Janji Sang Matahari

Langit yang dihiasi mentari senja itu memang indah ya. Pemandangan ini selalu sanggup membuat ku teringat akan dirinya, teringat akan janji kita berdua. Ya, tepat di atas bukit ini aku dan dia berjanji di bawah mentari senja untuk menguji kesetiaan masing-masing. Rena, ya dialah gadis yang telah menjadi mentari yang menghangatkan hatiku selama ini. Semua yang ku lalui bersamanya begitu indah dan mungkin bersamanya adalah hal terbaik yang pernah ku alami. Saat berada disini, aku selalu ingat pertemuan pertamaku dengannya. Dia adalah murid pindahan di sekolahku. Pagi itu…

 

********

 

 

“Dipo… ayo bangun, udah siang nih”

 

“Bentar ahh mah, masih ngantuk tau” jawabku dengan nada malas sambil menarik selimut.

 

“Heh kamu itu, cepet bangun nanti telat lho ke sekolah. Ini hari pertama tahun ajaran baru?” ujar mama ku.

 

“Hah?! Ohiya aku lupa!”

 

“Haduh kamu itu gimana sih, yaudah sana buruan mandi”

 

“iya mah” sahutku.

 

Aku pun bergegas mandi dan bersiap untuk pergi ke sekolah. Tanpa berlama-lama lagi aku memacu motor menuju ke sekolah.

 

Sesampainya di sekolah aku segera bergegas mencari kelas ku yang baru. Tak berapa lama dari kejauhan aku mendengar seseorang memanggilku

 

“oii Poo… Siniiii” suara itu terdengar sangat familiar di telingaku.

 

“oii Zarrr” jawabku. Orang yg memanggilku tak lain dan tak bukan adalah Hazard, sahabat baik ku.

 

“Ada apa Zar?” tanya ku.

 

“lo lagi nyari kelas baru kan?” dia balik bertanya.

 

“iya nih Zar” ujar ku.

 

“kelas lo disini nih, kita sekelas lagi” ucapnya senang.

 

“beneran? Yah sial banget” jawab ku dengan nada kecewa.

 

“dih masa ga seneng lu sekelas ama gue lagi??” Katanya dengan nada sedikit kesal.

 

“yaelah Zar gue bercanda kali hahaha” ledek ku.

 

“sial gue kira beneran”

 

“engga lah haha”

 

Setelah itu kami berbincang2 sambil menunggu bel masuk berbunyi

 

“eh Zar bentar ya gue ke toilet dulu”

 

“iye sono buruan nanti keburu guru masuk”

 

“iya bawel” aku pun berjalan pergi ke toilet dan saat kembali ke kelas pandanganku teralihkan pada sosok seorang gadis.

 

“wow… Cantik bener tuh anak, tapi kok gue ga pernah liat dia sebelumnya ya?”

Gumamku dalam hati. Sesaat setelah kembali ke kelas, bel masuk pun berbunyi dan guru pun masuk.

 

“nah anak-anak sebelum kita mulai pelajaran hari ini ibu ingin memperkenalkan murid baru pada kalian”

 

“ayo masuk dan perkenalkan dirimu pada yang lain” panggil bu guru.

 

Seketika itu pun aku tercengang karna ternyata yang masuk adalah anak yg ku lihat tadi.

 

“perkenalkan nama saya Rena Nozawa. Mulai hari ini aku pindah ke sini, yoroshiku onegaishimasu

 

“anak-anak Rena ini sebelumnya tinggal di Jepang, dia pindah karna ayahnya ada urusan pekerjaan di Indonesia”

 

“nah Rena tempat kamu di sana ya,” setelah itu rena berjalan menuju tempat duduknya yang tepat berada di belakangku dan Hazard.

 

“hai Rena, perkenalkan aku Dipo dan ini temanku Hazard, yoroshiku onegaishimasu” sapa ku padanya.

 

“i..iyaa..” jawabnya pelan.

 

“jangan malu bertanya pada kita ya Ren kalo ada yg gak kamu ngerti” timpal Hazard.

 

“iya Ren, kita berdua siap bantu kamu kok”

 

arigatou ne” jawabnya lembut.

 

Kochirakoso” balas ku dengan sedikit senyum.

 

 

lalu saat istirahat,

 

“Dipo, eto…” ucap Rena pelan.

 

“iya kenapa Ren?” tanya ku penasaran.

 

“kamu mengerti ucapan ku tadi?”

