Pengejar Rahasia : Honey Island Swamp, Part 7

Esok pagi, mereka sudah siap-siap. Amerika menunggu, mereka sudah
menyiapkan semuanya tadi malam.
“Eh, kamu mau kemana?” tanya Sinka.
“Aku ikut!” jawab Epul, ia sudah membawa tas dan koper besar.

“Yakin???” tanya Boim, meledeknya.
“Iya, apapun yang terjadi kita harus selalu bersama.” jawab Epul mantap.
“Sudah kuduga, aku memang hebat bisa menghilangkan kecemasannya tadi
malam.” pikir Nabilah dalam hati.

“Baiklah, let’s go!” Rusdi tersenyum, Naomi tiba-tiba ikut tersenyum.
“Jangan marahan lagi ya?” bisik Sinka.
“Iya-iya, bawel.” ucap Naomi mencubit pipi Sinka, lalu berlari menyusul Rusdi.

Tim Pengejar Rahasia pergi ke Amerika bersama kliennya, Seena.
Perjalanan ke Amerika membutuhkan waktu lama, mereka baru tiba esok
harinya. Kemudian pergi menuju rumah paman Seena yang ada di Amerika.

Rumah itu cukup luas. Namun disana tidak ada siapa pun. Mereka
memutuskan untuk berjalan-jalan sejenak, melihat pemandangan negara
adidaya.

Di rumah itu ada sebuah kamar yang isinya hanya puluhan senjata saja.
Lengkap sekali, senapan itu amat lengkap. Bahkan ada beberapa jenis
pisau belati dan granat.

“Kenapa rumah ini sepi?” tanya Haruka tiba-tiba.
“Paman saya hilang bersama kakak saya di rawa itu.” jawab Seena.
“Baiklah, besok malem kita cari paman sama kakak kamu.” Rusdi
menyentuh lembut bahunya.

“Kenapa tidak siang aja?” tanya Seena.
“Karena misteri itu akan terasa lebih mencekam jika dipecahkan saat
malam hari.” Rusdi tersenyum simpul.
“Terserah kakak aja.” Seena tersenyum tipis.

Esok malam, mereka hendak pergi ke rawa itu. Mereka sudah
mempersiapkan segalanya.
“Dimana Epul?” tanya Boim.
“Sebentar, tunggu aja dulu.” Nabilah berkata lembut.

Tiba-tiba Epul datang, ia membawa banyak sekali senjata dalam tas besarnya.
“Astaga Epul, kau ini kenapa? Banyak sekali senjata yang kamu bawa?”
tanya Naomi.

“Kalian tidak tau apa yang akan kalian hadapi!” jawab Epul agak keras.
“Baiklah, terserah dia aja.” Naomi pergi duluan ke dalam mobil,
disusul oleh Sinka.

“Aku hanya butuh satu senjata saja.” Rusdi mengambil sebuah punisher
dari tas Epul.
“Aku juga.” Boim pun mengambil senapan yang sama.

Nabilah secara diam-diam mengambil sebuah TMP dan dua granat dari tas
Epul, tanpa diketahui siapapun. Mereka pergi ke rawa itu menggunakan
sebuah mobil milik Seena. Sementara Seena hanya bisa menunggu di
seberang rawa setelah mengantarkan mereka.

Mereka menaiki sebuah boat menyebrangi sungai. Rawa itu sangat gelap
dan terlihat menyeramkan. Ditambah angin malam yang berhembus, semakin
membuat bulu kuduk bergidik.

Setelah sampai di tepi rawa, mereka mulai berjalan-jalan memasuki rawa
menyeramkan itu. Sangat gelap, hanya tiga lampu senter yang menerangi
jalan mereka.

BERSAMBUNG

Author : @RusdiMWahid

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s