Terdampar 4: Aku Bukan Rama

Book Note: Catatan kecil saja ini. Sebelumnya gue kesel sama MC gue yg revel ini. Padahal ini cerita udah pernah kelar tapi gara-gara kemaren kena virus jadi cerita ini kehapus dengan sendirinya. Tapi maaf kalau nanti gak kayak kemaren lagi alur ceritanya.

Black Note: sekiaan lama off dari dunia Terdampar-Terdamparan akhirnya kembali lagi kedunia terdampar-terdamparan lagi.

-*-

Suatu ketika di sebuah taman bunga kerajaan Ngalengka, seorang wanita sedang terduduk di bangku taman dan di sebelahnya sedang berdiri pelayanannya yg setiap kali mengawasi putri itu. Wanita itu adalah Shinta, Shinta adalah kekasihnya Rama yg di culik Rahwana. Buto(Raksasa) yg sangat jahat dan kejam di Negri Ngalengka. Rahwana tak segan-segan membunuh orang jika pelayanan orang-orang tak cukup memuaskan hatinya. Saat pelayannya Shinta sedang mengambilkan Sang calon permaisuri dari Rahwana, tiba-tiba kera Putih datang ke taman di pinggir kerjaannya Rahwana.

 

“Mohon maaf tuanku Shinta. Hamba di utus tuan Rama buat ngasih tau tuan putri agar tuan putri Shinta kabur dari sini. Setelah Aku dan para pasukan Tuan Rama yg lainnya menyerbu Istana.” Kata Anoman sambil bungkuk di hadapannya Shinta.

 

“Baik prabu, cepat kamu pergi dari sini. Sebentar lagi pelayannya rahwana akan segera datang kembali kesini.” balas Shinta.

 

 

“Baik Tuanku..” Anoman langsung meletakan ekor keranya di bara api dan langsung membesarkan dirinya di atas udara. Dan langsung membumi hanguskan kota Ngalengka beserta separuh kerajaanya Rahwana. Rahwana yg geram akan kelakuannya Anoman langsung menyuruh semua pasukannya untuk menghabisi Anoman beserta para pandhawa lima lainnya. Momen ini sangat dimanfaatkan Shinta buat meloloskan diri dari cengkramannya Rahwana yg kejam.

 

 

 

“Huaaaa…..!!!!”

 

 

-o0o-

 

 

Saat aku sedang berjalan menuju ke tempat sekolahanku, secara mendadak seorang cewek terjatuh di atas kap mobil dengan kondisi tak sadarkan diri. Aku yg pada saat itu panik langsung mencoba mengampar pipi cewek itu secara perlahan-lahan tapi tetap saja tak mau sadarkan diri. Karena aku udah telat masuk sekolah dan aku juga harus menolong cewek yg sedang aku gotong masuk kedlam mobil. Aku langsung membawanya ke puskesma terdekat, dan sekian lama aku menunggu cewek itu untuk siuman. Cewek itu langsung siuman dengan kondisi ia masih memegangi kepalannya menggunakan kedua tangannya.

 

 

“Aku neng endi iki?” Ucapnya, sambil berdiri dari atras matras. Aku yg pada saat itu sedang di pojok ruangan dimana cewek itu dirawat. Aku langsung menghampiri cewek itu.

 

“Kamu ada di Rumah sakit, kamu tadi tak sadarkan diri di atas kab mobilku.” kataku.

 

“Rumah sakit? Rumah sakit apa itu?” Tanyanya ke aku. Aku yg kala itu bingung langsung menjelaskan ya aku tau kalau ia baru siuman dari pingsannya.

 

“Rumah sakit itu. Tempat orang dirawat dan di obati.” Kataku.

 

“Seperti Tabib ya?”

 

“Iya..”

 

Aku benar-benar sangat heran dengan cewek yg ada di depanku ini. Pakaiannya sangat aneh menurutku, bawa kemben seperti pakaian orang-orang kuno jawa dulu. Bahasanya masih memakai bahasa Zaman Neolitikum. Saat aku mau keluar dari ruangan untuk mengurusi biaya perawatan si cewek ini. Tanganku di tarik oleh cewek itu, dan langsung cewek itu langsung meloncat kepelukanku.

 

 

“Apa kabar kakakng rama? Aku kangen banget tau sama kakang.”

 

 

Aku benar-benar tak habis pikir dengan ini Cewek, belum kenal aja udah main peluk-peluk aku kayak gini. Apa lagi udah kenal sama aku.

 

“Eh aku bukan Rama, aku Rio. Cepat kamu turun, nanti ada yg lihat.” Kataku sambil menurunkan Cewek itu.

 

“Rio? Rio itu apa kanda Rama. Rio itu sejenis binatang ya?.” Tanya Shinta.

 

“Whats!! Gue di kata binatang apa, dasar cewek aneh. Dari pada gue gak selamat, mending gue ngabur aja dah.” Batinku. Sambil melepas pelukannya dan langsung kabur dari ruangan ia berada, begitu pula dengan cewek yg tadi memelukku.