 

“ohh yang perkenalan tadi? Iya Ren aku ngerti kok. Sedikit banyak aku ngerti bahasa Jepang kok Ren” Rena tak membalas ucapanku dan hanya mengangguk.

 

“ke kantin yuk Ren” ajakku.

 

“kamu aja, aku bawa bento kok” jawabnya sambil tersenyum.

entah kenapa senyuman Rena itu sangat menghangatkan hatiku, seperti mentari yang menyinari bumi.

 

“ohh yaudah, duluan ya Ren” sambil membalas senyuman Rena.

 

sesampainya di kantin aku langsung menemui Hazard yang sudah sedari tadi menunggu ku.

 

“woy Po si Rena mana? Kok gak ikut?” tanyanya.

 

“dia bawa bento makanya gak ikut” jawabku singkat.

 

bento? Apaan tuh?”

 

“bekal makan siang”

 

“ohh gitu”

 

Kami pun segera memesan makanan dan minuman. Setelah menyantap makanan di kantin tak berapa lama bel pun berbunyi dan kami segera kembali ke kelas. Tapi di tengah koridor kami melihat beberapa anak sedang mengerubungi seseorang.

 

“lah itu kan kinal dan yg sedang di jahilinya itu…. Rena??!” ucapku dalam hati.

Spontan aku pun lari ke arah mereka, Hazard pun mengikutiku.

 

“nal tunggu duluuu…” kataku dengan nafas terengah-engah. “Lo mau ngapain dia?”

 

“lo gak usah ikut campur deh Po” katanya dengan nada kesal.

 

“tapi gak bisa keroyokan gini dong nal, kasian kan dia” ujarku.

 

“nal udah cabut aja yuk daripada nanti ada yang liat bisa gawat” ucap salah seorang temannya. Dengan muka yang masih sedikit kesal akhirnya kinal dan kawan-kawannya segera pergi.

 

“kamu gapapa kan Ren? Daijoubu ka?” tanya ku padanya

 

“iya aku gapapa” jawabnya dengan wajah yang masih terlihat shock

 

“ayo cepet kita balik ke kelas, dikit lagi bu guru masuk nih” ucap Hazard panik

 

“iya Zar, sabar kenapa sih” jawabku

 

“ayo Ren kita balik”

 

“eng.. Iya” jawabnya lemas

 

Selama menuju ke kelas Rena memegangi tanganku dengan sangat erat seperti tidak mau melepaskannya. Aku tidak keberatan dengan itu.

 

“sepertinya dia sangat shock dengan kejadian tadi” pikirku.

 

saat pulang sekolah aku memutuskan untuk mengajak Rena pulang denganku karna sepertinya dia masih shock dan untuk menghindari perbuatan jahil gengnya kinal.

 

“Ren, kamu pulang sama siapa?” kataku membuka pembicaraan

 

“tadinya papa mau jemput tapi karna ada urusan mendadak papa gak jadi jemput deh” jawabnya sedih

 

“bareng sama aku aja yuk, aku anterin kamu pulang”

 

hontou ni?”

“iya beneran, yuk”

 

“Um” jawabnya sambil tersenyum

 

Sepanjang perjalanan aku mencoba mengobrol dengannya mulai dari A sampai Z, dari yang biasa saja sampai yang bikin ketawa, saat itu aku merasa bahwa dia ini “beda” Tak terasa kami pun sampai di depan rumahnya Rena.

 

“makasih ya Po udah mau nganterin aku sampai rumah” ucapnya lembut

 

“iya Ren aku juga seneng kok bisa nganterin kamu” jawab

 

arigatou ne Dipo-kun” katanya sambil tersenyum manis

 

“i..iya Ren” jawabku terbata-bata karna terpaku pada senyuman Rena yang manis itu

 

jaa mata ashita” katanya sambil melambaikan tangan.

 

Sejak saat itu aku dan Rena menjadi dekat. Semakin hari semakin dekat dan aku mulai merasakan sesuatu yang lain dari dirinya. Mungkinkah dia menyukaiku? Akan tetapi aku tidak mau terlalu berharap, tidak lagi. Aku tak mau masa laluku terulang kembali. Tapi mungkin dialah orang yang tepat bagiku, entahlah….bukit ini juga menjadi tempat kenangan bagi kami. Karna disinilah kami biasa menghabiskan waktu bersama, bercerita tentang kehidupan masa lalu, kini dan masa depan. Disini pula kami berjanji untuk selalu bersama sampai akhirnya….

 

*******

 

Hari ini adalah hari ulang tahun Rena dan aku bermaksud untuk memberinya kejutan sekaligus mengungkapkan perasaanku yang sudah lama ku pendam padanya. Aku pun segera mengambil handphone ku untuk menghubunginya.

