Fiksi dan Fakta, Part 30

Pagi di hari ketiga, Jaka bangun terlalu siang. Bahkan, Mike yang biasanya bangun terakhir telah mendahuluinya.

“Mana hp gue?” Tanya Jaka dalam hati sambil meraba samping ranjangnya.

Jaka berhasil meraih hp-nya, terlihat 5 pesan tak terbaca dari Aria dan 3 panggilan tak terjawab dari orang yang sama.

“Aria?” Tanya Jaka masih dengan kondisi setengah sadar.

Tanpa berpikir panjang, Jaka langsung saja menelpon balik Aria.

“Yo, Ar? Ada apa tadi telfon?” Sapa Jaka.

“Iya, kak Zaqa. Kakak lagi di luar kota ya?” Tanya Aria.

“Iya Ar, ada apa?”

“Aria mau ngasih tau, ada berita heboh di akun official sekolah kita.” Jawaban Aria sukses membuat Jaka sepenuhnya sadar.

“Weitss, dah bangun l-“

“Sssttt..” Jaka memotong perkataan Kelpo dengan menyuruhnya diam.

Kelpo hanya memperhatikan Jaka yang sedang menelpon seseorang tersebut.

“Berita apa ar? Tentang apa?” Lanjut Jaka menghujami Aria dengan pertanyaan-pertanyaan.

“Hmm.. mending kakak liat sendiri, Aria bingung.. Aria udah di Jakarta..” Jawaban Aria itu membuat Jaka
kehilangan kontrol.

“Udah, makasih ya. Makasih banyak infonya..”

“Sama-sa-“

“Tut..Tut..” Jaka menutup telpon itu dengan sangat cepat.

“Po! Buka laptop!” Teriak Jaka dengan ekspresi panik.

“Ehh.. Iya.. A-ada apa, Jak?” Kelpo bergegas menghidupkan laptop sambil tetap bertanya dengan penuh kebingungan.

“Gue juga gatau..” Jaka langsung meng-log out akun Kelpo dan masuk dengan akun-nya.

“Ahh… Hot News?!” Jaka meng-klik tombol tersebut.

“NOMOR 1?!” Teriak Kelpo begitu keras.

Mike yang mendengar teriakan Kelpo, segera masuk ke kamar.

“Woy! Ada apa?!” Tanya Mike cemas.

“Liat..” Kelpo menunjukkan layar laptopnya pada Mike.

“Apa?!” Mike sama kagetnya.

Mike melirik kearah Jaka, Jaka tampak terduduk lemas disudut kamar sambil mengutak-atik ponselnya.

“Penyerangan Terhadap SMA Lain, SM(U)48 Terancam Masuk Dalam Daftar Hitam Era Baru.” Berita yang membuat mereka ber-3 terdiam.

“Panggil Bobby!” Perintah Kelpo pada
Mike.

“Halo, Ton? Lu yang mimpin mulai?” Tanya Jaka dengan nada rendah.

Sepertinya, Tony membalas dengan jawaban bukan.

“Gue berangkat ke Jakarta, Jak. Dangerous!” Teriak Tony keras dalam telpon.

Bobby masuk ke dalam kamar. Bobby terlihat sama kagetnya.

“Kacau.. kacau..! Telpon semua anak-anak kelas X ama XI, Bandung ga aman buat mereka!” Pinta Bobby cepat.

Kelpo dan Mike mulai menelpon rombongan-rombongan mulai dari anak X-School sampai semua jajaran OSIS.

Jaka menelpon pemimpin-pemimpin sekolah lain. Sementara, Bobby sibuk menelpon para alumni, termasuk Sony.

“Udah semua..” Ucap Mike cepat.

“Telpon Troy!” Perintah Jaka lagi.

Para gadis (eaa gadis :v) yang mendengar keributan dan kepanikan di kamar cowok mulai mendatangi kamar tersebut.