 

 

Di perjalanan pulang, aku masih tak habis pikir dengan kejadian tadi pagi yg benar-benar sangat aneh dan mengesalkan buatku. Setibanya aku dirumah aku langsung merebahkan diriku diatas sofa yg nan empuk ini. Di belakang bagasi mobil, cewek yg memakai kemben itu. Secara perlahan-lahan turun dari mobil, alangkah terkejutnya ia ketika ia melihat istana yg sangat besar dan megah, dan di sekelilingnya di kelilingin oleh bunga-bunga yg sangat indah.

 

“Wah Indah sekali Istana kerajaan ini. Tapi dimana Kakanda Rama ya?”. Ucap Shinta dalam hati sambil berjalan kebelakang rumahku. Setibanya Shinta tiba di belakang Rumahku, ia melihat laut yg sangat biru airnya di belakang istana dan banyak pula bebek raksasa

 

“Istana yg sangat hebat sekali, ada bebek sebesar itu. Di kerajaannya ayahanda saja tidak ada bebek sebesar itu.” kata Shinta saat melihat pelampung bebek karet warna kuning.

 

 

Shinta langsung masuk kedalam rumahku dari pintu belakang, karena memang pintu belakang rumahku tidak slalu aku kunci sebab dulu pembantuku slalu masuk dari pintu samping kalau mau masuk kedalam rumah. Shinta melihat seisi ruangan rumahku, dan Shinta juga sedang melihatku sedang tertidur sangat pulas sekali diatas sofa, sampai-sampai ia tak segan hati untuk membangunkanku dari tidurku.

 

“Ya ampun kakang Rama tidurnya pulas sekali sampai-sampai aku tak tega hati buat ngebangunin kakang. Apa mungkin dia terlalu lelah ya? Gara-gara habis ngelawan Rahwana beserta para pasukannya itu? Ah aku buatin saja dia makanan. Siapa tau dengan bau masakanku dia akan bangun.” pikir Shinta sambil menuju kearah dapurku, setibanya di dapur Shinta sangat kebingungan kala itu. Pasalnya ia tak tau dimana kompor buat masak, dan juga dimana para dayang-dayang menaruh bahan masakan buat dimasak.

 

“Yurr…. Sayurrrr…. Yurrrr…. Sayurrr….”

 

 

“Suara apa itu?” Ucap Shinta sambil berjalan kearah suara barusan.

 

“Mbak mau beli sayur saya?.” Tanya kang sayur keliling.

 

“Iya saya mau beli sayur tuan. Berapa sayur dan ikan-ikan ini?.” Tanya Shinta.

 

“Kalau yg ini 25 Ribu, sedangkan yg ini….” Tukang jualan keliling menyabarkan semua harga dagangnya ke Shinta.

 

“Saya mau beli semua barang dagangan tuan.” kata Shinta, sontak membuat tukang sayur langsung terkejut.

 

“Jadi semuanya Rp.1,5 juta.” kata kang sayur, tapi Shinta tak tau apa yg diomongkan oleh penjual sayur keliling yg setiap kali lewat di depan rumahku.

 

“Cantik-cantik kok nggak tau uang, uang itu barang yg bisa ditukarkan dengan ini semua. Dan nilainya lebih tinggi dari barang dagangku ini semua.” Tukang sayur membeli penjelasan ke Shinta lagi.

 

“Oh kalau ini cukup nggak tuan.” Shinta langsung mengeluarkan uang keping zaman kuno sekali, sontak tukang sayur langsung memarahi Shinta.

 

“Lo mau main-main sama gue ye, ini mana laku di sini. Mungkin pas zaman nenek moyang lo ini masih laku, kalau nggak punya uang jangan nyetop saya kayak gini. Buang-buang waktu saya aja disini.” Omel-omel tukang sayur keliling sambil pergi dari depan rumahku.

 

“Tuan itu kenapa memarahi saya seperti itu ya? Padahal ini kan benar yg namanya uang.” Ucap Shinta sambil masuk lagi kedalam rumah.

 

-o0o-

 

“Hoaaammm!!”

 

“Udah jam berapa sih ini? Astaga udah sore, jadi aku tidur 5 jaman donk.” Aku terkejut ketika melihat jam tanganku. Pada saat aku mau ngambil minum di dapur, aku lihat cewek yg tadi pagi manggil-manggil aku kakang rama.

 

“Hoy bangun hoy!!” Aku sambil mengebrak meja, sontak cewek itu langsung terkejut.

 

“Eh kakanda Rama, ada apa kakang?” Ucap cewek itu langsung berdiri dari atas kursi tempat duduknya.

 

“Kamu kenapa bisa ada di rumahku? Bagaimana kamu bisa masuk kedalam rumahku hah!!” Tanyaku sambil membentak cewek yg ada di depanku.

 

“Aku ikut masuk kedalam kereta kakang Rama secara diam-diam, dan aku masuk kedalam istana kakang lewat pintu samping.” katanya.

 

“Oh.. Cepat kamu keluar dari sini.” kataku sambil menyeret keluar cewek ini.

