“Directions The Love and Its Reward” Part 3

Kring!!!

Kring!!!

Kring!!!

“Hoamz…” aku menguap. Ku lirik jam menunjukan pukul 04.50. Langsung saja aku bangun dan melakukan kewajibanku beribadah. Okey sekarang adalah permulaan. Hari yang cerah, iya juga sih karena udah masuk musim panas. 3 hari pertama ospek di sekolah baru bareng Yona.

Aku bersiap-siap dengan memakai atribut ospekku. Terdiri dari topi toga yang terbuat dari kardus, tas dari karung, dan rumbai-rumbai di tangan. Aneh (?) tapi itu ketentuan OSIS sekolahnya. Yang perempuan malah lebih ribet. Bukan pake rumbai di tangan, tapi harus nguncir rambut sesuai tanggal lahirnya. Gimana tuh kalo yang lahirnya tanggal 31? Apa nggak kebanyakan? Dikira medusa si rambut ular kali ckckck. Tenang, pake atributnya nggak lama kok. Cuma pas upacara doang katanya. Jadi pas dikelas yang pake seragam biasa aja.

Oke setelah aku siap mandi, ganti baju,dan peralatan, aku membuka pintu kamarku. Tiba-tiba…

“Huah….!!! ini beneran medusa!!! Tolongin gue! Tolong!” teriakku langsung menutup pintu kembali. Mitosnya kalo orang natap mata medusa langsung katanya bisa jadi batu.

“Rendy? Hei ini tante nak” ucap wanita yang di depan pintuku. Aku buka perlahan kembali dan…

“Ya ampun kamu ini, tante kalo tiap pagi maskeran ya kayak gini tau” ucap wanita itu yang ternyata Tante Citra. Syukurlah ternyata itu tante Citra. Ternyata tante lagi maskeran dengan rambut lagi di roll dan juga mata ditutupin pake 2 irisan timun.

“Kirain setan tante” ucapku.

“Kamu kebanyakan ngayal. Tante Cuma ngecek kamu udah bangun belum. Langsung ke bawah sarapan sama Yona ya. Satu lagi…

“Oh oke tante. Siap! Ntar aku ajak keliling-keliling” ucapku bersemangat.

—o0o—

Aku menuruni tangga dan terlihat Yona sedang mengoleskan selai coklat pada rotinya. Terlihat juga dia sudah menggunakan seragam ospek dan beberapa kuncir tapi nggak tau berapa, nggak kelihatan soalnya.

“Pagi Yon” sapaku.

“Pagi juga Ren! Ayo sini, aku udah siapin sarapan buat kamu” ucapnya mempersilahkan. Langsung aja aku duduk dan makan sama Yona. Tante Citra juga baru datang, rapi dengan dress kantornya.

“Pagi semuanya!” sapa Tante Citra.

“Pagi Tan”

“Pagi Mah”

“Sorry tante buru-buru jadi nggak bisa sarapan bareng kalian. Buat Yona, kamu mau dianter siapa? Rendy atau bareng supir?”.

“Bareng Rendy aja deh mah” balas Yona.

“Dan buat Rendy, kamu jagain Yona yah. Tante pergi dulu, dah” ucap Tante Citra pergi. Kami melanjutkan makan.

Setelah selesai, kami putuskan untuk berangkat sekolah. Kuambil motor pesenan tadi malam di garasi beserta kuncinya. Ku keluarkan motor itu dan nyuruh Yona buat naik. Nggak lupa pake helm untuk keselamatan.

Di perjalanan, aku Cuma tanya-tanya arah sana-sini itu apa. Yona hanya menanggapinya dengan baik hingga kami sampe di sekolah, untung aja nggak telat. Terlihat sebuah gedung sekolah yang megah dan juga luas. Pos satpamnya juga ada. Tertulis dengan besar “SMA NEGERI 48 JAKARTA” terpampang jelas. Ku parkirkan motorku dan melepaskan helm. Kulirik ke samping mendapati sebuah mobil yang nggak asing. Ini mobil kayaknya pernah liat deh, tapi dimana ya? Batinku. Udah ah, nggak penting. Itu upacara pembukaan ospek udah mau mulai. Langsung aja aku turun bersama Yona menuju lapangan hijau tepat di mana upcara pembukaan ospek berlangsung.