“Ada apa, Razaqa?” Tanya Michelle cepat.

Jaka menggeleng.

“Kelvin?” Kelpo hanya membalas Andela dengan tatapan, bukan tatapan tajam, seperti tatapan kosong penuh kecemasan.
“Mike? Ayo cerita. ada apa, sayang?” Elaine menghampiri Mike dan merangkul Mike.

“Len…” Mike hanya bisa memanggil Elaine pelan.

“Bobby?” Tiba-tiba suara tak asing dari Shania memanggil Bobby pelan, sangat asing bagi Bobby karena jarang sekali Shania memanggilnya.

Bobby mendongakan kepalanya yang tertunduk.

“Shania? Hehehe..” Entah kenapa, Bobby dengan santainya tertawa pelan, mungkin tawaan itu hanya untuk membuat yang lainnya tetap santai.

“Semua aman..” Ucap Kelpo pelan, lalu mendapat anggukan dari Mike dan Bobby.
“Gue lagi liburan, apapun yang terjadi, lu tau kan ada 3 blok? SMU48 punya penerus Iman! SMU48 ama blok Iman beda! Lu gabisa bilang ini blok kami yang mulai. Fuu udah keluar kan? kami ga akan mulai! Kakak gue ama Fuu punya hubungan baik.” Ucap Jaka panjang lebar. Ada rasa takut yang terbumbui emosi. Jelas sekali tergambar disetiap perkataan Jaka.

“Jadi siapa? Lu punya nama seseorang?” Pertanyaan dari perwakilan barisan Fuuto sukses membuat Jaka terdiam.

“Jawab! Jangan ditutup-tutupin! Lu jaga dia, sama aja ini udah nyangkutin SMU48!” Lanjut perwakilan Fuuto yang entah mengapa mendapat respon aneh dari Jaka.

“Gilang tetep bagian SMU48.. apapun yang terjadi.” Jaka berkata dalam hati.

Di dalam kamar tersebut, mereka semua sedang menatap Jaka serius. Viny berdiri didepan pintu, entah kenapa, Jaka menatap kearah Viny.

“Ehh?” Viny tersadar akan tatapan Jaka. Semuanya memperhatikan apa yang Jaka tatap. Ya, dia menangkap tatapan mata Viny.

“Gilang Wijaya.. maaf gue lupa tadi namanya..” Balas Jaka sambil menghela nafasnya dalam.

“Oke, Terima kasih! Selamat sukses ya, SMA.. ehh SMU ya? Hahaha..” Jawaban yang membuat Jaka sedikit geram.

“Lu pada bakal jilat pantat gua! liat aja!” Balas Jaka lalu telponnya diakhiri oleh pihak Fuuto.
“Semuanya aman, Jak.” Lapor Mike, Kelpo dan Bobby.

Jaka mengangguk.

“Telpon Gilang! gue mau ngomong..” Tiba-tiba ucapan Jaka membuat semuanya terdiam.

“Shania? kamu punya nomor Gilang Wijaya? bisa tolong di dial?” Pinta Jaka dengan nada suara tenang.

Jaka bergerak keluar dari kamar.

“Makasih, Vin.” Bisik Jaka lirih saat melewati Viny yang berdiri didepan pintu.

Viny hanya menatap Jaka dari belakang dengan penuh tanda tanya.

“Ya, Halo? Gilang?” Jaka menelpon
“Halo, dengan saya sendiri.”

“Bisa lu jelasin, gimana kondisi anak SMA lain yang lu siksa?” Pertanyaan Jaka mendapatkan respon lemah dari Gilang.

“Terserah kalian.. soal turnamen, gue emang sengaja, maaf. Kali ini, gue ga mulai sama sekali.. sama kaya kata Putaw, mereka yang maksa mulai, Iman itu lebih dari hidup buat gue..” Balasan Gilang membuat Jaka sedikit bingung.