 

“Kakang Rama kok kasar banget sih sama aku, apa salah adinda kakang. Apa adinda punya salah sama kakang?.” Cwek itu sambil bangun dari jatuhnya di lantai gara-gara aku dorong sampai jatuh keatas lantai.

 

“Iya emang lo punya salah sama gue, yg pertama lo udah buat gue nggak bisa ketemu sama doi, yg kedua lo udah nyusahin gue. Paham lo!!”

 

“Dan satu lagi lo jangan pernah panggil gue kakanda Rama, nama gue bukan Rama. Namaku Rio, camkan itu baik-baik.”   Aku memarahi cewek itu habis-habisan.

 

 

“Maafkan aku kakang…” ucapnya.

 

“Enak aja lo minta maaf sama gue, lo udah bikin susah hidup gue, eh lo mapah seenak jidat minta maaf sama gue.nggak bisa. Lebih baik lo sekarang keluar dari rumah gue.” Usirku ke Cewek yg aku ajak ngobrol. Cewek itu langsung keluar dari rumahku dengan kondisi masih menangis.p

 

 

 

Hujan deras disertai dengan hembusan angin kencang sedang melanda kawasan rumahku. Saat aku sedang tidur, aku teringat dengan cewek yg tadi siang aku bentak-bentak dan aku paksa keluar dari rumahku.

 

“Eh iya gimana dengan keadaan cewek itu ya. Apa dia baik-baik saja ya?. Apa aku tadi terlalu kejam dengan cewek itu ya.” pikirku sambil mengambil payung dan sesegera mungkin mencari cewek yg tadi siang aku usir dengan paksa dari rumahku. Saat shinta sedang berjalan di tengah hujan lebat, tiba-tiba jalannya Shinta sempoyongan dan tiba-tiba juga kepalanya Shinta berat, dan langsung Shinta kehempas ke trotoar jalan.  Aku yg mencari tau keberadaan cewek yg aku bentak-bentak itu, aku melihat cewek itu tak sadarkan diri di bawah guyuran air hujan. Sontak aku langsung mengangkat badannya Cewek itu dan langsung aku bawa kerumahku. Setibanya di rumahku aku langsung rebahankan dia diatas ranjang tanpa melepas satu benang pun dari pakaian yg ia kenakan itu. Aku selimuti cewek itu hingga berlapis-lapis selimut agar cewek ini tak masuk angin tentunya. Sebelum ia sadar dari pingsannya, aku buatkan itu cewek sop ayam beserta teh hangat agar suhu badannya tidak panas.

 

“Aduhh!!..”

 

“Eh kamu udah sadar rupanya.” Ucapku sambil membawakan semangkuk sup hangat beserta minumannya.

 

“Kamu…!!” Cewek itu langsung berjalan keluar dari dalam kamar tapi jalan cewek itu masih sempoyongan karena effect kejatuhan air hujan terlalu banyak. Cewek itu hampir mau jatuh kehempas kelantai, untung aku sigap menangkap badannya. Jadi cewek itu sudah ada di bekapanku. Aku menatap mata cewek itu begitu juga dengan cewek itu. Kami saling menatap satu sama lain cukup lama, tanpa ia sadari pipinya memerah merona kayak tomat busuk.

 

“Kamu makan ini dulu gih, biar badan kamu hangat.” Kataku sambil membangunkan cewek itu. Dan langsung aku ambilkan semangkuk sup yg aku taruh diatas meja. Tapi cewek itu tetap saja diam dengan tatapan kosongnya lurus kearah pintu keluar kamarku.

 

“Kamu kenapa? Kamu masih marah ya sama aku soal tadi siang. Maaf ya kalau aku tadi siang terlalu keras sama kamu, aku memang orangnya tegas dan keras sama orang. Terutama orang yg belum aku kenal seperti kamu.” kataku.

 

“Iya tidak apa-apa, lagian aku juga yg salah kok kakang Rama.” Balasnya.

 

“Jangan panggil kakang Rama ya, panggil Rio saja. Nama kamu siapa dari tadi kita belum sempat kenalan?” kataku.

 

“Aku Shinta..” Ucapnya sambil memakan semangkuk sup hangat di sampingnya itu.

 

“Oh shinta ya. Nama yg cukup bagus.”  Aku sambil meninggalkan Shinta sendirian di dalam kamarku, karena aku harus mengangkat telphone rumahku yg sedari tadi berdering cukup kencang. Sehabis Shinta selesai makan, Shinta langsung mencoba berjalan keluar dari dalam kamarku tapi Shinta malah terjatuh kelantai. Shinta mencoba bangun dari atas lantai dan kembali rebahan lagi di atas tempat tidurku. Setelah aku selesai ngobrol dengan ibu aku, aku langsung kembali menemui Shinta cewek yg aku tolong tadi pagi di dalam kamarku.

 

“Gimana enak nggak Sup buatanku, kalau masih nggak enak mohon di maklumin saja ya. Aku orangnya itu tidak terlalu pintar masak.” kataku sambil duduk dipinggir ranjangku.

