Death Game, Part9

“Nanti siang kita berangkat.” Lidya pun mengangguk setelah setuju dengan rencana Falah.

Setelah tenaga cukup terkuras akibat seharian dikejar oleh beberapa zombie. Mereka kini bersembunyi di dalam klinik kampus yang berada dekat asrama putri. Belum lagi insiden tadi siang, adu mulut dengan Gracia yang membuat Lidya tambah pusing. Ditambah Gracia kini bersama Marco yang notabenenya memiliki dendam terhadap Falah.

“Yang aku lakuin tadi tuh bener ga sih?” Falah melirik ke arah Lidya yang bersandar dekat rak obat-obatan.

“Kalau buat pertahanan diri sih emang bener, lagian dia berusaha nyerang kamu kan?” Lidya mengangguk.

“Tapi aku mikir juga, kalau Viny yang ada diposisi itu, aku juga bakal marah kaya cewek tadi.”

“Kan kamu juga udah jelasin, namanya juga kepepet, mau gimana lagi? Udah Lid, mendingan kita istirahat, nanti siang kita pergi dari tempat ini,” kata Falah.

“Ya udah bangunin aku kalau udah siang.” Lidya pun mencoba memejamkan matanya dan terlelap.

~oOo~

Sesuai rencana siang ini Falah dan Lidya pergi meninggalkan klinik kampus. Jarak yang akan ditempuh Falah dan Lidya ke tempatnya Yona, bisa dibilang cukup jauh. Mereka harus melewati asrama putri, dan pergi melewati gedung-gedung perkuliahan.

Tapi ancaman datang justru dari asrama putri, dilihat dari luar klinik kampus, disekitar asrama terdapat puluhan zombie yang masih berkeliaran. Beruntung Falah dan Lidya bisa kabur ke klinik ini dan langsung mengunci pintu depannya.

Lidya masih mengucek-ngucek kedua matanya. Jam sudah menunjukan pukul sepuluh pagi, teriakan zombie-zombie juga sudah mulai terdengar jelas. “Jadi lewat jalan yang paling dekat aja?” tanya Lidya.

“Kan aku nanya Lid, enaknya lewat yang paling deket tapi ketemu zombie, apa yang muter dulu tapi potensi ketemu zombie nya lebih dikit?” tanya Falah.

“Bingung aku juga.”

“Kita cuma punya kapak sama pisau, ya udah kita muter aja, kalau ada zombie kita bunuh.”

“Zombie sih pasti ada Fal, kamu intip coba, pasti udah keliatan jelas.”

Falah terdiam sejenak, ia lalu beranjak dan pergi ke dekat kaca pintu masuk klinik. Memang benar, terlihat disana beberapa zombie, dekat asrama putri sudah berkeliaran.

“Kita cari aman aja, paling engga kalau jumlah zombie nya dikit kita lebih aman.”

“Jadi langsung pergi aja nih?”

“Iya lah Lid, kasian Viny juga kan? Oiya vaksin nya mana?”

“Santai udah aku sakuin kok.”

“Ya udah, hitungan tiga aku buka nih pintunya.”

Lidya pun meraih kapak miliknya. Lengannya mencengkram kuat gagang kapak yang terbuat dari kayu itu. “Siap?” Lidya pun mengangguk.

Falah menggeser meja yang awalnya berfungsi sebagai penahan. Tangan Falah kini sudah memegang gagang pintu. Ia mengambil nafas kemudian menghembuskannya. Berupaya serileks mungkin sebelum mulai berlari sambil dikejar kawanan zombie.

“Satu… dua… tiga….!”

Pintu pun dibuka, Falah dan Lidya langsung lari dan berbelok ke kanan. Langkah kaki mereka menjadi perhatian kumpulan zombie yang berada didekat sana. Teriakan zombie mulai terdengar, dan mereka mulai menyeret kakinya menuju ke arah Falah dan Lidya.

“Jangan liat kebelakang Lid!” kata Falah.

“Jangan teriak juga! Berisik! Entar makin banyak yang ngejar!” kata Lidya.

Mereka berdua pun pergi ke dekat Conventional Hall. Beberapa orang yang tersisa, terlihat sedang membunuh beberapa zombie. Hampir saja Falah dan Lidya lupa, tugas mereka kali ini untuk membunuh semua zombie yang tersisa.

Dari kelompok yang sedang membunuh zombie-zombie itu terlihat ada Gracia disana. Gracia pun mendapati Lidya dan Falah sedang berlari didekat mereka.

