.” Setelah mengunci pintu depan, Mike kembali masuk dan menuju dapur.

Terlihat seorang Viny sedang duduk di bangku panjang dekat tempat cucian di bagian samping taman rumah Michelle. Tentunya, bersama alat tulis yang terus ia pakai dalam mengisi lembaran-lembaran buku yang kosong.

“Ngapain Nyi?” Tanya Mike tersenyum sambil meniru gaya Kelpo.

“Hahaha, apa-apaan tuh kaya Kelvin aja..” Viny yang sedikit kaget hanya membalas dengan tawaan spontan.

“Jangan disamain dah :v sekali lagi, lagi ngapain?” Mike duduk di samping
Viny.

“Ini, cuma nulis-nulis aja,”
“Boleh aku liat?” Kepo Mike sambil menyodorkan tangannya.

“Ehh, maaf tapi gabisa. Kata-katanya jelek,” Ucap Viny tertunduk.

“Kata-katanya yang jelek, atau-“

“Atau apa???” Tanya Viny cepat.

“Ngoehehe.. engga.” Mike tersenyum sambil menaikkan alisnya, membuat rona merah di pipi Viny terlihat jelas.

“Ihh kamu..” Viny menggembungkan pipinya.

“Ihh, luc-“

“Ehh?!” Viny segera bangkit.
Mike hampir saja mencubit pipi Viny. Namun, tangan Mike yang terayun segera disadari oleh Viny.

“Ehh, maaf.. maaf banget.” Mike tidak enak dan mulai merasa canggung.

Viny yang seharusnya pergi masuk, justru kembali duduk.

“Emm.. maaf ya, tapi aku gasuka digituin.. maaf kalo reaksi aku terlalu-“

“Ga, aku yang salah. Bahas yang lain aja ya?” Potong Mike sambil menatap Viny teduh.

“Bahas apa?”

“Bahas hobi-hobi kamu aja..” Jawab Mike tersenyum.

“Emm, gausah deh. Gimana kalo kamu? kamu suka nulis?” Vi
membalikkan pembahasan.

“Ehh, aku? aku gabisa ngerangkai kata-kata gitu, apalagi sampe nulis cerita. Jaka suka tuh,” Balas Mike.

“Iya, Jaka memang suka nulis. Jadi kamu ga suka ngerangkai kata-kata?” Tanya Viny lagi.

Mike menatap Viny sebentar.

“Bukan ga suka, tapi kata-kata romantis pun, kedengerannya kaya bikinan bocah sumpah..” Bisik Mike diikuti tawaan lepas dari Viny.

“Kamu bisa aja. Jadi ho-“

“Mike! Mike!” Terdengar panggilan Elaine dari dalam, membuat obrolan itu terputus.

“Kamu dicari Elaine tuh.” Lanjut Viny.

“Masuk dulu ya..!” Pamit Mike berdiri dan masuk ke dalam.

Viny membuka halaman demi halaman dalam buku tersebut kembali.

“Oh, mereka ga seburuk yang aku pik-“

“Hey!” Panggil Mike lagi, kagetkan Viny.

“Hah?!” Teriak Viny cukup kencang.

“Aku lupa, lupa bilang sesuatu..” Mike sedikit berbisik.

“Ehh, apa?” Viny mulai penasaran.

“Coba liat kedepan!” Perintah Mike tegas.

“Ehh? ada apa?” Tanya Viny bingung.
“Tembok!” Lanjut Mike.

“Maksud kamu?” Viny mulai menggaruk kepalanya bingung.

“Walaupun aku ga jago nulis, tapi alangkah baiknya kalo kamu ke taman. Emang ada ide liatin tembok? mana ada cucian rusak tuh.” Mike santai.

“Hahaha..”

“Yaelah, malah ketawa-_-” Mike sangat malas, entah mungkin Mike begitu polos.

“Ikutan Stand Up Comedy aja Mickey, hahaha.” Lanjut Viny masih tertawa.

“Lol :v aku serius.” Lanjut Mike.

Viny mengangguk sambil menahan tawanya agar tidak terlalu berlebihan.
“Oke deh, pergi dulu yak! Hati-hati ama Jaka, dia suka gigit.” Mike lalu meninggalkan Viny sendiri, dengan kondisi Viny yang masih tertawa geli.