 

 

“Iya nggak apa-apa kok, lagian makanan buatan kakang Rio enak juga.” puji Shinta. Ya aku tau kalau Shinta itu berbohong denganku, mungkin dia nggak pengen aku kecewa mungkin, makannya dia berucap seperti itu.

 

“Tunggu sebentar ya, aku ambilkan baju ganti buat kamu.” ucapku, sambil membuka lemari paling bawah, karena disitu ada baju keponakanku Frieska yg ketinggalan di rumahku pada saat liburan sekolah kemaren.

 

“Nih kamu pakai ya, agar kamu tidak kedinginan.” Aku sambil mengasihkan celana Hot pans dan baju Singlet miliknya Siska yg ketinggalan. Tapi Shinta hanya mengangguk saja tanpa berpikir apa yg sedang dia kenakannya itu. Aku langsung keluar dari dalam kamarku, dan Shinta juga melepas semua ikat Rambut yg terbuat emas dan gelang-gelang emas yg ada di sisi bahu kanan dan kirinya itu. Dan langsung Shinta mengganti semua baju yg sudah basah kuyup oleh air itu dengan pakaian yg aku taruh di pinggir tempat tidurku itu. Setelah Shinta selesai menganti pakaiannya, Shinta langsung keluar dari dalam kamarku dan langsung menghampiri aku yg sedang nonton orang yg ada di kotak besar. Saat aku tengok kekanan alangkah cantiknya Shinta mengenakan pakaiannya Shinta.

 

“Kamu cantik banget Shinta.” Pujiku ke Shinta.

 

“Makasih kakang.”

 

“Jangan panggil kakang kenapa, aku nggak suka kalau kamu panggil aku kakang, panggil saja Rio.” Protesku.

 

“Iya kakakng eh Rio.”

 

 

Pagi harinya saat aku mau berangkat kesekolah, Shinta malah ikut masuk kedalam mobilku dan langsung juga duduk disampingku.

 

 

“Kamu mau kemana Shinta?” tanyaku.

 

“Aku mau ikut kamu kesekolah, boleh?”

 

“Kamu nggak boleh ikut aku kesekolah, kamu dirumah saja ya. Aku nggak lama kok sekolahnya, jam 12 siang juga aku udah pulang.” kataku.

 

“Tapi…” ucap Shinta aku potong.

 

“Kamu dirumah saja ya cantik, kamu itu nggak boleh ikut aku kesekolahanku ya. Nanti pas pulang aku bawaiin kamu bakso.” ucapku.

 

“Bakso? Bakso itu apa Rio?” Tanya Shinta kebingungan.

 

“Kamu benar nggak tau apa itu bakso?”

 

“Iya aku nggak tau apa yg kamu maksut tadi.”

 

“Bakso itu makanam terbuat dari daging sapi cincang yg dibulatkan.” kataku.

 

“Oh..” Shinta mengangguk paham, dan Shinta langsung keluar dari dalam mobil.

 

 

 

Setibanya aku disekolah, aku sudah di sambut oleh orang yg sangat sayang banget sama aku. Ya dialah Naomi kakak dari Sinka Juliani member dari JKT48. Memang Naomi dulu pernah dan sempat jadi member JKT48 tapi sekarang dia sudah tidak lagi beraktifitas di JKT48 gara-gara scandal berpacaran denganku. Banyak fans-fansnya yg ngebuli aku dan Naomi gara-gara kita berdua pacaran tapi semua itu dapat kita berdua lalui bersama.

 

 

“Selamat pagi my honey.” Sapa Naomi sambil memeluku dan langsung mencium bibirku.

 

“Pagi juga sayang my beauty hunny bunny sweet” balasku sambil membalas Ciumannya di bibirku.

 

“Yuk sayang kita masuk kedala. Kelas, aku udah ngantuk banget nih.” kata Naomi dengan nada manjanya.

 

“Kebiasaan buruk kamu nih, emang kamu tadi malam nggak tidur apa kok kamu malah ngantuk seperti ini.”

“Enggak sayang, si dudut lagi sakit,mama dan papa sedang keluar kota jadi aku yg ngerawat si dudut” ucap Naomi.

 

“Oalah dudut sakit toh rupanya, emang calon adik ipar sakit apa?”

 

“Demam tinggi, gara-gara kemaren kehujanan” balas Naomi.

 

“Sampeiin ya sayang buat calon adik iparku itu. Semoga lekas sembuh”

 

“Iya sayang. Minta gendong boleh?”

 

“Tentu saja boleh donk sayang, mau di depan apa di belakang?” kataku.

 

“Depan saja deh sayang, aku pengen mandangin kamu terus nih.” Ucap Naomi dengan nada manjanya.

 

“Yaudah deh,sini aku gendong.” Aku langsung mengangkat Naomi di bahu sebelah kananku. Naomi malah asik menciumku. Banyak cewek-cewek yg iri dengan Naomi karena Naomi terlalu Romantis denganku. Kami berdua pernah menang dalam acara televisi swasta soal best couple terbaik 2014 tahun kemaren.  Jam pertama dan terakhir telah berlalu, aku langsung menghantarkan Naomi pulang kerumahnya. Setelah itu aku langsung pulang kerumahku, sebelum pulang aku langsung membelikan Bakso buat Shinta yg aku janjikan tadi pagi.

