Sebuah Cinta dan Kenangan, Part18

“Daripada kalian habisin waktu disini mending kalian…”

“…kerumah sakit Cahaya Pelita. Shani ada disitu” Ucap Aldo.

“Gue yang nemuin dan soal penjaga hutan liat Ambulan itu bener. Bisa ? Karna itu gue juga yang panggil Ambulan itu” Ucap Aldo.

Erza yang tadinya mencoba kuat mendekat kini kian melemah setelah mendengar perkataan Aldo.

“Lu lagi ga bercanda kan do ?” Tanya Anin.

“Ngapain ? Ngapain gue bercanda ?” Balas Aldo.

“Mending kalian pergi atau gue yang pergi buat temenin Shani” Ucap Aldo.

Erza langsung berlari menjauh menuruni bukit tanpa memperdulikan medan jalannya. Mungkin yang hanya didalam kepalanya hanya ada Shani saat itu. Sosok yang ia tunggu kabarnya. Anin bersama dengan yang lain menyusul Erza dari belakang.

-oOo-

“BIP…BIP…BIP…”

Kain warna biru, tembok putih, bau obat. Hal tersebut yang pertama kali Shani liat dan ia rasakan saat kesadaran menghampiri dirinya kembali. Shani melihat perempuan dengan baju berwarna putih sedang berada sibuk disampingnya. Suster tersebut terlihat memeriksa botol infus.

“Sus…” Panggil Shani lirih.

Satu, dua kali Shani mencoba memanggil suster tersebut, namun tak mendengar. Shani mencoba menarik kecil selang infus dilengannya. Tarikan kecil dikarenakan Shani masih terlalu lemah. Cara tersebut berhasil memberitau si suster bahwa dirinya telah sadar.

“Eh, mba ?” Kaget suster melihat Shani telah sadar.

“Jangan terlalu banyak bergerak, mba baru sadar” Tambahnya.

“Berapa lama saya ga sadar sus ?” Tanya Shani sambil menggerakan sedikit tangannya yang tertancap selang infus.

“Sudah hampir Empat hari” Jawabnya.

“Yang bener sus ?” Kaget Shani hanya dibalas senyuman dengan kombinasi anggukan pelan dari si suster.

“Siapa yang bawa saya kesini, sus ? Perasaan waktu saya itu ada dihutan” Ucap Shani masih lemah.

“Mba nya mending istirahatin aja lagi. Soalnya kondisinya masih lemah dan Jangan dulu banyak gerak” Ucap Suster.

“Kepalanya sakit ?” Tambahnya dengan intonasi tanya.

“Sedikit sus”

Suster tersenyum ramah ke arah Shani.

“Nanti Istirahat aja lagi, biar saya panggil dokter” Ucap suster.

“Iya”

Shani mencoba memejamkan maranya kembali. Sedangkan si suster keluar dari ruangan tempat Shani dirawat setelah selesai dengan pekerjaannya, mengecek kondisi pasien.

Shani membuka matanya kembali, menatap langit langit ruangan dan tatapannya menjalar ke arah pintu. Ia memegang lembut kepalanya atau lebih tepat keningnya yang terbalut kain putih.

“Diperban ya…”

“Malam itu orang atau apa sih ? Bikin takut aja” Lanjutnya.

Shani melihat sekeliling, “Ga ada orang ? Apa yang lain ga tau aku ada disini ya ?”

“Oh iya, tadi kata suster tadi ada dua teman aku lagi beli makanan. Siapa ?”

Seseorang berjalan dengan langkah pelan. Kemudian ia nampak berhenti di depan gerbang sebuah rumah. Rumah yang nampak sepi dari luar namun ramai di dalam nya. Ia nampak ragu-ragu untuk masuk ke dalam. Ia sempat berbalik ingin meninggalkan tempat itu kembali, namun ia menghentikan langkahnya.

“Apa aku masih diterima ditempat ini ya ? Setelah satu minggu ini pergi tanpa kabar” Ucapnya melihat papan yang terdapat di depan rumah tersebut.

“Panti Asuhan Melati Indah” Ucapnya.