“Maaf Dek, gugusnya udah ditentuin sendiri-sendiri. Kamu yang cowok ikut kakak, dan kamu yang cewek ikut kakak yang di sana itu” ucap salah seorang anggota OSIS wanita menahanku dan Yona. Ku lirik ke arah Yona dan dia hanya mengangguk seakan bilang ‘udah nggak papa ikut aja’ mungkin. Upacara dimulai. Lama hingga kepala sekolah berkata

“Dengan ini, penerimaan siswa tahun ajaran 2016/2017 diresmikan. Setelah ini, kalian bisa mengikuti pembimbing dari anggota OSIS kalian masing-masing” ucap kepala sekolah berpidato.

Kami semua dibimbing masing-masing dengan kakak pembimbing OSISnya masing-masinga menuju kelas. Terpampang jelas tulisan kelas X-A. Sampai di kelas agak canggung sih, soalnya nggak ada temen. Akhirnya milih duduk sendiri di belakang deket jendela. Itu awalnya, hingga ada orang yang menghampiriku.

“Hey bro, boleh duduk di sini?” sapanya.

“Iya boleh aja kok” jawabku.

“Nama lo siapa? Kenalin gue Ghifari Guntur. Bisa lo panggil Guntur” ucapnya menjulurkan tangan padaku.

“Gledek…!!!” teriak seorang wanita.

“Thunder!!!”.

“Nah, lu boleh panggil gue juga dengan dua nama itu tadi”

“Om Gun…”.

“Tapi lo jangan panggil gue dengan nama yang terakhir ^^”

“Ini orang ngajak kenalan atau mau ngajak ribut sih -_-“ batinku. Tiba-tiba dari arah belakang kuping si Guntur ditarik sampe mau putus itu kali. Warnanya udah merah nyala banget gitu.

“Aw aduh!! Kenapa sih Dhike? Viny? Lepasin sakit nih!!! Ampun” ucap Guntur memohon pada dua gadis berambut sebahu yang narik telinganya.

“Oh gini, nggak mau ngaku? Tambahin aja Vin!”.

“Aw! aduh kenapa sih!” makin kencang tarikannya.

“Siapa suruh lo godain Kak Naomi lagi hah! Gue laporin Hanna kapok lo!”.

“Iya sorry-sorry, gue khilaf. Tolong jangan kasih tahu Hanna dong. Please…!!!” Guntur memohon.

“Traktir kita makan”.

“Ya udah, iya nanti istirahat aja” ucap Guntur.

“Bener ya, awas kalo bohong” kedua gadis itu pun kembali ke mejanya.

“Eh ada temen baru ya. Kenalin aku Viny dan dia Dhike” ucap gadis berambut sebahu itu padaku.

“Oh hai juga. Aku Rendy”.

“Aduh sorry, tadi ada ribut bentaran. Btw nama lo siapa tadi?” tanyanya.

“Rendy” ucapku. Tiba-tiba saja, kakak pembimbing masuk ke kelas kami dan membawa seorang murid perempuan. Aduh males gue natapnya, apes banget deh kayaknya hari ini.

“Pagi adek-adek semuanya!” ucap kakak pembimbing itu.

“Pagi kak!” ucap semuanya.

“Kenalin nama kakak Shinta Naomi. Kakak akan jadi pembimbing kalian selama 3 hari ke depan. Oh iya kelas ini ketambahan seorang murid. Silahkan perkenalkan diri kamu” ucap Kak Naomi. Kaum laki-laki cuma bisa ngelirak-lirik. Cantik juga sih kak Naomi.

“Biasa aja bro liatinnya, salah satu bidadari sekolah tuh” ucap Guntur memergokiku yang sedang mengamati kecantikannya kak Naomi.

“Ini juga biasa kok, gue lagi mastiin itu cewek yang dibawa kak Naomi” ucapku

“Btw, kok tadi pagi lu bisa bareng sama salah satu bidadari sekolah”.

“Yang mana?” tanyaku

“Yona, Viviyona Apriani” ucapnya.

“Dia saudara gue” ucapku

“APA?!” seisi ruangan natap Guntur.

“Sorry-sorry”.

“Baik kenalin diri kamu” ucap Kak Naomi pada gadis di sebelahnya.

“Kenalin, aku Cindy Yuvia. Panggil aja Yuvia, salam kenal” ucapnya.