Perlahan, Viny berdiri dan berjalan menuju taman. Viny duduk di bangku taman yang nampak lebih baru dan lebih nyaman dari bangku yang telah usang tadi.

Viny menoleh kearah pintu belakang, terlihat Elaine dan Mike telah mengenakan pakaian untuk pergi. Mungkin, maksud Mike tentang pergi, memang pergi keluar.

Viny melanjutkan kegiatan menulisnya.

*Skip

“Mikirin apa wehh?” Tanya Elaine membuat Mike tersadar dari
lamunannya.

“Ga mikir apa-apa kok.” Bantah Mike cepat.

“Huuusssfff..” Dengus Elaine pada pakaian Mike.

“Ehh, ngapain?” Mike menoleh bingung.

“Kalo dari bau badan sih, kamu boong ya?” Elaine tersenyum licik.

“-_- sumpah engga, tadi cuma lagi ngelamun.” Lanjut Mike.

“Pletakk!” Jitak Kelpo yang tiba-tiba datang bersama yang lain.

“Ehh, asu! siape lo?” Mike langsung bangkit.

Bobby dan yang lainnya langsung
tertawa.

“Ini gue! mau ape lu?” Balas Kelpo buat Mike kembali duduk.

“Bangsat! gue kira siapa-_-” Ucap Mike malas.

“Kalian kok tau kalo kami disini?” Tanya Elaine bingung.

“Lah, kalian kan ICC.” Jawab Kelpo.

Semuanya pun tertawa.

“Ehh, ICC a-” Tanya Elaine lagi.

“Udah ah, Len -_- kamu mah nanya ke mereka mulu, ga jauh-jauh dari ngehina pasti-_-” Mike menyipitkan matanya, membuat semuanya tertawa termasuk Elaine.

“Ice Cream Couple, Len. Hahaha..”
Lanjut Kelpo lagi, diikuti tawaan yang makin keras dari yang lain.

“Udeh sono pesen, lama-lama nih es krim gue sambit ke lu-lu pade-_-“

“Hahaha, marah mulu nih, peranakan Dinosaurus.” Goda Kelpo lagi.

“Punah dong jeg, hahaha..” Timpal Bobby buat Mike makin malas.

“Hahaha.. udah-udah, pesen apa kalian?” Michelle mulai menanyakan soal pesanan mereka.

Malam itu mereka habiskan dengan memakan es krim bersama. Tentu Kelpo tak henti-hentinya menganggu Mike. Sebenarnya ada yang aneh pada Mike, lamunannya tadi seperti cikal bakal permasalahan baru di hubungannya. Sesuatu hal yang penting, mungkin.

Sementara itu,

“Wihh.. sepi banget.” Jaka buru-buru keluar dari kamarnya.

Dengan kondisi kesadaran yang masih belum sepenuhnya pulih, Jaka mencari tanda-tanda seseorang yang masih ada dirumah.

“Taman?” Kaget Jaka saat pintu kearah taman terbuka.

Jaka bergerak kearah pintu tersebut. Seorang gadis tampak duduk di bangku taman sambil menulis di bukunya.

“Viny?” Sapa Jaka menghampiri Viny.

“Ehh, Iya Razaqa? udah bangun?”

“Udah, Vin. Kamu ga pergi?” Tanya
Jaka yang kini berdiri di pinggiran kolam.

“Hehehe.. engga. Sekarang sih pengen, tapi-” Viny terhenti.

“Tapi apa?” Jaka menatap Viny penuh tanya.

“Ta-tapi.. tapi aku.. mager.” Balas Viny terbata-bata dan tertunduk.

Jaka tak yakin dengan jawaban Viny.

“Emm.. aku coba hubungi mereka ya?” Tanya Jaka lagi. Viny hanya mengangguk setuju.

“Halo, Jak?”

“Ya, Halo Po, lagi dimane?”

“Kami lagi di deket tempat kemaren, ada pondok-pondok makanan nih..”
Balas Kelpo antusias.

“Gue kesana ya? ngajak Viny, oke?”

“Ohiya, boleh Jak, boleh banget. Cepet ye, ntar kami pulang lagi kalo lu kelamaan..” Balas Kelpo sekenanya.

“Wanjerr-_-“

“Kaga lah, hahaha.. sok atuh ditunggu.” Kelpo hendak mengakhiri obrolan.

“Ntar dulu!” Tahan Jaka.