“Dari umur Empat tahun aku sudah berada di tempat ini. Tempat yang menyelamatkan aku dari kehidupan jalanan yang menanti. Entah jadi apa sekarang jika aku tak bertemu dengan beliau…”

“Beliau sudah aku anggap ibuku sendiri dan mungkin anak-anak lain juga menganggapnya sama sepertiku, seorang ibu. Merawat, mendidikku dan menyekolahkanku dengan tulus tapi, tapi apa yang aku balas ? Belum ada…malah, aku pergi dari tempat ini tanpa alasan yang jelas. Bodohnya diriku”

“Bismilah”

Anak tersebut melangkahkan kakinya untuk memberanikan diri masuk kembali ke rumah hangatnya.

“KRIET !” Suara gerbang tua yang dibuka.

Ia berjalan pelan menuju pintu utama. Suasana nyaman langsung menerpanya saat ia memasuki halaman rumah tersebut. Rumah penyelamat, rumah pelindung serta rumah keluarga barunya yang sangat penuh dengan kehangatan.

“Tok ! Tok ! Tok !” Mengetuk pintu. Menunggu respon dari orang dalam. Pintu terbuka.

“Kak Naufal !” Kagetnya saat melihat si pengetuk pintu.

Terlihat anak gadis yang membukakan pintu langsung memeluk tubuh Naufal ? Ya, anak tersebut yang baru pulang kembali bernama Muhamad Naufal atau Naufal.

Naufal hanya tersenyum sambil membalas pelukan si anak tersebut.

Mendengar teriakan si anak gadis tersebut. Penghuni rumah yang berada didalam langsung berdatangan ke bagian depan. Termasuk beliau, ibu panti yang mengurus semua anak dirumah tersebut.

“Kemana saja kamu nak ?” Tanya Khawatir dari ibu panti.

“Tinggal dimana ? Kemana ?” Sambungnya.

Naufal hanya diam menundukkan kepalanya.

“Udah, yang penting kamu kembali lagi kesini dengan selamat”

“Udah makan belum ?” Tanya ibu panti.

“Udah kok, bu” Naufal mengeluarkan suaranya.

“Ayo masuk” Ajak ibu panti.

SKIP

“Dihutan ?” Kaget ibu panti. Naufal menangguk.

“Terus kesini tadi sama siapa ? Bukannya hutan itu jauh dari sini ?”

“Kebetulan saya habis dari Rumah sakit”

“Kamu sakit ? Mana yang sakit ?”

“Bukan aku bu”

“Terus kamu ngapain ke rumah sakit ? Katanya tadi dihutan”

“Jadi gini, beberapa hari setelah aku keluar dari panti ini saya ga tau mau kemana lagi, aku terus melangkah, naik ini naik itu. Nah, pas dah malam aku jalan terus kesasar sampe hutan. Dan gara” aku kesasar….” Naufal menundukan kepalanya.

“Ibu tau, anak perempuan yang pernah kak Erza ajak main kesini ?” Tanya Naufal.

“Iya, kalo ga salah namanya Shani ya ?”

“Iya namanya Shani. Dan itu alasan aku tadi bilang dari rumah sakit bu”

“Maksud kamu ?”

“Ini gara-gara aku. Ceritanya panjang”

Naufal mulai menceritakan semua apa yang telah terjadi dan apa yang terjadi dengan Shani kepada seluruh penghuni panti.

Ternyata malam itu saat Naufal berjalan tak tentu arah tanpa sadar ia memasuki hutan yang menjadi tempat dimana anak anak sekolah Erza melakukan kegiatan. Saat berjalan ditengah hutan Naufal melihat anak perempuan yang sama dengan dirinya, seperti kebingungan. Naufal mendekat dengan cahaya senter yang ia arahkan ke tubuh si perempuan yang ternyata Shani. Naufal mendekat, tetapi Shani malah menjauh dan itulah yang membuat Shani masuk rumah sakit.

Naufal menjelaskan semua dengan ekspresi bersalah.

Tak berselang waktu lama saat Naufal masih menjelaskan apa yang sedang terjadi, terdengar suara klakson mobil di luar. Dengan cepat tanpa disuruh salah satu dari penghuni panti bergegas dari posisi duduk mendengarkan berlari ke arah pintu untukmengetahui ada siapa diluar sana.

“Elda! Diluar ada siapa nak ?” Tanya ibu panti.

Anak tersebut yang bernama Elda tak langsung menjawab. Beberapa detik kemudian Elda datang dengan kantung plastik besar di tangannya yang ia bawa.

“Kak Erza, bu” Ucap Elda.

Dari belakang Elda disusul kemunculan Erza, sama dengan membawa kantong plastik namun dua buah kantong besar.