“Lu tau tindakan lu itu bo-“

“Bodoh? ya, gue udah sadar bahkan sebelum kalian berpikiran kalo gue terlalu bodoh..” Balas Gilang lagi.

“Lu kok goblok sih? Sebaiknya, lu berangkat dari Bandung sekarang.. Gue terpaksa ngasih tau nama elu,
Lang..” Lanjut Jaka.

“Bagus deh, cepat atau lambat, mereka juga pasti tau siapa pelakunya.. Gue ga akan kabur, kabur cuma bikin Iman malu..” Balasan yang terdengar konyol bagi Jaka.

“Ga kabur? kalo ampe lu mati.. Gue gayakin SMU48 bakal diem aja..” Lanjut Jaka lagi.

“Gue menghadapi atas nama Iman, bukan SMU48!” Tegas Gilang.

“Gue turut berduka soal Iman, entah gue ga ngerti. Kalo ampe SMU48 di blacklist, lu sadar kan, apa yang bakal terjadi?” Kini Jaka bertanya.

“Ya, gue sadar. Gue punya banyak cerita, tapi gue yakin ga ada yang ma-“

“Gue pulang, lu harus temuin gue dan
ceritain semuanya.” Potong Jaka cepat.

“Oke.. Lu lagi liburan kan? enjoy aja.. semua anak-anak SMU48 udah aman..” Balas Gilang lagi.

“No longer, Lang. Apapun yang terjadi, jangan ketangkep! lu ngutang cerita ama gue!” Tegas Jaka dan mengakhiri panggilan itu.

Jaka kembali ke kemar.

“Aman?” Tanya Jaka pada yang lainnya.

“Semuanya aman, Jak.” Jawaban yang sama dari masing-masing Mike dan Kelpo.

“Ngorbanin Gilang? Ga ada masalah?” Tanya Bobby pada Jaka.
“Daripada ngorbanin semua murid..” Bobby hanya mengangguk setelah mendengar jawaban Jaka.

Elaine, Shania, Michelle, Viny, dan Andela yang penasaran pun, akhirnya mendapatkan sedikit sesi cerita dari ke-4 laki-laki didepan mereka.

*Skip

Jam 12.40 dan mereka baru keluar dari rumah, entah kemana tujuan mereka hari ini. Michelle mengajak sedikit keluar dari kawasan Kuta. Waktu mereka habis karena masalah di pagi tadi dan cerita yang sedikit memakan waktu.

“Razaqa..” Panggil Michelle pelan.

“Iya, Chel?” Tanya Jaka menoleh.

“Malem ini, jadi kan nemenin aku?”
Tanya Michelle pelan.

Jaka mengangguk.

“Kita bahas buat pergi sekarang aja, nanti gampang deh.” Jaka tersenyum simpul.

Liburan dilanjutkan. Khusus untuk hari ke-3, Jaka meminta agar mereka segera kembali ke Kuta. Terdengar seperti desakan.

“Siapa yang pergi ama gue?” Tanya Jaka cepat.

“Kita misah?” Viny berbalik nanya.

“Apa boleh buat..” Ucap Mike pelan.

“Gimana?” Michelle menatap Jaka.

“Malem, kalian bisa pulang sebelum
makan malem.. yang pulang duluan, bisa nyiapin makan malem bersama..” Usul Jaka.

“Oke, Siapa yang terus?” Michelle membuka sesi pemungutan suara.

Shania, Elaine, Mike, Bobby, Andela, dan Michelle menunjuk tangan.

“Kelvin, Razaqa, Viny?” Mata Michelle membulat.

“Hmm.. It’s not a big problem, right?” Tatap Jaka pada Viny dan Kelpo.

“Right, Jak!” Seru Kelpo.

“Ehh?” Bingung Viny.

Viny merasa sedikit canggung, ingin rasanya untuk ikut terus melanjutkan perjalanan, namun dirinya merasa tidak enak badan. Viny merencanakan
untuk menulis diary di pantai nantinya, ia yakin liburan ini menjadi pengalaman yang bagus untuk dibagikan di blog-nya.