“Dia punya vaksinnya!” teriak Gracia tiba-tiba.

Beberapa orang yang tengah membunuh zombie di sekitaran situ langsung berpaling dan melihat ke arah Lidya dan Falah.

“Kok dia tau Fal?” tanya Lidya.

“Mana aku tau, udah lanjut kabur aja.” Lidya pun mengangguk.

“Woi!!! Berhenti! Kita rebut vaksinnya dari dia!” ujar seorang pemuda tinggi besar.

“Kita kasih Vaksinnya buat si Adit!” jawab pemuda lainnya.

“Lah… lah… kok jadi gini?!” tanya Lidya.

“Kita kejar mereka berdua!” kata Gracia.

“Yaaa!!!”

Sebagian dari kelompok Gracia pun pergi mengejar Falah dan Lidya. Sementara sisanya, terus membunuh zombie yang ada disekitaran sana.

Falah terus berlari didepan Lidya dan menghiraukan kelompok itu. Sementara Lidya sedari tadi terus melirik-lirik ke belakangnya. Benar saja beberapa orang pergi mengejar mereka berdua.

“Woiii berhenti!” teriak Gracia.

“Fal… gimana ini?” tanya Lidya.

“Ga mungkin kita kekejar, jaraknya jauh ini, terus lari aja,” kata Falah.

“Ya tungguin kek!” kata Lidya.

Beberapa zombie yang berkeliaran di jalan pun mencoba menghadang Falah. Namun Falah hanya menghindarinya, kecuali sudah ada yang mencoba menyerangnya dan ia akan melawan zombie itu.

Sementara di belakang, kejaran kelompok Gracia sudah tidak terlihat. Nampaknya mereka memutuskan untuk berhenti mengejar Lidya dan Falah.

“Aman kan?” tanya Falah.

“Ishhh… aman dari mana? Tuh di depan zombie nya pada ngumpul gitu,” kata Lidya.

“Paling engga, yang ngejar kita udah ga ada kan? Sekarang kita fokus pergi ke tempat yang lain, sambil bunuh beberapa zombie.” Lidya pun mengangguk.

Mereka berdua kembali melangkah, saat bertemu zombie sekarang Falah langsung menyerang zombie itu. Pisau yang digenggamnya langsung diarahkan ke tengkorang sang zombie. Kulit zombie itu terkesan lebih lunak dari kulit manusia, sehingga sekali tusuk, pisau pun langsung menembus kepala si zombie.

Dibelakang Falah, Lidya sedang mencoba membunuh satu zombie. Kapaknya ia ayun kan tepat ke tubuh si zombie. Darah pun langsung menyembur keluar saat kapak itu menembus tubuh zombie.

“Ishhh…. jijik!” kesal Lidya.

“Entar tinggal di cuci aja Lid,” kata Falah.

“Kena baju ini kotor,” kata Lidya.

“Ya elah…, soal itu entar kita ambil di asrama putri.”

Entah sudah berapa zombie yang mereka bunuh. Falah dan Lidya pun terlihat kewalahan. Keringat pun mulai bercucuran, noda darah pun mengotori pakaian mereka berdua.

“Kenapa?” tanya Lidya.

Falah menyeka keringat didahinya. “Ga kenapa-kenapa, ya udah kita lanjut jalan, tuh gedungnya.” Falah menunjuk sebuah gedung yang berada di ujung persimpangan.

Akhirnya mereka berdua pun tiba di gedung yang diberitahu Kevin. Sangat sepi sekali, seperti tidak ada kehidupan didalamnya.

“Kevin! Faisal!” teriak Falah.

“Yona!” teriak Lidya.

Tidak lama kemudian seorang gadis dengan rambut pendek datang dari arah tangga lantai dua.

“Kalian? Ayo cepat, ikut aku! Bawa vaksinnya kan?” tanya Yona.

Lidya pun mengangguk, lalu mereka berdua pergi mengikuti Yona ke lantai dua. Mereka pergi ke ujung lorong, disana sudah ada Faisal dan Kevin yang diam didepan sebuah ruangan.

“Viny mana?” tanya Lidya.

“Tuh didalem, kita iket soalnya biar ga ngamuk,” kata Kevin.

Saat pintu dibuka, benar saja Viny sedang duduk dikursi dengan keadaan tubuhnya diikat oleh tali. Matanya merah darah, saat melihat Lidya dan yang lainnya masuk kedalam ruangan itu, Viny langsung berteriak-teriak. Seperti ingin melahap mereka semua.