 

-o0o-

 

 

“Shinta tolong bukain gerbang donk.” seruku dari luar rumah.

 

“Bentar..” balas Shinta berseru. Shinta langsung berlari kearah gerbang, untuk membukakan gerbang. Agar aku bisa masuk kedalam. Sehabis memakirkan mobil di dalam garasi. Aku langsung menyerahkan makanan yg baru saja aku beli di tukang bakso depan komplek.

 

“Wah enak banget. Ini yg namanya bakso ya?.” Ucap Shinta membelelek matanya.

 

“Iya,itu yg namanya bakso.” balasku.

 

Malam hari saat aku sedang tertidur pulas diatas sofa, Shinta membangunkanku dari tidurku.

 

“Bangun, ayo bangun.” Shinta sambil mengoyang-goyangkan badanku.

 

“Euuhhh…Ada apa sih Shinta, gangguin orang tidur aja.”

 

“Temenin aku begadang ya, aku nggak bisa tidur.” Pinta Shinta sambil duduk disebelahku.

 

“Tapi kan besok aku harus sekolah.” kataku.

“Nggak ada tapi-tapian kamu harus temenin aku begadang pokoknya.” Protes Shinta.

 

Aku hanya menganggukan kepalaku saja untuk menanggapi protesannya Shinta barusan.

 

“Kamu kok mirip sama kakanda aku sih yo.” kata Shinta.

 

“Ah yg bener, emang sih ada yg pernah bilang sama aku. Kalau aku mirip banget sama Rama.”

 

“Emang kamu mirip banget sama dia yo, pas aku pertama kali lihat kamu. Aku kira kamu itu kakanda Rama, calon suami aku.” kata Shinta lagi.

 

“Eh dari pertama kali aku kenal sama kamu, aku heran sama kamu soal ini dan itu. Kamu itu sebenarnya dari mana sih?”

 

“Aku berasal dari negri Ngalengka.” ucapnya.

 

“Ngalengka? Ngalengka? Whetts..” Aku mencoba mengingat nama negri yg di ucapkan oleh Shinta, dan seketika itu aku langsung mengingat nama negri itu. Aku langsung mengambil handphone diatas meja dan langsung browsing tentang Anoman Obong. Dan benar saja di cerita Anoman Obong. Shinta menghilang dengan sangat misteriusnya. Shinta yg terkejut langsung menyemak aku membaca tentang cerita Anoman obong. Karena Shinta tak bisa membaca tulisan di masaku ini.

 

“Jadi aku terdampar di masa depan, pantesan aja semuanya udah beda dengan di masaku dulu.” Ucap Shinta.

 

“Iya..”

 

Shinta sangat sedih kala itu sampai-sampai ia meneteskan air matanya. Aku langsung menenangkan Shinta dengan aku peluk badannya dari sebelah. Agar Shinta berhenti menangis lagi.

 

“Udah donk Shinta, jangan nangis lagi.” Aku sambil mengelus-elus rambutnya yg sangat lembut dan harum baunya. Memang Shinta beberapa hari ini tidak mandi tapi bau badannya masih tetap saja harum seperti pertama aku ketemu sama Shinta.

 

“Tapi aku kangen sekali sama kakang Rama, pasti Rama sedang nyariin aku.” kata Shinta menangis sejadinya.

 

“Iya aku tau kalau kamu sedang kangen sama Rama saat ini, tapi kamu jangan nangis keras-keras gini donk. Entar kedengar sama orang nanti.” kataku sambil menyeka air matanya menggunakan kedua jempolku. Shinta hanya terdiam dan sambil melihatku menyeka air matanya. Shinta hanya tersenyum manis melihatku, aku hanya membalas senyum manisnya Shinta.

 

“Eh yo, pipi kamu kenapa merah gitu? Kamu sedang sakit ya?” Tanya Shinta yg melihat pipiku memerah sedari tadi tanpa aku sadari itu.

“Eh nggak apa-apa kok..”

 

Shinta hanya mengangguk saja, dan Shinta langsung senderan diatas dadaku. Sumpah merinding kala itu aku, berdebar juga dadaku, kala Shinta menaruh kepalanya diatas dadaku. Shinta mulai tertidur perlahan-lahan diatas dadaku, sedangkan aku hanya terdiam saja sambil memejamkan mataku. Aku tak enak untuk membangunkan Shinta yg sudah mulai terlelap tidur diatas dadaku begitu pula aku yg sedari tadi melingkarkan tanganku di perutnya. Pagi harinya kami saling terbangun, alangkah terkejutnya kami berdua ketika bibir kami berdua saling berpanggutan satu sama lain. Pipi kami saling memerah karena saking malunya. Shinta langsung pergi dariku tanpa mengucap satu kata pun begitu juga denganku. Setibanya disekolah Naomi kala  itu sedang makan di kantin, aku kejutkan dari belakang sampai Naomi tersedak makannya.