“Kelvin? Kenapa?” Tanya Andela pelan.

“Aku kurang enak badan, Ndel. Kamu terusin aja, hati-hati ya.. ampe jumpa malem nanti..” Kelpo tersenyum.

“Kelvin…” Andela masih memasang tampang lesu.

“Udah.. kalo kamu pergi, nanti kamu bisa ceritain aku pengalamanmu. Iya kan?” Ucap Kelpo mengelus pundak Andela.

“Hmm.. oke deh,” Andela masih tertunduk.

“Kalo kamu ga senyum, nanti aku jadi kepikiran loh..”

“Iya deh.. aku senyum nih. Kamu cepet sembuh ya..” Andela menaikkan dagunya.

“Cantik deh kalo gini..” Kelpo menyolek dagu Andela.

“Ihh.. maksud kamu aku ga cantik selama ini?” Andela menggembungkan pipinya.

“Ehh.. Eng-“

“Maksud si Epo itu, kamu ga secantik dia, Ndel, huahaha..” Celetuk Mike dilanjutkan dengan tawaan keras dari yang lainnya, termasuk Andela.

“-_-Ketay, sini lu Saurus!” Kelpo mengejar Mike yang lebih dahulu berhasil kabur :v

“Eaaa.. tangkep aje, Po. Ayo dicoba..
Lanjut Mike terus menggoda Kelpo.

Semuanya pun tertawa, telah diputuskan bahwa Viny, Jaka dan Kelpo akan kembali ke rumah Michelle di Kuta.

“Sampai jumpa!” Teriak Jaka mewakili Kelpo dan Viny.

Mereka bergegas kembali dengan taxi.

*Skip

Jam 16.40, Jaka menghampiri Viny yang sedang duduk di hamparan pasir pantai yang menatap kearah laut nan tenang.

“Nih, Vin..” Jaka menyodorkan segelas es kelapa.

“Makasih, Raz.” Sambut Viny sambil mendongakan kepalanya menatap
Jaka.

“Boleh duduk disini? kayanya pas.”

“Oh.. silahkan, Raz.” Viny mempersilahkan.

“Thanks. Btw, kamu ngapain dari tadi nulis-nulis gitu?” Tanya Jaka tanpa menatap Viny.

“Hehehe.. aku cuma mau bikin bahan untuk blog nanti.” Balas Viny apa adanya.

“Hmm.. pasti seru, ya? maksud aku, pasti kamu ngerasa spesial ya?” Pertanyaan Jaka sukses membuat Viny bingung.

“Spesial?” Viny menatap Jaka.

Jaka hanya diam menatap gulungan ombak sambil tersenyum tipis.

“Kamu bisa ngomong sambil tatap aku?” Viny mulai malas.

“Ehh?” Jaka menoleh kearah Viny.

“Pffuuhh..” Viny menutup halaman buku yang sejak tadi ia buka.

“Aku ga bermaksud untuk ga sopan, cuma aku pengen merhatiin suasanya tanpa ngelewatin sedikitpun momennya.” Kini, Jaka menatap Viny, dengan sedikit senyuman tipis yang malah membuat Viny salah tingkah.

“Maksud kamu tentang ngerasa spesial?” Tanya Viny lagi.

“Emm.. aku ngerasain sesuatu yang spesial pas kita udah turun dari pesawat. Aku yakin kamu pasti bakal membahas liburan ini di blog-mu.” Lanjut Jaka.

“Liburan ini memang terasa spesial, kaya jadi ajang buat kita saling mengenal..”

“Nope, lebih tepatnya saling memahami..” Sangkal Jaka sambil tersenyum kearah Viny.

“Yap, tepat.” Viny mengangguk-angguk setuju.