Viny berusaha menggerak-gerakan tubuhnya, melepaskan ikatan itu tapi sayangnya ikatan itu cukup kuat untuk menahan tubuh Viny.

“Ya udah langsung kasih aja vaksinnya,” kata Faisal.

“Bentuk vaksinnya kaya gini sih.” Lidya mengeluarkan sebuah suntikan kecil dengan cairan berwarna ungu didalamnya.

“Bener ini vaksinnya?” tanya Yona.

“Kayanya sih, Yon,” kata Falah.

“Yakin ga nih? Kalau salah suntik kan bahaya,” kata Kevin.

“Soalnya di dalam klinik itu yang paling mencurigakan cuma ini,” kata Lidya.

“Ya udah coba aja,” kata Faisal.

Lidya pun mengangguk, ia berjalan ke belakang Viny dan meraih lengan kirinya. “Sorry ya Vin.”

Lidya menyuntikan vaksin itu tepat di lengan kiri Viny. Sontak Viny langsung menjerit seketika. Cairan berwarna ungu itu terus masuk kedalam tubuh Viny. Tidak lama kemudian Viny pun melemah dan kehilangan kesadarannya.

“Lah… kok dia diem?” tanya Falah.

“Kayanya bener ini vaksinnya, buktinya langsung tenang tuh Viny,” kata Yona.

“Ya udah deh, kalau gitu kita tinggal tunggu aja hasilnya,” kata Faisal.

“Ngomong-ngomong zombie di luar masih banyak ga?” tanya Kevin.

“Paling banyak disekitaran asrama, kalau di jalan lagi dibunuh sama beberapa orang yang tersisa,” kata Lidya.

“Jadi sekarang kita mau ngapain nih?” tanya Faisal.

“Kita bunuh sisa zombie yang ada,” kata Falah.

“Serius?” tanya Yona.

“Kan itu misinya Yon, games kali ini ga akan pernah selesai kalau kita ga bunuh semua zombie itu,” kata Falah.

“Senjata kalian masih ada kan?” tanya Faisal.

“Ada kok,” jawab Lidya.

“Sebagian tapi harus jaga Viny disini,” kata Falah.

“Ya bener, takut ada apa-apa juga kan,” kata Yona.

“Ya udah aku aja yang jaga disini,” kata Lidya.

“Aku juga,” ujar Faisal.

“Ya kita gantian lah nanti, sebagian pergi keluar bunuh zombie, sebagian lagi jagain Viny,” kata Falah.

“Ngomong-ngomong kalian ga jijik apa bunuh zombie?” tanya Yona.

“Kepaksa Yon,” jawab Falah.

“Ya udah sekarang kita susun rencana dulu gimana?” tanya Faisal.

“Boleh, emang punya rencana apa Sal?” tanya Kevin.

“Pertama kita bunuh zombie yang ada disekitaran gedung ini dulu,” kata Faisal.

“Terus?” tanya Falah.

“Ya lanjut kita bunuh yang ada dijalan-jalan lain, sampai akhirnya kita bunuh yang ada di asrama,” kata Faisal.

“Jadi intinya, kita bunuh yang ada diluar dulu, terus target terakhir kita asrama gitu?” tanya Kevin.

“Yup, di asrama paling banyak soalnya. Satu lagi, ini deket sama parkiran kan?” tanya Faisal.

“Parkiran motor lebih tepatnya,” kata Yona.

“Kalau bisa kita pake kendaraan buat kabur-kaburnya,” kata Faisal.

“Pas banget, motor aku parkir di deket sini,” kata Falah.

“Motor aku juga sama,” kata Lidya.

“Ya udah pake dua motor aja, yang satu di bonceng,” kata Faisal.

“Boleh deh, ngomong-ngomong motor kamu apa Lid?” tanya Kevin.

“Matic kok, tuh Yona tau motor aku yang mana,” kata Lidya.

“Iya aku tau, ya udah mau kapan kita berangkatnya?” tanya Yona.

“Sore aja, sekalian kita istirahat sebentar, pokoknya malem kalian harus udah balik lagi kesini,” kata Faisal.

“Emang kenapa Sal?” tanya Falah.

“Zombie itu lebih aktif malam hari, mereka juga lebih cepat geraknya,” kata Kevin.

“Bener tuh kata Kevin, oiya nanti kita sekalian pergi ke kantin terdekat, ambil beberapa makanan buat persediaan, aku belum makan soalnya,” kata Yona.

“Aku juga belum Yon,” kata Lidya.