“Oh ternyata cewek nyolot yang kemarin nabrak aku itu namanya Yuvia ya. Kok hampir mirip namanya sama dia sih? Apa mungkin ya? Tapi kan…” batinku.

Dia berjalan dan duduk di bangku depan. Bukan di depanku persis sih, tapi di barisan kedua.

“Hari ini, kalian hanya dapet tugas ngumpulin minimal 15 tanda tangan dari para pengurus OSIS yang ada. Tapi… nggak segampang itu. Setiap pengurus OSIS udah nyiapin sesuatu setiap kalian mau minta tanda tangan, mengerti?” instruksi dari kak Naomi.

“Ngerti kak!!!” jawab semuanya dan kami mengumpulkan tanda tangan dari beberapa pengurus OSIS.

Di permulaan, nggak disangka-sangka nih. Kak Naomi lambaiin tangannya ke arah ku. Terus nyuruh ke tempatnya.

“Nama kamu siapa dek?” tanya kak Naomi.

“Rendy kak” ucapku.

“Oh ya udah, sini bukunya kakak tanda tanganin” ucap Kak Naomi.

“Loh? Gitu doang kak?” tanyaku.

“Sssstttt…. spesial buat kamu kok. Kenapa ya? Hmm… kamu beda aja” ucap Kak Naomi.

“Tap-tapi kak…”.

“Udah diem aja yah” ucapnya.

“Oke deh. Makasih kak” ucapku.

Yah permulaan yang bagus. Tapi, apa maksudnya coba. Udahlah nggak papa yang penting beres. Susah juga bro ngumpulin tanda tangannya. Ada yang disuruh lari keliling lapangan, nyapu halaman, mungutin sampah, tebak-tebakan, tapi itu semua gampang lah. Dalam waktu 30 menit, aku udah dapet 13 tanda tangan. Di tanda tangan yang ke 14, misinya suruh masukin bola basket ke ring dari area trhee point. Kayaknya aku tahu, dilihat dari posturnya kayaknya kakak ini anak basket. Terpampang nama Refal di name tagnya.

“Permisi kak, boleh minta tanda tangannya?” tanyaku sembari menyodorkan buku.

“Kalo kamu bisa masukin bola basket itu dari area trhee point, kakak akan kasih kamu tanda tangan”.

“Oke kak” aku kasihin bukuku ke kak Refal. Aku berjalan mengambil bola basket  yang ada di tengah lapangan itu. Tapi, aku tidak mencari jarak trhee point, melainkan dari bawah ring ujung, ke ring ujungnya.

“Apa yang kamu lakukan?” ucap Kak Refal.

“Lihat dan pelajari” ucapku. Kuhela nafas dan berbalik. Kulempar bola basket itu dari ujung ring ke ujung ring lainnya dengan posisi tubuh berbalik. Lambunganya sangat tinggi.

“Masuklah” batinku

DAKK!!!

“Ap-apa? Nggak mungkin” ucap Kak Refal menandatangani bukuku dengan tidak percaya.

“Mana kak bukunya?” ucapku.

“Ini”.

“Makasih kak” ucapku lalu pergi untuk mencari tanda tangan ke 15.

“Mungkin dia yang kita butuhin”.

—o0o—

 

Mana lagi ya? Tinggal satu kok susah amat sih nyari kakak pembimbingnya. Ku lihat kanan-kiri tapi semuanya udah aku minta tanda tanganin semua. Mungkin ada kakak pembimbing di taman. Ke sana aja deh, sekalian bisa istirahat.

Saat di taman sekolah, kulihat seorang gadis sedang duduk dibangku taman. Dilihat dari seragamnya, dia adalah salah satu anggota OSIS. Yes akhirnya tanda tangan terakhir dapet juga nih kayaknya. Rambutnya tersapu angin di bawah pohon yang rindang. Aku coba dekati.

“Kak, boleh minta tanda tangannya?” tanyaku. Saat kulihat ternyata…

“Rendy…??”.

“Loh Kak Ve?!” ternyata itu adalah kak Ve lagi.

“Kakak sekolah di sini juga?” tanyaku.

“Kakak juga baru tau kalo kamu sekolah di sini” ucapnya.

“Ketemu terus ya kita kak hehe” Kak Ve hanya tersenyum.

