Pengejar Rahasia : Teror Victor Crowley, Part 9

“Astaga! Aku terpisah!” Haruka baru menyadarinya setelah ia berlari cukup jauh.
“Gimana nih?” Haruka terlihat panik, ia berlutut.

Tiba-tiba ia mendengar suara rintihan Victor Crowley dari kejauhan.
Haruka semakin panik, sejenak berpikir. Lalu, sebuah suara mengerang
terdengar di belakangnya.

Haruka menengok secara perlahan. Betapa terkejutnya saat tiba-tiba
Victor muncul di dibelakangnya, mengangkat kapaknya tinggi-tinggi.
Haruka sangat takut, ia menangis.

“Aku tidak mau mati!” Haruka berkata parau pada monster itu.
“JEFF THE RIPPER!!! TOLONG AKU!!!” Haruka berusaha memanggil pembunuh
gila itu, sekaligus menjadi kata-kata terakhirnya.

Tanpa berkata apapun lagi, Victor membelah kepala Haruka dengan
kapaknya. Terlihat begitu jelas otak Haruka yang terbelah dua.
Seketika itu juga, Haruka tewas. Ia mati dalam misteri pertamanya di
tim Pengejar Rahasia.

Selain itu ia salah mengucapkan nama pembunuh berwajah riang itu,
kata-kata terakhirnya sangat sia-sia. Terlihat tubuh Haruka mengejang.
Victor mencabut kapaknya, pergi meninggalkan tubuh itu. Wajah cantik
Haruka sudah tiada, terbelah dua.

Sementara itu, Rusdi terus berlari disusul oleh Naomi dan Sinka. Dalam
gelap malam, Rusdi melihat Victor dari kejauhan yang berlari kearah
mereka. Seketika itu juga, Naomi berlari kearah lain.

Sinka hendak berlari menyusul kakaknya, tapi Rusdi menahan tangannya.
Rusdi menarik tangan Sinka, memasuki sebuah truk besar. Sepertinya itu
truk paramedis, terlihat di dalamnya banyak sekali obat-obatan dan
makanan.

Rusdi menutup pintu truk itu, menguncinya. Dari luar, Victor berusaha
membuka pintu besi itu. Victor terus mendobraknya selama beberapa
menit. Namun sayang, pintu itu terlalu kokoh. Bahkan untuk seorang
Victor Crowley sekali pun.

Victor menyerah, ia berhenti mendobrak. Ia sudah pergi, tidak ada suara lagi.
“Kenapa? Kakakku ada diluar sana sendirian!” Sinka menangis.
“Aku tau, tapi jika kita terus lari kita pasti mati. Lebih baik
sembunyi.” Rusdi memejamkan matanya.

Sinka terduduk, ia masih menangis. Rusdi berusaha menenangkan Sinka.
Ia mencari sesuatu di balik terpal. Saat terpal itu dibalik, Rusdi
terkejut dengan apa yang dilihatnya.

Seorang wanita tengah sembunyi disana. Ia tampak sangat takut,
berkeringat dingin.
“Siapa kau?” tanya Rusdi.
“Syukurlah, ternyata adikku masih peduli padaku.” wanita itu tersenyum tipis.

Di luar sana, Naomi terus berlari dalam gelap malam. Ia berhasil
sampai dengan selamat di tepi rawa. Dengan cepat Naomi menghidupkan
kapal boat itu. Akhirnya berhasil! Lalu Naomi pergi dari rawa itu.

Seena masih setia menunggu disana. Perlahan Naomi melangkah menuju
Seena, menamparnya!
“Maksud kamu apa? Hah? Kamu mau membunuh teman-temanku? Hah?” Naomi memarahinya.

“Maaf kak, tapi kakakku masih ada disana.” Seena memegangi pipinya.
“Asal kamu tau aja! Dua temanku mati disana! Dan kau pernah bilang,
kau ke rawa itu bersama dua puluh orang lainnya. Mereka semua mati!
Hanya kau yang selamat, kecil kemungkinan kakakmu masih selamat
disana!” Naomi semakin kesal, sementara Seena menundukan kepalanya.