 

“Sayang kamu ini apa-apaan sih, kesedakan aku jadinya.” Marah Naomi sambil minum.

 

“Maaf sayang, tadi aku kan hanya bercanda saja sayang  gitu saja kamu masa marah.” kataku.

 

“Ya jelas aku marahlah sama kamu, aku nggak tau apa kalau kamu itu punya cewek lain selaiin aku.” Ucap Naomi yg mengagetkanku.

 

“Cewek? Cewek apa sayang. Aku kan hanya punya Naomi sayang doank, mana ada cewek lain dihati aku sayang.”

 

“Halah!! Jangan pura-pura bodoh deh, aku kemaren lihat kamu jalan sama cewek yg mukanya mirip banget sama aku, aku kira aku nggak tau gitu.” Kata Naomi lagi.

 

“Aku bisa jelasin ini semua sama kamu sayang.”

 

“Nggak ada yg perlu dijelasin sama kamu, mulai sekarang hubungan kita selesai sampai disini saja.” kata Naomi sambil Menampar pipiku.

 

“Sayang maafin aku sayang,” Aku sambil menahan tangannya Naomi agar tidak pergi dari kantin, tapi Shinta mengamparku lagi.

 

“Aku kecewa sama kamu, padahal aku udah sayang banget sama kamu tapi apa? Kamu malah berani main gila sama cewek lain dibelakangku.” Kata Naomi sambil nangis.

 

“Kamu lebih percaya sama aku apa sama pikiranmu sendiri. Dengerin ya sayang, cewek itu yg kamu lihat bukan apa yg kamu pikirin itu. Dia itu saudara aku dari jauh namanya Shinta. Kalau kamu masih nggak percaya sama aku nggak apa-apa yg penting aku sudah jelasin semua sama kamu.” kataku sambil pergi meninggalkan Naomi. Naomi yg masih sedih itu langsung berlari mengejarku dan langsung memelukku dari belakang.

 

“Maafin aku, aku tau kalau kamu itu nggak selingkuh dari aku. Aku mau kita balikan lagi Rio sayang.” Kata Naomi.

 

“Maaf Sayang, kita nggak bisa balikan lagi. Kita udah putus sekarang, aku harap kamu jangan ganggu hidup aku lagi.” Kataku sambil melepaskan pelukannya Naomi.

 

“Tapi…” ucap Naomi aku potong.

 

“Carilah cowok lain yg lebih baik dari pada aku, aku tau kalau kamu itu cewek baik-baik. Aku nggak pengen lagi kalau kita baikan terus ada salah paham kayak gini lagi. Dari pada kamu makin sakit hati lagi sama aku, lebih baik kita akhiri saja hubungan kita sampai disini.” Kataku langsung mencium bibirnya Naomi. Naomi hanya terdiam dan sambil menangis di pelukanku, sambil membalas Ciumanku.

 

-o0o-

 

Setelah Rama dam para Pasukan kera berhasil merebut kembali negri Ngalengka dari tangannya Rahwan dan para Monster-monster lain. Rama menanyakan keberadaannya Shinta ke Anoman, tapi Anoman tidak tau sama keberadaannya Shinta Sang kekasih. Rama menyuruh pasukannya menyebar keseluruh plosok negri buat mencari tau keberadaannya Shinta, tapi mereka semua gagal mencari tau keberadaannya Shinta dimana. Anoman mencium bau harum badannya Shinta yg terkenal keharumannya dari dalam Sumur pinggir taman bunga tempat Anoman dan Shinta bertemu tadi. Rama yg kala itu khawatir itu pun langsung masuk kedalam lubang sumur yg sangat dalam dan gelap gulita.

 

Saat Naomi sedang berjalan sendirian di pinggir trotoar, Naomi di hampiri tiga orang cowok yg tak ia kenalinya. Naomi di todong ketiga Cowok itu menggunakan sebilah Pisau dapur.

 

“Jika lo pengen selamat, cepat serahkan semua barang berharga lo, termasuk bibir lo yg sexy itu.” kata tiga orang itu. Naomi hanya bisa menangis sambil memohon ampun agar ia tidak dibunuh oleh ketiga preman yg sedang menodongnya. Tapi pada saat salah seorang dari ketiga preman itu mau mencium bibirnya Naomi yg sexy. Salah seorang itu di tarik kerah bajunya dari belakang oleh seorang cowok yg sangat ganteng sangat dan berpakaian aneh.

 

“Lo nggak usah ikut campur, kalau lo pengen hidup.” kata preman sambil menodongkan pisaunya ke arah cowo itu. Cowok itu langsung menghantamkan busur panahnya ke tiga cowok itu. Tiga cowok itu langsung kabur dari cowok itu ketika salah seorang temannya tertancap anak panah tepat di Jantung sebelah kirinya. Naomi sangat ketakutan kala itu ketika cowok yg sangat gagah membawa busur panah menghampirinya itu.

 

“Adinda Shinta tidak apa-apa?” tanya Cowok itu yg memakai pakaian seperti para pandhawa lima.