“Ya semua juga kayanya belum makan, ya udah rencana kita hari ini ambil makanan di kantin terdekat sekalian bunuh zombie sebelum malam tiba,” kata Falah.

“Setuju!”

*to be continued

 

Updatenya ke sendat-sendat mulu yak, gara-gara sibuk sih :”
Lagian kayanya ini cerita aga bosenin juga ya, tapi nanggung sih, season1 nya ini bentar lagi beres. Kalau ini beres rencananya bakal bikin cerita lagi sih, clue nya nyambung dengan salah satu setting cerita yang diposting di blog ini, tapi bkn lanjutannya, tebak aja lah ya, pasti tau *mungkin*

Boleh Spoiler dikit? Silahkan menebak nebak….

Disebuah taman terlihat seorang cewek sedang duduk dibangku taman itu, meskipun malam tapi taman itu diterangi lampu-lampu yang sangat terang, apa lagi dengan air mancur ditengahnya menambah keindahan taman itu saat malam. “Vito mana ya, mana gerimis lagi. Klo aku ninggalin dia hmm… takutnya dia dateng kesini, aku tungguin aja deh” ucap Viny.

.

.

.

“Vit… kamu jahat banget, kamu udah ngingkarin janji. Aku udah nungguin kamu dari tadi nih… Ayo Vit, cepet dateng” ucap Viny dengan wajah kecewa, lalu seseorang menghampiri Viny dengan membawa payung.

“Vito ga mungkin dateng Vin” ucap seseorang itu.

“Alvin? Kamu tau dari mana Vito ga akan dateng, dia udah janji sama aku” ucap Viny membantah.

“Vito itu kebandara Vin! Dia pergi ngejemput Sinka jadi dia ga mungkin dateng” ucap Alvin.

“Aku ga percaya, Vito udah janji sama aku. Kamu jangan sok tau lah!” ucap Viny.

“Percuma kamu ngarepin dia dateng Vin, Vito pasti lebih milih jemput pacarnya sendiri!” ucap Alvin.

“Pa.. pacaranya? Maksud kamu?” ucap Viny heran.

“Ya… Vito udah pacaran sama Sinka, mereka udah jadian lama banget” ucap Alvin.

“Aku ga percaya! Vito pasti dateng” teriak Viny, yang tidak lama kemudian meneteskan air mata.

“Udah sebaiknya kamu lupain aja dia, cowok ga cuma satu kan, masih banyak yang perhatian sama kamu masih banyak yang terbaik buat kamu” ucap Alvin.

“Tapi….” Ucap Viny sambil terus menangis.

“Udah sekarang, Viny pulang kerumah dulu. Ini kondisi kamu udah kehujanan gini mana pakaian kamu basah kuyup, kamu kan baru sembuh nanti sakit lagi ga enak kan” ucap Alvin menenangkan, dan Viny hanya terdiam dan terus mengeluarkan air mata.

“Udah Vin, sebenernya Vito itu anaknya baik kok, tapi ya mungkin dia bukan jodoh kamu. Masih banyak kok cowok yang lebih baik dari Vito. Sekarang Viny pulang kerumah ya, aku anterin sampai rumah deh, ga enak kan klo keadaan kamu gini” ucap Alvin, dan Viny hanya mengangguk.  Akhirnya Alvin berhasil membujuk Viny, dan ia mengantarnya pulang kerumahnya.

Dah.. dah… jgn kebanyakan ah.

Btw…. jangan lupa mampir juga ke blog kedaifanfict.wordpress.com, disana ada cerita buatan gue juga, judulnya Senior High School, jangan lupa mampir jg :”

Paipai~

  • @rizaldinnur7

 

Iklan

10 tanggapan untuk “Death Game, Part9

  1. siape bilang bosenin, masih seru kok. jadi penasaran yona dan falah bisa tepat waktu gg ya?
    wah MLS yo? hmm Love story gitu lagi dong? patut ditunggu.

    Suka

      1. maksudnya genre cinta2an lagi. cinta anak remaja *duilehsoktuaametgue. bukan mls. ane tunggu yang itu min ceritanya.

        Suka

  2. Seru kok, soalnya jarang ada genre yg kayak gini heheh

    Kalo ada nama Vito udah otomatis keingetnya pasti MLS. Tapi bukan lanjutannya? Oke lah 😁 😁

    Suka

  3. Lanjut thor seru, tadinya ga pengen baca grgr kurang suka genrenya tapi akhirnya baca juga and seru lah…
    Vito? My Love Story thor? Di tunggu lah…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s