Di dalam truk, Rusdi berhasil mendapatkan informasi penting. Ternyata
wanita yang ia temukan adalah Melody, kakaknya Seena. Ternyata ia
bersembunyi disana selama ini. Truk bekas tur horror yang ditinggalkan
di rawa itu, mungkin supirnya sudah dibunuh oleh Victor.

Melody juga membiarkan pintu truk terbuka agar Victor tidak curiga.
Jika pintu itu terkunci, Victor akan curiga di dalamnya ada seseorang
yang bersembunyi. Lalu ia berusaha mendobrak pintu itu seperti tadi.

Untung di dalam sana banyak terdapat makanan, jadi Melody bisa
memakannya. Dengan makanan sebanyak itu, ia bisa bertahan selama
beberapa minggu. Tapi kini Victor sudah mengetahuinya. Ia akan kembali
dan berusaha masuk dengan cara apapun.

“Dia seperti tank! Dia akan bangkit kembali meskipun kau menembaknya
puluhan kali! Dia akan selalu bangun, pura-pura mati. Ia seorang
repeater! Kalau pun ia mati, esok malamnya ia akan hidup kembali!”
ucap Melody.

“Kita hanya punya waktu sedikit. Kita harus membunuhnya, malam ini
juga. Manusia atau bukan, ia pasti mati jika kita memenggal kepalanya.
Selama ia mati, kita harus bisa keluar dari rawa ini siang harinya.”
Rusdi terlihat seperti pemimpin, tidak lagi egois.

Tiba-tiba, dari luar terdengar suara gergaji mesin. Mereka bertiga
diam, tidak beranjak sedikit pun dari tempat duduknya. Mereka
terkesiap ketika pintu besi itu didobrak kuat oleh gergaji mesin.

Di luar sana Victor memberondong pintu besi itu dengan gergaji mesin,
entah dari mana ia mendapatkannya. Victor akan selalu berusaha masuk
dengan cara apapun. Orang yang memasuki rawanya harus mati, itu saja
pola pikirnya.

Pintu besi itu perlahan berlubang, walau hanya kecil.
“Lihatlah, ia seperti Leatherface!” Melody terlihat panik, mereka
bertiga berusaha menahan pintu itu.

10 menit berlalu, lubang itu semakin besar. Mereka bertiga semakin
panik. Jika Victor berhasil masuk, maka berakhirnya hidup mereka.
Mereka harus meninggalkan orang-orang yang dicintainya. Menutup
lembaran kisah hidupnya.

Victor diam sejenak, ia berhenti memberondong pintu itu. Apa ia
menyerah? Entahlah. Sepertinya diluar ada yang lain. Victor mendengar
seseorang berteriak, seketika ia diam mendengarkan.

“RUSDI!!!” Rusdi mendengar suara Naomi memanggilnya.
“RUSDI!!!” tidak salah lagi, itu suara Naomi.
“Itu Naomi!” ucap Rusdi, ia beranjak dari duduknya.

“Hey, tunggu!” ucap Melody, hendak menghentikan Rusdi.
“Dia berusaha memperbaiki sikapnya.Epul berhasil menyadarkannya!” pikir Sinka.
“Naomi?” Rusdi mengintip dari lubang yang dibuat Victor.

Tiba-tiba kepalanya ditarik, Rusdi berteriak gelagapan. Dua wanita itu
dengan sigap segera menarik Rusdi sekuat tenaga. Victor masih diluar,
ia menahan kepala Rusdi.

Sinka berteriak keras menarik tubuhnya, Rusdi pun berteriak keras
diluar sana. Sepertinya terjadi sesuatu, Rusdi kesakitan. Lalu tubuh
Rusdi berhasil mereka tarik.

Alangkah terkejutnya mereka ketika melihat tubuh itu tergolek tanpa
kepala. Kepalanya sudah putus, terpisah dari tubuh itu. Victor
berhasil memenggal kepalanya dengan kapak itu.

Victor kembali memperbesar lubang itu dengan gergaji mesin. Lubang itu
cukup besar, tapi tidak cukup untuk Victor masuk. Lubang itu hanya
bisa ia masuki setengah tubuhnya.

BERSAMBUNG

Author : @RusdiMWahid

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s