“Aku juga belom mulai nulis nih, mungkin di pertengahan liburan nanti deh,”

“Aku pernah baca postingan di blog kamu, keren bahasanya.. Hehehe..” Viny tertawa pelan.

“Ehh, serius? itu nulisnya pas setengah sadar loh.. hahaha..” Ketika Jaka mulai tertawa, Viny justru menatap Jaka serius.

“Setengah sadar? kamu-“

“Larut malam..”

“Ohh..” Viny lega.

“Aku suka nulis pas larut malam, bahasanya kadang lebih puitis, kadang juga lebih-“

“Fiktif!” Jawab mereka bersamaan.

“Hahaha..” Jaka tertawa.

“Ihh, kok bisa sama ya.. Hahaha..” Viny ikut tertawa.

“Keren ya.. kita sama-sama suka pemandangan matahari tenggelam.” Jaka kembali tersenyum.

“Hmm.. mungkin semua orang juga suka, Raz. Itu hadiah dari tuhan buat
kita,”

“Kita udah menjalani hari yang baik saat langit cerah, malam itu bentuk ketenangan, maka sebelum mencapai ketenangan sempurna, kita dikasih hadiah atas kerja keras kita hari ini..” Tuntas Viny yang membuat Jaka kagum.

“Agree.. really!” Jaka bangkit.

“Kamu mau kemana?” Tanya Viny heran.

“Hmm.. aku mau nyiapin makan malem, kalo kamu mau liat matahari tenggelam, ga ada masalah kok. Kamu bisa balik setelah jam 6.” Jaka tersenyum dan bergerak pergi.

“Tunggu, Razaqa!” Viny bangkit dan berlari menyusul Jaka.
“Ehh? Ada apa, Vin?” Jaka bingung.

“Kenapa tadi kamu biang makasih?” Viny mengucapkan sesuatu yang mengganjal hatinya.

“Oh.. yang tadi? pffttt..” Jaka menahan tawa.

“Ehh, kenapa?” Viny heran dengan respon Jaka.

“Cuma kamu yang natap aku santai disaat yang lain terlalu serius natap kearah-ku..” Jaka tersenyum.

“Tapi.. tapi apa guna-“

“Gunanya adalah, aku bisa jawab pertanyaan para cacing kotor itu dengan santai juga,” Jaka tersenyum dan meninggalkan Viny yang hanya bisa berdiri terhenyak.
“Jaka dan Viny serius banget, pulang ahh..” Kelpo yang ternyata memperhatikan Jaka dan Viny sejak tadi pun, diam-diam ikut pulang ke rumah Michelle.

*Skip

Makan malam telah usai. Viny membantu memanggang ayam karena Kelpo dan Jaka tampak menyerah untuk melakukannya.

“Wihh.. masakan kalian enak nih..” Puji Elaine.

“Lu ga masak kan Po? biasanya kalo lu yang murni masak, suka kacau..” Mike terkekeh.

“-_-Gue tampol lu..” Ancam Kelpo malas.

“Ayamnya enak, kamu yang panggang,
Raz?” Tanya Shania pada Razaqa.

“Ehh, bukan. Viny yang panggang.” Jaka menunjuk kearah Viny.

“Wihh hebat..” Puji Shania.

“Iya enak banget.” Lanjut Michelle mendapat anggukan dari Andela dan Elaine.

“Biasa aja atuh.” Viny tertunduk malu.

Mereka mulai berpisah lagi. Elaine, Mike, Kelpo dan Andela kembali memutuskan untuk berjalan-jalan.

“Wey, gue nitip gelang dong.” Panggil Bobby pada rombongan Mike.

“Iye, Bob. Gue beliin yang ukiran muka monyet ntar.” Ucap Mike menahan tawa.
“Boleh, ntar upahnya, gue lempar pake ni guci, mau?” Lanjut Bobby.

“Canda Bob-_-“

“Pletak!” Jitak Kelpo gemas pada ulah konyol Mike.

Mereka pun berjalan duluan.