“Asalamualaikum…” Ucap Erza dan dijawab semua penghuni panti dengan kompak.

Anak-anak panti langsung berhamburan mendekat ke arah Erza. Ada yang memeluk, menarik tangan sampai ada yang memeluknya. Erza benar-benar dijadikan bahan tarik menarik, mereka kangen dengan Erza.

“Udah udah, kak Erza nya disuruh duduk”

“Jadi nak Shani benar ada dirumah sakit sekarang ?” Tanya ibu panti.

“Benar bu, tapi untungnya ada Naufal yang bawa Shani kerumah sakit” Jawab Erza.

“Tapi kak, itu juga gara-gara aku juga kak” Ucap Naufal.

“Udah, yang penting sekarang Shani baik-baik aja. Lagipula semua ga sengaja kan ?”

“Aku minta maaf kak” Ucap Naufal.

Erza tersenyum, “Udah jangan dibahas lagi”

“Kondisi Shani sekarang gimana za ?” Tanya ibu panti.

“Udah membaik kok, disana juga ada teman saya Yogi sama Elaine yang jaga. Saya cuma mau nganterin Naufal pulang kesini. Naufal beberapa hari ini udah jagain Shani. Naufal juga yang bayar semua pengobatan Shani dengan uang tabungannya yang dikumpulin bertahun-tahun. Tadinya mau aku ganti ta…” Belum semoat Erza nelanjutkan perkataannya, Naufal menyela.

“Ga papa kak, ga usah diganti” Ucap Naufal.

Erza tersenyum, ia tau bahwa Naufal akan menjawab seperti itu. Namun Erza telah mempunyai rencana tersendiri.

Tanpa sadar Erza berkunjung sudah memasuki waktu malam. Erza berniat berpamitan untuk kembali ke rumah sakit.

“Ibu pengen ikut jenguk Shani, za”

“Boleh, tapi mending besok aja bu. Besok biar saya jemput”

“Yaudah, maaf ngerepotin”

“Ga sama sekali kok bu”

“Dan kalo mau main kesini main aja ga usah pake beli apa-apa. Itu yang dibawa kebanyakan loh”

“Ga papa kok bu, kalo kita ada dan saling berbagi itu indah” Ucap Erza tersenyum.

“Yaudah, kalo gitu saya pamit mau balik ke rumah sakit ya bu” Ucap Erza.

“Assalamualaikum..”

“Wa’alaikum salam… Hati-hati dijalan, jangan ngebut”

-oOo-

Membuka gorden jendela rumah sakit. Cahaya sinar Matahari langsung menyilaukan pandangan mata. Dengan gerakan malas Erza yang tidur dengan kepala diletakan diranjang pinggir Shani dan Yogi di sofanya terbangun.

“Jam berapa len ?” Tanya Erza.

“Setengah Tujuh. Pada cuci muka gih, jorok banget baru pada bangun. Abis itu sarapan, tadi gue baru dari kantin rumah sakit” Ucap Elaine.

“Iya”

“Oh iya, hari ini mending kalian pulang aja, biar gue yang jagain Shani” Ucap Erza.

“Yaelah za, ga papa kali lagian orang tua Shani kan ga tau, yang tau cuma Yupi doang kan ?”

“Ada apa ?” Tanya Erza saat melihat Elaine dan Yogi memandang kearahnya dengan senyuman…

“Kayaknya udah ada yang bangun nih ?” Ucap Elaine.

“Gue emang udah bangun” Ucap Erza.

“Gue udah tau, tapi liat tangan lu”

Erza melihat tangannya, tanpa sadar dan entah mulai kapan tangannya digenggam oleh tangan Shani. Erza melihat ke arah Shani dan Shani terlihat tersenyum dengan kondisi mata masih terpejam dan langsung membuka matanya.

“Selamat pagi Ezaaa…” Ucap Shani dengan senyuman manisnya.

“Kamu sudah sadar ?”

“Udah” Jawab Shani dengan nada menggemaskan.

“Sejak kapan ?”

“Mm…sejak pas kemarin kamu pergi”

“Wah tega lu pada, kaga ngasih tau gue” Ucap Erza.

“Biar kejutan” Ucap Shani.

“Kejutan sih kejutan tapi liat situasi juga”

“Cuci muka dulu gih, masa pacar aku jorok sih” Ucap Shani.