“Hmm, kak boleh minta tanda tangannya?” pintaku.

“Boleh, tapi… petikin bunga matahari itu dulu ya” ucap Kak Ve dan aku hanya menuruti permintaanya. Bunga itu tumbuh di tengah-tengah taman. Ya jadi harus lari dulu lah biar cepet. Setelah dapat, aku langsung ke tempat kak Ve.

“Nih Kak” Aku menyodorkan bunga itu padanya

“Sekarang kamu kasihin ke gadis yang duduk sendiri di seberang sana itu” ucapnya

“Hah? Tapi kan…”

“Udah nurut aja” ucap Kak Ve.

—o0o—

Author’s P.OV.

Terlihat seorang gadis di kelasyang memperkenalkan dirinya di kelas X-A tadi yang sedang duduk sendirian. Duduk di sekitaran taman bunga Edell Weise lambang keabadian. Pikiranya sedang menuju masa lalu. Masa kecilnya bersama 4 orang temannya.

“Rain kamu kemana? Aku benci!!! Aku benci! Benci! Benci hujan!!! Seandainya…” lamunan gadis itu hampir meneteskan air mata.

“Eh kamu” tiba-tiba datang seorang pemuda membawa sebuah bunga matahari di tangannya.

“Rain…” dia dongakan kepalanya melihat pemuda itu. Raut wajahnya berubah lagi.

“Ngapain lo ke sini? Mau gangguin gue lagi” tanya gadis itu.

Pemuda itu menengok kanan kiri “ Nyariin hujan mbak? Nggak juga, kurang kerjaan banget lagian. Ini disuruh kakak pembimbing yang di sana. Katanya suruh ngasihin bunga ini ke kamu” ucap pemuda itu. Gadis itu melihat ke seberang.

“Huh Kak Ve ada-ada aja” batinnya.

“Yaudah sini” dia mengambil bunga itu denga tetap memandang malas ke pemuda itu. Pemuda itu belum pergi, tapi malah duduk di samping gadis itu.

“Kamu Yuvia kan?” tanya pemuda itu.

“Udah tau nggak usah nanya gitu” gadis itu seperti menghiraukan keberadaan pemuda itu.

“Aku Rendy”.

“Nggak usah sok akrab” ucap gadis bernama Yuvia itu sinis.

“Ngomong-ngomong, tadi kamu sempet teriak-teriak benci hujan. Kenapa? Ada yang salah dengan hujan?.”

“Lo bilang kenapa? Kenapa juga gue harus cerita sama lo?” ucap Yuvia

“Udah lo mendingan pergi aja sana. Bikin mood gue ilang. Oh atau gue aja yang pergi” ucap Yuvia hendak berdiri.

“Iya aku aja yang pergi” ucap pemuda bernama Rendy itu.

—o0o—

“Lah kak Ve kemana? Perasaan tadi masih ada sini” ucap Rendy. Hanya terlihat buku Rendy dan sebuah kertas.

“Sorry Ren, kakak buru-buru. Dan makasih kamu udah ngasihin bunga itu ke adik kakak”

Itu pesan di kertas yang ditulis kak Ve. Yah sudahlah yang penting 15 tanda tangan sudah Rendy dapatkkan.

“Ternyata Yuvia itu emang beneran adeknya kak Ve ya. Tapi kok nggak mirip sih? Kakaknya cantik,baik,lemah lembut. Lah adeknya? Udah kayak Macan PMS gitu” pikir Rendy

“Udah itu nggak penting, sekarang tinggal kumpulin bukunya dan santai-santai di kelas” ucap Rendy menuju kelas. Pikirannya masih memikirkan kata-kata gadis bernama Yuvia tadi. Rain? Apa mungkin dia? Ah bukan, mungkin saja dia sedang mengharapkan hujan. Tapi… ah sudahlah.

Di kelas masih agak sepi, hanya terlihat beberapa anak yang sudah duduk dan mengumpulkan buku yang berisi 15 tanda tangan. Guntur juga sudah ada di meja bersama dirinya.

“Gimana Ren? Udah semua lu?” tanya Guntur akrab.

“Yoi udah Tur, lu?” tanya Rendy.

“Udah semua, gampang kok quest gue mah. Ngerayu cewek semua isinya, easy bro makanan gue tiap hari” ucap Guntur.