“Hah? lu nape, Jak?” Bingung Kelpo dari seberang sana.

Viny yang melihat Jaka menelpon Kelpo pun sedikit kaget saat Jaka menahan pemutusan panggilan dari Kelpo.

“Boleh ngomong ke Michelle?”

“Soal a-“

“Po-_-” Potong Jaka malas.

“Iye, kaga kepo dah w-_- nih Michelle.” Panggilan dialihkan.

“Halo, Raz?” Sapa Michelle lembut.

“Halo juga, Chel. Rumah mau dikunci gembok atau gimana nih? atau panggil om Hedi di sebelah aja ya?” Tanya Jaka pada Michelle.

“Hmm.. kamu mau keluar ya?”

“Iya, nyusul kalian.” Ucap Jaka lagi.

“Yeay seru! yaudah, kamu kunci aja seadanya, terus baru ngelapor ke om Hedi disebelah.” Instruksi Michelle.

“Sip, Chel. Otw nih, hehe..” Jaka pun
mengakhiri panggilan.

“Ya, ja-“

“Tut.. Tut.. Tut..” Perkataan Kelpo terpotong.

“Wah…su!” Teriak Kelpo keras diiringi tawa geli dari yang lainnya disana.

“Oke, Vin. Kamu siap-siap deh, kita berangkat.” Jaka lalu bergerak masuk.

“Iya, Raz. Aku ganti baju dulu.”

Jaka terhenti dan menoleh kearah Viny.

“Wait, ganti baju? bukannya itu udah dress terbaik kamu ya?” Tanya Jaka cepat dengan ekspresi konyol.

“Hahaha lucu deh, monyong gitu. Ya, emang apa salahnya kalo mau ganti?”
Viny pun berdiri dan menghampiri Jaka yang masih berdiri melongo.

“Cuma bingung aja. Perasaan cewe selalu ngerasa kurang. Cowo mah yang penting ketutup, hahaha..” Jaka tertawa cukup keras.

“Husshh.. daripada obrolannya ngaco, mending berangkat sekarang.” Viny menarik lengan Jaka.

“Ehh, aku belom ganti ba-“

“Katanya, yang penting ketutup?” Tanya Viny seraya berhenti.

“Lol-_- iya juga, yaudah ayo!” Jaka pun bergegas berlari kedepan.

“Razaqa! tungguin!” Kejar Viny lagi.

Sesampainya didepan, mereka tertawa satu sama lain. Menertawakan
kekonyolan mereka. Setelah Jaka mengunci rumah dan memanggil om Hedi selaku penjaga yang dipercayakan ayah Michelle, Jaka dan Viny pun bergerak pergi.

Malam itu, mereka habiskan bersama-sama. Timbul rasa kesal didiri Jaka, karena pada jam 1 dinihari, pantai sangat-sangatlah sepi. Ketenangan ombak dan pasir pantai yang melintang luas buat ketenangan didiri Jaka sebelum pulang dan terlelap.

Tak ada yang istimewa. Hanya saja, panggilan ‘Mickey’ yang diucapkan Viny, buat Mike tak bisa berhenti memikirkannya. Entah karena panggilan itu milik Elaine, atau panggilan kesayangan itu terkhusus dia ucapkan untuk Mike. Sejujurnya, Mike sendiri pun tak paham.

“Drrrttt!! Drrrtt!! Drrrtt!!” Terdengar
bunyi notifikasi masuk banyak sekali.

Baik Jaka, Bobby, Mike dan Kelpo sudah terlelap pada jam 3 dinihari tersebut.

Jadi, notifikasi apa yang mengusik ponsel mereka kala terlelap itu?. Berharap itu bukan kabar buruk, dan juga bukan kabar baik.

“Jadi, kita cuma harus nungguin momennya. Sampe kita semua mati? Sampe kita semua sekarat? Sampe kita semua takluk?. No one knows, jikalau seandainya mereka tau, setidaknya mereka tak tau lebih banyak dibandingkan aktor dibalik tokoh utama kita. Kau bisa melihat, dan kau harus yakin bahwa itu adalah ‘Si Kembar Pengusik’.” Abdul Sony Gunawan pada pertemuan di detik-detik menuju akhir perang, kepada Blok Sony.

*To Be Continued*

@ArthaaSV & @KelvinMP_WWE

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s