“Ehh, Mike. Jaka ama Viny ngobrolnya asik mulu, nih.” Kelpo memulai obrolan sambil berjalan.

“Asik? wihh.. asik gimana?”

“Pletak!” Jitak Kelpo lagi.

“Apaan sih?-_-” Mike malas.

“Asik itu maksudnya obrolannya, bukan yang diobrolin-_-” Tegas Kelpo.

“Iye iye-_- gue kan canda.”

“Canda aja terus, gue jitak lagi ntar.” Andela dan Elaine yang memperhatikan Mike dan Kelpo pun tertawa.

*Skip

“Bob, Vin, kami ke pantai ya..” Pamit Jaka dan Shania pada Viny dan Bobby.

“Iya, Raz.” Balas Viny cepat.

Bobby tak membalas apa-apa. Dia masuk kedalam kamarnya, mencoba melihat-lihat momen hari ini yang dia abadikan.

“Kok Shania semua ya?” Bobby baru sadar akan hasil-hasil jepretannya.

“Ahh… udahlah..” Bobby meletakkan kameranya dan kembali keluar kamar.
“Kamu mau kemana, Vin?” Tanya Bobby yang melihat Viny telah memakai sepatu Adidas-nya.

“Ehh, Bob? aku mau jalan aja.”

“Kenapa ga bareng Mike dan Kelpo tadi?”

“Tadi aku masih mikir-mikir, nanti aku cari mereka deh,” Viny pun berdiri.

“Aku pergi dulu, ya..” Pamit Viny.

“Iya hati-hati..” Bobby melepas kepergian Viny.

Sekarang, hanya Michelle-lah satu-satunya orang yang masih dirumah itu. Namun, Bobby tak melihat Michelle keluar dari kamarnya sekalipun sejak makan malam berakhir.

Bobby hendak mengetuk kamar
Michelle, namun ia mengurungkan niatnya.

“Michelle?” Batin Bobby bingung.

Bobby menempelkan telinganya pada pintu kamar Michelle.

“Uhuk.. Uhuk..” Terdengar suara batuk dari dalam kamar tersebut.

Bobby berasa diposisi serba salah, ia ingin berteriak menanyakan keadaan Michelle, namun ia takut itu mengusik Michelle. Bobby terus berjaga diruang tamu, sampai Michelle keluar dan barulah ia akan merencanakan untuk keluar.

“Ceklek.” Daun pintu kamar Michelle dibuka.

“Michelle?” Tanya Bobby pelan.
“Ehh, Bobby? yang lain kemana? kamu ga pergi?” Pertanyaan Michelle tak dihiraukan Bobby.

“Kamu abis ngapain?” Tanya Bobby balik.

“Eh?” Michelle terhenyak.

“A-aku.. ba-.. aku baru bangun tidur..” Tampak ekspresi bohong teraut dalam wajah seorang Michelle.

“Hmm.. Oke..” Bobby tak mau berdebat, ia memutuskan untuk mengiyakan jawaban Michelle tersebut.

*Skip

Setelah Jaka dan Shania mengobrol sambil duduk di pantai, mereka merebahkan tubuhnya bersama, membiarkan bagian belakang baju mereka ternodai pasir pantai.

“Shan, aku boleh ngomong sesuatu ga?” Jaka berkata dengan sedikit ragu.

“Iya? Boleh kok.” Shania menunjukkan senyum lebarnya.

“Uh, Shania?”

“Iya?”

“A..Aku.. Ma-mau.. Ahhh…!” Jaka kesal.

“Kamu kenapa?” Tanya Shania heran.

“A…a-ak..u..” Jaka tak bisa mengucapkannya. Bukan karena Jaka tak memiliki mental yang cukup, namun ia terbayang kejadian-kejadian yang membuat dirinya merasa Shania tak benar-benar menganggap Jaka spesial. Bukan spesial dalam artian dekat, namun spesial dalam tatapan
Shania kepada Jaka.