 

“Iya aku tidak apa-apa, makasih sudah menolongku.” kata Naomi.

 

“Ayo pulang ke negri Ngalengka Adinda Shinta.”

 

“Adinda Shinta? Aku bukan Shinta nama aku Naomi” kata Naomi. Tapi cowok yg bernama Rama itu tidak percaya dengan cewek yg diajaknya berbicara itu. Naomi menceritakan semua tentang cewek yg sedang di carinya itu. Cowok yg bernama Rama itu langsung meminta tolong ke Naomi agar dihantarkan ke adindanya itu. Dan Naomi menyetujui permintaan cowok yg sedang diajaknya berbicara.

 

 

Saat aku sedang rebahan di belakng rumah, Shinta mengambilkanku makan siang. Karena memang sedari tadi aku belum makan siang. Shinta menyuapiku pada saat Naomi dan Cowok yg bernama Rama itu mengetuk-ngetuk pintu rumahku.

 

“Iya sebentar…” kataku sambil membukakan pintu rumahku.

 

“Eh Naomi, ada apa ya?” Tanyaku.

 

“Ini Yo, ada yg pengen ketemu sama Saudara kamu.” kata Naomi.

 

“Emang cowok ini siapa?”

 

“Perkenalkan nama aku Rama, calon suami dari Shinta yg sedang kamu sandra wahai Buto.” kata Cwok yg dibawa Naomi kerumahku.

 

“Ada apa yo, kok di depan rumah kayak ada ribut-ribut gitu.” kata Shinta yg menghampiriku di depan pintu rumah.

 

“Eh kamu kan…” ucap Shinta terpotong.

 

“Adinda Shinta kekasihku. Ayo ikutlah pulang denganku ke negri Ngalengka sana adinda.” kata Rama langsung memeluk Shinta.

 

“Tidak, Tidak mau aku pengen tinggali di negri ini saja. Aku tidak mau kembali ke negri ngalengka sana.” balas Shinta menolak ajakan sang kekasih hatinya.

 

“Tapi ayah dan ibunda sangat rindu denganmu.” kata Rama lagi.

 

“Tidak mau pokoknya, kamu harus pergi dari sini pokoknya. Rio tolong suruh dia pergi Rio.” kata Shinta sambil menangis dan mendorong-dorongku agar ia mau aku suruh pergi dari depan rumahku.

 

“Mi, tolong ajak cowok itu pergi mi. Sepertinya Shinta sangat terkejut dengan kedatangannya itu.” kataku ke Naomi. Naomi hanya mengguk sambil membawa pergi Rama dari hadapan kami berdua. Shinta masih menangis sambil memeluk badanku. Aku hanya terdiam saja sambil menbelai-belai rambut halusnya Shinta.

 

“Kamu nggak boleh gitu sama calon suami kamu kelak shinta. Dia kan baik, tampangnya ganteng banget lagi. Kamu besok harus ikut pulang sama Rama kembali ke Negri asal kamu. Apa kamu nggak rindu sama ayah bunda kamu apa?.” kataku menasehati Shinta.

 

“Iya aku Rindu sekali sama mereka berdua, tapi aku tidak mau berpisah denganmu. Aku udah terlalu sayang banget sama kamu Rio.” balas Shinta.

 

“Hah!!!” Aku terkejut ketika Shinta berucap seperti itu.

 

“Iya Rio, aku suka sama kamu. Yah walau pun kamu dulu aku kira sebagai Rama, tapi aku berpikir kamu itu bukan Rama. Kamu itu keras orangnya, aku pengen hidup denganmu dan bukan sama Rama. Biarlah Rama hidup bahagia dengan temen cewek kamu tadi. Kamu mau kan hidup denganku selamannya.” kata Shinta sambil menangis di bahuku.

 

“Tapi….”

 

Di rumahnya Naomi, Rama menceritakan semua tenang Shinta ke Naomi. Naomi hanya terdiam saja, saat Naomi mau mengambilkan Rama minum. Kakinya Naomi keselengkang, naomi hampir kehempas ketanah tapi Rama sigap dan menahan badannya Naomi yg cukup berat agar tidak jatuh ketanah.

 

 

“Makasih ya!” ucap Naomi malu-malu.

 

“Iya sama-sama.” kata Rama.

 

Saat Shinta berjalan kearah dapur untuk mengambil pisau dapur, aku langsung rebut pisau dapur dari tangannya Shinta. Pisau dapur itu langsung aku jatuhkan kelantai.

 

“Kamu ini nggak punya otak apa, kamu itu masih muda, jangan bertindak bodoh seperti itu. Masa depan kamu masih panjang Shinta. Istigfar Shinta Istigfar.” kataku sambil membekap kepalanya Shinta di depan dadaku.