Lama-kelamaan semua murid masuk ke dalam kelas. Dan yang terakhir adalah Yuvia bersama teman-temannya yang entah masih nggak kenal. Maklum lah, baru kenal si Guntur doang di kelas pikir Rendy.

“Yah semua sudah masuk. Untuk besok, kalian akan ada demo ekskul dan setiap siswa wajib memilih 1 ekskul. Kita akhiri kegiatan hari ini dengan berdoa. Berdoa mulai” ucap Kak Naomi memimpin.

“Selesai, siang semuanya!”.

“Siang kak!”. Semua berbaris berjalan keluar, terkecuali Rendy yang masih membereskan barang-barang. Alhasil jadi yang terakhir, semua murid bersalaman dengan kakak pembimbingnya masing-masing tak terkecuali Rendy. Dan saat bersalaman dengan kak Naomi…

“Hati-hati ya“ kedipan dari kak Naomi.

“Eh… i-iya kak” ucap Rendy. Rendy berjalan menuju parkiran ditemani Guntur. Saat diparkiran, terlihat Yona yang sudah menunggunya di depan motornya.

“Nungguin lama Yon?” tanya Rendy.

“Enggak juga kok, baru aja” jawab Yona.

“Ssssttt  kenalin gue dong” bisik Guntur.

“Yon kenalin ini temen pertama aku di kelas” ucap Rendy

“Guntur”.

“Yona”.

“Yaudah Tur, kita duluan ya” ucap Rendy.

“Yoi” balasnya mengacungkan jempol.

TIINNN!!!

TIINNN!!!

“Eh lo! Singkirin motor lo dari situ, mobil gue mau lewat” ucap seorang gadis dengan mobilnya. Rendy hanya menanggapinya seperti sudah terbiasa dengan sikap gadis yang seperti itu. Ya gadis itu adalah Yuvia. Mobil itu akhirnya keluar karena motor Rendy sudah dipinggirkan

Rendy mengeluarkan motornya dan mereka menaikinya. Langsung saja Rendy tancap gas keluar dari area sekolahan.

—o0o—

Di perjalanan…

“Aduh hampir kelupaan” ucap Rendy.

“Kenapa Ren?”tanya Yona.

“Katanya suruh ke Alfamidi dulu. Ada beberapa buah-buahan yang harus dibeli. Trus juga stock sayuran udah mau abis kata tante” ucap Rendy.

“Ya udah kita berhenti di depan sana, ada Alfamidi tuh” ucap Yona

Di Alfamidi

“Belimya nggak usah banyak-banyak juga kali Yon” ucap Rendy.

“Lah kan tadi kamu yang bilang sendiri suruh beli yang banyak” ucap Yona.

“Yeh, padahal ini Cuma buat akal-akalan doang”.

“Eh? Akal-akalan apa?” tanya Yona penasaran + curiga.

“Eh mmm…akal-akalan buat pinter. Kan buah juga bagus buat memicu perkembangan otak” ucap Rendy meyakinkan.

“Oh, yaudah yuk ke kasir” ucap Yona.

“Fyuhhh… untung nggak ketahuan”.

Setelah semuanya selesai, mereka berdua memutuskan untuk pulang.

—o0o—

Singkatnya mereka sudah sampai di rumah tante Citra. Langit sebenarnya sudah menghitam menunjukan perubahan hari dari siang menjadi malam. Rendy tengah memasukan motornya di garasi. Setelah itu mereka berdua membawa sayuran dan buah-buahan itu masuk ke dalam rumah.

Saat Yona hendak membuka pintu rumah…

Rendy menghilang dari belakangnya.

“Loh Rendy kemana? Tadi kan dibelakang?” pikir Yona. Perlahan ia buka pintunya. Gelap gulita rumah itu ditambah gelapnya malam membuat suasana makin mencekam.

“Kok gelap sih? Apa Mamah belom pulang?” pikirnya.

“Coba deh masuk aja”.

Langkah kakinya semakin masuk ke dalam dan tiba-tiba…

DOORRR…!!!

DOORRR…!!!

DOORRR…!!!

-To Be Continued-

Created By      : rezalical

[INFO]

Part 4 mungkin lebih banyak flashbacknya.

NB       : Suka mie goreng, dah itu aja

 

 

Iklan

4 tanggapan untuk ““Directions The Love and Its Reward” Part 3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s