“Kamu ga enak badan?” Tanya Shania lagi dengan tatapan yang cukup cemas.

“Ehh, engga kok.” Jaka menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Terus?”

“Aku mau bilang.. emm.. kamu ma-“

“Drrttt..” Panggilan masuk, membatalkan ucapan Jaka.

“Halo?” Sapa Jaka.

“Razaqa? Aku udah nunggu nih..” Telpon dari Michelle membuat Jaka bergegas bangkit.

“Iya, aku kesana.” Balas Jaka cepat.
Shania menatap Jaka heran.

“Maaf ya, Shan. Aku lupa kalo ada janji, kamu mau pulang sekarang?” Tanya Jaka.

“Aku disini aja, nanti aku bisa pulang sendiri..”

“Maaf ya.. maaf banget, kamu hati-hati nanti..” Jaka bergegas pergi.

Sebenarnya, Shania begitu kecewa. Namun, dia tak boleh memaksakan kehendaknya. Bagaimanapun, Jaka memiliki hidup yang harus ia jalani. Shania paham akan status mereka, dan baginya itu bukan masalah.

Jaka benar-benar telah hilang dari pandangan Shania.

“Hey.. Razaqa mana?” Sapaan yang kagetkan Shania.

“Ehh, Bobby?” Kaget Shania kala seorang Bobby mengambil posisi duduk disampingnya.

“Razaqa mana?” Tanya Bobby lagi.

“Dia lupa kalo ada janji..” Shania tertunduk.

Bobby berpikir sejenak. Ia tau dengan siapa Jaka memiliki janji.

“Kamu kenapa, Bob?” Tanya Shania pecahkan lamunan Bobby.

“Ehh, engga kok.” Bobby menggeleng-gelengkan kepalanya.

Bobby menemani malam Shania yang ditinggal Jaka.

*Skip
“Maaf ya, tadi aku kelupaan..” Jaka baru bisa membuka obrolan saat mereka sudah dalam perjalanan.

“Iya, tadi kamu lagi ngapain? maaf ya kalo ganggu kamu..” Michelle tak enak.

“Engga kok, tadi lagi liat-liat suasana pantai aja.. dah bosen sebenernya, hehehe..” Takut Michelle makin merasa bersalah, Jaka membalas dengan berbohong.

“Syukur deh.” Michelle menarik nafas lega.

Jaka juga sama lega-nya.

“Udah nyampe, Chel. Kamu turun duluan aja, nanti aku parkir disana.” Jaka mempersilahkan.

Michelle telah lebih dahulu turun. Setelah memarkirkan mobilnya, Jaka
mulai bergerak masuk.

“Malem semua..” Sapa Jaka sambil memasuki pintu depan rumah tersebut.

“Ehh, kamu?!” Gadis yang berada di sebelah Michelle itu berdiri sambil menatap Jaka.

“Ehh?” Jaka bingung.

Michelle hanya memperhatikan mereka berdua.

Pertemuan yang mengejutkan. Ada cerita apa lagi di diri Jaka dan lainnya?.

“Aku termasuk orang yang suka mengkritik, aku benci dengan jatuh cinta, namun saat aku memperhatikan Yona yang memelukku disaat detik-detik perang berakhir. Aku tersadar
bahwa sahabatku itu mengajariku tentang arti jatuh cinta yang sebenarnya. Aku juga sadar bahwa pelukan itu menandakan bagaimana ia tak mau kehilangan diriku, mungkin kalian (Blok Sony) juga akan melakukan hal yang sama terhadapku. Hanya saja, kalian menyimpan pelukan itu untuk kalian berikan disaat kita benar-benar bebas dari daftar hitam dan disaat aku hendak berangkat menjauh..” – Zidane Irtivan (Surat kepada semua murid SMU48)

*To Be Continued

@ArthaaSV & @KelvinMP_WWE

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s