 

moshimoshi” ucap ku memulai pembicaraan

 

moshimoshi, Dipo-kun, ada apa?” Jawab suara diseberang sana

 

“umm.. Ren apa kau ada acara hari ini?”

 

“engga ada Po, kenapa?”

 

“apa kamu bisa ke bukit yang biasa? Aku mau ngomong sesuatu nih”tapi dia tidak menjawab dan suasana menjadi hening sejenak

 

“Ren.. Kamu disitu kan?”

 

“eh.. I..iya Po bisa kok, gomen tadi aku melamun”

 

“ohh iyaiya gapapa, aku tunggu ya nanti sore”

 

“iya Po”

 

setelah itu aku mempersiapkan sedikit kejutan untuknya. Sebuah boneka doraemon sudah ku siapkan untuknya. Tak lupa aku juga mempersiapkan mental untuk mengutarakan perasaanku padanya. Tak terasa waktu yang ditunggu pun tiba dan aku segera bergegas pergi ke bukit tempat kita berjanji tadi.

 

“hmm belum datang ya, mungkin masih dijalan” pikirku dan tak lama dia pun datang. Tapi raut wajahnya memperlihatkan dia sedang sedih.

 

“hai Rena” sapaku

 

“eng.. Hai Dipo” balasnya

 

“kamu kenapa Ren? Kok murung gitu?” tanyaku heran

 

“eng.. Gapapa kok Po” jawabnya sambil mencoba tersenyum

 

“ohiya Ren hari ini kamu ultah kan? Otanjoubi omedetou!” ucapku sambil memberikan boneka yang sudah ku siapkan

 

“ohiya arigatou ne Dipo-kun” balasnya

 

“kamu kenapa sih Ren? Kok murung aja sih daritadi? Senyum dong” hening pundatang melanda sesaat.

 

“sebenernya ada yang mau aku omongin sama kamu” ucap ku dan Rena berbarengan

serentak kami pun menghentikan ucapan masing-masing karna kaget

 

“kamu duluan aja Po yang ngomong” ucap nya

 

“baiklah. Jadi sebenernya aku pengen ngomong ini ke kamu dari dulu tapi karna aku ngerasa takut jadi aku pendem aja selama ini” jelasku, Rena hanya terdiam mendengarkan ku. Aku pun mengambil nafas panjang sejenak.

 

“aa..aku… Aku suka kamu Ren, kimi ga daisuki da

 

mendengar perkataan ku seketika dia terdiam dan matanya mulai berkaca-kaca seperti ingin menangis, lalu sambil tersenyum dia menjawab

 

 

“aku juga.. Atashi mo kimi ga daisuki da Dipo-kun”

sontak hal itu membuatku amat senang sampai memeluknya, akan tetapi raut wajah gembiranya tiba-tiba berubah menjadi sedih.

 

“tapi… Aku gak bisa Po.. Tidak untuk saat ini…” lagi, aku dibuat terkejut olehnya.

 

“kenapa Ren? Kenapa tidak?” tanyaku

 

“urusan pekerjaan ayahku disini sudah selesai dan kita semua pun sudah lulus jadi minggu depan aku akan kembali ke Jepang dan melanjutkan sekolahku di sana” jelasnya

 

Aku terdiam. Perkataannya barusan membuatku tak bisa berkata apa-apa. Suasana pun jadi hening, tapi kemudian dia mengatakan sesuatu

 

“tapi jangan menganggap ini sebuah perpisahan ya, anggap saja aku seperti mentari senja itu” katanya sambil menunjuk ke arah matahari

 

“aa..apa maksudmu?” tanyaku

 

“anggap saja aku seperti mentari senja itu, mungkin sekarang waktunya untukku tenggelam dan meninggalkanmu melewati malam sendirian tapi esok hari aku akan kembali lagi dan menyinari harimu. Nah kepergianku ini bukan meninggalkanmu karna aku akan kembali lagi asalkan kau berjanji untuk menungguku, menunggu matahari untuk terbit lagi dan menyinari harimu. Kau mau berjanji?” ujarnya sambil mengajak untuk janji jari kelingking.

 

Mendengar ucapannya aku hanya bisa tertegun. Mungkin benar yang ia katakan, mungkin ini saatnya matahari tenggelam dan digantikan malam yang sunyi tapi esok matahari akan bersinar lagi.