 

“Ih siapa yg mau ngelakuiin hal itu semua sih. Aku nggak ada niatan buat ngelakuiin hal itu semua kok. Lagian aku ambil pisau itu buat aku kupas apel yg diatas meja itu.kamu khawatir ya sama aku?” kata Shinta, sontak ketika itu juga aku salah tingakah dibuat Shinta. Shinta hanya tertawa kecil melihat tingkahku yg salah tingkah itu. Pagi harinya Naomi mengajakku buat ketemuan di taman dan mengajak Shinta juga buat ketemuan dengan Rama. Tapi Shinta tak mau ketemu dengan Rama lagi. Aku terus mencoba merayu Shinta agar Shinta mau bertemu dengan Rama di taman. Setelah sekian lama aku mencoba merayu Shinta, akhirnya Shinta mau bertemu dengan Rama. Sekian lama Naomi dan Rama menungggu di taman bunga yg sangat indah. Aku dan Shinta juga baru nyampe di taman yg sedang di janjikan oleh Naomi lewat telphone tadi subuh.

 

“Maaf ya maaf, kami berdua telat.” kataku.

 

“Iya tak apa-apa, lagian juga kami berdua baru datang.” kata Naomi.

“Yo,yuk kita makan ketoprak disana yuk.” ajak Naomi, aku paham dengan Ajakannya Naomi. Agar Rama dan Shinta bisa ngobrol berduaan tanpa ada yg menganggu. Aku hanya mengangguk saja tanpa berucap satu kata pun. Setelah kami berdua menjauh dari mereka berdua.mereka berdua langsung ngobrol-ngobrol asik.

 

“Adinda, Aku tau Adinda sudah tidak Cinta lagi dengan aku. Aku paham sama Adinda kalau Adinda suka dengan cowok yg bernama Rio. Kalau itu mau adinda Shinta. Aku ikhlas buat merelakan Adinda dengan orang yg sangat Adinda cintai dan adinda sayangi itu. Toh seandaiinya kalau aku tetap paksa adinda buat pulang dan nikah sama aku, pasti adinda juga tidak akan bahagia denganku. Lebih baik aku ikhlaskan saja adinda buat hidup selamanya sama Rio itu” kata Rama sambil memegang kedua telapak tangan dari Shinta.

 

“Apa kamu yakin? Kamu rela aku diambil orang yg tak begitu mengenalku di bandingkan denganmu?” Tanya Shinta.

 

“Ya aku sangat yakin dengan kata hatiku ini. Aku ikhlas kamu buat dia, toh aku juga sudah mendapat penganti dirimu.” kata Rama.

 

“Makasih Kakanda Rama.” Shinta langsung memeluk badannya Rama seketika itu juga Shinga langsung mencium pipinya. Setelah kami berdua selesai makan dan bercerita-cerita asik di bawah pohon beringin. Kami berdua langsung menghampiri mereka berdua yg sedang duduk di bangku taman.

 

“Rio aku titip Shinta ya. Kamu jaga Shinta baik-baik, dan kamu jangan pernah sesekali nyakitin atau lagi sampe buat Shinta nangis. Jangan sampe pernah, aku pengen Shintaku hidup bahagia denganmu itu.” kata Rama sambil menganti bajunya.

 

“Iya akan aku jaga Shinta sebaik-baiknya. Kamu tolong jaga juga Naomi, jangan sampe Naomi di culik oleh para buto-buto yg lainnya.” balasku sambil melingkarkan tangaku diatas pingangnya Shinta.

 

 

“Iya….” balas Rama sambil mengendong Naomi keatas, seketika itu juga Naomi dan Rama menghilang dari dunia. Aku dan Shinta saling bertatap-tatap mata satu sama lain. Senyum yg sangat hangat terpancar dari sorot matanya Shinta, pancaran mata penuh akan kasih sayang. Pelukan yg sangat hangat, sehangat kasih sayang.

 

 

“Aku sayang banget kamu Shinta..” kataku

 

“Aku juga sayang sama kamu Rio.”balas Shinta samabil melingkarkan kedua tangannya diatas tengkukkku dan langsung menciumi bibirku.

 

Cinta itu bukan Bagaikan Rama dan Shinta tapi Cinta itu Bagaikan Rio dan Shinta.

 

*-+The Ends+-*

 

Akhirnya kelar juga Terdampar4, ya alhamdulilah  kali ini season terdampar tidak lagi horror story.mungkin diseason selanjutnya akan horror-horroran lagi. Terimaksihku ku ucapkan kepada para silent rider yg sudah membaca Season Terdamparku dari season pertama sampai dengan season yg keempat ini. Trimakasih juga buat kang Ical dan Admin Sinonchan yg mau ngeposting karyaku yg tidak bagus ini. Mungkin aku akan off lagi sebentar buat mengumpulkan ide cerita Terdampar selanjutnya.

 

Created by:@lastwota -Pencetus Terdampar Season

Iklan

3 tanggapan untuk “Terdampar 4: Aku Bukan Rama

  1. Wahwah Muantap! Teruslah berkarya bang +_+ Kalo boleh kasih saran, tolong diperhatikan huruf kapital setelah titiknya dan juga setelah titik atau koma diberi spasi. Dan itu beberapa juga ada kata yang typo. Oke sekian aja dari gue, kita berbagi pengalaman lah ya. Sorry kalo kata2 gue kurang berkenan bang. Lanjutkan +_+

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s