“Iya-iya Shan. Yuk gi…” Ucap Erza pada Yogi.

“Ajak gue ? Lu mau apain gue dikamar mandi”

“Ah serah lu aja dah” Ucap Erza beranjak dari posisinya, tapi ia berhenti dan berbalik.

“Eh, Ada apa ?” Kaget Shani.

Erza mendekat, “CUPZ !” Erza mengecup lembut pipi Shani.

SKIP

“PLUK !”

“Isshh, nyebelin. Jangan dipecahin” Ucap Shani dengan nada seperti anak kecil.

“Hehehe..” Erza hanya cengengesan.

Shani kembali membuat gelembung sabun. Mereka sedang berada ditaman rumah sakit. Walau tak terlalu luas namun udaranya sangat segar karena terdapat banyak pohon disekitarnya.

Dengan tiupan lembut Shani membuat rentetan gelembung bulat dengan indahnya menari-nari mengikuti irama terpaan angin yang ada. Erza memandang dari samping sambil tersenyum dengan kebahagiaan yang berada tepat didepan matanya. Cinta itu memang bisa membuat buta, mampu menghipnotis seseorang namun, cinta itu tak gila, tak menghilangkan kewarasan.

Cinta bagaimana kita menunjukannya bukan merendahkannya. Mungkin trend pacaran dijaman sekarang banyak yang aneh, jika dilihat bukanlah sebuah cinta. Cinta tak harus berhubungan badan atau apa, itu sama saja tak menghargai perempuan. Perempuan itu dihargai dan dijaga, bukan direndahkan harga dirinya dan merusaknya. Itulah cinta.

Kebahagiaan sejati dinikmati secara tulus, bukan dinikmati secara badan yang mulus. Memang terdengar munafik tapi memang seharusnya seperti itu. Hargai perempuan sebagaimana kamu menghargai ibumu.

Kesetiaan ? Kesetiaan gampang untuk diucapkan namun sulit untuk dilakukan. Masalah memaksa kita untuk dihadapi bukan untuk dihindari. Hadapi secara bersama. Karena disitulah kesetiaan diuji.

Shani memandang balik Erza. Membalas dengan senyuman manis. Sebuah senyuman yang membawa penyemangat.

“Mau masuk ?” Tanya Erza dengan memandang langsung mata Shani.

“Belum” Balas Shani sambil menggeleng pelan.

“Coba tiup” Shani mengajak Erza meniup gelembung.

Erza meletakan tangannya diatas tangan Shani dan mulai meniupnya dengan lembut.

“Lebih besar, lebih besar” Ucap Shani kegirangan saat gelembung yang Erza tiup semakin besar.

“Ihh, pelan-pelan…jadi pecah kan” Ucap Shani.

Erza meniup gelembungnya terlalu kuat gara-gara menahan tawa saat melihat ekspresi Shani tadi. Akibatnya gelembung yang sudah besar seketika pecah.

“Hahaha…”

“Ngapain ketawa ?!” Ucap Shani berpura-pura kesal.

“Sebesar apapun gelembung yang aku tiup ga bakal nandingin sebesar apa cintaku sama kamu”

“Ah gombalannya basi” Ucap Shani.

“Kalo basi diangetin lah”

“Angetin kaya gini ?” Ucap Shani memeluk Erza dari samping.

“Eh ?”

“Jangan pernah tinggalin aku, za” Ucap Shani dalam posisi memeluk Erza.

“Aku sayang sama kamu…” Lanjutnya.

Erza mengelus tangan Shani yang melingkar dilehernya.

“Aku juga sayang kamu shan…” Ucap Erza.

“Shan…”

“Ya ?”

“Pernah percaya ga ? Kalo kebahagiaan yang indah telah hilang bakal digantiin sama kebahagiaan baru yang jauh lebih indah lagi ?” Ucap Erza.

“Seperti perumpamaan diatas langit masih ada langit, jadi aku percaya” Balas Shani.

Bebeberapa saat berikutnya tercipta keheningan.

“Masuk yuk” Ajak Erza.

“Yuk !”

Dengan berjalan berdampingan Erza dan Shani melangkahkan irama kakinya memasuki lorong rumah sakit. Setiap langkah akan terasa nyaman dan menyenangkan saat kita melakukannya bersama orang yang kita sayang dan kita hargai.