 

“iya Ren, ayo kita berjanji di bawah mentari senja ini untuk bertemu lagi suatu saat nanti” ucapku sambil menggandeng jari kelingking Rena dengan jari kelingking ku.

 

“iya Po” jawabnya sambil tersenyum.

 

Seminggu kemudian dia pun kembali ke Jepang, aku mengantarnya ke bandara. Saat itu yang ku iihat hanyalah jejak awan pesawat yang ditumpanginya. Sebuah garis putih yang seperti mengatakan “sampai bertemu lagi.” sejak saat itu aku terus menunggunya di tempat ini, ya sama seperti hari ini. Aku memandangi langit mentari senja disini dan berharap agar dia cepat kembali.

 

3 tahun sudah semenjak kepergiannya dan aku masih tetap menunggunya karna aku yakin bahwa mentari akan terbit lagi, hanya itulah yang membuatku tetap menunggunya hingga saat ini.walaupun kami tak bias berkomunikasi karna jarak yang memisahkan tapi ku yakin akan janji yang kami buat.

 

Tak terasa langit senja pun berubah menjadi langit malam berbintang yang cerah. Aku harus segera kembali ke rumah dan beristirahat karna masih banyak yang harus ku kerjakan besok.

 

“semoga saja dia cepat kembali” kataku dalam hati sebelum tidur

keesokan paginya aku akan pergi ke rumah temanku untuk mengambil barang yang tertinggal. Aku melewati jalan yang biasa ku lewati saat akan ke bukit karna akan lebih cepat sampai ke rumah temanku itu. Iseng, aku pun menoleh ke arah bukit. Betapa terkejutnya aku saat melihat sosok seseorang di atas bukit.

 

“tidak mungkin… Yang tahu tempat itu kan hanya aku dan….” pikirku

tanpa pikir panjang lagi aku langsung lari menuju bukit. ”

Mungkinkah itu dia? Mungkinkah dia sudah kembali?” aku terus bertanya-tanya dalam hati.

 

Sesampainya di puncak bukit, aku semakin terkejut. Itu adalah sosok perempuan dengan tinggi semampai dan berambut panjang. Dengan nafas yang masih terengah-engah aku coba memanggilnya

 

“Re..Rena.. Apa itu kau?” tanyaku pelan

 

“Apa kau Dipo?” Tanyanya

 

“Iya ini Aku,” antusias bercampur bingung perasaanku. Entahlah aku merasa tak tenang.

 

“Syukurlah, ternyata itu kau. Aku punya pesan dari Rena-neesan untukmu” ia berbalik, menghadap diriku.

 

“Dari Rena? Pesan apa?” ia lalu menyerahkan guci kecil dan sepucuk surat ditangannya, lalu pergi begitu saja. Aku yg masih bingung membuka surat pemberiannya.

 

Dear Mr. D,

 

Hai, Dipo. Udah lama banget ya kita gak ketemu. Aku kangen banget tau sama kamu hehe, tapi maaf kalo pertemuan terakhir kita harus sedih begini. Kalo kamu baca surat ini, itu artinya aku udah gak ada di dunia ini. Guci yg kamu pegang itu buktinya. Sebagian dari diriku ada disana.

 

Kamu bingung? Sebelum aku jelasin semua, aku mau minta maaf sama kamu. Maaf banget karna aku udaj bohong sama kamu dan gak bisa nepatin janji kita. Sebenernya aku pulang ke Jepang bukan karena papa, tapi karena aku sakit. Hampir 3 tahun ini aku berjuang melawan penyakit demi ketemu kamu, demi janji kita. Tapi kenyataan berkata lain.

 

Dokter bilang umurku gak lama lagi. Jadi, aku mutusin buat nulis surat ini dan minta Rin, adikku, buat ngasih ini semua ke kamu. Sekali lagi maaf ya. Kalo boleh, aku ada permintaan terakhir. Tolong jaga guci ini anggep aja ini aku. Ya? Onegai.

 

Sayounara Mr. D

 

 

Air mata meleleh begitu saja. Perasaanku bercampur aduk. Matahari tak lagi terbit dan menyinari hatiku. Rena, kau jahat. Andai saja kamu mengatakannya saat itu, aku pasti akan membuat waktu terakhir kita menjadi lebih indah. Semua sudah terlambat sekarang. Aku akan menjaga sebagian dirimu ini, layaknya kau seutuhnya. Selamat tinggal. Semoga kau tenang disana. Apapun yg terjadi, kau akan selalu menjadi matahariku.

 

~END~

Created by: Dipolacubo

Iklan

3 tanggapan untuk “Janji Sang Matahari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s