Senyum adalah hal kecil namun akan menjadi harta yang sangat berharga bagi orang lain. Sebuah senyum kecil yang kita lakukan bisa menjadi sebuah penyemangat bagi penikmatnya. Karna hal yang besar semua berawal dari sebuah hal yang paling kecil. Banyak kebahagiaan disekeliling kita, namun kebanyakan belum dapat dirasakan seutuhnya.

Erza dan Shani telah sampai dikamar tempat Shani. Tak terdapat Yogi maupun Elaine disana, entah kemana.

Erza membantu Shani rebahan di atas kasurnya.

“Sarapan dulu, abis itu minum obatnya” Erza mengambil mangkuk berisi bubur hangat diatas meja yang masih terbungkus rapat oleh kertas alumanium foil.

“Aaa…” Erza menyuapi Shani. Shani menurutinya.

Suapan demi suapan diberikan oleh Erza dan Shani selalu menerimanya dengan antusias. Hingga satu suapan terakhir telah habis.

“Abis…waktunya tinggal minum obat” Ucap Erza.

“Mau dihancurin apa ga obatnya ?”

“Emang aku anak kecil yang kalo minum obat harus dihancurin dulu” Shani melengoskan kepalanya kesamping.

“Bercanda kali. Yang penting aku ga bakal hancurin kepercayaan yang kamu kasih untuk aku buat jagain dan sayangin kamu. Udah, diminum nih obatnya”

“Gombal lagi” Shani kembali memandang Erza.

“Sarapan udah, minum obat juga udah, sekarang tinggal istirahat lagi” Ucap Erza.

“Tinggal kamu yang belum sarapan kan ?”

“Bentaran lagi deh”

“Kalo gitu aku ga mau istirahat !”

“Loh kok gitu ?”

“Makanya kamu sarapan dulu”

“Iya Shani…abis ini deh. Kamu mau cepet sembuh kan ?”

“Mau lah, bosen disini mulu”

“Makanya istiraht lagi, biar obatnya cepet bekerja dan kamu bisa cepet sembuh”

“Yaudah deh, tapi beneran ya nanti kamu sarapan ?”

“Iya..”

“Masih pagi, masa tidur lagi” Protes Shani dengan nada menggemaskan.

“Mau cepet sembuh kan ? Banyakin istirahatnya, nurut sama perintah dokter”

“Yaudah. Siap dok !” Balas Shani dengan mengangkat tangan seolah-olah prajurit memberikan hormat kepada komandannya.

“Tapi temenin disini sampe tidur…”

“Yaudah, cepet tidur”

Shani menggenggam tangan Erza dengan erat seakan tak mau kehilangannya. Erza hanya tersenyum sambil mengusap-usap punggung tangan Shani dengan lembutnya.

Sekitar sepuluh menitan Shani berhasil memejamkan matanya dengan sempurna. Erza memandang wajah tenang Shani saat tidur. Wajah yang membuat ketenangan saat melihatnya. Erza masih mengusap punggung tangan Shani, namun lebih pelan dari pertama tadi.

“Kebahagiaan baru yang pernah kamu bilang sekarang telah datang. Apa yang kamu bilang dulu, ” sebuah kebahagiaan baru yang jauh dan lebih dari sekarang ini yang kamu nikmati sedang menunggumu diluar sana”. Dan omonganmu terbukti”

“Walau begitu, kamu masih menjadi penghuni ditempat yang spesial ini, dalam tempat yang berbeda. Semua tinggal kenangan. Terima kasih sudah pernah mengisi kebahagiaan dimasa lalu dan terima kasih untuk semuanya, Shania Junianatha. Semoga kamu ikut bahagia dengan apa yang aku rasakan sekarang ini”

Erza denga pelan melepas tangannya dari genggaman Shani yang telah tertidur. Erza menecup pelan kening Shani yang berbalut perban.

Erza bangkit dan melangkahkan kakinya keluar dari kamar tempat Shani dirawat. Erza menoleh sebentar kearah Shani yang tertidur pulas.

“Cepet sembuh kebahagiaanku yang baru, Shani Indira Natio”

Erza kembali melangkahkan kakinya, membuka pintu dan keluar.

*THE END*

 

Ga, bercanda. Hahaha… Masih BERSAMBUNG kok, masih ada kelanjutannya. Hehehe… Buat kritik, saran bisa mention twitter : @ShaNjianto (pasti dibales kok, gue jomblo) hahaha…

 

Wali Murid : Shanji bukan Shanju

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s